Peningkatan Keterampilan Menulis Dengan Pendekatan Kontekstual

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL

Oleh : Sri Wiyono

Abstrak

Peningkatan keterampilan menulis dengan pendekatan kontekstual merupakan sebuah penelitian  yang  bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran bahasa Indonesia di SMP N 1 Ajibarang Kabupaten Banyumas yang ditunjukkan dengan meningkatnya keterampilan menulis siswa. Dengan menggunakan metodologi penelitian menggunakan teknik pengumpulan data meliputi observasi yang dilakukan untuk memantau proses dan dampak pembelajaran yang diperlukan dalam menata langkah-langkah perbaikan, tes uraian yang berbentuk laporan pengamatan dengan alat pengumpulan data berupa lembar observasi dan soal tes uraian berupa laporan berdasarkan hasil pengamatan yang unsur penilaiannya mencakup isi, organisasi isi, pola kalimat, struktur, dan ejaan. Alat pengumpulan data atau lembar observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran. Lembar observasi mencakup aspek-aspek: kegiatan pengamatan terhadap objek bahan tulisan, penyusunan kerangka tulisan, penulisan laporan, dan kegiatan berdiskusi. Dengan rangkaian kegiatan ini siswa akan lebih senang terhadap pembelajaran menulis karena materi yang diajarkan terkait dengan situasi dunia nyata siswa dan menguasai teknik – teknik menulis. Selain itu guru mendapatkan pengetahuan yang lebih sehingga pada hambatan atau kelemahan yang ditemukan pada pembelajaran yang lain dapat diantisipasi. 

Kata kunci :menulis, kontekstual.

Pendahuluan

Hasil pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya menulis selama ini masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Apalagi untuk mencapai tingkat terampil, masih memerlukan “usaha keras” dari seorang guru untuk dapat mewujudkannya.

Pembelajaran menulis yang diberikan kepada siswa kurang bervariasi. Yang paling sering diberikan dalam pembelajaran, siswa dilatih untuk membuat karangan dengan kerangka karangan yang telah disediakan, mengarang bebas, atau berlatih menulis bermacam-macam paragraf. Pembelajaran menulis pun akhirnya tetap kering dan membosankan (Suyono, 2005: 8) sehingga siswa kurang berminat untuk berlatih menulis.

Kekurangberhasilan pembelajaran menulis tersebut disebabkan oleh banyak faktor khususnya yang menyangkut siswa dan guru. Tidak sedikit para guru yang menganggap bahwa proses pembelajaran yang efektif ditandai dengan suasana kelas yang tenang. Para siswa dengan tertib duduk di kursinya masing-masing, perhatian terpusat pada guru, dan guru menjelaskan (berceramah) di depan kelas. Dalam kondisi yang demikian, siswa akan semakin tenggelam dalam kepasifan. Mereka belajar tidak lebih dari suatu rutinitas sehingga kurang tertantang terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa cenderung belajar secara individual, menghafal konsep-konsep yang abstrak dan teoretik, menerima rumus-rumus atau kaidah-kaidah tanpa banyak memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran.

Sinyalemen mengenai kekurangberhasilan pembelajaran menulis di atas, disebabkan oleh sistem pembelajaran yang masih terpusat pada guru. Siswa kurang diberi kesempatan untuk berlatih dan mengembangkan kreativitasnya. Di samping itu, dari sisi siswa sendiri juga masih terbiasa pasif. Siswa tampak kurang berminat mengikuti pelajaran. Akibatnya, siswa kurang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Keadaan pembelajaran yang demikian, tentu tidak dapat menopang terhadap keterampilan menulis siswa. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu diupayakan bentuk pembelajaran menulis yang lebih memberdayakan siswa, yakni pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Dengan upaya tersebut, diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Materi pembelajaran menulis pada siswa SMP kelas VIII dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi mencakup : menulis rangkuman dari beberapa teks bacaan yang memiliki kemiripan topik; menulis laporan, menulis surat resmi; menulis ulasan biografi; menyunting tulisan teman, menulis teks berita, menulis rangkuman isi buku ilmu pengetahuan populer, menulis slogan dan poster untuk berbagai keperluan, menulis rencana kegiatan, menulis surat dinas, dan menulis petunjuk (Depdiknas, 2003: 17). Pada penelitian tindakan kelas ini, penulis membatasinya dengan memilih materi yang spesifik  yakni menulis laporan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah : Apakah pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Ajibarang, Kabupaten Banyumas ?

Tujuan Penelitian

1. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran bahasa Indonesia di SMP N 1 Ajibarang Kabupaten Banyumas yang ditunjukkan dengan meningkatnya keterampilan menulis siswa melalui pendekatan kontekstual.

2. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk keterampilan menulis siswa melalui pendekatan kontekstual siswa kelas VIII F SMP N 1 Ajibarang Kabupaten Banyumas tahun 2015/2016.

Kajian Teori

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran kontekstual, Blancard (2001) mengembangkan strategi pembelajaran kontekstual dengan :

1. Menekankan pemecahan masalah

2. Menyadari kebutuhan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi dalam berbagai konteks, seperti rumah, masyarakat, dan pekerjaan

3. Mengajar siswa memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri sehingga menjadi siswa mandiri

4. Mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda

5. Mendorong siswa belajar dri sesama teman dan belajar bersama, dan

6. Menerapkan penilaian autentik.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada hakikatnya merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Metodologi Penelitian

1. Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi

Observasi ini dilakukan untuk memantau proses dan dampak pembelajaran yang diperlukan untuk menata langkah-langkah perbaikan agar lebih efektif dan efisien. Observasi dipusatkan pada proses dan hasil tindakan pembelajaran beserta peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Langkah-langkah observasi meliputi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan observasi kelas, dan (3) pembahasan balikan.

b. Tes

Keterampilan menulis siswa diukur melalui tes uraian berbentuk laporan pengamatan. Setelah dilaksanakan tindakan siswa di tes dengan menggunakan soal uraian yang menitikberatkan pada segi penerapan pada akhir pembelajaran setiap siklus. Hasil tes tiap siklus dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui keefektifan tindakan.

2. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data keterampilan menulis laporan digunakan soal tes uraian berupa laporan berdasarkan hasil pengamatan yang unsur penilaiannya mencakup isi, organisasi isi, pola kalimat, struktur, dan ejaan. Lembar observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran. Lembar observasi mencakup aspek-aspek: kegiatan pengamatan terhadap objek bahan tulisan, penyusunan kerangka tulisan, penulisan laporan, dan kegiatan berdiskusi.

Pelaksanaan dan Hasil Penelitian

1. Tahap Pelaksanaan

a. Siklus I

Proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang menerapkan pendekatan kontekstual dengan tahapan skenario pembelajaran dijelaskan pada RPP terlampir. Observasi –  Interpretasi dilakukan oleh pengamat, refleksi dilakukan sesuai dengan proses pembelajaran.

b. Siklus II

Pelaksanaan siklus II pada dasarnya memiliki prinsip yang sama dengan pelaksanaan pada pembelajaran pertama. Bedanya adalah pada siklus II ini, tahap persiapan dilakukan dengan mendasarkan diri pada hasil hasil observasi – interpretasi, dan refleksi.

2. Hasil Penelitian

a. Siklus I

Hasil penelitian yang diperoleh adalah berbentuk data kuantitatif dan kualitatif.

1) Data kualitatif tentang interaksi antar siswa dan atau guru untuk menganalisis tingkat aktifitas siswa. Ini dilakukan menggunakan alat bantu observasi, angket dan lembar pengamatan. Dengan hasil sebagai berikut :

a) Melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan sebesar 60,53%

b) Melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan sebesar 50,00%

c) Melakukan penulisan laporan 60,3%

d) Melakukan diskusi 47,37%

2) Data kuantitatif guna mengukur tingkat hasil belajar siswa dikumpulkan melalui pelaksanaan evaluasi yang baik. Dengan hasil sebagai berikut hasil tes diketahui rerata kelas sebesar 63,79. sejumlah 14 siswa mendapat nilai kurang dari 65,00. sebanyak 20 siswa mendapat nilai  64,52 atau lebih. Ketuntasan secara kasikat sebesar 58%. Berdasarkan data tersebut, rerata kelas belum mencapai batas tuntas yang ditetapkan

b. Siklus II

Hasil penelitian yang diperoleh adalah berbentuk data kuantitatif dan kualitatif.

1) Pengambilan data kualitatif tentang interaksi antar siswa dan atau guru untuk menganalisis tingkat aktifitas siswa. Ini dilakukan menggunakan alat bantu observasi, angket dan lembar pengamatan. Dengan hasil sebagai berikut :

a) Melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan sebesar 76,32%

b) Melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan sebesar 76,32%

c) Melakukan penulisan laporan 81,58%

d) Melakukan diskusi 55,26%

2) Pengambilan data kuantitatif guna mengukur tingkat hasil belajar siswa dikumpulkan melalui pelaksanaan evaluasi yang baik. Dengan hasil sebagai berikut penilaian melalui tes menunjukkan bahwa rerata nilai keterampilan menulis siswa 68,88. sejumlah 2 siswa mendapat nilai kurang dari 65,00. sebanyak 32 siswa mendapat nilai 65,00 atau lebih. Ketuntasan secara kalsikal sebesar 94%.

3. Pembahasan

a. Hasil Setiap  Siklus

1) Siklus I

Deskripsi siklus I menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berjalan dengan baik. Siswa belum aktif melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah diranang oleh guru. Hal ini disebabkan oleh karena siswa telah terbiasa belajar dengan lebih banyak mengandalkan instruksi guru. Pada saat melakukan pengamatan, siswa kurnag bersemangat karena kurang memahami pentingnya melakukan pengamatan sebagai bahan laporan. Akibatnya, kerangka tulisan yang disusun pun kurang sistematis. Hal ini terjadi karena siswa tidak mencatat pokok-pokok objek yang diamati. Kalaupun mencatat, siswa tidak mengidentifikasikan dan tidak merangkaikan bagian-bagian yang relevan dan penting sehingga siswa kesulitan menyusun kerangka laporan dengan baik.

Pada pengembangan kerangka karangan, siswa juga belum terbiasa mengubah data seperti tabel struktur organisasi, dan sebagainya menjadi laporan bentuk narasi yang runtut sehingga terhadap data tersebut hanya dituliskan apa adanya di dalam laporannya. Akibatnya, laporan yang disusunpun belum runtut dan belum dinarasikan dengan baik.

Data yang diperoleh dari observasi menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran diketahui sebagai berikut: 1) melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan sebesar 60,53%, 2) melakukan penyusunan kerangka karangan 50,00 %, 3) melakukan penulisan laporan 60,3%, 4) melakukan diskusi 47,37%. Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran belum sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hasil tes diketahui rerata kelas sebesar 63,79. sejumlah 14 siswa mendapat nilai kurang dari 65,00. sebanyak 20 siswa mendapat nilai  64,52 atau lebih. Ketuntasan secara kasikat sebesar 58%. Berdasarkan data tersebut, rerata kelas belum mencapai batas tuntas yang ditetapkan. Demikian pula, secara klasikal belum mencapai ketuntasan.

2) Siklus II

Pada siklus II, siswa telah mengikuti pembelajaran dengan cukup baik. Siswa telah dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Mereka lebih bersemangat dan antusias mengikuti proses pembelajaran. Pengaruh positif dari meningkatnya partisipasi dalam belajar ini adalah meningkatnya penguasaan teknik-teknik menulis siswa. Siswa telah dapat melakukan pengamatan dengan terarah. Dengan dipersiapkannya format-format dan daftar pertanyaan sebelumnya, pengamatan dapat berlangsung lebih efektif dan lancar.

Demikian pula, pada saat melakukan diskusi siswa mulai berani berpendapat, memberikan masukan-masukan terhadap hasil tulisan teman. Namun, keberanian sswa masih perlu ditingkatkan. Aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dapat diketahui dari hasil observasi berikut : 1) melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan 76,32%, 2) melakukan penyusunan kerangka karangna 76,32%, 3) melakukan kegiatan penulisan laporan 81,58%, 4) melakukan diskusi dengan aktif sebesar 55,26%.

Hasil penilaian melalui tes menunjukkan bahwa rerata nilai keterampilan menulis siswa 68,88. sejumlah 2 siswa mendapat nilai kurang dari 65,00. sebanyak 32 siswa mendapat nilai 65,00 atau lebih. Ketuntasan secara kalsikal sebesar 94%.

Berdasarkan data di atas, menunjukkan bahwa rerata nilai menulis siswa telah mencapai batas tuntas sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan walaupun secara klasikal belum tuntas karena masih ada dua siswa belum mencapai angka 65,00, namun prestasi siswa telah meningkat dan hipotesa penelitian ini bisa dibuktikan.

3) Hasil Antar Siklus

Pada siklus I, hasil belajar yang dicapai siswa belum memenuhi batas tuntas yang telah ditetapkan. Tindakan-tindakan yang dilakukan belum berhasil secara optimal. Tindakan yang belum berhasil tersebut, antara lain: 1) Pemanfaatan waktu belum efektif, karena siswa belum mempersiapkan diri dengan baik sebeluum mengikuti pembelajaran menulis, 2) Pengamatan yang dilakukan siswa belum optimal karena siswa belum mempersiapkan dahulu apa yang sekiranya perlu dilakukan selama pengamatan, 3) Kerangka laporan yang disusun belum sistematis karena data yang tidak lengkap, 4) Siswa juga masih pasif dalam melakukan diskusi sehingga tidak dapat memanfaatkan hasil diskusi tersebut sebagai bahan revisi atau penyempurnaan laporan.

Hasil observasi pada sikilus I,  aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dapat diketahui: 1) melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan sebesar 60,53%, 2) penyusunan kerangka karangan 50,00%, 3) penulisan laporan 60,53%, 4) keaktifan melakukan diskusi 47,37%.

Berdasarkan hasil tes pada siklus I, diketahui rerata nilai keterampilan menulis siswa 64,52. sebanyak 20 siswa mendapat nilai 65,00 atau lebih, 14 siswa mendapat nilai kurang dari 65,00. ketuntasan secara klasikal sebesar 58%. Berasarkan data tersebut, rerata nilai keterampilan menulis siswa belum mencapai batas tuntas.

Pada siklus II, tindakan perbaikan ditekankan untuk memperbaiki kelemahan yang terjadi pada siklus I. tindakan tersebut brupa: 1) Pengarahan kepada siswa agar mereka dapat memanfaatkan waktu dengan lebih baik, 2) Penjelasan mengenai teknik melakukan pengamatan yang efektif, sehingga dapat diperoleh data pengamatan yang lengkap, 3) Teknik menyusun kerangka laporan sehingga dapat menyusun kerangka yang sistematis, 4) Membangkitkan semangat dan memotivasi agar dapat melakukan diskusi dengan baik.

Dengan tindakan-tindakan tersebut, pelaksanaan pembelajaran menulis menjadi lebih efektif. Siswa lebih terdorong semangatnya untuk melakukan semua aktivitas yang terkait dengan menulis laporan.

Sebagai contoh, banyak diantara siswa telah mempersiapkan dengan baik catatan-catatan atau daftar pertanyaan sebelum melakukan pengamatan sehingga pada saat melakukan pengamatan, mereka tinggal menuliskan data-data pengamatan sesuai dengan catatan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Demikian pula dalam berdiskusi, mereka lebih berani mengemukakan pendapat hingga siswa dapat merasakan manfaat dari hasil diskusi tersebut.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat berjalan lancar. Siswa sudah memahami langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menulis laporan hasil pengamatan. Mereka dengan senang hati dan bersemangat melakukan langkah demi langkah penulisan laporan. Guru tinggal meningkatkan fungsinya sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran. Temuan atas kekurangan yang didapati dalam laporan siswa pada siklus II adalah kekurangtepatan siswa dalam menggunakan ejaan yang benar dan ketepatan struktur kalimat yang digunakan oleh siswa.

Dengan upaya-upaya perbaikan yang dilakukan, hasil yang dicapai siswa mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari naiknya persentase hasil observasi, dan hasil tes yang diperoleh siswa sebagai berikut: 1) melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan sebesar 76,32%, 2) penyusunan kerangka karangan sebesar 76,32%, 3) penulisan laporan 81,58%, 4) keaktifan melakukan diskusi 55,26%. Rerata nilai menulis yang diperoleh siswa meningkat menjadi 68,88. sebanyak 32 siswa mendapat nilai 65,00 atau lebih, 2 sisa mendapat nilai kurang dari 65,00. Tingkat ketuntasan secara klasikal sebesar 94%. Berdasarkan data tersebut, rerata nilai keterampilan menulis siswa sudah mencapai batas tuntas. Walaupun secara klasikal belum mencapai tingkat batas tuntas, namun sudah menunjukkan prestasi siswa yang meningkat.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan sebanyak dua siklus dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Ajibarang-Banyumas. Hal ini ditandai dengan meningkatnya nilai rerata  dan ketuntasan siklus I dibandingkan dengan siklus II. Hal ini dapat dilihat pada data sebagai berikut: Pada siklus I,  aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dapat diketahui: 1) melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan sebesar 60,53%, 2) penyusunan kerangka karangan 50,00%, 3) penulisan laporan 60,53%, 4) keaktifan melakukan diskusi 47,37%. Berdasarkan hasil tes pada siklus I, diketahui rerata nilai keterampilan menulis siswa 64,52. sebanyak 20 siswa mendapat nilai 65,00 atau lebih, 14 siswa mendapat nilai kurang dari 65,00. ketuntasan secara klasikal sebesar 58%. Berasarkan data tersebut, rerata nilai keterampilan menulis siswa belum mencapai batas tuntas. Pada siklus II, dengan upaya-upaya perbaikan yang dilakukan, hasil yang dicapai siswa mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari naiknya persentase hasil observasi, dan hasil tes yang diperoleh siswa sebagai berikut: 1) melakukan pengamatan terhadap objek bahan tulisan sebesar 76,32%, 2) penyusunan kerangka karangan sebesar 76,32%, 3) penulisan laporan 81,58%, 4) keaktifan melakukan diskusi 55,26%. Rerata nilai menulis yang diperoleh siswa meningkat menjadi 68,88. sebanyak 32 siswa mendapat nilai 65,00 atau lebih, 2 sisa mendapat nilai kurang dari 65,00. Tingkat ketuntasan secara klasikal sebesar 94%. Berdasarkan data tersebut, rerata nilai keterampilan menulis siswa sudah mencapai batas tuntas. Walaupun secara klasikal belum mencapai tingkat batas tuntas, namun sudah menunjukkan prestasi siswa yang meningkat.

Saran

1. Saran untuk Penelitian Lanjut

Karena keterbatasan-keterbatasan yang ada, penelitian ini masih terdapat kekurangan-kekurangan yang perlu disempurnakan. Maka dari itu, kepada peneliti lain yang akan mengadakan penelitian lanjut yang sejenis disarankan:

a. Menyusun perencanaan dan perancangan yang matang dan sistematis agar benar-benar dapat diperoleh hasil yang lebih optimal.

b. Tindakan perbaikan tiap-tiap siklus pada penelitian ini belum optimal. Maka dari itu, kepada peneliti lain yang akan mengadakan penelitian sejenis perlu memberikan penekanan pada segi-segi observasi dan interpretasi sehingga perefleksian hasil observasi dari satu siklus dapat ditindaklanjuti pada siklus berikutnya.

2. Saran untuk Penerapan Hasil Penelitian

a. Saran untuk Guru

a) Para guru, khususnya guru bidang studi Bahasa Indonesia dapat menerapkan pendekatan kontekstual dalam rangka peningkatan minat dan keterampilan menulis siswa.

b) Para guru, khususnya guru Bahasa Indonesia perlu lebih meningkatkan wawasan tentang pendekatan kontekstual sehingga dalam pengimplementasiannya dapat berjalan lebih efektif.

c) Para guru, khususnya guru Bahasa Indonesia senantiasa dapat memberikan keteladanan dan motivasi demi peningkatan keterampilan menulis siswa.

b. Saran untuk Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat memfasilitasi terselenggaranya pelatihan-pelatihan bagi pengembangan profesionalisme guru, khususnya yang berkaitan dengan teknik-teknik dan model-model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Badudu J.S. 1985. Cakrawala Bahasa Indonesia. Jakarta : Gramedia.

Burhan Nurgiantoro. 2005. Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Edisi Ketiga. Yogyakarta: PT BPFE.

Depdiknas. 2002a. Pendekatan Kontekstual (Con textual Teaching and Learning). Jakarta : Ditjen Dikdasmen.

Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP dan MTs. Jakarta.

Depdiknas. 2004e. Pengembangan Kemampuan Menyinting, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Ditjen Dikdasmen.

Depdiknas. 2005. Penilaian Berbasis Kelas dalam Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Ditjen Dikdasmen.

Kemp, Jerrold, E. 1977. Instructional Design. California: Gleron Publishers.

Khaerudin Kurniawan. Model Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asin Tingkat Lanjut. PBS Universitas Negeri Yogyakarta. http://www.ialf.edu/kipbipa/papers/khaerudinkurniawan.doc. Diakses, 22 Juni 2006.

Sarwiji Suwandi. 2004. Penilaian Portofolio dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Makalah Seminar Nasional Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Sukmana. 2005. Menumbuhkan Budaya Menulis di Kalangan Siswa. Buletin Pusat Pebukuan, Volume 11, Januari-Juni 2005, Jakarta: Pusat Perbukuan.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *