http://www.infopasti.net/peningkatan-kinerja-guru-melalui-supervisi/

PENINGKATAN KINERJA GURU MELALUI SUPERVISI AKADEMIK DI SD NEGERI GANDASULI 02 KECAMATAN BREBES KABUPATEN BREBES SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2015/2016

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifias tindakan  yaitu meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran setelah diadakan supervisi akademik oleh kepala sekolah di SD Negeri Gandasuli 02 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes. Prosedur ini dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan, tindakan,  mengamati, dan refleksi. Manfaat penelitian ini memberi masukan kepada guru untuk meningkatkan kinerjanya sesuai dengan harapan peneliti, dan untuk membuktikan hipotesis tersebut diadakan suatu penelitian pada 12 guru untuk  mengisi angket yang diberikan kepada guru dengan melalui 2 siklus. Adapun hasil isian angket memperoleh angka lebih dari 84% yang berkatagori baik sekali. Kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat meningkat dengan memperhatikan langkah-langkah pembelajaran serta memilih metode pembelajaran yang tepat sehingga suasana proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan sehingga hasil belajar siswa mengalami peningkatan.

 

Kata kunci : Kinerja Guru, Supervisi Akademik

PENDAHULUAN

Guru dipandang oleh masyarakat adalah sebagai orang yang serba bisa, mumpuni dibidang apa saja, oleh karena itu guru harus mampu menunjukkan cara pandang atau berfikir cerdas, berkepribadian mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku jujur, dan memiliki rasa sosial yang nyata. Pada dasarnya peran guru adalah sebagai penentu keberhasilan. Seperti apa yang disampaikan oleh Robert L. Mathis dan John H Jackson (2011; 4) “Sumber daya manusia dipandang semakin besar peranannya bagi kesuksesan organisasi, maka banyak organisasi kini menyadari bahwa unsur manusia dalam organisasi dapat memberikan keunggulan bersaing”.

Pada lembaga pendidikan kualitas atau mutu sekolah tidak hanya dipandang dari output atau hasil pembelajaran, tetapi juga dilihat dari proses dan input sehingga kapan saja kinerja yang terlibat didalamnya selalu dimonitoring dan dievaluasi, namun kenyataannya kinerja pada lembaga pendidikan masih dipandang belum maksimal untuk dapat menunjukkan kinerja yang baik.

Pemerintah telah berupaya meningkatkan mutu pendidikan dengan berbagai strategi, termasuk pemberian tunjangan sertifikasi terhadap guru. Pemberian tunjangan sertifikasi tersebut terkandung makna peningkatan mutu pendidikan dan juga kesejahteraan bagi guru karena  guru merupakan komponen sumberdaya manusia yang sangat penting dalam pembelajaran. Seperti yang disampaikan Tilaar (2009) “guru merupakan komponen sumber daya manusia yang memiliki peranan sangat penting dalam mencapai keberhasilan proses belajar mengajar dan pendidikan secara umum di sekolah. Sangat besar peranan guru tersebut dapat ditunjukkan melalui kinerjanya (Tilaar;2009)”.

Pendapat yang sama juga disampaikan Usman (2002) menyatakan bahwa upaya peningkatan profesionalisme dan kinerja guru perlu terus dilakukan karena guru adalah sumber daya manusia utama yang merupakan komponen strategis yang memiliki peran sangat penting dalam menentukan gerak maju kehidupan suatu bangsa, bahkan keberadaan guru merupakan faktor condisio sine quanon yang tidak mungkin digantikan oleh komponen lain manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu hingga sekarang.

Berdasarkan pendapat di atas, maka peningkatan kinerja guru merupakan variabel yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, terutama kepala sekolah sebagai atasan langsung dan pengawas sekolah yang bertugas melakukan pembinaan dan penilaian melalui supervisi akademik di sekolah binaannya.

Harapan semua pihak guru seharusnya senantiasa berupaya memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya sehingga pembelajaran yang dilakukannya menarik, efektif, menyenangkan, dan mengaktifkan siswa. Selain itu guru juga harus mengetahui kewajibannya sebagai pendidik seperti yang diuraikan pada UU No 20 Tahun 2003 Pasal 40 (2) yaitu (1) Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis, (2) Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, (3) Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan.

Kenyataannya berdasarkan hasil supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah , menyatakan lebih 60% guru pada umumnya belum melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan harapan. Mereka belum memahami bagaimana membuat sendiri silabus dan RPP dengan benar. Silabus dan RPP yang mereka miliki pada umumnya hasil copypaste (menyalin tanpa perbaikan), bahkan fotocopy dari model RPP dan silabus sekolah lain yang ditandai dengan adanya nama sekolahnya tidak sesuai dengan sekolah tempat tugas. Hasil supervisi kepala sekolah 72% RPP yang dibuat guru menggunakan copypaste yang dapat diamati lewat RPP yang dibuatnya tidak ada perubahan-perubahan dari tahun ke tahun. Pelaksanaan pembelajaran belum memanfaatkan alat dan media pembelajaran yang tersedia di sekolah. Mereka masih menggunakan “medikem” dan metode ceramah yang konvensional. Mereka juga belum menunjukkan adanya upaya yang sungguh-sungguh dalam meningkatkan mutu PBM-nya melalui penggunaan alat dan media pembelajaran sehingga proses pembelajaran yang mereka lakukan masih jauh dari standar yang diharapkan.

Kejadian tersebut juga dialami SD Negeri Gandasuli 02 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes. Hasil supervisi penulis selaku kepala sekolah terhadap kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran.

Kinerja guru sangat besar perannya dalam peningkatan mutu pendidikan. SD Negeri Gandasuli 02 memiliki potensi tetapi mutu di sekolah itu masih rendah sehingga perlu diadakan penelitian tindakan untuk meningkatkan kinerja guru. Kondisi tersebut peneliti ketahui melalui supervisi kunjungan kelas ternyata secara empiris masih banyak guru yang kurang terampil menggunakan media dan metode yang variatif sehingga suasana pembelajaran tidak menarik dan akibatnya siswa menjadi pasif serta kurang semangat dalam belajar. Selain itu, ada juga guru yang beranggapan bahwa tugas melaksanakan proses pembelajaran itu pekerjaan rutin sehingga tidak perlu membuat silabus dan perencanaan pembelajaran terlebih dahulu. Anggapan keliru seperti ini harus segera diluruskan melalui pembinaan kepala sekolah melalui supervisi akademik sehingga pelaksanaan pembelajaran akan terarah atau terprogram dan terlaksana sesuai standar proses. 3).Meningkatkan efektifitas kinerja kepala sekolah. Pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah selama ini juga masih belum efektif, sebab supervisi pengajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah saat itu masih bersifat administratif dan evaluatif. Hal itu mengakibatkan kehadiran kepala sekolah di kelas akhirnya kurang mendapat sambutan yang positif.

Asumsi diatas muncul karena supervisi dipahami sebagai suatu pengawasan yang bukan bersifat membantu, melayani atau menolong guru-guru agar dapat mengatasi hambatannya untuk bias bekerja lebih baik, melainkan untuk menemukan penyimpangan dan kesalahan yang pada akhirnya  hasil yang diharapkan tidak efektif. Untuk itu penelitian tindakan sekolah ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru di SD Negeri Gandasuli 02 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes meningkat baik sampai 84%.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana efektifitas pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah untuk meningkatkan kinerja guru di SD Gandasuli 02 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes? Rumusan tersebut dapat dirinci dalam rumusan masalah sebagai berikut; 1)Apakah pelaksanaan supervisi akademik dapat meningkatkan kinerja guru SD Negeri Gandasuli 02 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes? 2)Apakah supervisi akademik oleh kepala sekolah dapat meningkatkaan motivasi guru di SD Negeri Gandasuli 02 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes?

KAJIAN PUSTAKA

Kinerja Guru

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kinerja diartikan sebagai berikut; (1) sesuatu yang dicapai, (2) prestasi kerja yang diperlihatkan (KBBI, 2006: 503). Dessler (2013; 2) mendefinisikan bahwa kinerja adalah perilaku yang berhubungan dengan kerja seseorang. Kerja merupakan kebutuhan seseorang. Kebutuhan tersebut bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan sering tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang ingin dicapainya dan orang tersebut berharap dengan melakukan pekerjaan yang akan membawa ke dalam keadaan yang lebih baik dan memuaskan. Sanusi (2011; 38), kinerja guru sebagai pengajar mencakup tiga kemampuan, meliputi: (1) Kemampuan profesional, terdiri dari menguasai materi pelajaran, penguasaan dan penghayatan atas landasan kependidikan dan keguruan serta penguasaan terhadap proses-proses pendidikan keguruan dan pembelajaran siswa, (2) Kemampuan sosial yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tujuan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu menjalankan tugas sebagai guru, dan (3) Kemampuan personal yang meliputi: penampilan yang positif terhadap situasi, pemahaman, dan penghayatan nilai-nilai guru dalam setiap penampilan agar menjadi panutan siswa.

Natawijaya (2014: 38) kinerja guru meliputi aspek-aspek: (1) Kemampuan profesional dalam proses belajar mengajar, (2) Kemampuan sosial dalam proses belajar mengajar, dan (3) Kemampuan pribadi dalam proses belajar mengajar. Kemampuan profesional dalam proses belajar mengajar mencakup aspek: (a) penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep keilmuan dari bahan yang diajarkan itu, (b) kemampuan mengelola program belajar mengajar, (c) kemampuan mengelola kelas, (d) kemampuan mengelola dan menggunakan media dan sumber belajar, dan (e) kemampuan menilai prestasi belajar mengajar. Kemampuan sosial dalam proses belajar mengajar meliputi: (a) terampilan berkomunikasi dengan siswa, (b) bersikap simpatik, (c) dapat bekerja sama dengan  komite sekolah, (d) pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendamping. Kemampuan pribadi dalam proses belajar mengajar meliputi: (a) kemampuan dan integrasi pribadi, (b) peka terhadap perubahan dan pembaharuan, (c) berfikir alternative, (d) adil, jujur, dan obyektif, (e) disiplin dalam melaksanakan tugas, (f) berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya, (g) simpatik dan menarik, luwes, bijaksana, dan sederhana dalam bertindak, (h) kreteria, dan (i) berwibawa.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa kinerja guru adalah prestasi kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya melakukan proses belajar mengajar (PBM) yang berlandaskan sejumlah kemampuan/kompetensi yang harus dimilikinya (pengetahuan ketrampilan, sikap dan kepribadian yang positif) serta dilandasi pula jiwa pengabdian dan tanggung jawab yang tinggi.

Supervisi Akademik

Menurut Alfonso (2011) supervisi akademik yang baik adalah supervisi  yang mampu berfungsi mencapai multitujuan. Tidak ada keberhasilan bagi supervisi akademik jika hanya memerhatikan salah satu tujuan tertentu dengan mengesampingkan tujuan lainnya. Hanya dengan merefleksi tujuan inilah supervisi akademik akan berfungsi mengubah perilaku mengajar guru. Pada gilirannya nanti perubahan perilaku guru ke arah yang lebih berkualitas akan menimbulkan perilaku belajar murid yang lebih baik. Alfonso (2011) mengemukakan bahwa perilaku supervisi akademik secara langsung berhubungan dan berpengaruh terhadap perilaku guru. Ini berarti, melalui supervisi akademik, supervisor mempengaruhi perilaku mengajar guru sehingga perilakunya semakin baik dalam mengelola proses belajar mengajar. Selanjutnya perilaku mengajar guru yang baik itu akan mempengaruhi perilaku belajar murid. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa tujuan akhir supervisi akademik adalah terbinanya perilaku belajar murid yang lebih baik.

Berkaitan  dengan prinsip-prinsip supervisi akademik, akhir-akhir ini, beberapa literatur telah banyak mengungkapkan teori supervisi akademik sebagai landasan bagi setiap perilaku supervisi akademik. Beberapa istilah, seperti demokrasi (democratic), kerja kelompok (team effort), dan proses kelompok (group process) telah banyak dibahas dan dihubungkan dengan konsep supervisi akademik. Pembahasannya semata-mata untuk menunjukkan kepada kita bahwa perilaku supervisi akademik itu harus menjauhkan diri dari sifat otoriter, di mana supervisor sebagai atasan dan guru sebagai bawahan. Begitu pula dalam latar sistem persekolahan, keseluruhan anggota (guru) harus aktif berpartisipasi, bahkan sebaiknya sebagai prakarsa, dalam proses supervisi akademik, sedangkan supervisor merupakan bagian darinya.  Semua ini merupakan prinsip-prinsip supervisi akademik modern yang harus direalisasikan pada setiap proses supervisi akademik di sekolah-sekolah.

Supervisi akademik yang baik harus mampu membuat guru semakin kompeten, yaitu guru semakin menguasai kompetensi, baik kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Oleh karena itu, supervisi akademik harus menyentuh pada pengembangan seluruh kompetensi guru.  Menurut Neagley (2010) terdapat dua aspek yang harus menjadi perhatian supervisi akademik baik dalam perencanaannya, pelaksanaannya, maupun penilaiannya.

Pertama, apa yang disebut dengan substantive aspects of professional development (yang selanjutnya akan disebut dengan aspek substantif). Aspek ini menunjuk pada kompetensi guru yang harus dikembangkan melalui supervisi akademik. Aspek ini menunjuk pada kompetensi yang harus dikuasai guru. Penguasaannya merupakan sokongan terhadap keberhasilannya mengelola proses pembelajaran. Ada empat kompetensi guru yang harus dikembangkan melalui supervisi akademik, yaitu kompetensi-kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial. Aspek substansi pertama dan kedua merepresentasikan nilai, keyakinan, dan teori yang dipegang oleh guru tentang hakikat pengetahuan, bagaimana murid-murid belajar, penciptaan hubungan guru dan murid, dan faktor lainnya. Aspek ketiga berkaitan dengan seberapa luas pengetahuan guru tentang materi atau bahan pelajaran pada bidang studi yang diajarkannya.

 

METODE PENELITIAN

Subyek penelitian ini adalah seluruh guru yang mengajar di SD Negeri Gandasuli 02 Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 12 orang guru yang terdiri dari 4 orang guru laki-laki dan 8 orang guru perempuan.

Penelitian ini dilaksanakan pada Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016 selama 4 bulan yaitu pada bulan September 2015 sampai bulan Desember 2015. Siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 28 September 2015 dan siklus II dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2015.Tempat penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Gandasuli 02 Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

Prosedur penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observasing), dan refleksi (reflecting).

Penelitian ini dilaksanakan melalui 3 tahapan, yaitu (1) Perencanaan, yang meliputi pembuatan rancangan penelitian untuk dikonsultasikan kepada pembimbing, (2) Pelaksanaan penelitian dengan 2 siklus, dan (3) Penyusunan l

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah sebagai berikut: 1).Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini meliputi teknik tes dan non tes, Namun demikian untuk memudahkan dalam pengolahan data, maka teknik yang digunakan hanya teknik yang berbentuk tes. 2).Jenis data yang akan digunakan adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang diperoleh dari hasil observasi pada saat supervisi akademik berlangsung, sedangkan data kualitatif adalah nilai tugas dalam penelitian ini yaitu kegiatan pelaksanaan pembelajaran. 3).Teknik dan pengambilan dan pengumpulan data pada penelitian tindakan sekolah ini dilakukan dengan cara berikut ini: a).Metode pemberian tugas atau tes. Data prestasi diperoleh dengan memberikan tes sebagai alat evaluasi kepada guru. Tes atau tugas individu ini diberikan pada siklus I dan siklus II;  b).Metode angket. Metode ini digunakan peneliti untuk memperoleh informasi tentang masalah yang dihadapi guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran; c).Metode dokumentasi dilaksanakan dengan mencatat dan mengabadikan kegiatan guru dalam penyususnan RPP, hasil evaluasi pembelajaran, program perbaikan dan pengayaan serta pengembangan profesi guru yang meliputi: pembuatan media pembelajaran, menyusun modul,menulis artikel dan mengadakan penelitian tindakan kelas.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Secara keseluruhan bahwa proses penelitian telah dilakukan secara bertahap dari siklus I dan siklus II. Perkembangan yang dicapai telah menunjukkan hasil yang sangat signifikan, baik yang berhubungan dengan aktivitas guru maupun aktivitas siswa. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran sangat dinamis dan senantiasa berusaha untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi, baik yang dialami guru maupun siswa.

Untuk aktivitas kinerja guru dalam mengajar yang dilakukan oleh guru mengalami perubahan yang sangat signifikan dirasakan dari kualitas pembelajaran dari cukup menjadi baik dan akhirnya menjadi baik sekali, ini berdasarkan prosentase yang terus berkembang dari pengamatan pembelajaran. Demikian pula dalam ketuntasan belajar siswa mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dengan demikian secara keseluruhan kita dapat mengetahui perbedaan antara siklus I dan siklus II. Dengan melalui penelitian dengan judul” Meningkatkan Kinerja Guru Melalui Supervisi Akademik di SD Negeri Gandasuli 02 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016”

Berdasarkan tabel dan grafik di bawah ini, dapat diketahui bahwa perbedaan antara siklus I dan siklus II mempunyai perbedaan yang berarti dan mempunyai perubahan yang sangat signifikan.

Tabel .1  Kinerja guru pada pra siklus

No Pernyataan Pra siklus
A B C D E JM
1 Rekap kuesioner Guru 12,5 50 37,5 100
2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 12,5 50 37,5 100
3 Pelaksanaan Pembelajaran 12,5 75 12,5 100
4 Pelaksannaan Evaluasi 25 75 100
5 Pelaksanaan Perbaikan 12,5 50 37,5 100
6 Pelaksanaan Pengayaan 25 50 25 100
7 Nilai Kinerja Guru 25 50 25 100
Rata-rata 2,2 17,86 57,14 25

Kriteria :A:SangatBaik;B:Baik;C:Cukup;D:KurangBaik;E:Tidak Melaksanakan

Tabel .2  Kinerja guru pada siklus I

No Pernyataan Siklus I
A B C D E JM
1 Rekap kuesioner Guru 12,5 37,5 50 100
2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 50 37,5 12,5 100
3 Pelaksanaan Pembelajaran 75 12,5 12,5 100
4 Pelaksannaan Evaluasi 87,5 12,5 100
5 Pelaksanaan Perbaikan 75 12,5 12,5 100
6 Pelaksanaan Pengayaan 75 12,5 12,5 100
7 Nilai Kinerja Guru 12,5 75 12,5 100
Rata-rata 3,57 67,86 21,14 7,14 7,14

Tabel .3  Kinerja guru pada siklus II

No Pernyataan Siklus II
A B C D E JM
1 Rekap kuesioner Guru 50 50 100
2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 25 62,5 12,5 100
3 Pelaksanaan Pembelajaran 50 37,5 12,5 100
4 Pelaksannaan Evaluasi 50 50 100
5 Pelaksanaan Perbaikan 25 75 100
6 Pelaksanaan Pengayaan 25 62,5 12,5 100
7 Nilai Kinerja Guru 25 75 100
Rata-rata 5 35,7 58,9 5,4

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian, analisis dan penafsiran data tentang pelaksanaan supervisi akademik dalam upaya peningkatan kinerja guru di SD Negeri Gandasuli 02 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes, maka dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut : 1).Supervisi akademik dapat meningkatkan kinerja guru pada aspek penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran. 2).Supervisi akademik dapat meningkatkan motivasi guru pada aspek penilaian; 3).Supervisi akademik dapat meningkakan aktifitas kinerja guru di SD Negeri Gandasuli 02 Kecamatan Brebes Kabupaen Brebes.

         Berdasarkan kesimpulan diatas, saran yang dapat diajukan sebagai berikut: 1).Kepala sekolah : supervisi akademik merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan ketrampilan guru dalam menyelesaikan administrasi terutama dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang standar, oleh karena itu kepala sekolah hendaknya melakukan pembinaan secara kontinyu; 2).Pengawas : hendaknya mau menerapkan supervisi akademik dalam melaksanakan supervisi di sekolah-sekolah guna meningkatkan kemampuan guru terutama dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). 3).Peneliti sejawat : karena keterbatasan waktu dalam melaksanakan penelitian ini, maka peneliti sejawat untuk bisa melanjutkan penelitian ini lebih mendalam agar hasilnya lebih baik sesuai dengan apa yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2012. Supervisi Pendidikan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Menengah Pertama.

Lovell, J. T., ^ Wiles, K. 2012, Supervsion for Batter Scohool Englewood Cliffts, NJ : Prentice-Hall-INC.

Mantja, Willem. 2010. Bahan Ajar Model Peningkatan Mutu Supervisi Pendidikan. Malang : PPS Manajemen Pendidikan UM.

Mulyasa. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Dalam konteks Menyukseskan MBS dan KBK. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Natawidjaja, R. 2004. Profesionalisasi Guru. Makalah pada Seminar Pendidikan Profesional Tenaga Kependidikan. Bandung : FPS.

Olivia, Peter F. 2004. Supervision for Todays Schools. New York & London : Longman.

Peraturan Menteri Negara Pendayaguanaan Aparatur Negara Nomor 84/2010, tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Pidarta, Made. 2012. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Purwanto, Ngalim. 2007. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Karya

Suhertian, Piet A. 2010. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam      Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Cipta

BIODATA PENULIS

Nama                           : Prihastuti Kusumaningsih, S.Pd., M.Pd

NIP                             : 19670804 198806 2 003

Pangkat                       : Pembina

Jabatan                        : Kepala Sekolah

Unit Kerja                   : SDN Gandasuli 02 Kec. Brebes Kab. Brebes




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *