Peningkatan Kompetensi Menulis Essei Pendek Sederhana Berbentuk Recount Melalui Serial Pictures Chart Sebagai Media Pembelajaran Visual

PENINGKATAN KOMPETENSI MENULIS ESSEI PENDEK SEDERHANA BERBENTUK RECOUNT MELALUI SERIAL PICTURES CHART  SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN VISUAL PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS KELASVIII E SEMESTER GENAP  SMP NEGERI 2 KEBASEN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh : Mutakin, S.Pd

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi menulis esei pendek sederhana berbentuk recount dengan bantuan serial picuters chart sebagai media visual pada kelas VIII E Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan angket. Hasil akhir pada siklus 2 berdasarkan data pengembangan daya kreatifitas berdasarkan 10 aspek pengamatan diperoleh prosentase daya kreatifitas sebesar 87,94%. Dalam kemampuan menulis esai pendek sederhana berbentuk recount yang didasarkan pada 5 indikator diperoleh rerata prosentase tingkat kemampuan siswa sebesar 86,34%. Besaran prosentase ini diperoleh dari kemampuan memproduksi kalimat sebesar 78,50%, pengungkapan ide sebesar 94,35%, pengembangan gagasan mencapai 83,65%, kompetensi mengembangkan hubungan kronologis peristiwa sebesar 86,70% dan ketrampilan dalam menggunakan kata kerja lampau (past verb) secara tepat sebesar 88,50%. Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan bantuan serial picuters chart sebagai media visual pada kelas VIII E Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014, dapat meningkatkan kompetensi menulis esei pendek sederhana berbentuk recount.

Kata Kunci :  kompetensi menulis, esai pendek berbentuk recount, media visual serial picture chart

PENDAHULUAN

Berawal dari hasil pembelajaran menulis yang dilaksanakan di kelas VIII E diperoleh simpulan bahwa siswa memiliki kreatifitas yang rendah. Kerendahan kreatifitas mereka ditengarai dalam sebuah evaluasi ketika siswa diberi tugas menyusun essay pendek sederhana berbentuk recount dalam waktu 40 menit rata-rata hanya mampu memproduksi 1-2 paragrap dari 5 yang peneliti targetkan. Dalam kemampuan membuat essay pendek juga masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan tata bahasa, diksi dan pengembangan ide dari tema yang mereka miliki secara umum masih kurang dari 50% atas seluruh siswa di kelas itu yang mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Kondisi ini dimungkinkan karena peneliti tidak menggunakan alat peraga dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran dengan tanpa alat bantu belajar menjadikan siswa mengalami verbalistik yakni mendengar istilahnya tetapi tidak mengetahui wujudnya. Pendukung lain rendahnya hasil pembelajaran karena peneliti hanya menggunakan metode ceramah. Kecenderungan penggunaan metode ini amat memungkinkan siswa mengalami penurunan daya tahan berpikir yang pada gilirannya hanya mengantuk. Dalam kondisi mengantuk siswa sulit mencerna penjelasan guru. Begitu diberi tugas, otak siswa dalam keadaan kosong sehingga sulit mengembangkan ide.

Harapan akhir pembelajaran menulis adalah agar kreatifitas siswa dan kemampuan menulis meningkat sebab  dalam berinteraksi sosial, tanda-tanda berupa bunyi dan huruf tidak dapat  diucapkan atau ditulis secara acak sehingga diperlukan aturan khusus agar tanda-tanda dapat dimengerti oleh orang lain. Secara psikologis manusia memang sudah memiliki seperangkat  aturan yang ada dalam otaknya (Chomsky, 1965). Pekerjaan peneliti adalah bagaimana mengembangkan seperangkat itu dalam otak siswa sehingga produktifitas ujaran-ujaran dapat berjalan secara maksimal. Apabila kemampuan menulis ini tidak tercapai maka dikhawatirkan kemampuan berikutnya juga akan mengalami hambatan. Apabila hal ini berjalan terus dalam semua kemampuan maka anak akan mengalami kegagalan belajar sehingga tidaka naik kelas.

Menyadari akan kondisi pembelajaran tersebut, peneliti mengubah pola pembelajaran dengan menggunakan alat bantu belajar. Hal ini disadari bahwa anak-anak Inggrispun pada kenyataannya juga menggunakan alat bantu belajar untuk berceritera tentang kejadian-kejadian nyata yang sudah dialami (recount) baik secara lisan maupun tulis meskipun bagi mereka Bahasa Inggris bukan bahasa asing.  Hal ini disebabkan karena berceritera diperlukan langkah orientasi diikuti oleh urutan kejadian yang biasanya ditutup oleh re-orientasi atau twist (Gerot dan Wignell, 1995:193).

Masalah yang terjadi adalah kenyataan bahwa kreatifitas dan kompetensi menulis siswa rendah. Target KKM sebesar 6,8 belum tercapai. Harapan kita serendah-rendahnya 75% dari jumlah siswa mampu mencapai KKM. Kenyataan yang kedua adalah peneliti belum mennggunakan alat bantu belajar. KKM 6,8 inilah yang peneliti upayakan ketercapaiannya. Bukan merupakan upaya yang ringan karena dibutuhkan kesungguhan dari berbagai pihak sehingga terjadi simbiosis mutualisme dalam proses belajar mengajar menulis.

Solusi yang penulis tempuh dalam peningkatan kreatifitas dan kompetensi menulis siswa adalah melalui pemanfaatan alat peraga belajar berupa chart. Chart ini disesuaikan dengan tema yang akan dikaji. Mengingat dalam penelitian ini peneliti menggunakan tema kecelakaan maka chart yang peneliti gunakan disebut chart. Mula-mula chart dipakai dalam kelompok besar yang bersifat klasikal. Langkah berikutnya peneliti telah menyiapkan 8 chart berisi peristiwa kecelakaan yang  digunakan dalam kelompok kecil terdiri dari 5 orang. Kemudian peneliti membuat 10 chart lain dalam peristiwa kecelakaan yang berbeda untuk dikembangkan secara berpasangan. Siswa memilih secara acak chart tersebut. Apa yang didapatkan siswa itulah yang dikembangkan dalam bentuk essay pendek. Peran dari chart ini dalam pembelajaran menulis adalah untuk membantu penggalian ide siswa sekaligus menata urutan kejadian satu ke kejadian yang lain sehingga diharapkan pikiran mereka dapat berjalan logis, laju dan kronologis. Hal ini penting untuk melatih siswa berpikir secara sistematis dan realitistis.

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Harmer (1998, p. 79) memaparkan tentang alasan-alasan pengajaran menulis bahasa Inggris bagi siswa sebagai bahasa asing. Pengajaran itu meliputi penguatan ide (reinforcement), pengembangan bahasa (language development) dan pembentukan tipe pembelajaran  (learning style).

Hal paling penting dalam pembelajaran ini harus disadari bahwa menulis hakekatnya merupakan sebuah ketrampilan (writing as a skill)  dan hak pribadi yang tidak dapat diganggu gugat oleh orang lain.

Ada beberapa siswa yang baik dalam pengungkapan bahasa hanya dengan melihat dan mendengar. Pada lain sisi siswa harus mengeluarkan banyak waktu untuk berpikir dan memproduksi bahasa atau dengan kata lain mereka lebih lamban dalam merefleksikan apa yang telah mereka pelajari.

Alasan terpenting untuk pengajaran menulis adalah menulis merupakan ketrampilan berbahasa dasar yang sama pentingnya dengan berbicara, mendengar dan menulis.Siswa perlu memahami bagimana menyusun huruf, bagaimana meletakkan tulisan secara bersama-sama, mereka harus memahami konvensi khusus tentang penggunaan tanda baca,  dan bagaimana mengkonstruksi sebuah paragrap. Hal-hal ini merupakan kebutuhan sama pentingnya dengan ketika kita dituntut mengucapkan kosa kata dalam Bahasa Inggris secara tepat dan benar.  Dapat ditegaskan kembali bahwa menulis memang ketrampilan berbahasa yang amat penting. Menulis merupakan kemampuan berproduksi secara total dan menulis juga merupakan cara bagaimana siswa mengekspresikan ide atau pemikirannya di atas kertas kerja.

Proses menulis amat dipengaruhi oleh untuk siapa kita menulis (reader), mengapa kita menulis (purpose), apa yang kita tulis (content), dimana kita berada, berapa banyak waktu yang tersedia dan bagaimana perasaan kita (situation).

Pada kenyataannya, ada tiga langkah utama yang dilakukan dalam proses menulis yaitu persiapaan menulis (preparing), membuat konsep (drafting) dan  revisi (revising) (Brown & Hood, 1998, p.6).

Recount Text

Fungsi sosial teks recount digunakan untuk menceritakan peristiwa atau pengalaman masa lampau sebagai wahana informasi atau hanya sekedar hiburan. Pada hakekatnya teks recount disamping memiliki fungsi sosial untuk menceritakan sebuah kejadian lampau yang memiliki sifat menghibur biasanya diakhiri dengan kelucuan. Namun kelucuan ini hanya bersifat opsional. Tujuan utama teks ini tetap sebagai media informasi.

Teks recount biasanya memiliki tiga unsur utama yakni orientasi, daftar kejadian dan re-orientasi atau komentar pribadi. Dalam orientasi kita harus menyebutkan orang atau benda yang melakukan atau yang terlibat di dalamnya serta waktu, situasi, tempat dan lain-lain. Daftar kejadian harus didasarkan pada urutan kejadian. Bagian kedua dari teks ini disebut dengan event. Pada bagian ini penulis bercerita apa-apa yang telah terjadi atau dialami pada masa lampau.

Paparan cerita harus urut tanpa harus mengalami loncatan peristiwa. Hal yang diceritakan benar-benar segala sesuatu yang real dan berdasarkan fakta. Teks ini melatih kejujuran penulis tanpa harus memasukkan perasaannya sendiri apalagi sentimen pribadi atau mengandung tendensi tertentu.

Bagian terakhir berupa re-orientation yang berisi komentar pribadi  untuk merangkum kejadian-kejadian tersebut. Komentar pribadi bersifat opsional artinya tidak selalu ada (Derewianka, 1990; Hardy dan Klarwein, 1990; Gerrot dan Wignell, 1994).

Menurut Gerrot dan Wignell teks recount menekankan pada tokoh yang sudah pasti misalnya: I, we, he, she, it, they, Mr. Brendy, our dog, the shopkeeper. Teks ini juga menggambarkan rangkaian kata kerja aksi (material process) misalnya: went, climed, ate. Rangkaian waktu yang saling menyambung seperti; on Wednesday, then, at the same time, next, later, before menjadi ciri kebahasaan teks recount. Adapun tense yang dipakai adalah Past Tense karena ia digunakan untuk menceritakan kejadian masa lampau.

Teks recount menurut Kurikulum 2004 yang kemudian diperdalam dalam Kurikulum 2006 dan tetap eksis pada Kurikulum 2013 bertujuan untuk menguraikan tentang suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Uraian tersebut dapat berupa laporan sebuah kejadian kecelakaan, laporan sebuah kegiatan dan sebagainya. Jenis teks ini mirip dengan anekdot. Perbedaan yang menonjol adanya unsur lucu dan menghibur dalam teks anekdot Karena perbedaan inilah, maka kedua jenis teks ini menggunakan struktur generic dan unsur leksikogramatika yang juga berbeda.

Media Visual Serial Pictures Chart

Kata media berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah media berarti perantara atau pengantar pesan pengirim ke penerima pesan. Asosiasiasi Tekhnologi dan Komunikasi Pendidikan di Amerika membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi.

Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Agak berbeda dengan paparan diatas yakni pengertian media menurut National Education Association (NEA). Lembaga ini berpandangan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya.

Media pembelajaran secara arbitrer dapat dikategorikan dalam lima kelompok besar yakni visual, audio, audio-visual, tactile dan virtual. Chart yang peneliti gunakan dalam penelitian ini termasuk dalam kelompok visual. Jenis media ini dipahami sebagai alat pandang artinya segala peralatan belajar yang pemanfaatannya  melalui indra penglihatan.

Pembelajaran menggunakan chart  diawali dengan pengenalan topik yang akan dibahas oleh guru. Guru menuliskan beberapa topik yang akan dipelajari kemudian mempersilakan siswa memilih topik yang paling menarik. Setelah topik dipilih secara bersama-sama, guru menanyakan kepada siswa apa yang mereka ketahui tentang topik tersebut. Kegiatan ini disebut sumbang saran.

Setelah semua kata siap, guru bersama-sama siswa membahas apa yang harus dilakukan dengan kata-kata tersebut. Bagaimana cara menggunakan kata-kata dimaksud dalam kalimat recount kemudian dilengkapi dengan keterangan waktu, kata penghubung ataupun filler-filler lain yang biasa digunakan dalam teks recount. Guru juga harus mengingatkan siswa tentang penggunaan tanda baca dan huruf besar secara tepat sehingga kalimat-kalimat yang tersusun akan menjadi bermakna dan komunikatif.

Sesudah semua kegiatan belajar dalam kelompok besar dilalui, anak dibagi dalam kelompok kecil. Chart yang tadi diterima dalam kelompok besar kini dipecah-pecah dalam kelompok kecil sehingga setiap kelompok kecil cukup memegang satu gambar namun kalau digabung-gabung gambar tersebut sebenarnya merupakana satu cerita.

Kelompok kecil harus mengadakan investagasi atas gambar tersebut untuk mampu menyusun sebuah paragrap. Guru selalu membimbing siswa dalam memproduksi kalimat-kalimatnya. Siswa akan mengalami kemudahan karena pada saat pembelajaran kelompok besar sudah menyepakati langkah-langkah dalam menyusun  kalimat yang benar.

Setelah kelompok kecil berhasil menyusun paragrap, masing-masing ketua kelompok kecil mengadakan pertemuan untuk melakukan diskusi mengurutkan urutan paragrap dengan cara saling pamer gambar yanag dipegang. Setelah disepakakti bersama, urutan tersebut dikonfirmasikan kepada teman-teman sekelas untuk dimintakan persetujuannya dan guru boleh memberikan sumbang saran atas urutan yang padu dimaksud.

Setelah semua sepakat, masing-masing ketua kelompok kecil memaparkan paragrapnya urut sesuai dengan paragrap yang disepakati tadi. Hasil paparannya ditempel di papan display. Pada akhir pelajaran semua siswa dipersilakan melihat di papan display sekaligus untuk saling mengkoreksi penggunaan tenses, tanda baca dan huruf besar. Untuk lebih melibatkan siswa dalama memberikan penilaian, maka siswa secara aklamasi memberikan penilaian paragrap tersbaik dan pada akhirnya siswa menulis di buku masing-masing dengan cara mencontoh paragrap di papan display.

METODE PENELITIAN

Penyusunan PTK dilaksanakan pada 15 Januari – 28 Juni 2014 dalam Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014 sesuai dengan Program Tahunan dan Program Semester. Sebelum penelitian dilaksanakan peneliti mengadakan penyusunan proposal pada bulan Januari 2014. Pada bulan Februari 2014 peneliti mengadakan penyusunan instrument.

Pengumpulan data dilaksanakan peneliti pada Maret 2014. Pada bulan April 2014  peneliti mengadakan analisis data. Kegiatan pembahasan dilaksanakan pada Mei 2014 sedangkan penyusunan laporan hasil penelitian dilaksanakan pada Juni 2014.

Pelaksanaan penelitian dilakukan di kelas VIII E SMP Negeri 2 Kebasen Tahun Pelajaran 2013/2014. Sejak Maret 1991 berdasarkan SK Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Propinsi Jawa Tengah Nomor 4178/I03.d.1/Cb.1991 atas nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan peneliti menerima Surat Keputusan pengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil sekolah ini dengan pangkat Guru Pemula golongan II/b . Saat itu peneliti mendapat gaji 80% dari sebesar Rp 84.970.

Objek penelitian yang peneliti lakukan adalah penggunaan media visual berupa chart yang berisi peristiwa kecelakaan (accident). Media ini yang selanjutnya disebut penulis sebagaai chart. Fokus penggunaan chart ini dikhususkan pada penggunaan dalam pembelajaran menulis khususnya teks sederhana berbentuk recount. Disamping itu peneliti juga mengukur daya kreatifitas siswa dalam kecepatan membangun ide yang diwujudkan pada produktifitas kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi paragrap termasuk paragrap menjadi teks yang padu.

Sumber data yang peneliti gunakan ada dua macam yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari subyek penelitian. Data ini berasal dari Ulangan Harian Pertama, Kedua dan Ketiga. Sedangkan data sekunder diambil dari guru BK dan catatan hasil observasi kolaborator. Ulangan Harian peneliti peroleh setelah pembahasan satu kompetensi dasar (KD). Ulangan harian berfungsi juga untuk mengukur seberapa besar kemajuan belajar siswa dari KD 1 ke KD berikutnya.

Alat yang peneliti gunakan untuk mengumpulkan data berupa buku dokumentasi catatan siswa, lembar observasi, daftar nilai, butir soal baik lisan maupun tulis yang secara keseluruhan menggambarkan kondisi anak secara real. Data kondisi awal tentang kreatifitas siswa peneliti peroleh dari dokumen buku catatan siswa tentang kreatifitas. Buku ini merupakan catatan peneliti selama proses pembelajaran awal.

Untuk menvalidasi data peneliti menggunakan face validity melalui metode triangulasi dan kolaborasi. Dalam menggunakan metode triangulasi peneliti melibatkan dua unsur terdiri dari guru teman sejawat dan Kepala Sekolah sebagai Komentator Pertama dan Kedua sedangkan peneliti sendiri akan melakukan refleksi diri. Berdasarkan teori ini maka pengolahan hasil validitas sudah merupakan gabungan tiga komponen dimaksud.

Adapun metode kolaborasi dapat digambarkan bahwa peneliti dan pengamat sama-sama telah memiliki data tentang anak baik kondisi awal maupun siklus pertama dan kedua. Untuk memperoleh validitas data ini, maka penulis melakukan koreksi silang dengan teman sejawat sedangkan Kepala Sekolah sebagai kolaborator berwenang untuk mengolah data tersebut. Hasil olahan data kolaborator  yang akan digunakan untuk menghitung tingkat kerberhasilan pembelajaran di kelas VIII F dimaksud.

Analisa data peneliti lakukan dengan metode deskriptif komparatif yang dilanjutkan dengan refleksi. Metode deskriptif dilakukan dengan cara membandingkan data hasil pengamatan tentang daya kreatifitas siswa pada kondisi awal dengan kondisi pada siklus pertama kemudian data daya kreatifitas siswa pada siklus pertama dibandingkan dengan kondisi siklus kedua dan yang terakhir data daya kreatifitas siswa pada siklus kedua dibandingkan dengan kondisi awal. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut kemudian peneliti melakukan refleksi. Refleksi ini diakhiri dengan membuat simpulan berdasarkan deskriptif komparatif tersebut kemudian memberi ulasan dan menentukan action plan.

Keberhasilan pembelajaran ini ditengarai oleh adanya beberapa indikator sebagai alat ukur. Indikator disamping sebagai alat ukur juga sebagai target ketercapaian. Indikator keberhasilan pada kemampuan siswa pada kompetensi membuat teks recount sederhana ditengarai oleh adanya kondisi awal dengan nilai 55,40  ditargetkan menjadi minial 75,00 pada siklus kedua.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Hasil dari refleksi awal kompetensi menulis essay pendek berbentuk recount yang dilakukan terhadap siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Kebasen Tahun Pelajaran 2013/2014 sebelum dilakukan tindakan pada siklus I, didapatkan tingkat kompetensi seperti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.2. Persentase Kompetensi Menulis Essay Pendek Berbentuk Recount  Pada Kondisi Awal

Dari tabel di atas terlihat bahwa kinerja siswa  memiliki skor 55,40%, yang meliputi aspek produktifitas kalimat 52,33%, aspek kompetensi penuangan ide 54,50%, aspek pengembangan gagasan 48,00%, aspek kemampuan menghubungkan peristiwa secara kronologis 62,65% serta ketrampilan penggunaan kata kerja lampau sebesar 59,50%. Persentase kinerja siswa tersebut termasuk pada kategori yang rendah, perhatikan gambar berikut.

Gambar 4.2. Kategori Kinerja Siswa dalam Kompetensi Menulis Essay Pendek Berbentuk Recount  Pada Kondisi Awal                 

Deskripsi Siklus 1

Hasil dari refleksi pada Siklus 1 terhadap kompetensi menulis essay pendek berbentuk recount yang dilakukan terhadap siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Kebasen Tahun Pelajaran 2013/2014 didapatkan tingkat kompetensi seperti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.8 Persentase Kompetensi Menulis Essay Pendek Berbentuk Recount Pada Siklus 1

Dari tabel di atas terlihat bahwa prosentase kinerja siswa  mengalami kenaikan dari 55,40% pada kondisi awal menjadi 74,13% pada siklus 1. Angka ketercapaian ini sudah hampir mencapaia ambang batas minimal yakni 75%. Besaran prosentase ini meliputi aspek produktifitas kalimat 68,40%, aspek kompetensi penuangan ide 78,35%, aspek pengembangan gagasan 67,80%, aspek kemampuan menghubungkan peristiwa secara kronologis 77,90% serta ketrampilan penggunaan kata kerja lampau sebesar 78,20%. Persentase kinerja siswa tersebut termasuk pada kategori sedang. Perhatikan gambar berikut.

Gambar 4.8 Kategori Kinerja Siswa dalam Kompetensi Menulis Essay Pendek Berbentuk Recount  Pada  Siklus 1

Deskripsi  Siklus 2

Hasil dari refleksi pada Siklus 2 terhadap kompetensi menulis essay pendek berbentuk recount yang dilakukan terhadap siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Kebasen Tahun Pelajaran 2013/2014 didapatkan tingkat kompetensi seperti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.14 Persentase Kompetensi Menulis Essay Pendek Berbentuk Recount Pada Siklus 2

Dari tabel di atas terlihat bahwa prosentase kinerja siswa  mengalami kenaikan 12,21% dari 74,13% pada siklus 1 menjadi 86,34% pada siklus 2. Angka ketercapaian ini sudah melampaui batas minimal yakni 75%. Besaran prosentase ini meliputi aspek produktifitas kalimat 78,50%, aspek kompetensi penuangan ide 94,35%, aspek pengembangan gagasan 83,65%, aspek kemampuan menghubungkan peristiwa secara kronologis 86,70% serta ketrampilan penggunaan kata kerja lampau sebesar 88,50%. Persentase kinerja siswa tersebut termasuk pada kategori tinggi. Perhatikan gambar berikut.

Gambar 4.14 Kategori Kinerja Siswa dalam Kompetensi Menulis Essay Pendek Berbentuk Recount  Pada  Siklus 2

                                        

Siswa Berdiskusi Dalam Kelompok Kecil Maupun Besar dan Menampilkan Karyanya

Deskripsi Perkembangan Kemampuan Menulis Essay Pendek Berbentuk Recount

Dalam hal kemampuan menulis essay pendek berbentuk recaount dari kondisi awal yang hanya mencapai 55,40% ternyata pada siklus 1 naik drastis hingga mencapai 74,13%. Pada siklus 3 mampu menembus strata tinggi yakni mencapai 86,34%. Selengkapnya dapat dilih at dalam grafik berikut ini.

Grafik 4.2 Kemampuan Menulis Essai Pendek  

PENUTUP

Rendahnya  kemampuan menulis essay pendek berbentuk recount pada siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Kebasen Kabupaten Banyumas Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014 dapat ditingkatkan dengan penggunaan serial pictures chart sebagai media visual. Chart ternyata mampu menghadirkan ide-ide segar dalam otak anak. Dari hasil pelaksanaan pembelajaran  terdapat kenaikan kemampuan menulis dari kondisi awal ke siklus 1 mencapai 18,73% meskipun dari siklus 1 ke siklus 2 hanya 12,21%. Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan bantuan serial picuters chart sebagai media visual pada kelas VIII E Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014, dapat meningkatkan kompetensi menulis esei pendek sederhana berbentuk recount.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, Douglas., 2007, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, London, Pearson Educatin Inc.

Chomsky, N., 1959, Review of the book of Verbal Behaviour, London, Prentice Hall

Gerrot, Wignel., 1995, A General Introduction os Pshychoanalysis, New York, Liveright

Jeffery, Broughnerr, 2010, Children Creativity, Oxford, Oxford University Press

Sebastian, Johan, 2009, Bagaimana Mengembangkan Daya Kreativitas Anak, Jakarta, Prenda Media Group  

Sutrisno, Hary Sudarto, 2005, Pengenalan Lingkungan Alam Sekitar Sebagai Media  Belajar, Jakarta, Depdiknas

Suprijono, Agus., 2009, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Waddaturrohman, 2012, Hidup Bukan Untuk Mati, Jakarta, PT BIP

Wiriatmadja, Rochiati., 2010, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung, PT Rosdakarya

Yusriana, Ajeng, 2012, Kiat-Kiat Menjadi Guru yang Disukai Anak-Anak, Yogyakarta, Diva Press

Yudha, Saputra & Rudyanto, 2005, Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Ketrampilan Siswa, Jakarta, Depdiknas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *