infopasti.net

Penelitian Tindakan Kelas TK Kemampuan Membaca Tanpa Mengeja

PENINGKATAN KREATIVITAS DAN KEMAMPUAN MEMBACA TANPA MENGEJA MELALUI PERMAINAN  SUKU KATA PADA  PESERTA DIDIK KELOMPOK B TK PERTIWI GANDASULI KECAMATAN BOBOTSARI SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2015-2016

Penelitian ini dilaksanakan di TK Pertiwi Gandasuli Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga tahun pelajaran 2015-2016. Subjek penelitian terdiri dari 19 anak yaitu 12 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 siklus dengan prosedur umum.

Kreativitas anak pada kondisi awal, berkembanag sangat baik 3 anak atau 15,3%, berkembang sesui harapan 4 anak atau 21,5%, mulai berkembang 2 anak atau 10,5% dan belum berkembang 10 anak atau 52,6%. Sedangkan pada siklus I berkembang sangat baik 7 anak atau 36,8%, berkembang sesuai harapan 4 anak atau 21,0%, mulai berkembang 3 anak atau 15,7%, dan belum berkembang 5 anak atau 26,3%. Dan pada siklus II berkembang sangat baik 15 anak atau 78,9%, berkembang sesuai harapan 3 anak atau 15,7%, mulai berkembang 1 anak atau 5,2% dan belum berkembang 1 anak atau 5,2%.

Kemampuan dari Studi awal yaitu anak yang berkembang sangat baik 4 anak atau sekitar 21,0%, berkembang sesuai harapan 4 anak atau sekitar 21,0%, mulai berkembang 2 anak atau 10,5% dan yang belum berkembang 10 anak atau 52,6%, sedangkan pengamatan pada siklus I yang berkembang sangat baik yaitu 7 anak atau 36,8%. Berkembang sesuai harapan 4 anak atau 21,0%, mulai berkembang 3 anak atau 15,7% dan yang belum berkembang 5 anak atau 26,3%. Dan dalam pengamatan pada siklus II, berkembang sangat baik 15 anak atau 78,9%, berkembang sesuai harapan 3 anak atau 15,7%, mulai berkembang 1 anak atau 5,2% dan belum berkembang 1 anak atau 5,2%.

 

Kata kunci : Kreativitas, Mengeja, Suku kata

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Pendidikan nasional didasarkan pada membangun Indonesia seutuhnya untuk mengaktualisasikan potensi dimensi kemanusiaan secara optimal, baik dimensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Taman Kanak-kanak memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam proses peletakan dasar pendidikan generasi bangsa pada masa mendatang. Dimana pendidikan Taman Kanak-kanak sebagai mana dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 28 ayat 3, merupakan pendidikan Anak Usia Dini pada jalur formal yang bertujuan membantu anak didik mengembangkan potensi baik psikhis dan fisik meliputi moral dan nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, kognitif, bahasa, fisik motorik, dan seni, untuk memasuki jenjang Sekolah Dasar.

Masa usia dini sering di sebut dengan. “Golden Age”. Karena dimasa ini, anak mengalami kemajuan yang sangat luar biasa. Pada masa ini perkembangan bicara dan bahasa anak akan berkembang sangat baik dalam suasana yang dipenuhi suara dan gambar, dan dilakukan secara terus menerus. Perkembangan bahasa anak meliputi :bicara, mendengar, membaca dan menulis.

Pendidikan di Taman kanak-kanak dilaksanakan dengan prinsip bermain sambil belajar. Pada masa ini anak belajar kemampuan dasar sesuai dengan tingkat perkembangannya. Sehingga pengamatan visual lebih menonjol. Kenyataanya di lapangan, menunjukkan prestasi anak didik untuk belajar sangat rendah yang ditunjukkan oleh aktifitas dan pemahaman terhadap konsep yang disampaikan oleh guru. Berkaitan dengan kondisi tersebut, maka diperlukan upaya jalan keluar, supaya tidak menimbulkan masalah baru bagi perkembangan anak yang pada dasarnya anak usia TK lebih menghendaki situasi yang lebih konkret dan menyenangkan.

Pembelajaran bahasa khususnya membaca sangatlah penting.. Anak diharapkan mampu menghafal huruf atau abjad sekaligus memahami bentuk-bentuk dari huruf atau abjad. Hal ini akan memudahkan anak dapat membaca lancar.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan kegiatan pengamatan pembelajaran ada beberapa kondisi dan permasalahan dalam proses pembelajaran, di antaranya :

  1. Kualitas dengan kemampuan membaca tanpa mengeja memaki suku kata masih rendah.
  2. Suasana belajar dengan kemampuan membaca tanpa mengeja melalui suku kata masih rendah.
  3. Merasa kesulitan ketika dihadapkan dengan kata yang terdiri dari dua suku kata karena terlalu lama mengeja.
  4. Rasa takut bersalah yang muncul ketika di perkenalkan dengan huruf
  5. Kurangnya kesadaran pentingnya membaca.
  6. Kreativitas membaca masih kurang

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut  penggunaan permainan suku kata dapat meningkatkan kreativitas membaca tanpa, dapat meningkatkan kemampuan membaca tanpa mengeja.

Metodologi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Taman Kanak Kanak Pertiwi Gandasuli peneliti mengambil kelas B. Jumlah peserta didik kelas B adalah 29 anak, terdiri dari 12 anak laki-laki dan 7 anak perempuan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

No Periode Kegiatan Awal Berkembang Sangat Baik Sudah Berkembang Sesuai Harapan Sudah Mulai Berkembang Belum Berkembang
% % % %
1. Sudi Awal 3 15,3 4 21,0 2 10,5 10 52,6

 Dari hasil studi awal sebagai sebagai berikut:

  1. Siklus Pertama

Pada kenyataanya kondisi anak didik di TK Pertiwi Gandasuli saat ini pada kegiatan membaca tanpa mengeja melalui permainan suku kata hasilnya masih jauh dari harapan atau tidak sesuai dengan tujuan. Anak masih tampak belum memahami kegiatan membaca tanpa mengeja melalui permainan suku kata yang disajikan. Dari Studi awal yaitu Kemampuan anak yang berkembang sangat baik 4 anak atau sekitar 21,0%, berkembang sesuai harapan 4 anak atau sekitar 21,0%, mulai berkembang 2 anak atau 10,5% dan yang belum berkembang 10 anak atau 52.6%, sedangkan pengamatan pada siklus I yang berkembang sangat baik yaitu 7 anak atau 36,8%. Berkembang sesuai harapan 4 anak atau 21,0%, mulai berkembang 3 anak atau 15,7% dan yang belum berkembang 5 anak atau 26,3%. Dan dalam pengamatan pada siklus II, berkembang sangat baik 15 anak atau 78,9%, berkembang sesuai harapan 3 anak atau 15,7%, mulai berkembang 1 anak atau 5,2% dan belum bekembang 1 anak atau 5,2%.

Sedangkan untuk Keaktifan anak pada kondisi awal berkembanag sangat baik 3 anak atau 15,3%, berkembang sesui harapan 4 anak atau 21,5%, mulai berkembang 2 anak atau 10,5% dan belum berkembang 10 anak atau 52,6%. Sedangkan pada siklus I berkembang sangat baik 7 anak atau 36,8%, berkembang sesuai harapan 4 anak atau 21,0%, mulai berkembang 3 anak atau 15,7%, dan belum berkembang 5 anak atau 26,3%. Dan pada siklus II berkembang sangat baik 15 anak atau 78,9%, berkembang sesuai harapan 3 anak atau 15,7%, mulai berkembang 1 anak atau 5,2% dan belum berkembang 1 anak atau 5,2%. berikut kami sajikan diagram batang

Diagram batang kreativitas pada studi awal dan siklus pertama

  1. Siklus kedua

Berdasarkan data hasil penelitian terlihat bahwa pada siklus pertama belum mendapatkan hasil yang diinginkan maka dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus ke II. Dan pada siklus II kreativitas anak berkembang sangat baik 15 anak atau 78,9%, berkembang sesuai harapan 3 anak atau 15,7%, mulai berkembang 1 anak atau 5,2% dan belum berkembang 1 anak atau 5,2%. Berikut kami sajikan gambar diagram batang studi awal siklus I dan siklus II.

Diagram batang kreativitas siklus II

Diagram batang kemampuan siklus II

Dari  gambar diagram batang di atas terlihat bahwa kegiatan membaca melalui permainan suku kata dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan peserta didik itu terlihat dari :

  1. Kreativitas anak pada kondisi awal berkembanag sangat baik 3 anak atau 15,3%, berkembang sesui harapan 4 anak atau 21,5%, mulai berkembang 2 anak atau 10,5% dan belum berkembang 10 anak atau 52,6%. Sedangkan pada siklus I berkembang sangat baik 7 anak atau 36,8%, berkembang sesuai harapan 4 anak atau 21,0%, mulai berkembang 3 anak atau 15,7%, dan belum berkembang 5 anak atau 26,3%. Dan pada siklus II berkembang sangat baik 15 anak atau 78,9%, berkembang sesuai harapan 3 anak atau 15,7%, mulai berkembang 1 anak atau 5,2% dan belum berkembang 1 anak atau 5,2%.
  2. Kemampuan dari Studi awal yaitu anak yang berkembang sangat baik 4 anak atau sekitar 21,0%, berkembang sesuai harapan 4 anak atau sekitar 21,0%, mulai berkembang 2 anak atau 10,5% dan yang belum berkembang 10 anak atau 52,6%, sedangkan pengamatan pada siklus I yang berkembang sangat baik yaitu 7 anak atau 36,8%. Berkembang sesuai harapan 4 anak atau 21,0%, mulai berkembang 3 anak atau 15,7% dan yang belum berkembang 5 anak atau 26,3%. Dan dalam pengamatan pada siklus II, berkembang sangat baik 15 anak atau 78,9%, berkembang sesuai harapan 3 anak atau 15,7%, mulai berkembang 1 anak atau 5,2% dan belum berkembang 1 anak atau 5,2%.

Pada siklus II peneliti lebih optimal dan jelas dalam memberikan materi kegiatan membaca tanpa mengeja melalui permainan suku kata. Peneliti juga memberikan apersepsi lebih lama dan lebih mendalam dengan menggunakan bahasa yang di mengerti anak, menggunakan ragam permainan yang inovatif dan kreatif.

Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh selama melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut Penggunaan permainan suku kata dapat meningkatkan kreativitas membaca tanpa mengeja melalui permainan suku kata. Penggunaan permainan suku kata dapat meningkatkan kemampuan membaca tanpa mengeja melalui permainan suku kata

Penutup

Untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan membaca tanpa mengeja, ada beberapa hal atau saran yang ditujukan kepada kepala sekolah, dan guru, antara lain:

1). Kepala Sekolah ,a) Kepala sekolah hendaknya dapat menjadi motor penggerak dalam perbaikan terhadap proses pembelajaran, b) Pihak sekolah harus dapat menciptakan kondisi belajar yang memadai dengan memperhatikan fasilitas dan sarana prasarana sekolah yang menunjang dalam pembelajaran. 2 ) Guru, a), Guru hendaknya menggunakan permainan suku kata untuk meningkatkan kemampuan membaca tanpa mengeja pada peserta didik kelompok B. b) Guru hendaknya lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bervariasi guna meningkatkan minat anak terhadap proses pembelajaran. Karena pada dasarnya belajar membaca tidak harus dilakukan dengan buku, duduk tenang, dan mengeja. Namun dapat dilakukan dengan permainan yang bervariasi, c), Apabila menggunakan permainan, sebaiknya setiap pertemuan usahakan dengan cara yang berbeda sehingga merangsang, anak untuk lebih tertarik dan termotivasi serta aktif

 

DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, M. Toha. 2002. Metode Penelitian. Jakarta : Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Arikunto, Suharsimi. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.

Depdiknas, 2006.Pedoman Penilaian di Taman Kanak-kanak.Jakarta Departeman Pendidikan Nasional.

Depdiknas, 2007.Persiapan Membaca dan Menulis Permulaan MelaluiPermainan.Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Dhieni, Nurbiana. 2007. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta : Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Ekayah, Siti. 2009. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak UsiaDini. Jakarta : Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Hartati, Sofia. 2005. Perkembangan Belajar pada Anak Usia Dini. Jakarta Depdiknas.

Hasan, Maimunah. 2010. Pendidikan Anak Usia Dini. Jogjakarta : Diva Press.

Leonhardt, Mary. 1997. 99.Cara Menjadikan Anak Anda “Keranjingan”

Moeslichatoen.2004. Metode Pengajuan di Taman Kanak-kanak.Jakarta : Rineka

Mutiah, Diana. 2010. Psikologi Germain Anak Usia Dini. Jakarta : Kencana.

Partini, 2010.Pengantar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta : Grasindo.

Purwanto, Ngalim. 1990. Prinsip-prinsip dan Tekhnik Evaluasi Pengajaran.Bandung : PT. Remaja RosdakRifki

Sudiana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Alengajar.Bandung : PT. Remaja RosdakRifki.

Suyadi. 2009. Psikologi Belajar PAUD. Yogyakarta: Pedagogia.

 

Nama                        :  Poedji Sri Indriyati, S.Pd

NIP                          :  19600926 198103 2 008

Program Studi          :  S1 PG PAUD

Unit Kerja                :  Kepala TK Gandasuli Bobotsari PBG

 


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *