PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN METODE DISCOVERY

PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN METODE DISCOVERY

Oleh  :  Dra Ani Supriatiningsih

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi Cahaya dan Sifat-sifatnya melalui metode discovery. Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas dengan subjek  penelitian siswa kelas V SDN Pesanggrahan 01 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap dengan jumlah siswa 25 siswa. Yang terdiri dari 13 Laki-laki dan 12 perempuan. Pengumpulan data dilakukan melalui angket, tes dan observasi. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini jika 75% dari  jumlah siswa memiliki minat secara positif dan tuntas belajar, serta menunjukan keaktifan. Hasil penelitian menunjukan pada kondisi awal minat siswa masih rendah hanya 58%. Kemudian meningkat pada siklus I menjadi 76% meningkat lagi menjadi 92% pada siklus II. Prestasi belajar siswa mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dengan nilai rata-rata pada kondisi awal 59,4 pada siklus I menjadi 74,2 meningkat lagi menjadi 81,2 pada siklus II.  Ketuntasan belajar siswa meningkat dari kondisi awal 52% pada siklus I menjadi sebesar 68% meningkat lagi menjadi 96% pada siklus II. Keaktifan siswa pada siklus I mencapai 75,6% meningkat pada siklus II menjadi 88,4%. Dengan demikian penerapan metode discovery di kelas V SDN Pesanggrahan 01 dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa.

Kata kunci : IPA, metode discovery, minat, prestasi belajar.

PENDAHULUAN

Kurikulum berbasis KTSP (2006) di sekolah dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran IPA. Di samping itu kurikulum berbasis kompetensi memberi kemudahan kepada guru dalam menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).

Rendahnya perolehan hasil belajar mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar Negeri Pesanggrahan 01 yang belum mencapai KKM 62 hal ini  menunjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui mengapa prestasi siswa tidak seperti yang diharapkan, tentu guru perlu merefleksi diri untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan siswa dalam pelajaran IPA. Sebagai guru yang baik dan profesional, permasalahan ini tentu perlu ditanggulangi dengan segera. Perolehan prestasi belajar siswa yang dialami SD Pesanggrahan 01 di Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap pada mata pelajaran IPA semester 2. pada kondisi awal baru mencapai 12 siswa atau 48% dan 13 siswa belum tuntas atau 58% dengan nilai rata-rata 56. Jadi masih dibawah KKM yang ditentukan yaitu 62. Ketuntasan belajar prestasi yang rendah ini disebabkan karena kurangya minat belajar siswa pada pelajaran matematika, penerapan metode yang belum tepat sehingga siswa sulit memahami konsep dari materi yang diberikan. Banyak permainan game pada era globalisasi yang banyak mengganggu siswa dalam belajar.

Berdasarkan hal tersebut di atas, penerapan metode discovery dapat menjadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Penelitian ini dilakukan peneliti dengan berkolaborasi dengan guru-guru Sekolah Dasar (SD) di Sekolah Dasar  Negeri Pesanggrahan 01. Dengan berkolaborasi ini, diharapkan kemampuan profesional guru dalam merancang model pembelajaran akan lebih baik lagi dan dapat menerapkan model pembelajaran yang lebih bervariatif.Salah satu kebaikan dari metode discovery adalah untuk menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah berpikir kritis, kemampuan bekerjasama, kemauan membantu teman dan memahami konsep-konsep IPA. Dengan latar belakang masalah diatas, maka diadakan Penelitian Tindakan Kelas“Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Melalui Penerapan Metode Dsicovery Pada Mata Pelajaran IPA Materi Cahaya dan Sifat-Sifatnya di Kelas V Semester II SD Negeri Pesanggrahan 01.”

Dari uraian latar belakang dan identifikasi masalah di atas peneliti   merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai beruikut :

1. Bagaimanakah  meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran IPA materi cahaya dan sifat-sifatnya dengan       menggunakan metode discovery?

2. Bagaimanakah metode discovery dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA materi cahaya dan sifat-sifatnya?

KAJIAN PUSTAKA

Minat Belajar Siswa

Sardiman A.M. (1988 : 57) berpendapat bahwa “minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri–ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan–keinginan atau kebutuhan–kebutuhan sendiri. Sedangkan pengertian minat secara istilah telah banyak dikemukakan oleh para ahli, di antaranya yang di kemukakan oleh Hilgard yang dikutif oleh Slameto menyatakan “Interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy some activity and content.” (Slameto. 2010 : 57). Selanjutnya menurut Zakiah Daradjat, dkk. (1995 : 133) mengartikan minat adalah “kecenderungan jiwa yang tetap ke jurusan sesuatu hal yang berharga bagi orang.”

Menurut kamus umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta,1995:965) belajar adalah usaha (berlatih) dan sebagai upaya dalam mendapat kepandaian. Pengertian belajar menurut (Slameto,2010) memberikan dua definisi terhadap masalah belajar yaitu : (1) belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku ; (2) belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi. Belajar adalah suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktivitas mental dengan lingkungannya yang mengasilkan proses perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai sikap (Winkel:2001).

Prestasi Belajar Siswa

Kata prestasi berasal dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Poerwadarminta (1995:1.10) kata prestasi belajar berasal dari dua kata yaitu prestasi dan belajar kata prestasi memiliki arti hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan). Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh individu setelah mengalami suatu proses belajar dalam jangka waktu tertentu. Menurut Winkel (2001:15) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai.Berhasilnya prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut akan muncul selama proses pembelajaran. Menurut Suryabrata (1997:29) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar faktor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor dari luar siswa yaitu faktor sosial sedangkan faktor dari siswa yaitu faktor fisiologis dn faktor psikologis.

Hakekat Ilmu Pengetahuan Alam

IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) mempunyai makna pengeahuan tentang alam Poerwadarmina,W.J.S (2005) Kamus Umum Bahasa Indonesia. Menurut Poerwadarminta Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu alam adalah pengetahuan tentang keadaan alam. Menurut Permendiknas (2006:484), sekolah dasar dinyatakan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains merupakan hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan dan konsep-konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar yang di peroleh dari pengalaman melalui serangkaian proses kegiatan ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan merancang suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi belajar ilmiah secara bijaksana.

Metode Dsicovery

Menurut Nasution (2006:5.8) metode discovery adalah pendekatan penemuan murid, murid menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri guru hanya membimbing dan memberikan pengarahan. Pelaksanaan didalam pembelajaran dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut (1) memberi pertanyaan kepada murid; (2) melakukan percobaan terhadap materi pelajaran; (3) menentukan kesimpulan dari hasil percobaan.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Pesanggrahan 01, tepatnya di Jalan Let Sutrisno No 2 Desa Pesanggrahan Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Dimulai dari penyusunan proposal, pembuatan surat ijin penelitian dan pelaksanaan PTK, dilaksanakan dari bulan Januari s/d April 2012. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian dilakukan dengan cara kolaboratif yaitu peneliti bekerja sama dengan teman sejawat.

Subjek yang akan diteliti adalah siswa kelas V SD Negeri Pesanggrahan 01 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap yang berjumlah 25 orang siswa terdiri dari 12 putra dan 10 putri, Tahun pelajaran 2011/2012. Data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2006:129). Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Sumber data siswa meliputi data tentang minat belajar siswa, data tentang prestasi belajar siswa, dan data tentang keaktifan siswa dalam pembelajaran.

2. Sumber data guru berupa keterampilan guru melaksanakan pembelajaran.

Data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dan data kualitatif  menggunakan angket minat belajar, lembar observasi dan lembar tes tertulis. Setelah data terkumpul selanjutnya adalah teknik analisis data.Teknik analisis data dengan menggunakan metode deskriptif komparatif yaitu membandingkan prasiklus dan antar siklus. Hasil angket minat belajar siswa dikatagorikan sebagai berikut:

1. Tidak minat, jika skor 10-20

2. Kurang minat, jika skor 21-30

3. Minat, jika skor 31-40

4. Sangat minat, jika skor 41-50

Data dari Hasil prestasi belajar dianalisis dengan deskriptif dengan membandingkan rata-rata hasil tes dengan indikator kerja.Maka digunakan teknik analisis kecenderungan nilai tengah yaitu mencari rata-rata. Penelitian ini menggunakan statistik deskriptif dengan mencari nilai tertinggi, nilai terendah, mean, ketuntasan belajar.

Nilai rata-rata (mean) = Jumlah nilai seluruh siswa

Jumlah siswa

Presentase ketuntasan belajar = Jumlah siswa tuntas belajar   x100

Jumlah siswa

Kriteria untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya perbaikan pembelajaran indikatornya adalah sebagai berikut:

1. Minat Belajar Siswa

Peningkatan minat belajar siswa dinyatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa memiliki minat secara positif (kategori senang dan sangat senang). Indikator yang digunakan untuk mengukur minat belajar siswa meliputi: minat dan keyakinan siswa akan berhasil, perhatian, semangat belajar dan rasa ingin tahu yang besar, keaktifan siswa dalam pembelajaran, kepuasan siswa terhadap pembelajaran dan hasil belajarnya yang tertuang dalam 10 pertanyaan positif.

2. Prestasi Belajar Siswa

Peningkatan prestasi belajar dinyatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa tuntas dalam belajar dan nilai kelas sedikitnya 61 sesuai KKM.

3. Keaktifan Siswa

Peningkatan keaktifan siswa dinyatakan berhasil jika rata-rata tingkat keterlibatan/keaktifan siswa sekurang-kurangnya 75% dari jumlah siswa, dimana prosentase keaktifan siswa dikategorikan menurut skala ordinal menjadi empat kategori, yaitu: 1) Baik (76% – 100%), 2) Cukup baik (56% – 75%), 3) Kurang baik (40% – 55%), dan 4) Tidak baik (< 40%) (Arikunto, 2006:240).

Prosedur Penelitian, diawali dengan pelaksanaan siklus I kemudian hasilnya direfleksikan agar diketahui tingkat keberhasilan. Jika siklus I belum menunjukkan hasil yang diinginkan, maka dilanjutkan dengan pelaksanaan siklus II, demikian seterusnya sampai dengan tercapainya tujuan penelitian. dalam melaksanakan PTK ada beberapa langkah-langkah terperinci yang harus dilakukan yaitu :

Siklus I

Pertemuan I (2×35 menit)

Kegiatan Awal

1. Guru mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti pelajaran

2. Guru memberikan tanya jawab sebagai apersepsi

3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran untuk membangkitkan minat siswa

Kegiatan Inti

1. Guru mempersiapkan peraga dan memberikan petunjuk kepada siswa

2. Guru menyajikan materi pelajaran tentang siat-sifat cahaya merambat lurus

3. Guru membagikan LKS kepada siswa untuk dikerjakan secara kelompok dan mengembangkan sifat ingin tahu siswa

4. Setiap kelompok mempersentasikan hasil diskusi

5. Guru membimbing siswa membuat kesimpulan

Kegiatan Akhir

1. Guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dilaksanakan.

2. Guru memberikan PR sebagai tindak lanjut

3. Sebelum mengakhiri pembelajaran siswa diberi angket minat belajar

Pertemuan II  (2×35 menit)

Kegiatan awal

1. Guru mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti pelajaran

2. Guru memberikan tanya jawab sebagai apersepsi

3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran untuk membangkitkan motivasi siswa

Kegiatan Inti

1. Guru menjelaskan sifat-sifat cahaya dapat menembus benda bening

2. Guru memasang gambar yang berhubungan dengan materi

3. Guru membagikan LKS kepada siswa untuk dikerjakan secara kelompok dan mengembangkan sifat ingin tahu siswa

4. Setiap kelompok mempersentasikan hasil diskusi

5. Guru membimbing siswa membuat kesimpulan

Kegiatan Akhir

1. Guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dilaksanakan.

2. Guru memberikan PR sebagai tindak lanjut

3. Sebelum mengakhiri pembelajaran siswa diberi angket minat belajar

Observer mengamati dan mencatat semua kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan melalui lembar observasi keaktifan siswa dan lembar observasi keaktifan guru. Observer selalu memeberikan hasil pengumpulan data kepada peniliti untuk kemudian berkolaborasi menetukan langkah selanjutnya.

Refleksi merupakan langkah untuk menganalisis hasil kerja siswa dan kegiatan guru. Untuk mengukur baik kelebihan atau kekurangan yang terdapat pada siklus I kemudian mendiskusikan hasil analisis secara kolaborasi dengan guru dan teman sejawat untuk pelaksanaan siklus ke II. Prosedur perbaikan pembelajaran dirancang dalam urutan tahapan sebagai berikut:

1. Mengidentifikasikan masalah, menganalisis dan merumuskan masalah serta merumuskan hipotesis.

2. Menemukan cara memecahkan masalah/tindakan perbaikan.

3. Merancang skenario tindakan perbaikan yang dikemas dalam Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran (RPPP).

4. Mendiskusikan aspek-aspek yang diamati dengan teman sejawat yang ditugasi sebagai pengamat (observer).

5. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah dirancang dan diamati oleh teman sejawat.

6. Mendiskusikan hasil pengamatan dengan teman sejawat (observer).

7. Melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

8. Konsultasi dengan supervisor.

9. Merancang tindak lanjut.

10. Re-planning, dan seterusnya; sampai ditetapkan.

Siklus II

Rencana (Planning)

1. Mengidentifikasi masalah yang muncul saat pembelajaran pada siklus I, kemudian menyiapkan langkah-langkah pembelajaran.

2. Mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

3. Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS).

4. Menyiapkan lembar tes evaluasi.

5. Menyiapkan lembar angket minat belajar, lembar observasi keaktifan siswa

6. Menyiapkan lembar observasi guru.

7. Pelaksanaan (Action)

      Pertemuan I (2×35 menit)

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut:

Kegiatan Awal

1. Guru mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti pelajaran;

2. Guru memberi apersepsi berupa tanya jawab materi pelajaran dengan mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran yang lalu.

3. Guru member minat dan menyampaikan tujuan pembelajaran.

Kegiatan Inti

1. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok, dengan anggota 5 orang siswa secara acak;

2. Guru dan siswa membahas pekerjaan rumah pada pertemuan siklus I;

3. Guru mempresentasikan kembali pengetahuan deklaratif tentang sifat cahaya yang dapat dibiaskan;

4. Guru meminta siswa mengerjakan LKS yang sudah disiapkan oleh guru;

5. Guru memeriksa kegiatan siswa apakah sudah dilakukan dengan benar, jika masih ada peserta didik yang belum dapat melakukan kegiatan dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan;

6. Beberapa siswa maju untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, dan kelompok lain menanggapi;

7. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dimengerti;

8. Guru bersama dengan siswa membuat kesimpulan materi pelajaran;

Kegiatan Akhir

1. Guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dilaksanakan dan memberikan reward pada kelompok dengan kerja terbaik;

2. Guru memberi tindak lanjut;

3. Sebelum mengakhiri pembelajaran, siswa diberi angket minat belajar untuk diisi dan dikumpulkan kembali.

Peneliti melakukan pengamatan terhadap guru dan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsun, meliputi keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan memberikan check list pada 5 aspek yang diamati menggunakan lembar observasi keaktifan siswa yang telah disiapkan. Mengamati pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang guru lakukan menggunakan lembar observasi guru dengan memberikan check list, dan mencatat perubahan-perubahan yang terjadi selama pembelajaran.

Berdasarkan analisis data angket minat belajar, hasil tes, dan lembar observasi, serta angket refleksi siswa, maka peneliti bersama guru melakukan refleksi sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan tindakan selanjutnya.Bila tindakan siklus II telah memenuhi indikator kinerja yang ditetapkan, maka penelitian tindakan kelas berakhir pada siklus II.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran IPA yang ada di SDN Pesanggrahan 01 selama ini menggunakan metode ceramah, sehingga kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan guru kurang maksimal, terbukti diperolehnya nilai ulangan harian yang relatif rendah, baik secara individual maupun klasikal. Ketuntasan 52% dengan nilai rata-rata 59,4 dari KKM 61. Peran aktif siswa dalam proses pembelajaran masih rendah.

Deskripsi Hasil Siklus I

Perencanaan tindakan

Tahap ini berupa penyusunan rancangan tindakan  awal yaitu :

1. Guru merancang skenario model pembelajaran discovery

2. Guru dan peneliti melakukan diskusi mengenai penerapan metode discovery, terutama langkah-langkah kegiatan diskusi kelompok siswa

3. Peneliti dan guru bersama-sama membuat angket untuk siswa dan pedoman observasi

4. Guru menyusun kelompok berdasarkan siswa yang pandai dibagi merata kesetiap kelompok

5. Guru merencanakan tugas kelompok tentang topik/materi struktur bahan

Tindakan (Action)

Tindakan kelas siklus satu dilaksanakan Rabu dan Jumat  tanggal1 dan 6 Februari 2012.Tahap pelaksanaan tindakan, siswa kelas V yang hadir 25 orang meliputi :

1. Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan sesuai perencanaan pembelajaran

2. Guru menerapkan metode discovery pada pelajaran Sains/IPA

3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana

4. Peneliti melakukan pengamatan terhadap jalannya proses pembelajaran secara keseluruhan

5. Pada akhir pembelajaran siklus I guru memberikan evaluasi untuk mengetahui prestasi belajar. Sedangkan untuk mengetahui tingkat minat belajar guru memberikan angket minat belajarDengan adanya peningkatan minat belajar siswa, ternyata berpengaruh positif pada hasil belajar siswa.Hal ini dibuktikan dari hasil tes evaluasi (post test) siklus I, siswa mengalami peningkatan disbanding pada kondisi awal.

Siswa yang tuntas mencapai 17 anak (68%) dan siswa yang belum tuntas belajar ada 8 anak (32%). Nilai rata-rata siswa sebesar 74,2 dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 55.Dari data tersebut ada peningkatan dari kondisi pra siklus ketuntasan 52% menjadi 68% pada siklus satu. Hal ini disebabkan karena guru memggunakan metode pembelajaran discovery

Pengamatan (Observation)

1. Peneliti dan guru melakukan diskusi untuk rencana observasi pada pembelajaran IPA tentang cahaya dan sifat-sifatnya dan selanjutnya mengamati keaktifan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar.

2. Melakukan pengamatan terhadap penerapan metode discovery yang dilakukan guru

3. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan metode discovery. Pada awal pembelajaran guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perencanaan, namun setelah beberapa saat guru kembali kepada pola lama yang biasa dilakukan dalam pembelajaran yaitu menjelaskan materi dan siswa menyimak penjelasan guru dan mencatat hal yang dianggap penting. Guru nampak tidak percaya diri ketika siswa bertanya tentang materi yang tidak dimengerti ketika mengerjakan tugas di rumah.

4. Peneliti dan guru melakukan diskusi untuk membahas tentang kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran IPA/Sains berikutnya.

Tahap Refleksi (Reflection)

1. Guru melakukan analisis temuan peneliti dan para pengamatan saat melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran oleh guru

2. Peneliti dan para pengamat menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan metode discovery dan mempertimbangkan langkah selanjutnya. Terutama dalam mengelola kelas, saat siswa melakukan kerja kelompok.

3. Guru melakukan refleksi terhadap penerapan metode discovery pada pelajaran IPA/Sains. Selama diskusi kelas guru berusaha berkeliling pada setiap kelompok. Guru menanyakan kesulitan atau masalah yang dihadapi saat melakukan percobaan.

4. Guru dibantu peneliti melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA tentang cahaya dan sifat-sifatnya, di samping itu guru mengadakan evaluasi tentang topik yang sudah dibahas. Kreativitas meningkat setelah mengalami pembelajaran yang dilaksanakan guru. Siswa terlibat aktif dalam diksusi kelompok untuk penemuan terbimbing tentang materi.

5. Guru melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa, mengevaluasi terhadap kekurangan dan kelemahannya dalam pelaksanaan pembelajaran, berupaya untuk memperbaikinya.

Deskripsi Hasil Siklus II

Tahap Perencanaan (Planning)

1. Hasil refleksi guru dievaluasi dan didiskusikan bersama dengan peneliti dan para pengamat dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya

2. Guru mendata masalah-masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran

3. Guru merancang perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi siklus I

Pelaksanaan Tindakan (Action)

1. Guru melakukan analisis dan pemecahan masalah yang dihadapinya dalam pelaksanaan pembelajaran

2. Guru melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran dengan memaksimalkan penerapan metode discovery dan berusaha memperbaiki kekurangan dan kelemahan saat pembelajaran.

Peningkatan minat siswa secara positif yaitu pada kategori minat dan sangat minat memberi kontribusi pada peningkatan hasil belajar siswa. Diketahui siswa yang tuntas belajar mencapai 24 anak (96%) dan siswa yang belum tuntas belajar hanya 1 anak (4%). Nilai rata-rata siswa sebesar 81,2 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 55.

Pengamatan (Observation)

1. Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan metode discovery.

2. Peneliti dan para pengamat mencatat perubahan yang terjadi, guru lebih percaya diri dan menjelaskan materi/konsep dengan baik. Guru sudah dapat berperan sebagai narasumber, fasilitator dan mediator dengan baik. Guru sudah dapat mengelola kelas dengan baik.

3. Guru, peneliti dan para pengamat melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan solusi. diketahui rata-rata tingkat keaktifan siswa pada pertemuan pertama 81,60%dan pada pertemuan kedua meningkat menjadi 95,20%, jadi rata-rata tingkat keaktifan siswa pada siklus adalah 88,40%. Persentase yang dicapai dari tiap indicator keaktifan sangat baik. Pada pertemuan pertama belum banyak siswa yang berani bertanya atau mengemukakan pendapat yang hanya ditunjukkan oleh 56% siswa, pada pertemuan kedua kegiatan mengalami peningkatan persentase, rata-rata di atas 84%.

Tahap Refleksi (Reflection)

1. Guru merefleksi proses pembelajaran metode discovery yang dilaksanakannya.

2. Guru merefleksi hasil belajar siswa dengan penerapan pembelajaran metode discovery.

3. Guru menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian

4. Peneliti dan guru memberikan rekomendasi terhadap hasil akhir penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru.

Pembahasan

Siklus 1

Penelitian kelas siklus I menunjukkan hasil peningkatan pada minat belajar siswa. Pada kondisi awal siswa yang menunjukkan minat positif  hanya 56% , meningkat menjadi 76% pada siklus I, terjadi kenaikan sebesar 20%.

Dari data kualitas pelaksanaan perbaikan pembelajaran dari hasil tes formatif siswa yang ditemukan dalam penelitian dikelas V SDN Pesanggrahan 01  dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran meningkat dan pembelajaran berjalan cukup baik,

Dilihat dari ulangan harian  menunjukkan bahwa rata – rata hasil belajar pada kondisi awal 59,4 meningkat menjadi 74,2 pada siklus I.Nilai tertinggi pada kondisi awal 80 dan nilai terendah  pada kondisi awal 40 meningkat pada siklus I nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 55. Ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal 56% meningkat menjadi 68% pada siklus I.

Siklus II

Pada penelitian siklus II setelah menggunakan metode discovery dan usaha-usaha perbaikan dari siklus I menunjukkan hasil minat belajar  pada siklus II sangat baik , terjadi peningkatan yaitu pada siklus I minat secara  positif sebesar 76%,dengan perincian  56% pada katagori senang dan 20% pada katagori sangat minat. Meningkat menjadi 92% pada siklus II dengan perincian 24% pada katagori senang dan 68% pada katagori sangat minat,sehingga terjadi kenaikan sebesar  48% pada katagori sangat minat dan kenaikan sebesar16% pada rata-rata minat belajar siswa.

Meningkatnya minat belajar ini sangat mempengaruhi prestasi  belajar siswa. Nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 75,40 meningkat menjadi 81,80 pada siklus II.Pada siklus I nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 55 meningkat pada siklus II menjadi nilai terendah tetap 55 dan nilai tertinggi menjadi 100.Tingkat ketuntasan belajar pada kondisi awal 56%        meningkat menjadi 72% pada siklus I dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 96% sehingga terjadi peningkatan 24%.

Grafik berikut menunjukkan hasil penelitian dari kondisi awal sampai siklus II.

Peningkatan prestasi belajar siswa kelas V SDN Pesanggrahan 01 terjadi karena dalam perbaikan pembelajaran sudah metode discovery secara konsekuen penulis melaksanakan aktifitas-aktifitas perbaikan yang telah dipilih dengan tepat. Aktifitas- aktifitas perbaikan pembelajaran ini mencakup 1) Menyampaikan materi, 2) Menggunakan metode, 3) Menggunakan alat peraga, 4) Menyimpulkan materi pelajaran.

Ketepatan pemilihan aktivitas-aktivitas perbaikan pembelajaran tampak dalam kesesuaian antara pelaksanaan masing-masing aktivitas dengan teori yang melandasinya. Ketepatan masing-masing aktivitas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Penyampaian materi

Guru harus menggunakan metode pembelajaran (Discovery) dan alat peraga yang tepat sehingga materi tersebut dapat dipahami oleh siswa (sebagai komunikator). Gaya penyajian yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran berpengaruh terhadap perhatian siswa. Perhatian siswa akan terbagi bahkan bisa hilang apabila materi pelajaran dibahas dengan cara monoton. Oleh karena itu guru dituntut untuk menggunakan berbagai metode dan media yang bervariasi agar siswa terlihat aktif dalam pembelajarannya.

2. Penggunaan Metode

Persyaratan untuk memilih metode mengajar ialah guru harus kenal dan menguasai metode itu sendiri.Memilih metode juga berdasarkan prinsip yang benar.

3. Pemanfaatan Alat Peraga

Alat peraga atau media pembelajaran sangat diperlukan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan alat peraga yang jelas dan menarik dapat membantu siswa untuk lebih mudah menerima materi yang disampaikan oleh guru. Alat peraga yang menarik mendorong siswa untuk menyukai pelajaran yang diajarkan. Alat peraga berguna untuk memudahkan siswa memahami konsep yang belum dikuasai,guru sebaiknya menggunakan berbagai alat peraga dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan alat peraga.

4. Pembuatan Kesimpulan dan Rangkuman Materi

Guru dan siswa sebelum mengadakan evaluasi pada akhir kegiatan membuat rangkuman materi. Dengan memiliki rangkuman siswa dapat membuka kembali catatan untuk mengingat apa yang telah dipelajarai. Guru bertujuanuntuk membimbing siswa dalam berdiskusi tentang materi untuk menemukan konsep sehingga tidak mudah lupa dan betul-betul mengerti dengan jelas. Rangkuman menyangkut kegiatan keseluruhan  dalam kegiatan khusus guru tidak hanya menyoroti isi dan proses kegiatan tetapi juga menginterogasi penelitian teoritis dan empiris dengan pengalaman siswa dalam situasi belajar. Pada akhir rangkuman guru perlu mempersiapkan siswa untuk melakukan pengalihan tranfer dan penerapan pengalaman belajarnya pada kehidupan yang nyata.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dengan subjek  penelitian siswa kelas V SDN Pesanggrahan 01 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap dengan jumlah siswa 25 siswa yang terdiri dari 13 Laki-laki dan 12 perempuan., dapat diambil  kesimpulan sebagai berikut :

1. Metode discovery dapat meningkatkan minat belajar siswa hal ini ditunjukan dengan hasil siklus I 75.6 % dan siklus II meningkat menjadi 88.4 %.

2. Metode discovery dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA hal ini ditunjukan dengan hasil siklus I nilai rata-rata 74,2 dan ketuntasan 68%, pada siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 81,2 dan ketuntasan 96%.

Saran

1. Dalam melaksanakan penerapan metode discovery agar lebih efektif hendaknya guru mengetahui kelemahan dan kekurangannya dalam pembelajarannya, berusaha untuk mengatasinya dan menemukan solusi yang terbaik serta mengantisipasi apabila dalam pembelajaran mengalami kendala dan masalah.

2. Guru sebaiknya juga memperluas pengetahuannya dengan membaca beberapa buku referensi lain selain buku paket dan buku wajib, agar guru lebih percaya diri dan dapat menjawab semua pertanyaan siswa dengan tepat. Guru harus dapat mengalokasi waktu dengan baik, sehingga dapat merangkum materi yang dibahas.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas 2003. Dasar – dasar Didaktif dan Pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Pembelajaran. Semarang : Balai PenataranGuru Semarang Bagian   Proyek Peningkatan Mutu Guru Semarang.

Drajat.1995. Media Pembelajaran. Jakarta : Rineka Putra.

Nasution 2006. Pengertian Prestasi Belajar. Bandung : Rosada Karya

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. 2008. Jakarta : Diperbanyak oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Poerwadarminta, W.J.S.2005. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Edisi ketiga Jakarta : Balai Pustaka.

Sardiman, A.M. 1988 . Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : CV. Rajawali.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Suryabrata, S. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta : CV Rajawali.

Tanireja, T. 2010. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Pengembangan Profesi Guru Praktik, Praktis dan Mudah. Bandung : ALFABETA.

Undang – undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Winkel, W.S. 2001. Psikologi Pengajaran. Jakarta : PT.Grasindo.

 

Biodata :

Nama : Dra. Ani Supriatiningsih

NIP : 19620810 198201 2 004

Jabatan ; Guru SDN Pesanggrahan 01 Kecamatan Kesugihan Cilacap.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *