PTK SD Minat Membaca Bahasa Indonesia Melalui Model Snowball Throwing

PENINGKATAN MINAT MEMBACA DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING ‘’

Oleh : Rr. Rusdiana Kadaryanti, M.Pd

 

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing bagi siswa kelas V SD Negeri 2 Sokayasa pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/1016 bertempat di SD Negeri 2 Sokayasa Unit pendidikan Kecamatan Banjarnegara. Subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri Sokayasa pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 17 siswa yang terdiri 7 siswa perempuan dan 10 siswa laki-laki. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah tehnik test pemahaman ( membaca ) dipakai untuk mengukur hasil belajar menggunakan lembar kerja siswa individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V SD Negeri 2 Sokayasa pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 dapat ditingkatkan. Dari rata-rata nilai pada kondisi awal yang hanya 73 dapat ditingkatkan menjadi 85,29 pada kondisi akhir. Kesimpulan berdasarkan data empirik esuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritik bahwa melalui penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia bagi siswa kelas V SD Negeri 2 Sokayasa pada semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

Kata Kunci : Snowball Throwing, Minat membaca dan Hasil Belajar

 

PENDAHULUAN

            Dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN 2 Sokayasa Unit Pendidikan Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 sampai saat ini masih belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Dari dua kali mengerjakan ulangan harian mata pelajaran Bahasa Indonesia, nilai rata-rata yang diperoleh hanya 63,50 ( enam tiga koma lima nol ).

            Di sisi lain, dalam kurikulum SD Negeri 2 Sokayasa tahun pelajaran 2015/2016 telah ditentukan bahwa kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah 75. Artinya bahwa siswa dapat dinyatakan tuntas dalam mempelajari suatu materi pelajaran Bahasa Indonesia manakala mereka dapat mencapai nilai 75. KKM ini sebagai prasarat siswa dapat melanjutkan pelajaran berikutnya, sebab materi-materi pelajaran yang ditargetkan dalam kurikulum merupakan satu rangkaian berjenjang. Siswa akan lebih mudah mempelajari suatu materi pelajaran apabila telah memahami materi berikutnya. Disamping itu, pencapaian KKM ini merupakan syarat bagi siswa untuk dapat naik kelas. Siswa yang dinyatakan naik kelas berarti mereka dinyatakan pula telah siap mengikuti program pembelajaran di tingkat berikutnya. Untuk siswa kelas IV yang naik kelas berarti mereka telah siap mengikuti program pembelajaran di kelas V. Semakin tinggi tingkatan kelas maka semakin tinggi pula tingkat kesulitan materi pelajarannya. Itulah esensi dasar mengapa dalam kurikulum SD Negeri Sokayasa ditentukan pula KKM  masing-masing pelajaran.

            Dengan mencermati uraian di atas maka jelaslah terlihat adanya kesenjangan antara kenyataan yang ada dengan harapan yang diinginkan. Kenyataan yang ada menunjukkan masih rendahnya hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Sokayasa khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Di sisi lain munculnya harapan semua pihak baik guru, maupun orangtua / wali siswa, agar semua siswa kelas V SD Negeri 2 Sokayasa dapat mencapai nilai hasil belajar minimal atau sama dengan kriteria ketuntasan minimal sehingga pada akhir tahun pelajaran mereka dapat naik kelas VI. Bahkan bukan hanya sekedar naik kelas, tetapi dapat memperoleh nilai yang sangat memuaskan.

            Banyak faktor yang dapat menyebabkan masih rendahnya hasil belajar bagi siswa kelas V SD Negeri Sokayasa pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Misalnya karena terlalu seringnya pergantian kurikulum, atau materi mata pelajaran Bahasa Indonesia masih terlalu sukar untuk tingkatan siswa sekolah dasar kelas V atau alokasi waktu yang tersedia untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia terlalu sedikit atau tidak tepatnya tehnik penanaman konsep dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia atau penggunaan media yang tidak tepat atau mungkin guru belum menggunakan model pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi dan peran serta siswa dalam pembelajaran.

            Dari sekian banyak penyebab rendahnya hasil belajar tersebut tidak mungkin akan dapat dibahas seluruhnya dalam penelitian tindakan kelas ini. Sesuai dengan kaidah yang berlaku bahwa dalam satu penelitian hanya mungkin untuk menyelidiki satu permasalahan, dan juga untuk memudahkan dalam proses penelitian tindakan kelas ini maka peneliti hanya akan berupaya meningkatkan hasil belajar bagi siswa kelas V SD Negeri 2 Sokayasa pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 melalui penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing. Penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing mempumyai kecenderungan mengalami peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang pada muara akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II.

            Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah sebagaimana dijelaskan di atas maka dibuatlah rumusan masalah dalam penelitian tundakan kelas ini, yaitu : “ Apakah melalui penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia bagi siswa kelas V SD Negeri 2 Sokayasa pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 ?”

 

KAJIAN TEORI

Hasil Belajar Bahasa Indonesia

            Belajar menurut Sri Hartati R, (2008:3) adalah usaha individu untuk secara aktif mengkonstruksi atau membangun pengetahuan dan selalu mengkonstruksi kembali dengan pengetahuan baru. Sedangkan belajar menurut Fontana dalam Winataputra (2007:2) adalah bahwa learning (belajar) mengandung pengertian proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Pengertian belajar juga dikemukakan oleh Slameto (2003:2) yakni belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

            Menurut Sumiati dan Asra (2011:38) bahwa perubahan perilaku adalah hasil belajar. Artinya, seseorang dikatakan telah belajar, jika ia dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya. Kemudian,  hasil belajar dapat disamakan pengertiannya dengan produk belajar, yaitu suatu pola perbuatan, nilai, makna, apresiasi, kecakapan, keterampilan, yang berguna bagi masyarakat. (Tim Pengembang MKDK IKIP Semarang, 1990:172). Ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif adalah hasil belajar yang berupa pengetahuan – pengetahuan atau kemampuan – kemampuan baru yang bersifat keilmuan. Ranah afektif adalah hasil belajar yang berupa perubahan perilaku sebagai akibat telah dilakukannya proses belajar. Sedangkan ranah psikomotorik adalah hasil belajar yang berupa keterampilan-keterampilan praktis oleh anggota badan, seperti tangan, kaki, alat indera, dan sebagainya. Untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, hasil belajar yang diperoleh peserta didik lebih dominan pada ranah kognitif, yang dimaksud dengan hasil belajar Bahasa Indonesia adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam kurun waktu tertentu dan program terentu. Kurun waktu yang dipergunakan untuk penelitian tindakan kelas ini adalah empat minggu sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan, yaitu masing-masing siklus dilaksanakan selama dua minggu. Tindakan-tindakan dalam siklus tersebut  dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Sedangkan program yang dilaksanakan adalah pembelajaran tentang minat membaca. Program pembelajaran tersebut meliputi 7.1 Menjawab pertanyaan teks bacaan. 7.2 Membaca teks bacaan. 7.3 Menyimpulkan sendiri isi teks pendek dalam 10-15 kalimat. Materi pelajaran dalam siklus I adalah tentang 7.1 Menjawab pertanyaan teks bacaan. 7.2 Membaca teks bacaan. Sedangkan materi pelajaran siklus II adalah tentang 7.3 Menyimpulkan sendiri isi teks pendek dalam 10-15 kalimat.

Minat

            Setiap melakukan kegiatan pasti diperlukan suatu minat, namun apa arti minat itu sendiri sering tidak diketahui. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwadarminta yang diolah kembali oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2007:742) minat diartikan kemauan/dorongan, kecakapan atau kekuatan. Menurut Nurkhasanah dan Didik Turmianto (2007:423) minat diartikan dorongan. Kecakapan, atau kekuatan.

Berdasarkan dua pengertian di atas dapat disimpulkan minat adalah dorongan untuk menguasai sesuatu yang sedang dihadapi. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia minat membaca sangat diperlukan dan dimiliki oleh seseorang karena minat membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi.

Membaca

            Membaca dapat dikatakan sebagai sebuah keterampilan, juga dapat dikatakan sebagai kemampuan. Dalam penelitian ini membaca diartikan sebagai keterampilan yaitu melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan baik dan cermat (Purwadarminta, 1984:62), Keterampilan membaca berada dalam diri seeorang yaitu potensi yang dimiliki seseoramg dalam berfikir untuk memahami keseluruhan dalam membaca. Hudson dalam Tarigan, (1980:5), menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan untuk memperoleh kesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.

            Dalam penelitian tindakan kelas ini hasil belajar Bahasa Indonesia yang dimaksud adalah nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diperoleh siswa kelas V SD Negeri 2 Sokayasa Unit Pendidikan Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Pembelajaran yang dimaksud adalah 7.1. Menjawab pertanyaan teks bacaan 7.2. Membaca teks bacaan 7.3. Menyimpulkan sendiri isi teks pendek dalam 10-15 kalimat. ( Tim KTSP SD Negeri 2 Sokayasa, 2015/2016:5).

Model Pembelajaran Snowball Throwing

            Snowball artinya bola salju sedangkan Throwing artinya melempar. Snowball Throwing secara keseluruhan dapat diartikan melempar bola salju. Adapun langkah-langkah pembelajaran Snowball Throwing sebagai berikut :

  1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
  2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
  3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman sekelompoknya.
  4. Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menulis satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
  5. Siswa membentuk kertas tersebut seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa lain selama kurang lebih 15 menit.
  6. Setelah siswa mendapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan pada siswa tersebut untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
  7. Guru mengevaluasi dan menutup pelajaran (Miftahul Huda,2013:226-227).

Model Pembelajaran Snowball Throwing adalah model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran untuk menjelaskan materi Bahasa Indonesia yang terkait dengan minat membaca.

Kerangka Berpikir

            Kegiatan penelitian secara ringkas dapat dilihat dalam gambar kerangka berpikir di halaman berikut ini

rusdi  

Gambar 1

Alur Kerangka Berpikir

            Selama proses pembelajaran berlangsung ketiga ranah harus dikembangkan oleh guru. Hasil belajar yang kurang memuaskan harus segera diperbaiki segera, sehingga hasil belajar setelah perbaikan menjadi sempurna atau lebih baik daripada sebelumnya. Alat evaluasi proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang diperlukan terdiri dari alat evaluasi untuk mengukur kognitif, untuk menentukan kualitas minat, dan keterampilan. Alat evaluasi untuk mengukur kognitif menggunakan pertanyaan (test) sesuai dengan tujuan pembelajaran. Alat evaluasi untuk mengukur afektif (nilai moral) dengan suatu alat observasi dan alat evaluasi untuk mengukur keterampilan melalui kegiatan eksperimen percobaan.

            Analisis dibuat untuk mengetahui peritem soal yang dibuat guru pada hasil jawaban siswa. Sehingga guru dapat mengetahui penguasaan siswa persoal, baik secara perorangan atau kolektif (rata-rata kelas). Ketuntasan belajar adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh siswa (individu yang belajar) untuk dapat menjelaskan apa yang telah dipelajari dengan kalimatnya sendiri.

            Hasil belajar mengacu pada sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Kriteria untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut : 1. Hasil belajar dinyatakan meningkat jika nilai hasil belajar sama atau di atas KKM (70). 2. Hasil pembelajaran yang dilakukan dikatakan dapat meningkat jika minimal 80% siswa menunjukkan respon positif dalam pembelajaran. 3. Ketuntasan belajar kelas dinyatakan berhasil jika > 80%  jumlah siswa tuntas belajar.

METODE PENELITIAN

            Penelitian dilakukan di SDN 2 Sokayasa Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara. Adapun yang menjadi subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 2 Sokayasa yang berjumlah 17 siswa. Penelitian ini dilakukan pada semester I Tahun Pelajaran 2015/2016. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dalam proses belajar mengajar. Adapun jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian tindakan kelas ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif : hasil belajar siswa, hasil penilaian. Data Kualitatif : a. Respon, opini, dan pendapat siswa tentang intervensi yang diterapkan. b. Kesungguhan belajar siswa. c. Tanggapan siswa selama proses pembelajaran. d. Tahapan observer dalam mengamati proses pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan dengan cara : Data Kuantitatif : 1) Data tentang hasil belajar siswa dengan memberikan tes kepada siswa. 2) Data tentang penilaian kegiatan siswa dengan menggunakan lembar penilaian kegiatan siswa untuk setiap kelompok. Data Kualitatif : 1) Data tentang kemudahan siswa dalam memahami materi setelah intervensi, dilakukan melalui wawancara dengan siswa. 2) Data tentang kesungguhan belajar siswa, dilakukan dengan menggunakan lembar observasi. Data kuantitatif akan diolah melalui analisis, deskriptif, sedangkan data kualitatif akan diolah dalam bentuk paparan narasi yang menggambarkan kualitas pembelajaran.

Siklus I

            Rancangan Perencanaan : 1) Menciptakan kondisi mendidik. 2) Menciptakan kesiapan belajar siswa. 3) Menciptakan suasana belajar yang demokratis. 4) Menyiapkan alat pembelajaran. 5) Pembentukan kelompok 3-4 siswa tiap kelompok. Rancangan Tindakan : Kegiatan Awal : a) Mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan  materi sebelumnya.b) memberi komentar atas jawaban siswa. c) Memotivasi siswa dengan mengajukan pertanyaan yang mengarah pada materi yang akan diajarkan. Kegiatan Inti : a) menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai kepada siswa. b) Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan siswa selama proses pembelajaran. c) Membahas materi pelajaran. d) Mengerjakan tugas dari guru. e) Melaksanakan penilaian proses selama penyampaian materi pembelajaran. Pasca Kegiatan : 1) Memberikan umpan balik.  2) Membuat kesimpulan materi pelajaran yang telah disampaikan. 3) Melaksanakan kegiatan tindak lanjut pembelajaran. 4) Menyampaikan tentang topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang. Rancangan pengamatan : 1) Mengamati keaktifan siswa dalam kegiatan eksperimen. 2) Siswa melaksanakan evaluasi. 3) Guru mengevaluasi hasil kerja siswa. Refleksi : Berdasarkan pengamatan tersebut, akan dapat ditentukan hal-hal yang perlu segera diperbaiki agar tindakan dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Setelah pengamatan dilakukan selama proses tindakan berlangsung, hasil pengamatan : didiskusikan dengan siswa guna mendapat pemecahannya.

Siklus II

            Rancangan Perencanaan (Planing) : 1) menyiapkan rencana perbaikan pembelajaran beserta skenario tindakan yang akan dilakukan. 2) Menyiapkan alat percobaan dan media ( kertas tipis, bola kasti, bola ping pong). 3) Mempersiapkan LKS dan lembar observasi. 4)  Mempersiapkan lembar evaluasi untuk akhir tindakan siklus 1. Rancangan Pelaksanaan (Action). Kegiatan awal : a) membuka pelajaran dengan salam. b) memimpin do’a. c) menanyakan pada siswa tentang tugas Bahasa Indonesia pada pertemuan sebelumnya.d) menyampaikan tujuan pembelajaran. Kegiatan Inti : a) Guru menyampaikan materi yang akan di sajikan. b) Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. c) Masing-masing kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menyampaikan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. d) Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu judul bacaan dengan tema “Kegemaran” yang sudah dipersiapkan oleh masing-masing kelompok. e) Kertas yang berisi judul bacaan tersebut dibuat seperti bola dan di lempar dari satu siswa yang  lain selama 15 menit. f) Setelah siswa mendapat satubola/satu judul bacaan, maka ia diberi keempatan utnuk menyimpulkan bacaan yang ditulis. Kegiatan Penutup : a) Guru menyimpulkan hasil kerja siswa. b) Guru bersama siswa membuat kesimpulan. c) Guru dan siswa melakukan umpan balik. e) Refleksi (Reflection). Hasil pengamatan terhadap kegiatan siklus II dalam pembelajaran berlangsung sangat kondusif dan interaktif.

            Dalam menganalisa data dalam penelitian tindakan diawali oleh moment refleksi putaran satu tindakan. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan autentik yang akan membantu dalam menafsirkan data (Suwarsih) Madya, 1994:33). Perwujudan analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskripsi dan prosentase.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

            Berdasarkan hasil pengamatan dari data sebelum kegiatan terdapat 2 dari 17 siswa atau 20% dengan nilai rata-rata sebesar 73 yang tuntas. Sedangkan yang belum tuntas15 dari 17 siswa atau 80%. Data ini diperoleh sebelum mendapat perlakuan pembelajaran melalui penggunaan metode Eksperimen (percobaan).

            Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh guru peneliti sejak dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II, sesuai dengan data-data yang diperoleh ternyata terjadi dinamika perubahan hasil belajar. Pada saat kondisi awal, nilai rata-rata subyek penelitian hanya 73,00. Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, nilai rata-rata subyek penelitian menjadi 78,00. Ketika dilakukan penilaian di akhir siklus II, ternyata nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 85,29. Data hasil belajar subjek penelitian mulai dari kondisi awal, kondisi akhir siklus I sampai dengan kondisi akhir siklus II dapat disimak pada tabel berikut ini.

NO                       KONDISI NILAI RATA-RATA
       1 Awal                73,00
       2 Siklus  I                78,00
       3 Siklus  II                85,29

                    Tabel DATA NILAI HASIL BELAJAR SUBJEK PENELITIAN

Dinamika perubahan hasil belajar dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus l, sampai dengan kondisi di akhir siklus II (kondisi akhir) akan lebih jelas terlihat dalam diagram di bawah ini :
rusdia

Keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah ditentukan oleh perbandingan nilai rata-rata kondisi awal dengan kondisi rata-rata kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II).

Sebagaimana tertulis pada diagram di atas, bahwa nilai rata-rata subyek penelitian pada kondisi awal adalah 73,00 sedangkan nilai rata-rata subyek penelitian pada kondisi akhir siklus II adalah 85,29. Dengan demikian kondisi awal ke kondisi akhir, nilai rata-rata hasil belajar subyek penelitian mengalami peningkatan sebesar 12,29 poin. Perubahan nilai rata-rata tersebut dapat lebih terlihat dengan jelas pada diagram berikut ini :

rusdian

         DIAGRAM HASIL BELAJAR DARI KONDISI AWAL KE KONDISI AKHIR SIKLUS

PENUTUP

                        Data-data empirik yang dikumpulkan selama proses penelitian tindakan kelas sebagaimana tertulis dalam bab IV menunjukkan bahwa penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru peneliti dalam siklus I dengan menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing secara kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa telah berhasil meningkatkan hasil belajar subyek penelitian. Nilai rata-rata pada kondisi awal yang hanya 73,00 dapat ditungkatkan menjadi 78,00 di akhir siklus I.

Pada siklus II, guru peneliti melakukan perubahan tehnik penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing kelompok besar, menjadi model pembelajaran Snowball Throwing kelompok kecil. Maka ada peningkatan  rata-rata di akhir siklus II, yakni 85,29 berarti telah terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 12,29 poin.

 

DAFTAR PUSTAKA 

Anggoro, M. Toha. 2007. Metode Penelitian. Jakarta : Universitas Terbuka

Arikunto, Suharsimi. 2005. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hakim, Thursan. 2000. Belajar Secara Efektif. Jakarta : Puspa Swara

Hamalik, Oemar. 2001. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Muhibbinsyah. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Edisi Revisi. Bandung : Remaja Rosda Karya.

Nisak, Raisatun. 2011. 50 Game Kreatif Belajar-Mengajar. Jogjakarta: DIVA Press.

Rachmad Widodo dalam http://wywId.wordpress.com/2009/11/09/model-pembelajaran-18-snowball-throwing/.

Raharja, Dominikus Catur.2001. Kesesuaian Pendidikan Bakat Menentukan Prestasi Siswa. Penabur, XXVIII, 2. Jakarta.

Rahim, Farida. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Safari. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan

Sardiman, A.M.. 2005. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta : PT Rineka Cipta

                                                            BIODATA PENULIS :

Nama                           : Rr. RUSDIANA KADARYANTI, M.Pd

Nip                              : 19710512 199903 2 007

Jabatan                       : Guru SD

Golongan                    : Pembina / IVA

Unit Kerja                   : SDN 2 Sokayasa Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara

E-mail                          : rusdianaky@gmail.com

No HP                         : 085 293 925 702




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *