PTK SD Pendekatan Inkuiri Pada Pembelajaran IPS Kelas VI

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN INKUIRI PADA PEMBELAJARAN IPS KELAS VI SD NEGERI KARANGPAKIS 05 SEMESTER 2 TAHUN 2014 / 2015

sukinah

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPS melalui metode inkuiri. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu prasiklus, siklus I, dan siklus II pada siswa kelas VI SD Negeri Karangpakis 05 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Pengumpulan data prasiklus dengan teknik tes, sedangkan siklus I dan II menggunakan teknik tes dan nontes. Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar IPS siswa meningkat  dengan menerapkan metode inkuiri,nilai rata-rata hasil tes siswa mengalami peningkatan skor sebesar 16,40. Skor rata-rata kelas pada tahap prasiklus sebesar 51,60 dan mengalami peningkatan sebesar 16,40 menjadi 68,00 pada siklus I. Kemudian pada siklus II, skor rata-rata kelas meningkat sebesar 16,40 menjadi 84,40. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model Inkuiri mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS, siswa menjadi lebih termotivasi dan aktif dalam belajar.

Kata Kunci : Motivasi belajar, Pembelajaran IPS,Metode inkuiri

PENDAHULUAN

Kurikulum 2004 yang disempurnakan atau yang lebih dikenal  dengan kurikulum berbasis kompetensi mengharapkan dan mengarahkan kepada setiap guru dalam proses pembelajaran mampu tercipta suasana yang aktif,kreatif dan menyenangkan.Melalui muatan kurikulum minimal guru diharapkan mampu mengembangkan dan menyesuaikan pada lingkungan, kondisi,dan kemampuan siswa di setiap sekolah.

Kajian materi IPS yang cukup luas dan selalu berkembang,sering membuat guru dan siswa mengalami hambatan atau kesulitan dalam memahami esensi materi yang sangat penting.Kenyataan ini juga didukung bahwa melalui hasil wawancara dan observasi siswa cenderung kurang berminat dalam pembelajaran pengetahuan sosial bahkan prestasi yang diperoleh siswa dari nilai ulangan,nilai raport bahkan nilai ujian akhir sekolah menunjukan hasil yang kurang memuaskan.

Demikian pula yang peneliti alami ketika menyampaikan mata pelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan gejala( peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga. Peneliti menyampaikan materi dengan menerapkan model pembelajaran interaktif melalui metode ceramah, tanya jawab dan diskusi kelompok.

Selama proses pembelajaran, suasana kelas kurang nyaman dan beberapa siswa kelihatan kurang bersemangat, kurang aktif dan apabila peneliti bertanya, siswa tidak ada yang menjawab.Kemudian menunjuk beberapa siswa, akan tetapi jawaban lebih banyak salah.

Pada akhir kegiatan pembelajaran diberikan tes formatif secara individu. Hasil tes formatif mata pelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam di Indonesia dan negara tetangga ternyata hanya terdapat 3 siswa yaitu 20% dari 15 siswa yang mencapai tingkat ketuntasan belajar ,sedangkan 12 siswa yaitu 80%  dari 15 siswa belum mencapai ketuntasan belajar .

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana keterampilan guru dalam menerapkan metode inkuiri pada pembelajaran IPS  kompetensi dasar mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga?, (2) Bagaimana  aktivitas siswa kelas VI SD Negeri Karangpakis 05 setelah diterapkanya metode inkuiri pada pembelajaran IPS? (3) Bagaimana hasil belajar siswa setelah diterapkanya metode inkuiri dalam pembelajaran IPS ?

 

LANDASAN TEORITIS

Pengertian Belajar

              Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan.Belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman belajar Gagne dan Berliner (dalam Catharina Trianni,2004:2). Belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman James O,Whitteaker dalam Abu Ahmadi (2003:126).

              Menurut pengertian secara psikologis belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya dalam kegiatan pembelajaran. Unsur- unsur yang mempengaruhi belajar: (1) pembelajar / peserta didik. Pembelajar dapat berupa peserta didik, warga belajar atau peserta pelatihan. (2) rangsangan ,peristiwa yang merangsang pengindraan peserta didik disebut situasi stimulus yang berbeda di lingkungannya. Agar peserta didik mampu belajar optimal, ia harus memfokuskan pada stimulus tentang yang di minatinya, (3) Memori,memori peserta didik berisi berbagai kemampuan yang berupa pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dihasilkan dari aktivitas belajar sebelumnya, (4) respon, respon adalah tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori disebut respon. Peserta didik yang sedang mengamati stimulis, maka yang ada di dalam dirinya kemudian  memberikan respon terhadap stimulus tersebut. Aktivitas belajar juga dapat dipengaruhi oleh motivasi. Apabila motivasi belajar meningkat maka aktivitas belajarpun akan meningkat.

Pengertian Motivasi

           Motivasi adalah suatu tenaga akan faktor yang terdapat di dalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya, Martini Handoko (1992 : 9). Motivasi faktor inner (batin) yang berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan, perbuatan belajar Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2003 : 83). Motivasi belajar sangat penting dalam proses pembelajaran. Motivasi tidak hanya penting untuk membuat peserta didik melakukan aktivitas belajar.

            Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajaryaitu: (a) sikap, (b) kebutuhan, (c) rangsangan, (d) afeksi, (e) kompetensi, dan (f) penguatan. Berikut disajikan secara ringkas untuk memperhatikan bagaimana masing-masing faktor motivasi memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku dan belajar siswa dan juga bagaimana faktor-faktor tersebut dapat dikombinasikan ketika guru merancang strategi motivasi dalam pembelajaran.

Pendekatan Inkuiri

            Pengajaran IPS yang bermaterikan masalah-masalah sosial, memerlukan penerapan penggunaan pendekatan metode yang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang memenuhi tuntutan tersebut adalah inkuiri, yaitu suatu pendekatan yang bersifat student centered.

            Hal yang terpenting dalam inkuiri adalah siswa mencari sesuatu sampai tingkatan“yakin” (belief-percaya). Tingkatan ini dicapai melalui dukungan fakta, analisis,interpretasi, dan pembuktiannya. Bahkan lebih dari itu dalam inkuiri akan dicapai tingkat pencarian alternative pemecacahan masalah tersebut. Dengan inkuiri siswa akan dilibatkan melakukan penyelidikan terhadap faktor-faktor yang belum pernah dilakukan, dan ini akan memberi motivasi yang tinggi.

            Peran guru dalam pendekatan inkuiri adalah: (1) menyiapkan tugas, masalah/problem yang akan dipecahkan oleh siswa, (2) memberikan klarifikasi-klarifikasi, (3)menyiapkan setting kelas, (4) menyiapkan alat-alat dan fasilitas belajar yang diperlukan, (5) memberikan kesempatan pelaksanaan, (6) sebagai sumber informasi, jika diperlukan oleh siswa, (7) membantu siswa agar dapat secara mandiri merumuskan  kesimpu lan dan implikasi-implikasinya.

            Sedangkan peran siswa dalam pembelajaran inkuiri di SD yaitu: (1) siswa sebagai pengambil inisiatif atau prakarsa dalam menentukansesuatu, (2) siswa aktif menggunakan cara belajar mereka sendiri,dengan demikian mereka diharapkan mempunyai keberanian untuk mengajukan pertanyaan, merespon masalah, dan berpikir untuk memecahkan masalah  atau menemukan jawabannya melalui penyelidikan, (3) siswa bebas melakukan eksplorasi dan diberi kesempatan untuk melakukan pemilihan alternatif pemecahannya. Oleh karena proses penemuan itu dialami oleh siswa sendiri maka diharapkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat dewasa ini, siswa dalam mendekati masalah atau situasi baru dengan berpikir secara ilmiahpula, (4) dengan melalui inkuiri, siswa akan belajar bagaimana belajar, (5) melalui pembelajaran inkuiri, siswa dapat dikondisikan aktif belajar, (6) ikut menentukan tujuan, isi, dan cara belajar, misalnya siswa aktif mencari dan menemukan informasi, berdiskusi, dan memecahkan masalah.

Penerapan Metode Inkuiri

            Menurut Bruce Joyce dan Marssha Weil (Sunaryo.1989:99-100), ada 5 tahap pelaksanaan inkuiri yang berangkat dari fakta sampai terjadinya suatu teori. 5 tahap tersebut yaitu, Pertama, guru memberi permasalahan dan menjelaskan prosedur pelaksanaan inkuiri kepada siswa.Guru harus menjelaskan tentang tujuan dan proses pelaksanaan inkuiri dengan “yes and no questions” Artinya pertanyaan hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga jawabannya hanya “ya” dan“tidak”. Maksudnya adalah agar siswa berpikir lebih teliti, dengan demikian menghindarkan siswa dari beban pemikiran, karena adanya pertanyaan-pertanyaan yang terbuka (open-ended) dari guru. Pelaksanaan inkuiri dapat dimulai dengan masalah, ide, atau pikiran yang sederhana, utamanya adalah siswa mendapat pengalaman proses berpikir secara inkuiri.

            Tahap kedua dari pendekatan inkuiri adalah: verifikasi, yaitu siswa mengumpulkan data atau informasi tentang peristiwa/masalah yang telah mereka lihat atau alami, dengan mengajukan pertanyaan sedemikian rupa sehingga guru hanya menjawab “ya” atau “tidak”.

            Tahap ketiga, adalah :melakukan eksperimentasi, siswa mengajukan faktor atau unsur baru ke dalam permasalahan agar dapat melihat apakah   peristiwa itu dapat terjadi secara berbeda. Eksperimen mempunyai dua  fungsi yaitu eksplorasi dan menguji langsung. Eksplorasi adalah merubah  sesuatu untuk melihat apa yang akan terjadi dan tidak perlu bimbingan teori atau hipotesis.Sedangkan menguji langsung, terjadi bila siswa melakukan uji coba teori atau hipotesis.Proses merubah hipotesis ke dalam eksperimentasi itu tidak mudah dan perlu latihan atau praktik.Selanjutnya guru harus memperdalam proses inkuiri siswa dengan memperluas jenis-jenis informasi yang diperoleh.Dalam proses verifikasi siswa dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang: benda (objects), sifat (properties), kondisi (conditions), dan peristiwa (events).

            Tahap keempat: guru meminta siswa untuk mengorganisir data dan menyusun suatu penjelasan. Artinya data tersebut setelah diorganisir kemudian dideskripsikan sehingga menjadi suatu paparan hasil temuannya.

            Tahap kelima :Siswa diminta untuk menganalisis proses inkuiri. Dalam hal ini siswa boleh mengevaluasi tentang pertanyaan yang diajukan guru apakah efektif atau tidak, mungkin ada informasi penting tetapi siswa tidak tahu cara memperolehnya sehingga data/ informasi tersebut tidak ditemukan. Analisis dari siswa ini penting karena menjadi dasar pelakasanaan inkuiri berikutnya,artinya guru harus memperbaiki kekurangan-kekurangan atau kesalahan yang telah dilakukan.

Kerangka Berpikir

Kondisi awal pembelajaran guru belum menggunakan metode inkuiri motivasi belajar siswa rendah,dibuktikandengan aktifias negatif siswaantara lain: tidak memperhatikan pelajaran,bermain-main sendiri,sering menggaggu teman,dan merasa kesulitan menjawab pertanyaan dari guru.Menyikapi kondisi tersebut peneliti berupaya untuk melakukan tindakan pada siklus I menggunakan metode inkuiri untuk memotivasi siswa pada pembelajaran IPS dengan hasil rata-rata kategori cukup, kemudian dilanjutkan tindakan siklus II motivasi siswa meningkat dari rata-rata cukup menjadi rata-ratakategori baik.

Hipotesis Tindakan

Dengan menggunakan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa pada pembelajan IPS  kelas VI SD Negeri Karangpakis 05.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam tiga tahap, yaitu prasiklus, siklus I, dan siklus II. Penelitian ini pada semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 pada bulan Janari- April  2015. Lokasi penelitian dilaksanakan di SD Negeri Karangpakis05, Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap yang beralamat di jalan Yos Sudarso No.82 Karangpakis,UPT Disdikpora Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah.

Subyek penelitian adalah siswa Kelas VI SD Negeri Karangpakis 05,Kecamatan Nusawungu,Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2014 /2015 dengan jumlah siswa 25 orang,yang terdiri dari 14 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki.

Metode/teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik tes dan nontes. Teknik tes dilakukan untuk memperoleh data hasil belajar IPS yang dilaksanakan disetiap akhir siklus. Teknik nontes yang digunakan berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas-aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berdasarkan panduan-panduan pada lembar observasi. Wawancara dilakukan guru untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan yaitu pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. Dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan seluruh kegiatan pembelajaran selama penelitian berlangsung. Teknik nontes yang digunakan dalam penelitian ini berfungsi sebagai triangulasi data. Data kuantitatif berupa hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial yang dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan mean atau rerata. Adapun penyajian data kuantitatif dipaparkan dalam bentuk persentase. Hasil penghitungan dikonversikan dengan kriteria ketuntasan belajar siswa   yang dikelompokan ke dalam dua kategori tuntas dan tidak tuntas (Depdiknas,Rancangan Hasil Belajar : 2006 ).

Kriteria ketuntasan :  70 kualifikasi : tuntas, <  70 kualifikasi : tidak tuntas

       Data kualitatif digunakan untuk menganalisis hasil wawancara,observasi,dan jurnal guru dari pretes,siklus I,dan siklus II dibandingkan.Dari hasil perbandingan tersebut akan diketahui peningkatan motivasi belajar siswa melalui metode inkuiri pada pembelajaran IPS kompetensi dasar “mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam di Indonesia dan Negara tetangga”

       Data kualitatif ini akan memberikan gambaran mengenai siswa yang mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran IPS yang ditunjukan dengan kurangnya motivasi.Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar IPS selanjutnya.Data kualitatif dipaparkan  dalam kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.Sumber data yang diambil dari hasil belajar siswa yang telah lalu.

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan penelitian tindakan ini apabila dilihat dari pengamatan hasil tes dan nontes dalam proses pembelajaran telah terjadi perubahan: (1) aktivitas guru dalam pembelajaran IPS dengan menerapkan metode inkuiri meningkat dengan kategori sekurang-kurangnya baik, (2) aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS dengan menerapkan metode inkuiri meningkat,dengan kriteria sekurang-kurangnya baik, (3) hasil belajar siswa ≥ 75% telah dapat mencapai tingkat ketuntasan belajar minimal yaitu telah mendapatkan nilai rata-rata kelas minimal ≥70,00

 

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif yang diperoleh adalah data hasil belajar siswa pada pelajaran IPS dari pra siklus, siklus I, dan siklus II disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1. Tabel Perbandingan Hasil Belajar Siswa Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II

No Nama siswa Prasiklus Nilai Perbaikan

Tiap  Siklus

Siklus I Siklus II
1 Samino 40 50 60
2 Tri W 40 60 70
3 Andri W 70 90 100
4 Arviani M 50 60 90
5 Bambang S 40 60 90
6 Dian O 50 60 90
7 Diki A 70 90 100
8 Elina D 40 50 60
9 Elysa S 40 60 80
10 Fani K 60 70 90
11 Imam M 50 70 90
12 Irma F 70 80 100
13 Konaah T 50 80 90
14 Kustini 40 50 70
15 Mahmud 50 80 90
16 Maya D 40 70 70
17 Panji S 50 60 80
18 Reza H 50 70 100
19 Sela N 40 60 70
20 Sovia F 70 80 100
21 Waslih F 70 80 100
22 Wilujeng A 40 60 70
23 Yoyo A 50 60 70
24 Ayu A 70 80 100
25 Sigit P 50 70 80
Jumlah 1290 1700 2110
Rata-Rata 51,6 68 84,4
Jumlah Siswa Tuntas 6 13 23
Jumlah Siswa Tidak Tuntas 19 12 2
Persentase Siswa Tuntas %) 24 52 92
Persentase Siswa Tidak Tuntas (%) 76 48 8

Dari tabel 1 terlihat bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa mulai dari prasiklus, siklus I, dan siklus II. Dari pra siklus ke siklus I, terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas sebesar 28%, yaitu dari 24% meningkat menjadi 52%. Dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas sebesar 40%, yaitu dari 52% meningkat menjadi 92%.

Peningkatan persentase jumlah siswa yang tuntas dari prasiklus, siklus I, dan siklus II bila dijadikan dalam bentuk grafik, akan terlihat seperti berikut.

sukin

            Grafik 1 Ketuntasan hasil belajar

Data kualitatif penelitian ini diperoleh dari lembar observasi motivasi siswa selama mengikuti pembelajaran IPS baik dari prasiklus,siklus I,dan siklus II. Data ini diisi oleh observer. Data kualitatif tersebut kemudian dikonversikan menjadi nilai agar lebih terlihat perubahan motivasi siswa. Setelah nilai jadi, nilai dirata-rata. Rata-rata motivasi siswa untuk kelas pada pra siklus,siklus I, siklus II kemudian dikonversi menjadi data kualitatif sesuai dengan kriteria. Hasil rata-rata motivasi kelas pada pra siklus, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Data Motivasi Siswa pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

No Nama siswa Prasiklus Nilai Perbaikan

Tiap  Siklus

Siklus I Siklus II
1 Samino 40 60 75
2 Tri W 55 65 80
3 Andri W 70 85 100
4 Arviani M 60 80 100
5 Bambang S 40 60 100
6 Dian O 60 90 100
7 Diki A 80 90 95
8 Elina D 45 60 90
9 Elysa S 50 55 95
10 Fani K 60 80 80
11 Imam M 50 50 95
12 Irma F 65 80 80
13 Konaah T 55 60 75
14 Kustini 60 70 90
15 Mahmud 60 60 80
16 Maya D 60 60 80
17 Panji S 70 75 85
18 Reza H 40 65 95
19 Sela N 70 75 80
20 Sovia F 65 80 90
21 Waslih F 65 85 100
22 Wilujeng A 75 80 80
23 Yoyo A 40 65 80
24 Ayu A 70 70 95
25 Sigit P 70 70 80
Jumlah 1475 1770 2200
Rata-Rata 59,00 70,80 88,00
Kategori Kurang Cukup Sangat Baik

Dari tabel 2 terlihat bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar siswa dari pra siklus, siklus I, dan siklus II. Pada pra siklus motivasi siswa tergolong kurang, kemudian pada siklus I motivasi siswa meningkat menjadi cukup. Dilanjutkan pada siklus II, motivasi siswa lebih meningkat dari cukup menjadi sangat baik.

 

PEMBAHASAN

Pembahasan hasil penelitian didasarkan pada hasil prasiklus, hasil tindakan siklus I,dan hasil tindakan siklus II. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilaksanakan melalui 2 tahapan yaitu siklus I dan siklus II. Pembahasan hasil penelitian tersebut meliputi hasil tes dan hasil non tes.Hasil tes penelitian  mengacu pemerolehan skor yang dicapai siswa dalam tes tertulis yang terdiri dari lima ítem soal.Pembahasan hasil nontes berpedoman pada 4 instrumen penelitian,yaitu (1) lembar observasi,(2)Jurnal siswa,(3) wawancara dan (4) dokumentasi foto.

Kegiatan pratindakan dilakukan sebelum tindakan siklus I.Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran kondisi awal motivasi belajar sisiwa terhadap pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga.Setelah melaksanakan kegiatan menganalisis,peneliti melakukan tindakan siklu I dan siklus II.Proses pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga dengan menggunakan metode inkuiri pada siklus I dan siklus II dibagi dalam 3 bagian yaitu bagian awal pembelajaran, bagian inti dan penutup.

Dalam penelitian ini, peneliti dibantu oleh teman sejawat untuk melakukan observasi dan dokumentasi foto. Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan menanyakan keadaan siswa dan memancing semangat siswa untuk memulai pembelajaran dengan mengajak siswa menyanyikan lagu yang berjudul “Kulihat Ibu Pertiwi” dilanjutkan dengan tanya jawab tentang lagu tersebut yang mengarah pada materi pembelajaran .Setelah sisiwa benar-benar siap untuk memulai kegiatan pembelajaran, guru memulai menjelaskan langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan selama 2 jam pembelajaran. Pada kegiatan inti, (1) Guru memperlihatkan beberapa gambar peristiwa bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia,seperti: gambar peristiwa gunung Merapi meletus, gempa bumi di Tasikmalaya, peristiwa tsunami di Aceh, tanah longsor di Purworejo, banjir di Jakarta dan lain-lain. Siswa mencermati permasalahan yang disampaikan oleh guru melalui beberapa pertanyaan antara lain: mengapa bencana alam bisa terjadi,dan apa penyebabnya ? (2) guru membimbing siswa membentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 anggota, (3) siswa diajak keluar kelas tepatnya di belakang sekolah untuk mengamati keaadaan saluran irigasi yang mampat, (4) siswa dipancing agar berani mengajukan beberapa pertanyaan kepada teman atau kepada guru untuk menggali informasi dalam proses pengumpulan data contoh pertanyaan: apakah saluran air yang mampat dapat menyebabkan banjir ? Apakah bencana banjir dapat dicegah? apa akibat yang ditimbulkan adanya bencana banjir? (5) masing-masing kelompok melakukan diskusi untuk mengerjakan lembar tugas dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang tersedia baik berupa gambar, buku-buku pelajaran, buku-buku perpustakaan, majalah, ataupun surat kabar tentang peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga, (6) masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi yang diwakili oleh salah satu anggota kelompok, kelompok yang lain memberi tanggapan, (7) dengan bimbingan guru siswa membuat kesimpulan hasil pembelajaran, (8) siswa mencatat hasil kesimpulan pada buku catatan masing-masing.

Kegiatan penutup, guru melakukan refleksi dan pemantapan tentang pembelajaran yang telah   dilakukan kemudian dilanjutkan evaluasi. Kegiatan tindak lanjut yaitu secara individu siswa diberi tugas membuat kliping tentang peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga.

Peningkatan motivasi belajar pada pembelajaran IPS siswa kelas VI SD Negeri Karangpakis 05 dengan metode inkuiri dapat dibuktikan dengan peningkatan perolehan hasil tes tertulis pada tahap prasiklus, siklus I, dan siklus seperti yang terlihat pada tabel 1.

Berdasarkan hasil penelitian yang membahas tentang peningkatan motivasi belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan hasil belajar pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga siswa kelas VI SD Negeri Karangpakis 05 Kecamatan Nusawungu ,Cilacap seperti yang terlihat pada tabel 1, ternyata ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belaja siswa pada pembelajaran IPS  yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa seperti:kecerdasan, emosi, dan sikap  siswa. Kemudian faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa, seperti: kondisi lingkungan belajar, peran orang tua, cara mengajar guru, dan penggunaan media atau alat dalam pembelajaran.dan pemilihan model pembelajaran.

Untuk itu, upaya peningkatan motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPS dapat ditempuh dengan cara: (1) memperbaiki cara mengajar guru, guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing siswa dalam pembelajaran; (2) menggunakan pendekatan dengan model pembelajaran yang  kreatif dan inovatif; (3) penggunaan media atau alat pembelajaran yang tepat dan menarik sehingga siswa tertarik dan mudah dalam belajar. Mengacu dari kerangka pemikiran yang ada maka peneliti melakukan penelitian tindakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas VI SD Negeri Karangpakis 05 melalui metode inkuiri.

Sebelum melaksanakan tindakan penelitian, peneliti menetapkan kriteria keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. Suatu tindakan dikatakan berhasil apabila  minimal 75% sisiwa telah mencapai ketuntasan belajar minimal yaitu 70,00 ke atas.

Peningkatan prestasi hasil belajar siswa juga terjadi karena dipengaruhi oleh adanya peningkatan motivasi, yang terlihat adanya perubahan perilaku siswa dari pra tindakan sampai siklus ke II. Berdasarkan hasil nontes yaitu melalui observasi siswa ,jurnal siswa,wawancara dan dokumentasi foto pada siklus I dapat di simpulkan bahwa kesiapan siswa dalam pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan gejala (peristiwa )alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga menggunakan metode inkuiri belum begitu memuaskan baru dalam kategori cukup yaitu dengan rata-ratanilai sikap sebesar 70,80. Sikap sebagian siswa atau sebesar 56,00% masih menunjukkan perilaku negatif dalam menerima pembelajaran, konsentrasi siswa belum sepenuhnya terfokus dalam kegiatan pembelajaran.Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa siswa atau 16,00% tampak acuh takacuh 10,00% tampak menganggu teman 10,00% bermain-main sendiri 20,00% siswa tampak bingung. Kondisi yang tergambar pada siklus I merupakan permasalahan yang harus dihadapi dan dicari solusinya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut peneliti sengaja merevisi dan mematangkan rencana perbaikan pembelajara pada siklus II. Pada siklus II, langkah-langkah pembelajaran tetap, tetapi media pembelajaran yang digunakan perlu ditambah dengan media elektronik yaitu pemutaran video dengan bantuan laptop. Penekanan pada siklus II lebih diutamakan pada proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

Berdasarkan serangkaian hasil analisis data situasi pembelajaran, dapat dijelaskan bahwa motivasi siswa dalam pembelajaran menunjukkan perubahan.

Perubahan ini mengarah pada perilaku positif, dimana siswa semakin antusias dan sungguh-sungguh dalam belajar tanpa terbebani dan tertekan. Suasana yang awalnya agak pasif dan kurang konsentrasi, kini berganti dengan ketenangan dan penuh kebebasan berpendapat. Aktifitas belajar IPS tidak lagi pasif dan membosankan bagi siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaren IPS dengan menggunakan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Siswa lebih aktif dan bebas dalam menemukan ide-ide jawaban dalam pembelajaran.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti dapatmenarik simpulan sebagai berikut:

  1. Motivasi dan aktivitas siswa pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga dengan menerapkan metode inkuiri mengalami peningkatan. Pada siklus I, nilai rata-rata perilaku siswa adalah 70,80 atau berada pada kategori cukup, pada siklus II meningkat  menjadi 99,00  atau berkategori sangat baik.
  2. Penerapan metode inkuiri pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tahap prasiklus, nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 51,60 atau berada pada kategori kurang, pada tindakan siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 68,00 atau berkategori cukup, sedangkan pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat lagi menjadi 84,40 atau berkategori baik. Penerapan metode inkuiri juga dapat meningkatkan ketuntasan belajar individual siswa. Pada tahap prasiklus, persentase ketuntasan belajar siswa masih 22%, pada tindakan siklus I persentase ketuntasan belajar siswa  meningkat  menjadi 58%, sedangkan pada siklus II persentase ketuntasan belajar siswa meningkat lagi menjadi 92%, artinya indikator keberhasilan pembelajaran dapat tercapai. Indikator yang ditetapkan peneliti adalah 75% dari ketuntasan belajar individual siswa.

Semua indikator keberharhasilan dalam penelitian ini telah tercapai, sehingga hipotesis telah terbukti.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,Abu. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta:Rineka Cipta

Aunurrahman,dkk. 2009. Penelitian Pendidikkan SD.Jakarta : Dijen Dikti. Departemen Pendidikkan Nasional.

Handoko,Martin. 1992 . Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta :Kanisius.

Hidayat.( 1-15 ) . Pengembangan Pendidikkan IPS SD.Jakarta : Dijen Dikti, Departemen Pendidikan Nasional.

Iskandar. 2008 . Penelitian Tindakan Kelas. Jambi : GP Pres.

M.Toha Anggoro,dkk. 2007. Metode Penelitian. Jakarta : Universitas Terbuka.

Oemar,Hamalik. (157-166 ). Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara.

Roestiyah.  2008 . Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta.

Soli Abimanyu dkk. 2009 . Strategi Pembelajaran. Jakarta : Dijen Dikti,   Departemen Pendidikan  Nasional.

BIODATA:

Nama : Sukinah, S.Pd
NIP : 19621001 198304 2 006
Jabatan : Guru Kelas SD
Golongan : IV a
Unit Kerja : SDN Karangpakis 05



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *