PTS SD Menyusun RPP Berbasis Konstektual Melalui Supervisi Akademik

PENINGKATAN MOTIVASI DAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL MELALUI SUPERVISI  AKADEMIK DI SD PAGUYANGAN 03 SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2013/2014

arbaenah

PENDAHULUAN

Peneliti merasa prihatin menyaksikan guru yang enggan berfikir atau takut salah dan sejenisnya untuk menyusun sendiri Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Padahal setiap guru kelas mempunyai hak prerogatif menyusun dan mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Sisanya yang dua puluh persen ,guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan cara adopsi. Kondisi seperti tadi sudah berlangsung lama, bahkan seperti pembiasaan saja, setiap menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sudah dapat dipastikan menulis ulang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang tellah tersedia atau lebih parah lagi yang mencontoh punya rekan yang mengajar di kelas yang sama, jadi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran hanya sebuah pemenuhan persyaratan tugas seorang guru atau pendidik.

Guru memiliki motivasi untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sendiri adalah harapan yang paling utama. Para pendidik terampil menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan atau tanpa sadar akan merasa senang dan membanggakan, hasil Rencana Pelaksanaan Pembelajaran susunan sendiri, dibandingkan harus selalu mencontoh Mereka merasa lebih enak menyampaikan materi pelajaran, menilai  dan seterusnya karena sudah hafal langkah-langkahnya kalau menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sendiri, kegiatan belajaran mengajarpun akan lebih hidup, sebab sang guru tidak akan kehabisan atau kelupaan materi yang akan disampaikan.

Kondisi ini juga berimbas dengan peserta didiknya yang melihat pendidiknya lebih pandai dan merasa segan terhadapnya. Kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran perlu ditingkatkan, agar guru lebih kreatif  dan inovatif tidak selalu bertahan terhadap hal-hal lama atau sesuatu kegiatan yang sudah kuno, yang tidak relevan lagi diera globalisasi in.  cara menyampaikan materi pelajaran berubah-ubah kearah yang lebih baik dan menuju kesempurnaan.Jadi kalau menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran hanya meniru yang telah tersedia berarti dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tidak mengalami kemajuan atau istilahnya  jalan ditempat.

Dengan adanya masalah,yaitu kurangnya motivasi dan kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, maka dilaksakan supervisi akademik yang pelaksanaannya  secara bertahap yaitu mengadakan pelatihan secara klasikal antara lain pelatihan secara bersama-sama semua guru pada satu tempat dalam waktu yang sama.Tindakan ke dua menerapkan pelatihan secara individual antara lain pada waktu dan tempat yang bersamaan hanya ada seorang guru dan seorang supervisor.

Rumusan Masalah

  1. Apakah melalui supervisi akademik dapat meningkatkan motivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Kontekstual bagi guru SD Paguyangan 03 Kecamatan Paguyangan Kabupaten Breves semester 1 tahun pelajaran 2013/2014?
  2. Apakah melalui supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Kontekstual bagi guru SD Paguyangan 03 Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, pada semesrer 1 tahun pelajaran 2013/2014?
  3. Apakah melalui supervisi akademik dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Kontekstual bagi guru SD Paguyangan 03 Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes semester 1 tahun pelajaran 2013/2014?

 

LANDASAN TEORI

Motivasi

   Motivasi adalah proses yang menjelaskan, intensitas, arah dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Pengertian motivasi  adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk  aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.

Mc.Donald mengatakan bahwa ,motivation is a energy change within the person characterezed by affective arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditanda dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan.(Oemar Hamalik, 1992:173). Perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk  suatu aktivitas nyata berupa kegiatan  fisik. Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktifitasnya.

Dalam proses belajar/mengajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak  akan mungkin melakukan aktivitas  belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Maslow (1943,1970) sangat percaya bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuha fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahi dan mengerti, dan kebutuhan estetik. Kebutuhan-kebutuhan inilah menurut Maslow yang mampu memotivasi tingkah laku individu. Oleh karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri.

Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, teori X dan teori Y Douglas Mc Gre Gor maupun teori motivasi kontmporer,arti motivasi adalah”alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu.

Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkan dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang.Berbeda dengan motivasi dalam pengertian yang berkembang di masyarakat yang sering kali disamakan dengan”semangat” seperti contoh dalam percakapan”saya ingin anak saya memiliki motivasi yang tinggi” Statemen ini bisa diartikan orang tua tersebut menginginkan anaknya memiliki semangat belajar yang tinggi.Maka, perlu dipahami bahwa ada perbedaan penggunaan istilah motivasi di masyarakat.

Kemampuan Guru

Kemampuan melaksanakan tugas bagi seorang guru diperoleh melalui proses pendidikan. Kemampuan tersebut sangat diperlukan guna menjalankan fungsi profe-sinya. Dalam pengertian profesionalisme telah tersirat adanya sutau keharusan memiliki kemampuan agar profesi tersebut dapat berfungsi sebaik-baiknya. Dalam hal ini, pekerjaan professional berbeda dengan pekerjaan lainnya karena pekerjaan atau kegiatan tersebut memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang meme-nuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru, yang mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, mem-bimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik di ling-kungan pendidikan dasar dan menengah. Seorang guru yang telah memiliki predikat kompeten akan menguasai tugas pokok dan fungsinya serta cakap dalam melaksanakan tugas secara profesional.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Kontekstual

Dalam pembelajaran kontekstual, rencana pembelajaran (RPP) diartikan sebagairencana kegiatan guru yang berisi skenario pembelajaran tahap demi tahap mengenaihal-hal yang akan dilakukakan guru bersama siswa terkait topik atau pokok bahasanyang akan dipelajari demi mencapai kompetensi standar yang telah ditentukan. RPP dapat difungsikan sebagai pengingat bagi gurumengenai hal-hal yang harus dipersiapkan, mengenai media apa yang akan digunakan,strategi pembelajaran yang dipilih, sistem penilaian yang akan ditentukan, dan hal-halteknis lainnya.

Memang, secara umum tidak terdapat perbedaan mendasarmengenai format rencana pembelajaran berbasis kontekstual dengan format rencanapembelajaran yang selama ini dikenal. Hal yang membedakan keduanya adalahmengenai substansi atau penekanannya. Pada pembelajaran yang secara umum dikenal,rencana pembelajaran menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai, sedangkanpada pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.Sebagaimana dikemukakan di muka bahwa pendekatan kontekstual mempunyai 7 komponen utama, maka menyusun rencana pembelajaran berbasis kontekstual berartimerancang kegiatan pembelajaran yang mengakomodasi 7 komponen utama pendekatankontekstual tersebut. Ketujuh komponen pendekatan kontekstual harus tersirat padarencana pembelajaran yang disusun.

Selain itu, dalam rencana pembelajaran jugadirancang bagaimana mengintegrasikan keterampilan kecakapan hidup (life skill) dalamrangkaian pembelajaran.Berikut ini akan disajikan contoh format rencana pembelajaran berbasiskontekstual beserta penjelasan seperlunya mengenai bagian-bagiannya. Tentu saja, inimerupakan salah satu alternatif format rencana pembelajaran yang dapat diacu guru,yang tetap terbuka untuk diubah, dilengkapi, atau disesuaikan dengan kebutuhan.

Pendekatan “CTL” (Cotextual Teaching And Learning)

Mengajar bukanlah sebuah pekerjaan mudah dan banyak melibatkan pelbagai komponen yang mendukung seorang guru ketika berada di kelas. Pelbagai pendekatan yang ada dalam pemelajaran harus dikuasai ketika berada di kelas. Kepintaran seorang guru memakai variasi dalam pemelajaran ketika mengajar di kelas akan bergantung kepada hasil belajar siswa, sehingga lingkungan kelas tidak monoton dan siswa merasa bosan atau jenuh ketika berada di kelas. Belajar akan lebih bermakna jika anak ‘mengalami’ apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya. Pemelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.

Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pemelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pemelajaran berlangsung alami dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Stategi pemelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu kontruktivisme (contructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment).

Supervisi Akademik

Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual atau kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran. Konsep dasar yang harus dipahami seorang supervisor adalah bahwa supervisi dilakukan secara sistematis (teratur, beren-cana dan kontinu), obyektif (data nyata dari observasi, bukan tafsiran pribadi), dan menggunakan alat pencatat. Supervisi juga membutuhkaan keterampilan dasar seperti hubungan kemanusiaan, keterampilan da-lam proses kelompok, kepemimpinan pendidikan, mengatur personalia sekolah dan evaluasi.

Sedang supervisi akademis dilaksanakan bertujuan untuk: (i) mendorong pertumbuhan profeional guru, (ii) me-ngembangkan kepemimpinan demokratis, memecahkan masalah pembelajaran dan memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru. Supervisor akademis diharapkan memiliki kompetensi supervisi akademik, yang mencakup konsep prinsip teknologi, teori dasar, karakteristik dalam perkem-bangan di satuan pendidikan dan proses serta inovasi pembelajaran, membimbing guru dalam menyusun silabus mata pelajaran berdasarkan standar isi, standar kompetensi dasar dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP serta menggunakan strategi/ metode/teknik pembelajaran dan bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi peserta didik, juga bertu-gas membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan.

HIPOTESIS TINDAKAN

  1. Melalui Supervisi akademik dapat meningkatkan motivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual bagi guru SD Negeri Paguyangan 03 Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes pada semester 1 tahun pelajaran 2013/2014
  2. Melalui Supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual bagi guru SD Negeri Paguyangan 03 Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes pada semester 1 tahun pelajaran 2013/2014.
  3. Melalui Supervisi akademik dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual bagi guru SD Negeri Paguyangan 03 Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes pada semester 1 tahun pelajaran 2013/2014.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian diawali dengan pembuatan proposal, menentukan instrument, mencari data, mengolah data, menganalisis data laporan penelitian. Pada bulan Januari minggu pertama  pembuatan proposal,dilanjutkan menentukan dan memilih instrument pada bulan Pebruari,mulai mencari data bulan Maret, dan mengolahnya bulan April,selesai diolah lalu dianalisis pada bulan Mei serta pelaporan bulan Juni. Tempat penelitian, yaitu SD Negeri  Paguyangan 03.

Motivasi menyusun Rencana Pelaksanaa Pembelajaran berbasis kontekstual bagi guru SDN Paguyangan 03,diperoleh lewat pengamatan  teman sejawat atau orang lain, dan Kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  berbasis kontekstual bagi guru SDN Paguyangan 03,diperoleh langsung dari guru.

Indikator Kinerja

  1. Meningkatkan motivasi guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual dari 40,36  menjadi 60.
  2. Meningkatnya kemampuan guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual dari 40,36  menjadi 60.

Penelitian dilaksanakan dua siklus,dan siklus pertama akan dilaksanakan minggu ke dua bulan Mei dan siklus  ke dua akan dilaksanakan minggu ke empat masih bulan Mei 2012.Persiapan yang harus peneliti lakukan adalah menyiapkan RPP atau Rencana Pelaksanan Penelitian,menyiapkan instrument evaluasi,menyiapkan lembar observasi dan menyiapkan soal evaluasi. Adapun tahapan-tahapan siklusnya ada empat yaitu :

  1. Planing atau membuat perencanaan tindakan.
  2. Acting atau melaksanakan tindakan yang direncanakan
  3. Observing atau melakukan pengamatan terhadap acting dan
  4. Reflekting atau menganalisis deskriptif komperatif terhadap refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Data Kondisi Awal

 Guru tetap saja menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran mencontoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah ada.Peneliti terus-menerus mengalami kekecewaan.Peneliti mulai sekarang akan berusaha mengubah kebiasaan – kebiasaan lama di sekolah ini yang tidak relevan dengan era revormasi menjadi relevan dengan berkembangnya jaman.Peneliti yakin seyakin – yakinnya akan bisa maju sekollah ini kalau pelaku – pelaku sekolah mengubah tatanan yang kurang baik menjadi lebih baik dan memiliki motivasi membuat hal – hal baru yang sesuai dengan tuntutan jaman sisanya dua puluh persen menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan cara adopsi dari  internet.sebaiknya kita contoh firman Alquran yang bunyinya : Alloh tidak merubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri sendiri tidak mau mengubahnya.

Tabel 1. Rekap daftar nilai kondisi awal

NO NAMA ISIAN JAWABAN

SINGKAT

URAIAN JUMLAH
1 Watmo,S.Pd.SD 3 4 6 13
2 Siti Rokhani,S.Pd.SD 3 4 7 14
3 Retno Winarni,S.Pd 3 3 6 12
4 Dwiko Raharjo,S.Pd.SD 4 3 6 13
5 Rohadi,S.Pd.SD 4 4 5 13
6 Yuni Eko W ,S.Pd.SD 4 4 6 14
7 Sukardi, A.Ma.Pd 4 4 5 13
8 Kamalludin,A .Ma 4 4 5 13
9 Endah Kantun,A.Ma 4 4 5 13
10 Evitasari,S,Ag 4 4 5 13

Deskripsi Data Siklus I

Kurang motivasi dan kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual , dan guru hanya mencontoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah ada buatan KKG tingkat Kecamatan, atau mencontoh teman sejawat yang donlot dari internet. Sebenarnya para guru itu mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP,hanya mereka telah lama dinina bobokkan oleh kondisi yang  seolah – olah membolehkan atau mengijinkan guru untuk tidak menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sendiri ,kondisi seperti diatas sudah berlangsung lama sekali,bahkan sudah merupakan pembiasaan bagi hampir semua guru di sekolah Peneliti.

Padahal seingat Peneliti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran produk KKG itu hanya dianjurkan sebagai acuan saja,apalagi sudah lama sekali kalau dibandingkan dengan sekarang sudah banyak yang tidak sesuai lagi.Peneliti tidak mengatakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  tadi ketinggalan jaman ,hanya sebaiknya disesuaikan dengan era globalisasi,dan juga mengikuti kurikulum yang sifatnya dinamis  menuju kesempurnaan.Apalagi sekarang pemerintah sedang berusaha meningkatkan sumber daya manusia masyarakat kita.Jadi menurut Peneliti pendidik saat ini mau tidak mau kalau memang loyal pada pemerintah ya harus ada perubahan dalam pola menyampaikan materi pelajaran ,harus dikemas dengan baik dari mulai perencanaan sampai pada penilaian ,tidak boleh asal – asalan dan tanpa memperhitungkan dampak nya positif ata;u negative.Suatu kondisi yang dibiarkan terlalu lama juga berdampak kurang baik ,misalnya karena telah  berlarut – larut selalu mengkopi paste Rencana Pelaksanaan Pembelajaran para guru merasa kurang berani pada gilirannya harus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, ada perasaan takut salah, kurang pas dan masih banyak  rasa was –  was yang sesungguhnya tidak perlu terjadi.

Peneliti disini berpraduga,jangan – jangan kondisi seperti ini bukan terjadi hanya di sekolalah Peneliti,atau hampir semua sekolah di wilayah Peneliti bekerja dan sekarang dampaknya mulai terasa dengan anjlognya mutu pendidikan di Indonesia,bahkanua kalah dengan Negara –negara yang dulu dalam system pembelajaran pernah belajar di Indonesia,nah kalau kondisi seperti ini siapa yang disalahkan? dari pada mencari kambing hitam lebih baik kita mulai dari sekarang merubah sikap yang dulunya membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran asal membuat menjadi tidak asal membut tapi membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual yang dapat dipertanggung jawabkan serelevan mungkin dengan era globalisasi.

Tabel 4. Lembar observasiTentang motivasi Data siklus 1

NO NAMA GURU KALAU DIBERI PEMBINAAN Mengikuti Selalu

Mengikuti

Tidak

Mengikuti

1 Watmo , S.Pd.SD v v
2 Siti Rokhani,S.Pd v v
3 Retno Winarni,S.Pd v v
4 Dwiko Raharjo P,

S.Pd.SD

v v
5 Rohadi ,S.Pd.SD v v
6 Yuni Eko W,S.Pd.SD v v
7 Sukardi ,AMa Pd v v
8 Kamaludin AMa v v
9 Endah Kantun AMa v v
10 Evitasari ,S Ag V v

Tabel 5. Hasil Pengamatan siklus I

NO NAMA GURU NILAI KEMAMPUAN
1 Watmo,S.Pd.SD 6
2 Siti Rokhani ,S.Pd 6
3 Retno Winarni ,S.Pd 6
4 Dwiko Raharjo Priambodo ,S.Pd.SD 6
5 Rohadi ,S.Pd.SD 6
6 Yuni Eko Wahyuningsih ,S.Pd.SD 6
7 Sukardi ,AMa.Pd 6
8 Kamaludin ,Ama 6
9 Endah Kantun ,AMa 6
10 Evitasari ,S.Ag 7

Tabel 6. Tabel nilai siklus  I

NO NAMA GURU NILAI
1 Watmo,S,Pd.SD 6
2 Siti Rokhani,S.Pd 5
3 Retno Winarni,S.Pd 6
4 Dwiko Raharjo Priambodo,S.Pd.SD 5
5 Rohadi, S.Pd.SD 5
6 Yuni Eko Wahyuningsih,S.Pd.SD 5
7 Sukardi,A.Ma.Pd 5
8 Kamaludin,A.Ma 5
9 Endah Kantun,A.Ma 5
10 Evitasari,S.Ag 7

Tabel 7. Tabel kemampuan menyusun RPP

NO KEMAMPUAN SKOR KEMAMPUAN
01 Terendah 5
02 Tertinggi 7
03 Rerata 5,4
04 Rentang nilai 5,75

Tabel 8. Tabel rentang nilai siklus I

NO INTERVAL NILAI JUMLAH
01 0 – 1
02 1,1 – 2
03 2,1 – 3
04 3,1 – 4
05 4,1 -5 7
06 5,1 – 6 2
07 6,1 – 7 1
08 7,1  – 8
09 8,1 –  9
10 9,1 – 10

Deskripsi Hasil siklus II

Hasil pengamatan  tentang keberanian guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual pada Siklus II. Peneliti merasa senang karena walau belum sepenuhnya ,guru sudah mulai berani menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual sendiri,dan mereka termotivasi sekali terbukti waktu Peneliti memberi tugas untuk mengisi lembar jawab evaluasi  serta lembar soal ada beberapa guru yang membuka catatan karena takut jawabannya salah,juga ada guru yang berterus terang akan membuka catatan dengan alasan soalnya jawabannya susah, ada juga yang nyeletuk minta kunci jawaban pada Peneliti.

Melihat kondisi seperti ini Peneliti tersenyum saja, sambil dalam hati terharu,kok sampai sebegitunya semangat mereka padahal saya pikir apa yang peneliti lakukan bersama rekan sejawat tidaklah terlalu berlebihan,hanya sekedar penelitian yang sifatnya tidak memaksa harus  seperti ini apa harus seperti itu.

Peneliti juga sangat merasa  betapa menghargainya para guru kepada Peneliti dan para guru juga ikut mendukung ,dengan adanya bukti mereka membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran mandiri, bahkan ada yang bertanya dapat nilai berapa saya bu,? ada juga yang tanya jawaban soal kemarin no 1 apa ya bu? dan macam – macam lagi pertanyaan mereka layaknya murid sekolah saja yang bertanya pada guru kelasnya ingin tahu nilainya, Tapi ada juga guru yang apatis tidak peduli mau dapat berapa atau ucapan apa baik dari Peneliti ataupun dari rekan kolaborasi. Guru tadi seolah – olah tidak mau terbebani  perasaannya dengan adanya himbauan Peneliti agar menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual sendiri, Peneliti bersama rekan sejawat juga maklum karena selain guru tadi sudah terbiasa mencontoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  yang sudah ada juga umurnya sudah tua,tapi harapan peneliti dan rekan kolaborasi mudah – mudahan walaupun pelan – pelan akan segera dapat menyesuaikan diri dengan era sekarang atau era globalisasi. Pada sklus II ini para guru kelihatan lebih bersemangat dibanding   pada waktu siklus I, mereka malah ada yang diketik membuat lembar soal evaluasinya,sewaktu Peneliti bertanya kenapa lembar evaluasinya diketik katanya biar mudah tidak usah menulis di papan tulis, dan juga anak – anak merasa situasinya seperti sedang tes sumatif,mengerjakan  soal lebih tenang dan terfokus pada  satu masalah yaitu berusaha menjawab semua pertanyaan dengan serius, terus masih kata gu ru itu lagi,kalau ulangan berkasnya ketikan dijadikan porto polio lebih bagus dan rapi. Para guru dapat merasakan situasi siswa yang menjadi berbeda,karena guru mengajara lebih fokus ke materi tidak banyak penyimpangan , itu yang dirasakan guru secara keseluruhan,dan merasakan selama ini banyak waktu yang terbuang sia – sia karena kurang berfikir dan kurang berproduktif dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual. Dengan adanya kemauan untuk menyusun sendiri Rencana Pelaksanaan Pembelajaran bahkan sampai ada yang meningkat cara menyajikan evaluasi dengan diketik,berarti guru bukan hanya meningkat keberaniannya namun juga meningkat keterampilannya yaitu dapat mengetik menggunakan computer,walaupun masih sebatas mengetik saja dan yang lainnya masih minta bimbingan Peneliti,misalnya cara menyimpan ,membuat kolom, dan lain sebagainya. Dengan demikian secara umum para guru ditempat Peneliti bekerja mengalaami peningkatan  motivasinya dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual.

Tabel 9. Tabel nilai observasi siklus II

NO Nama Pada waktu pembinaan NILAI
1 Watmo, S.Pd.SD Memperhatikan B
2 Siti Rokhani,S.Pd.SD Memperhatikan sekali A
3 Retno Winarni,S.Pd Memperhatikan B
4 Dwiko Raharjo P,S.Pd.SD Memperhatikan B
5 Rohadi, S.Pd.SD Memperhatikan B
6 Yuni Eko WahyuningsihS.Pd.SD Memperhatikan A
7 Sukardi,A.Ma.PD Memperhatikan B
8 Kamalludin,A.Ma Memperhatikan B
9 Endah Kantun,A.Ma Memperhatikan B
10 Evitasari,S.Ag Memperhatikan B

Tabel 10. Tabel kemampuan siklus II

No Nama Nilai
1 Watmo, S.Pd.SD 6,5
2 Siti Rokhani, S.Pd.SD 7,5
3 Retno Winarni,S.Pd.SD 6,5
4 Dwko Raharjo Priambodo,S.Pd.SD 6,5
5 Rohadi, S.Pd.SD 6,5
6 Yuni Eko Wahyuningsih 7,5
7 Sukardi, A.Ma.Pd 6,5
8 Kamalludin,A.Ma 6,5
9 Endah Kantun,A.Ma 6,5
10 Evitasari,S.Ag 6,5

Refleksi

Para guru pada siklus I walau telah mengalami perubahan  dengan agak termotivasi menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual sendiri, namun menurut  Peneliti masih ragu – ragu sehingga cara menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran belum seratus persen mandiri  atau sewaktu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  suka bertanya pada teman  karena takut ada yang salah.maka Peneliti segera mengadakan lagi pembinaan secara individual,kalau sebelumnya pembinaan secara klasikal. Hasil siklus I yang belum signifikan  peningkatan keberaniannya setelah siklus II menjadi kelihatan sekali dan dari cara menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual yang masih ragu – ragu berubah  cara menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menjadi tidak ragu –ragu ,bahkan boleh dikatakan mantap.Begitu juga kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual melalui pembinaan akademik  Para guru mengalami peningkatan  terbukti pada kondisi awal kemampuannya  rata – rata ( 40,36), nilai terendahnya (40,33)  dan nilai tertinggi nya (40,66) sedangkan pada siklus I kemampuannya  rata – rata ( 54) ,nilai terendahnya (50) ,dan nilai tertingginya (70)sedangkan pada siklus II atau kondisi akhir kemampuannya  rata –  rata (66),nilai terendahnya (65),sedang nilai tertinggi (75),yang berarti dari kondisi awal ke kondisi akhir meningkat kemampuannya (40,36) menjadi (66) atau kemampuannya menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis  kontekstual meningkat ( 38,84 ).

Hasil Tindakan

Simpulan diambil dari hasil refleksi pada pembahasan / diskusi melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan keberanian dan kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual.

Tabel 11. Kemampuan guru siklus 1 dan 2

No Kemampuan Kemampuan Refleksi
1 Siklus  I  / Nilai Siklus II / Nilai
2 Terendah 5 Terendah 6,5 Naik : 23,07 %
3 Tertinggi 7 Tertinggi 7,5 Naik : 6,66 %
4 Rerata 5,4 Rerata 6,6 Naik  : 18,18 %

KESIMPULAN

  1. Melalui Supervisi akademik dapat meningkatkan  motivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstua bagi  guru SD Negeri Paguyangan 03 Kecamatan Paguyangan  Kabupaten Brebes  pada semester I tahun pelajaran 2013 / 2014
  2. Melalui supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual bagi guru SD Negeri Paguyangan 03 Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes  pada semester I tahun pelajaran 2013 / 2014.
  3. Melalui supervisi akademik dapat meningkatkan  motivasi  dan kemampuan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis kontekstual bagi guru SD Negeti Paguyangan 03 Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes pada semester I tahun pelajaran  2013 / 2014

 

DAFTAR PUSTAKA

Oemar Hamalik (1992: 173 )

Abraham Maslow (1943:1970 )

http://www.scribd.com/doc/175242926/Peningkatan-Kemampuan-Guru-Dalam-Menyusun-Rpp-Melalui-Supervisi-Klinis. didiownload tanggal 11 Maret 2016 jam 13.00.

http://widyasaripress.com/index.php?option=com_content&view=article&id=194:peningkatan-kemampuan guru&catid=45:2015-02-12-jurnal-januari-2015&Itemid=2. Didownload tanggal 11 Maret 2016 jam 13.00.

http://faizalnizbah.blogspot.co.id/2013/09/pengertian-komponen-dan-prinsip.html. didownload tanggal 11 Mater 2016 jam 11.00.

http://oneallstudents.blogspot.co.id/2012/03/pengertian-rencana-pelaksanaan.html. didownload tanggal 11 Mater 2016 jam 11.03.

BIODATA PENELITI

NAMA                        : ARBAENAH, S.Pd.SD

NIP                             : 19590915  198201 2 008

PANGKAT / GOL     :PEMBINA / IVA

NUPTK                       : 6247737639300013

UNIT KERJA             : SDN PAGUYANGAN 03

ALAMAT                   : Dk. Kedungbanteng ,Ds. Paguyangan, Kec. Paguyangan


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *