PTK SD Konsep Keseimbangan Ekosistem Melalui PBL

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP KESEIMBANGAN EKOSISTEM MELALUI MODEL PROBLEM BASED LAERNING (PBL) PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI SAWANGAN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2015/2016

kuswardiatun 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan Pemahaman Konsep Keseimbangan Ekosistem melalui Penggunaan Model Problem Based Learning (PBL) pada siswa kelas VI SD Negeri Sawangan Semester I Tahun  Pelajaran 2015/2016.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan tahap refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Sawangan Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 33 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dokumentasi, dan wawancara. Validitas data pada penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Untuk menganalisis data digunakan teknik analisis interaktif. Analisis interaktif terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model Problem Based Laerning (PBL) dapat meningkatkan pemahaman Konsep Keseimbangan Ekositem pada siswa kelas VI SD Negeri Sawangan Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016. Peningkatan tersebut dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata pemahaman konsep Keseimbangan Ekosistem pada tiap siklus. Nilai rata-rata pemahaman Keseimbangan Ekosistem pada kondisi awal sebesar 64,8; pada siklus I meningkat menjadi 72,6; dan pada siklus II meningkat menjadi 76,5. Pada kondisi awal siswa yang memperoleh nilai KKM (≥70) sejumlah 10 siswa atau 30,3%; pada siklus I dengan KKM sebesar ≥70 meningkat menjadi 24 siswa atau 72,7%; dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 30 siswa atau 90,9% dengan 3 siswa atau 9,1% tidak tuntas. Siswa yang tidak tuntas tersebut dikarenakan  faktor intern dari diri siswa.Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan pemahaman konsep Keseimbangan Ekosistem pada siswa kelas VI SD Negeri Sawangan Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

Kata Kunci: Problem Based Learning (PBL), Pemahaman konsep, dan Keseimbangan Ekosistem

PENDAHULUAN

Menurut Iskandar, (2001: 16) “IPA adalah mata pelajaran yang menekankan pengalaman yang dilakukan siswa, sehingga kegiatan eksperimen adalah hal yang penting dalam IPA. Kebanyakan di lapangan guru lebih aktif daripada siswa. Guru banyak mengambil inisiatif dalam menetapkan dan menentukan cara memecahkan masalah. Segala sesuatu diinformasikan secara cermat kepada siswanya, sehingga siswa tinggal menerimanya. Kegiatan seperti itu memang mengasyikkan bagi guru, tetapi membosankan bagi siswa karena siswa hanya sebagai pendengar. Siswa dianggap sebagai suatu benda yang kosong tempat diisi dengan segala macam informasi. Cara belajar mengajar seperti ini, akan menghasilkan manusia yang konsumtif, kurang kreatif dan kurang berkemampuan untuk menghadapi tantangan hidup di masa yang akan datang.

Salah satu materi yang ada di dalam silabus kelas VI semester 1 adalah keseimbangan ekosistem. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan di SDN Sawangan, diperoleh informasi bahwa pemahaman konsep siswa materi keseimbangan ekosistem masih rendah, dibawah KKM 70. Hal ini dibuktikan dengan hasil pretest materi keseimbangan ekosistem dengan hasil, dari 33 siswa, 23 siswa atau 69,7% siswa mendapat nilai di bawah KKM (70). Sedangkan yang mendapatkan nilai lebih atau sama dengan KKM hanya 10 siswa atau 30,3% siswa, dengan nilai rata-rata kelas yaitu 64,8.

Gambaran permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran IPA perlu diperbaiki guna meningkatkan  pemahaman  konsep-konsep IPA. Mengingat pentingnya IPA dalam kehidupan maka diperlukan pembenahan proses pembelajaran yang dilakukan guru yaitu dengan menggunakan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPA. Salah satunya dengan menerapkan model Problem Based Learnig (PBL) yang merupakan model pembelajaran yang memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan yang memfasilitasi penyelidikan dan dialog.

Di tingkat paling fundamental, Problem Based Learnig (PBL) ditandai oleh siswa yang bekerja berpasangan atau dalam kelompok-kelompok kecil untuk menginvestasigasi masalah kehidupan nyata yang membingungkan. Melalui pendekatan model pembelajaran Problem Based Learnig (PBL) siswa diajak untuk dapat menemukan masalah-masalah yang berkaitan dengan materi pelajaran sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dalam proses balajar mangajar.

Guru dalam perannya menjadi fasilitator menciptakan proses belajar aktif, kreatif dan menyenangkan. Dalam langkah menguji pemahaman materi  keseimbangan ekosistem siswa diajak  untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.

Salah satu kelebihan dari Model Problem Based Learnig (PBL), fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan  masalah yang  menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, maka model Problem Based Learning  (PBL) dipilih untuk meningkatkan pemahaman konsep keseimbangan ekosistem bagi siswa kelas VI SDN Sawangan.

Berdasarkan uraian di atas, dirumuskan permasalahan yakni apakah model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan pemahaman konsep  keseimbangan ekosistem pada siswa kelas VI SD Negeri Sawangan Tahun Pelajaran 2015/2016?.

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman konsep keseimbangan ekosistem melalui penerapan model Problem Based Learning  (PBL) pada siswa kelas VI SD Negeri Sawangan  Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN

Tempat dilaksanakannya penelitian ini  adalah di SDN Sawangan UPK Kebasen. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan yakni dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2015. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas VI yang berjumlah 33 orang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan dan guru kelas VI SDN Sawangan. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan selama dua siklus setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yakni: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Sumber data pada penelitian ini diperoleh dari data kualitatif dan data kuantitatif yang bersumber dari siswa dan guru kelas VI SDN Sawangan , dokumen nilai pemahamn konsep, dokumen nilai kinerja guru, aktivitas siswa, dan foto. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dokumentasi, dan wawancara. Validitas data pada penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Untuk menganalisis data digunakan teknik analisis interaktif. Analisis interaktif terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

 

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Siklus I

Sebelum melaksanakan tindakan,  terlebih dahulu dilakukan beberapa kegiatan yaitu observasi, wawancara, dan tes evaluasi pra tindakan. Berdasarkan tes pra tindakan tentang pemahaman konsep keseimbangan ekosistem yang telah dilaksanakan, diperoleh data yang menunjukkan sebagian besar siswa kelas VI SDN Sawangan belum mencapai ketuntasan dengan KKM yang telah ditetapkan yaitu 70. Data frekuensi nilai pemahaman konsep keseimbangan ekosistem pada pra tindakan dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut:.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Nilai Pemahaman Konsep Keseimbangan ekosistem Pra Tindakan

 

No Interval Frekuensi (fi) Persentase (%)
1 50-59 6 18,2%
2 60-69 17 51,5%
3 70-79 7 21,2%
4 80-89 3 9,1%
Nilai rerata = 2140 : 33 = 64,8
Ketuntasan klasikal = (10 : 33) x 100% = 30,3%

Berdasarkan Tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata siswa adalah 64,8 dan dari 33 siswa 23 diantaranya atau 69,7 % siswa nilainya dibawah KKM dan hanya 10 siswa atau 30,3 % siswa yang mencapai KKM (70). Selanjutnya dilakukan tindakan pada siklus I dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) dalam proses pembelajaran materi keseimbangan ekosistem  pada siswa kelas VI SDN Sawangan. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah pembelajaran berdasarkan masalah yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah terhadap tantangan di dunia nyata. (Anitah, 2009:71). Tujuan dari model ini adalah memandu siswa untuk belajar lebih aktif dan mengajarkan keterampilan memecahkan masalah.

Langkah pembelajaran model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah:

Tahap Pembelajaran Perilaku Guru
Tahap 1:

Mengorganisasikan siswa

Guru menginformasikan tujuan-tujuan pembelajaran, mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan logistik penting, dan memotivasi siswa agar terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah.
Tahap 2:

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru membantu siswa menentukan dan mengatur tugas-tugas belajar yang berhubungan dengan masalah  itu.
Tahap 3:

Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok

Guru mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, mencari penjelasan, dan solusi.
Tahap 4:

Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karya serta pameran

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang sesuai dengan laporan, rekaman video, dan model, serta membantu mereka berbagi karya mereka.
Tahap 5:

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa melakukan refleksi atas penyelidikan dan proses-proses yang mereka guanakan.

Hasil pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)  disajikan pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pemahaman Konsep Keseimbangan ekosistem Siklus I

No Interval Frekuensi (fi) Persentase (%)
1 60-66 9 27,3%
2 67-73 9 27,3%
3 74-80 11 33,3%
4 81-87 3 9,1%
5 88-94 1 3%
Nilai rerata = 1395 : 33 = 72,6
Ketuntasan klasikal = (24 : 33) x 100% = 72,7%

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi nilai di atas, menunjukkan bahwa nilai rata-rata pada siklus I mencapai 72,6 dengan 72,7% atau sebanyak 24 siswa yang mempunyai nilai  70, dan sisanya (9 siswa) masih mendapatkan nilai < 70 (KKM).

Deskripsi Siklus II

Karena pada siklus I belum mencapai indikator kinerja yang ditentukan yakni 80% siswa mencapai nilai 70, maka dilakukan tindakan pada siklus II. Pada siklus II menunjukkan peningkatan pemahaman konsep keseimbangan ekosistem dengan tetap menggunakan model pembelajaran  Problem Based Learning (PBL).

Distribusi nilai pemahaman konsep keseimbangan ekosistem pada siklus II dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut:

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Nilai Pemahaman Konsep Keseimbangan ekosistem Siklus II

No Interval Frekuensi (fi) Persentase (%)
1 60-66 3 9,1%
2 67-73 2 6,1%
3 74-80 22 66,7%
4 81-87 5 15,1%
5 88-94 1 3%
Nilai rerata = 2525 : 33 = 76,5
Ketuntasan klasikal = (30 : 33) x 100% = 90,9%

Data di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 76,5 dengan ketuntasan klasikal 90,9% atau sebanyak 30 siswa sudah mendapat nilai 70 (KKM).

PEMBAHASAN

Uraian hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai pemahaman konsep keseimbangan ekosistem pada tahap pra tindakan, siklus I dan siklus II melalui penerapan model pembelajaran  Problem Based Learning (PBL).

Pada tahap pra tindakan, nilai rata-rata yang dicapai siswa sebesar 64,8 dengan ketuntasan klasikal 230,3% atau 10 siswa yang mempunyai nilai di atas KKM (70). Setelah diadakan tindakan pada siklus I, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 72,6 dengan ketuntasan klasikal mencapai 72,7% atau 24 siswa mendapat nilai di atas KKM (70). Namun, karena indikator kinerja pada penelitian ini yaitu ketuntasan 80% belum tercapai, maka dilanjutkan tindakan pada siklus II. Pada siklus II terjadi peningkatan nilai pemahaman konsep keseimbangan ekosistem. Nilai rata-rata siswa pada siklus II meningkat menjadi 76,5 dengan ketuntasan klasikal mencapai 90,9% atau 30 siswa sudah mencapai nilai tuntas. Dengan tercapainya indikator kinerja yakni 80% siswa mencapai nilai ≥70, maka penelitian ini dihentikan di siklus II. Peningkatan nilai pemahaman konsep keseimbangan ekosistem pada tahap pra tindakan, siklus I sampai siklus II dapat dilihat pada data perbandingan nilai pemahaman konsep pada Tabel 4 sebagai berikut:

Tabel 4. Perbandingan Rekap Nilai Tertendah, Nilai Rata-rata dan Nilai Tertinggi pada   Pratindakan, Siklus I, dan Siklus II

No Keterangan Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Nilai rata- rata klasikal 64,8 72,6 76,5
2 Nilai terendah 50 60 60
3 Nilai tertinggi          85 90 90
4 Persentase ketuntasan klasikal 30,3% 72,7% 90,9%

Perbandingan rekapitulasi nilai tertendah, nilai rata-rata dan nilai tertinggi siswa di atas dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar berikut:

grafik-perkembangan

Gambar 2.. Grafik Perkembangan Nilai Keseimbangan Ekosistem antar siklus

Berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan menggunakan data dalam deskripsi kondisi awal, deskripsi pelaksanaan tindakan tiap siklus, dan perbandingan hasil antar siklus dapat disimpulkan bahwa penggunaan model Problem Based Learning  (PBL) dapat meningkatkan pemahaman konsep keseimbangan ekosistem dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI SDN Sawangan Kecamatan Kebasen Kabupaten Pacitan tahun ajaran 2015/2016. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari perhitungan rata-rata nilai hasil pemahaman konsep pada deskripsi dibawah ini.

Pada kondisi awal atau prasiklus, sebelum guru menggunakan model Problem Based Learning (PBL), pemahaman konsep keseimbangan ekosistem siswa masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai pre-test hanya 64,8 dari skala 100 dengan persentase ketuntasan klasikal 30,3% dan 23 siswa masih dibawah KKM. Setelah pelaksanaan tindakan siklus I, pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Terjadi peningkatan pada nilai rata-rata kelas menjadi 72,6 dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 72,7%. Dengan kata lain telah terjadi peningkatan persentase ketuntasan klasikal sebesar 42,4%. Pada siklus I pembelajaran sudah berlangsung dengan baik, namun persentase ketuntasan klasikal masih belum memenuhi indikator kinerja atau target yang ditentukan. Oleh karena itu, penelitian ini dilanjutkan pada pelaksanaan tindakan ke siklus II. Dengan perbaikan kinerja guru maupun motivasi kepada siswa untuk lebih ikut aktif dalam pembelajaran. Dengan adanya perbaikan tersebut peningkatan dapat diperoleh kembali pada siklus II. Nilai rata-rata kelas menjadi 76,5 dan persentase ketuntasan klasikal meningkat menjadi 90,9%. Pencapaian yang diperoleh jauh di atas target atau indikator kinerja yang telah ditetapkan.Peningkatan nilai rata-rata pada setiap siklusnya yang berdampak positif  terhadap ketuntasan belajar. Pada akhir siklus II masih terdapat 3 siswa yang belum tuntas dalam belajar (< 70), hal ini disebabkan adanya faktor intern dari diri siswa.

Hasil observasi juga menunjukkan bahwa ada peningkatan proses pembelajaran IPA yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas siswa dan kinerja guru dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL). Di antaranya yaitu:

  1. Meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA.
  2. Mengembangkan keterampilan siswa dalam mencari strategi apa yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah yang diberikan.
  3. Kemandirian siswa terlihat ketika siswa bertindak sebagai fasilitator, yaitu saat diskusi dan mencari sumber-sumber pengetahuan baru.
  4. Tanggung jawab antar siswa terbentuk ketika proses diskusi dalam pemecahan masalah.

SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang dilaksanakan dalam dua siklus membuktikan bahwa dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat miningkatkan pemahaman konsep keseimbangan ekosistem pada siswa kelas VI SDN Sawangan dalam pembelajaran IPA tahun pelajaran 2015/2016. Peningkatan pemahaman konsep keseimbangan ekosistem tersebut dibuktikan dengan meningkatnya rata-rata kelas dan ketuntasan yang dicapai siswa pada setiap siklusnya. Pada pra tindakan, nilai rata-rata pemahaman konsep siswa adalah 64,8; Siklus I nilai rata-rata pemahaman konsep siswa meningkat menjadi 72,6; dan Siklus II nilai rata-rata pemahaman konsep siswa meningkat menjadi 76,5. Ketuntasan klasikal siswa pada pra tindakan sebanyak 10 siswa (30,3%); Siklus I sebanyak 24 siswa (72,7%), dan Siklus II sebanyak 30 siswa (90,9%). Berdasarkan hasil analisis dan refleksi dari siklus II, peneliti menyimpulkan bahwa tindakan sudah berhasil dengan indikator ketuntasan siswa mencapai 90,9%, atau telah melampaui indikator yang telah ditetapkan (80%), maka penelitian ini dihentikan sampai pada siklus II.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amir, M.T. (2009). Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning : Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pembelajar di Era Pengetahuan. Jakarta : Kencana.

Iskandar, S.M. 2001. Pendidikan Ilmu pengertahuan Alam. Bandung: CV. Maulana

Rusmono. (2012). Strategi Pembelajaran Dengan Problem Based Learning Itu Perlu : Untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru. Bogor : Ghaliha Indonesia.

Suprijono, A. (2009). Cooperative Learning : Teori dan aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

BIODATA

1. Nama Lengkap : KUSWARDIATUN, S Pd
2. NIP : 19670813 198806 2 001
3. GoIongan IV.A
4. Jabatan : KepaIa  Sekolah
5. Unit Kerja : SDN Sawangan UPK Kebasen



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *