PENINGKATAN PRESTASI HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PKn MATERI ORGANISASI MELALUI PENERAPAN METODE KOOPERATIF MODEL GROUPINVESTIGATION BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI 2 KARANGLEWAS LOR PADA SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2015/2016

tarsudi

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation di SD Negeri 2 Karanglewas Lor Kelas V Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016. Serta untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation di SD Negeri 2 Karanglewas Lor Kelas V Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016. Prosedur tindakan yang dilakukan meliputi dua siklus. Langkah setiap siklus adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan evaluasi serta refleksi. Metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation dilakukan oleh peneliti selaku Kepala Sekolah, guru kelas V sebagai pengamat dan kolaborator. Temuan hasil PTK ini adalah Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan materi Organisasi dengan penerapan metode kooperatif model Group Investigation, terbukti dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa Kelas V SD Negeri 2 Karanglewas Lor pada semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016. Hal ini dibuktikan dengan naiknya prestasi hasil belajar siswa yang ditunjukkan berdasarkan hasil tes formatif dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dari nilai rata-rata kelas 69,7 menjadi 76,6 pada siklus I, dan 85,2 pada siklus 2. Serta ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang tuntas yaitu 16 dari 29 siswa (55,17%). Pada siklus I, keaktifan siswa pada siklus I ini  mencapai 72% siswa terlibat dalam proses pembelajaran. Pada siklus 2, siswa yang tuntas belajar 28 siswa dari 29 siswa (96,55%) dengan keaktifan belajar siswa mencapai 93%.

Kata kunci : Prestasi hasil belajar, model Group Investigation

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Salah satu keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh pendekatan yang digunakan guru dalam kegiatan tersebut, agar tujuan pembelajaran yang telah direncanakan dapat dicapai secara optimal. Permasalahan yang penulis hadapi di kelas V SD Negeri 2 Karanglewas Lor adalah prestasi hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tentang Organisasi rendah. Hal ini disebabkan model pembelajaran yang digunakan kurang sesuai dengan materi yang diajarkan. Nilai yang diperoleh siswa rendah ditunjukkan dengan hasil nilai ulangan harian mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tentang Organisasi sebagai berikut.

Tabel 1.1

Nilai Ulangan Harian PKn Organisasi

Kelas V Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016

Rentang Nilai Banyak Siswa Prosentase
0 – 49 3 10,34 %
50 – 74 14 48,28 %
75 – 100 12 41,38 %
Jumlah 29 100 %

Dengan melihat perolehan nilai dari tabel di atas, 29 siswa yang mendapat nilai ≥ 75 (nilai KKM) hanya 12 siswa. Tingkat ketuntasan hanya mencapai 41,38%. Hal ini sangatlah jauh dari target ketuntasan yaitu 80%. Setelah penulis menerapkan model pembelajaran dengan metode kooperatif model group investigation hasil nilai yang diperoleh siswa meningkat.

Agar penelitian ini dapat terarah maka perlu dirumuskan masalah sebagai berikut : Apakah melalui Metode Kooperatif Model Group Investigation dapat meningkatkan perstasi hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Organisasi di SD Negeri 2 Karanglewas Lor Kelas V pada semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016?

KAJIAN TEORI

Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama (Felder, 1994: 2). Wahyuni (2001: 8) menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran dengan cara menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki kemampuan berbeda.

Sependapat dengan pernyataan tersebut Setyaningsih (2001: 8) mengemukakan bahwa metode pembelajaran koooperatif memusatkan aktivitas di kelas pada siswa dengan cara pengelompokan siswa untuk bekerjasama dalam proses pembelajaran.

Dari tiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu metode pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk berkerja sama dalam memecahkan masalah. Kemampuan siswa dalam setiap kelompok adalah heterogen.

Dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi menjadi subjek belajar karena mereka dapat berkreasi secara maksimal dalam proses pembelajaran. Hal ini terjadi karena pembelajaran kooperatif merupakan metode alternatif dalam mendekati permasalahan, mampu mengerjakan tugas besar, meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial, serta perolehan kerpercayaan diri. Dalam pembelajaran ini siswa saling mendorong untuk belajara, saling memperkuat upaya-upaya akademik dan menerapkan norma yang menunjang pencapaian Kinerja Guru yang tinggi (Nur, 1996: 4). Dalam pembelajaran kooperatif lebih mengutamakan sikap sosial untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu dengan cara kerjasama. Model ini merupakan suatu model yang sangat terstruktur dengan enam tahapan pelaksanaan khusus. Keterlibatan siswa terdapat didalam setiap tahapan mulai dari pemilihan topik hingga evaluasi hasil belajar siswa.

Tahap 1. Indentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok. Para siswa memeriksa sumber belajar, mengusulkan topik dan mengkategorikan saran-saran.Para siswa bergabung ke dalam kelompok mempelajari topik pilihan mereka. Komposisi membantu didasarkan kepada minat dan heterogen. Guru membantu dan mengumpulkan informasi dan memudahkan organisasi. Tahap 2. Merencanakan tugas belajar. Para siswa menyusun rencana bersama.

Tahap 3. Melakukan penyelidikan. Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan mengambil kesimpulan. Setiap anggota kelompok berkontribusi terhadap upaya kelompok. Para siswa saling bertukar gagasan, berdiskusi, dan melakukan klarifikasi. Tahap 4. Mempersiapkan laporan akhir. Setiap anggota menentukan pesan pokok dan proyek mereka. Setiap anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan. Perwakilan kelompok membntuk bagian pengendali untuk mengkoordinasikan rencana penyajian.

Tahap 5. Menyajikan laporan akhir. Presentasi dibuat dalan bentuk yang bervariasi. Pendengar menilai kejelasan penyajian berdasarkan kriteria yang ditentukan sebelumnya oleh keseluruhan anggota kelas. Tahap 6. Evaluasi. Para siswa berbagi umpan balik tentang topik, pekerjaan yang telah dilakukan dan pengalaman afektifnya. Guru dan siswa berkerjasama menilai belajar siswa. Penilaian belajar hendaknya menilai kemampuan berfikir tingkat tinggi.

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan bahwa : Melalui penerapan metode kooperatif model group investigation dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Organisasi Kelas V SD Negeri 2 Karanglewas Lor Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bertempat di SD Negeri 2 Karanglewas Lor Kelas IV pada Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini memerlukan waktu selama 3 (tiga) bulan efektif. Penelitian dilaksanakan dengan mengambil waktu semester 2 yaitu dari bulan Januari sampai dengan Februari 2016, dilanjutkan pada bulan Maret 2016 untuk penulisan laporan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri 2 Karanglewas Lor Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016.

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tinakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiharti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.

Untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui aktivtas siswa serta memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran selama proses pembelajaran.

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau prosentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Kriteria keberhasilan dalam upaya pembelajaran dapat dilihat pada ketuntasan belajar. Kriteria keberhasilan tersebut adalah: Proses pembelajaran/peningkatan minat belajar siswa dinyatakan berhasil apabila 75% dari jumlah siswa terlibat aktif selama proses pembelajaran. Proses pembelajaran/peningkatan prestasi belajar siswa dinyatakan berhasil apabila 80% dari jumlah siswa tuntas dalam belajar. Siswa dinyatakan tuntas belajar bila nilai yang diperoleh lebih dari atau sama dengan KKM yaitu 75. Untuk lembar observasi digunakan untuk mengamati aktivitas guru dan siswa.

 

HASIL PENELITIAN

Pada siklus I kegiatan inti dilaksanakan dengan penjelasan tentang Organisasi dengan menerapkan metode kooperatif model Group Investigation dengan siswa dikelompokkan dalam kelompok besar 9-10 siswa per kelompok. Pada kegiatan akhir pertemuan kedua dilaksnakan evaluasi (tes formatif) yang diikuti oleh 29 siswa, ternyata hanya 16 siswa yang mendapat nilai  75. Hal ini berarti hanya 16 siswa dinyatakan tuntas dan masih ada 13 siswa yang belum tuntas. Untuk lebih jelas dapat tergambar pada grafik berikut :

1 

Grafik 1 Ketuntasan belajar pada awal dan siklus I

Pelaksanaan tindakan pada siklus II, secara umum sama dengan siklus I. Yang lebih khusus pada siklus II adalah penerapan metode kooperatif model Group Investigation dilakukan dalan grup yang lebih kecil, antara 4-5 siswa per kelompok. Selain itu peragaan/demonstrasi dilakukan oleh seluruh siswa secara bergantian antar kelompok.

Pada akhir kegiatan dilaksanakan tes formatif, hasil tes formatif yang diikuti oleh 29 siswa, ternyata 28 siswa mendapat nilai  75, berarti 28 siswa dinyatakan tuntas dan hanya 1 anak yang belum tuntas.

 2

Grafik 1 Ketuntasan belajar awal, siklus 1 dan siklus 2

PEMBAHASAN

Hasil perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan dalam dua siklus menunjukkan peningkatan yang signifikan, baik pada perubahan tingkat keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran juga prestasi hasil belajar yang meningkat seiring dengan meningkatnya keaktifan belajar siswa.

Siklus I tingkat keaktifan siswa mencapai 72%, ini menunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa. Meningkatnya keaktifan belajar siswa sudah pasti meningkat pula prestasi hasil belajarnya. Pada siklus I prestasi yang diraih mencapai 55,17%. Prestasi hasil belajar dan keaktifan siswa  meningkat, karena pelaksanaan pembelajaran menerapkan metode kooperatif model Group Investigation. Sehingga siswa lebih tertarik bila dibandingkan dengan kondisi awal sebelum mendapatkan tindakan.

Siklus II pada pelaksanaan pembelajaran ini mengalami peningkatan yang sangat berarti, karena baik keaktifan maupun prestasi hasil belajar menunjukkan perubahan yang sangat positif. Ditunjukkan ada peningkatan keaktifan siswa yang mencapai 93% dan prestasi hasil belajar yang ditunjukkan taraf serap yang mencapai 96,55%. Hal ini terjadi karena pada siklus II ini dilaksanakan dengan metode kooperatif model Group Investigation dalam kelompok kecil.

Proses pembelajaran dengan model  group investigation memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan sampai cara mempelajari suatu topik melalui investigasi.  Group investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual.

Seperti halnya menurut Eggen & Kauchak (dalam Maimunah, 2005: 21) mengemukakan Group Investigation adalah strategi belajar kooperatif yeng menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode Group Investigation mempunyai fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik atau objek khusus. Penulis menyusun hipotesis tindakan yaitu pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan merode kooperatif model Group Investigation, maka akan dapat meningkatkan keaktifan siswa dan berpengaruh positif terhadap peningkatan prestasi hasil belajar siswa. Setelah dilaksanakan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas dan berakhir pada siklus II, terbukti terjadi peningkatan prestasi hasil belajar siswa dengan diikuti peningkatan keaktifan siswa selama proses belajar mengajar. Jadi hipotesis yang penulis ajukan dapat diterima.

 

KESIMPULAN

Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan materi Organisasi dengan penerapan metode kooperatif model Group Investigation, terbukti dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa.

Sebelum kegiatan pelaksanaan pembelajaran, siswa pasif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, sehingga prestasi siswa sangat rendah terbukti pada nilai ulangan harian PKn tentang Organisasi kurang memuaskan. Siswa yang tuntas hanya 12 dari 29 siswa. Setelah tindakan pembelajaran siklus I dengan menerapkan metode kooperatif model Group Investigation, prestasi hasil belajar siswa mingkat. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang tuntas yaitu 16 dari 29 siswa (55,17%). Keaktifan siswa pada siklus I ini  mencapai 72% siswa terlibat dalam proses pembelajaran.

Kegiatan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, berhasil mencapai target taraf serap meupun keaktifan siswa. Hasil tes formatif siklus II, siswa yang tuntas belajar 28 siswa dari 29 siswa (96,55%) dengan keaktifan belajar siswa mencapai 93%. Setelah mempertimbangkan dan merujuk beberapa pendapat para pakar serta melihat hasil penelitian tindakan kelas (PTK), penulis menyatkan bahwa hipotesis tindakan yang disusun penulis terbukti kebenarannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R, 1998, The Action Research Planner, Vctoria Dearcin University Press.

Margono, S, 1996, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Nur, Muhammad, 1996, Pembelajaran Kooperatif, Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Sudjana, Nana, 2009, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Sunarso, Kusumawardani, Anis, 2008, Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD dan MI Kelas 6BSE, Jakarta : PusatPerbukuan, DepartemenPendidikanNasional.

Suparyanto, Yudi, dkk, 2015, Pendidikan Kewarganegaraan untuk SD dan MI (SBI), Klaten : Intan Pariwara.

Taufik, Agus, dkk., 2007, Pendidikan Anak di SD, Jakarta : Universitas Terbuka.

Wardani, IGAK, Wihardit, K & Nasoetion, N, 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Universitas Terbuka.

Winataputra, Udin S, 2007, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Universitas Terbuka.

BIODATA PENULIS

 

Nama               : Drs. TARSUDI

Jabatan            : Guru SD Negeri 2 Karanglewas Lor UPK Purwokerto Barat




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *