http://www.infopasti.net/peningkatan-prestsi-belajar-pkn-melalui-metode-cooperative-learning/

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PKn MELALUI METODE COOPERATIVE LEARNING

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PKn  MELALUI METODE COOPERATIVE LEARNING

Oleh : RATRI SURYANI ,S.Pd

ABSTRAK.

Penelitian di SD Negeri 1 Keniten Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada kelas VI semester ganjil tahun pelajaran 2015 / 2016 bertujuan meningkatkan prestasi belajar PKn. Metode pembelajaran melalui Cooperative Learning  yang dilaksanakan 2 siklus, setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi. Kelas dibagi 4 kelompok .Siswa berkelompok untuk mengerjakan lembar kerja kelompok, tes hasil belajar siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah pada akhir siklus 95% mencapai ketuntasan belajar. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I rata – rata tes hasil belajar 73,00 ketuntasan belajar klasikal 70 %. Siklus II rata – rata hasil belajar 81,50, ketuntasan belajar klasikal tercapai pada siklus II yaitu 95 %. Berdasar hasil penelitian menunjukkan melalui metode Cooperative Learning dapat meningkatkan prestasi belajar PKn kelas VI  SD Negeri 1 Keniten tahun pelajaran 2015/2016.

Kata kunci : Belajar , Metode Cooperative Learning,  Nilai – nilai juang.

 

PENDAHULUAN

            Tanpa mengesampingkan peranan dan fungsi media pembelajaran yang lain, secara jujur diakui bahwa metode Cooperatif Learning yang sangat potensial bagi peningkatan prestasi belajar murid yang sistematis Sekalipun demikian menurut pengamatan peneliti dalam observasi di kelas VI semester I SD Negeri 1 Keniten yang berjumlah 20 anak, dari hasil ulangan PKn yang memperoleh nilai 75 ke atas hanya 10 anak saja atau 50 % sedangkan anak yang nilainya dibawah 75 ada 10 anak atau 50 % .

            Sebagian besar anak menganggap bahwa mata pelajaran PKn itu suatu mata pelajaran yang gampang dan paling mudah dari pelajaran yang lain. Menurut kenyataan dilapangan sangatlah rendah, yaitu dibawah 75 sebanyak 10 anak atau 50 %, sedangkan yang memperoleh nilai di atas 75  hanyalah 10 anak atau 50 % sehingga dapat dikatakan bahwa anak tersebut belum tuntas dalam pembelajaran PKn, karena hasil yang diperoleh masih dibawah KKM ( 71 )  belum maksimal.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas,  masalah dapat diidentifikasikan  sebagai berikut :

  1. Gaya mengajar masih menggunakan metode yang konvensional.
  2. Siswa belum memahami konsep secara maksimal
  3. Aktivitas belajar siswa di dalam kelas cenderung pasi
  4. Kurangnya rasa social siswa dalam kegiatan kelompok.

Rumusan masalah penelitian ini  yaitu apakah metode pembelajaran Cooperative Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 1 Keniten terhadap materi keteladanan nilai – nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara ?

 

KAJIAN TEORI

Pengertian Belajar

Menurut M.Ngalim Purwanto “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi dalam suatu hasil dari latihan atau pengalaman” ( M.Ngalim Purwanto, 2007:84).“Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap berkat latihan dan pengalaman” (Oemar Hamalik,2006:154). “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003:2). Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relatif permanen atau menetap karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya.

            Belajar bukan suatu tujuan melainkan suatu proses untuk mencapai tujuan. Jadi, belajar merupakan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan. Ciri-ciri belajar seperti yang diuraikan oleh William Burton dalam bukunya Oemar Hamalik (Oemar Hamalik, 2008:31-32) adalah sebagai berikut :

  1. Proses belajar ialah pengalaman, berbuat, mereaksi, dan melampaui (under going);
  2. Proses itu melalui bermacam-macam ragam pengalaman dan mata pelajaran-mata pelajaran yang terpusat pada suatu tujuan tertentu;
  3. Pengalaman belajar secara maksimum bermakna bagi kehidupan murid;
  4. Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid sendiri yang mendorong motivasi kontinu, proses belajar dan hasil belajar disyarati oleh hereditas dan lingkungan

Metode Cooperative Learning

Menurut Agus Suprijono (2010:54) “Model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru”.

Menurut Slavin (Isjoni,2011:15)  “In cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially presented by the teacher”. Ini berarti bahwa cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja kelompok-kelompok kecil berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang peserta didik lebih bergairah dalam belajar. Dari beberapa pengertian menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa Cooperative Learning  adalah cara belajar dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang saling bekerjasama dan diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan”.

Adapun Langkah – langkah Pembelajaran Kooperatif :

  1. Guru menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa .
  2. Guru menyajikan informasi .
  3. Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok – kelompok belajar
  4. Guru membimbing kelompok – kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas .
  5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah di pelajari dan dipresentasikan dari hasil kerja kelompok .
  6. Guru mencari cara – cara untuk menghargai hasil belajar , baik hasil belajar individu maupun hasil belajar kelompok .

 

Nilai – Nilai Juang Perumusan Pancasila

Istilah Pancasila telah dikenal sejak jaman Majapahit pada abad XIV , tetapi makna Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia pada buku Sutasoma ,istilah Pancasila mempunyai dua arti yaitu berbatu sendi yang lima dari pelaksanaan kesusilaan yang lima ( Pancasila krama) yaitu : 1) Tidak boleh melakukan kekerasan 2) Tidak boleh mencuri , 3) Tidak boleh berjiwa dengki ,4) Tidak berbohong dan 5 ) Tidak mabuk minuman keras .

Rumusan dasar negara Pancasila yang sah dan benar yaitu tercantum dalam pembukaan UUD 1945 karena disamping mempunyai kedudukan konstitusional juga disahkan oleh suatu badan yang mewakili seluruh bangsa Indonesia . Pengucapan / pembacaan dan tata urutan sila – sila Pancasila tersebut kemudian yang tidak dapat terpisahkan karena tiap sila mengandung empat sila lainnya .

 

Penerapan Metode Cooperative Learning .

Penerapan metode Cooperative Learning itu merupakan salah satu metode yang dapat untuk meningkatkan prestasi belajar siswa karena karakteristik metode tersebut antara lain : bahan pelajaran dengan topik permasalahan , adanya pembentukan kelompok , adanya yang mengatur pembicaraan  , aktifitas siswa berpendapat  , mengarah pada kesimpulan bersama , guru lebih berperan sebagai motivator , siswa sebagai obyek dan subyek pembelajaran , melatih siswa berpikir dan berbahasa lisan . Penerapan metode Cooperatif Learning dalam penelitian ini dapat membantu siswa untuk berperan dalam perumusan Pancasila serta dapat meningkatkan prestasi belajar  siswa.

 

Kerangka Berpikir

            Berdasarkan kajian teori, maka kerangka berpikir dalam penelitian ini sebagai berikut

ratrii  Gambar 1. Alur kerangka berpikir

Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah Pembelajaran PKn dengan menggunakan metode Cooperative Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi  Nilai – nilai juang proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara  pada SD Negeri 1 Keniten kelas VI semester I tahun pelajaran 2015 / 2016 .

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 1 Keniten  Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas .Penelitian ini dilakukan mulai Bulan Juli 2015 sampai  dengan Bulan Desember 2015.

            Subjek penelitian adalah semua siswa kelas VI SDN 1 Keniten Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas semester I tahun pelajaran 2015 / 2016 dengan jumlah siswa laki  – laki 16 anak dan siswa perempuan berjumlah 4  anak , jumlah seluruh siswa adalah 20 anak . Jadi 20  anak kelas VI sebagai responden penelitian .

Dalam Penelitian Tindakan Kelas terdapat 2 sumber data , yaitu sumber data primer adalah siswa kelas VI SD Negeri 1 Keniten. Sumber data sekunder penelitian tindakan kelas ini adalah dari guru kelas V  yang membantu peneliti dalam setiap kegiatan dan akhir setiap siklusnya

Teknik pengambilan data dan pengumpulan data dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :

  1. Pemberian tes

Data prestasi belajar diperoleh dengan cara memberikan tes pada siswa sebagai alat evaluasi yang diberikan pada akhir setiap siklus

  1. Penyebaran angket

Angket diberikan pada saat siklus untuk memperoleh data pada siklus pertama dan siklus kedua .

Semua kegiatan direkam dengan daftar pengamatan

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal – soal tes Rencana Pembelajaran dan Lembar Kerja .

a) Tes

Tes diberikan 2 kali yaitu pretes dan postes,

b).  Lembar Pengamatan.

Lembar pengamatan untuk merekam kegiatan pembelajaran.

Analisa data ditentukan setiap kali siklus pembelajaran berakhir .Analisis meliputi antara lain :

  • Aktivitas belajar siswa dan persepsi siswa

Aktifitas belajar siswa selama pembelajaran data yang terdapat dalam lembar pengamatan atau dihitung rata – rata aktifitas belajar siswa kurang , cukup dan baik . Dikelompokkan sesuai dengan 5 aspek yang menjadi unsur pengamatan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

            KCB = ∑ Siswa tingkat KCB x 100 %

                        ∑ Siswa yang masuk

  • Prestasi belajar siswa .

                        P =  F  x 100 %

                               N

            Keterangan  :  P = Persentasi yang menjawab opsen

                                      F = Banyaknya respon yang menjawab opsen

                                      N = banyaknya responden

Indikator kinerja penelitian ini ditandai dengan adanya peningkatan hasil belajar sehingga nilai rata – rata melebihi dari 7,5  minimal 85 % dari jumlah 20 siswa.

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan 2 siklus dimana setiap siklus dilakukan dua kali pertemuan , yaitu ;

  1. Perencanaan
  • Menyusun RPP
  • Merancang pembelajaran dengan membentuk kelompok belajar siswa , tiap kelompok beranggotakan lima anak secara heterogen .
  • Menentukan kolaborasi dengan teman sejawat sebagai mitra peneliti .
  • Menyusun Lembar Pengamatan .
  • Menyiapkan Lembar Kerja Siswa
  • Merencanakan soal – soal latihan .
  • Merencanakan tes formatif .
  1. Pelaksanaan Tindakan
  2. Kegiatan Pendahuluan
  • Pada awal pembelajaran pertemuan pertama , selama 10 menit guru membuka pelajaran dengan berdoa dan kemudian dilanjutkan dengan bercerita tentang masalah yang ada kaitannya dengan materi yang akan diajarkan selanjutnya guru akan memberitahukan tujuan pembelajaran.
  • Guru membentuk kelompok yang terdiri dari 4 kelompok , 4 kelompok masing – masing terdiri dari  5 orang siswa.
  1. Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti , kegiatan siswa dibagi menjadi 3 tahap yaitu :

  • Tahap pertama guru menyampaikan kompetensi dasar dan menginformasikan yang akan digunakan , kemudian tanya jawab kepada siswa tentang keteladanan nilai – nilai juang perumusan Pancasila sebagai Dasar negara Indonesia .
  • Tahap kedua , semua siswa yang telah membentuk kelompok  dengan urutan absen . Untuk membahas materi keteladanan nilai – nilai juang dalam perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia . Dan setiap kelompok mengerjakan LKS .
  • Tahap ketiga , masing – masing kelompok mengerjakan LKS kemudian ketua kelompok melaporkan hasil kerja kelompok
  1. Diskusi kelas
  • Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil diskusi berupa kesimpulan pokok bahasan yang dipelajari
  • Selama berlangsungnya kegiatan ini pada pertemuan pertama dan kedua siklus I , satu orang guru mengamati .
  1. Observasi

Pada observasi ini dilakukan observasi terhadap aktivitas siswa selama pelaksanaan proses KBM dengan model Cooperative Learning yang dilakukan oleh guru dan pengamat.

  1. Analisis dan Refleksi

Refleksi merupakan langkah untuk menganalisis hasil kerja siswa . Analisis dilakukan untuk mengukur baik kelebihan maupun kekurangan yang terdapat pada siklus I maupun siklus II , kemudian mendiskusikan hasil analisis ini secara kolaborasi untuk perbaikan pada tiap siklus .

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Diskripsi Kondisi Awal.

Dari data awal dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 1.Hasil Analisis Nilai Tes Awal

No Nilai ( x ) Frekuensi ( f ) Fx
1 60 – 65 9 540
2 65 – 70 1 70
3 70 – 75 8 600
4  75 – 80 1 80
5 80 – 85 1 85
Jumlah 20 1375

Yang memperoleh nilai :

≤  75  =      10     x  100 %  =  50 %

                  20

≥  75  =      10 x  100 %  =  50 %

                  20

Ketuntasan pembelajaran = 68,75

          Adapun untuk  memperjelas  hasil nilai prasiklus data diatas kami sajikan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut

ratriii

Gambar 2. Grafik Hasil Perolehan Nilai Prasiklus

Deskripsi Siklus I

Dari data diatas  dapat didistribusikan sebagai berikut :

Tabel 2.Hasil Analisis Nilai pada siklus I

No Nilai ( x ) Frekuensi ( f ) Fx
1 60 – 65 4 240
2 65 – 70 2 140
3 70 – 75 8 600
4  75 – 80 3 240
5  80 – 85 3 240
Jumlah 20 1460

Yang memperoleh nilai :

≤  75  =      6     x  100 %  =  30 %

                  20

≥  75  =      14  x  100 %  =  70 %

                  20

Ketuntasan pembelajaran = 73,0

          Adapun untuk memperjelas hasil nilai siklus I data di atas penulis sajikan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut :

ratriiia

Gambar 3.  Grafik Hasil perolehan Nilai Siklus I

Deskripsi Siklus II

Tabel 3. Hasil Analisis Nilai pada siklus II

No Nilai ( x ) Frekuensi ( f ) Fx
1 65 – 70 1 65
2 70 – 75 1 75
3 75 – 80 12 960
4 80 – 85 3 255
5 85 – 90 3 270
Jumlah 20 1630

Yang memperoleh nilai :

≤  75  =      1 x  100 %             =   5 %

                  20

≥  75  =      19  x  100 %      =   95%

                  20

Ketuntasan pembelajaran    =  81,50

Adapun untuk memproleh hasil nilai siklus II data diatas penulis sajikan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut :

ratriiiab

Gambar 4. Grafik Hasil perolehan Nilai Siklus II

            Mata pelajaran PKn dari dari 70 % menjadi  95 % atau dari 6 siswa ( 30 % ) tidak berhasil pada siklus I menjadi 1 siswa ( 5 % ) yang tidak berhasil pada siklus II , nilai rata – rata menjadi 73,0 pada siklus I menjadi 81,5 pada siklus II . Kegiatan Belajar Mengajar mata pelajaran PKn pada tiap siklusnya juga meningkatkan prosentase ketuntasan belajar siswa . Perhitungan prosentase ketuntasan belajar PKn dicantumkan dalam tabel berikut ini.

Tabel 4. Prosentase ketuntasan belajar dalam  pembelajaran PKn

No Pelaksanaan Jumlah

Siswa Tuntas

Prosentase Keterangan
1 Pra Siklus 10 50 % Minimal
2 Siklus I 14 70 % Meningkat
3 Siklus II 19 95 % Maksimal

ratriiiabc

Gambar 4. Grafik Prosentase Ketuntasan

Dari grafik tersebut diatas diketahui bahwa pada awal ( prasiklus ) terlihat hanya 50 % yang sudah tuntas. Pada siklus I ada peningkatan, yaitu 70 % , pada siklus II mengalami peningkatan kemajuan menjadi 95 %. Ini menunjukkan peningkatan kemajuan belajar siswa dengan bukti perubahan prosentase ketntasan pembelajaran semakin tinggi .

Pembahasan Dari Tiap siklus

            Setelah guru melaksanakan pembelajaran siklus I dan II untuk mata pelajaran PKn, tes atau evaluasi dan menganalisis nilainya,diketahui terjadi peningkatan ketuntasan belajar siswa. Peningkatan yang terjadi setelah proses perbaikan pembelajaran dikarenakan berbagai faktor, antara lain guru, siswa, motivasi, media atau alat peraga dan metode Cooperative Learning.

            Dengan pemberian motivasi  dan penggunaan metode Cooperative  Learning erat hubungannya dengan hasil belajar antara lain:

  1. Terdapat hubungan antara tingkat motivasi siswa dengan hasil belajar pada suatu waktu tertentu.Tingkat motivasi belajar cenderung berkorelasi positif dengan hasil belajar, artinya semakin kuat atau tinggi tingkat motivasi belajar semakin baik hasil siswa.
  2. Terdapat interaksi cara mengajar guru dengan motivasi siswa yang selanjutnya berpengaruh pula pada hasil belajar, cara guru mengajar yang menarik, mendorong siswa berfikir dan berperan aktif akan mempengaruhi motivasi siswa secara positif.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Ketuntasan hasil belajar siswa meningkat dengan data siswa yang belum tuntas belajar sebelum tindakan 10 siswa ( 50 %) kemudian setelah tindakan pada siklus I berkurang menjadi 6 siswa ( 30% ) kemudian setelah tindakan siklus II menjadi 1 ( 5 % )
  2. Nilai rata – rata tes sebelum tindakan 68,75 , setelah tindakan siklus I menjadi 73,00 kemudian tindakan pada siklus II menjadi 81,50 . Jadi untuk mata pelajaran PKn mengalami kenaikan 45%.
  3. Tingkah laku siswa juga mengalami perubahan yang positif dan lebih baik seperti perhatian siswa terlihat dalam hasil tes evaluasi naik untuk mata pelajaran PKn naik 45 %.
  4. Pembelajaran Cooperative Learning dapat meningkatkan ,memperbaiki dan merubah hasil belajar kelas 6 terhadap materi keteladanan nilai – nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara.

Saran

            Berdasarkan kesimpulan yang penulis paparkan , maka penulis menyarankan sebagai berikut :

  1. Guru dalam mengajar sebaiknya menggunakan alat peraga atau media pembelajaran yang sederhana dan murah serta menarik dan model pembelajaran Cooperatif Learning sehingga dapat memotivasi siswa dalam mengikuti pelajaran.
  2. Berilah motivasi pada siswa karena dengan adanya motivasi akan tertarik dalam pembelajaran dan dapat menciptakan suasana yang menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono . ( 2012 ) .Cooperative Learning Teori dan aplikasi PAIKEMYogyakarta : Pustaka Belajar

Herlina Hariani Sasti yang berjudul “Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif  Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Kerjasama Siswa Dalam Pembelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 9 Yogyakarta Kelas X Semester II 2006/2007”.

Isjoni. (2011). Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: ALFABETA

Moleong .2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

M.Ngalim Purwanto.( 2007 ) Psikologi Pendidikan .Bandung : PT .Remaja Rosdakarya.

Oemar Hamalik. ( 2011 ) .Proses Belajar Mengajar . Jakarta : Bumi Aksara

Slameto,2003.Belajar dan Faktor – faktor yang mempengaruhi belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Tatik Riyanti yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Dalam Peningkatan Presetasi Hasil Belajar Akutansi Siswa Kelas XB SMK N I Pedan Klaten Tahun Ajaran 2008/2009”.

Tim Pelatih Proyek PGSM.1999.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta:Depdiknas

Universitas Negeri Malang. 2002. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Malang:UM Press

 

 

Nama                                     : RATRI SURYANI ,S.Pd

NIP                                         : 19710411 199803 2 008

Pangkat / Gol.Ruang          : Pembina  / IV a

Unit kerja                              : SD Negeri 1 Keniten UPK Kedungbanteng Kabupaten Banyumas

Email                                      :  ratri.surya@yahoo.co.id

No. HP                                   :  085643980725




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *