PTS SD Supervisi Akademik Pengawas Di Dabin VIII

PENINGKATAN  PROFESIONALISME GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN MELALUI SUPERVISI AKADEMIK PENGAWAS DI DABIN VIII KECAMATAN PUNGGELAN KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

budirto

ABSTRAK

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuliatatif dan pendekatan kuantitatif. Dimana pendekatan kuantitatif data berupa angka – angka dan pendekatan kualitatif data berupa tulisan, tabel. Penerapan supervisi akademik dengan bimbingan individual dan klasikal oleh pengawas sekolah terbukti dapat meningkatkan profesionalisme guru Dabin VIII Kecamatan Punggelan dalam proses pelaksanaan pembelajaran Berdasarkan data hasil penelitian sampai pada siklus II, kemampuan profesionalisme guru dalam pelaksanaan pembelajaran sudah mencapai kriteria keberhasilan, yaitu rerata nilainya mencapai 3,2 dengan sebutan rata-rata A (amat baik). Persentase mencapai 78,75% melebihi kriteria keberhasilan ketuntasan yang ditatapkan yaitu >76%.

Kata kunci : Kompetensi, Proses Pembelajaran, dan Supervisi

 

PENDAHULUAN

Berdasarkan temuan pengawas pada proses pembelajaran, terdapat beberapa guru di Dabin VIII yang masih kurang memahami dan menguasai tugas-tugas pokok guru, sehingga pada saat diadakan supervisi ada sebagian guru yang mendapat Penilaian Kinerja Guru yang kurang memuaskan. Dari 60 guru hanya 9 guru yang mendapat Penilaian Kinerja Guru  sangat baik. Berdasarkan kasus dalam pembelajaran tersebut berarti profesionalisme guru dalam pembelajaran belum sepenuhnya berhasil, karena masih lebih dari 70 %  guru yang nilainya di bawah baik.

Kondisi saat ini upaya guru  untuk melaksanakan proses pembelajaran belum terwujud sepenuhnya sesuai yang diharapkan. Banyak hal yang perlu dijadikan bahan pertimbangan, yaitu kualitas guru yang berdampak pada pendidikan yang lebih berrmutu. Terkait dengan konsistensi guru dalam pembelajaran, ditemukan beberapa hal yang menjadi hambatan, antara lain : guru kurang memanfaatkan media yang ada di lingkungan sekolah, pada saat proses pembelajaran kegiatan apersepsi guru belum sepenuhnya berhasil, kegiatan konfirmasi pada saat proses pembelajaran belum optimal, serta pada kegiatan penutup pembelajaran guru tidak memberi penguatan materi

Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang dapat dirumuskan dalam meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, salah satunya adalah melalui supervisi akademik. Rumusan masalah  sebagai berikut :

  1. Bagaimana respon guru di Dabin VIII Kecamatan Punggelan terhadap supervisi akademik pengawas sekolah?
  2. Apakah melalui supervisi akademik pengawas sekolah akan dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran?

Danim (2010 : 3) mengemukakan  bahwa, “Untuk memenuhi kriteria profesional itu, guru harus menjalani profesionalisasi atau proses menuju derajat profesional yang sesungguhnya secara terus menerus”.

Pada hakekatnya orientasi kompetensi guru ini tidak hanya diarahkan pada intelek dalam kaitannya dengan pelaksanaan proses belajar mengajar bersama anak didiknya saja, akan tetapi memiliki jangkauan yang lebih luas, yaitu sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, yang pada muaranya guru diharapkan mampu mencetak generasi yang berkualitas.

Kompetensi  harus dimiliki dan dikuasai oleh guru yang terlibat langsung dalam proses belajar mengajar. Guru sebagi jabatan profesi, harus bersikap progresif dan berupaya mengetahui kompetensi yang dituntut oleh masyarakat dalam dirinya, dan selalu berusaha memenuhi atau bahkan memperbaiki kekurangannya.

Salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kemampuan profesional. Kemampuan profesional merupakan kemampuan yang berkaitan dengan tugas-tugas guru sebagai pembimbing, pendidik, dan pengajar.

Proses pembelajaran di kelas merupakan jantungnya kurikulum, karena keberhasilan satuan pendidikan dalam mengimplementasikan kurikulum sangat ditentukan oleh keberhasilan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran . Oleh karena itu proses pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian hasil pembelajaran harus dikelola secara sistematis dan terarah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran yang merupakan implementasi dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) meliputi kegiatan pendahulun, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu kegiatan pembelajaran yang bertujuan un­tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Sedangkan kegiatan inti merupakan serangkaian kegiatan utama dalam pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.  Sementara kegiatan penutup adalah kegiatan yang dilakukan un­tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran, yang meliputi pembuatan rangkuman atau kesimpul­an, refleksi, penilaian, umpan balik, dan tindak  lanjut.

Ketiga kegiatan tersebut yakni kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup merupakan satu rangkaian kegiatan pembelajaran dalam satu pertemuan (tatap muka) yang tidak boleh terputus dalam upaya menciptakan pembelajaran efektif. Karena ketiga kegiatan tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya dan berkontribusi dalam menciptakan pembelajaran efektif.

Kualitas proses pembelajaran merupakan salah satu titik tolak ukur yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Ukuran berkualitas atau tidaknya suatu sekolah adalah relatif, karena tolak ukur yang digunakan terus menerus dan mengalami perubahan sesuai dengan perubahan tantangan jaman.

Untuk mengatasi masalah dalam kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa kiranya diperlukan sebuah perbaikan, baik dari segi perencanaan pembelajaran, proses pembelajarannya dan untuk memenuhi tujuan yang ingin dicapai, sebagaimana yang diharapkan oleh guru yaitu meningkatkan kegiatan pembelajaran secara profesional dan hasil belajar siswa, maka diperlukan sebuah media, strategi, metode ataupun cara pembelajaran yang relevan dengan materi pembelajaran dan tingkat kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran.

Alur pelaksanaan pembelajaran disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut :

bagan1

Bagan 1 : Alur kegiatan pembelajaran

Berdasarkan alur pelaksanaan pembelajaran secara rinci, dengan langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :

  1. Guru merancang atau menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam kurikulum yang berlaku.
  2. Guru merancang atau merencanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan strategi pembelajaran, media pembelajaran dan seluruh aspek yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran.
  3. Dalam kegiatan pembelajaran guru menerapkan strategi pembelajaran, media pembelajaran dan seluruh sarana belajar berdasarkan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
  4. Melalui strategi pembelajaran, media pembelajaran dan seluruh sarana belajar berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dibuat, membuat hasil belajar siswa meningkat.

Dengan demikian apabila  kegiatan pembelajaran dikelola oleh guru yang profesional, diharapkan dapat meningkatkan  hasil belajar siswa. Sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pendidikan, kewajiban dan tanggung jawab pimpinan akan selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Adapun perubahan-perubahan tersebut antara lain perubahan dalam tujuan, ruang lingkup dan sifatnya. Ketiga aspek tersebut berhubungan satu sama lain yang sulit untuk dipisahkan. Adanya perubahan dalam tujuan pendidikan, akan merubah pula luasnya tanggung jawab yang harus dipikul dan dilaksanakan oleh para pemimpin pendidikan. Hal tersebut akan merubah pula sifat-sifat kepemimpinan yang harus dijalankan sehingga mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Supervisi memiliki arti yang sangat luas. Supervisi merupakan segala bantuan dari para pemimpin sekolah yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personal sekolah lainnya didalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Dalam hal ini berupa dorongan, bimbingan, dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru,seperti bimbingan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, alat-alat pelajaran dan metode mengajar yang lebih baik.

Ngalim Purwanto (2006 : 76) mengemukakan bahwa : “supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu  para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif”.

Dalam pelaksanaannya supervisi bukan hanya mengawasi para guru atau pegawai menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan instruksi yang digariskan, tetapi juga berusaha bersama guru-guru cara memperbaiki proses belajar mengajar. Dalam kegiatan supervisi para guru bukan dianggap sebagai pelaksana pasif, melainkan diperlakukan sebagai partner kerja yang memiliki ide-ide, pendapat-pendapat, dan pengalaman-pengalaman yang perlu didengar, dihargai, serta diikutsertakan dalam usaha perbaikan pendidikan.

Dengan demikian supervisi yang dilakukan oleh pengawas dapat memperbaiki, membimbing dan menstimulasi yang dilakukan secara berkesinambungan agar guru-guru dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara optimal. Tujuan dilaksanakannya supervisi ialah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tetapi juga untuk pengembangan potensi kualitas guru. Pendapat ini sesuai dengan yang dikemukakan Olive dalam Sahertian (2008 : 19), bahwa sasaran (domain) supervisi ialah :

  1. Mengembangkan kurikulum yang sedang dilaksanakan di sekolah.
  2. Meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah
  3. Mengembangkan seluruh staf di sekolah

Berikut ini akan disajikan alur kerangka pemikiran yang dibuat oleh peneliti dalam bentuk bagan kerangka berfikir meningkatkan kualitas guru dalam pembelajaran  sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini.
bagan2
Berdasarkan uraian diatas, hipotesis penelitian ini adalah :   Hipotesis Tindakan

“Diduga dengan melalui supervisi akademik pengawas sekolah dapat meningkatkan profesionalisme guru di Dabin VIII Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara dalam melaksanakan  pembelajaran”.

METODE  PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan pendekatan kuatitatif. Dimana pendekatan kuantitatif data berupa angka – angka dan pendekatan kualitatif data berupa tulisan, tabel dan grafik. Subjek penelitian ini adalah guru-guru Sekolah Dasar di Daerah Binaan VIII Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara, dengan jumlah 30 orang guru. Penelitian dilaksanakan selama 3 ( tiga ) bulan, yaitu mulai bulan Agustus, September, dan Oktober 2014. Data penelitian ini berupa hasil observasi dan dokumentasi dari setiap tindakan perbaikan pada pembelajaran yang di sajikan guru Sekolah Dasar Negeri di Daerah Binaan VIII Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara. Data tersebut berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembelajaran berupa informasi sebagai berikut:

  1. Rencana pelaksanaan supervisi.
  2. Pelaksanaan pembelajaran.
  3. Evaluasi dari kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran.
  4. Hasil pembelajaran

Cara pengambilan data  penelitian ini berdasarkan pengamatan terhadap peningkatan kompetensi profesional guru dalam kegiatan pembelajaran melalui supervisi akademik pengawas sekolah. Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis dengan menggunakan model analisis data kualitatif. Data tersebut direduksi berdasarkan masalah yang diteliti, diikuti penyajian data dan terakhir penyimpulan atau vertifikasi. Tahap analisis yang demikian dilakukan berulang-ulang begitu data selesai dikumpulkan pada setiap tahap pengumpulan data dalam setiap tindakan.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Siklus I

Penelitian ini dimulai dengan tahapan perencanaan. Pada tahap ini peneliti melakukan identifikasi masalah, identifikasi penyebab masalah, dan merumuskan masalah yang dihadapi guru, terkait dengan kompetensi profesionalnya. Skenario tindakan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti adalah sebagai berikut : 1) Peneliti bersama responden menyiapkan jadwal pembimbingan maupun jadwal pelaksanaan pengamatan (observasi) pembelajaran. 2) Peneliti menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam pembimbingan. 3) Melaksanakan diskusi (focus group discussion) dalam rangka inventarisasi permasalahan yang dialami oleh guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 4) Menginventarisasi kebutuhan dan menginventarisasi permasalahan yang dihadapi guru dalam mengelola pembelajaran Kegiatan pada tahap pelaksanaantindakan (acting) difokuskan pada kemampuan guru dalam proses pembelajaran. Kegiatan tersebut diawali dengan penyampaian informasi oleh peneliti kepada semua guru. Pada saat responden melaksanakan kegiatan, peneliti melakukan pengamatan (Observation) terhadap kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan berlangsung seperti program yang telah disepakati bersama antar peserta. Peneliti  mengamati pelaksanaan pembelajaran sejak awal sampai akhir kegiatan. Pengamatan menggunakan instrumen pengamatan untuk mendapatkan data yang akurat terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan dan catatan selama berlangsungnya silklus I peneliti mengadakan refleksi (reflecting) untuk memotivasi peserta saat mengikuti kegiatan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran

Tabel 1

Tabel rekapitulasi kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran siklus I

No Nama Tugas Mengajar Keg. Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup Skor Perolehan Skor Maksimal Nilai Sebutan
Eksplorasi Elaborasi Konfirmasi
1  Slamet Is. III 12 14 22 17 16 81 120 2,7 B
2  Teguh S, S.Pd.SD V 12 13 22 13 12 72 120 2,4 B
3  Sujono BS, S.Pd.SD III 13 15 22 19 12 81 120 2,7 B
4  Ratna Dewi Astuti, S.Pd.SD V 12 14 21 17 11 75 120 2,5 B
5  Khadriyah, S.Pd.SD V 12 13 24 15 12 76 120 2,5 B
6  Enis Kustiawati, S.Pd.SD III 11 13 23 13 12 72 120 2,4 B
7  Jomahir, S.Pd.I III 12 15 21 16 11 75 120 2,5 B
8  Sugeng Riyanto, S.Pd.SD V 13 13 22 15 11 74 120 2,5 B
9  Lestono, S.Pd.SD III 12 14 23 17 12 78 120 2,6 B
10  Sugeng Triyono, S.Pd.SD V 11 11 23 15 13 73 120 2,4 B
Jumlah 120 135 223 157 122 757 1200 25,2
 Rata-rata 3,0 2,7 2,5 2,2 2,4 2,5 B
Persentase 63,08

Berdasarkan data yang terkumpul dan data hasil diskusi peneliti melakukan penelaahan dan mencoba menyimpulkan hasil tindakan yang telah dilakukan. Kesimpulan ini menunjukkan bahwa penguasaan guru dalam pembelajaran sudah meningkat, meski belum optimal. Target peningkatan kemampuan guru dalam proses pembelajaran belum tercapai, baru 63,08% guru yang benar-benar telah menunjukkan kemampuan dalam pembelajaran, sehingga perbaikan pembelajaran dilanjutkan pada siklus berikutnya.

 

Deskripsi Siklus II

Setelah mengakomodasi masukan dari siklus I, dalam pelaksanaan supervisi perbaikan siklus II, peneliti mencoba menyempurnakan tindakan. Dalam siklus II ini, alternatif pemecahan masalah dengan memberikan bimbingan secara individual. Hasil ini terlihat dari data hasil perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pada tahap pelaksanaan tindakan siklus II diperoleh data rekapitilasi nilai dari 10 guru yang menjadi sampel obyek penelitian dari 5 sekolah yang ada di Dabin VIII Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara tentang kemampuan guru dalam kegiatan pembelajaran.

Tabel 2

Tabel rekapitulasi kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran siklus II

No Nama Tugas Mengajar Keg. Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup Skor Perolehan Skor Maksimal Nilai Sebutan
Eksplorasi Elaborasi Konfirmasi
1  Slamet Is. III 14 18 30 23 18 103 120 3,4 A
2  Teguh S, S.Pd.SD V 13 15 25 20 16 89 120 3,0 B
3  Sujono BS, S.Pd.SD III 13 18 30 25 18 104 120 3,5 A
4  Ratna Dewi Astuti, S.Pd.SD V 14 16 25 20 17 92 120 3,1 A
5  Khadriyah, S.Pd.SD V 13 16 27 20 16 92 120 3,1 A
6  Enis Kustiawati, S.Pd.SD III 13 15 24 22 16 90 120 3,0 B
7  Jomahir, S.Pd.I III 14 17 27 22 17 97 120 3,2 A
8  Sugeng Riyanto, S.Pd.SD V 14 16 25 23 15 93 120 3,1 A
9  Lestono, S.Pd.SD III 14 16 27 22 17 96 120 3,2 A
10  Sugeng Triyono, S.Pd.SD V 13 15 24 20 17 89 120 3,0 B
 Jumlah 135 162 264 217 167 945 1200 31,5
 Rata-rata 3,4 3,2 2,9 3,1 3,3 3,2 A
Persentase 78,75

Nilai yang diperoleh pada siklus I rata-rata 2,50 atau 63,08% , pada siklus II menjadi 3,20 atau sebesar 78,75%. Nilai rata-rata yang diperoleh mengalami kenaikan sebesar  0,7 atau 15,67% Rata-rata predikat sebutan yang diperoleh A (amat baik).

KESIMPULAN

Berdasarkan data hasil penelitian sampai pada siklus II, kemampuan profesionalisme guru dalam pelaksanaan pembelajaran sudah mencapai kriteria keberhasilan, yaitu rerata nilainya mencapai 3,2 dengan sebutan rata-rata A (amat baik). Persentase mencapai 78,75% melebihi kriteria keberhasilan ketuntasan yang ditatapkan yaitu >76%.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa,

  1. Melalui penerapan supervisi akademik dapat membangkitkan semangat dan respon guru di Dabin VIII Kecamatan Punggelan dalam proses pelaksanaan pembelajaran.
  2. Penerapan supervisi akademik dengan bimbingan individual dan klasikal oleh pengawas sekolah terbukti dapat meningkatkan profesionalisme guru Dabin VIII Kecamatan Punggelan dalam proses pelaksanaan pembelajaran

 

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan, (2010), Pengembangan Profesi Guru, Penerbit : Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Ngalim Purwanto (2006), Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Penerbit : PT Remaja Karya, Bandung.

Permendikbud No.65 Tahun 2013 tentang Standar Proses

Sahertian, Piet (2008), Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Penerbit : Rineka Cipta, Jakarta.

BIODATA

Nama                 : Budiarto, S.Pd.,MM

NIP                   : 19620908 198304 1 007


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *