infopasti.net

PENINGKATAN PROFESIONALITAS GURU KELAS PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN (SBK) MELALUI KEGIATAN IN HOUSE TRAINING (IHT) DI SDN TRITIHKULON 05 UPT DISDIKPORA KECAMATAN CILACAP UTARA KABUPATEN CILACAP TAHUN PELAJARAN 2012/2013

oleh:

SUPINEM, S.Pd.

ABSTRAK

Salah satu komponen yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya penyelenggaraan pendidikan adalah guru. Guru sebagai ujung tombak pendidikan yang langsung berada di garis depan berhadapan dengan siswa dituntut memiliki kompetensi yang memadai. Melalui guru penanaman nilai-nilai dan pembelajaran berbagai ilmu pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang relevan deangan kekinian dan masa depan dapat berlangsung. Pelajaran SBK merupakan pelajaran yang sangat penting bagi seluruh warga negara, karena dalam kehidpan sehari-hari manusia tidak dapat dipisahkan dari kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif, praktis dan menyenangkan. Pelajaran SBK bertujuan untuk membentuk manusia yang berbudaya, terampil berkarya dan  dapat memanfaatkan kekayaan alam serta budaya dan juga melestarikannya. Pembelajaran SBK akan memerlukan proses panjang dan berkesinambungan, sehingga proses itu harus dimulai sejak dini. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil di Tahun Pelajaran 2012/2013, dengan sampel enam Guru SDN Tritihkulon 05 UPT Disdikpora  Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.  Data yang akan diperoleh bersumber dari dua hal, yaitu: 1) Siswa; 2) Guru. Hasil pengamatan pada rencana pembelajaran pada siklus I dan siklus II terdapat perubahan yang sangat signifikan. Hasil pengamatan pada siklus I masih banyak ditemuka kekurangan sehingga prosentase keberhasilan masih di bawah kriteria keberhasilan atau kriteria ketuntasan dalam penelitian. Hasil pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran pada siklus III didapatkan bahwa untuk penilaian rencana pembelajaran tidak ada seorang guru pun mendapat nilai di bawah 26 dari tujuh aspek yang diamati, artinya nilai minimal setiap aspek 5. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa melalui bimbingan teknis IHT dapat meningkatkan profesionalitas guru kelas pada mata pelajaran SBK di SDN Tritihkulon 05 UPT Disdikpora Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.

Kata Kunci: Kompetensi, Guru, Seni, Budaya, Keterampilan, KKG

 

PENDAHULUAN

Pelajaran SBK merupakan pelajaran yang sangat penting bagi seluruh warga negara, karena dalam kehidpan sehari-hari manusia tidak dapat dipisahkan dari kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif, praktis dan menyenangkan. Pelajaran SBK bertujuan untuk membentuk manusia yang berbudaya, terampil berkarya dan  dapat memanfaatkan kekayaan alam serta budaya dan juga melestarikannya. Pembelajaran SBK akan memerlukan proses panjang dan berkesinambungan, sehingga proses itu harus dimulai sejak dini.

Pendidikan sekolah dasar adalah awal untuk melaksanakan proses pembelajaran. Pembelajaran SBK saat ini masih sering terabaikan, hal itu karena terdapat beberapa kendala, antara lain: 1) Guru mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran mapel SBK. 2) Pembelajaran lebih terfokus pada mapel yang diujikan dalam UNAS.

Untuk menyikapi kendala yang dihadapi dalam pembelajaran SBK perlu meningkatkan profesionalitas guru dalam bidang SBK dan menyusun pembelajaran yang berisi materi permbelajaran yang sesuai dengan lingkungan pendekatan metode dan langkah-langkah pembelajaran serata alat evaluasinya. Disusun secara terpadu dan sistematik dan praktis sehingga guru dapat dengan mudah mendidik dan membimbing siswa dalam mata pelajaran SBK.

Mengingat tugas guru begitu berat maka perlunya guru untuk selalu di-update pengetahuan,wawasan, keterampilannya menuju kepada pengembangan profesi yang diharapkan. Menurut Ace Suryadi (2001) telah ditemukan di berbagai studi bahwa mutu guru secara konsisten menjadi salah satu faktor terpenting dari mutu pendidikan. Lebih lanjut, guru yang bermutu mampu membelajarkan murid secara efektif sesuai dengan kendala sumber daya dan lingkungan.

Secara rinci diungkap Suyanto (2001) bahwa selama profesionalitas profesional guru belum bisa mencapai tataran ideal guru bersangkutan harus mendapatkan pelatihan yang terus menerus. Dalam era globalisasi seperti sekarang semua ilmu pengetahuan cepat usang. Apalagi kalau guru tidak di-training dan tidak bisa memperoleh akses informasi yang baru dan jika itu terjadi maka guru akan ketinggalan informasi.

Maka tidak ragu lagi bahwa untuk mencapai kualitas pendidikan yang baik maka guru harus selalu ditingkatkan profesionalitasnya agar guru selalu segar informasinya, kuat etos kerjanya, dan cerdas akalnya.

Rumusan Masalah

Apakah IHT dapat meningkatkan profesionalitas guru kelas  pada mapel SBK di SDN Tritihkulon 05 UPT Disdikpora Kecamatan Cilacap Utara?

Tujuan Penelitian

Meningkatkan profesionalitas guru kelas pada mapel SBK SDN Tritihkulon 05 UPT Disdikpora Kecamatan Cilacap Utara.

 

TINJAUAN PUSTAKA

Pendidikan dan Pelatihan Guru

Peningkatan mutu guru sebagai upaya peningkatan tenaga kependidikan memiliki tujuan agar guru terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peningkatan mutu guru selalu menjadi yang prioritas, karena upaya ini didasari alasan bahwa indikator utama keberhasilan sekolah adalah profesionalitas melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien seusai dengan tuntutan kurikulum dan menyiapkan tamatan yang memenuhi kebutuhan pembangunan masa kini dan masa yang akan datang.

Guru memiliki peranan yang strategis dan merupakan kunci keberhasilan mencapai tujuan kelembagaan sekolah, karena guru adalah pengelola KBM bagi para siswanya. Kegiatan belajar mengajar akan berjalan efektif apabila tersedia guru yang sesuai dengan kebutuhan sekolah baik jumlah, kualifikasi maupun bidang keahliannya.

Pengembangan Profesionalitas Guru

Peningkatan mutu guru apabila dilakukan secara serempak dari TK sampai dengan SMA/SMK tidaklah mungkin dilaksanakan, hal ini terkait dengan penanganan guru di berbagai daerah sangat dipengaruhi oleh kebijakan pendidikan yang diambil setelah diberlakukannya desentralisasi. Hal ini menjadi sebuah pemikiran bahwa bagaimanapun peningkatan mutu guru dapat dilakukan secara simultan dan sesuai profesionalitas dari masing-masing daerah. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan mutu guru dapat berupa pelatihan guru, sekolah lanjutan (D3-S1, S1-S2, S2-S3), PKG, MGMP/MGP, KKG, seminar, workshop, diskusi, IHT, dsb.

Peningkatan Profesionalitas Guru Melalui Pelatihan

Peningkatan mutu guru yang dilakukan tidak akan lepas dari peningkatan profesionalitas guru dan harus sesuai dengan sistem standarisasi guru di tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan sekolah (standar kompetensi). Tujuan dikembangkan standar profesionalitas guru adalah untuk menetapkan suatu ukuran profesionalitas pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang guru agar profesional dalam merencanakan dan mengelola proses pembelajaran di sekolah. (Suwondo, MS: 2003).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengembangan profesionalitas menggunakan kriteria sebagai berikut: (a) mengacu kepada tuntutan kebutuhan pengembangan iptek; misalnya profesionalitas mengakses, memilih, dan menilai dan mengolah informasi, profesionalitas dalam mengatasi situasi yang serba tidak pasti dan searah dengan visi dan misi pembangunan pendidikan nasional; (b) mengacu kepada kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam bidang pendidikan umum penyelenggaraan pendidikan; (c) mengacu kepada kurikulum yang berlaku, yaitu profesionalitas yang harus dimiliki oleh guru untuk membantu siswa mencapai kompetensi yang dituntut oleh kurikulum; (d) harus dapat diukur (measurable) atau dapat ditunjukkan (demonstrable) dengan indikator tertentu; (e) substansi materi secara akademik dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menunjukkan kinerja guru yang berkualitas dan terukur; (f) dapat ditingkatkan profesionalitas pengetahuan dan wawasan guru.

Peningkatan profesionalitas guru dapat dilakukan melalui In House Training yaitu  pelatihan yang diselenggarakan di tempat peserta. Pelatihan mengandung makna bahwa setelah mengikuti In House Training guru akan terdorong motivasinya untuk memperbaiki kinerja, cara pembelajaran atau penyegaran ilmu dan informasinya. Pelatihan secara umum (Sikula:1976) diartikan sebagai kegiatan untuk memperbaiki penguasaaan berbagai ketrampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu dalam waktu yang sangat singkat.

Sedangkan definisi dari Center for Development Management and Productivity (Depdiknas; 2000) adalah belajar untuk mengubah tingkah laku orang dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Pelatihan pada dasarnya adalah suatu proses memberikan bantuan bagi para karyawan atau pekerja untuk memperbaiki kekurangan dalam melaksanakan pekerjaan. Pelatihan untuk guru biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga diklat atau dinas pendidikan/depag yang ditunjuk untuk memberikan fasilitas kepada guru untuk melakukan kegiatan itu. Dewasa ini pelatihan guru merupakan bagian yang urgen terutama setelah ada reformasi. Oleh karenanya untuk masa yang akan datang pelatihan guru harus terikat paling sedikitnya empat komponen kompetensi yang dikemukakan Russel (Nurtain,1989) yakni (1) kompetensi kebudayaan umum (general culture) atau disebut dengan kompetensi kemasyarakatan, (2) kompetensi akademis khusus (special scholarsship), disebut juga kompetensi bidang pengetahuan akademis tertentu., (3) kompetensi pengetahuan profesional (professional knowledge) yang memperlihatkan tipe-tipe keguruannya, (4) kompetensi yang berhubunngan degan seni dan keterampilan teknis (art and technical skill) yang didemonstrasikan.

Secara umum tujuan pelatihan guru dinyatakan oleh Moekijat (1993) adalah untuk penambahan pengetahuan, keterampilan, dan perbaikan sikap dari peserta pelatihan. Morse (Tracy, 1974) menyatakan bahwa arah tujuan pelatihan adalah pengembangan penampilan kerja invidu dan pengembangan karir seseorang. Sedangkan Lynton dan Pareek (1978) menyatakan bahwa tujuan dari proses pelatihan ialah perilaku yang efektif dari seseorang yang dalam pekerjaan di dalam organisasi dalam keadaan yang paling sederhana.

Dari uraian di atas nampak bahwa dengan adanya pelatihan-pelatihan yang diikuti oleh guru-guru, diharapkan guru akan lebih paham dengan dunia kerja, dapat mengembangkan kepribadiannya, penampilan kerja individu, mengembangkan karir, perilakunya menjadi efektif dan guru akan menjadi lebih berkompeten. Pelatihan yang diikuti para guru ada bermacam-macam tipe.

Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan

Berdasarkan Kurikulum 2006 SBK adalah bahan kajian tentang olah tangan dan citarasa keindahan. Bahan kajian ini bersifat nasional dengan memperhatikan perkembangan kerajinan tangan dan kesenian di lingkungan, juga memperhatikan budaya setempat. Dengan demikian SBK tidak dapat dipisahkan dari dari kehidupan, sehingga meningkatkan perkembangan jiwa anak.

Hipotesis Tindakan

In House Training dapat meningkatkan profesionalitas guru kelas pada mata pelajaran SBK di SD Negeri Tritihkulon 05 UPT Disdikpora Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil di Tahun Pelajaran 2012/2013, dengan sampel enam guru di SDN Tritihkulon 05 Upt Disdikpora Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Penelitian ini akan menjadikan  enam orang guru kelas yang ada SDN Tritihkulon 05 Upt Disdikpora Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap sebagai subjek penelitian. Data yang akan diperoleh bersumber dari dua hal, yaitu: 1) Siswa; 2) Guru;. Siklus dari tahap-tahap penelitian tindakan sekolah adalah sebagai berikut

1-1

Penjelasan alur di atas adalah:

  1. Kondisi awal adalah kondisi guru pada saat belum mendapat bimbingan atau pendampingan dalam
  2. Tindakan PTS meliputi tindakan perencanaan kegiatan dalam pendampingan selama IHT, tindakan selama IHT, kemudian refleksi atas kegiatan IHT yang sudah dilaksanakan. Hasil refleksi pada siklus pertama digunakan untuk menyusun perencanaan pada siklus kedua dan seterusnya sampai dengan siklus keenam.
  3. Kondisi akhir merupakan kondisi di saat guru sudah menerapkan hasil bimbingan dan pendampingan selama enam siklus IHT.

Subyek penelitian dalam hal ini adalah guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran SBK  melalui bimbingan teknis Kepala Sekolah. Jumlah guru yang diamati atau menjadi subyek penelitian adalah sebanyak 6 orang guru yang semuanya adalah guru kelas mata pelajaran SBK dan telah mempunyai masa kerja yang cukup, karena rata-rata guru yang bersangkutan telah mempunyai masa kerja diatas 5 tahun

Obyek penelitiannya adalah kegiatan guru kelas  dalam melaksanakan pembelajaran mata pelajaran SBK. Dengan demikian yang menjadi pengamatan peneliti adalah bagaimana guru dalam melaksanakan pembelajaran SBK di kelas.

Untuk melaksanakan pengamatan tersebut peneliti menggunakan instrument pengamatan yang disebut Instrumen Pengamatan Kegiatan Guru atau IPKG. Instrument tersebut mencakup bagaimana guru melaksanakan persiapan pembelajaran, melaksanakan kegatan pendahuluan, kegiatan inti maupun kegiatn akhir, dan juga bagaimana guru sebagai subyek penelitian melaksanakan evaluasi hasil belajar.

Lokasi Penelitian di SD Negeri SDN Tritihkulon 05 Upt Disdikpora Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 (lima) bulan yakni bulan Agustus sampai dengan bulan Desember 2013.

Dalam penelitian tindakan sekolah ini dilakukan melalui beberapa siklus, dan masing-masing siklus dilakukan melalui beberapa tahapan yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi.

Untuk mengumpulkan data penulis menggunakan metode observasi dan dokumentasi. Observasi dilakukan ketika guru melaksanakan pembelajaran. Wawancara digunakan untuk menilai proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Alat yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Instrumen Penilaian Kinerja Guru atau yang disebut IPKG. Dalam penelitian ini digunakan dua instrumen yaitu  IPKG 1 yang digunakan untuk menilai rencana pembelajaran yang digunakan oleh guru dan IPKG 2 yang digunakan untuk menilai kegiatan pembelajaran guru.

Kriteria keberhasilan ditetapkan : masing-masing guru maupun secara keseluruhan dinyatakan tuntas atau berhasil jika mencapai nilai sebagai berikut:

  • Kriteria keberhasilan / ketuntasan dalam menyusun RPP
    1. Guru dinyatakan telah berhasil menyusun rencana pembelajaran jika nilai rencana pembelajaran maksimal 35 yang  artinya setiap aspek mendapat nilai 5 dari tujuh aspek rencana pembelajaran.
    2. Penelitian ini dianggap selesai atau berhasil jika 100% dari guru yang menjadi subyek penelitian telah mendapat nilai maksimal 35
  • Kriteria keberhasilan / ketuntasan penelitian dalam pelaksanaan pembelajaran .

Dalam menetapkan apakah penelitian pelaksanaan pembelajaran berhasil atau tidak. Maka ditetapkan kriteria keberhasilan atau kriteria ketuntasan dalam penelitian tindakan sebagai berikut:

  1. Penelitian dalam pelaksanaan pembelajaran dinyatakan tuntas /berhasil secara individu jika guru mencapai skor maksimal 100, artinya tiap aspek mendapat nilai 5 dari 20 aspek pengamatan kegiatan pembelajaran.
  2. Penelitian ini dianggap selesai atau berhasil jika 100% dari guru-guru yang menjadi subyek penelitian dalam pentelah mendapatkan nilai maximal 100

HASIL DAN PEMBAHASAN

Siklus I

Pada tahap ini peneliti mengadakan diskusi dengan guru-guru untuk membahas temuan dilapangan dan kesulitan guru dalam mengajar mapel SBK. Guru-guru menyusun rencana pembelajaran yang digunakan pada siklus I di bawah bimbingan peneliti. Perencanaan ini dilaksanakan pada  tanggal  7  September 2013.

Tahap ini dilaksanakan pada tanggal 10 – 17 September 2013 oleh guru-guru pada kelasnya  masing-masing dengan RPP yang telah dibuat pada pertemuan dalam IHT. Observasi dilakukan pada saat guru melaksanakan proses pembelajaran. Pada pelaksanaan siklus I peneliti menemukan 4 orang guru yang masih belum tuntas dalam menyusun rencana pembelajaran. Hasil pengamatan/opservasi pada siklus pertama dapat penulis rekap sebagai berikut.

Tabel 1 Rekapitulasi hasil pengamatan

No RENTANG NILAI JUMLAH GURU KETERANGAN
I

1

2

3

RENCANA PEMBELAJARAN

Kurang dari 24

Sama dengan/lebih dari 24

 

4

2

 

Belum berhasil

Cukup berhasil

II

1

2

3

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Kurang dari  65

Sama dengan/lebih dari 65

 

3

3

 

Belum berhasil

Cukup berhasil

 

Siklus II

Pada tahap ini peneliti mengadakan diskusi dengan guru-guru untuk membahas dan memberikan solusi tentang temuan kelemahan/kekurangan yang terdapat pda penyusunan rencana pembelajaran dan proses pembelajaran mapel SBK. Hasil refleksi pada siklus I dituangkan dalam RPP siklus II yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 – 29 Oktober 2013.

Tahap ini dilaksanakan pada tanggal 26 – 29 Oktober 2013. Oleh guru-guru pada kelasnya masing-masing berpedoman pada RPP yang telah direvisi pada pertemuan IHT tanggal 21 Oktober 2013. Tahap observasi peneliti mengamati kegiatan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, serta peneliti memberikan bimbingan teknis agar proses pembelajaran lebih sempurna. Hasil pengamatan/opservasi pada siklius pertama dapat penulis rekap sebagai berikut:

Tabel 2 Rekapitulasi hasil pengamatan

No RENTANG NILAI JUMLAH GURU KETERANGAN
I

1

2

RENCANA PEMBELAJARAN

Kurang dari 24

Sama dengan/lebih dari 24

 

1

5

 

Belum berhasil

Cukup berhasil

II

1

2

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Kurang dari  65

Sama dengan/lebih dari 65

 

2

4

 

Belum berhasil

Cukup berhasil

Hasil Observasi siklus II masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan seperti kelengkapan alat, kesesuaian bahan dan langkah serta cara kerja yang kurang sistematis.

Siklus III

Perencanaan pada siklus III dilaksanakan pada tanggal 23 Nopember 2013. Peneliti (Kepala Sekolah) dan guru menyempurnakan hasil tindakan pada siklus II. Diharapkan kekurangan pada siklus II dapat disempurnakan pada siklus keenam.

Tahap ini dilaksanakan pada tanggal 9 – 12 Desember 2013. Di lokasi penelitian. Guru melaksanakan pembelajaran dengan mengacu pada RPP yang telah disempurnakan pada siklus ke dua. Dalam pertemuan ini tampak berbeda dengan siklus kedua siswa mulai aktif, kreatif serta sering bertanya dalam proses pembelajaran. Aktifitas guru sudah mulai terkendali atau tidak mendominasi kegiatan pembelajaran, guru mulai berperan sebagai motivator dan fasilitator.

Observasi dilaksanakan pada tanggal 9 – 12 Desember 2013. Untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam, menyeluruh tentang pelaksanaan pembelajaran pada siklus III. Fokus observasi pada bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa meliputi kreatifitas, frekuensi bertanya, ketekunan dan ketelitian kerja siswa. Penilaian selama proses pembelajaran dilakukan oleh kepala sekolah sebagai peneliti. Hasil pengamatan/observasi pada siklus pertama dapat penulis rekap sebagai berikut:

Tabel 3 Rekapitulasi hasil pengamatan

No RENTANG NILAI JUMLAH GURU KETERANGAN
I

1

2

 

RENCANA PEMBELAJARAN

Kurang dari 24

Sama dengan/lebih dari 24

 

0

6

 

Belum berhasil

Berhasil

II

1

2

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Kurang dari  65

Sama dengan/lebih dari 65

 

0

6

 

Belum berhasil

Berhasil

Hasi observasi yang dilakukan oleh peneliti dan Observer/Kepala sekolah pada rencana pembelajaran dan proses pembelajaran ternyata guru-guru SDN Tritihkulon 05 sudah dapat menyusun dan melaksanakan RPP dengan benar, hal ini dapat ditunjukkan oleh keenam guru dengan memperoleh nilai IPKG I dan IPKG II dengan nilai sempurna/ memuaskan (100).

Guru yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan tambahan membimbing siswa sehingga prestasi siswa meningkat. Berikut adalah data prestasi siswa yang dicapai setelah guru kelas  mendapatkan pendampingan selama IHT.

 

PEMBAHASAN

Hasil pengamatan pada rencana pembelajaran pada siklus I dan siklus II terdapat perubahan yang sangat signifikan. Hasil pengamatan pada siklus I masih banyak ditemuka kekurangan ssehingga prosentase keberhasilan masih di bawah criteria keberhasilan atau criteria ketuntasan dalam penelitian. Hasil pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran pada siklus III didapatkan bahwa untuk penilaian rencana pembelajaran tidak ada seorang guru pun mendapat nilai di bawah 26 dari tujuh aspek yang diamati, artinya nilai minimal setiap aspek 5, perbandingan hasil pengamatan tersebut dapat dilihat pada table 5.

Tabel 5  Perbandingan hasil pengamatan rencana pembelajaran masing-masing siklus

No Rentang nilai Jumlah Guru Keterangan
Siklus I Siklus II Siklus III
1.

2.

< 26

≥ 26

4

2

1

4

0

6

Sikus I 4 Orang belum berhasil

Siklus II 2 Orang belum berhasil

Siklus III berhasil

Berikut perbandingan hasil pengamatan rencana pembelajaran masing-masing siklus tersebut dituangkan dalam bentuk

1-2

Berdasar perbandingan nilai pada Grafik 1. dapat disimpulkan bahwa: pada siklus I masih ada 4 orang guru yang belum mencapai nilai minimal keberhasilan dalam menyusun rencana pembelajaran. Sedangkan pada siklus II hanya dua orang guru yang belum mencapai nilai minimal. Pada siklus III semua guru dapat mencapai nilai minimal. Perbandingan hasil pengamatan pelaksanaan pembelajaran dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut.

Tabel 6 Perbandimgan sikls I, II, dan III

No Rentang nilai Jumlah Guru Keterangan
Siklus I Siklus II Siklus III
1.

 

 

2.

< 75

 

 

≥ 75

3

 

 

3

2

 

 

4

0

 

 

6

Sikus I 3 Orang belum berhasil

Siklus II 2 Orang belum berhasil

Siklus III berhasil semua

Sikus I 3 Orang belum berhasil

Siklus II 2 Orang belum berhasil

Siklus III berhasil semua

Berikut perbandingan hasil pengamatan rencana pembelajaran masing-masing siklus tersebut dituangkan dalam bentuk grafik

1-3

Berdasar rekapitulasi dan hasil perbandingan hasil pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa :

  1. Pada siklus I masih ada enam guru yang belum berhasil melaksanakan pemelajarn dengan baik.
  2. Pada siklus II terdapat empat orang guru yang sudah melampaui nilai minimal.
  3. Pada siklus III 100 % guru telah mencapai kriteria keberhasilan dalam melaksanakan pembelajarn dengan baik.

Keberhasilan tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya:

  1. Pelaksanaan pembinaan kepala sekolah dan guru senior dalam memberikan masukan kepada guru yang diteliti
  2. Supervisi akademik dengan yang ditandai dengan anggapan dan penerapan kolaboratif kepada guru. Karena dengan pendekatan kolaboratif ini guru tidak merasa disalahkan tetapi diajak berpikir bersama atas permasalahan yang dihadapi dan akhirnya kepala sekolah menjadi mitra guna memfasilitasi kebutuhan guru dalam meningktakan kinerja atau profesionalitas
  3. Guru lebih terbuka jika diajak musyawarah dan menyempurnakan kekurangan dalam pembelajaran di kelas.
  4. Kehadiran kepala sekolah di kelas sangat membantu guru dalam melaksanakan tugas.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa melalui bimbingan IHT dapat meningkatkan profesionalitas guru kelas pada mata pelajaran SBK di SD Tritihkulon 05 UPT Disdikpora Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.

 Saran

  1. Penerapan melalui IHT bimbingan teknis kepala sekolah terhadap guru hendaknya dilakukan secara berkesinambungan sehingga memungkinkan guru selalu aktif dan inovatif
  2. Pelatihan melalui IHT hendaknya bisa diterapkan di semua kelas dan semua mata pelajaran
  3. Semua pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan hendaknya membantu meningkatkan profesionalitas guru dalam pencapaian profesionalitas guru.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ace Suryadi (9 Maret 2001). Mutu profesi guru. Kompas, hal 9 kol 1-5

Edi S, Suwondo (2003). Guru di Indonesia. Jakarta :Dittendik Dirjen dikdasmen

Lynton, RP, dan Pareek, U (1978) Training for Development

Lunandi, AG (1986) Pendidikan orang dewasa. Jakarta : PT Gramedia

Moekijat. (1993) Evaluasi pelatihan dalam rangka peningkatan produktivitas. Bandung: Penerbit CV Mandar Maju

Sikula, AE (1976). Personnel administration and human resources management. Santa Barbara: John Wiley & Sons

Soedomo (1989) Pendidikan luar sekolah kea rah pengembangan system belajar masyarakat. Jakarta: Depdikbud

Soebagio AD (1993) Manajemen Training. Jakarta: Balai Pustaka

Suyanto (3 Pebruari 2001) Guru harus terus mendapat latihan. Kompas hal 9 kolom 1-4

Syamsu Mappa & Anisah B (1994). Teori belajar orang dewasa. Jakarta: Proyek pembinaan dan peningkatan mutu tenaga kependidikan, Depdikbud

Tracey, WR (1974) Managing training and development system. New York : Amacom.

 

 

BIODATA PENULIS

Nama                             : Supinem,S.Pd

NIP                                 : 196409121983042001

Tempat/Tgl Lahir        : Banyumas,12 September 1964

Pangkat/Golongan      : Pembina/IVA

Jabatan                           : Kepala Sekolah Dasar

Unit Kerja                       : SDN Tritihkulon 05 UPT Disdikpora Kec. Cilacap Utara

Alamat Instansi             : Jl.Angsana No 15 Tritihkulon Cilacap Utara

Alamat Rumah              : Jl.Ganggeng Barat Rt 04/8 No 120 Kel.Mertasinga,Cilacap Utara,Cilacap


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *