PENINGKATAN RASA NASIONALISME DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DI KELAS VIII C SMP NEGERI 1 LUMBIR

 

 

BIODATA PENULIS

Nama                            :      Darojat Sutrimo, S.Pd

Jenis kelamin                 :      Laki-laki

NIP                               :      19790323 200801 1 020

Pangkat/Gol                  :        Guru Muda/III c

Unit Kerja                     :    SMP Negeri 1 Lumbir

Jabatan                          :     Guru

Alamat rumah               :      Pasirmuncang, RT 03 RW V Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas

Telepon/HP                   :      081390175977

Email                             :      darojatsutrimo@yahoo.co.id\

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), karena masih kurangnya rasa nasionalisme siswa dan rendahnya hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran di kelas yang dibuktikan dengan adanya siswa yang nilainya di bawah KKM. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII C SMP Negeri 1 Lumbir yang berjumlah 33 siswa yang terdiri dari 13 siswa perempuan dan 20 siswa laki-laki. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus, setiap siklusnya terdiri dari 2 pertemuan, meliputi perencanaan, pelaksanaan, tindakan, dan refleksi. Alat pengumpul data yang digunakan yaitu evaluasi tertulis untuk mengetahui prestasi siswa pada setiap akhir pertemuan, dan angket untuk mengetahui rasa nasionalisme siswa pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rasa nasionalisme siswa pada siklus I yaitu rata-rata 31,75 dengan ketuntasan mencapai 79,38% dan pada siklus II yaitu rata-rata 32,47 dengan ketuntasan mencapai 81,18%, sedangkan nilai rata-rata tes/evaluasi siswa siklus I yaitu 75 dengan ketuntasan belajar mencapai 75%, sedangkan pada siklus II rata-rata siklus II yaitu 79,69 dengan ketuntasan mencapai 84,38%.

Kata Kunci : Rasa Nasionalisme, Prestasi Belajar, IPS, Model Pembelajaran Problem Based Learning

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar perserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketentuan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UUSPN No. 20 tahun 2003). Mata pelajaran IPS adalah pelajaran yang berperan penting dalam pendidikan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPS kelas VII  SMP Negeri 1 Lumbir tersebut dapat diperoleh data bahwa secara umum dalam proses belajar mengajar masih berpusat pada guru sehingga siswa kurang berperan aktif dalam pembelajaran. Selain itu siswa tidak senang belajar IPS, karena pembelajaran teori dan pembelajaran kurang menyenangkan. Siswa kurang berani untuk bertanya terhadap materi yang telah diberikan oleh guru, sehingga kurang memahami dan menguasai materi pelajaran. Siswa kurang usaha dalam membaca materi dan hanya mengandalkan penjelasan dari guru.

Alternatif pemecahan masalah yang akan ditempuh diorientasikan pada penerapan dan penanaman konsep melalui pembelajaran secara berdiskusi kelompok. Dalam hal ini, peneliti memilih metode pembelajaran PBL (Problem Basic Learning) merupakan suatu metode pembelajaran secara diskusi membahas suatu materi pelajaran pada peserta didik untuk belajar secara aktif.

Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.Apakah model pembelajaran PBL dapat meningkatkan rasa nasionalisme siswa kelas VIII C SMP Negeri 1 Lumbir pada mata pelajaran IPS?

2.Apakah model pembelajaran PBL dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII C SMP Negeri 1 Lumbir pada mata pelajaran IPS?

3.Apakah model pembelajaran PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas VIII C SMP Negeri 1 Lumbir pada mata pelajaran IPS?

4.Apakah model pembelajaran PBL dapat meningkatkan aktivitas guru dalam melakukan proses pembelajaran pada mata pelajaran IPS di kelas VIII C SMP Negeri 1 Lumbir?

TINJAUAN PUSTAKA

Masalah dan hal yang perlu ditingkatkan adalah sikap nasionalisme siswa, yang termasuk pada pendidikan karakter. Menurut Smith (2003:10), nasionalisme merupakan ideologi yang meletakan bangsa dipusat masalahnya dan berupaya mempertinggi keberadaanya. Menurut Mustari (2011:195), nasionalisme adalah suatu istilah yang   menunjukkan kebangga dan kecintaan tanah air. Dalam hal ini bahwa indikator nasionalisme adalah menanamkan nasionalisme dan rasa pesatuan dan kesatuan bangsa.Sikap nasionalisme. juga nantinya berpengaruh pada prestasi siswa. Prestasi belajar menurut Arifin (2011:12), kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha Menurut Hamdani (2011:137), prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok.

Dari pendapat di atas tentang pengertian prestasi belajar dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan atau hasil yang telah diperoleh dari proses pembelajaran dengan penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang ditunjukkan dengan nilai dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu yang dinyatakan dalam nilai setelah mengalami proses belajar mengajar.

Proses pembelajaran IPS yang belum menggunakan model pembelajaran yang bervariasi atau cenderung masih konvensional hanya ceramah dan metode hafalan, sehingga mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar, siswa cenderung pasif dan bosan dalam mengikuti pembelajaran, hal ini dikarenakan karakter siswa berada pada masa perkembangan konkret operasional yang cenderung ke arah berpikir nyata dan logis. Oleh karena itu dimungkinkan pemilihan metode pembelajaran perlu memperhatikan karaker siswa tersebut. Tetapi kenyataannya masih banyak metode yang mengutamakan hafalan dari pada pemahaman konsep. Hal tersebut mengakibatkan kurangnya penguasaan konsep siswa terhadap pembelajaran IPS.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa seorang guru harus memahami karakteristik mata pelajaran IPS yang diajarkan kepada siswanya agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian materinya. Guru dalam penyampaiannya tentang mata pelajaran IPS tidak boleh melupakan bahwa perkembangan dan pemahaman siswa  masih dalam tingkat operasional konkret.

Bekerja dalam kelompok akan menjadikan siswa aktif berfikir. Menurut Silberman (2007:265), pemberian materi yang masih bersifat konvensional tersebut membiasakan siswa untuk belajar dengan cara menghafalkan sehingga nilai-nilai yang diharapkan didapat oleh siswa tidak dapat tersampaikan dengan baik. Oleh karena itu, setelah proses diskusi maka diputuskan untuk memperbaikinya perlu adanya perubahan strategi dalam proses pembelajaran salah satunya menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPS materi memahami proses kebangkitan nasional.

PBL adalah model pembelajaran yang menawarkan kebebasan siswa dalam proses pembelajaran. PBL mengambil psikologi kognitif sebagai dukungan teoritisnya. Fokusnya tidak hanya pada apa yang sedang dikerjakan siswa (perilaku mereka), tetapi pada apa yang siswa pikirkan (kognisi mereka) selama mereka mengerjakannya. Meskipun peran guru dalam pelajaran yang berbasis masalah kadang-kadang juga melibatkan diri dalam menjelaskan kepada siswa namun guru disini hanya sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa dapat berpikir sendiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri, karena proses pembelajaran model PBL ini ialah pembelajaran berkelompok. Sebuah kelompok menjadi fungsional, ketika seluruh anggotanya bekerja secara efektif untuk menigkatkan pembelajaran diri sendiri dan anggota kelompok lainnya.

Oleh karena itu, kegiatan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran ini yaitu siswa diberikan suatu permasalahan untuk bekerja secara berkelompok dalam menyelesaikannya dengan cara diskusi, melalui cara tersebut berarti siswa akan terlibat secara langsung dalam pembelajaran sehingga diharapkan dapat mencapai prestasi yang maksimal dan rasa nasionalis siswa akan meningkat dalam memahami proses kebangkitan nasional.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7-21 Oktober 2014, pada semester gasal tahun ajaran 2015/2016 di kelas  VIII C SMP Negeri 1 Lumbir, dengan siswa yang  terdiri dari 13 siswa perempuan dan 20 siswa laki-laki. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila adannya peningkatan sikap nasionalisme siswa yang ditandai dengan meningkatnya perolehan rata-rata sikap nasionalisme siswa  dari siklus I ke siklus II dan adanya peningkatan prestasi belajar IPS khususnya materi pecahan dari siklus I ke siklus II, dilihat dari nilai rata-rata siswa yang diperoleh dari evaluasi kriteria ketuntasan siswa memenuhi KKM ≥ 75 dengan persentase lebih dari atau sama dengan 80%.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Iskandar dkk, (2010:211) mengemukakan setiap siklus terdiri dari empat tahapan yang lazim dilalui yaitu tahap  perencanaan (planning), tindakan/pelaksanaan (action), pengamatan (observation), dan melakukan refleksi (reflecting).

Penelitian ini menggunakan tehnik tes dan non tes. Penelitian ini menggunakan tes tertulis jenis uraian digunakan untuk menilai prestasi belajar. Soal ini terdapat pada LKK dan lembar evaluasi. Menurut Hasan dalam Fitri (2012:39) mengemukakan ada dua jenis indikator yang dikembangkan dalam pedoman ini. Pertama, indikator untuk sekolah dan kelas. Kedua, indikator untuk mata pelajaran. Indikator sekolah dan kelas adalah penanda yang digunakan oleh kepala sekolah, guru, dan personalia sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi sekolah sebagai lembaga pelaksana pendidikan budaya dan karakter bangsa. Indikator ini berkenaan juga dengan kegiatan sekolah yang diprogramkan dan kegiatan sekolah sehari-hari. Indikator mata pelajaran menggambarkan perilaku efektif seorang peserta didik berkenaan dengan mata pelajaran tertentu, misalnya yaitu IPS.

Dokumentasi juga diadakan sebagai salah satu bukti penelitian. Dokumentasi yang diperoleh yakni pada saat penelitian. Dokumentasi berupa dokumen tertulis dan berupa gambar/foto. Cara yang digunakan untuk mengukur sikap nasionalisme siswa dalam penelitian ini melalui lembar angket nasionalisme. Pemberian skor pada pernyataan positif terdiri dari: Selalu (SL) skor 4, Sering (S) skor 3, Jarang (JR) skor 2, Tidak Pernah (TP) skor 1, sedangkan pemberian skor untuk pernyataan negatif adalah Selalu (SL) skor 1, Sering (S) skor 2, Jarang (JR) skor 3, Tidak Pernah (TP) skor 4.

Adapun penggolongan rentang ketuntasan angket adalah sebagai berikut: 86 – 100% : sangat baik, 76 – 85% : baik, 60 – 75%          : cukup, 55 – 59% : kurang, dan  kurang dari 54% : kurang sekali  (Purwanto, 2010:103).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tindakan siklus di setiap siklus, yaitu siklus I dan II diawali dengan tahapan perencanaan. Hasil tahap perencanaan adalah RPP, LKK, lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi aktivitas siswa dan lembar evaluasi dan angket untuk akhir siklus. Tahap selanjutnya yaitu tindakan di tiap siklusnya, hasil tindakannya yaitu pada kegiatan awal dimulai dengan guru mengecek kehadiran siswa, kemudian melakukan apersepsi yang nantinya akan berhubungan dengan materi.

Kegiatan pembelajaran selanjutnya yaitu guru menjelaskan kepada siswa tentang model pembelajaran yang akan digunakan natinya, yaitu metode pembelajaran PBL. Guru menjelaskan materi pelajaran tentang memahami proses kebangkitan nasional. Guru menjelaskan materi dengan menampilkan materi lewat media LCD, kemudian siswa memperhatikannya. Saat memberikan materi guru mejelaskan secara detail dan berulang – ulang agar siswa paham. Guru memberikan soal untuk dikerjakan siswa, dan beberapa siswa diminta mengerjakan secara bekelompok. Hal ini dilakukan agar mendorong sikap nasionalisme siswa dalam mengerjakan soal mengenai materi memahami proses kebangkitan nasional. Siswa memperhatikan saat guru menjelaskan pembelajaran IPS. Observer mengobservasi aktivitas siswa.

Pada akhir pembelajaran setiap siklusnya pada pertemuan II siswa mengerjakan evaluasi dan mengisi angket. Guru mengulas sedikit materi saat itu dan memberikan PR dan menutup pelajaran. Selain tindakan dalam pembelajaran juga berlangsung kegiatan observasi aktivitas guru dan siswa.  Siklus ke II dilaksanakan berdasarkan refleksi di siklus I yang melihat dari kekurangan dan kelebihan selama siklus I berlangsung.

Hasil penelitian ini mencakup tentang perolehan skor nasionalisme siswa dan pencapaian prestasi belajar serta hasil observasi guru dan siswa saat pembelajaran. Hasil angket Sikap Nasionalisme Siswa dapat dilihat dalam Diagram 1.

 

 

 

 

 

Berdasarkan Diagram 1 di atas dapat diperoleh hasil bahwa terjadi kenaikan rata-rata sikap nasionalisme siswa pada siklus I kriteria sikap nasionalisme  siswa sedang dengan persentase 79,38% dengan rincian siswa yang memiliki kriteria sikap nasionalisme baik sebanyak 15 siswa, sikap nasionalisme sedang sebanyak 13 siswa, sikap nasionalisme kurang sebanyak 5 siswa dan pada siklus ke II  terjadi kenaikan kriteria yaitu menjadi tinggi dengan persentase 90%  dengan rincian siswa yang memiliki kriteria sikap nasionalisme baik sebanyak 30 siswa dan sikap nasionalisme sedang sebanyak 3 siswa. Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan sikap kerja keras siswa dari siklus I ke siklus II.

Sedangkan hasil Prestasi belajar siswa dapat dilihat pada Diagram 2.

 

 

 

 

 

 

Perolehan hasil evaluasi prestasi belajar pada siklus I dengan hasil rata-rata kelas yang berjumlah 33 siswa masih belum mencapai KKM 75, siswa yang tuntas atau mencapai KKM hanya sebanyak 19 siswa dari 33 siswa. Pada siklus II perolehan rata-rata kelas hasil evaluasi prestasi belajar telah mencapai KKM 75, bahkan lebih. Siswa yang tuntas sebanyak 30 siswa dari 33 siswa. Berdasarkan hasil evaluasi siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil evaluasi siswa yang dibuktikan dengan hasil ketuntasan belajar yang telah mencapai bahkan melebihi indikator keberhasilan 80%.

Hasil pengamatan  aktivitas siswa pada siklus 1 dan siklus 2 dalam mengikuti proses pembelajaran PBL dapat dilihat pada Diagram 3.

 

 

 

 

 

 

Hasil rata-rata skor observasi aktivitas siswa pada siklus I mengalami peningkatan pada siklus II. Pada siklus I perolehan kriteria cukup dengan persentase sebesar 71,4%. Pada siklus II perolehan kriteria baik dengan persentase sebesar 75,7%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL (Problem Basic Learning) dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.

Hasil pengamatan aktivitas guru dalam melaksanakan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran PBL dapat dilihat pada Diagram 4.

 

 

 

 

 

 

 

Hasil rata-rata skor pengamatan aktivitas guru pada siklus I mengalami peningkatan pada siklus II. Pada siklus I perolehan kriteria baik dengan persentase sebesar 73,440%. Pada siklus II perolehan kriteria baik sekali dengan persentase sebesar 79,690%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model PBL (Problem Basic Learning) dapat meningkatkan aktivitas guru dalam proses pembelajaran.

KESIMPULAN

1.Sikap nasionalisme siswa dengan menggunakan penerapan model pembelajaran PBL (Problem Basic Learning) di kelas VIII C SMP Negeri I Lumbir dari siklus I ke siklus II selalu mengalami peningkatan, dibuktikan dengan perolehan rata-rata skor sikap nasionalisme pada siklus I sebesar 31,75 dengan kriteria sikap nasionalisme siswa sedang, dan pada siklus II sebesar 32,47 dengan kriteria sikap kerja keras siswa tinggi.

2.Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS materi memahami proses kebangkitan nasional kelas VIII C SMP Negeri I Lumbir mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan nilai rata-rata 84 dengan persentase ketuntasan sebesar 82,19% pada siklus I, menjadi 77,19 dengan persentase ketuntasan sebesar 92% pada siklus II.

3.Penerapan model pembelajaran tersebut juga dapat meningkatkan aktivitas siswa terbukti dengan meningkatnya hasil pengamatan dari 71,4% pada siklus 1 meningkat menjadi 75,7% pada siklus 2.

4.Tidak hanya siswa, guru pun bertambah aktivitasnya dari 73,44% pada siklus 1 menjadi 79,69% pada siklus 2.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S., Suhardjono dan Supardi. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Aunillah, N.I. 2011. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogjakarta:  Laksana.

Arifin, Z. 2011. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Djamarah, S.B. 2010. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Fitri, A.Z. 2012. Pendidikan Karakter berbasis Nilai Etika di Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Heruman. 2010. Model Pembelajaran IPS di Sekolah Menengah pertama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Purwanto. M. N. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Safari. 2005. Penulisan Butir soal berdasarkan Penilaian Berbasis Kompetensi. Jakarta: Apsi Pusat.

Silberman, Melvin.L. 2012. Active Learning. Bandung: Nuansa.

Trianto. 2011. Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas ( classroom action research ) Teori dan Praktek. Jakarta:Prestasi Pustakakarya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *