PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA OPERASI BILANGAN BULAT MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA MANIK-MANIK BAGI SISWA KELAS I SD NEGERI 1 SOKAWERA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Oleh; Sri Haryati, S.Pd.

Abstrak

Penelitian tindakan kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Matematika operasi bilangan bulat bagi bagi siswa kelas I SD Negeri 1 Sokawera pada semester I tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 1 Sokawera Unit Pendidikan Kecamatan Patikraja. Subjek penelitian adalah siswa kelas I SD Negeri 1 Sokawera pada semester I tahun pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 22 siswa,  terdiri dari 10 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik tes. Data-data penelitian dianalisis secara deskriptif komparatif. Penelitian menempuh prosedur dua siklus. Setiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa melalui penggunaan alat peraga manik-manik hasil belajar Matematika operasi bilangan bulat siswa kelas I SD Negeri 1 Sokawera pada semester I tahun pelajaran 2014/2015 dapat ditingkatkan. Nilai rata-rata pada kondisi awal 61,36 dapat ditingkatkan menjadi 79,10 pada kondisi akhir.

Kata kunci :  hasil belajar Matematika, operasi bilangan bulat, peraga manik-manik

PENDAHULUAN

Pada tahun pelajaran 2014/2015 hasil belajar Matematika siswa kelas 1 SD Negeri 1 Sokawera masih rendah. Rerata nilai dari dua kali ulangan hanya mencapai 61,36. Hasil tersebut tersebut bertolak belakang dengan harapan yang diinginkan. Harapannya, nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas I minimal sama dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan sebesar 68.

Rendahnya hasil belajar siswa kelas I dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah pelaksanaan pembelajaran yang kurang berlualitas. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru masih banyak berceramah, pemilihan dan penggunaan peraga/media pembelajaran kurang tepat dan masih seadanya, penggunaan alat peraga masih minim, dan beberapa hal lain yang kurang prose pembelajaran. Akibatnya pembelajaran menjadi kurang dinamis, siswa lebih ditempatkan sebagai obyek pembelajan bukan sebagai sebagai subyek. Dampak lebih lanjut adalah pencapaian hasil belajar yang rendah.

Melihat kesenjangan yang terjadi di kelasnya, guru merasa bertanggungjawab atas prestasi siswanya. Guru kelas melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar para siswanya.  Salah satu cara yang dilakukan adalah melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas dengan harapan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.

KAJIAN TEORI

Hakekat Belajar

Belajar adalah suatu aktivitas untuk menghasilkan perubahan pada diri individu. Bahwa perubahan yang diharapkan itu berupa kemampuan-kemampuan baru dalam memberikan respons terhadap stimulus yang diterima (Masyhuri HP, 1990: 52). Rumusan belajar dari E. R. Hilgart: “Learning is the process by which an activity originates or is changed throung training procedures”. Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan yang mungkin membuahkan atau menghasilkan pola kelakuan tertentu (yang belum dimiliki sebelumnya) tetapi mungkin pula merubah pola kelakuan (yang telah dimiliki sebelumnya). Pola kelakuan atau tingkah laku dari seseorang dipengaruhi oleh apa yang dimiliki orang tersebut (sifat-sifatnya, pengalamannya, pengetahuan, ketrampilan-ketrampilannya, sikapnya, keadaan jasmaninya dan sebagainya), tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Hasil belajar dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, diantaranya dorongan dari dalam diri (motif), bahan yang dipelajari, alat-alat, banyaknya waktu yang digunakan, cara belajar dan sebagainya.

Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar dapat disamakan pengertiannya dengan produk belajar, yaitu merupakan suatu pola perubahan nilai,  makna, apresiasi, kecakapan, ketrampilan, yang berguna bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990: 172  ). Ada tiga ranah hasil belajar yang berupa pengetahuan-pengetahuan atau kemampuan –  kemampuan baru yang bersifat keilmuan. Ranah afektif adalah hasil belajar yang berupa perubahan-perubahan perilaku sebagai akibat telah dilakukannya proses belajar. Sedangkan ranah psikomotorik adalah hasil belajar yang berupa ketrampilan-ketrampilan praktis oleh anggota badan seperti tangan, kaki, alat indera dan sebagainya.

Hasil belajar mempunyai hubungan yang erat dengan prestasi belajar. Pengertian hasil belajar dianggap sama dengan pengertian prestasi belajar. Hasil belajar menunjukkan kualitas jangka waktu yang lebih panjang, misalnya satu cawu, satu semester dan sebagainya. Sedangkan prestasi belajar menunjukkan kualitas yang lebih pendek, misalnya satu pokok bahasan, satu kali ulangan harian, dan mengikuti lomba mendapat juara.

Hasil belajar Matematika adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran Matematika setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Matematika dalam kurun waktu tertentu dan program tertentu.  Bukti telah dikuasainya kemampuan-kemampuan baru oleh peserta didik dinyatakan dengan nilai berupa angka-angka. Makin tinggi nilai yang diperoleh siswa berarti semakin tinggi pula tingkat kemampuan barunya.

Untuk memperoleh nilai, maka dilakukan kegiatan penilaian. Dalam kontek pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan oleh guru. Penilaian kelas dapat dilaksanakan melalui teknik tes  (tertulis, lisan, dan perbuatan) dan non tes berupa pemberian tugas, tes perbuatan/praktik, dan kumpulan hasil kerja siswa (Depdiknas, 2002: 5). Jenis penilaian kelas meliputi ulangan harian, pemberian tugas, dan ulangan umum.

Operasi bilangan bulat

Untuk mengoperasikan penjumlahan bilangan bulat sering digunakan tanda tambah ( + )  dan tanda kurang ( – ) sebagaimana yang telah lazim dikenal. Tanda ( + ) atau tanda ( – ) pada suatu bilangan merupakan petunjuk terhadap kedudukan dari bilangan. Operasi dua atau lebih bilangan yang mempergunakan tanda ( + ) merupakan operasi tambah atau penjumlahan. Sedangkan tanda ( – ) merupakan operasi kurang atau selisih.

Alat Peraga manik- manik

Alat peraga adalah alat pengajaran yang hanya untuk satu jam pelajaran saja. Faedah dari alat peraga adalah membantu cara guru memberikan pelajaran, agar murid dapat lebih jelas menerima keterangan-keterangan tersebut (Abu Ahmadi, 1978: 95). Alat peraga juga disebut sebagai alat bantu mengajar, yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk memahamkan anak-anak mengenai pelajaran yang masih belum jelas, belum dimengerti ataupun masih dirasa sulit.

Dari uraian di atas dapat diphami, bahwa alat peraga adalah benda yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dengan baik. Alat peraga dapat berupa benda sesungguhnya, model atau tiruan benda, gambar- gambar, alat-alat elektronika sebagai alat bantu yang dapat didengar, dilihat, atau dilihat dan didengar.

Alat peraga manik manik adalah alat peraga yang digunakan untuk memberikan pemahaman tentang pengerjaan bilangan bulat berbentuk lingkaran yang berwarna-warni.

Kerangka Berpikir

Pada kondisi awal, guru belum dengan tepat menggunakan alat peraga manik-manik dalam proses belajar mengajar. Hasil belajar siswa masih rendah. Nilai rata-rata yang dicapai 61,36 padahal KKM yang ditetapkan 68.

Menyadari akan hasil belajar siswa yang rendah, guru mencoba melakukan tindakan untuk dapat meningkatkannya dengan menggunakan alat peraga manik-manik dalam proses belajar mengajar.  Pada siklus I, kegiatan belajar mengajar menggunakan alat peraga manik-manik secara berkelompok. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok. Pada siklus II kegiatan belajar mengajar kembali menggunakan manik- manik secara individual.

Meningkatnya kualitas dan kuantitas penggunaan alat peraga manik-manik dari siklus I  ke siklus II diduga akan terjadi peningkatan hasil belajar  penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas I.   Kerangka berpikir dalam Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dilihat pada gambar skema berikut ini.

KERANGKA BERPIKIR

srih

Berdasarkan kajian teoretis dan kerangka berpikir di atas, maka diajukan hipotesis tindakan penelitian “Melalui penggunaan alat peraga manik-manik dapat meningkatkan hasil belajar Matematika operasi bilangan bulat bagi siswa kelas I SD Negeri 1 Sokawera Unit Pendidikan Kecamatan Patikraja pada semester I tahun pelajaran 2014/2015”.

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas dilaksnakan di SD Negeri 1 Sokawera pada semester 1 tahun pelajaran 2014/2015. Subyek penelitian sebanyak 22 siswa kelas I yang terdiri dari 10 siswa perempuan dan 12 siswa laki – laki.

Data yang digunakan dalam penelitian merupakan data primer berupa nilai hasil belajar subyek penelitian. Setelah data  penelitian diperoleh, maka dilakukan analisis data dengan cara mencari nilai tertinggi, nilai terendah, rata-rata nilai, dan modus. Analisis data dilakukan secara deskriptif  komporatif, yaitu membandingkan data kondisi awal dengan siklus I,  siklus I dengan siklus II, dan antara data kondisi awal dengan data akhir siklus II. Penelitian dikatakan berhasil apabila nilai rata-rata subjek penelitian mengalami peningkatan dari kondisi awal menuju kondisi akhir siklus II.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal

Hasil belajar siswa kelas I SD Negeri 1 Sokawera rendah, buktinya dari dua kali ulangan harian diperoleh rata-rata 61,36. Hasil tersebut dikatakan rendah, karena belum mencapai KKM yang telah ditetapkan, yaitu 68. Rendahnya hasil belajar disebabkan guru belum memanfaatkan alat peraga yang semestinya. Guru masih banyak berceramah, sehingga siswa kurang aktih dalam pembelajaran. Akibatnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran rendah.

Siklus I

Tindakan kelas dalam siklus I dilaksanakan pada tanggal 4 September 2014 dan 6 September 2014. Dalam pembelajaran, alat peraga manik-manik  digunakan secara kelompok. Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan cara: (1) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, (2) Guru mengenalkan alat-alat manik-manik yang akan digunakan dalam pembelajaran tentang operasi penjumlahan, (3) Guru mengenalkan bilangan yang akan dipelajarinya yaitu angka 1-10, (3) Guru mendemonstrasikan cara menggunakan manik-manik untuk melakukan penjumlahan, (4) Siswa mencermati manik-manik yang digunakan oleh guru untuk menghitung manik-manik, (5) Setelah dirasa cukup, siswa disuruh melakukan penjumlahan dengan menggunakan manik-manik, (6) Siswa secara berkelompok menghitung kembali penjumlahan dengan menggunakan manik-manik yang berwarna-warni.

Di akhir siklus I diadakan tes untuk materi penjumlahan bilangan 1-10.  Dari tes yang dilaksanakan diperoleh hasil 2 siswa (9,09 %) memperoleh nilai pada rentang nilai 81-90; 6 siswa (27,27% ) memperoleh nilai pada rentang nilai 71-80; 5 siswa (22,72 % ) memperoleh nilai pada rentang nilai 61-70; 9 siswa (40,90%) memperoleh nilai pada rentang nilai 51-60.  Nilai rata-rata yang berhasil dicapai 70,45.

Sebagai refleksi, nilai rata-rata pada kondisi awal 61,63 meningkat menjadi 70,45.  Peningkatan hasil belajar dari kondisi awal menuju siklus I seperti terdapat pada tabel di bawah ini.

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AWAL DENGAN AKHIR SIKLUS I

No Kondisi Nilai Rata-rata Keterangan
Naik Tetap Turun
1. Awal 61,36
2. Siklus I 70,45  8,95

Siklus II

Siklus II dilaksanakan pada  tanggal 11 September 2014  dan 13 September 2014. Materi pelajaran yang disajikan tentang penjumlahan sampai 20. Dalam pembelajaran, alat peraga manic-manik digunakan secara individual. Rangkaian pembelajaran yang ditempuh sebagai berikut: (1) Secara klasikal guru peneliti menjelaskan tentang cara menjumlahkan bilangan sampai 20. Kegiatan dimulai dengan mengenalkan bilangan lebih dari sepuluh dan pengenalan lambang bilangannya, (2) Siswa diberi kesempatan untuk menghafal dan mengurutkan bilangan dari sepuluh sampai 20, (3) Guru menyiapkan manik-manik di depan kelas dan siswa di suruh menyiapkan manik-manik yang telah dibawanya. Sebelum siswa menghitung manik-manik yang dibawanya, terlebih dulu siswa memperhatikan guru menggunakan manik manik untuk menyelesaikan penjumlahan, (4) Selanjutnya siswa memperhatikan petunjuk guru dan mengamati lambang bilangan yang ditulis oleh guru di papan tulis. Secara bersama-sama siswa menghitung manik manik sesuai dengan lambang bilangan yang ditulis guru. Siswa menghitung lagi manik manik sesuai dengan lambang bilangan berikutnya yang ditulis guru. Kemudian siswa menggabungkan manik-manik yang telah dihitung untuk selanjutnya dihitung kembali menjadi satu.

Di akhir siklus II diadakan tes untuk materi penjumlahan bilangan 1-10.  Dari tes yang dilaksanakan diperoleh nilai tertinggi 100, nilai terendah 70, dan rata-rata 79,10. Sebagai refleksi, nilai rata-rata pada akhir siklus I 70,45 meningkat menjadi 79,40.  Peningkatan hasil belajar dari kondisi awal menuju siklus I seperti terdapat pada tabel di bawah ini.

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR KONDISI AKHIR SIKLUS II DENGAN AKHIR SIKLUS II

No Kondisi Nilai Rata-rata Keterangan
Naik Tetap Turun
1. Siklus I 70,45
2. Siklus II 79,40  8,95

Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh guru peneliti sejak dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II, sesuai dengan data-data yang diperoleh ternyata terjadi perubahan hasil belajar. Pada saat kondisi awal, nilai rata-rata subjek penelitian hanya 61,36. Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 70,45. Artinya terdapat kenaikan sebesar 9,09 poin setara dengan 14,81%. Perubahan nilai rata-rata hasil belajar dari kondisi awal  ke siklus I merupakan peningkatan yang cukup tinggi sebagai akibat penggunaan alat peraga manik-manik secara kelompok.

Nilai rata-rata subjek penelitian pada akhir siklus II kembali mengalami peningkatan dari 70,45 menjadi 79,10. Kenaikan yang dicapai sebesar 8,65 atay setara dengan 12,27%. Naiknya nilai rata-rata hasil belajar subyek penelitian tidak terlepas dari penggunaan alat peraga manik-manik dalam pembelajaran. Terlebih dengan adanya perubahan penggunaan alat peraga tersebut dari penggunaan secara kelompok menjadi secara individual. Penggunaan alat peraga manik-manik pada siklus II semakin memberi kesempatan kepada siswa untuk berperan aktih dalam pembelajaran.

Secara keseluruhan, hasil belajar subyek penelitian terus mengalami peningkatan sejak dari kondisi awal sampai akhir siklus II. Peningkatan hasil belajar tersebut secara jelas dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

DIAGRAM HASIL BELAJAR

sriha

Berdasar diagram di atas, nilai rata-rata subjek penelitian dari kondisi awal menuju siklus I mengalami peningkatan sebesar 8,09 poin.   Sedangkan peningkatan nilai rata-rata dari siklus I menuju siklus II  sebesar  8,65 poin.  Total kenaikan dari kondisi awal menuju akhir siklus II sebesar 17,74 poin atau 28,91%.

PENUTUP

Berdasarkan data-data yang diperoleh selama penelitian, nilai rata-rata subyek penelitian terus mengalami peningkatan. Nilai rata-rata nilai kondisi awal 61,4 dapat ditingkatkan menjadi 70,45 di akhir siklus I. Nilai rata-rata dari siklus I menuju siklus II mengalami peningkatan dari 70,45 menjadi 79,10. Secara total kenaikan nilai rata-rata dari kondisi awal sampai akhir siklus II sebesar 17,74 (28,91%).  Atas dasar hal tersebut, maka hipotesis penelitian “Melalui penggunaan alat peraga manik-manik dapat meningkatkan hasil belajar Matematika operasi bilangan bulat bagi siswa kelas I SD Negeri 1 Sokawera Unit Pendidikan Kecamatan Patikraja pada semester I tahun pelajaran 2014/2015”, terbukti.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar untuk meyakinkan para  guru, bahwa alat peraga memiliki peran besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berujung pada peningkatan hasil belajar peserta didik. Sejalan dengan hal tersebut, maka sudah seharusnya bagi sekolah untuk dapat melengkapi alat-alat bantu pembelajaran yang dibutuhkan oleh semua guru sehingga mereka terdorong untuk senantiasa meningkatkan kualitas pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL). Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Abu Ahmadi. 1978. Ilmu Pendidikan. Semarang: C.V. Toha Putra.

Hilgart, E.R. and Bower G.H. 1975. Theory of Learning. Englewood Chiffs: New Jersey Prentice Hall Inc.

Masyhuri HP. 1990. Asas-Asas Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Psikologi Belajar. Semarang: IKIP Semarang Press.

BIODATA PENULIS

Nama                  : Sri Haryati, S.Pd.

NIP                    : 19600706 198012 2 004

Pangkat              : Pembina

Gol. / Ruang       : IV / a

Jabatan               : Guru Kelas

Unit Kerja          : SD Negeri 1 Sokawera Unit Pendidikan Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *