PTK SMP Pembelajaran Model POE Berbasis Konstektual

PEMBELAJARAN MODEL POE BERBASIS KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN DISPOSISI MATEMATIS DAN TANGGUNG JAWAB MATERI TEOREMA PYTHAGORAS KELAS VIII

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perangkat pembelajaran POE Berbasis kontekstual yang valid, praktis, serta pembelajaran yang efektif. Pengembangan perangkat pembelajaran dilakukan dengan menggunakan model  4-D Thiagarajan, dkk. namun peneliti hanya menempuh 3D, yang terdiri atas define, design, dan develop. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan adalah silabus, RPP, LKS, Buku Siswa, dan Tes kemampuan Disposisi Matematis (TKDM).Subjek ujicoba penelitian ini dilakukan di kelas VIII SMPN 1 Pekuncen. Hasil validasi perangkat pembelajaran dinyatakan valid menurut ahli karena diperoleh rata-rata validasi dalam rentang skor antara 1-5, yaitu: Silabus 4.34, RPP 4,23, LKS 4,27, Buku Siswa 4,17, TKDM 4,37, serta TKDM telah memenuhi validitas isi, taraf kesukaran berimbang, daya pembeda signifikan, dan reliabel. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan praktis, karena setelah diujicobakan diperoleh hasil: (1) adanya respon positif dari respon siswa(3,27), (2) adanya respon yang baik dari guru, (3) kemampuan guru mengelola pembelajaran pada kategori baik (4,48).Pembelajaran efektif pada kelas eksperimen karena setelah diujicobakan diperoleh hasil: (1) kemampuan disposisi matematis siswa telah mencapai ketuntasan klasikal (85%), (2) rata-rata kemampuan disposisi matematis siswa kelas uji coba perangkat lebih baik dari kelas kontrol, (3) adanya pengaruh positif ketrampilan disposisi matematis dan tanggung jawab siswa terhadap kemampuan disposisi matematis (R Square = 0,64), (4) adanya peningkatan kemampuan disposisi matematis (t=13,115). Dapat disimpulkan bahwa pengembangan perangkat memenuhi kriteria valid, praktis, dan pembelajarannya efektif.

Kata Kunci : POE berbasis kontekstual, disposisi matematis dan tanggung jawab.

 

PENDAHULUAN

Temuan di SMP Negeri 1 Pekuncen, yaitu nilai matematika materi teorema pythagoras pada semester gasal tahun pelajaran 2014/ 2015 sebagian besar nilainya dibawah 65, hal ini disebabkan kurang memahami konsep dan prinsip matematika, apalagi menerapkannya terutama pada materi geometri. Menurut Soemadi (1994) agar dapat belajar geometri dengan baik dan benar, siswa dituntut untuk menguasai kemampuan dasar geometri, keterampilan dalam pembuktian, keterampilan membuat lukisan dasar geometri, dan mempunyai pandangan bentuk abstrak yang memadai.

Temuan Soedjadi (1991) menunjukkan bahwa unit geometri (bagian dari matematika sekolah ) tampak merupakan unit dari pelajaran matematika yang tergolong sulit. Materi teorema pythagoras  merupakan bagian dari geometri masih dianggap sulit oleh siswa, terutama mengenai aplikasi penggunaan teorema pythagoras

Berdasarkan permasalahan di atas, sangat diperlukan diadakan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran model POE berbasis kontekstual untuk meningkatkan disposisi matematis dan tanggung jawab materi teorema pythagoras kelas VIII. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan hasil pengembangan perangkat pembelajaran model POE berbasis kontekstual untuk meningkatkan disposisi matematis dan tanggung jawab materi teorema pythagoras kelas VIII.

Model pembelajaran Predict Observation Explanation (POE) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa karena pada model pembelajaran ini siswa tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengamati peristiwa yang terjadi melalui eksperimen (Indrawati dan Setiawan, 2009:45 ) menyatakan POE adalah singkatan dari Predict-Observe-Explain. POE ini sering disebut suatu model pembelajaran dimana guru menggali pemahaman peserta didik dengan cara meminta mereka melaksanakan tiga tugas utama yaitu meramalkan, mengamat, dan memberikan penjelasan.

Menurut Suparno (2013), POE adalah singkatan dari prediction, observation, dan explanation. Pembelajaran dengan model POE menggunakan 3 langkah utama, yaitu: (1) Prediction (prediksi) adalah merupakan suatu proses membuat dugaan terhadap suatu peristiwa fisika. Dalam membuat dugaan siswa sudah memikirkan alasan mengapa ia membuat dugaan seperti itu. Dalam proses ini siswa diberi kebebasan seluas-luasanya menyusun dugaan dengan alasannya, sebaiknya guru tidak membatasi pemikiran siswa sehingga banyak gagasan dan konsep fisika muncul dari pikiran siswa. Semakin banyaknya muncul dugaan dari siswa, guru akan dapat mengerti bagaimana konsep dan pemikiran fisika siswa tentang persoalan yang diajukan. Pada proses prediksi ini guru juga dapat mengerti miskonsepsi apa yang banyak terjadi pada diri siswa. Hal ini penting bagi guru dalam membantu siswa untuk membangun konsep yang benar. (2) Observation (observasi) yaitu melakukan penelitian, pengamatan apa yang terjadi. Dengan kata lain siswa diajak untuk melakukan percobaan, untuk menguji kebenaran prediksi yang mereka sampaikan. Pada tahap ini siswa membuat eksperimen, untuk menguji prediksi yang mereka ungkapkan. Siswa mengamati apa yang terjadi, yang terpenting dalam langkah ini adalah konfirmasi atas prediksi mereka. (3) Explanation (eksplanasi) yaitu pemberian penjelasan terutama tentang kesesuaian antara dugaan dengan hasil eksperimen dari tahap observasi. Apabila hasil prediksi tersebut sesuai dengan hasil observasi dan setelah mereka memperoleh penjelasan tentang kebenaran prediksinya, maka siswa semakin yakin akan konsepnya. Akan tetapi, jika dugaannya tidak tepat maka siswa dapat mencari penjelasan tentang ketidaktepatan prediksinya. Siswa akan mengalami perubahan konsep dari konsep yang tidak benar menjadi benar. Disini, siswa dapat belajar dari kesalahan, dan biasanya belajar dari kesalahan tidak akan mudah dilupakan.

Pendekatan kontekstual adalah pendekatan konsep belajar yang membantu guru mengaitakan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. (Depdiknas, 2003 : 1). Melalui landasan filosofi konstruktivisme, pendekatan kontekstual menjadi alternatif pendekatan pembelajaran. Melalui pendekatan kontekstual siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghapal. Di dalam kurikukum pendidikan matematika disebutkan bahwa salah satu tujuan pendidikan matematika adalah melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan misalnya melalui penyelidikan, eksplorasi dan ini selaras dengan prisip konstruktivisme dalam pendekatan kontekstual. Karena melalui penyelidikan dan eksplorasi siswa dituntut untuk menbangun pengetahuannya sendiri dari kegiatan mengalami dan bukan menghafal.Selain hal di atas, melalui pendekatan kontekstual siswa dapat mengembangkan kemampuan dalam bekerja sama dan berkomunikasi, Siswa lebih aktif, kreatif dan mampu berfikir kritis dan pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih bermakna.

Salah satu faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar matematika siswa adalah disposisi mereka terhadap matematika (Anku, 1996). Menurut NCTM (1989) disposisi matematis mencakup beberapa komponen sebagai berikut.(a).Percaya diri dalam menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah, mengkomunikasikan ide-ide matematis, dan memberikan argumentasi. (b). Berpikir fleksibel dalam mengeksplorasi ide-ide matematis dan mencoba metode alternatif dalam menyelesaikan masalah. (c). Gigih dalam mengerjakan tugas matematika (d). Berminat, memiliki keingintahuan (curiosity), dan memiliki daya cipta (inventiveness) dalam aktivitas bermatematika. (e) Memonitor dan merefleksi pemikiran dan kinerja. (f). Menghargai aplikasi matematika pada disiplin ilmu lain atau dalam kehidupan sehari-hari. (g) Mengapresiasi peran matematika sebagai alat dan sebagai bahasa.

            Tujuan Penelitian yaitu : (1) Menghasilkan perangkat pembelajaran matematika yang menggunakan model POE berbasis kontekstual untuk meningkatkan disposisi matematis dan tanggung jawab materi teorema pythagoras valid. (2) Menguji kepraktisan perangkat pembelajaran menggunakan model POE berbasis kontekstual untuk meningkatkan disposisi matematis dan tanggung jawab teorema pythagoras. (3) Menguji efektifitas pembelajaran matematika menggunakan model POE berbasis kontekstual untuk meningkatkan disposisi matematis dan tanggung jawab materi teorema pythagoras.

KAJIAN LITERATUR DAN TEORI

Tuntutan Kurikulum 2006 adalah menyangkut pengembangan ketiga aspek pembelajaran yakni meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Melalui pembelajaran  POE berbasis kontekstual  pendidikan sangat mungkin dikembangkan ketiga aspek tersebut. Setiap materi yang sudah dirancang di dalam jabaran kurikulum 2006 dapat dikembangkan dan didesain lagi untuk disesuaikan dengan pembelajaran POE. Dengan pembelajaran POE berbasis kontekstual didesain sesuai teori belajar Piaget tentang kemampuan mengungkapkan hipotesis (Prediction), Pengamatan (Observation) dan menjelaskan sambil mengambil kesimpulan (Explanation), sesuai pembelajaran POE dengan disposisi matematis  dan tanggung jawab siswa meningkat.

Dalam pembelajaran POE berbasis kontekstual dilakukan secara berkelompok sehingga terjadi interaksi sosial dalam menyelesaikan masalah, dan terjadi pembelajaran learning to be jika dilakukan secara berkesinambungan sehingga siswa terbiasa bertindak dan berpikir .

Pembelajaran dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang disposisi matematis dan tanggung jawab.  Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan perangkat unntuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang valid, praktis dan efektif, supaya perangkat yang dikembangkan mencapai hasil yang baik, maka dipilih pengembangan modifikasi model Four-D (4D) yang dikemukakan oleh Thiagarajan dalam Rochmad (2012).

Tahap awal dengan pengumpulan data kemudian perencanaan. Tahap berikutnya tahap pengembangan tes, dan evaluasi, dilakukan validasi ahli untuk menguji aspek kevalidan dan revisi draf 1 sebagai pengembangan berdasar pada validasi. Perangkat yang dihasilkan draf 1 setelah mengalami revisi, maka perangkat pembelajaran itu dinyatakan valid menghasilkan draf 2. Pada tahap ini juga setelah perangkat draf dinyatakan valid kemudian dilakukan uji coba di kelas untuk mendapatkan data kepraktisan dan keefektifan.

Tahap uji kelas terbatas akan diperoleh data hasil obsevasi dilapangan, siswa dan peneliti dapat melaksanakan aktifitas proses belajar mengajar yang dicantumkan pada RPP dengan perangkat yang telah dinyatakan valid oleh validator.

Pengujian keefektifan perangkat, maka siswa diberi tugas terstruktur melalui kegiatan belajar, yaitu mengekplorasi, mengelaborasi dan konfirmasi. Pada tahap eksplorasi peneliti menanamkan tanggung jawab belajar dan ketrampilan disposisi matematis, melalui pemberian soal-soal dengan model POE yaitu  menduga, mengamati dan memberikan penjelasan, sehingga dapat merangsang siswa terbentuk kemampuan disposisi matematis.

Tahap elaborasi ditandai dengan penguatan pemahaman siswa dan tahap terakhir adalah konfirmasi, yaitu tahap penyempurnaan tanggung jawab siswa dan ketrampilan disposisi matematis, sehingga dapat berpengaruh terhadap kemampuan siswa terhadap peningkatan disposisi matematis.  Setelah tahapan ini dilaksanakan maka perangkat akan menjadi valid, praktis dan efektif.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yaitu pengembangan perangkat pembelajaran matematika dengan model POE (PredictionObservation and Explanation) berbasis kontekstual. Pengembangan perangkat pembelajaran ini difokuskan pada penyusunan perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan disposisi matematis siswa yang memenuhi kriteria efektif pada materi teorema pythagoras.

Produk yang akan dikembangkan dan diuji efektivitasnya dalam penelitian ini adalah perangkat pembelajaran matematika dengan model POE berbasis kontekstual. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), Buku Ajar Siswa, dan Tes Kemampuan Disposisi Matematis (TKDM). Untuk menguji efektivitas produk dalam mencapai tujuan penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengukuran hasil belajar yang meliputi: (1) hasil belajar afektif, berupa karakter tanggung jawab, (2) hasil belajar psikomotorik, dalam hal ini pengamatan keterampilan proses disposisi, serta (3) hasil belajar kognitif, berupa hasil tes kemampuan disposisi matematis.

Model pengembangan perangkat yang akan digunakan pada penelitian ini Model pengembangan perangkat yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk yang dikenal dengan model 4-D. Model ini terdiri atas 4 tahap pengembangan perangkat yaitu define, design, develop, dan disseminate.namun dalam penelitian ini, peneliti hanya menempuh 3-D, yaitu tahap pendefinisian (define), perancangan (design), dan tahap pengembangan (develop).

Instrumentes kemampuan disposisi matematis (TKDM)sebelum digunakan untuk mengambil data di kelas eksperimen dan kelas kontrol, terlebih dahulu dilakukan uji coba di kelas uji coba instrumen. Hal ini berguna untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda soal tes. Data yang diperoleh dari hasil uji coba dianalisis dan dilakukan revisi jika diperlukan. Setelah dilakukan uji coba instrumen tes kemampuan disposisi matematis maka kegiatan selanjutnya adalah melakukan uji coba lapangan. Uji coba perangkat pembelajaran dilakukan di kelas VIII SMP Negeri 1 Pekuncen. Dari 7 kelas yang terdapat di kelas VIII, dipilih satu kelas yang akan diberikan pembelajaran dengan model POE berbasis kontekstual, sedangkan satu kelas lainnya dengan pembelajaran konvensional. Kelas yang dijadikan sebagai kelas eksperimen yaitu kelas VIII B, kelas yang dijadikan sebagai kelas kontrol adalah kelas VIII A, dan kelas uji coba instrumen dilakukan pada kelas VIIIC.

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Arikunto (2010 : 266) menyatakan bahwa “data yang diungkap dalam penelitian dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: fakta, pendapat, dan kemampuan”. Oleh karena itu, metode dalam mengumpulkan data pada penelitian ini berupa metode tes, kuesioner, dan observasi.

Keefektifan dilakukan dengan melakukan uji ketuntasan, uji banding, uji pengaruh, dan uji peningkatan. Uji ketuntasan dilakukan dua tahap, yaitu pada uji ketuntasan individual dan klasikal. Pada uji ketuntasan individual peneliti melihat ketuntasan dari rata-rata nilai yang diperoleh siswa, apakah kurang atau lebih dari KKM. Pembelajaran dikatakan tuntas jika kemampuan pemecahan masalah tuntas atau kemampuan disposisi matematis melebihi nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75, dengan dilaksanakan tes kemampuan pemecahan masalah. Uji banding atau uji beda rata-rata untuk mengetahui apakah kemampuan disposisi matematis antara yang menggunakan perangkat pembelajaran dengan model POE berbasis kontekstual lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Uji pengaruh dilakukan dengan analisis regresi yang digunakan untuk mengetahui pengaruh karakter cinta budaya pesisir dan keterampilan proses siswa terhadap kemampuan disposisi matematis.

 

TEMUAN

  1. Analisis Validasi Instrumen

Hasil validasi dari para validator terhadap pengembangan perangkat, Silabus, RPP, Buku Ajar Siswa, LKS, dan TKDM disajikan pada Tabel Rekapitulasi Nilai Validator terhadap Pengembangan perangkat seperti Tabel 1.

Tabel 1

Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran

No Rekapitulasi Validator Rata-rata Kriteria
V 1 V 2 V 3 V 4 V 5 V 6 V 7
1. Silabus 4,1 4,0 4,7 4,7 4,4 4,6 3,9 4,34  Baik
2. RPP 3,95 3,9 4,55 4,55 4,25 4,55 3,9 4,23 Baik
3. Buku Siswa 3,8 4,0 4,6 4,4 4,2 4,4 3,80 4,17 Baik
4. LKS 4,1 4,0 4,5 4,7 4,1 4,7 3,8 4,27  Baik
5. TKDM 4,0 3,8 4,3 4,48 4,5 4,63 3,87 4,37 Baik

Dari keenam Validator, nilai rata-rata validasi perangkat yaitu  baik. Dengan demikian perangkat pembelajaran dikatakan valid, hal ini melebihi batas minimal pengkriteriaan awal yaitu dikatakan valid jika skor rata-rata minimal berada pada kriteria baik.

  1. Analisis Uji Kepraktisan

Uji kepraktisan perangkat pembelajaran dilakukan dengan pengamatan keterpakaian perangkat dalam proses pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran dengan model POE berbasis kontekstual. Hasil dari pengamatan yang dilakukan observer selama 6 kali pertemuan diperoleh rata-rata 4,48 dan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan maka keterpakaian perangkat dalam proses pembelajaran termasuk dalam kategori sangat tinggi.

Data respon siswa diperoleh melalui angket yang disebarkan kepada siswa setelah pembelajaran selesai dilaksanakan. Data tersebut kemudian dianalisis berdasarkan rata-ratanya. Hasil respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan model POE berbasis kontekstual yang dilaksanakan selama 6 kali pertemuan adalah 3,22. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa memberikan respon dengan kriteria baik untuk pembelajaran matematika dengan model POE berbasis kontekstual pada materi teorema pythagoras.

Berdasarkan hasil pengamatan keterpakaian perangkat dalam proses pembelajaran dengan kriteria sangat tinggi dan respon siswa yang sangat baik terhadap pembelajaran matematika dengan model POE  berbasis kontekstual, maka disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran sudah memenuhi kriteria praktis.

  1. Analisis Uji Efektifitas

Data hasil penelitian digunakan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran dengan menggunakan model POE  berbasis kontekstual. Tingkat keefektifan diukur melalui uji statistika : 1) Uji ketuntasan, 2) Uji banding, 3) Uji pengaruh, dan 4) Uji peningkatan.

Uji ketuntasan dilakukan dua tahap, yaitu uji ketuntasan individual dan klasikal. Pada uji ketuntasan individual peneliti melihat ketuntasan dari rata-rata nilai yang diperoleh siswa, apakah kurang atau lebih dari KKM, Sedangkan uji ketuntasan klasikal digunakan untuk melihat proporsi siswa yang mendapat nilai lebih dari KKM, apakah kurang dari kriteria yang sudah ditentukan atau sudah melebihi.

Hasil uji ketuntasan individual berdasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung = 11,048. Taraf  signifikan  5%  dan dk = (n -1) = 39 diperoleh nilai ttabel = 1,68, maka thitung> ttabel, hal ini berarti juga bahwa rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa pada kelas uji coba melampaui KKM. Hasil perhitungan uji ketuntasan klasikal diperoleh nilai z = 1,899 lebih besar dibandingkan ztabel yaitu 1,65 dengan dan taraf kesalahan 5% maka hipotesisditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar secara klasikal pada nilai rata-rata TKDM kelas eksperimen dengan model POE  berbasis kontekstual tercapai.

Uji banding dalam penelitian ini dibagi dalam 2 bagian yaitu uji beda rata-rata dan uji beda proporsi. Uji beda rata-rata dua sampel independen digunakan untuk mengetahui apakah kemampuan pemecahan masalah antara siswa yang menggunakan perangkat pembelajaran dengan model POE  berbasis kontekstual (kelas eksperimen) lebih baik dibanding siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional (kelas kontrol). Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai  sebesar 4,663 sedangkan  tabel sebesar 1,66. Tabel 2 berikut adalah deskripsi nilai tes kemampuan disposisi matematis (TKDM) kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Tabel. 2.

T-TestIndependent Samples Test

Levene’s Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference
Lower Upper
KemampuanDisposisi Matematik Equal variances assumed 4,048 ,049 4,663 62 ,000 8,62500 1,84956 4,92779 12,32221
Equal variances not assumed 4,663 54,167 ,000 8,62500 1,84956 4,91712 12,33288

Berdasarkan data di atas, rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol dan thitung >ttabel  maka rataan nilai Tes Kemampuan disposisi matematis kelas eksperimen  dengan model POE berbasis kontekstual  lebih baik dibanding  kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Uji beda proporsi digunakan untuk membandingkan proporsi ketuntasan kemampuan pemecahan masalah siswa yang pembelajarannya menggunakan model POE berbasis kontekstualdengan kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional.      Perhitungan thitungsama dengan hasil output SPSS. Dari output SPSS, tabel One-Sample Test pada kolomt terlihat nilai thitung sebesar 11,048 dengan df = 31 Dengan taraf signifikan    5 % diperoleh ttabel= t(31,005) =1,684 Terlihat jelas bahwa thitung>ttabel maka H0 ditolak. Artinya rataan kemampuan disposisi matematis kelas model POE berbasis kontekstual melampaui 75..

Uji pengaruh dalam penelitian ini adalah pengaruh karakter tanggung jawab dan keterampilan disposisi matematis terhadap kemampuan disposisi matematis. Berdasarkan perhitungan yang diperoleh sebelumnya, terlihat bahwa ada pengaruh yang cukup signifikan untuk karakter cinta budaya pesisir dan keterampilan proses terhadap kemampuan disposisi matematis. Hal ini terlihat pula dari nilai angket karakter disposisi matematis, nilai pengamatan keterampilan, dan nilai tes kemampuan disposisi matematis pada kelas eksperimen yang menunjukkan adanya pengaruh positif antar variabel-variabel tersebut. Berikut adalah hasil SPSS besar pengaruh karakter tanggung jawab dan keterampilan terhadap kemampuan disposisi matematis.

Tabel 4.11

 Output ANOVA Regresi Ganda

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 672.586 2 336.293 25.738 .000a
Residual 378.914 29 13.066
Total 1051.500 31
a. Predictors:(Constant), Postes Tanggung jawab, Postes Ketrampilan Disposisi Matematis Eks
b. Dependent Variable: Postes Kemampuan Disposisi Matematis Eks

Dari tabel 4.1.1 diperoleh nilai F = 25.738 dan nilai sig 0,000 = 0% < 5%. Ini berarti menolah Ho atau persamaan linier dapat disimpulkan bahwa disposisi matematis dan tanggungjawab secara bersama-sama berpengaruh terhadap kemampuan disposisi matematis.

Berdasarkan hasil pretes dan postes Kemampuan disposisi matematis kelas uji coba perangkat maka dilakukan uji Normalitas Gain (untuk mengetahui kriteria peningkatan kemampuan pemecahan masalahnya. Hasil yang diperoleh yaitu kriteria rendah 0 %,  sedang 62,50 %, dan tinggi  37,50 %. Rata-rata klasikal nilai Normalitas Gain) dapat ditentukan berdasarkan rata-rata nilai kemampuan disposisi matematis yang diukur dari hasil postes dan rata-rata nilai kemampuan disposisi matematis yang diukur dari hasil pretes. Nilai rata-rata kemampuan disposisi matematis pada pretes adalah 72,28, sedangkan nilai rata-rata kemampuan disposisi matematis pada postes adalah 85,2. Nilai maksimum pada pretes dan postes yang ditentukan adalah 100.

 

KESIMPULAN

Perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan model POE berbasis kontekstual adalah valid berdasarkan pertimbangan para ahli. Hasil validasi ahli menunjukan rata-rata validasi dengan skala 1,00 sampai 5,00 yaitu Silabus adalah 4,34 (baik); RPP adalah 4,23 (baik); LKS adalah 4,17 (baik); Buku Siswa adalah 4,27 (baik); dan TKDM adalah 4,37 (baik).

Siswa memberikan respon sangat baik untuk pembelajaran matematika dengan model POE  berbasis kontekstual pada materi teorema pythagoras dan keterpakaian perangkat pembelajaran termasuk dalam kategori sangat tinggi. Adanya pengaruh positif karakter tanggung jawab dan keterampilan disposisi matematis terhadap kemampuan disposisi matematis, hal ini ditunjukan oleh nilai R Square pada Output Model Summary sebesar 0,64, artinya sebesar 64 % karakter tanggung jawab dan keterampilan disposisi matematis mempengaruhi kemampuan disposisi matematis. Adanya peningkatan pada pembentukan karakter tanggung jawab dan keterampilan disposisi matematis pada siswa pilihan (subjek penelitian) yang berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan disposisi matematis siswa.

 

SARAN

Perlu adanya penelitian lebih lanjut sebagai pengembangan untuk tingkat kelas yang berbeda atau pada pokok bahasan yang berbeda agar penggeneralisasian kesimpulan penelitian ini dapat secara menyeluruh diterapkan pada bidang studi matematika

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Tindakan Praktik. Edisi Revisi IV. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Depdiknas. (2003), Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : DepartemenPendidikanNasional.

Rochmad,  (2012). “Desain Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika” Jurnal Kreano, Volume 3 (1).

Soedjadi. (1991).Kiat Pendidikan Matematika di indonesia (Konstatasi Masa Kini Menuju Masa Depan). Jakarta :DirjenDiktiDepdiknas

Soemadi. (1994). Pengajaran Geometri di Sekolah-sekolah Indonesia (Suatu Pemikiran Alternatif ), Pidato Pengukuhan Jabatan Lektor Kepala pada FPMIPA IKIP Surabaya, Surabaya.

Sukestiyarno. (2013). Olah Data Penelitian berbantuan SPSS. Semarang: UNNES.

Sugiyono,. (2010).  Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan R & D) .  Bandung : Alfabeta.

Suparno,  P. (2013).  Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan Fisika. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

Thiagarajan, S., dkk. (1974). Instructional Development for Training Teachers of Exceptional Children, A Source Book. Blomington: Center of Inovation on Teaching the Handicapped Minnepolis Indiana University. Tersedia: http://www.eric.ed.gov/ PDFS/ED090725.pdf. (8 September 2014).

Trianto. (2009). Mendesain Model PembelajaranInofatif-Progresif.  Surabaya: Kencana Prenada Media Group.

Wardhani, S. (2004). ”Pembelajaran Matematika Kontektual”. Yogyakarta. Dirjen Dikdas Men. PPPG Mat.

Wassenar, (2007). Info Sekolah Indonesia. http://www.sekolah indonesia.nl/info@sekolahindonesia. [19 Juni 2007

Yupani,N.P.E., N.N, Garminah., dan Mahadewi, P,P. (2013).Pengaruh Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain (POE) berbantuan Materi Bermuatan Kearifan Lokal Terhadap Hasil Belajar IPA SiswaKelas IV. (Skripsi).UniversitasPendidikanGanesha:Singaraja.http:www.ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/download/1363/1224. (12 Maret 2015)

Biodata  :

Nama   :  Insanul Kamil Rosyid

SMPN 1 Pekuncen Kabupaten Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *