Perjuangan Guru Menuju Kesuksesan Peserta Didik dalam Menghadapi UN

Perjuangan Guru menuju kesuksesan Peserta Didik dalam Menghadapi Ujian Nasional pada Tahun Pelajaran 2015/2016

sri

  1. Pendahuluan

Setiap tahun dunia pendidikan selalu memiliki hajatan besar yang tidak dapat dipungkiri dan harus dihadapinya. Hajatan itu tidak lain adalah Ujian Nasional. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan sekolah lanjutan atas/kejuruan berupaya untuk melaksanakan hajatan tersebut. Mulai dari sekolah di pinggiran sampai dengan di perkotaan berbenah diri untuk menyambut pesta hajatan ujian nasional. Walaupun gaung pelaksanaan ujian nasional masih lama, mereka sudah mulai mengadakan persiapan-persiapan. Hal tersebut didukung oleh Pemerintah yang  semakin berupaya untuk meningkatkan kualitas ujian nasional itu sendiri.

Berbagai sekolah berusaha meningkatkan kualitas sekolah dengan upaya memperoleh hasil yang maksimal. Faktor yang memegang peranan besar dalam kesuksesan anak didik adalah guru. Orang tua siswa sangat menggantungkan harapan masa depan anak pada guru. Seakan kunci kesuksesan itu terletak hanya pada guru. Padahal semua itu banyaklah komponen yang menentukan kesuksesan peserta didik. Komponen itu meliputi pemerintah, orang tua, guru, masyarakat, dan peserta didik itu sendiri.  Memanglah benar bahwa gurulah komponen yang terlibat langsung berkomunikasi dengan peserta didik. Paradigma itu memang tidak pernah berubah dari waktu ke waktu.

Ujian nasional pun dikatakan sebagai hal yang luar biasa di dunia pendidikan. Kisi-kisi materi ujian nasional pada Tahun Pelajaran 2015/2016 yang mengacu  pada kurikulum 2013 dengan realita  kegiatan pembelajaran sehari-hari pada sekolah-sekolah yang masih menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sangatlah menguras perhatian kita sebagai seorang guru yang mendapatkan amanat langsung dari masyarakat khususnya orang tua peserta didik di tingkatan terakhir pada jenjang pendidikan sekolah di Indonesia.

Dengan bercermin fenomena tersebut guru mulai berintrospeksi untuk meningkatkan keprofesionalannya agar dapat mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kesuksesan. Menurut  Jurnal Education Leadership [terbit Maret 1994], ada lima ukuran seorang guru dinyatakan profesional, yaitu : Pertama, memiliki komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Kedua, secara mendalam menguasai bahan ajar dan cara mengajarkan. Ketiga, bertanggung jawab memantau kemampuan belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. Keempat, mampu berpikir sistematis dalam melakukan tugas dan kelima, seyogianya menjadi bagian dari masyarakat belajar di lingkungan profesinya (P. Ruspendi, 2004). Sedangkan Makcolm Allerd mengatakan bahwa selain kelima aspek itu, sifat dan kepribadian seorang guru yang amat penting artinya bagi proses pembelajaran adalah adaptabilitas, entusiasme, kepercayaan diri, ketelitian, empati, dan kerjasama yang baik. (Imam Nur Suharno, 2012)

Adapun rumusan permasalahan yang timbul berkaitan dengan ujian nasional, antara lain:

  1. Bagaimana tantangan guru masa kini dan masa yang akan datang bagi peserta didik dalam menghadapi ujian nasional?
  2. Bagaimana kiat-kiat guru dalam mengantarkan peserta didik menuju kesuksesan Ujian Nasional Tahun pelajaran 2015/2016?

Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka artikel  ini bertujuan untuk:

  1. mengetahui tantangan guru masa kini dan masa yang akan datang bagi peserta didik dalam menghadapi ujian nasional.
  2. mengetahui kiat-kiat guru dalam mengantarkan peserta didik menuju kesuksesan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2015/2016.
  3. Pembahasan
  4. Tantangan Guru Masa Kini

Pada Tahun Pelajaran 2014/2015 hampir semua sekolah dasar maupun menengah melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mengacu Kurikulum 2013. Semua guru diberi bekal hal-hal yang berkaitan dengan Kurikulum 2013 mulai dari tingkat persiapan sampai dengan penilaian, dari pelatihan sampai dengan pendampingan. Semua itu dilakukan untuk dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan harapan kurikulum 2013. Namun, kenyataaannya semua itu hanya diberlakukan dalam kurun waktu yang sangat singkat yang pada akhirnya pelaksanaan Kurikulum 2013 ditunda.

Penundaan tersebut mengacu kepada Permendikbud 160 yang menandakan berlakunya Kurikulum 2006 dan 2013.

Pasal 1

Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 kembali melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 mulai semester kedua tahun pelajaran 2014/2015 sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013.

Pasal 2 ayat (1)

Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama 3 (tiga) semester tetap menggunakan Kurikulum 2013.

Aturan tersebut sudah jelas bagi kita bahwa sekolah yang baru menjalankan kurikulum 2013 satu semester diharuskan kembali kepada kurikulum 2006 (KTSP). Apalagi hal tersebut didukung dengan pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Anis Baswedan mengatakan, “Sekolah-sekolah yang sudah melakukan K-13 tiga semester, itu akan tetap jadikan tempat menguji kurikulum (jpnn.com; jawapos.com;beritasatu.com). Jadi biar sekolah-sekolah ini aja yang meneruskan, yang lainnya berjalan seperti biasa (mengimplementasikan kurikulum 2006),” papar Anies (dalam jpnn.com).

Pernyataan tersebut didukung di dalam pasal 4 Permendikbud 160 Tahun 2014 itu, dinyatakan bahwa Sekolah Dasar dan Menengah dapat menjalankan KTSP sampai tahun pelajaran 2019/2020. Situasi tersebut dianalogikan bayi yang baru berlatih berjalan satu langkah dipaksa untuk berhenti aktivitasnya dan kembali untuk duduk. Dengan demikian, Pada tahun pelajaran 2015/2016 sekolah dasar dan menengah kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran mengacu Kurikulum 2006. Akan tetapi, pada pertengahan semester gasal Tahun Pelajaran 2015/2016 dunia pendidikan dikejutkan dengan dikeluarkannya kisi-kisi Ujian Nasional khususnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat sekolah menengah pertama yang hampir keseluruhan teks mengacu pada materi kurikulum 2013.

Keseharian Guru dan peserta didik kelas IX tingkat SMP/MTs mengenal materi-materi seputar silabus pembelajaran kurikulum 2006. Kenyataannya, pada ujian nasional peserta didik harus mengerjakan soal-soal seputar materi pada kurikulum 2013 yang mungkin bagi mereka sangatlah asing. Inilah tantangan yang sangat berat bagi pendidik pada masa kini. Guru tidak boleh terdiam dengan kondisi seperti ini. Guru sebagai pendidik harus bisa memberikan materi kurikulum 2013 di sela waktu mengajar yang bermateri kurikulum 2006. Disinilah dibutuhkan kreativitas guru untuk berkolaborasi materi kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Guru dituntut profesional dalam melaksanakan tugasnya. Apa pun kenyataan tersebut, guru harus mampu menghadapinya. Guru harus bisa mencari solusi dari permasalahan yang berat yang akan dihadapi oleh  peserta didiknya.

  1. Tantangan Guru Masa Yang Akan Datang

Bercermin dari fenomena di atas, guru harus mempersiapkan secara matang tantangan-tantangan  pada masa yang akan datang di era global ini. Pada tahun pelajaran yang akan datang sekolah-sekolah dasar maupun menengah masih tetap mempergunakan kurikulum 2006. Akan tetapi, guru yang profesional harus bisa menciptakan kegiatan pembelajaran yang mengacu pada kedua kurikulum 2006 dan 2013. Pemerintah memang belum mewajibkan pelaksanaan kurikulum 2013 pada kegiatan pembelajaran di sekolah yang baru satu semester mengenal kurikulum 2013.

Secara eksplisit guru mengajar mengacu pada materi kurikulum 2006, tetapi secara implisit materi kurikulum 2013 kita berikan sekaligus kita padukan. Hal tersebut  untuk mengantisipasi jika pada tahun pelajaran yang akan datang pemerintah masih tetap menyusun kisi-kisi ujian nasional yang mengacu pada materi kurikulum 2013.

Kita sebagai guru belajar dari pengalaman yang diperoleh pada masa kini untuk melakukan perubahan pada pembelajaran masa yang akan datang. Guru dituntut untuk tetap berinovasi dalam melaksanakan tugasnya. Apalagi pada masa yang akan datang dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, guru bukan menjadi pusat dalam kegiatan pembelajaran, tetapi sebaliknya peserta didiklah pusat kegiatan pembelajaran.

Dalam menyambut berlakunya kurikulum 2013 pada tahun pelajaran setelah 2019/2020, kita persiapkan sifat dan kepribadian kita sebagai guru profesional sehingga kita betul-betul siap untuk menerapkan kurikulum 2013 dalam kegiatan pembelajarannya.

  1. Kiat-Kiat Guru dalam mengantarkan peserta didik menuju kesuksesan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2015/2016

Kesuksesan Ujian Nasional adalah tanggung jawab kita sebagai guru. Kita yang berada di sekolah yang menggunakan kurikulum 2006 tidak boleh menyerah tuntutan pemerintah untuk mengadakan evaluasi akhir pada peserta didik di sekolah dasar maupun menengah. Kesuksesan peserta didik kita adalah kebanggaan sekolah, kabupaten, provinsi, maupun nasional.

Dalam menghadapi ujian nasional Tahun pelajaran 2015/2016 ada beberapa kiat yang harus dilakukan oleh guru, antara lain:

  1. Mengikuti pertemuan MGMP

MGMP tidak lain adalah Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang dikatakan  suatu wadah asosiasi atau perkumpulan bagi guru mata pelajaran yang berada di suatu sanggar, kabupaten/ kota yang berfungsi sebagai sarana untuk saling berkomunikasi, belajar, dan bertukar pikiran dan berpengalaman dalam rangka meningkatkan kinerja guru sebagai praktisi/ pelaku perubahan berorientasi pembelajaran di kelas  (Juwairiah, 2014: 10) . Kegiatan MGMP sangatlah baik bagi guru apalagi hal yang dibicarakan menyangkut peserta didik kita yang berada di tingkat akhir.

Dalam pertemuan ini guru dapat membicarakan tentang kisi-kisi Ujian nasional bersama-sama dengan guru serumpun di sekolah. Jika kesulitan tersebut tidak menemukan titik terang, diangkatlah ke tingkat MGMP Subrayon. Demikian pula seterusnya. Dalam tingkat subrayon maupun kabupaten bahkan berusaha semaksimal mungkin untuk menghadirkan narasumber yang betul-betul terlibat langsung maupun tidak langsung dalam keberadaan kisi-kisi ujian nasional. Kegiatan tersebut tidak lain adalah bedah SKL.

Titik terang mulai ditemukan oleh guru untuk memiliki kepercayaan diri memberikan bekal kepada peserta didik dalam menghadapi  Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2015/2016. Gambaran kita terhadap kisi-kisi Ujian nasional yang mengacu pada kurikulum 2013 mulai jelas dan ternyata dapat dipersandingkan dengan materi Kurikulum 2006.

  1. Menyusun bahan ajar

Materi-materi yang memiliki kesamaan dengan kurikulum 2006 dan 2013 dapat segera dipersiapkan oleh guru untuk dapat disusun menjadi bahan ajar yang nantinya bisa kita berikan pada peserta didik kelas IX. Bahan ajar ini dibuat hendaknya secara sistematis dengan harapan peserta didik dapat mudah memahami informasi yang disampaikan. Bahan ajar pun dapat mengurangi kekhawatiran guru dalam menyampaikan materi dengan waktu yang sangat singkat.

Dengan demikian, bahan ajar sangat bermanfaat bagi guru, antara lain:

  1. memperoleh bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa;
  2. tidak bergantung pada buku teks yang terkadang sulit didapat;
  3. memperkaya wawasan karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi;
  4. menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menyusun bahan ajar;
  5. membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dan siswa, karena siswa akan  merasa lebih percaya kepada gurunya maupun kepada dirinya; dan
  6. dapat dikumpulkan menjadi buku dan dapat diterbitkan (Depdiknas, 2004:1).
  7. Menciptakan pembelajaran yang menyenangkan

Pembelajaran yang menyenangkan merupakan harapan semua orang khususnya guru dan peserta didik. Guru harus dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan walaupun di satu sisi kita dituntut untuk mencapai target peserta didik dapat memahami materi yang termasuk dalam kisi-kisi ujian nasional. Akan tetapi, kita sebagai guru haruslah ingat bahwa peserta didik bukanlah benda mati yang dapat kita perlakukan dengan keinginan kita. Janganlah ketegangan kita diketahui oleh peserta didik sehingga mereka pun menjadi khawatir. Bukan hasil yang memuaskan yang kita peroleh, tetapi justeru sebaliknya. Prestasi peserta didik dapat menurun.

Setelah guru menyusun bahan ajar, tugas guru berikutnya memikirkan bagaimana supaya bahan ajar yang telah disusunnya dapat diberikan dan dipahami oleh peserta didik. Dan jawabannya adalah guru dapat menyusun media dan menyampaikan media tersebut melalui model pembelajaran. Dengan demikian, terlebih dahulu guru harus bisa memilih media pembelajaran yang sesuai dan benar. Elita Burhanudin, dkk (2010: 11) mengatakan bahwa memilih media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Kesalahan pada saat pemilihan, baik pemilihan jenis media maupun pemilihan topik yang dimediakan, akan membawa akibat panjang yang tidak kita inginkan di kemudian hari.

Secara umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran meliputi: (a) tujuan, (b) peserta didik, (c) Karateristik media yang bersangkutan, (d) waktu, (e) biaya, (f) ketersediaan, (g) konteks penggunaan, dan mutu teknis ( Elita Burhanudin, 2010: 17-18). Hal-hal di atas perlu diperhatikan oleh guru agar materi ujian nasional dapat tercapai dengan baik. Hal tersebut juga tidak lepas dari peran serta guru dalam menyampaikan materi pembelajarannya melalui model pembelajaran yang tepat pula. .

Guru harus dapat menyelami beban psikhologis peserta didik dalam menghadapi ujian nasional pada Tahun pelajaran 2015/2016. Kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan pasti sangat mereka rasakan dengan materi-materi yang sebagian baru bagi mereka. Disinilah tugas kita sebagai guru untuk dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi mereka. Dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan seorang guru dituntut untuk dapat menggunakan berbagai model pembelajaran secara variatif. Guru berperan sebagai pengajar sekaligus fasilitator.  Dalam menjalankan tugasnya sebagai fasilitator guru sebagai pengelola pembelajaran (instruktur) dan pengelola kelas (manager). Hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.

                                                                  untitled

                        (Sumber: Wreight (1991), Roles of Teachers & Learners, hal 52) dalam Suciati, dkk (2007: 5.24)

Pada saat guru bertindak sebagai manusia sumber, guru menyajikan informasi kepada siswa (pengajar). Agar siswa mau memperhatikan penjelasan, guru hendaknya menunjukkan semangat dalam menyampaikan informasi tersebut (sebagai manajer). Tugas-tugas inilah yang harus dapat dipahami oleh guru sehingga dapat memadukan media dengan model pembelajaran yang sesuai dengan harapan peserta didik.

Di dalam penyampaian materi kisi-kisi ujian nasional, guru jangan menjejali peserta didik dengan penekanan dan tuntutan bahwa peserta didik harus mau menerima dan memahaminya. Guru harus dapat merangkul peserta didik dan berlaku sebagai teman untuk dapat mencapai suatu tujuan yang sama yaitu peserta didik dapat memahami dan mengerjakan soal-soal ujian nasional.

  1. menyusun soal-soal latihan ujian

Kiat guru yang terakhir adalah menyusun soal-soal latihan ujian yang mengacu pada kisi-kisi ujian nasional. Soal-soal yang dibuat oleh guru dapat menjadi barometer bagi guru apakah kiat-kiat di atas dapat diserap dan dikuasai  oleh peserta didik. Guru harus mampu menyusun soal dengan mengacu kisi-kisi dan memperhitungkan alokasi waktu dengan tepat. Soal-soal tersebut dapat mengukur tingkat keberhasilan peserta didik. Safari (1997:3) mengartikan pengukuran sebagai suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi/data secara kuantitatif.

Dengan soal-soal tersebut guru dapat melaksanakan penilaian terhadap peserta didik. Adapun fungsi penilaian tersebut, antara lain:

  1. Menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi.
  2. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu pesert didik memahami kemampuan dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan).
  3. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu pendidik menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.
  4. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
  5. Sebagai kontrol bagi pendidik dan satuan pendidikan tentang kemajuan perkembangan peserta didik.( Endang Kurniawan dan Endah Mutaqimah, 2010: 9)

Soal-soal yang dijadikan penilaian oleh guru dapat dibuat oleh guru dalam satu sekolah yang nantinya sekolah tersebut akan mengadakan kegiatan latihan ujian tingkat sekolah. Soal tersebut bisa juga dibuat oleh guru serumpun tingkat MGMP sehingga diadakan latihan ujian bersama. Kegiatan tersebut semestinya tidak hanya dilakukan satu kali saja. Akan tetapi, dapat dilakukan berulang kali sesuai dengan tingkat kemampuan sekolah. Dengan demikian, peserta didik akan betul-betul siap untuk mengikuti ujian nasional. Kesuksesan peserta didik mudah-mudahan dapat terpenuhi.

  • Kesimpulan

Ujian nasional merupakan hajatan di dunia pendidikan dan pada tahun pelajaran 2015/2016 peserta didik di tingkat pendidikan dasar dan menengah akan melaksanakan ujian nasional yang mengacu pada kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Guru harus dapat menghadapi tantangan masa kini dan tantangan masa yang akan datang yang berhubungan dengan ujian nasional. Oleh karena itu, ada kiat-kiat yang dapat dilaksanakan oleh guru menyikapi adanya kisi-kisi ujian nasional dengan kedua kurikulum tersebut, antara lain: mengikuti pertemuan MGMP, menyusun bahan ajar, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dan menyusun soal-soal latihan ujian nasional. Dengan demikian, guru dapat mengantarkan peserta didik untuk siap mengikuti ujian nasional dengan adanya pendampingan materi kurikulum 2006 dan kurikulum 2013.

DAFTAR PUSTAKA

Burhanudin, Elita, dkk. Maret 2010. Media. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

Dilema Permendikbud 160 yang menandakan berlakunya Kurikulum 2006  dan 2013. https://erikvalentinomath.wordpress.com/2015/01/13/dilema-permendikbud-160-yang-menandakan-berlakunya-kurikulum-2006-dan-2013/ (diakses 23 Desember 2015)

Juwairiah. 2014.  Profesionalisme Guru dalam Melaksanakan KKG dan MGMP. http://sumut.kemenag.go.id/ 04/04/2014. (diakses 23 Desember 2015).

Kurniawan, Endang, dan Endah Mutaqimah. Maret 2010. Penilaian. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

Ruspendi,P. 2004. Profesionalisme Guru, Harapan dan Kenyataan. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/20/0310.htm

Safari. 1997. Pengujian dan Penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Kartanegara.

Suciati, dkk. 2007. Belajar dan Pembelajaran 2. Jakarta: Universitas Terbuka

Suharno, Imam Nur. 28 Mei 2012. Membumikan Kompetensi Guru. Fajar Cirebon, Opini.


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *