Perjuangan Rakyat Banyumas Mempertahankan Kemerdekaan

PERJUANGAN RAKYAT BANYUMAS MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DALAM AGRESI MILITER BELANDA PERTAMA 1947

gatotsoeb

Pendahuluan

            Sejarah merupakan peristiwa-peristiwa yang menyangkut manusia sebagai makhluk bermasyarakat yang terjadi pada masa lampau. Sejarah berarti pula kisah mengenai suatu peristiwa. Kisah itu disusun berdasarkan peninggalan-peninggalan dari berbagai peristiwa tersebut. Masa lampau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan masa kini, begitu pula antara masa lampau dengan masa yang akan datang bertemu dengan masa kini, sehingga ada baiknya untuk menengok ke masa lampau sebelum melangkah ke masa depan. Begitulah rangkaian pernyataan yang sering dikemukakan oleh orang-orang arif, filosof, dan sejarawan yang berusaha mengingatkan tentang pentingnya masa lampau. Masa lampau pantas mendapat perhatian dari semua pihak. Hal ini setidak-tidaknya dibuktikan oleh banyaknya tulisan, kajian-kajian, dan penelitian-penelitian yang berusaha menguak dan mengungkap makna masa lampau dalam kaitannya dengan masa kini. One cannot escape from history (orang tidak dapat lepas melarikan diri dari sejarah) merupakan kata-kata yang sering dan gemar dikemukakan oleh Bung Karno pada masa jayanya.

Banyumas  merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah Jawa Tengah. Berdasarkan sejarah kabupaten Banyumas dibangun tepatnya pada hari Jum’at Kliwon tanggal 6 April 1582 oleh R. Jaka Kaiman. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu kota di wilayah Jawa Tengah yang telah banyak menyimpan jejak-jejak sejarah masa lampau dan peristiwa-peristiwa sejak bersejarah , heroik dan patriotik. Sejak jaman dahulu daerah Banyumas sering disinggung-singgung dalam beberapa peristiwa sejarah. Pada saat pecah perang Diponegoro tahun 1825-1830 dan berakhirnya perang Diponegoro dengan kelicikan Belanda, para pengikut Pangeran Diponegoro mengungsi sampai ke wilayah Banyumas. Hal ini dapat dibuktikan terdapat daerah-daerah yang dahulu menjadi tempat persinggahan dari pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro. Rakyat di daerah Banyumas  dengan sukarela membantu para pengikut Pangeran Diponegoro yang mengungsi akibat kelicikan Belanda menangkap Pangeran Diponegoro. Dari Banyumas lahir putra-putra terbaik yang mendarma baktikan  jiwa dan raga berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Bara keprajuritan yang telah tertanam di dalam jiwa dan sanubari bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat Banyumas pada khususnya teryata tidak pernah padam. Ia akan membakar semangat juang manakala datang bahaya besar yang mengancam kedaulatan bangsa dan negara.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan  RI setelah Proklamasi pada tanggal  17 Agustus 1945  terjadi  diberbagai daerah di Indonesia termasuk di wilayah Banyumas. Dengan kedatangan Belanda ke Indonesia yang akan menjajah kembali Indonesia tentunya mendapat perlawanan sengit dari daerah-daerah yang disinggahi oleh Belanda. Pecah pertempuran antara para pemuda dan rakyat melawan kekuatan Belanda seperti pecah di daerah ; Surabaya, Ambarawa, Semarang, Bandung, Medan ,Bali, Gorontalo dan lain sebagainya .

Para pemuda bersama dengan rakyat  bahu-membahu  berjuang mempertahankan kemerdekaan RI yang akan menjajah kembali Indonesia. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI berkecamuk sejak RI mengumandangkan Proklamasi, karena Belanda tetap bersikukuh ingin menduduki dan menjajah kembali Indonesia. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI terjadi pula di wilayah Banyumas, karena Banyumas merupakan salah satu daerah yang strategis dan memiliki pasukan yang cukup handal maka Belanda ingin mengusai daerah Banyumas.  Pada Agresi militer Belanda pertama yang dilancarkan tanggal 21 Juli 1947 para pemuda dan rakyat harus menghadapi Belanda yang akan menjajah kembali Indonesia. Penulis tertarik  untuk memaparkan perjuangan pemuda dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

gatotsoe

  1. Peristiwa Sekitar Perang Kemerdekaan

Negara Indonesia sebenarnya sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, namun  situasi keamanan dalam Negara Republik Indonesia masih belum mantap bahkan semakin gawat dengan kedatangan pasukan Sekutu yang dibeoncengi oleh pasukan NICA ( Nederland Indische Civil Administation) atau pemerintahan sipil Hindia Belanda dengan maksud ingin menguasai kembali Indonesia. Maka secara spontan bangsa Indonesia langsung menghadapi pasukan Sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan.

Belanda datang ke Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu tanggal 29 September 1945 dengan menggunakan kapal penjelajah Cumberland yang membawa  Laksamana Patterson berlabuh di Tanjung Priuk dan disusul oleh Fregat  Belanda Tromp. Setelah Inggris selesai melaksanakan tugas mengangkut tawanan Belanda daerah RI dan dikumpulkan di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1947 maka Sekutu ditarik kembali pulang. Namun Belanda tetap di Indonesia dan membangun kekuatan sebagai berikut:

  1. Divisi C atau “7 Desember” KL (Koninklyme Landmact-Tentara Kerajaan) terdiri dari tiga Brigade setiap brigade berkekuatan tiga batalyon, komandannya Mayjen H. Durst Britt, dengan tugas menduduki Jakarta Timur-Selatan, Bogor sampai Pelabubuhan Ratu .
  2. Divisi B, KNIL (Koninklyke Nederlands Indische Leger), di Bandung, komandannya Mayjen Siem de Waal, terdiri dari brigade V (Kolonel Jan Meijer) dan Brigade W (Kolonel Van Gulik). Masing-masing brigade berkekuatan empat batalyon dan tiga batalyon sebagai cadangan. Tugas Divisi B, menduduki utara-timur Bandung. Kemudian akan menuju Jawa Tengah bergabung dengan Brigade T pimpinan Kolonel . J Van Langen dari Semarang
  3. Divisi A dengan pimpinan Mayjen MR. de Bruyne untuk Jawa Timur .

Mengetahui hal ini pada tanggal 5 Mei 1947 dikeluarkan penetapan presiden yang isinya :

“Dalam waktu sesingkat-singkatnya badan-badan perjuangan itu dalam satu wadah yaitu TRI”. Kemudian pada tanggal 3 Juni 1947 pemerintah mengesahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia ( TNI )sebagai satu-satunya wadah perjuangan bersenjata. (Habib Mustopa, 2006 : 28)

              Khusus untuk daerah Banyumas Divisi II /Sunan gunung Jati dengan panglima Mayjen Gatot Soebroto, berkedudukan di Purwokerto, dengan kekuatan empat resimen, diantarnya Resimen 16 dengan Dan Men Lektol Moch Bahroen yang berkedudukan di Purwokerto. Tanggal 26 Juni 1947 Kabinet Syahrir jatuh. Melihat situasi yang semakin  kritis ,  presiden mengambil alih kekuasaan pemerintah dan mengeluarkan Maklumat Presiden No 6 Th 1947, tanggal 27 Juni 1947 yang berisi :

 “Berhubungan dengan keadaan pada waktu sekarang , maka kami presiden RI pada tanggal 27-6-47, mengambil  kekuasan pemerintah sepenuhnya untuk sementara waktu”.

Yogyakarta jam 03.30

Tanggal 26-6-1947

Presiden Republik Indonesia

        Soekarno

(Tim DHC BPP-JSN45 Banyumas,2004: 43)

Belanda telah bersiap-siap untuk menghancurkan RI. Diawali tanggal  20 Juli 1947  Belanda melakukan penangkapan terhadap pembesar-pembesar RI dan mengambil alih  kantor dan gedung-gedung penting RI di Jakarta . Tanggal 21 Juli 1947 Belanda  melancarkan serangan-serangan dari udara terhadap lapangan terbang, markas-markas,  dan garis-garis perhubungan RI . Serangan Belanda terhadap Indonesia secara membombardir inilah sering dikenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda Pertama 1947. Daerah Banyumas yang memiliki kekuatan personal dan  persenjataan yang cukup lengkap dan  baik sedang kosong karena sebagian besar pasukan sedang bertugas di daerah Jawa Barat, Priangan Timur yang dipimpin oleh Lektol Moch. Bahroen ( Dan Men 16). Pasukan ini kembali ke  Banyumas setelah diberi izin Panglima Divisi Siliwangi.

  1. Pertahanan Bumiayu

Setelah Pelabuhan Tegal jatuh ke tangan Belanda, Belanda terus melaju ke daerah Bumiayu. Panglima Divisi II Gatot Soebroto, sesuai intruksi Presiden dan Komando Panglima Besar yang disampaikan lewat RRI Yogyakarta pada tanggal 21 Juli 1947 malam, memerintahkan Resimen 12 Cirebon, Resimen 13 Tegal, Resimen 15 Cilacap dan Resimen 16 Purwokerto untuk mempertahahankan kemerdekaan  RI di wilayah masing-masing. Bapak Mustari ikut berjuang mempertahanakan kemerdekaan RI masuk dalam pasukan Resimen 16. Wilayah selatan sungai Cikeruh dan Bumiayu  dipertahankan oleh Batalyon Brotosiswoyo dan pasukan bersenjata lainnya. Berbagai upaya dilakukan untuk menghambat laju pasukan Belanda termasuk menumbangkan pohon-pohon di jalan, yang digalang oleh TNI dengan bantuan penduduk sekitar. Jembatan-jembatan dari Banyumas ke Purwokerto diledakan dan dihancurkan antara lain dilakukan oleh TP seksi 342 pimpinan  Soemarko, yang kemudian melapor ke Divisi II lewat telepon, hubungan telepon itu disadap oleh Belanda dengan liciknya.

Tanggal 29 Juli 1947 Belanda dibawah pimpinan komandan Brigade V Kolonel J Meiyer, mengerahkan pasukannya bergerak dari Slawi menuju selatan arah Bumiayu, namun terhambat karena rintangan jalan, jembatan hancur dan satuan-satuan kecil dari Resiman 13 Tegal, TNI, ALRI dan Hizbullah. Kolonel J. Meiyer tahu betul masuk Purwokerto lewat Bumiayu akan sulit karena di Bumiayu terdapat konsentrasi pasukan TNI yang besar dari Divisi II yang dipimpin Batalyon Brotosiswoyo. Pada  pukul 17.00 pasukan Belanda dari kesatuan Batalyon Infantri V KNIL  telah masuk utara sungai Cikeruh, mereka melepaskan tembakan ke arah TNI. Tembak-menembak pun terjadi,  karena kalah dalam jumlah pasukan dan persenjataan, maka pasukan TNI mundur ke arah barat dan selatan.

Malam berikutnya kembali terjadi tembak-menembak dari pasukan tanah air khususnya menembakan beberapa Mortier kecil. Esok harinya tampak seluruh bukit-bukit di barat laut kota, banyak tenda-tenda  Belanda. Pasukan IMAM mempunyai keinginan  mengusir Belanda,  mereka menyusun strategi agar dapat masuk ke markas anggota kesatuan panser. Untuk mencari informasi  mereka masuk dengan menyamar sebagai penjual telur,  granat tangan yang dibawa disembunyikan di tepi jalan. Betapa beraninya pejuang kita ketika itu Soemarmo dan Soekarmin, mereka tidak gentar atau pun ragu ketika diperintahkan masuk ke kandang musuh. Memang penyamaran disusun sangat rapi hingga Belanda mudah dibodohi  dan tidak tahu strategi pengintaian  yang dilakukan.

Perlawanan pasukan RI di Bumiayu yang dipimpin oleh Mayor Brotosiswoyo dengan kekuatan empat kompi, dan sulitnya perjalanan masuk ke Purwokerto akibat rintangan dan hancurnya jembatan-jembatan, maka pasukan Belanda mundur ke arah Margasari, Banjaran, Balapulang dan bergabung dengan pasukan Belanda Tegal.  Mereka meneruskan perjalanannya  ke Kalibakung wilayah Bumijawa, terus ke timur ke Belik yang dipertahankan oleh pasukan ALRI. Pasukan Belanda terus maju, yang tujuannya menerobos masuk daerah Bobotsari.

  1. Pertahanan Bobotsari

            Belanda ingin menduduki  Purwokerto, melakukan perlawanan terus ke lumbung barat Gunung Slamet, karena Belanda gagal menghancurkan benteng pertahanan Bumiayu. Dengan dipimpin oleh Kolonel J. Meiyer  Belanda bermaksud menikam Banyumas dari Bobotsari. Tanggal 30 Juli 1947, pasukan yang harus mempertahankan Bobotsari  belum semuanya lengkap. Pertahanan yang ada hanya pasukan Mobile Brigade, pasukan ALRI/Korps Armada AL Tegal, dan TP sie 344 (Stoot Treep) dipimpin oleh kapten Hartojo,bertugas untuk menahan serangan pihak musuh.  Kekuatan seksi 344 ada 60 orang. Persenjataan yang dimiliki terdiri dari KM 6,5 ; lewis 7,7 ; empat tekidanto lengkap dengan granat dan proyektilnya, macam-macam senapan, thomson.  Kapten Hartojo didampingi oleh  Letnan Daan yang selalu  mendampinginya. Letnan Darjoen memimpin regu I dan II yang menjadi sie I. Letnan muda Sarjono memimpin regu III dan IV yang menjadi sie II. Di samping tiga perwira tersebut, turut memperkuat sie 344 TP itu enam orang mantan anggota KNIL.

             Kemudian komandan pasukan TP, Mobrig dan ALRI bertemu untuk mengatur strategi penghadangan dan pertahanan. Keputusannya, membagi daerah, jalur pertahanan dan jalur penghadangan sebagai berikut :

  1. Mobrig menggunakan jalan raya Bobotsari ke utara.
  2. TP sie 344 mendapat  bagian, melalui jalan samping, jalan Bobotsari ke utara.
  3. Korps armada ALRI harus mempertahankan kota Bobotsari. Mobrig dan TP akan keluar dari kota menuju ke utara menghadang masuknya pasukan Belanda, bersepakat harus bertemu di desa Pekuncen, di utara Bobotsari.( Tim DHC BPP- JSN 45 Banyumas: 2004 : 48 )

Sekkoo atau Vorspit yang merupakan badan penyelidik medan tempur TP sie 344, yaitu Soejitno, Soekirno, dan Soegito melaporkan bahwa bendera musuh telah masuk wilayah ujung selatan desa pekuncen. Mulailah terdengar pesawat Belanda, pasukan kita tiarap dikebun-kebun jagung yang kemudian disusul kontak senjata antara kedua belah pihak. Belanda maju , dengan menggunakan senjata-senjata berat, bren carrier dan tank serta pemboman, sedangkan para  pejuang Indonesia menggunakan alat-alat sederhana yang bermodal semangat  juang yang membara. Ketika itu Pesawat P 51 milik Belanda terbang rendah diatas pasukan RI. Dengan serangan Belanda yang bertubi-tubi jatuhlah benteng pertahanan Bobotsari. Sore  hari Belanda memasuki wilayah Bobotsari.

            Sehari setelah Bobotsari  jatuh ke pihak musuh , Pasukan IMAM yang ikut bersama-sama pasukan TNI pimpinan Mayor Brotosiswoyo bertahan didaerah Bumiayu,  mengirimkan dua pejuang yaitu Soetomo dan Soeroto untuk masuk Bumiayu.  Tujuannya  menyelidiki keberadan  Belanda, sebab selama itu tidak terdengar  kembali suara tembakan antara pasukan pejuang kita dengan Belanda. Atas  bantuan penduduk Pasukan Pelajar IMAM bisa masuk ke Bumiayu dan ternyata Belanda telah meninggalkan Bumiayu. Diperkirakan Belanda mulai bergerak menuju wilayah Purbalingga.

Mengetahui hal itu esok harinya Komandan sie TP 344 menawarkan kepada anggota pasukan siapa yang bersedia membentuk pasukan kecil yang terdiri 5-6 orang, untuk menyerang pasukan iring-iringan konvoi Belanda yang bergerak di jalan antara Belik-Bobotsari-Purbalingga. Dengan tidak ragu-ragu yaitu Prajitno, Soejitno Soekirno, Gambiro, Mostajab, Soetedja Cirebon dan Soegito bersedia untuk ditugaskan. Malamnya dengan dipimpin Letnan Darjoen, pasukan kecil melakukan penghadangan terhadap konvoi  Belanda, mengambil posisi stelling penghadangan diatas tebing Sungai  Sosok, yang terletak 2 km di selatan Bobotsari. Pasukan kecil tidak boleh membawa senapan laras panjang, tetapi hanya bersenjatakan granat tangan Jepang, sedang Letnan Darjoen menyandang  senjata Thamson sebagai senjata komando. Semua pasukan kecil menyamar dengan menggunakan pakaian yang dipinjami oleh penduduk setempat.

Sekitar pukul 20.00 dari Bobotsari tampak lampu-lampu kendaraan dalam urutan panjang. Tampak didepan maupun di belakang konvoi dikawal empat panser sebagai pelindung. Saat kendaraan pelindung belakang konvoi Belanda berada lebih kurang 10 meter di bawah anggota pasukan penghadang itu terdengar komando “serang”, kemudian meledaklah granat-granat tangan yang di lemparkan  dari jarak dekat, sebuah panser  lumpuh terjungkal dan  jatuh ke dalam jurang dekat Sungai Sosok. Tiga panser lainnya membalas dengan tembakan mesin, sambil meneruskan perjalanan  ke Purbalingga. Penghadangan malam berikutnya di jembatan Sungai Paingan, yang letaknya bersebelahan Sungai Sosok, Usaha ini  tidak membuahkan hasil karena Belanda mengerahkan konvoinya pada siang hari.

            Pasukan TP 344 dibawah pimpinan Kapten Hartojo, bermaksud mencari kedudukan pasukan induknya yaitu Batalyon Brotosiswoyo. Mereka berada di desa Karangaren.Belanda  mengetahui pasukan tersebut, langsung menghujani tanpa peri kemanusiaan dengan kononande. Pesawat capung terbang diatas pejuang kita,kemudian oleh sersan Karsono dengan KM lewisnya mencoba menembak,namun tidak berhasil. Empat hari di Karangaren, pagi harinya seluruh pasukan TP berangkat ke barat menuju desa Kemutug Lor utara Purwokerto, berdasarkan kesepakatan segenap pasukan Batalyon Brotosiswoyo menjadi daerah perlawanan dan pertahanan  RI. Panglima Divisi II Gatot Soebroto mengetahui bahwa setelah pasukan Belanda tidak berhasil menerobos Bumiayu dan Mundur dari kota itu, pasukan Belanda akan masuk daerah Banyumas melalui Belik.

  1. Pertempuran Sidakangen

            Panglima Gatot Soebroto langsung menginstrusikan kesatuan-kesatuan TNI di Kranggan, Bumiayu, Purbalingga dan Cilacap, setelah mengetahui arah perjalanan  pihak Belanda.  Rabu 30 Juli 1947 pukul 19.00 Batalyon IV Resimen 15 Cilacap mengutus pasukan ke Bobotsari dengan KA melalui Purbalingga. Selanjutnya akan diteruskan dengan kendaraan truk menuju Bobotsari. Batalyon IV  dipimpin oleh Kapten Wongsoatmodjo, terdiri dari kompi Staf Markas, Kompi Hardojo dan kompi Idris . Hari Kamis tanggal 31 Juli1947 pagi sekitar pukul 05.00 Batalyon IV sampai di stasiun Banjarsari/Jompo. Tidak lama kemudian sayup-sayup terdengar dentuman arteleri dan tembakan senapan mesin dari arah Purbalingga, yang berjarak kurang lebih 6 km dari Jompo. Semua pasukan turun. Seorang anggota, bernama Salman dengan sepeda motor sebagai kurir, mendahului pasukan untuk menyelidiki keberadaan pasukan Belanda. Beberapa saat kemudian Salaman kembali dan melaporkan jika pasukan Belanda telah berada di daerah Kalimanah. Pasukan Belanda di Purbalingga terbagi menjadi dua, sebagian ke jurusan Bukiteja akan ke Klampok Banjarnegara, yang lain ke Purwokerto. Mendapat laporan dari Salman, maka Batalyon IV Wongsoatmodjo mengambil steeling di tepi desa Sidakangen, dekat  jembatan kali Ponggawa di  sebelah selatan jalan raya Kalimanah-Sokaraja.

            Tidak lama kemudian lewat kolone lapis baja “Friesland” sebagai pelapor dari pasukan Brigade V muncul mendekati jembatan, dan segera dihujani tembakan gencar senapan mesin dan mortier oleh pasukan TNI yang sudah siap di daerah itu. Tembak-menembak berlangsung sengit sehingga dari pasukan TNI korban yang gugur 22 orang prajurit yang terpaksa dimakamkan dalam satu lubang karena situasi yang gawat. Sebagai penghormatan dan penghargaan di tempat tersebut telah dibangun sebuah monumen. Karena tembakan kanon tank Belanda tidak tertahan lagi, maka pasukan TNI terpaksa mengambil posisi masuk desa Sidakangen, Musuh meneruskan perjalanan ke selatan Sokaraja. Sepanjang hari itu konvoi dari pasukan Belanda terus terjadi.

            Pada sekitar pukul 15.00 dari Purbalingga datang beberapa truk penuh infantri Belanda. Tepat di depan stelling TNI mereka turun, segera terjadi tembak-menembak. Pasukan kita terlindung di sepanjang rel KA. Dalam pertempuran kedua ini TNI kehilangan dua prajurit yang gugur sebagai kusuma bangsa. Karena kalah kekuatan maka pejuang kita mundur.

  1. Pertahanan Purwokerto

Kamis 31 Juli 1947 mulai pukul 04.00 Belanda mulai menggerakkan pasukannya ke Purbalingga dan menduduki kota itu. Disini Belanda membagi diri menjadi dua, sebagian menuju Banjarnegara dan  yang lain menuju Purwokerto. Ketika itu Purwokerto dalam keadaan kosong karena Resimen 16 pimpinan Moch. Bahroen sedang bertugas di Front Bandung Timur. Dipekirakan pasukan penindas dari timur melalui Banjarpatoman, dari barat Majeneng dan sebelah barat laut dari Bumiayu, maka kekuatan TNI dan pasukan bersenjata lainya dipusatkan di daerah tersebut.

Setelah panglima Divisi II Gatot Soebroto mengetahui bahwa tentara Belanda tanggal 30 Juli 1947 pukul 16.30 sudah menduduki Bobotsari, maka segera memerintahkan untuk membumi hanguskan gedung-gedung penting agar tidak digunakan Belanda. Kemudian pasukan Panglima menuju desa Patikraja, ke Banyumas, Gumelem, Klampok, menuju Banjarnegara,tanpa takut nyawa akan melayang oleh hujan peluru yang terus dilancarkan Belanda. Kemudian Banjarnegara menjadi markas divisi II. Untuk menghambat masuknya pasukan Belanda ke purwokerto maka divisi II menyusun strategi untuk meledakan jembatan Sungai Serayu oleh prajurit Kasno. Rencana ini  gagal karena prajurit Kasno gugur terlebih dahulu akibat timah panas milik Belanda.

Pada hari Kamis Wage tanggal 31 Juli 1947 sekitar pukul 08.00 tentara Belanda dihadang oleh Batalyon IV Wongsoatmojo di desa Sidakangen Kalimanah, terus melaju dan telah sampai di Sokaraja sekitar 8 km dari Purwoketo. Tentara Belanda menghujani kota Purwokerto dengan tembakan-tembakan arteleri yang mengenai rumah-rumah dan bangunan di sekitar alun-alun. Sekitar 17.00 tentara Belanda masuk dan menduduki Purwokerto. Keesokan harinya markas Diviisi II pimpinan Kapten Sardjono K, mendapat tugas untuk menempatkan pasukannya di desa Karang Lewas sebelah barat Purwokerto. Disana pasukan mengambil posisi dan stelling di pertigaan Karang Lewas-Kedungbanteng

Tanggal 3 Agustus 1947 satu kompi Belanda bergerak ke arah barat, pasukan Sersan Djanuar segera bertindak menembakan mitraliurnya. Pertempuran sengit  terjadi. Korban berjatuhan dari pihak Belanda lima orang tewas dan sepuluh orang luka-luka. Sedang dari pihak kita tidak ada satu pejuang pun yang terluka. Pada tanggal 6 Agustus 1947 Belanda terus ke barat hingga di jembatan Sungai Mengaji pasukan kita dengan semangat  pantang menyerah  bertempur dengan Belanda.  Usai petempuran pejuang kita menuju desa Rancamaya, diteruskan ke desa Gununglurah dan terus ke utara Purwokerto, sedangkan pasukan Belanda kembali ke Purwokerto.

DAFTAR PUSTAKA

Badrika, I Wayan. 2006. Sejarah Nasional dan Dunia Jilid II. Jakarta: Erlangga

Dinas Sejarah Militer Kodam VII / Diponegoro. 1977. Sejarah Rumpun Diponegoro dan pengabdiannya. Semarang: CV. Borobudur  Megah.

Keluarga Besar Eks Pasukan Pelajar IMAM, Cukilan Sejarah Perjuangan Rakyat  Banyumas , 1999

  1. Koderi . Banyumas Wisata dan Budaya. 2001. Purwokerto : PN Metro Jaya

Pemda Kabupaten Banyumas, Banyumas Dalam Angka Tahun , Pemda 1999

Tim Penyusun , Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 Jawa Tengah, Depdikbud Jawa Tengah 1980

 Tim DHC BPP-JSN 45 Banyumas. 2004. Banyumas Membara di Era Tahun 1945-1950. Gombong: Grafika Group.

Tim Penyusun. 2006. Sejarah II. Klaten: Cempaka Putih.

Warsito, Banyumas Membara di Era Tahun 1945-1949. 2003.Gombong : PN. Grafika Group

 

BIODATA PENULIS

NAMA              : SUCI RAHAYU, S.Pd

NIP                    : 19710601 200701 2 013

UNIT  KERJA : SMA NEGERI BATURRADEN

GOLONGAN   : PENATA/ IIIc


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *