infopasti.net

PTS SMP Guru Bahasa Inggris Melalui Penerapan Supervisi Klinis

UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU BAHASA INGGRIS DALAM PROSES PEMBELAJARAN MELALUI PENERAPAN SUPERVISI KLINIS KELAS VIII SEMESTER II DI SMP BINAAN KABUPATEN BREBES

Oleh : Susi Lestari, S.Pd, M.Pd

ABSTRAK

Susi Lestari, (2014). Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru Bahasa Inggris dalam Proses Pembelajaran Melalui Penerapan Supervisi Klinis Kelas VIII Semester II di SMP Binaan Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2013/2014.

                Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana profesionalisme guru bahasa Inggris di sekolah binaan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah guru bahasa Ingris di sekolah binaan Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2013/2014. Metode penelitian ini adalah dengan penerapan supervisi klisnis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti melalui dua siklus terhadap mutu kinerja guru dalam proses pembelajaran ini adalah sebelum dilakukan penelitianskor rata- rata dari ketiga guru yang menjadi objek penelitian 66% (kurang). Pada siklus pertama, diperolehnilai, guru A skornya 75%, guru B skornya 70%, dan guru C skornya 80%, nilai rata- rata dari ketiga orang guru tersebut adalah 75% (cukup), terjadi peningkatan dari prasiklus sebesar 14%. Pada siklus kedua setelah dilakukan pembimbingan, diperoleh nilai, guru Askornya 90%, guru B skornya 80%, dan guru C skornya 90%, nilai rata- rata dari ketiga orang guru tersebut adalah 87% (baik), terjadi peningkatan dari siklus I sebesar 18%. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah profesional guru dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan.

Kata Kunci    : Supervisi klinis, Profesionalisme  guru, dan Proses pembelajaran.

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru berdasarkan PP no 16 tahun 2007 adalah kompetensi pedagogik, yang terdiri atas pemahaman, wawasan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian.

Wina Sanjaya (2011;100) mengatakan bahwa; 1). Siswa bukan orang dewasa dalam bentuk mini, tetapi mereka adalah organisma yang sedang berkembang. Sehingga dalam perkembangannya, dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang scara optimal.2) Ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecendrungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Begitu hebatnya perkembangan ilmu pengetahuan.3). Penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah laku manusia. Dewasa ini, anggapan manusia sebagai organisme yang pasif yang perilakunya dapat ditentukan oleh lingkungan seperti yang dijelaskan dalam aliran behavioristik, telah banyak ditinggalkan orang. Orang sekarang percaya, bahwa manusia adalah organisme yang memiliki potensi seperti yang dikembangkan oleh aliran kognitif holistik.

Ketiga alasan di atas menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajar jangan diartikan sebagai proses menyampaikan pembelajaran atau memberikan stimulus sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi lebih dipandang sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yan dimilikinya. Pengaturan lingkungan adalah proses menciptakan iklim yang baik seperti penataan lingkungan, penyediaan alat dan sumber pembelajaran, dan hal-hal lain yang memungkinkan siswa betah dan merasa senang belajar, sehingga mereka dapat berkembang secara optimal sesuai dengan bakat, minat, dan potensi yang dimilikinya.

Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk mengkaji dan menggali supervisi yang berkaitan dengan kemapuan guru dalam proses belajar mengajar, disebabkan oleh: (1). Adanya kecenderungan melemahnya kinerja guru berdasarkan pengalaman penulis menjadi Pengawas yaitu terjadinya guru yang masuk ke kelas yang tidak tepat waktu, guru mengajar tidak mempunyai persiapan mengajar (tidak membuat RPP), guru tidak punya absensi siswa, guru tidak punya jurnal mengajar. (2) adanya pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh Pengawas belum dilaksanakan dengan sebaik – baiknya kepada guru. Beberapa rekan penulis yang sama–sama menjabat Pengawas mengaku kurang serius dalam melaksanakan fungsinya sebagai supervisor,(3) adanya penurunan kemampuan guru dalam proses pembelajaran di kelas merupakan salah satu penyebab rendahnya nilai mata pelajaran Bahasa Inggris siswa di SMP Binaan Kabupaten Brebes.

Menjadi guru yang profesional tidak cukup dengan lamanya mereka menjadi guru, tetapi diperlukan kemampuan mengatasi masalah, mengembangkan, dan membuat perencanaan sekolah, akan tetapi guru yang profesional setidaknya memilki empat kompetensi yaitu ; (1) kompetensi profesional, (2) kompetensi pedagogik, (3) kompetensi keperibadian, dan (4) kompetensi sosial. Oleh karena itu, peran pengawas dalam membina guru di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya sangat penting agar mutu pendidikan dapat ditingkatkan.

Sehubungan dengan hal di atas, peneliti mencoba melakukan suatu penelitian dalam upaya peningkatan profesionalisme guru agar capaian mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, penulis mengambil judul penelitian ”Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru Bahasa Inggris dalam Proses Pembelajaran Melalui Penerapan Supervisi Klinis Kelas VIII Semester II di SMP Binaan Kabupaten Brebes“.

Rumusan Masalah

Dari latar belakang dan identifikasi masalah yang dikemukakan di atas maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimana penerapan supervisi klinis dalam meningkatan profesionalisme guru Bahasa Inggris dalam proses pembelajaran di sekolah Binaan Kabupaten Brebes  Semester 2 Tahun  Pelajaran 2013-2014 ?
  2. Bagaimana efektivitas penerapan supervisi klinis dalam meningkatkan  profesionalisme guru Bahasa Inggris dalam proses pembelajaran di sekolah Binaan Kabupaten Brebes  Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014 ?

KAJIAN TEORI

  1. Tinjauan Tentang Supervisi Klinis
    1. Pengertian Supervisi Klinis

Supervisi klinis yang juga disebut supervisi kelas adalah suatu bentuk bimbingan atau bantuan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhan guru melalui siklus yang sistematis untuk meningkatkan proses belajar mengajar (La Sulo, Efffendi, Gojali). Bantuan supervisor dipusatkan untuk meningkatkan pengajaran, dan siklus yang sistematis merupakan proses yang terdiri dari kegiatan perencanaan, observasi, dan analisis rasional yang intesif terhadap unjuk kerja mengajar yang ingin dimodifikasi untuk dikembangkan. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik suatu pengertian, bahwa supervisi klinis merupakan pendekatan supervisi hasil upaya reformasi terhadap supervisi yang tradisional.

Menurut J.l. Bolla (1985) istilah klinis menunjuk kepada unsur-unsur khusus sebagai berikut: (1) Adanya hubungan tatap muka antara supervisor dan guru dalam proses supervisi; (2) Proses supervisi difokuskan pada unjuk kerja mengajar guru di kelas; (3) data unjuk kerja mengajar diperoleh melalui observasi secara cermat; (4) Data dianalisis bersama anatar supervisor dan guru; (5) Supervisor dan guru bersama-sama menilai dan mengambil kesimpulan unjuk kerja mengajar guru; (6) Fokus observasi sesuai dengan kebutuhan dan atau permintaan guru yang bersangkutan.

  1. Prinsip Prinsip Supervisi Klinis

Terdapat beberapa prinsip umum yang perlu dijadikan acuan dalam pelaksanaan supervisi klinis, agar sukses mencapai tujuannya, yakni: (1) Hubungan kolegial; (2) Demokrasi; (3) Berorientasi pada kebutuhan dan aspirasi guru; (4) Obyektif; (5) Mengutamakan prarakarsa dan tanggungjawab guru.

  1. Prinsip Hubungan Kolegial: Hubungan supervisor dan guru yang kolegial, sederajat dan interaktif membuka kemungkinan tumbuhnya situasi dan iklim yang kondusif bagi terlaksananya supervisi yang kreatif dan bersifat dua arah. Hubungan antara dua tenaga profesional di mana yang satu lebih berpengalaman (supervisor) dari yang lain (guru) memungkinkan terjadinya dialog yang konstruktif dalam suasana yang intim dan keterbukaan.
  2. Prinsip Demokrasi: Kepemimpinan supervisor yang demokratis memberi peluang kepada guru untuk berfikir secara kreatif dan percaya diri serta obyektif rasional dalam mengambil keputusan pada saat pertemuan pendahuluan maupun pertemuan balikan, dimana guru harus mampu menganalisis data untuk kerja mengajarnya.Suasana demokratis dapat terwujud apabila kedua dengan bebas mengemukakan pendapat, tidak mendominasi pembicaraan, terbuka dalam menyampaikan dan menerima pendapat yang pada akhirnya kedua pihak mampu menghasilkan keputusan bersama.
  3. Prinsip Berorientasi pada Kebutuhan dan Aspirasi Guru: Pada hakekatnya tujuan supervisi adalah membantu guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya. Bantuan supervisi dirasakan guru bermanfaat apabila proses supervisi memusatkan perhatian pada apa yang dibutuhkan oleh guru. Dengan prinsip ini guru mendorong untuk mampu menganalisis kebutuhan dan aspirasinya dalam usaha mengembangkan dirinya.
  4. Prinsip Obyektif: Supervisor dan guru harus bersikap obyektif dalam mengemukakan pendapat dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, data hasil observasi yang cermat sangat diperlukan untuk dianalisis dalam menarik suatu pendapat dalam proses pengambilan keputusan yang ibjektif tersebut.
  5. Prinsip Mengutamakan Prakarsa dan Tanggungjawab Guru Sendiri: Dalam tahap perencanaan, observasi dan tahap balikan, guru diberi peluang yang seluas-luasnya untuk mengambil inisiatif dan aktif berpartisipasi dalam berpendapat dan atau dalam mengambil keputusan. Dengan perlakuan yang sedemikian itu, parakarsa atau inisiatif dan tanggungjawab untuk mengembangkan kemampuan dirinya sendiri akan berkembang.

 

Tujuan Supervisi Klinis: Tujuan supevisi klinis dapat dibedakan menjadi:

1) Tujuan umum dan 2) Tujuan khusus.

  • Tujuan Umum Supervisi Klinis

Konsep dasar dan prinsip-prinsip supervisi klinis memberi tekanan pada proses bantuan yang diberikan kepada guru atas dasar kebutuhan yang dirasakan dalam meningkatkan proses belajar mengajar. Peningkatan kemampuan profesional guru tersebut dimaksudkan untuk menunjang pembaharuan pendidikan serta menanggulangi degradasi proses pendidikan di sekolah dengan memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar (proses pembelajaran) di kelas. Peningkatan kualitas mengajar guru di kelas diharapkan dapat meningkatkan proses belajar siswa, sehingga tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah dapat tercapai secara maksimal. Dengan menerapkan pendekatan supervisi klinis, supervisor diharapkan mampu membantu guru meningkatkan kemampuan profesional mengajarnya secara mandiri.

  • Tujuan Khusus Supervisi Klinis

Tujuan umum supervisi klinis seperti yang tersebut diatas, dapat dirinci ke dalam tujuan-tujuan khusus sebagai berikut:a) Memberi balikan yang objektif kepada guru tentang unjuk kerja mengajarnya di kelas. Balikan tersebut merupakan cermin guru untuk memahami unjuk kerja mengajarnya baik yang positif maupun yang negatif, yang diharapkan guru menyadari kelebihan dan kekurangan unjuk kerja mengajarnya, serta mendorong guru agar berupaya menyempurnakan kekurangannya dan meningkatkan potensi yang dimiliki; b) Membantu guru menganalisis, mendiagnosis dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh guru; c)Membantu guru mengembangkan keterampilan-keterampilan mengejarnya dan menerapkan strategi pembelajaran; d) Membantu guru mengembangkan sikap positifnya dalam upaya megembangkan diri secara berkelanjutan dalam karir dan profesinya secara mandiri; e) Sebagai dasar untuk menilai kemampuan guru dalam rangka promosi jabatan atau pekerjaannya.

Profesionalisme Guru

  1. Pengertian professional.

Istilah professional berasal dari profession. Dalam bahasa inggris “profesion bararti pekaejaan.’ Arifin dalam buku Kapita Selekta Pendidikan mengemukakan profesion mengandung arti yang sama dengan occupation  atau pekerjaanyang memerlukan keahlian yang diperolah melalui pendidikan atau keahlian khusus.

Menurut Martinis Yamin profesi merupakan seorang yang menekuni pekarjaan berdasarkan keahlian, kemampuan,teknik dan prosuder berdasarkan intelektualitas.

H A R Tilaaar menjelaskan pula bahwa seorang professional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi  atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya .Adapun mengenai pengertian profesionalisme itu sendiri adalah ,suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekarjaan yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus.Profesionalisme guru merupakan kondisi arah, nilai,tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencahariannya.

  1. Aspek-aspek Kompetensi guru professional

Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru mencakup empat aspek sebagai berikut:

  1. Kompetensi pedagogik

Dalam Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 ayat 3 butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kompetensi mengelola pembelajaran peserta didika yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

  1. Kompetensi Kepribadian

Dalam Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 3 butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

  1. Kompetensi Profesional

Dalam Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 3 butir c, dikemakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi professional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membmbing peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan dalam Standar Pendidikan.

  1. Kompetensi sosial

Dalam Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 3 butir d, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat .

  1. Hipotesis Tindakan

Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah Penerapan supervisi klinis dapat meningkatan profesionalisme guru Bahasa Inggris dalam proses pembelajaran di sekolah Binaan di Semester 2 Tahun pelajaran 2013/2014.

METODE PENELITIAN

  1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah guru Bahasa Inggris di sekolah Binaan di Kabupaten Brebes semester 2 tahun pelajaran 2013/2014. Sekolah yang menjadi subjek penelitian adalah, kecamatan paguyangan. Jumlah guru yang menjadi subjek penelitian adalah 3 orang yakni dari SMP Negeri 1 paguyangan yang berdasarkan hasil supervisi rutin, guru-guru tersebut  masih memiliki kemampuan yang belum maksimal dalam proses pembelajaran.

  1. Setting/Tempat Penelitian

Lokasi tempat untuk melakukan penelitian tindakan sekolah ini adalah di Kabupaten Brebes yakni SMP Negeri 1 Paguyangan. Hal ini dilakukan karena SMP tersebut merupakan sekolah binaan mata pelajaran bahasa Inggris dan merupakan daerah binaan peneliti selaku Pengawas Sekolah. Selain itu, pemilihan sekolah tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam proses pembelajaran. Sedangkan waktu penelitian direncanakan pada bulan Februari 2014 sampai dengan bulan Mei 2014 (selama 4 bulan penelitian).

Rancangan Penelitian

  1. Penelitian Tindakan Sekolah  dilaksanakan melalui dua  siklus.
  2. Kegiatan dilaksanakan dalam semester Genap tahun pelajaran 2013/2014
  3. Lama penelitian 4 bulan, dilaksanakan mulai tanggal 11 Februari 2014 sampai dengan  30 Mei 2014.

Dalam pelaksanaan tindakan,rancangan dilakukan dalam 2 siklus yang meliputi ; (1) perencanaan,(2) tindakan,(3) pengamatan,(4) refleksi.

  1. Rencana ( Plan ) : adalah rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi.
  2. Tindakan ( Action ) : adalah apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan.
  3. Observasi ( Observation ) : adalah mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap guru.
  4. Refleksi ( reflection ) : adalah peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari pelbagai keriteria.
  5. Indikator Keberhasilan

Penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam dua siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan kinerja guru melalui pembinaan supervisi klinis Pengawas mencapai 85 % guru yang diteliti telah mencapai ketuntasan dengan nilai rata rata 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan dilaksanakan karena tindakan sekolah yang dilakukan sudah dinilai efektif sesuai dengan harapan dalam manajemen berbasis sekolah ( MBS ).

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

  1. Deskripsi Hasil Penelitian

Dari hasil wawancara dan angket terhadap tiga orang guru, peneliti memperoleh  informasi bahwa semua guru (tiga orang) belum memiliki standar proses dan juga standar penilaian, bahkan sekolah tempat mereka mengajar pun belum memiliki kedua standar tersebut.  Ketiga orang guru Bahasa Inggris sudah memiliki silabus yang dijadikan sebagai acuan untuk mengajar, daftar nilai, kalender pendidikan, jadwal pelajaran, dan jurna mengajar,tetapi belum semua guru membuat perangkat pembelajaran yang lain seperti Program Tahunan, Program Semester, dan RPP.Umumnya guru mengadopsi dan mengkopi paste RPP milik orang lain.Tugas seorang guru selain menyiapkan perangkat pembelajaran juga melakukan proses pembelajaran di kelas. Semua yang direncanakan dalam RPP diimplementasikan di kelas. Keberhasilan pembelajaran bukan hanya dilihat dari perangkat dan nilai akhirnya saja yang bagus, tetapi proses pembelajaran di kelas harus bagus atau sebaliknya. Selanjutnya dievaluasi, direfleksi, dan ditindaklanjuti.

Kehadiran guru di kelas tepat waktu sebagai pendidik bisa menjadi contoh bagi anak didiknya. Dari hasil angket, dua orang guru kadang- kadang telat masuk kelas alasnya jarak tempat tinggal mereka dengan sekolah cukup jauh. Karena telat, akhirnya kadang lupa menanyakan kehadiran dan kondisi siswa, padahal hal ini penting untuk mengecek kesiapan siswa sebelum mengikuti pelajaran.Dalam proses pembelajaran, guru juga harus menyampaikan tujuan, manfaat, dan juga rencana kegiatan pembelajaran agar siswa mengetahui akan melakukan apa selama PBM tersebut. Dari hasil angket terhadap tiga orang guru bahwa mereka menyampaikan tujuan, tetapi manfaat dan rencana kegiatan pembelajaran tidak disampaikan.Hal ini dilakukan karena mereka tidak tahu. Sebagian guru tidak mengumpulkan tugas siswa sebagai tugas portofolio, tidak menyimpulkan materi kegiatan, tidak menyampaikan kegiatan yang akan datang, dan tidak memberi tugas rumah.

Dilihat dari segi kompetensi guru Bahasa Inggris yang menjadi objek penelitian, terjadi peningkatan dalam kegiatan Pelaksanaan Pembelajaran di kelas dari siklus ke siklus. Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Kegiatan Pelaksanaan Pembelajaran  dari Siklus ke Siklus.

Siklus I (Pertama)

Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi seperti berikut ini.

  1. Perencanaan ( Planning 🙂a) Membuat lembar wawancara,b)Membuat format/instrumen penilaian kegiatan pembelajaran,c) Membuat format rekapitulasi hasil kegiatan pembelajaran siklus I dan II, d)Membuat format rekapitulasi hasil kegiatan pembelajaran dari siklus ke Siklus.
  2. Pelaksanaan (Acting): Pelaksanaan supervisi klinis oleh peneliti terhadap guru Bahasa Inggris di wilayah binaan Kabupaten Brebes ketika guru tidak mengajar dan juga ketika pembelajaran usai. Pelaksanaan supervisi klinis dalam hal ini adalah melakukan  pembinaan dan pembimbingan  oleh peneliti terhadap guru Bahasa Inggris sebanyak tiga orang dari 3 sekolah binaan.

Pada akhir kegiatan supervisi klinis ini peneliti melakukan simulasi dengan guru-guru dengan langkah-langkah pembelajaran yang telah disusun bersama. Ketiga guru melaksanakan pembelajaran di kelas sesuai dengan yang mereka rencanakan dalam RPP. Pengawas sekolah duduk di belakang mengamati dan mencatat semua yang dilakukan guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung dari kegiatan pendahuluan, kegiatam inti, dan penutup. Guru menanggapi sangat tertarik, serius, dan santaiwalaupun diawasi oleh pengawas. Hal ini karena Pengawas Sekolah datangtidak  langsung masuk kelas  untuk melakukan penilaian, kali ini Pengawas Sekolah datang dengan memberi pembinaan dan bimbingan dalam pengelolaan pembelajaran.

Guru diberi penjelasan tentang langkah – langkah pembelajaran saintifik dengan berbagai model pembelajaran kooperatif. Peneliti memberikan pembinaan  yang terdiri dari cara pengelolaan siswa yang bervariasi yaitu; secara klasikal, kelompok kecil, berpasangan, dan individual. Selain itu, anggota  kelompok dibentuk beragam. Guru dalam memberikan pertanyaan berupaya terus, agar dapat memancing siswa, guru juga memberikan motivasi pelayanan individual kepada siswa, termasuk menggunakan berbagai sumber dan alat bantu mengajar, kemudian memberi umpan balik, ada komunikasi, hasil karya  peserta didik dipajang, maupun guru selalu  melakukan refleksi diri.

Guru selalu diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide-idenya. Setelah kegiatan tersebut puas dan yakin dapat melaksanakan dengan baik, maka membuat kesepakatan waktu untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas yang diawali dari penyusunan RPP yang baik, lengkap, dan sesuai dengan sistematika penyusunan RPP. Satu minggu berikutnya ketiga guru Bahasa Inggris tersebut mempraktekan RPP yang sudah dibuat untuk satu kali pertemuan.

  1. Pembahasan

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti melalui dua siklus terhadap profesionalisme  guru dalam proses pembelajaran ini dapat dilihat pada lampiran rekap nilai kegiatan proses pembelajaran dari ketiga guru Bahasa Indonesia tersebut.

Pada pra siklus, hasil dari pengamatan sebelum dilakukan penelitian, guru pertama skornya 65%, guru kedua 60%, dan guru ketiga 73%, rata- rata nilainya adalah 66% (kurang). Skor kurang dari 70% (kurang), skor 70% – 80% (cukup), skor 80% – 90%  (baik), dan skor 90% – 100% nilainya (amat baik).

Pada siklus pertama, hasil pengamatan peneliti dari kegitan pendahuluan, inti, dan kegiatan penutup diperoleh nilai, guru pertama skornya 75%, guru kedua skornya 70%, dan guru ketiga skornya 80%, nilairata- rata dari ketiga orang guru tersebut adalah 75% (cukup), terjadi peningkatan dari pra siklus sebesar 14%. Selanjutnya, ketiga guru tersebut melakukan refleksi dengan pengawas sebagai peneliti. Mereka menyampaikan kendala- kendala yang dialami saat proses pembelajaran. Pengawas sekolah memberikan bimbingan terhadap ketiga guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, menyampaikan kekurangan- kekurangan dalam proses pembelajaran pada siklus I, dan menyampaikan tindak lanjut yang harus dilakukan untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran agar lebih meningkat.

Pada siklus kedua setelah dilakukan pembimbingan, hasil pengamatan peneliti dari kegitan pendahuluan, inti, dan kegiatan penutup diperoleh nilai, guru pertama skornya 90%, guru kedua skornya 80%, dan guru ketiga skornya 90%, nilai rata- rata dari ketiga orang guru tersebut adalah 87% (baik), terjadi peningkatan dari siklus I sebesar 18%. Karena nilai rata- ratanya sudah mencukupi sesuai yang diharapkan peneliti, maka penelitian hanya dilakukan dua siklus.

Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.Skor yang diperoleh setiap guru dari siklus ke siklus selalu meningkat. Guru A kenaikannya 25, persentase kenaikannya 40%, guru B kenaikannya 20, persentase kenaikannya 33%, dan guru C kenaikannya 18, persentase kenaikannya 24%. Rata- rata kenaikan dari keseluruhan adalah 22, persentase kenaikannya 33%.

Untuk mengetahui hasil penelitian ini secara keseluruhan dari siklus ke siklus dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Kegiatan Pembelajaran Guru Bahasa Inggris sekolah binaan di Kabupaten Brebes.

 

PENUTUP

 

  1. Simpulan

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa tindakan supervisi klinis yang dilakukan oleh pengawas sebagai peneliti terhadap tiga orang guru Bahasa Inggris dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam  proses pembelajaran. Bukti keberhasilan tersebut adalah bahwa mutu proses pembelajaran yang dilakukan oleh tiga orang guru Bahasa Ingris sekolah Binaan di Kabupaten Brebes dari kondisi awal sebelum siklus I ke kondisi akhir siklus II terdapat peningkatan dari skor  rata- rata 68% menjadi 76% pada siklus I, dan 88% pada siklus II. Total kenaikan sebesar 33%. Proses pembimbingan dengan partisipasi aktif Pengawas Sekolah dari kondisi awal belum dilaksanakan ( 0 ), setelah dilaksanakan mendapat  skor keberhasilan 9 (15%) pada siklus I, 14 (19%) pada siklus II, sehingga total kenaikan 21 (32%). Kenaikan skor mutu pembelajaran ini merupakan hasil dari proses pembimbingan secara individu oleh peneliti.

  1. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini dan pentingnya permasalahan ini maka peneliti mengajukan saran-saran kepada pihak -pihak yang terkait dengan dunia pendidikan antara lain :

  1. Bagi penelitian selanjutnya bisa lebih disempurnakan lagi dalam pelaksanaan tindakan terhadap guru sasaran dan juga dalam penggunaan instumen penelitian agar hasilnya lebih valid.
  2. Bagi Pengawas Sekolah, disarankan untuk memberikan layanan dan bantuan berupa bimbingan dan pembinaan yang efektif kepada guru-guru bianannya agar ada peningkatan kinerja guru yang lebih profesional lagi.
  3. Bagi Kepala Sekolah, sebagai menejer dan supervisor harus konsisten
    dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya di sekolah yang
  4. Bagi guru, untuk selalu melakukan perubahan-perubahan di bidang
    pendidikan dan pembelajaran juga selalu mengembangkan dirinya untuk melakukan suatu inovasi dalam pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2003. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Petunjuk Teknis Pembuatan Laporan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Karya Tulis Ilmiah Dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah. Jakarta.

Hamalik, Oemar. 2000. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algessindo.

Ibrahim, M. dan Nur M.2000.Pembelajaran kooperatif. Surabaya: University Press

Ismail. 2003. Media Pembelajaran (Model- model Pembelajaran). Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP.

Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.

——- 2010. Supervisi Akademik. Jakarta.

Pandoyo. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Semarang: IKIP Semarang Press.

Pidarta, Made . 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi

Sanjana, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sudjana, Nana. 2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator. Jakarta : Binamitra Publishing.

Usman, Uzer Moch..1995.Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosdakarya.

Wijaya, Cece. 1994. Kemampuan Dasar guru dalam PBM. Bandung: Rosdakarya.

Yusuf, Syamsu. 1993. Dasar- dasar Pembinaan Kemampuan Proses Belajar Mengajar.  Bandung: CV Andria.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *