PTK IPA : Rangkaian Listrik Melalui Penggunaan Alat Peraga KIT

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA RANGKAIAN LISTRIK MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA KIT IPA

 

Oleh : Wiarso,S.Pd

 

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa sekolah dasar. Sedangkan secara khusus bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Keniten pada semester II tahun pelajaran 2014/2015. Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknis tes. Sesuai dengan materi pelajarannya yaitu tentang hemat energi, rangkaian listrik seri  dan rangkaian listrik paralel maka tes yang dilaksanakan adalah tes perbuatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penggunaan alat peraga KIT IPA hasil belajar IPA tentang hemat energi, rangkaian listrik seri  dan rangkaian listrik paralel bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester II tahun pelajaran 2014/2015 dapat ditingkatkan. Dari rata-rata nilai kondisi awal yang hanya 53,43 dapat ditingkatkan menjadi 70,60 diakhir siklus I dan menjadi 90,61 diakhir siklus II.

Kata kunci: Rangkaian listrik seri, Rangkaian listrik paralel, Alat peraga KIT IPA, dan Hasi Belajar

  

PENDAHULUAN

Mengapa hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas VI masih rendah? Apakah karena materi pelajaraanya terlalu sulit untuk siswa sekolah dasar kelas VI? Apakah guru dalam mengajar lebih dominan menggunakan metode ceramah, tugas, dan diskusi? Apakah karena minimnya atau bahkan tidak adanya alat peraga untuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan alam? Apakah dikarenakan belum optimalnya penggunaan alat peraga untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam?.

Memang banyak sekali faktor yang mempengaruhi penyebab masih rendahnya hasil belajar IPA rangkaian listrik. Dengan mencermati adanya kesenjangan antara kenyataan yang ada dengan harapan yang diinginkan. Peneliti tidak mungkin dalam satu kesempatan peneliti dapat meneliti semua faktor penyebab rendahnya hasil belajar rangkaian listrik. Peneliti hanya mengambil satu kemungkinan penyebab masih rendahnya hasil belajar IPA rangkaian listrik, yaitu belum optimalnya penggunaan alat peraga KIT IPA.

Secara berjenjang peneliti berkeinginan untuk penggunaan alat peraga KIT IPA dalam pembelajaran rangkaian listrik pada siswa kelas VI mulai dari siklus I dan meningkatkan kwantitas alat peraga pada siklus II.

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah maka dibuatlah rumusan masalah dalam PTK ini sebagai berikut: “Apakah melalui penggunaan alat peraga  KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA rangkaian listrik  bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester II tahun pelajaran 2014/2015?”

KAJIAN PUSTAKA

1.    Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Rangkaian LIstrik

  1. Hakekat Belajar

Apakah belajar itu? Banyak pakar bidang pendidikan yang merumuskan teori tentang belajar. Dalan penelitian tindakan kelas ini penulis menyajikan dua teori tentang belajar dari dua tokoh pendidikan, satu tokoh dari dalam negeri yaitu Masyhuri HP dan satu tokoh pendidikan dari luar negeri yaitu E.R. Hilgart.

Belajar adalah suatu aktivitas untuk menghasilkan perubahan pada diri individu. Bahwa perubahan yang diharapkan itu berupa kemempuan-kemampuan baru dalam memberikan respons terhadap stimulus yang diterima. ( Masyhuri HP, 1990 : 52 ). Perumusan belajar dari E.R. Hilgart : “Learning is the process by which an activity originates or is changed through training procedures. Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan yang mungkin membuahkan atau menghasilkan pola kelakuan tertentu (yang belum dimiliki sebelumnya) tetapi mungkin pula merubah pola kelakuan (yang telah dimiliki sebelumnya). Pola kelakuan atau tingkah laku dari seseorang dipengaruhi oleh apa yang dimiliki orang tersebut (sifat-sifatnya, pengalamannya, pengetahuan, ketrampilan-ketrampilannya, sikapnya, keadaan jasmaninya dan sebagainya) tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan. Hasil belajar dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, diantaranya adalah dorongan dari dalam diri (motif), bahan yang dipelajari, alat-alat, banyaknya waktu yang digunakan, cara belajar dan sebagainya.

  1. Hasil Belajar

Hasil belajar dapat disamakan pengertiannya dengan produk belajar. Yaitu merupakan suatu pola perbuatan, nilai, makna, apresiasi, kecakapan, keterampilan, yang berguna bagi masyarakat. ( Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990 : 172 ). Ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif, affektif, dan psikomotorik.

  1. Hasil Belajar IPA

Yang dimaksud dengan hasil belajar IPA adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran IPA setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar mata pelajaran IPA dalam kurun waktu tertentu dan program tertentu.

  1. Rangkaian Listrik

Rangkaian listrik dalam penelitian tindakan kelas ini adalah rangkaian listrik yang menggunakan sumber energi berupa batu baterai  bertegangan 1,5 volt dan lampu pijar 1,5 volt juga. Rangkaian listrik yang disusun meliputi rangkaian seri dan rangkaian paralel. Bila batu baterai atau sumber listrik yang lain disusun berderet, maka rangkaian tersebut disebut rangkaian seri. Sebaliknya, bila batu baterai atau sumber energi listrik yang lain disusun sejajar, maka rangkaian tersebut disebut rangkaian paralel (Haryanto, 2004 : 130).

  1. Hasil Belajar IPA Rangkaian Listrik

Dalam penulisan penelitian tindakan kelas ini, hasil belajar IPA rangkaian listrik yang dimaksud adalah nilai mata pelajaran IPA rangkaian listrik yang dilaksanakan pada siklus I dan siklus II yang diperoleh siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada semester II Tahun Pelajaran 2014/2015. Ada dua nilai dalam hal ini yaitu nilai siklus I dan nilai siklus II.

  1. Alat Peraga KIT IPA
  1. Alat Peraga

Alat peraga adalah benda yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dengan baik.

  1. KIT IPA

Alat peraga KIT IPA adalah merupakan suatu sistem yang didesain atau dirancang secara khusus untuk suatu tujuan tertentu. Menurut Tisnoherawati (2004) mengemukakan alat peraga KIT IPA dalam pembelajaran adalah nama alat-alat IPA yang digunakan untuk percobaan dalam pembelajaran IPA di Sekolah Dasar.

KERANGKA BERPIKIR

  1. Kondisi Awal

Pada kondisi awal diketahui bahwa guru belum mengunakanalat peraga dalam proses belajar mengajar. Pemahaman siswa tentang konsep dasar rangkaian listrik masih kurang. Hasil belajar IPA siswa kelas VI SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester II tahun pelajaran 2014/2015 masih rendah.

  1. Tindakan

Melihat hasil belajar siswa yang rendah tersebut, guru mencoba melakukan tindakan untuk dapat meningkatkannya dengan menggunakan alat peraga KIT IPA  dalam proses belajar mengajar. Penggunaan alat peraga tersebut dilakukan dalam dua siklus. Kualitas dan kuantitas penggunaan alat peraga KIT IPA pada siklus II lebih tinggi dari pada siklus I.

 Pada siklus I, kegiatan belajar mengajar menggunakan alat peraga KIT IPA secara kelompok membuat rangkaian listrik seri , selanjutnya setiap siswa disuruh membuat rangkaian listrik seri. Pada siklus II setiap siswa menggunakan satu set alat peraga KIT IPA dan  di akhir siklus II diadakan tes perbuatan. Tiap siswa disuruh membuat rangkaian listrik paralel.

  1. Kondisi Akhir

Dengan peningkatan kualitas dan kuantitas penggunaan alat peraga KIT IPA dari siklus I ke siklus II diduga akan terjadi peningkatan hasil belajar IPA rangkaian listrik. Peningkatan kualitas penggunaan alat peraga KIT IPA artinya pembinaan dan pembimbingan terhadap siswa ditingkatkan. Di siklus I alat peraga digunakan secara kelompok, sedangkan di siklus II alat peraga digunakan secara individu.

 

Siswa :

Hasil belajar IPA rendah

Alur cerita dari kondisi awal guru dan siswa, tindakan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa  dalam siklus I dan siklus II, sampai dengan bagaimana dugaan hasil belajar yang dicapai siswa  pada kondisi akhir, dapat dilihat dalam gambar di bawah ini:

Guru :

belum menggunakan alat peraga KIT IPA

Siklus I menggunakan alat peraga KIT IPA secara kelompok
Guru :

menggunakan alat peraga KIT  IPAdalam KBM

Siklus II, menggunakan alat peraga KIT IPA secara individu.

KERANGKA BERFIKIR

Pengajuan Hipotesis

Berdasarkan kajian teoretis dan kerangka berpikir di atas, maka diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut : “Melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA rangkaian listrik bagi  siswa kelas VI SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester II tahun pelajaran 2014/2015”.

METODOLOGI PENELITIAN

Subjek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada semester II tahun pelajaran 2014/2015. Siswa  kelas VI SD negeri 1 Keniten terdiri 23 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan.

 Penelitian Tindakan Kelas ini hanya menggunakan sumber data primer yang berupa nilai hasil belajar. Ada tiga macam nilai yang diambil dari subyek penelitian ini, yaitu nilai kondisi awal, nilai siklus I, dan nilai akhir siklus II. Dari tiga macam nilai tersebut yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar adalah nilai kondisi awal dan nilai akhir siklus II. Karena dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat dua siklus, maka terdapat dua nilai akhir siklus, yaitu nilai akhir siklus I dan nilai akhir siklus II. Nilai pertama diperoleh melalui tes diakhir siklus I, dan nilai kedua diperoleh melalui tes diakhir siklus II. Yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa nilai akhir siklus II (sebagai nilai kondisi akhir).

Analisis data dalam penelitian tindakan kelas adalah menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu membandingkan secara tertulis nilai-nilai yang ada. Nilai-nilai yang diperbandingkan adalah nilai rata-rata kondisi awal, nilai rata-rata kondisi akhir siklus I, dan nilai rata-rata kondisi akhir siklus II. Analisis deskriptif komparatif tersebut meliputi :

  • Analisis deskriptif komparatif kondisi awal dengan kondisi akhir siklus I. Nilai rata-rata pada kondisi awal diperbandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus I.
  • Analisis deskriptif komparatif kondisi akhir siklus I dengan kondisi akhir siklus II. Niai rata-rata tes akhir siklus I diperbandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus II.
  • Analisis deskriptif komparatif kondidi awal dengan kondisi akhir kondisi akhir siklus II seandainya dalam penelitian tersebut hanya ada dua siklus) nilai rata-rata kondisi awal diperbandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus II/kondisi akhir.

Analisis deskriptif komparatif antara kondisi awal dengan kondisi akhir (kondisi diakhir siklus II) merupakan penentu berhasil tidaknya upaya guru peneliti dalam melakukan sejumlah tindakan pada siklus I dan siklus II untuk meningkatkan hasil belajar subyek penelitian. Apabila nilai hasil belajar subyek penelitian pada akhir siklus II lebih tinggi dari pada kondisi awal, maka penelitian tindakan kelas dikatakan berhasil.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Kondisi Awal

 Sebagaimana tertulis pada latar belakang bahwa kondisi awal penelitian tindakan kelas ini pada diri siswa kelas VI khususnya di SD Negeri 1 Keniten  Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng tahun pelajaran 2014/2015 yang rata-rata hasil belajarnya rendah. Untuk mata pelajaran IPA dari 2 kali ulangan harian,berturut-turut diperoleh rata-rata nilai 50,43  dan 56,43 maka diperoleh rata-rata nilai 53,43. Perhatikan tabel nilai hasil belajar pada kondisi awal di bawah ini :

NO  

MATERI POKOK

N  I  L  A  I
TERTINGGI TERENDAH RATA-RATA
1 Gaya dan Gerak 70 30 50,43
2 Perpindahan Panas 72 42 56,43
RATA  –  RATA 71 36 53,43

NILAI HASIL BELAJAR KONDISI AWAL

Dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 23 siswa yang mengikuti ulangan  atau tugas harian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, hanya 4 siswa (17,39 %) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 19 siswa (82,61 %). KKM mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas VI adalah 70.

2.      Deskripsi Siklus I

       Siklus I  dapat dilaksanakan dengan penyampaian materi pelajaran secara teoritis dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana, yaitu pada hari Senin tanggal 16 Februari 2015 dan  tes akhir siklus I  dilaksanakan pada hari Jum`at tanggal 20 Februari 2015.

Observing

Dalam pembelajaran ini bentuk tes yang digunakan adalah tes perbuatan. Setiap siswa menyusun rangkaian listrik secara seri secara individual.Dari 23 siswa kelas VI SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng yang mengikuti tes akhir siklus I, diperoleh nilai rata-rata 70,60. Nilai tertinggi 86,00 dan nilai terendah 47,00.

Dikaitkan dengan kriteria ketuntasan minimal, dari 23 siswa yang mengikuti tes akhir siklus I membuat rangkaian seri, terdapat 13 siswa       (56.52 %) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 10 siswa (43.48 %). KKM mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas VI adalah 70.

Reflecting

 Bila nilai rata-rata kondisi awal (53,43) dibandingkan dengan nilai rata-rata pada akhir siklus I (70,60) maka terdapat kenaikan 17,17 (32,14 %). Kenaikan nilai rata-rata yang mencapai angka 17,17   (32,14 %) tersebut termasuk kenaikan yang tinggi.

NO NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS I KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 71,00 86,00 21,13 %
2 Rata-rata 53,43 70,60 32,14 %
3 Terendah 36,00 47,00 31,16 %

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AWAL DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS I

  1. Deskripsi Siklus II

Siklus II  dilaksanakan pada minggu ke-4  bulan Februari 2015, yaitu tanggal 23 Februari 2015 sampai tanggal 27 Februari 2015. Siklus II dilaksanakan untuk menyampaikan materi kompetensi dasar mempraktikkan pola penggunaan dan perpindahan energi tentang pokok bahasan perpindahan energi listrik dengan  subpokok bahasan membuat rangkaian listrik sederhana  yaitu rangkaian listrik paralel.

Dalam pembelajaran menggunakan alat peraga secara individual, yaitu tiap siswa menggunakan satu set alat peraga menyusun rangkaian listrik secara paralel. Diakhir siklus II diadakan tes. Dalam pembelajaran ini bentuk tes yang digunakan adalah tes perbuatan.

 

Obseving

Setelah dilakukan penilaian di akhir siklus II diperoleh nilai tertinggi 99, nilai terendah 79 dan rata-rata nilainya adalah 91.

Dikaitkan dengan kriteria ketuntasan minimal, dari 23 siswa yang mengikuti tes akhir siklus II membuat rangkaian paralel, seluruh siswa (100 %) kelas VI dapat mencapai ketuntasan. KKM mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas VI adalah 70.

Reflecting Kondisi Akhir Siklus I dengan Kondisi Akhir Siklus II

Setelah dilakukan penilaian atau tes akhir siklus II, terbukti terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dan peningkatan jumlah ataupun prosentase subyek penelitian yang mencapai ketuntasan belajar (KKM). Nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus I sebesar 70,60  meningkat menjadi 90,61  pada akhir siklus II                ( meningkat sebesar 28,34  %).  Nilai tertinggi pada kondisi akhir siklus I sebesar  86,00  meningkat menjadi   99,00  pada akhir siklus II (meningkat sebesar  17,34 %) nilai terendah pada kondisi siklus I sebesar  47,00   meningkat menjadi  70,00  pada akhir siklus II (meningkat sebesar  68,09  %).

NO NILAI KONDISI AKHIR SIKLUS I KONDISI AKHIR SIKLUS II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 86,00 99,00 17,58 %
2 Rata-rata 70,60 90,61 28,34 %
3 Terendah 47,00 79,00 68,09 %

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA  KONDISI AKHIR   SIKLUS I DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS II

Reflecting Kondisi Awal dengan Kondisi Akhir Siklus II

Setelah dilakukan penilaian atau tes diakhir siklus II, terbukti terjadi peningkatan nilai rat-rata hasil belajar dan peningkatan jumlah ataupun prosentase subyek penelitian yang mencapai ketuntasan belajar (KKM). Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 53,43 meningkat menjadi 90,61 pada siklus II (meningkat sebesar 69,59%). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 71 meningkat menjadi 99 pada akhir siklus II (meningkat sebesar 39,44%). Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 36 meningkat menjadi 79 pada akhir siklus II (meningkat sebesar 119,44%).

NO NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 71,00 99,00 39,44 %
2 Rata-rata 53,43 90,61 69,59 %
3 Terendah 36,00 79,00 119,44 %

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AWAL DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS II

     Pembahasan Antar Siklus

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh guru peneliti sejak dari kondisi awal, kondisi akhir siklus I, sampai dengan kondisi akhir siklus II, sesuai dengan data-data yang diperoleh ternyata terjadi dinamika perubahan hasil belajar. Pada saat kondisi awal nilai rat-rata subyek penelitian hanya 53,43. Setelah peneliti melakukan tindakan disiklus I, nilai rata-rata subyek penelitian menjadi 70,60. Ketika dilakukan penilaian diakhir siklus II, ternyata nilai rata-rata subyek penelitian menjadi 90,61. Data hasil belajar subyek penelitian mulai dari kondisi awal, kondisi akhir siklus I sampai dengan kondisi akhir siklus II dapat disimak pada tabel berikut ini :

NO. SITUASI RATA-RATA NILAI
1 Kondisi Awal 53,43
2 Siklus I 70,60
3 Siklus II 90,61

 

DATA NILAI HASIL BELAJAR SUBYEK PENELITIAN

Dinamika perubahan hasil belajar dari kondisi awal, kondisi diakhir siklus I, sampai dengan kondisi diakhir siklus II (kondisi akhir) akan lebih jelas terlihat dalam diagram dibawah ini :

DIAGRAM HASIL BELAJAR SUBYEK PENELITIAN

Kiranya perlu diketahui bahwa keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah ditentukan oleh perbandingan nilai rata-rata kondisi awal dengan nilai rata-rata kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II) penelitian tindakan kelas disebut berhasil apabila nilai rata-rata subyek penelitian mengalami peningkatan dari kondisi awal ke kondisi akhir siklus II.

Sebagaimana tertulis dibagian terdahulu bahwa nilai rata-rata subyek penelitian pada saat kondisi awal adalah 53,43 sedangkan nilai rata-rata subyek penelitian pada kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II) adalah 90,61. Dengan demikian dari kondisi awal ke kondisi akhir, nilai rata-rata hasil belajar subyek penelitian mengalamai peningkatan sebesar 37,18 poin ( 42, 20 % ). Perubahan nilai rata-rata tersebut dapat lebih terlihat dengan jelas pada diagram berikut ini :

DIAGRAM HASIL BELAJAR DARI KONDISI AWAL KE KONDISI AKHIR

 PENUTUP

Data-data empirik yang dikumpulkan selama proses penelitian tindakan kelas menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti dalam siklus I dengan menggunakan alat peraga secara kelompok telah berhasil meningkatkan hasil belajar subyek penelitian. Nilai rata-rata pada kondisi awal yang hanya  53,43  dapat ditingkatkan menjadi  70,60  di akhir siklus I.

Pada siklus II, guru peneliti melakukan perubahan teknik penggunaan alat peraga. Alat peraga diubah penggunaannya menjadi secara individual pada siklus II. Dengan perubahan teknik penggunaan alat peraga tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata di akhir siklus II mengalami peningkatan menjadi   90,61  , kalau nilai rata-rata kondisi awal yang hanya  53,43  sedangkan nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus II menembus angka  90,61  berarti telah terjadi peningkatan hasi belajar  sebesar 37,18 poin atau peningkatan sebesar  69,59 %.

Berdasarkan data empirik yag dikumpulkan dalam penelitian tindakan kelas dapat sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritis dapat disimpulkan, bahwa hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini terbukti, yaitu : ”Melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA rangkaian listrik bagi  siswa kelas VI SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester II tahun pelajaran 2014/2015.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dr, Prof, Penelitian Tindakan 2010, Aditya Media, Yogyakarta.

Arikunto, suharsimi, 1983, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, YP

Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.

SUHARTANTI, Dwi, 2008, Ilmu Pengetahuan Alam untuk SD/MTs/oleh Dwi Suhartanti, Isnani, Aziz Zulaikha, Yulinda erma Suryani   – Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1999,      Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Depdikbud, Balai Pustaka, Jakarta.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990, Psikologi Belajar, Semarang : IKIP Semarang Press

……………., 2002, Petunjuk Pelaksanaan Penilaiaan Kelas Di SD, SDLB, SLB Tingkat Dasar dan MI, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Jakarta.

BIODATA

Nama guru                  : Wiarso,S.Pd

NIP                               : 19661216 199110 1 001

Gol / Ruang                 : Pembina, IV / A

Jabatan                        : Guru Kelas

Unit Kerja                   : SDN 1 Keniten UPK Kedungbanteng

                                      Kabupaten Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *