PTK IPA SMP : Keterampilan Mikroskop Melalui Uji Kerja Mikroskop A400

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI KETRAMPILAN MIKROSKOP MELALUI UJI UNJUK KERJA MIKROSKOP A400 PADA SISWA KELAS VII

 

                                      GATOT SURYO CAHYONO

ABSTRAK

            Tujuan penelitian tindakan kelas adalah meningkatkan hasil belajar IPA materi Ketrampilan Mikroskop melalui Uji Unjuk Kerja MikroskopA400. Tidak trampilnya siswa menggunakan mikroskoskop lama menjadi perhatian peneliti sehingga direncanakan penelitian tindakan kelas  mulai bulan, oktober 2014 sampai dengan Januari  2015, dengan subjek penelitian 32 siswa dari kelas VIID  dan objek penelitian pembelajaran  ketrampilan mikroskop. Penelitian menggunakan metode observasi melalui  lembar observasi berupa rubrik penilaian , dokumentasi atau catatan peneliti, dan data kolaborator. data dianalisis secara deskriptif komparatif antar siklus dan statistik komparatif.  Pencapaian nilai  pra siklus 2 siswa,  5 siswa  siklus I, 27 siswa  siklus II dan  siklus III 32 siswa telah tuntas  dari 32 siswa,  prosentase ketercapaian siklus I sebesar15,625%, siklus II 84,375%  dan siklus III 100 %itu berarti siswa telah mampu melampaui indikator keberhasilan penelitian yang tertulis sebesar 2,66  peningkatan hasil belajar IPA materi ketrampilan menggunakan mikroskop melalui uji unjuk kerja mikroskopA400 pada Kelas VIID  terbukti .

.Kata kunci : “   belajar IPA,  unjuk kerja  mikroskop A400”

PENDAHULUAN

        Dihadapkan dengan kondisi nyata yang dialami banyak siswa  terhadap hasil belajar trampil menggunakan mikroskop , terutama kelas VIID SMP Negeri 3 Gombong Kabupaten Kebumen  banyak yang belum trampil  menggunakan  mikroskop, karena siswa kelas VII belum pernah mendapatkan ketrampilan di sekolah dasar dalam hal menggunakan mikroskop. Hal ini dapat ditunjukan oleh para siswa jika mendapatkan pertanyaan “apakah siswa-siswi pernah melihat mikroskop? sebagian besar siswa akan menjawab belum tetapi jika pertanyaannya “ apakah kegunaan mikroskop ? “ hampir seluruh siswa akan menjawab kegunaan mikroskop untuk melihat bakteri atau kuman.Jawaban tersebut tidak sepenuhnya benar akan tetapi jawaban yang lebih tepat mikroskop berfungsi untuk memperbesar bayangan benda-benda yang mikroskopis, yang diperbesar bukanlah benda sesungguhnya tetapi bayangan nyata yang terbentuk tampak lebih  besar bersifat nyata, tegak diperbesar sehingga tampak oleh penglihatan kita. Siswa  kelas VII D masih takut memegang mikroskop dan siswa belum terpadu kemampuan ketrampilan dengan pengetahuan yang merupakan  hambatan instrinsik dan hambatan ekstrinsik. Misalnya : terdorong rasa ingin tahu yang kuat pada tiap siswa sehingga dalam aplikasi menjadikan kesulitan bagaimana memperlakukan mikroskop contoh yang mudah ditunjukan masih ditemukan siswa membawa mikroskop hanya tangkai mikroskop yang dipegang , tanpa disangga oleh tangan yang lain.dan proses membuka mikroskop jika langsung memutar revoler dapat lepas dari tangkai mikroskop  yang seharusnya tidak boleh terjadi. Banyak ditemukan siswa tidak membuka diafragma atau siswa melepas lensa okuler. Hal-hal seperti diatas memicu meningkatkan emosi dan stres siswa yang ingin cepat berhasil menggunakan mikroskop.

     Pencapaian kompetensi dasar nomor 4.4 Siswa Melakukan pengamatan dengan bantuan alat untuk menyelidiki struktur tumbuhan dan hewan (silabus IPA kelas 7). Dalam pembelajaran untuk menyelidiki struktur tumbuhan dan hewan mulai tingkat sel tentu akan menggunakan bantuan alat yang disebut mikroskop oleh karena hal tersebut indikator yang digunakan siswa trampil menggunakan mikroskop.

Merujuk pendapat Sugiyarto, Teguh dan Ismayanti, Eny (2008:167) Ketrampilan mikroskop sesuai buku paket IPA terpadu kelas VII yaitu type xsp 12A, XSP 12 B, akan tetapi bila disekolah memiliki alternatif pilihan sebagai pertimbangan tentang keunggulan-keunggulannya diantara bentuk dan desain lebih simpel, bobot mikroskop ringan dan hanya memiliki satu sekerup pemutar. Perbesaran mikroskop  paling minimal dibanding mikroskop lainnya misalnya 40 kali. Sangat dianjurkan pada peserta didik untuk mengamati spesimen dengan perbesaran paling lemah terlebih dahulu karena belum tentu teramati pada perbesaran kuat.

Guna mengetahui apakah siswa trampil atau belum trampil menggunakan mikroskop pada siswa kelas VIID membutuhkan adanya  alternatif sebagai solusi salah satunya uji unjuk kerja mikroskopA400. Pada uji unjuk kerja setiap siswa akan membuktikan dirinya dalam waktu tersedia dapat menunjukan hasil pengamatan atau objek yang diamati tanpa dibantu teman lainnya. Ketrampilan atau  gerakan gerakan yang perlu diamati saat unjuk kerja mikroskop yaitu koordinasi tangan dan indera penglihatan memerlukan perhatian khusus saat memanfaatkan mikroskop. Menurut Alya,Q (2009:821) pengertian uji dimaksudkan sebagai percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu, pendapat tersebut diperkuat  sebagai percobaan untuk mengetahui sesuatu seperti kecakapan Anonim (2005:1237). Unjuk kerja adalah kata majemuk yang tidak terpisahkan yang diartikan sebagai menunjukan kekuatan atau kepandaian menurut Alya,Q (2009:828) dan   dipertegas dengan cara bekerja, berperilaku atau penampilan Anonim( 2005:1248). Berdasarkan pendapat-pendapat di atas uji unjuk kerja dimaksudkan sebagai menunjukan kecakapan atau berperilaku dalam menggunakan mikroskop.

Penelitian tindakan kelas bertujuan meningkatkan hasil belajar IPA materi ketrampilan mikroskop, Hakikat IPA berdasarkan  lampiran peraturan menteri pendidikan nasional nomor 22 tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 tentang standar isi pada halaman 9 menyatakan bahwa IPA sebagai salah satu komponen mata pelajaran tingkat SMP/MTs menurut Sudibyo,B (2006:9). Hakikat IPA dinyatakan bahwa IPA merupakan mata pelajaran yang termasuk dalam kelompok wajib dibelajarkan pada peserta didik tingkat Sekolah Tingkat Menengah Pertama .( https://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_2013, 24 Pebruari 2015). Hakekat hasil belajar IPA merupakan  pencapaian   dari suatu proses pembelajaran yang berupa pengembangan pengetahuan, ketrampilan atau sikap baru saat siswa berinteraksi dengan informasi dan lingkungan. Lingkungan dimaksudkan tidak hanya tempat berlangsungnya pembelajaran tetapi juga metode, media dan peralatan yang diperlukan untuk menyampaikan informasi dalam membimbing siswa belajar. Penyusunan informasi menjadi tanggung jawab guru dan bagaimana informasi dikemas dan digunakannya menurut Anonim (2005: 3). Peraturan  menteri no 53 tahun 2015 pada bab I  ayat 1 dalam permen ini yang dimaksud dalam penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan data/informasi tentang capaian hasil pembelajaran peserta didik dalam aspek sikap, aspek pengetahuan dan aspek ketrampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, yang dilakukan untuk memantau proses, kemajuan belajar,perbaikan hasil belajar melalui penugasan dan evaluasi hasil belajar. http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/ Permendikbud53-2015 Penilaian% 20 Hasil Belajar Dikdasmen.pdf.

Sebelum dilakukan penelitian tindakan kelas ketrampilan menggunakan mikroskopA400, telah diketahui kemampuan awal siswa kelas VIID SMP Negeri 3 Gombong kabupaten Kebumen melalui pre tes dengan perolehan hasil belajar IPA materi ketrampilan mikroskop sebagai berikut:

  1. Jumlah nilai seluruh siswa = 51.6
  2. Nilai rata-rata kelas = 1.61
  3. Nilai tertinggi = 2.80
  4. Nilai terendah = 0.43
  5. Tuntas belajar =  2 siswa

Berasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah maka disusun suatu rumusan masalah sebagai berikut : “Apakah penerapan uji unjuk kerja mikroskop A400 dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi Ketrampilan Mikroskop pada siswa kelas VIID SMP Negeri 3 Gombong Kabupaten Kebumen Semester 1 Tahun Ajaran 2014 – 2015 ? “

Metode Penelitian

Pada kondisi pra siklus siswa sudah mengalami pembelajaran menggunakan mikroskop type 12A dan beri latihan untuk membuka, membuat lapang pandang dan menutup mikroskop, melalui observasi terlihat siswa melakukan perlakuan yang tidak seharusnya dilakukan. Melalui metode observasi dan dokumentasi peneliti mendapatkan data dari rumusan masalah

Kurang trampilnya siswa dalam menggunakan mikroskop telah lama diamati sehingga dilakukan penelitian tindakan kelas (classroom action reseach) dengan subyek penelitian adalah siswa kelas VIID  SMP Negeri 3 Gombong kabupaten Kebumen semester 1 tahun 2014-2015 berjumlah 32 orang terdiri dari 16 putra dan 16 putri dengan rancangan penelitian tindakan kelas atau classroom based action research. Objek penelitian tindakan kelas yang peneliti ambil adalah standar  kompetensi 4.4 Melakukan pengamatan dengan bantuan alat untuk menyelidiki struktur tumbuhan dan hewan.

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam  tiga siklus. Tiap siklus diawali dengan membangun pengetahuan, pada siklus I pengetahuan menggunakan mikroskop A400 dan  siklus I dilaksanakan pada tanggal 22 Nopember 2014. Siklus II diawali mengingatkan kegiatan yang pada siklus I belum dilaksanakan dan membuat preparat basah tumbuhan dan siklus II dilaksanakan 2 Desember 2014 dan siklus ke III  membangun pengetahuan membuat preparat basah sel hewan dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2014. Masing-masing siklus melalui tahap perencanaan tindakan, implementasi tindakan, observasi dan refleksi.

        Menurut Sugiyono (2014:62) pengumpulan data dapat dilakukan dapat menggunakan sumber primer yaitu sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data dan sumber sekunder yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Dari segi cara atau teknik, pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi atau pengamatan.

         Dalam observasi ini peneliti terlibat dengan kegiatan yang sedang diamati serta dijadikan sebagai sumber data penelitian. Melalui teknik observasi ketrampilan atau tingkah laku siswa saat menggunakan mikroskop teramati baik pada siklus 1, siklus II dan siklus III  sehingga akan diperoleh data hasil belajar IPA materi ketrampilan mikroskop.Data hasil belajar IPA  yang diperoleh dari uji unjuk kerja mikroskop A400 melalui sebuah  instrumen/rubrik penilaian yang sudah disiapkan. Berdasarkan pendapat Darmadi,H ( 2012:290)  Melalui metode observasi inilah untuk mengetahui gambaran perilaku atau kejadian dan untuk membantu mengerti perilaku manusia atau melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu sebagai umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

            Berdasarkan pendapat Haryati,M (2007:92) Dalam hal pengukuran hasil belajar aspek ketrampilan ada dua hal yang harus dilakukan oleh seorang guru yaitu membuat soal dan membuat instrumen untuk mengamati jawaban siswa. Soal untuk menilai hasil belajar peserta didik dapat berupa lembar kerja, lembar tugas, lembar perintah kerja atau lembar eksperimen.Sedang instrumen untuk mengamati jawaban peserta didik dapat berupa lembar observasi. Lembar penilaian adalah lembar yang digunakan untuk menilai kinerja peserta didik atau untuk menilai kualitas pelaksanaan aspek ketrampilan yang diamati.

            Dalam mengobservasi ketrampilan siswa  menggunakan mikroskopA400 peneliti telah menyiapkan lembar kerja siswa dan merencanakan lima kelompok ketrampilan atau lima kelompok perlakuan mikroskop yaitu perlakuan, ketrampilan membuka, menggunakan, menutup mikroskop dan menggambar spesimen sebagai alat bukti  yang digunakan  bahwa siswa telah melakukan pengamatan menggunakan mikroskop, dari ke lima kelompok ketrampilan telah terimplementasi dalam tiga kelompok ketrampilan yang tersusun pada rubrik penilaian.

Tabel 1,1: Penskoran Uji Unjuk Kerja Mikroskop A400

NO Kompetensi Skor

Maksimal

Jumlah

Item

1 Perlakuan mikroskop 12 20
2 membuka dan menutup mikroskop 8
3 Pengaturan diafragma,cermin, kondensor, makrosekerup 52
4 Gambar 8
  Jumlah 80  

 

Petunjuk penilaian Uji unjuk kerja Mikroskop A400 pada siklus 1, siklus 2 dan siklus 3 dengan penilaian sebagai berikut.

Nilai       =   Jumlah skor perolehan

                                      20

Pelaksanaan perolehan data observasi peneliti menggunakan tabel 1.1 yang dijabarkan dalam 20 macam  ketrampilan menggunakan mikroskop A400 yang dinyatakan dalam penilaian mulai skor 1- 4 pada rubrik penilaian sehingga diperoleh data kwantitatif dan data kwalitatif untuk mendapatkan data ketrampilan yang sudah dikuasai dan ketrampilan yang belum dikuasai siswa.

      Sesuai jumlah 20 mikroskop A400 yang tersedia  disekolah maka siswa dibagi dalam dua kelompok pengamatan menggunakan mikroskop. Kelompok pertama mulai nomor urut absen 1 samapai 16 dan nomor urut absen 17 hingga 32 kelompok pengamatan ke dua.

HASIL PENELITIAN

Penelitian diawali membangun pengetahuan menggunakan mikroskop pada tiap  siklus dengan berpedoman pada rubrik penilaian  maka  akan memperoleh data aspek ketrampilan sebagai petunjuk tahapan ketrampilan yang dilaksanakan siswa menggunakan mikroskopA400 dan data pencapaian penilaian yang berupa angka-angka tiap siklus. Menurut Darmadi (2013:152) data-data yang dinyatakan dalam bentuk bukan angka yaitu dalam bentuk kalimat; kata atau gambar disebut data kwalitatif sedangkan data-data yang dinyatakan dalam bentuk angka sebagai hasil konversi dari suatu kwalitatif disebut data kuantitatif. Rubrik penilaian sebagai pedoman  mengobaservasi ketrampilan siswa menggunakan mikroskopA400 dapat menghasil data kualitatif dan data kuantitatif.

  Pada tindakan siklus I diawali dengan pembelajaran menggunakan mikroskop dengan mengamati preparat kering, didapat hasil belajar IPA materi ketrampilan mikroskop lebih meningkat dibandingkan keadaan sebelum dilakukan penelitian. Hal ini dapat ditunjukan melalui data kwalitatif seperti saat observasi belajar mengajar  hasil siklus I. Hampir seluruh siswa telah memperlakukan mikroskop dengan baik mulai cara membawa mikroskopA400 hingga meletakan dimeja. Saat membuka mikroskop Misalnya: Astiani Nur Allia bagian mikroskop yang mana diputar ?; pada uji unjuk kerja mikroskop, terdapat siswa yang tidak bertanya, tidak membaca LKS atau tidak paham komponen mikroskop memaksa memutar revolver yang terkunci sehingga lepas bagian revolver atau Syafira Frijunita “Pak guru tidak ada gambarnya ? siswa menjadi aktif  dan terdorong ingin segera dapat menggunakan mikroskop menyebabkan  banyak siswa tidak membaca, tidak mengikuti lembar kerja siswa secara urut. Hal ini menimbulkan  penyimpangan – penyimpangan seperti melepas lensa okuler dalam pendapat siswa lensa okuler merupakan penutup mikroskop.tidak terbentuk lapang pandang mikroskop serta sebagian besar  siswa   tidak dapat menunjukan hasil pengamatan yang berupa gambar. Ditemukan siswa meletakan label preparat kering dibawah lensa obektif, usai tindakan siklus I dikumpulkan dan diberi pertanyaan “apakah ada anjuran untuk melepas lensa okuler pada LKS ?” dan para siswa diingatkan agar membaca lembar kerja siswa siklus I.

Data kuantitatif observasi hasil belajar IPA materi ketrampilan mikroskop hanya sedikit meningkat menjadi 2,43 pada nilai rata-rata kelas., nilai terendah 2,05, nilai tertinggi 3,10 dan siswa yang melampaui batas nilai minimum  sejumlah 5 anak . Refleksi tindakan siklus I pencapaian hasil belajar IPA sangat rendah

            Catatan kolaborator Siswa telah membawa, membuka mikroskop dengan benar tetapi  mengapa sebagian besar melepas lensa okuler ? sehingga tidak ditemukan objek. Lapang pandang gelap. Siswa tidak menemukan objek saran pada siklus berikutnya siswa diarahkan tidak melepas lensa okuler. Pada  lembar kerja siswa juga tidak ada pengarahan untuk melepas lensa okuler.Banyak siswa tidak membaca lembar kerja  dan terdapat siswa yang tidak membawa LKS, siswa menjadi gagap menghadapi mikroskop. Saran agar siswa membaca LKS dengan cermat sebelum menggunakan mikroskop.

   Tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian ini telah meningkatkan sebesar rata-rata 0,82 dari pencapaian daya serap sebesar 1,61 pada kondisi awal menjadi 2.43 pada akhir siklus I, dengan peningkatan ketercapaian penilaian sebesar 9,375% dari 6,25%  pada kondisi awal menjadi 15,625% pada akhir siklus I, tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian ini telah mampu meningkatkan meskipun masih sangat kecil. Berdasarkan pantauan observasi 84,375% melakukan kegiatan diluar lembar kerja siswa yaitu perserta didik langsung melepas lensa okuler dan teramati oleh kolaborator dan ada siswa yang meletakan spesimen belum tepat. Praktis tidak terbentuk lapang pandang yang terang dan objek tidak teramati. Sisanya 15,625% siswa tidak melepas lensa okuler sehingga dapat menemukan objek yang diamati dan ke lima siswa tersebut yang memperoleh nilai tinggi melapaui batas pencapaian penilaian minimum.

Pencapaian penilaian uji unjuk kerja menggunakan mikroskopA400 pada kelas VIID Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Gombong Kabupaten Kebumen pada akhir siklus I memiliki daya serap 2,43, nilai tertinggi 3.10, nilai terendah 2.05  dengan ketercapaian  pencapaian penilaian sebesar 15,625 % ( ada 5 orang siswa dari 32 yang telah melampaui pencapaian penilaian minimal pada kondisi siklus I,

   Hasil pemaparan komparasi pencapaian penilaian tersebut di atas mengindikasikan secara klasikal daya serap siswa VIID masih rendah atau  belum trampil menggunakan mikroskopA400, catatan kolaborator sehingga diputuskan penelitian akan dilanjutkan pada siklus ke II, dengan kalimat berbeda hasil tindakan siklus I peningkatan hasil belajar IPA materi ketrampilan mikroskop pada siswa kelas VIID SMP Negeri 3 Gombong kabupaten Kebumen semester 1 tahun 2014/2015 masih rendah.

Siklus II pembelajaran menggunakan mikroskop mengamati sel bawang merah  diperoleh hasil belajar  IPA data kualitatif hasil observasi ketrampilan mikroskop yang dicapai pada siklus II para siswa sudah tidak melakukan kegiatan melepas lensa okuler seperti pada  siklus I dan perilaku itulah yang berimplikasi cukup banyak peningkatan keberhasilan pada uji unuk kerja siklus II seperti berhasil menemukan objek yang dituangkan dalam gambar perbesaran terkecil 40 kali tetapi ada peningkatan pada dua siswa sudah mampu menunjukan hasil perbesaran 100 kali yaitu Selvia Sandita Putri dan Astiani Nur  Allia. Hal ini menunjukan bahwa ketrampilan nomor 11 yaitu menemukan objek benda paling jelas diamati dengan cara menggeser geser preparat, 12 dan13 telah dilakukan oleh kedua anak tersebut.Ketrampilan nomor, nomor 12 yaitu menggeser kondensor dan nomor 13 memutar kembali makrosekerup sehingga terbentuk bayangan benda lebih besar. Ketrampilan menutup mikroskopA400 seperti menutup diafragma, memutar makrosekerup agar meja mikroskop naik  dan mengatur cermin pada posisi vertikal hanya dilakukan oleh Kirana Fortuna Suryoharsono ketrampilan nomor 18,19,20 telah dilakukan. Hal ini terbaca jumlah siswa tidak melakukan ketrampilan nomor 11,12,13 sejumlah 30 siswa atau 93,75% siswa belum melakukan pengamatan dengan perbesaran mikroskop lebih dari 40 kali dan seluruh siswa tidak melakukan kegiatan menutup mikroskopA400 96,875% jumlahnya

 Setelah siswa mengikuti uji unjuk kerja mikroskop A400 pada akhir siklus II yang hasil pencapaian nilai menunjukan adanya peningkatan rata-rata hasil belajar IPA materi ketrampilan mikroskop siklus II pencapaian nilai rata-rata  menjadi 2,80, nilai terendah 2,50, nilai tertinggi 3,20 dan jumlah siswa yang melampaui batas nilai minimum 27 siswa.

Catatan kolaborator pada siklus II yaitu telah ada peningkatan ketrampilan menggunakan mikroskop A400.Seluruh siswa tidak melakukan lagi peristiwa melepas lensa okuler. Dalam menggambar tidak perlu ditunjukan keseluruhan objek yang tampak teramati tetapi cukup ditunjukan beberapa sel atau satu sel, yang cukup besar dan keterangan gambar agar dicantumkan supaya mudah terbedakan.Kegiatan menutup yaitu mengembalikan posisi  seperti semula seperti sebelum digunakan, misal mengatur cermin pada posisi vertikal belum dilakukan oleh siswa.

Tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian ini telah meningkatkan sebesar rata-rata 0,37 dari pencapaian daya serap sebesar 2,43 pada kondisi awal menjadi 2.80 pada akhir siklus II, dengan peningkatan ketercapaian penilaian sebesar 68,75% dari 15.625%  pada kondisi awal menjadi 84.375% pada akhir siklus II, tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian ini telah mampu meningkatkan ketrampilan menggunakan mikroskop. Berdasarkan pantauan observasi tidak terbentuk lapang pandang yang terang dan objek tidak teramati sehingga dan lama menemukan objek pengamatan

Pencapaian penilaian uji unjuk kerja menggunakan mikroskopA400 pada kelas VIID Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Gombong Kabupaten Kebumen pada akhir siklus II memiliki daya serap 2,80, nilai tertinggi 3.20, nilai terendah 2.50  dengan ketercapaian  pencapaian penilaian sebesar 84.375 % ( ada 27 orang siswa dari 32 yang telah melampaui pencapaian penilaian minimal pada kondisi siklus II)  dengan pencapaian nilai daya serap sekurang-kurang 2,66.

   Hasil pemaparan komparasi pencapaian penilaian tersebut di atas mengindikasikan secara klasikal daya serap siswa VIID masih dapat ditingkatkan atau  masih terdapat 15.625% siswa VIID belum trampil menggunakan mikroskopA400.

Berdasarkan data kualitatif siklus II,  data kuantitatif siklus II dan catatan kolaborator walaupun sudah terjadi peningkatan nilai rata-rata 68,75% cukup banyak selisihnya  dibanding dengan siklus I  tetapi kompetensi mengamati sel hewan belum dilaksanakan sehingga diputuskan melanjutkan penelitian ke siklus III.

Siklus III pembelajaran diawali membuka dan menutup mikroskopA400 dengan preparat sel hewan sehingga diperoleh data kwalitatif hasil observasi pada penelitian siklus III memberikan pernyataan oleh siswa dalam bentuk seperti di bawah ini yang mengungkapkan rasa gembira para siswa kelas VIID SMP Negeri 3 Gombong meski ada beberapa siswa yang tidak melakukan ketrampilan menutup mikroskop seperti semula, bila pada rubrik penilaian pada nomor 17,18 dan 19. Seluruh siswa telah mampu menunjukan hasil pengamatan paramecium dan menggambar hanya satu hewan. Data kwantitatif siklus III memperlihatkannilai rata-rata 3,20, nilai tertinggi 4,0, nilai terendah 2,70

Data-data pencapaian penilaian uji unjuk kerja mikroskop A400 akhir siklus III memiliki pencapaian daya serap 3,28 setiap siswa rata rata mengalami peningkatan 0,48 dari pencapaian daya serap 2,80 pada siklus II menjadi 3,28 pada siklus III , nilai tertinggi 4.00 dicapai oleh Fendy, nilai terendah mengalami peningkatan 0,2 dari 2,50 pada siklus II menjadi 2.70 pada siklus III oleh Zavon David Maulana yang telah berhasil meningkatkan melampaui pencapaian nilai minimum 2,66 sehingga ketercapaian nilai minimum mencapai100%. Hal ini menunjukan pembelajaran pada siklus III berhasil meningkatkan hasil belajar IPA materi ketrampilan mikroskop pada siswa kelas VIID SMP Negeri 3 Gombong Kabupaten Kebumen semester 1 Tahun 2014/2015 secara signifikan.

Jumlah perolehan nilai keseluruhan dari N0 51,6 meningkat 53,3 menjadi 104,9pada siklus III; daya serap belajar IPA materi ketrampilan mikroskop dari N0 1,61 meningkat 1,67 menjadi 3,28 pada siklus III ; nilai tertinggi yang dicapai oleh siswa dari N0 2,8 meningkat 1,2 menjadi 4,0; nilai t rendah dari 0,4 meningkat 2,3nmenjadi 2,70 pada siklus III dan pencapaian nilai minimum dari N0 2 siswa meningkat 30 siswa menjadi 32 siswa pada siklus III telah melampaui batas nilai minimum sehingga penelitian dihentikan hingga siklus III karena 100 % siswa telah mencapai kompetensi mengamati sel hewan dan sel tumbuhan menggunakan alat . Sesuai keterbatasan alat sehingga komponen-komponen sel hanya bagian luar nya saja, organel-organel sel dapat diamati menggunakan spesifikasi alat yang lebih teliti lagi.

Grafik :Rekapitulasi pencapaian nilai uji unjuk kerja  mikroskop A400  siklus III

Jika dibandingkan dengan keadaan sebelum dilaksanakan pembelajaran menggunakan mikroskopA400., melalui uji unjuk kerja mikroskopA400 juga telah berhasil meningkatkan prosentasi ketercapaian penilaian minimal (2.66) baik selama siklus  I sejumlah 9,375% maupun siklus II sejumlah 68,75% dan siklus III sejumlah 15,625%, sehingga menurut indikator keberhasilan penelitian tindakan uji unjuk kerja mikroskop A400 pada tindakan siklus I, tindakan siklus II dan tindakan siklus III yang dilakukan membuktikan telah berhasil meningkatkan hasil belajar IPA materi ketrampilan mikroskop pada siswa kelas VIID SMP Negeri 3 Gombong kabupaten Kebumen semester 1 tahun 2014-2015 secara nyata.

SIMPULAN DAN SARAN

  • Kesimpulan

Melalui penelitian tindakan kelas dalam tiga siklus dapat disimpulkan:

Berawal  dari data pra siklus pencapaian nilai minimum 6,25% dengan tindakan siklus I meningkat 9,375 % siklus II berhasil meningkat 68,75% dan meningkat 15,625% pada tindakan siklus III  dengan tingkat ketercapaian 100% hasil belajar IPA

Berdasarkan data yang diperoleh dari pengalaman secara empiris dan hasil secara teoritis uji unjuk kerja menggunakan mikroskop A400 telah meningkatkan  ketrampilan mikroskop  pada siswa kelas VIID SMP Negeri 3 Gombong Kabupaten Kebumen semester 1 tahun ajaran 2014/2015 .

  • Saran

  1. Jika situasi dan kondisi sekolah memungkinkan pembelajaran ketrampilan mikroskop A400 melalui uji unjuk kerja secara individu dapat dijadikan alternatif model pembelajaran yang pada akhirnya kompetensi pembelajaran dapat tercapai.
  2. Unjuk kerja mikroskop dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan pembelajaran melalui tersusun diktat pembelajaran mikroskop, yang sangat bermanfaat tidak hanya sebagai rujukan pembelajaran tetapi acuan bagi peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alya,Q; 2009; Kamus Bahasa Indonesia;Jakarta; PT Indah Jaya Adipratama
  2. kompetensi peserta didik sekolah menengah pertama; Jakarta; Dikdasmen
  3. Darmadi,H;Metode Penelitian Pendidikan dan Sosia;Bandung; AlfaBeta.
  4. http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/ Permendikbud53-2015Penilaian% 20 Hasil Belajar Dikdasmen.pdf.
  5. https://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_2013, 24 Pebruari 2015
  6. http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/ Permendikbud53-2015Penilaian% 20 Hasil Belajar Dikdasmen.pdf.
  7. Haryati, M; 2007; Model & Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan; Jakarta; Gaung Persada Press.
  8. Sudibyo,B;2006; Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 .Jakarta; Depdiknas.
  9. Sugiyono;2014; Memahami Penelitian Kualitatif; Bandung; AlfaBeta.
  10. Sugiyarto,Teguh dan Ismayanti,Eny; 2008;Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP /MTs kelas VII; Jakarta; Pusat Perbukuan Depdiknas.

 

BIODATA PENULIS

  1. NAMA : Drs. GATOT SURYO CAHYONO
  2. ALAMAT : JLN Wadaslintang no 16 Prembun



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *