PTK Kelas IV Matematika Materi Simetri dan Pencerminan

PENINGKATKAN DISIPLIN DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI SIMETRI DAN PENCERMINAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN STAD DI KELAS IV SD NEGERI 1 RANCABANTENG

Oleh : Wijiyanti, S.Pd

 

ABSTRAK

           Penelitian bertujuan untuk meningkatkan Prestasi belajar matematika siswa materi simetri dan pencerminan melalui Cooperative Learning tipe STAD. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN 1 Rancabanteng dengan jumlah siswa 16. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri 3 pertemuan, yaitu 1 pertemuan terdiri 3 jam pelajaran. Prosedur pelaksanaan setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data diperoleh dari lembar observasi guru dan siswa. lembar tes evaluasi atau kuis akhir siklus. Prestasi belajar  siswa siklus I diperoleh rata-rata nilai 62,24 dengan ketuntasan 64,68%, siklus II diperoleh rata-rata nilai 79,06 dengan ketuntasan 93,75%. Dengan demikian disimpulkan bahwa Cooperative Learning tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas IV SDN 1 Rancabanteng.

Kata Kunci : Disiplin, Prestasi belajar, kooperatif tipe  STAD

 

Pendahuluan

Berdasarkan pengalaman guru kelas IV SD Negeri 1 Rancabanteng Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas bahwa mata pelajaran matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang paling sulit sehingga dapat mempengaruhi disiplin dan prestasi belajar siswa. Banyak  dijumpai pada kelas IV yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan simetri dan pencerminan. Hal ini dapat dilihat dari buku daftar nilai siswa kelas IV materi simetri dan pencerminan. Pada tahun 2012 / 2013 terdapat 75 % dari 17 siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang telah ditentukan sekolah yaitu 63. Dengan nilai tertinggi 85, terendah 40 dan rata – rata kelas 57,50. Pada  Tahun 2013 / 2014 terdapat 75% dari 16 siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM yang telah ditentukan sekolah yaitu 65. Dengan nilai tertinggi 80, terendah 50 dan rata – rata kelas 59,00, Selain prestasi belajar yang masih rendah berdasarkan hasil wawancara dengan guru juga diketahui bahwa salah satu indikator keberhasilan belajar yang belum tercapai adalah kedisiplinan siswa yang masih rendah. Hal ini ditunjukan dengan masih banyak siswa yang kurang bersikap disliplin saat mendengarkan penjelasan guru, sehingga dalam menyelesaikan atau mengerjakan soal-soal matematika pun masih asal-asalan.

Terkait dengan mutu pendidikan, di Sekolah Dasar masih rendah khususnya pada mata pelajaran Matematika maka disiplin dan prestasi belajar perlu ditingkatkan. Pendidik diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, aktif, kreatif dan efektif yaitu dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Pembelajaran kooperatif STAD merupakan pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, skor pengembangan dan penghargaan kelompok.

Berdasarkan latar belakang masalah maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatakan disiplin siswa pada pokok bahasan simetri dan pencerminan pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Rancabanteng?
  2. Apakah dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif Tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siawa pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan simetri dan pencerminan?

Kajian Teori

Menurut Arifin (2009:12) kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu “Prestatie” kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi ”Prestasi” yang berarti hasil usaha istilah prestasi belajar (Achievement) berbeda dengan hasil belajar (Learning outcome).

Prestasi belajar merupakan suatu masalah yang bersifat parenial dalam sejarah kehidupan manusia, karena sepanjang rentang kehidupan manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masing-masing.

 Menurut Ahmadi dan Supriyono (2004:138) Prestasi belajar adalah merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (internal) maupun faktor dari luar (Eksternal) individu. Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh individu setelah mengalami proses belajar dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar juga diartikan sebagai kemampuan yang maksimal yang dicapai seseorang dalam suatu usaha yang menghasilkan pengetahuan atau nilai – nilai kecakapan.

Disiplin berasal dari bahasa Yunani, yaitu Disciplus yang artinya murid pengikut guru.Dengan disiplin inidiharapkan siswa bersedia untuk mengikuti peraturan tertentu serta menjauhi larangan – laranganya.

Menurut Blandford (Aqib. Z, 2011: 116) mengemukakan bahwa Disiplin adalah pengembangan mekanisme internal diri siswa dapat mengatur dirinya sendiri.

Pembelajaran Kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa (student oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain. Pembelajran kooperatif ini siswa lebih aktif dalam memecahkan persoalan dalam matematika yang berkitan dengan kehidupan sehari-hari.

Menurut Johnson dan Johnson (Isjoni, 2010: 17) mengungkapkan bahwa pembelajaran Kooperatif adalah mengelompokan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengankemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut. Menurut Slavin (Isjoni 2012: 15) berpendapat bahwa pembelajaran Kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam kelompok–kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang  siswa lebih bergairah dalam belajar.

Adapun penghitungan skor perkembangan individu pada penelitian ini diambil dari penskoran perkembangan individu yang di kemukaan menurut Slavin (Isjoni 2010:51-53 ) seperti pada tabel berikut :

Tabel 2.3 Pedoman Pemberian Skor Perkembangan Individu

 

Skor Tes

Skor Perkembangan Individu
a.       Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
b.      10 hingga 1 poin di bawah skor awal 10
c.       Skor awalsampai 10 poin di atasnya 20
d.      Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30
e.       Nilai sempurna (tidak berdasar skor awal) 30

Tabel 2.4 Kriteria Pemberian Penghargaan

Kriteria ( Rata–rata kelompok/tim) Penghargaan
15 Kelompok Baik
20 Kelompok Hebat
30 Kelompok Super

Tabel 2.5 Langkah-langkah Cooperative learning tipe STAD

Tahap Kegiatan Guru
 

 

Tahap 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Tahap 2

Menyajikan informasi

Tahap 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok  belajar

Tahap 4

Membimbing kelompok

Tahap 5

Evaluasi

Tahap 6

Memberikan penghargaan

Guru menyampaikan cakupan materi yang akan dipelajari, tujuan yang akan dicapai dan memotivasi siswa belajar

Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasi menggunakan media atau alat peraga

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya, dilanjutkan dengan kegiatan merangkum

Guru memberikan penghargaan baik terhadap upaya maupun hasil belajar dan individu

Hasil Penelitian

Hasil penelitian pelaksanaan siklus I sampai siklus II adalah sebagai berikut:

  1. 1. Hasil Observasi Aktivitas Guru

Hasil perolehan persentase skor rata-rata aktivitas guru dengan Cooperative Learning tipe STAD disajikan dalam tabel 4.14.

Tabel 4.14   Peningkatan Aktivitas Guru dalam Cooperative Learning Tipe STAD

No Siklus Prosentase Skor Rata-rata Kriteria
1. I 65% Kurang
2. II 81,5%  Baik
Histogram Peningkatan Aktivitas Guru dalam Cooperative Learning Tipe STAD

Gambar 4.1. Histogram Peningkatan Aktivitas Guru dalam Cooperative Learning Tipe STAD

Pada grafik di atas, aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran melalui Cooperative Learning tipe STAD dari siklus I sampai dengan II mengalami peningkatan yaitu dari persentase skor rata-rata 65% pada siklus 1 menjadi 81,5%  pada siklus II.

  1. Hasil Observasi Aktivitas Siswa

Dari hasil observasi aktivitas siswa diperoleh bahwa aktivitas siswa mengalami peningkatan dari awal tindakan dilaksanakan yaitu pada pertemuan pertama siklus I hingga pertemuan terakhir pada siklus II. Peningkatan aktivitas siswa disajikan dalam tabel 4.15 dan gambar 4.2 sebagai berikut

Tabel 4.15. Peningkatan Aktivitas Siswa Kelas IV SDN 1 Rancabanteng

No Siklus Persentase Skor Rata-rata
1. I 66,68%
2. II 77,03%
Histogram Peningkatan Aktivitas Siswa Kelas IV SDN 1 Rancabanteng.

Gambar 4.2. Histogram Peningkatan Aktivitas Siswa Kelas IV SDN 1 Rancabanteng.

Peningkatan persentase aktivitas siswa yaitu mulai dari 66,68% pada siklus I menjadi 77,03% pada siklus II. Secara keseluruhan pembelajaran dengan menggunakan Cooperative Learning tipe STAD dapat memberikan perubahan yang baik pada segi aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Matematika kelas IV SDN 1 Rancabanteng. Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan di atas bahwa penelitian telah memenuhi indikator keberhasilan

  1. Hasil angket Disiplin siswa

            Hasil angket disiplin siswa pada siklus 1 dapat disimpulkan bahwa disiplin siswa pada siklus I pertemuan 1  mencapai jumlah Skor  434 dengan  rata-rata 33,38  dengan kriteria disiplin tinggi, sedangkan disiplin siswa pada siklus I pertemuan 2 mencapai jumlah Skor 465 dengan  rata-rata 37,76 dengan kriteria disiplin tinggi.

            Hasil angket Disiplin siswa pada siklus II dapat disimpulkan bahwa disiplin siswa pada siklus II pertemuan 1 mencapai jumlah Skor 579 dengan rata-rata 44,53 dengan kriteria disiplin sangat tinggi, sedangkan disiplin siswa pada siklus II pertemuan 2 mencapai jumlah Skor 596 dengan  rata-rata 45,84 dengan kriteria disiplin sangat tinggi.

Tabel 4.16. Rekap Disiplin

No Siklus  Skor Rata-rata Kriteria
1. I 35,57 Disiplin Tinggi
2. II 45,18 Disiplin Sangat Tinggi

 

Histogram Disiplin Siswa dalam Cooperative Learning Tipe STAD.

Gambar 4.3. Histogram Disiplin Siswa dalam Cooperative Learning Tipe STAD.

  1. Prestasi belajar matematika

           Nilai tes hasil belajar matematika siklus 1 dapat disimpulkan bahwa nilai tes hasil belajar siklus I pertemuan 1 mencapai jumlah nilai dengan rata-rata 59,81 dan taraf serap 58,81%, sedangkan nilai tes hasil belajar siklus I pertemuan 2 mencapai jumlah nilai dengan rata-rata 64,68 dan taraf serap 64,68%. Dalam hal ini prestasi belajar siswa pada siklus I belum tuntas.

           Nilai tes prestasi belajar siklus II dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa   siklus II pertemuan 1 mencapai jumlah rata-rata 78,12, taraf seraf 78,12% dan presentase ketuntasan belajar 87,5%, sedangkan pada pertemuan 2 mencapai jumlah nilai  rata-rata 80, taraf serap 80% dan prosentase ketuntasan belajar 93,75%. Dalam hal ini prestasi belajar siswa pada siklus II sudah tuntas

Tabel 4.17. Rekap Hasil Prestasi Belajar Matematika

No Siklus   Rata-rata Nilai   Prosentase Ketuntasan
1. I 62,24 64,68%
2. II 79,06 93,75%
Hasil Prestasi Belajar

Gambar 4.4. Histogram Hasil Prestasi Belajar

Berdasarkan Tabel 4.17. Hasil Prestasi belajar dapat disimpulkan bahwa pada siklus I rata-rata nilai 62,24 dengan prosentase ketuntasan 64,68%, sedangkan pada siklus II rata-rata nilai 79,06 dengan prosentase ketuntasan 93,75%.

Tabel 4.12. Nilai tes Prestasi belajar siklus II

Prestasi Belajar Siklus II (P1) Siklus II (P2)
Jumlah Siswa Prosentase Jumlah Siswa Prosentase
Nilai > 50 16 100% 16 100%
Nilai ≤ 50 0 0% 0 0%
Tuntas Belajar 14 87,5% 15 93,75%
Tidak tuntas belajar 2 12,5% 1 6,25%
Jumlah 16 16
Rata-rata 78,12 80
Taraf serap 78,12% 80%
Ketuntasan Secara Klasikal  

Tuntas Belajar

            Berdasarkan Tabel 4.12. Nilai tes prestasi belajar dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa siklus II pertemuan 1 mencapai jumlah rata-rata 78,12, taraf seraf 78,12% dan presentase ketuntasan belajar 87,5%, sedangkan pada pertemuan 2 mencapai jumlah nilai  rata-rata 80, taraf serap 80% dan prosentase ketuntasan belajar 93,75%. Dalam hal ini prestasi belajar siswa pada siklus II sudah tuntas.

PENUTUP

Dari hasil penelitian diperoleh hasil sebagai berikut:

  1. Penggunaan Cooperative Learning tipe STAD dapat meningkatkan prestasil belajar siswa hal ini ditunjukan pada siklus I diperoleh rata-rata nilai 62,24 dengan ketuntasan belajar 64,68% , pada siklus II diperoleh rata-rata nilai 79,06 dengan ketuntasan belajar 93,75%.
  2. Penggunaan Cooperative Learning tipe STAD juga dapat meningkatkan disiplin siswa, hal ini ditunjukan adanya kenaikan sebesar 9,61 dilihat dari siklus 1 Skor rata-rata sebanyak 35,57 sedangkan siklus II Skor rata-rata 45,18 ini membuktikan bahwa kedisiplinan siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 dan siklus II dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD.

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Rancabanteng, peneliti memberikan beberapa saran yaitu sebagai berikut:

  1.  Cooperative Learning tipe STAD memerlukan waktu dan kegiatan yang cukup lama sehingga guru harus bisa memadukan waktu yang tersedia dengan materi yang akan diajarkan.
  2. Agar pembelajaran dan hasil belajar siswa dapat meningkat, sebaiknya guru benar-benar memahami langkah-langkah pembelajaran dalam Cooperative Learning tipe STAD.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abu, A dan Widodo,S. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta : PT Asdi Mahasatya.

Aqib, Z (2011). Pendidikan Karakter Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa. Bandung : Yrama Widya

Arifin, Z. (2011). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya

Arikunto, S. (2012). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Djamarah, S.B. (2005). Guru dan Anak Didik. Jakarta : Rineka Cipta

Dimiyati dan Mudjiono. (1992). Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Rineka Cipta

Isjoni.  (2009). Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Anak Didik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

…….. (2010). Cooperative Learning.Bandung : Alfa beta

Purwanto, M.N. (2010). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Safari. (2005). Penulisan Butiran Soal Berdasarkan Penilaian Berbasis Kompetensi. Jakarta : APSI Pusat

Slavin, Robert E. (2005). Cooperatif Learning. Bandung : Nusa Media

Sudjana. N.  (2010). Dasar – Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo

Taniredja, T.I. Pujiati dan Nyata. (2010). Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Alfabeta

Trianto, M.Pd. (2010). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara

 

BIODATA

Nama

NIP

Pangkat/Gol

Unit Kerja

No HP

Email

 

 

:

:

:

:

 

:

:

 

 

 

Wijiyanti, S.Pd

198201022008012021

Penata Muda Tk 1/IIIB

SD N 2 Wlahar, UPK Wangon

085726087563

Wijiyanti324@gmail.com




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *