infopasti.net

PTK PAI SD : Shalat Melalui Bimbingan Teknis Bagi Siswa Kelas III SD

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PAI SHALAT MELALUI BIMBINGAN TEKNIS BAGI SISWA KELAS III SD NEGERI 1 KARANGPUCUNG SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2015/ 2016

SRI MAWARTI

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini  secara umum bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar PAI bagi siswa sekolah dasar.  Sedangkan secara khusus bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar PAI shalat bagi siswa kelas III SD Negeri I Karangpucung semester I tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 bertempat di SD Negeri I Karangpucung Unit Pendidikan Kecamatan Tambak. Subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas III SD Negeri I Karangpucung pada semester I  tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 14 siswa terdiri 9 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknik tes. Sesuaii dengan materi pelajarannya yaitu tentang ibadah shalat dengan terib, maka tes yang dilaksanakan adalah tes  tertulis. Hasil penelitian menunjukan  bahwa melalui bimbingan teknis menggunakan alat peraga media visual , hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) shalat dengan tertib bagi siswa kelas III SD Negeri I Karangpucung pada semester I tahun pelajaran 2015/2016  dapat ditingkatkan. Dari rata-rata nilai kondisi awal yang  hanya 57,78 dapat ditingkatkan menjadi 90,00 pada kondisi akhir.

Kata kunci: Bimbingan teknis  alat peraga media visual

PENDAHULUAN

Sebenarnya kemampuan siswa secara umum baik di kota maupun di desa sama karena kurikulum yang digunakan sama, alat peraga dan media pembelajaran juga sudah memadai, latar belakang pendidikan pendidik juga sama. Namun kenyataan yang terjadi di kelas III SD Negeri 1 Karangpucung pada semester I tahun Pelajaran 2015/20156 ini secara umum nilai hasil belajar mereka masih rendah, khususnya kemampuan siswa dalam mata pelajaran PAI. Hal ini dibuktikan dengan hasil rata-rata mengerjakan tiga kali ulangan harian hanya 57,78 (lima puluh tujuh, tujuh puluh delapan).

Sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan bersamma oleh tim pengembang kurikulun SD Negeri 1 Karangpucung, bahwa KKM untuk mata pelajaran PAI adalah 75 (tujuh puluh lima). Pihak sekolah maupun orang tua atau wali siswa sama-sama berharap nilai hasil belajar siswa minimal sama dengan KKM. Dimana KKM disusun atau ditentukan sebagai prasarat untuk menentukan bahwa siswa sudah siap untuk mengikuti pelajaran pada tingkat diatasnya, atau siswa telah mampu menerima, mamahami, dan mengaplikasikan materi pelajaran yang telah diberikan guru.

Dari uraian diatas maka nampak sekali kesenjangan antara kenyataan dengan harapan. Kenyataan yang ada menunjukkan masih rendahnya nilai hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 1 Karangpucung. Sedangkan harapan yang diinginkan adalah nilai hasil belajar mereka minimal sama dengan KKM.Rendahnya hasil belajar PAI kelas III SD Negeri 1 Karangpucung menjadi keprihatinan bagi guru maupun orang tua atau wali siswa. Hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk berupaya meningkatkan hasil belajar siswanya agar memperoleh hasil belajar yang diharapkan. Kami yakin bahwa orang tua atau wali siswa juga berharap bahwa putra atau putrinya dapat mengikuti pelajaran yang diberikan guru dan memperoleh nilai hasil belajar yang baik bahkan yang amat baik bagi putranya.

Melihat kenyataan yang ada, sebagai guru mapel PAI Kelas III tidaklah tinggal diam atau  hanya merenungi kenyataan yang dihadapi. Sebagai wujud akan tanggung jawabnya guru PAI selalu berupaya mencarisolusinya. Banyak cara yang ditempuh untuk dapat meningkatkan nilai hasil belajar siswanya.Salah satu diantaranya adalah dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Melalui penelitian tindakan kelas diharapkan dapat ditemukan penyebab rendahnya hasil belajar serta dapat ditemukan pula solusinya sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Dengan demikian dapat diwujudkan harapan berbagai pihak tersebut diatas dan lebih khusus lagi dapat diatasinya masalah tentang rendahnya hasil belajar khusususnya  untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

 

Kajian Teori

Untuk menjadi pijakan berpikir bagi peneliti  dan juga bagi pemerhati masalah pendidikan khusuanya pembaca  tulisan ini maka diambilah pengertian-pengertian dasar dari literatur untuk menjelaskan variabel –variabel yang terdapat  dalam  judul penelitian tindakan kelas ini. Adapun variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian tindakan kelas yang berjudul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar PAI Shalat Melalui Bimbingan teknis Bagi Siswa Kelas III SD Negeri  1  Karangpucung Tahun Pelajaran 2015/2016” ini adalah  hasil belajar PAI shalat dan bimbingan teknis. dijelaskan dalam paparkan dibawawh ini.

  1. Hasil Belajar PAI

Yang dimaksud dengan hasil belajar PAI adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran PAI setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar mata pelajaran PAI  dalam kurun waktu tertentu dan program tertentu. Kurun waktu yang digunakan untuk penelitian tindakan kelas ini adalah 4 minggu sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan yang masing-masing siklus dilaksanakan selama 2 minggu. Tindakan-tindakan dalam siklus tersebut dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. sedangkan program yang dilaksanakan adalah pembelajaran tentang Bacaan shalat. Program pembelajaran tersebut meliputi  bacaan shalat dan gerakan shalat. Materi pelajaran dalam siklus I adalah tentang bacaan shalat, dan materi pelajaran pada siklus II adalah keserasian gerakan dan bacaan shalat.

  1. Shalat
  2. Pengertian dan hukum shalat

Menurut asal maknanya yang berasal dari bahasa arab,kata shalat berarti do`a. Namun dalam pelajaran ini yang dimaksud dengan shalat adalah  ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam dan  memenuhi beberapa syarat yang ditentukan ( Tim Bina Karya Guru, 2007 : 26).

  1. Bacaan Shalat

Selain gerakan salat yang memenuhi syarat-syarat sahnya  shalat, bacaan shalatnya pun harus sesuai  syarat-syarat yang telah ditetapkan. Hal itu agar shalat yang dilakukan dapat dikatakan sah.

  1. Keserasian Gerakan dan bacaan shalat

Shalat yang dilakukan oleh hamba-Nya dengan serasi antara gerakan dan bacaan shalat akan menambah kekhusukan dan ketenangan dalam shalat. Selain itu, Allah akan memberikan  pahala dan keberuntungan yang besar kepadanya, sebagaimana firman Allah  swt: Qad aflahal mu`minuna. Allazina humfii shalatihim khasi`un yang artinya : “ Sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman yaitu bagi mereka yang khusuk dalam salatnya” (Q.S. Al-Mu`minun: 1-2)

Bimbingan Teknis

  1. Bimbingan

Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu(anak didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik.( Prayitno dan Ermon Amti, 2004 :99).

Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya,agar  individu atau sekumpulan individu-individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya. (Bimo Walgito, 1986 : 10)

  1. Teknis

Teknis adalahcara yang ditempuh dan sarana penununjang pengajaran untuk dapat mencapai tujuan pengajaran (Lakmi, 2008 :8).

  1. Bimbingan teknis

Bimbingan teknis adalah suatu bantuan atau pertolongan  yang digunakan dalam proses pembelajaran siswa menunjukan keserasian gerakan dan bacaan shalat. Keserasian gerakan dan bacaan shalat sebagai materi pelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini. Dalam menyampaikan materi pembelajaran guru peneliti menggunakan bimbingan teknis yakni siswa dibimbing menerapkan gerakan dan bacaan shalat yang berupa model gerakan orang shalat dan nama gerakan yang sudah disediakan oleh peneliti. Siswa dengan bimbingan guru memasangkan nama gerakan dan bacaan shalat. Kemudian siswa mempraktikan gerakan dan bacaan shalat dengan tertib yang sebenarnya.

  1. Kerangka Berfikir

Penelitian Tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II, untuk merubah kondisi awal yang berupa hasil belajar PAI masih rendah menjadi meningkat pada kondisi akhir. Dengan menggunakan bimbingan teknis. Pada siklus I bimbingan  teknis dilakukan secara kelompok. Setiap kelompok menempatkan urutan gerakan shalat fardu.  Tugas dikerjakan bersama-sama dalam satu kelompok. Sedangkan pada siklus II tugas dikerjakan secara sendiri-sendiri atau secara individu.Setiap anak menerapkan gerakan dan bacaan  dalam shalat dengan benar secara individual.

 

METODOLOGI  PENELITIAN

Penelitian ini dilakasanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah 6 bulan. Dimulai bulan Juli 2015 sampai dengan Desember 2015.

Penelitian Tindakan Kelas ini kami lakukan kepada siswa sekolah dasar. Tidak semua siswa sekolah dasar kami jadikan sebagai tempat penelitian. Karena kami bertugas di sekolah dasar dalam wilayah kerja Unit Pendidikan Kecamatan Tambak. Sekolah dasar yang kami jadikan tempat penelitian adalah Sekolah Dasar Negeri I Karangpucung Unit Pendidikan Kecamatan Tambak.Sekolah Dasar Negewri I Karangpucung terdiri dari 6 kelas. Tidak semua kelas dijadikan subjek penelitian. Kali ini peneliti melakukanpenelitian tindakan kelas di kelas III Mengapa penelitian dilakukan di kelas III ? Karena salat adalah ibadah dasar sebagai seorang muslim.

Subjek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas III SD Negeri 1 Karangpucung Unit Pendidikan Kecamatan Tambak pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Di tahun pelajaran 2015/2016 ini siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri I Karangpucung Unit Pendidikan Kecamatan Tambak berjumlah 14 siswa yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Kondisi Awal

Sebagaimana tertulis pada latar belakang masalah bahwa pada kondisi awal penelitian tindakan kelas ini, nilai hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Isalam siswa kelas III SD Negeri I Karangpucung  Unit Pendidikan Kecamatan Tambak  tahun pelajaran 2015/2016 rata-ratanya masih rendah. Hasil belajar yang rendah itu dapat dilihat pada daftar nilai yang merupakan kumpulan nilai ulangan harian. Rata-rata perolehan nilai masih belum memenuhi harapan. Ulangan harian I membaca ayat-ayat dalam Al-Qur`an, diperoleh nilai rata-ratanya 57,85; Ulangan harian II Menulis ayat-ayat dalam surat Al-Qur`an  nilai rata-ratnya 48,71; sedangkan nilai ulangan harian III Mengartikan lima sifat wajib bagi Allah nilai rata-ratanya 66,78.  Dan apabila nilai rat-rata dari tiga kali ulangan harian tersebut juga dibuat rata-ratanya maka diperoleh angka 57,78.

Dari 14 siswa kelas III yang mengikuti   tiga kali ulangan harian Pendidikan Agama Islam diperoleh nilai rata-rata 57.78. Nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 20.

  1. Deskripsi Siklus I

Siklus I direncanakan akan dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Oktober sampai dengan minggu pertama bulan Nopember tahun 2015. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28Oktober 2015. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 4 Nopember 2015. SiklusI direncanakan dalam dua kali pertemuan. Siklus I terdiri dari planning, acting, observing, dan reflecting.

PERWAKILAN KELOMPOK MEMPRAKTEKKAN IBADAH SHOLAT

          Gambar 1 dan 2

 

  1. Observing

Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus I. Subjek penelitian diberi tugas mengerjakan soal tes siklus I. Dari 14 siswa kelas III SD Negeri I Karangpucung  Unit Pendidikan Kecamatan Tambak  yang mengikuti tes akhir siklus I, diperoleh nilai rata-rata 74.28. Nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 40.

Setelah dilakukan penilaian, nilai rata-ratanya mencapai angka 74.28 Padahal KKM mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas III SD Negeri 1 Karangpucung tahun pelajaran 2015/2016 adalah 75. Ada 9 siswa (64,29%) yang dapat mencapai nilai ketuntasan minimal. Sebanyak 5 siswa (35,71%) lainnya belum mampu memperoleh nilai ketuntasan minimal. Oleh karena itu guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas III  sebagai peneliti mengupayakan siswanya agar dapat meningkatkan hasil belajarnya minimal memenuhi KKM pada akhir siklus II yang akan datang.

 

  1. Reflecting

Upaya peneliti tersebut ternyata membuahkan hasil yang cukup baik. Setelah dilakukan penilaian terhadap hasil tes dalam mengikuti tes akhir siklus I, terbukti terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dan peningkatan jumlah ataupun prosesntase subjek penelitian yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 57.78  meningkat menjadi 74.28 pada akhir siklus I (meningkat sebesar 28.55%). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 80 meningkat menjadi 100 pada akhir siklus I  (meningkat sebesar 25 %). Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 30 meningkat menjadi 40 pada akhir siklus I  (meningkat sebesar 33.33%).

Untuk lebih memperjelas perubahan (hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam subjek penelitian) yang terjadi dari kondisi awal ke kondisi akhir siklus I, perhatikanlah diagram berikut ini:

Gambar 3

PERUBAHAN NILAI HASIL BELAJAR

DARI KONDISI AWAL KE KONDISI AKHIR SIKLUS  I

  1. Deskripsi Siklus II

Siklus II dilaksanakan pada minggu kedua dan minggu ketiga bulan Nopember tahun 2015. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu  tanggal 11Nopember 2015. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu  tanggal 18 Nopember 2015.

Siklus II  terdiri dari planning, acting, observing, dan reflecting. Acting (pelaksanaan tindakan). Peneliti melaksanakan siklus II dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Guru peneliti menyampaikan beberapa pertanyaan tentang materi pelajaran yang dibahas pada pertemuan sebelumnya.
  2. Kemudian peneliti membagikan lembar kerja berupa seperangkat gerakan dan bacaan shalat kepada setiap subjek penelitian.Lembar kerja tersebut digunakan secara individual.Tiap siswa memanfaatkan lembar kerja tersebut. Lembar kerja tersebut adalah sama dengan yang digunakan dalam siklus I.
  3. Tiap siswa menggunakan satu set lembar kerja,dengan dibimbing oleh guru peneliti siswa mempraktikkan keserasian gerakan dan bacaan shalat dengan tertib.

Gambar 4 SISWA MELAKUKAN RUKU DENGAN TUMAKNINAH

Gambar 5 SISWA MEMPRAKTIKAN GERAKAN DAN BACAAN SHALAT DENGAN SEMPURNA

Siklus II ditutup oleh peneliti dengan serangkaian kegiatan sebagai berikut :

Di akhir siklus II diadakan tes. Dalam pembelajaran ini bentuk tes yang digunakan adalah tes tertulis. Setiap siswa mengerjakan soal-soal tes tentang keserasian gerakan dan bacaan shalat dengan teertib secara individual. Waktu yang dipergunakan untuk tes akhir siklus adalah satu jam terakhir, yaitu selama 35 menit.

Setelah siswa selesai melaksanakan tes tertulis siswa dimotivasi untuk jangan sampai meninggalkan sholat dalam kondisi apapun. Karena sholat merupakan ibadah yang wajib dikerjakan setiap hari dan tidak boleh ditinggalkan dalam konisi apapun

  1. Observing

Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus II, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus II. Subjek penelitian diberi tugas mengerjakan soal tes tertulis yaitu soal pilihan ganda 10 butir soal dan isian 5 butir soal yang dikerjakan secara individual. Dari 14 siswa kelas III SD Negeri I Karangpucung Unit Pendidikan Kecamatan Tambak yang mengikuti tes akhir siklus II, diperoleh nilai rata-rata 90,00. Nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 75. Sedangkan KKM mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  kelas III SD Negeri I Karangpucung  tahun pelajaran 2015/2016 adalah 75. Ada 14 siswa (100%) yang dapat mencapai nilai ketentuan ketuntsan minimal dengan kata lain tuntas semua. Yang belum mampu memperoleh kriteria ketuntasan minimal (KKM) tidak ada.

  1. Reflecting
  1. Reflecting Kondisi Akhir Siklus I dengan Kondisi Akhir Siklus II

Melihat nilai rata-rata hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang belum mencapai KKM di kondisi akhir siklus I, guru mata pelajaran Pendidikan agama Islam sebagai peneliti berupaya meningkatkannya dengan melakukan tindakan pada siklus II. Tindakan peneliti pada siklus II adalah melakukan bimbingan teknis mempraktikan Keserasian gerakan dan bacaan shalat secara individual.

Upaya peneliti tersebut ternyata membuahkan hasil yang cukup baik. Setelah dilakukan penilaian terhadap karya subjek penelitian dalam mempraktikan keserasian  gerakan dan bacaan salat dengan  benar ketika mengikuti tes akhir siklus II, terbukti terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dan peningkatan jumlah ataupun prosesntase subjek penelitian yang mencapai ketuntasan belajar (KKM). Nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus I sebesar 74,28 meningkat menjadi 90,00 pada akhir siklus II(meningkat sebesar 21,16%). Nilai tertinggi pada kondisi akhir siklus I sebesar 100,Sama besarnya yaitu 100 pada akhir siklus II. Nilai terendah pada kondisi akhir siklus I sebesar40 meningkat menjadi 75 pada akhir siklus II  (meningkat sebesar 87,50%).

Tabel 1

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AKHIR SIKLUS I DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS  II

NO NILAI KONDISI AKHIR SIKLUS  I KONDISI AKHIR SIKLUS  II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Rata-rata 74.28 90.00 21.16%
2 Tertinggi 100 100 tetap
3 Terendah 40 75 87.50%

  1. Reflecting Kondisi Awal dengan Kondisi Akhir Siklus II

Melihat nilai rata-rata hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang belum mencapai KKM di kondisi awal, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai peneliti berupaya meningkatkannya dengan melakukan tindakan pada siklus I dan siklus II. Tindakan pada siklus I adalah menyelenggarakan pembelajaran Menampilkan keserasian gerakan dan bacaan salat dengan bimbingan teknis secara kelompok. Untuk membantu subjek penelitian mempraktekkan keserasian gerakan dan bacaan salat peneliti memberi kesempatan mempraktikan gerakan dan bacaan shalat dengan perwakilan kelompok. sehingga subjek penelitian mampu mempraktikkan keserasian gerakan dan bacaan shalat.

Tindakan peneliti pada siklus II adalah melakukan bimbingan teknis secara individual, dalam pembelajaran dengan mempraktikan keserasian  gerakan dan bacaan shalat dengan sempurna ke setiap subjek penelitian. Kemudian mempraktikan gerakan dan bacaan dengan sempurna. Untuk membantu subjek penelitian dalam mengeluarkan ide-idenya, peneliti memancing daya pikir mereka dengan mengucapkan potongan  bacaan shalat siswa melanjutkannya,  terus dimotivasi sampai semua siswa kelas III hafal ,paham dan benar.

Upaya peneliti tersebut ternyata membuahkan hasil yang cukup baik. Setelah dilakukan penilaian terhadap kemampuan subjek penelitian dalam melakukan salat dengan tertib ketika mengikuti tes akhir siklus II, terbukti terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dan peningkatan jumlah ataupun prosesntase subjek penelitian yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 57,78 meningkat menjadi 90,00 pada akhir siklus II(meningkat sebesar 55,76%). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 80 meningkat menjadi 100 pada akhir siklus II  (meningkat sebesar 25%). Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 30 meningkat menjadi 75 pada akhir siklus II  (meningkat sebesar 150%)

Tabel 2

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AWAL DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS  II

NO NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS  II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Rata-rata 57.78 90.00 55.76%
2 Tertinggi 80 100 25 %
3 Terendah 30 75 150%

  1. Pembahasan Antar Siklus

Pembahasan antar siklus meliputi tiga hal, yaitu (1) tindakan peneliti, (2) hasil pengamatan, dan (3) refleksi.

  • Tindakan Peneliti

Pada kondisi awal, guru peneliti belum melakukan optimalisasi bimbingan teknismenggunakan alat peraga media visual dalam proses pembelajaran. Ketika mengikuti pretes, siswa menulis kalimat dalam Al-Qur`an. Peneliti tidak memberikan ilustrasi ayat-ayat dalam Al-Qur`an. Siswa dibiarkan berkreasi sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing. Peneliti hanya mengawasi sambil sesekali menjawab pertanyaan saat ada siswa yang mengalami kebingungan.Sebagaimana tercantum pada kerangka berpikir yang terdapat dalam bab II bahwa guru peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini melakukan kegiatan-kegiatan pokok yang terdapat pada kondisi awal,  kegiatan pada siklus I, dan kegiatan pada siklus II.

Pada siklus I, guru peneliti melakukan optimalisasi bimbingan teknis mengunakanalat peraga media visual secara kelompok dalam pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Alat peraga media visual yang digunakan dalam pembelajaran dan dalam tes akhir siklus I adalah do`a-do`a dan gambar gerakan orang  salat. Untuk membantu siswa agar mampu mengeluarkan ide-ide dalam menghafal bacaan salat maka peneliti memberikan ilustrasi dengan cara mengucapkan potongan bacaan salat dan siswa menyempurnakan, selain itu peneliti memperlihatkan gerakan salat siswa menyebutkan bacaannya.

Sedangkan pada siklus II, guru peneliti melakukan optimalisasi bimbingan teknis menggunakan alat peraga media visual secara individual dalam proses pembelajaran. Setiap siswa menggunakan satu set alat peraga untuk mengerjakan lebar kerja siswa pada siklus II ini juga secara individual. Secara garis besar tindakan-tindakan peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini terangkum dalam tabel berikut ini :

Pada saat berlangsung siklus I, guru peneliti memanfaakan alat peraga secara kelompok. Terlontar dari mulut mereka akan kata-kata yang menunjukkan rasa senang. Dengan menggunakan alat peraga dalam pembelajaran, verbalisme dapat dikurangi, konsep-konsep dalam materi pelajaran divisualisasikan melalui alat peraga yang berupa benda kongkrit. Tingkat keterlibatan siswa dalam pembeljaran siswa bertambah, siswa aktif dalam kelompok masing-masing.Peningkatan tingkat keterlibatan siswa dalam pembelajaran berdampak meningkat pula daya serap siswa terhadap materi pelajaran. Peningkatan daya serapa terhadap pelajaran ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar. Nilai rata-rata hasil belajarpada kondisi awal yang hanya 57,78 meningkat menjadi 74,28 di akhir siklus I. Berarti terjadi peningkatan nilai rata-rata 16,5 poin (28,55%).  Peningkatan hasil belajar sebesar itu merupakan peningkatan yang cukup besar.

  • Hasil Pengamatan

Berdasarkan data-data yang dilakukan oleh guru peneliti sebagaimana tertulis diatas, tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti pada siklus I berhsil meningkatkan hasil belajar subjek penelitian. Bila pada kondisi awal nilai rata-rata subjek penelitian adalah 57,78 maka diakhir siklus I nilai rata-rata subjek penelitian meningkat menjadi 74,28. Pada akhir siklus II setelah menempuh tes akhir siklus, subjek penelitian mampu mencapai nilai rata-rata 90,00. Irama perubahan hasil belajar subjek penelitian dari kondisi awal menuju kondisi akhir siklus I sampai dengan kondisi akhir siklus II tersebut dapat disimak pada tabel berikut ini

Tabel 4

DATA NILAI HASIL BELAJAR SUBJEK PENELITIAN

NO. KONDISI NILAI RATA-RATA
1 Awal 57.78
2 Siklus I 74.28
3 Siklus II 90.00

Dinamika perubahan hasil belajar dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II (kondisi akhir) akan lebih jelas terlihat dalam diagram di bawah ini :

Gambar 6

DIAGRAM HASIL BELAJAR SUBJEK PENELITIAN

Dalam penelitian tindakan kelas, hasil belajar yang dijadikan dasar penentu tingkat keberhasilan adalah hasil belajar kondisi awal dibandingkan dengan hasil kondisi akhir. Dari data-data yang terkumpul dalam penelitian tindakan kelas ini  terlihat dengan jelas bahwa pada kondisi awal nilai rata-rata subjek penelitian masih rendah, yaitu 57,78 . Setelah dilakukan serangkaian tindakan kelas dalam siklus I sampai dengan siklus II maka pada kondisi akhir (kondisi siklus II) subjek penelitian mampu mencapai nilai rata-rata 90,00. Berarti terjadi kenaikan nilai rata-rata sebesr 32,22 poin atau sebesar (55,7632%). Untuk lebih memperjelas keterangan tersebut baiklah kita simak diagram berikut ini :

Gambar 7

DIAGRAM GARIS PENINGKATAN HASIL BELAJAR

Keterangan:

KONDISI AWAL    : Nilai rata-rat pada kondisi awal

KONDISI AKHIR   : Nilai rata-rata pada kondisi akhir

  • Refleksi

Hasil belajar subjek penelitian pada kondisi awal dengan nilai rata-rata 57.78 telah meningkat di akhir siklusI menjadi 74.28. Berarti mengalami kenaikan 16.5 poin (28.55 %). Tindakan peneliti dengan cara melakukan bimbingan teknis alat peraga media visual secara kelompok pada siklus I menjadi daya tarik bagi subjek penelitian. Mereka menjadi lebih mengerti akan apa yang seharusnya dilakukan dalam proses  pembelajaran khususnya dalam melaksanakan ibadah shalat.

Peningkatan pemahaman subjek penelitian dalam pembelajaran di siklus II berdampak sangat positif, yaitu dengan meningkatnya nilai rata-rata subjek penelitian dari kondisi akhir siklus I yang hanya 74,28 menjadi 90,00 di akhir siklus II. Perubahan nilai rata-rata tersebut dapat lebih terlihat dengan jelas pada diagram berikut ini :

Gambar 8

DIAGRAM PERUBAHAN HASIL BELAJAR DARI KONDISI AKHIR SIKLUS I  KE KONDISI AKHIR SIKLUS II

Kiranya perlu diketahui bahwa keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah ditentukan oleh perbandingan nilai rata-rata kondisi awal dengan nilai rata-rata kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II). Penelitian tindakan kelas disebut berhasil apabila nilai rata-rata subjek penelitian mengalami peningkatan dari kondisi awal ke kondisi akhir siklus II.

Sebagaimana tertulis di bagian terdahulu bahwa nilai rata-rata subjek penelitian pada saat kondisi awal adalah 57,78 sedangkan nilai rata-rata subjek penelitian pada kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II) adalah 90,00. Dengan demikian dari kondisi awal ke kondisi akhir, nilai rata-rata hasil belajar subjek penelitian mengalami peningkatan sebesar 32,22 poin (55,763 %). Perubahan nilai rata-rata tersebut dapat lebih terlihat dengan jelas pada diagram berikut ini :

Gambar 9

DIAGRAM HASIL BELAJAR DARI KONDISI AWAL KE KONDISI AKHIR

  1. Simpulan Hasil Penelitian

Data-data empirik yang dikumpulkan selama proses penelitian tindakan kelas sebagaimana tertulis dalam bab IV menunjukan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti dalamsiklus I dengan menggunakan bimbingan teknis alat peraga media visual secara kelompok telah berhasil meningkatkan hasil belajar subjek penelitian. Nilai rata-rata pada konisi awal yang hanya 57,78 dapat ditingkatkan menjadi 74.28 di akhir siklus I.

Pada siklus II, guru peneliti melakukan perubahan teknik penggunaan bimbingan teknis. Bimbingan teknis media visual dirubah penggunaanya menjadi secara individual pada siklus II. Dengan perubahan bimbingan teknis alat peraga media visual tersebut menunjukan bahwa nilai rata-rata siklus II mengalami peningkatan menjadi 90,00 kalau nilai rata-rat kondisi awal yang hanya 57.78 sedangkan nilai rata-rata pada konisi akhir menembus angka 90,00 berarti telah terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 32.22. poin atau meningkat sebesar 55.76 %.

Berdasarkan empiric yang dikumpulkan dalam penelitian tindakan kelas sebagaimana tertulis di atas menunjukan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti telah berhasil meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam Shalat bagi siswa kelas III SD Negeri I Karangpucung pada semester I tahun pelajaran 2015/2016.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi,1983, Prosedur penelitian Suatu PendekatanPraktek,YP Fakultas Psikologi UGM,  Yogyakarta.

Bimo Walgito, 1983, Bimbingan dan penyuluhan Di Sekolah, Yayasan Penerbitan  Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta, Yogyakarta.

Karo-Karo, S. Ulihbukit, iIgn, drs, 1981, Suatu Pengantar ke Dalam Metodologi Pengajaran, SV Saudara Salatiga.

Masyhuri HP,1990, Azas-Azas Belajar, IKIP Semarang Press, Semarang.

Mudhofir, 1986, Teknologi Instruksional, Remadja Karya CV Bandung, Bandung

Tim Bina Karya Guru, 2007, Pendidkan Agama Islam untuk Sekolah Dasar Kelas III, Erlangga, Jakarta.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990, Psikologi Belejar, IKIP Semarang Press, Semarang.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1999, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Depdikbud, Balai Pustaka, Jakarta.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *