PTK Pkn Materi Mengenal Pemerintahan Desa dan Kecamatan Melalui VCT

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn MATERI MENGENAL PEMERINTAHAN DESA DAN KECAMATAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN VALUE CLARIVICATION TEKNIQUE (VCT)  BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI KELENG 02   TAHUN PELAJARAN 2014/2015

 

Oleh :

Drs.Turwanto

 

ABSTRAK.

            Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa kelas V SDN Keleng 02 pada pembelajaran PKN materi mengenal pemerintahan Desa dan Kecamatan dalam penelitian ini peneliti menggunakan model pembelajaran Value Clarivication Teknique VCT di kelas V SD Negeri Keleng 02. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dengan subyek penelitian sebanyak 23 siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriftif dengan teknik pengambilan data menggunakan instrumen tes, dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa belajar siswa diperoleh siswa yang tuntas pada  data awal penelitian rerata 13,04%,siklus I sebanyak 30,04% sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan yang signifikan menjadi 91,30%. Hasil observasi aktivitas pada kondisi awal 17,39%  pada siklus I siswa yang aktif  (56,52%) pada siklus II mengalami peningkatan  menjadi (86,95%) Berdasarkan analisis tersebut maka dapat dinyatakan bahwa model VCT Pada pelajaran pkN materi mengenal pemerintahan Desa dan Kecamatan dapat meningkatkan aktivitasdan hasil belajar  pada siswa kelas V SD Keleng 02 tahun pelajaran 2014/2015

Kata Kunci:  aktivitas, hasil belajar, PKn, model pembelajaran VCT.

PENDAHULUAN

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diberikan sejak SD sampai SLTA. Dengan PKn seseorang akan memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami karakter dan budaya bangsa serta menjadikan warga negara yang siap bersaing di dunia internasional tanpa meninggalkan  jati  diri  bangsa. Melalui PKn setiap warga negara dapat mawas diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini yang memberi dampak positif dan negatif. PKn juga bermanfaat untuk membekali peserta didik agar memiliki kemampuan untuk mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.

Pada kenyataannya,PKn dianggap ilmu yang sukar dan sulit dipahami. PKn adalah pelajaran formal yang berupa sejarah masa lampau, perkembangan sosial budaya, perkembangan teknologi, tata cara hidup bersosial, serta peraturan kenegaraan. Begitu luasnya materi PKn menyebabkab anak sulit untuk diajak berfikir kritis dan kreatif dalam menyikapi masalah yang berbeda. Sementara anak usia sekolah dasar tahap berfikir mereka masih belum formal, karena mereka baru berada pada tahap Operasi Onal Konkret. Apa yang dianggap logis, jelas dan dapat dipelajari bagi orang dewasa, kadang-kadang merupakan hal yang tidak masuk akal dan membingungkan bagi siswa. Akibatnya banyak siswa yang tidak memahami konsep PKn.

Memperhatikan uraian di atas, hal yang sama juga dialami oleh siswa SDN Keleng 02.Siswa masih merasa kesulitan, takut,kurang motivasi dan kurang berani bertanya terhadap hal-hal yang belum dipahami. Di samping itu peneliti kurang melibatkan siswa dalam pembelajaran. Keadaan ini jika  dibiarkan maka nilai pelajaran PKN akan semakin menurun dan gagal dalam memperoleh nilai ketuntasan minimal yang telah ditentukan

Seperti yang dialami penulis sendiri, setiap ulangan PKn nilai rata rata anak di bawah 75. Pada materi mengenal pemerintahan desa dan kecamatan. Nilai rata – rata formatif  hanya 6.Dari 23 siswa hanya 12 siswa 52 % yang memperoleh nilai 75 ke atas. Sedangkan 10 siswa yang lain 43 %  mendapat nilai dibawah 75.

Berangkat dari kondisi tersebut, guru perlu melakukan perbaikan pembelajaran dengan fokus mendorong siswa lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Dengan siswa terlibat secara aktif, maka pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan siswa dapat memperoleh pengetahuan secara lebih baik. Upaya perbaikan yang dilakukan oleh guru adalah dengan menerapkan model Value Clarification Technique (VCT).

Melalui penerapan model Value Clarification Technique (VCT) dalam pembelajaran PKn, siswa diharapkan dapat memperoleh situasi belajar yang bervariatif sesuai karakteristik materi yang dikolaborasikan dengan metode-metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Selain itu, perbaikan yang dilakukan guru tersebut akan membawa dampak positif bagi peserta didik, karena mereka akan mendapat kesempatan untuk lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah tersebut di atas, diajukan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah proses pembelajaran Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi mengenal pemerintahan desa dan kecamatan di Kelas IV SDNegeri keleng 02 semester I tahun pelajaran 2014/2015?
  2. Seberapa besar peningkatan hasil belajar PKn materi ”kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara” setelah menerapkan model Value Clarivication Technique (CVT) di Kelas IV SDNegeri keleng 02 semester I tahun pelajaran 2014/2015?
  3. Bagaimanakah perubahan perilaku yang menyertai peningkatan hasil belajar PKn materi mengenal pemerintahan desa dan kecamatan setelah Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) di Kelas IV SDNegeri keleng 02 semester I tahun pelajaran 2014/2015?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Mendeskripsikan proses pembelajaran dengan penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi mengenal pemerintahan desa dan kecamatan di kelas IV SD Negeri Keleng 02 tahun Pelajaran 2014/2015.
  2. Mendeskripsikan hasil belajar PKn materi mengenal pemerintahan desa dan kecamatan di kelas IV SD Negeri Keleng 02 tahun Pelajaran 2014/2015.

setelah menerapkan  model Value Clarivication Technique (CVT) di Kelas IV SDNegeri keleng 02 semester I tahun pelajaran 2014/2015.

  1. Mendeskripsikan perubahan perilaku yang menyertai peningkatan hasil belajar PKn materi mengenal pemerintahan desa dan kecamatan setelah penerapan model Value ClarivicationTechnique (CVT) di Kelas IV SDNegeri keleng 02 semester I tahun pelajaran 2014/2015?

 

KAJIAN TEORI

Pembelajaran PKn

Undang-undang Republik Indonesia No.20Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa, “pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air”. Melalui mata pelajaran PKn siswa diharapkan untuk mempunyai pengetahuan tentang NKRI, memiliki sikap menghormati, menghargai dan memiliki tanggung jawab akan dirinya sendiri, bangsa dan negara serta memiliki keterampilan untuk menjalin hubungan di dalam negeri ataupun di luar negeri sesuai dengan nilai dan norma yang ada.

Selanjutnya, Aziz Wahab, dkk. (Cholisin, 2004: 10) mengemukakan bahwa, “Pendidikan Kewarganegaraan ialah media pengajaran yang akan meng- Indonesiakan para siswa secara sadar, cerdas dan penuh tanggung jawab”. Melalui mata pelajaran PKn diharapkan siswa memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan NKRI.

Hakikat Hasil Belajar. 

Menurut Slameto (2008:7) Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa”. Tes  hasil belajar bermaksud untuk mengukur sejauh mana para siswa telah menguasai atau mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan” (Mudjijo, 1995:29)..

Menurut  Djamarah dan Zain (2006: 107) ’’yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi baik secara individual maupun kelompok”

Dimyati dan Mudjiono (2008:3) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari interaksi tindakan belajar dan tindakan mengajar dan dari sisi guru, tindakan diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar sedangkan dari siswa, hasil belajar merupakan berkhirnnya pengalaman belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik (2008:36) mengatakan bahwa hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan”.

Menurut Hamalik (2008:114) bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti Howard Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni:

  1. Keterampilan dan kebiasaan
  2. Pengetahuan dan pengertian
  3. Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah.

Aktivitas Belajar

Sardiman (2008: 102) mengemukakan aktivitas belajar pada dasarnya merupakan proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman belajar. Perubahan tingkah laku yang dimaksud meliputi perubahan pemahaman, pengetahuan, sikap, keterampilan, kebiasaan dan apresiasi. Sedangkan pengalaman itu sendiri dalam proses belajar adalah terjadinya interaksi antara individu dengan lingkungannya pelajaran..

Menurut Hamalik (2008: 89-90), siswa adalah suatu organisme yang hidup. Dalam dirinya terkandung banyak kemungkinan dan potensi yang hidup dan sedang berkembang. Nasution (1986: 92), menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran setiap siswa terdapat ”prinsip aktif” yakni keinginan berbuat dan bekerja sendiri. Prinsip aktif mengendalikan tingkah lakunya. Pembelajaran perlu mengarahkan tingkah laku menuju ke tingkat perkembangan yang diharapkan. Potensi yang hidup perlu mendapat kesempatan berkembang ke arah tujuan tertentu.

Sanjaya (2007: 130) berpendapat bahwa belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat; memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Berdasarkan pengertian aktivitas dan belajar di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan–kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas–tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama.Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

Pembelajaran Model Value Clarification Technique (VCT)

Model pembelajaran VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan pancapaian pendidikan nilai. VCT berfungsi untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai; b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulannya; c) menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya (Sanjaya, 2008: 283).

Menurut Taniredja, dkk., (Taniredja, dkk., 2012: 87-88) model VCT merupakan teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. Hall (Adisusilo, 2013: 144) juga menjelaskan bahwa VCT merupakan cara atau proses di mana pendidik membantu peserta didik menemukan sendiri nilai-nilai yang melatarbelakangi sikap, tingkah laku, perbuatan serta pilihan-pilihan yang dibuatnya.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Penerapan model Value Clarification Technique dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran PKn.
  2. Penerapan model Value Clarification Technique dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn Mengenal pemerintahan desa dan kecamatan bagi siswa kelas IV semester I SD Negeri Keleng 02 tahun pelajaran 2014/2015.

 

METODE PENELITIAN

Prosedur PTK ini dapat dijabarkan sebagai berikut: 1) Merencanakan (planning) Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu guru membuat rencana perbaikan dan lembar observasi. 2) Melakukan tindakan (acting) Pada tahap ini yaitu melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan sesuai denganrencana pembelajaran yang telah dibuat. 3) Mengamati (observing) Kegiatan pada tahap ini adalah pelaksanaan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan untuk mencatat hasil observasi. 4) Refleksi (reflecting) Berdasarkan hasil observasi, guru dapat melakukan refleksi diri tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dalam melaksanakan PTK.

Sehubungan dengan penelitian yang dilakukan adalah tentang perbaikan kualitas pembelajaran PKn materi “Mengenal Pemerintahan Desa dan Kecamatan” di kelas IV Semester 1 SD Negeri Keleng 02 Tahun Pelajaran 2014/2015, maka penelitian dilakukan di kelas IV Semester 1 SD Negeri Keleng 02 Tahun Pelajaran 2014/2015. Penelitian dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2014/2015. Waktu penelitian dilaksanakan selama 2 (dua) bulan, yaitu dari minggu ke I bulan September 2014 hingga minggu IV bulan Oktober 2014.

Subjek dalam penelitian tindakan ini adalah siswa kelas IV Semester 1 SD Negeri Keleng 02 Tahun Pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 23 orang siswa.  Jenis data yaitu berupa data kuantitatif dan kualitatif, yang berupa data kuantitatif, yaitu hasil yang berbentuk nilai hasil tes formatif hasil observasi, check list dan kuisioner dan data kualitatif, yaitu proses pembelajaran dan rekaman aktivitas siswa.

Teknik analisis data yang dipakai oleh peneliti adalah teknik análisis statistik deskriptif, yaitu dalam menganalisis data melalui data prestasi belajar dengan memberikan tes belajar siswa, data proses belajar mengajar pada saat dilaksanakan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.

Indikator Kinerja dan Kriteria Keberhasilan.

   Kriteria untuk mengukur tingkat ketuntasan belajar siswa, melalui upaya perbaikan pembelajaran sebagai beriku :

  1. Siswa dianggap mencapai ketuntasan belajar apabila telah memperoleh nilai > 75.00.
  2. Siswa secara klasikal dianggap mencapai ketuntasan belajar apabila nilai rata-rata kelas > 75.00.
  3. Pembelajaran dianggap berhasil apabila tingkat ketuntasan belajar siswa secara klasiklai > 80.00%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.

Siklus I

Rencana tindakan pada siklus I ini sesuai dengan perencanaan yang disiapkan oleh peneliti dan observer. Rencana tindakan pada PTK ini, peneliti jelaskan sebagai berikut :

  1. a) Penyamaan konsep penerapan VCT dengan observer sudah dilaksanakan sebelum dilaksanakan penelitian. Penggunaan pada perbaikan pembelajaran juga telah mendapat respon positif dari beberapa rekan guru yang lain.
  2. b) Penyusunan lembar observasi dilaksanakan berdasarkan materi pembelajaran yang sesuai.
  3. c) Penyusunan rencana perbaikan pembelajaran dilaksanakan bersamaan dengan pembuatan lembar kerja dan lembar evaluasi.

Pada pelaksanaan tindakan melalui dua siklus perbaikan pembelajaran, peneliti melaksanakan tindakan perbaikan yang telah direncanakan baik pada pelaksanaan siklus pertama maupun siklus kedua. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan upaya pencapaian hasil penelitian yang sesuai dengan solusi perbaikan pembelajaran yang diharapkan melalui penggunaan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT). hasil yang diperoleh pada siklus pertama, siswa yang tuntas belajar sebanyak 7 siswa dari 23siswa (30,34%).

Pada kegiatan observasi yang dilakukan, observer melakukan pengamatan pada perlakuan guru dan siswa seperti mengamati kemampuan guru dalam menjelaskankan materi mengenal pemerintahan desa dan kecamatan dengan menggunakan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) kepada siswa yang belum tuntas belajar, bagaimana guru melakukan pembimbingan kepada siswa melalui kegiatan kelompok menggunakan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT).

Hasil observasi tentang kegiatan guru menunjukkan bahwa :

  1. Guru sudah menggunakan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT), namun masih kurang maksimal.
  2. Guru kurang membimbing siswa pada saat siswa bekerja dalam kelompok.

Hasil evaluasi tentang hasil belajar siswa menunjukkan bahwa dibanding kegiatan pembelajaran siswa pada pembelajaran sebelumnya, siklus pertama prestasi belajar siswa sudah mulai meningkat namun belum optimal.

Hasil observasi tentang aktivitas belajar siswa menunjukkan bahwa :

  1. Pada saat guru menjelaskan materi, siswa sudah nampak siap dalam proses pembelajaran. Beberapa siswa sudah mulai mau menanyakan hal-hal yang belum jelas.
  2. Aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran sudah mulai meningkat, hal ini ditunjukkan dari meningkatnya persentase aktivitas belajar siswa dari 17,39% pada pembelajaran sebelumnya menjadi 56,52% pada siklus pertama.
  3. Hasil observasi aktivitas belajar siswa selama siklus pertama selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

Pada perbaikan pembelajaran siklus pertama terjadi peningkatan mutu siswa yang semula tuntas belajar siswa hanya 3 siswa atau 13%% menjadi 7 siswa atau 30,34%. Dengan rata-rata siklus sebelum pembelajaran 61 pada siklus I  menjadi 70,80 Itu artinya mengalami kenaikan sebesar  17,34%. Hal itu menunjukkan bahwa penggunaan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) ternyata mampu meningkatkan hasil belajar siswa dalam. Selain itu siswa juga menunjukkan peningkatan aktivitas  selama pembelajaran berlangsung. Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang termasuk kategori aktif dan sangat aktif hanya ada hanya 3 siswa atau 13,04%  ternyata pada siklus pertama mengalami kenaikan menjadi 7siswa atau 30,34%. Itu artinya mengalami kenaikan sebesar 17,34%.  Meskipun demikian, persentase siswa yang tuntas belajar belum memenuhi indikator kriteria keberhasilan. Selain itu, aktivitas belajar siswa meskipun sudah mengalami kenaikan namun masih kurang memuaskan. Hal tersebut diduga karena penggunaan model pembelajaran masih kurang maksimal. Hal ini dapat diatasi dengan pendampingan siswa dalam berdiskusi secara lebih intens lagi. Hal ini akan dilakukan pada siklus yang kedua.

Siklus Kedua

Rencana tindakan pada perbaikan pembelajaran melalui PTK ini dinilai sesuai dengan perencanaan yang disiapkan oleh peneliti dan observer. Rencana tindakan pada PTK ini, peneliti jelaskan sebagai berikut :

  1. Penyusunan lembar observasi yang akan dilaksanakan pada siklus kedua.
  2. Penyusunan rencana perbaikan pembelajaran dilaksanakan bersamaan dengan pembuatan lembar kerja dan lembar evaluasi.

Pada siklus kedua ini peneliti memberi pemahaman tentang pemerintahan desa dan kecamatan serta tugas dan tanggungjawab kepala desa dan camat serta peraturan tentang pengangkatan calon kepala desa dan camat.dengan menggunakan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT), sehingga kemampuan menghafal dituntut ke siswa, selanjutnya beberapa siswa yang belum tuntas belajar diminta untuk melakukan hal yang sama.Agar pembelajaran lebih bermakna peneliti melakukan sampel yang sama kepada siswa yang sudah tuntas belajar.

Dengan kegiatan yang dilakukan melalui penggunaan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) , hasil yang diperoleh pada siklus kedua, siswa yang tuntas belajar sebanyak 21 siswa dari 23 siswa (91,30%).

Hasil observasi tentang kegiatan guru menunjukkan bahwa : Guru sudah menggunakan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT), dan sudah maksimal. Guru sudah membimbing siswa pada saat siswa bekerja dalam kelompok.

Hasil observasi tentang aktivitas belajar siswa menunjukkan bahwa: Pada saat guru menjelaskan materi, siswa sudah nampak siap dalam proses pembelajaran. Beberapa siswa sudah mulai mau menanyakan hal-hal yang belum jelas. Aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran sudah mulai meningkat, hal ini ditunjukkan dari meningkatnya persentase aktivitas belajar siswa dari 56,62 pada siklus pertama menjadi 86,92% pada siklus kedua.

Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran pada siklus kedua mengalami peningkatan dari siklus yang pertama. Hal itu terlihat dari peningkatan siswa yang aktif dari 7 siswa menjadi 20 siswa.

Data hasil belajar yaitu siswa yang sudah tuntas belajar: 1) Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang tuntas belajar adalah 3 siswa dari 23 siswa atau 13,04%, 2) Pada siklus pertama siswa yang tuntas belajar adalah 7 siswa  dari 23 siswa atau 30,34%, 3) Pada siklus kedua siswa yang tuntas belajar adalah 21siswa dari 23 siswa atau 91,30%.

Siswa yang belum tuntas belajar: 1) Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang belum tuntas belajar adalah 20 siswa dari 23 siswa atau 86,95%, 2) Pada siklus pertama siswa yang belum tuntas belajar adalah 16 siswa  dari 37 siswa atau 69,56%, 3) Pada siklus kedua siswa yang belum tuntas belajar adalah 2 siswa dari 23 siswa atau 08,69%.

Tabel 1. Rekapitulasi ketuntasan hasil belajar Siswa Tiap Siklus

No Kegiatan Pembelajaran Siswa yang tuntas Siswa yang belum tuntas
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1. Pembelajaran Sebelumnya 3 13,04 20 86,95
2. Siklus I 7 30,34 16 69,56
3. Siklus II 21 91,30 2 08,69

Tabel 2. Rekapitulasi Aktivitas belajar Siswa Tiap Siklus

No Kegiatan Pembelajaran Siswa yang aktif Siswa yang belum aktif
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1. Pembelajaran Sebelumnya 4 17,39% 19 82,60%
2. Siklus I 13 56,52% 10 43,37%
3. Siklus II 20 86,95% 3 13,04%

Berdasarkan hasil persentase tes formatif dapat dilihat data kenaikan atau kemajuan dalam belajar sebagai berikut :

  1. a) Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang tergolong aktif dan sangat aktif adalah 4 siswa dari 23 siswa atau 17,39%.
  2. b) Pada siklus pertama siswa yang tergolong aktif dan sangat aktif adalah 13 siswa dari 23 siswa atau 56,52%.
  3. c) Pada siklus kedua siswa yang tergolong aktif dan sangat aktif adalah 20 siswa dari 23 siswa atau 86,95%.

PENUTUP

Simpulan

  1. Proses pembelajaran menggunakan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi “Mengenal pemerintahan desa dan Kecamatan” di Kelas IV SD Negeri Keleng 02 semester I tahun pelajaran 2014/2015.
  2. Hasil belajar PKn materi ”mengenal pemerintahan desa dan kecamatan” mengalami peningkatan setelah menggunakan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT). Dibuktikan pada data awal ketuntasan hasil belajar  hasi belajar siswa adalah 13,04% meningkat pada siklus I 30,34 dan di siklus II mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 91,30%
  3. Dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Cooperative learning dan metode bermain peran pada materi “ mengenal pemerintahan desa dan kecamatan”  dikelas IV SD Negeri Keleng 02, Kecamatan Kabupaten Kesugihan Cilacap tahun pelajaran 2014/2015, terjadi perubahan tingkah laku yang siknifikan, dibuktikan dengan persentase aktivitas dan hasil belajar yang meningkat disetiap siklusnya, yaitu dengan melihat data awal siswa yang aktif 17,39%, pada siklus I meningkat menjadi 56,52%  dan di siklus II keaktifan siswa meningkat menjadi 86,95%

Implikasi/Rekomendasi.

   Penelitian Tindakan kelas dengan judul upaya meningkatkan  hasil belajar PKn siswa kelas IV dalam materi “mengenal pemerintahan desa dan kecamatan” dengan menggunakan Model pembelajaran CVT, ternyata berdampak positif. Membuat guru selalu termotivasi merubah cara mengajar ke arah yang lebih baik.

Saran.

Untuk Guru, guru sebaiknya menggunakan pendekatan, media dan metode yang tepat agar  pembelajaran lebih bermakna dan kemampuan dalam mengelola kelas lebih meningkat, Guru sebaiknya melakukan penelitian tindakan kelas agar dapat meningkatkan layanan profesional kepada peserta didik.

Untuk Siswa, siswa lebih tertarik dan tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran PKn, sehingga kerja sama dalam diskusi, kerja kelompok dan bermain peran lebih meningkat, siswa bisa menguasai materi pelajaran yang diberikan guru sehingga pembelajaran lebih efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Adisusilo, Sutarjo. 2013. Pembelajaran Nilai Karakter Konstruktivisme dan VCT. Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: Rajawali Press.

Cholisin,2004 Materi pokok ilmu kewarganegaraan.Pendidikan Kewarganegaraan Yogyakarta UNY.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2001. Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Mudjidjo. 1995. Tes Hasil Belajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Sanjaya, Wina. 2012. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:

Sardiman. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Slameto. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

Taniredja, Tukiran. dkk. 2012. Model-model Pembelajaran Inovatif. Bandung: Alfabeta.

BIODATA PENULIS

a. Nama dan gelar Drs. TURWANTO
b. NIP 19610714 198012 1 001
c.Pangkat/Golongan Pembina /IV A
d. Jabatan Guru kelas
e. Instansi

SD Negeri Keleng 02 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *