PTK PKN : Materi Perumusan Pancasila Melalui Metode Bermain Peran

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATERI PROSES PERUMUSAN PANCASILA MELALUI METODE BERMAIN PERAN SISWA KELAS VII C SMP NEGERI 2 KARANGANYAR SEMESTER I TAHUN 2015-2016

Oleh : Drs. Wartoyo, M. Pd

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar PPKN materi perumusan Pancasila siswa kelas VII C SMP Negeri 2 Karanganyar. Metode yang digunakan adalah melalui metode bermain peran. Adapun hasil belajar yang diperoleh adalah nilai rata-rata pada pembelajaran awal 67,24, pada siklus I 76,90 dan pada perbaikan pembelajaran siklus II menjadi 89,65. Nilai ketuntasan pada pra siklus hanya 31,03% siswa yang meraih ketuntasan, 62,07% pada siklus I dan pada Siklus II sebanyak 89,65%. Perolehan kegiatan aktif siswa secara keseluruhan pada siklus I adalah 51,72% atau dalam kategori C (Sedang) pada siklus II meningkat menjadi 94,48% atau dalam kategori A (Sangat Baik). Kesimpulan dari hasil penelitian bahwa dengan menggunakan metode bermain peran hasil belajar siswa pada pembelajaran PPKN materi proses perumusan Pancasila kelas VII C SMP Negeri 2 Karanganyar telah menunjukan terjadi peningkatan yang signifikan.

Kata Kunci : Proses perumusan Pancasila, metode bermain peran, hasil belajar.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) diberikan sejak SD sampai SLTA. Dengan PPKN seseorang akan memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami karakter dan budaya bangsa serta menjadikan warga negara yang siap bersaing di dunia internasional tanpa meninggalkan  jati  diri  bangsa. Melalui PPKN setiap warga negara dapat mawas diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini yang memberi dampak positif dan negatif. PPKN juga bermanfaat untuk membekali peserta didik agar memiliki kemampuan untuk mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.

Pada kenyataannya, PPKN dianggap ilmu yang sukar dan sulit dipahami. PPKN adalah pelajaran formal yang berupa sejarah masa lampau, perkembangan sosial budaya, perkembangan teknologi, tata cara hidup bersosial, serta peraturan kenegaraan. Begitu luasnya materi PPKN menyebabkan anak sulit untuk diajak berfikir kritis dan kreatif dalam menyikapi masalah yang berbeda. Sementara anak kelas VII SMP tahap berfikir mereka masih belum formal, karena mereka baru berada pada tahap operasi onal konkret. Apa yang dianggap logis, jelas dan dapat dipelajari bagi orang dewasa, kadang-kadang merupakan hal yang tidak masuk akal dan membingungkan bagi siswa. Akibatnya banyak siswa yang tidak memahami konsep PPKN.

Berdasarkan temuan penulis, sebagian besar siswa kurang aktif dan berfikir kritis dalam materi proses perumusan Pancasila. Apabila anak menghadapi masalah kontekstual baru yang berbeda dengan yang dicontohkan, anak belum mampu berfikir kritis dan menemukan solusi dengan benar sehingga banyak anak yang menjawab salah, dan dengan alasan soalnya sulit. Karena itu wajar setiap kali diadakan tes,  nilai pelajaran PPKN selalu rendah dengan rata-rata kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Seperti yang dialami penulis sendiri, setiap ulangan PPKN nilai rata-rata anak di bawah 75. Termasuk  pada materi proses perumusan Pancasila Nilai rata-rata tes awal 67,24.  Dari 29 siswa hanya 9 siswa 31,03%  yang memperoleh nilai 75 ke atas. Sedangkan 20 siswa yang lain 68,97%  mendapat nilai dibawah 75.

Menghadapi kenyataan tersebut di atas, penulis tertarik untuk mendalami dan melakukan tindakan-tindakan perbaikan pembelajaran PPKN, khususnya materi proses perumusan Pancasila melalui penelitian tindakan kelas. Perbaikan yang penulis lakukan mengenai penerapan metode bermain peran pada materi proses perumusan Pancasila. Harapan penulis adalah terjadinya pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan serta lebih bermakna dan adanya keberanian peserta didik yang tuntas untuk menyelesaikan masalah kontektual dengan benar serta untuk lebih menguasai pelajaran.

Setelah menemukan faktor penyebab siswa belum memahami materi tantang perumusan Pancasila pada pelajaran PPKN. Rumusan masalah tersebut seperti berikut: 1) Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran bermain peran untuk meningkatkan hasil belajar PPKN tentang perumusan Pancasila siswa kelas VII C SMP Negeri 2 Karanganyar, 2)Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran bermain peran untuk meningkatkan aktivitas belajar PPKN tentang perumusan Pancasila siswa kelas VII C SMP Negeri 2 Karanganyar.

Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut : 1) untuk meningkatkan hasil belajar PPKN tentang perumusan Pancasila siswa kelas VII C SMP Negeri 2 Karanganyar, 2) untuk meningkatkan aktivitas belajar PPKN tentang perumusan Pancasilasiswa kelas VII C SMP Negeri 2 Karanganyar, 3) mendiskripsikan penerapan metode bermain peran dengan model cooperative Leraning  untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar PPKN materi  perumusan Pancasilasiswa kelas VII C SMP Negeri 2 Karanganyar.

 

LANDASAN TEORI

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN)

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, trampil, dan berkarakter sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945 (Lampiran Permendiknas No. 22 tahun 2006). Dalam pengamatannya terhadap pengertian PPKN, pakar social studies dan PPKN Indonesia yakni Numan Somantri memberikan batasan pengertian PPKN yang dirumuskan sebagai suatu seleksi dan adaptasi dari lintas disiplin ilmu-ilmu sosial, ilmu kewarganegaraan, humaniora, dan kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara psikologis dan ilmiah untuk ikut mencapai salah satu tujuan Pendidikan (Somantri, 2006: 59).

Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2006 : 4). Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap dalam diri seseorang sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya ( Hamzah, 2007 : 213 ).

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas peneliti menyimpulkan bahwa aspek – aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperolah berupa penguasaan konsep. Dalam pembelajaran PPKN pada materi perumusan Pancasila untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan diperlukan aktivitas siswa yaitu dengan melakukan aktivitas langsung dalam perumusan Pancasila. Melalui aktivitas tersebut pembelajar akan lebih mengena pada siswa. Selain itu siswa juga perlu berinteraksi dengan siswa yang lain untuk membuat simpulan dengan benar.

Metode Bermain Peran

Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran untuk menghadirkan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukan peran di dalam kelas atau pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan, misalnya menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran atau alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam pertunjukan dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran (Jumanta, 2014: 189).

Langkah-Langkah Penerapan Metode Bermain Peran dalam Pembelajaran PPKN. Menurut Aqib (2013: 24), Langkah langkah Role Playing yaitu:

  1. Guru menyusun atau menyiapkan skenario secara garis besar yang akan ditampilkan.
  2. Guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok yang anggotanya 5-6 orang.
  3. Guru menunjuk beberapa siswa perwakilan kelompok untuk membuat skenario materi pelajaran dua hari sebelum kegiatan belajar mengajar.
  4. Guru memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
  5. Guru memanggil siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.
  6. Masing-masing siswa duduk dikelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan dan mengamati skenario yang sedang diperagakan.
  7. Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas.
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
  9. Guru memberikan kesimpulan secara umum
  10. Evaluasi

 Baca Juga : PTK SMA : Mengatasi Permasalahan Belajar Melalui Konseling Eklektif

METODE PENELITIAN

Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMP Negeri 2 Karanganyar Kec. Karanganyar Kab. Pekalongan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII C semester I mata pelajaran PPKN untuk materi Perumusan Pancasila. Letak SMP Negeri 2 Karanganyar ada di Desa Legokkalong Kec. Karanganyar Kab. Pekalongan. Jumlah siswa kelas VII C ada 29 siswa terdiri dari 14 laki-laki dan 15 perempuan.

Waktu pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dua tahap : Siklus I dilaksanakan pada tanggal 23 September, 30 September dan 7 Oktober 2015, Siklus II dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober, 21 Oktober dan 28 Oktober 2015

Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif instrumennya adalah tes, maka dengan penelitian ini dengan tes sebagai hasil belajar PPKN siswa. Data kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument, maka pengumpulan datanya dengan lembar observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa, guru kelas ( observer ) dan penelitian itu sendiri.

Penelitian tindakan kelas ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa data perilaku siswa selama dalam proses pembelajaran siswa dengan menggunakan metode bermain peran. Data kuantitatif berupa tingkat kemampuan siswa yang ditunjukkan dengan nilai tes tertulis. Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui beberapa cara yaitu: Observasi atau monitoring kelas, Wawancara, Dokumen tugas siswa, Dokumentasi, Tes

Dalam kegiatan pengumpulan data ini, penulis dibantu supervisor Pengamatan ini dilakukan pada saat berlangsungnya pelaksanaan perbaikan pembelajaran di SMP Negeri 2 Karanganyar. Adapun kegiatan pengumpulan data adalah: 1) Dalam kegiatan pengumpulan data secara kualitatif, pengamat menggunakan lembar observasi yang sudah disediakan oleh peneliti. Pengamat memberikan skor pada kolom kemunculan sesuai indikator tersebut. Pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (observer) adalah tentang keefektifan metode bermain peran dalam meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran PPKN khususnya tentang materi pokok Perumusan Pancasila. Untuk mendapatkan data yang lebih tepat, maka fokus pengamatan ditekankan pada aktifitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran; 2) Data kuantitatif diperoleh dari hasil nilai tes formatif. Dari hasil tersebut dapat untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran. Dari hasil nilai tes formatif tersebut dapat diketahui tingkat keberhasilan penggunaan metode bermain peran dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Data kuantitatif tersebut dibuat sesuai dengan pedoman penilaian yang telah dibuat oleh guru. Setelah guru memberikan penilaian lalu menganalisis perbutir soal.

Validasi data mencerminkan hasil prestasi belajar siswa yang telah dicapai secara benar. Pada penelitian ini validasi data menggunakan teknik trianggulasi artinya data yang terkumpul dari beberapa kegiatan yaitu kegiatan pembelajaran baik yang diperoleh dari guru maupun siswa, diselaraskan dengan sumber belajar dari beberapa teori  dengan penemuan peneliti dan teman sejawat dianalisis hingga didapat data yang valid.

Penelitian Tindakan Kelas ini dikatakan berhasil apabila: telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (75) minimal 85% dari seluruh siswa, ada peningkatan keaktifan siswa setiap siklus.

PEMBAHASAN

Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Dari tabel pembelajaran awal sampai perbaikan pembelajaran siklus II pada mata pelajaran PPKN kelas VII C semester I tentang proses perumusan Pancasila di SMP Negeri 2 Karanganyar, dapat disajikan pada tabel 1 berikut.

Tabel 1

Peningkatan Hasil Belajar Siswa Antar Siklus

Keadaan Pra Siklus Siklus I Siklus II Indikator Keberhasilan
Nilai rata-rata 67,24 76,90 86,03 75% Tuntas klasikal (KKM  75)
Tuntas 9

(31,03)

18 (62,07) 26

(89,65)

Tidak Tuntas 20 (68,97) 11 (37,93) 3

(10,35)

Berdasarkan table 1 dapat kita lihat bahwa pada Pra Siklus hanya 31,03% siswa yang meraih ketuntasan, 62,07% pada siklus I dan pada Siklus II sebanyak 89,65% hal ini menunjukkan ada peningkatan yang signifikan apabila kita menggunakan metode dan cara belajar yang tepat sehingga siswa dapat belajar dengan semangat dan meraih prestasi yang diharapkan.Pada nilai rata-rata siswa juga mengalami peningkatan yang signifikan, nilai rata-rata pada pembelajaran awal 67,24, pada siklus I siswa mengalami peningkatan yaitu 76,90 dan pada perbaikan pembelajaran siklus II menjadi 89,65. Perbaikan pembelajaran cukup pada siklus II tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya karena siswa yang sudah tuntas dari 29 siswa ada 26 siswa yang tuntas atau 89,65% hanya 3 siswa atau 10,35% yang belum tuntas termasuk siswa yang lamban belajarnya.

Perubahan Perilaku Siswa

Dari tabel hasil observasi siswa pada pembelajaran awal sampai perbaikan siklus II pada mata pelajaran PPKN kelas VII C semester I tentang proses perumusan Pancasila di SMP Negeri 2 Karanganyar, dapat disajikan pada tabel 2 sebagai berikut :

Tabel 2

Hasil Observasi Perubahan Perilaku Siswa Antar Siklus

 

No Indikator yang Dinilai Siklus

I

Siklus II Peningkatan
1 Mendengarkan(memperhatikan) penjelasan guru tentang kompetensi yang disampaikan 51,72 86,20 34,48%
2 Mengamati(menjiwai) peran dari skenario yang sedang dilakonkan. 48,28 96,55 48,27%
3 Merespon, bertanya tentang materi pada skenario yang sedang diperankan 51,72 93,10 41,38%
4 Mengemukakan pendapat, tanggapan untuk membahas materi penampilan kelompok. 55,17 100 44,83%
5 Aktif memberi kesimpulan 51,72 96,55 44,83%
Skor Total 258,61 472,4
Prosentase 51,72% 94,48%
Kategori C (Sedang) A

(Sangat Baik)

Penjelasan: Pada tabel 2 diperoleh hasil peningkatan perubahan perilaku siswa pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I dan siklus II yaitu sebagai berikut pada indikator mendengarkan (memperhatikan) penjelasan guru tentang kompetensi yang disampaikan siswa yang melakukan kegiatan aktif pada siklus I 51,72% pada siklus II meningkat menjadi 86,20% ada peningkatan sebesar 34,48%, sedangkan pada indikator mengamati (menjiwai) peran dari skenario yang sedang dilakonkan siswa yang melakukan kegiatan aktif pada siklus I 48,28% pada siklus II meningkat menjadi 96,55% ada peningkatan sebesar 48,27%, sedangkan pada indikator merespon, bertanya tentang materi pada skenario yang sedang diperankan siswa yang melakukan kegiatan aktif pada siklus I 51,72% pada siklus II meningkat menjadi 93,10% ada peningkatan sebesar 41,38%, sedangkan pada indikator mengemukakan pendapat, tanggapan untuk membahas materi penampilan kelompok siswa yang melakukan kegiatan aktif pada siklus I 55,17% pada siklus II meningkat menjadi 100% ada peningkatan sebesar 44,83%, pada indikator aktif memberi kesimpulan siswa yang melakukan kegiatan aktif pada siklus I 51,72% pada siklus II meningkat menjadi 96,55% ada peningkatan sebesar 44,83%. Perolehan kegiatan aktif siswa secara keseluruhan pada siklus I adalah 51,72% atau dalam kategori C (Sedang) pada siklus II meningkat menjadi 94,48% atau dalam kategori A (Sangat Baik). Dalam proses observasi pada siklus I diperoleh data bahwa penjelasan materi yang diberikan oleh guru sangat cepat sehingga pembelajaran kurang dipahami siswa, Guru kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya dan berdiskusi, Perhatian guru pada siswa masih kurang dan menyeluruh sehingga masih banyak ditemukan siswa yang kurang tertib dan mengganggu temannya. Pada siklus II mengalami peningkatan bahwa penjelasan materi yang diberikan oleh guru sudah dapat dipahami oleh siswa, Guru sudah memberikan kesempatan pada sebagian besar siswa untuk bertanya dan berdiskusi, Perhatian guru pada sebagian besar siswa sudah menyeluruh sehingga kelas terkondisikan dengan baik

Berdasarkan hasil wawancara siswa memperoleh jumlah prosentase yang menjawab senang ada 91,03%, yang menjawab tidak ada 5,52%, dan yang menjawab biasa ada 3,45%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran lebih memudahkan siswa dalam memahami materi proses perumusan pancasila, dengan begitu siswa tidak merasa bosan selama proses pembelajaran berlangsung, bahkan siswa merasa senang selama proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih aktif dan antusias saat mengikuti pembelajaran. Hasil belajar PPKN siswa pun mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II.

 

PENUTUP

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar yang diperoleh meningkat, dari  nilai rata-rata pada pembelajaran awal 67,24, pada siklus I menjadi 76,90 dan pada siklus II menjadi 89,65. Nilai ketuntasan pada pra siklus hanya 31,03% siswa yang meraih ketuntasan, 62,07% pada siklus I dan pada Siklus II sebanyak 89,65%. Perolehan kegiatan aktif siswa secara keseluruhan pada siklus I adalah 51,72% atau dalam kategori C (Sedang) pada siklus II meningkat menjadi 94,48% atau dalam kategori A (Sangat Baik).

Dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan metode bermain peran hasil belajar siswa pada pembelajaran PPKN materi proses perumusan Pancasila kelas VII C SMP Negeri 2 Karanganyar telah menunjukan peningkatan yang signifikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anni, Catharina Tri, dkk. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.

Aqib, Zaenal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya

Ating Somantri dan Sambas Ali Muhidin. 2006. Statistika Dalam Penelitian. Bandung : Pustaka Setia

Depdiknas. 2006. Permendiknas No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. Jakarta : Depdiknas.

Hamdayama, Jumanta. 2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan
Berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia.

Hamzah B. Uno.  2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang
Pendidikan. Jakarta:Bumi Aksara.

BIODATA

Nama                  : Drs. H. Wartoyo, M.Pd

NIP                     : 19620916 198703 1 007

Pangkat/Gol       : Pembina, IV/b

Jabatan               : Guru PPKn

Unit Kerja          : SMP Negeri 02 Karanganyar

Alamat Sekolah :  Jl. Desa Legok kalong Kec Karanganyar Kab. Pekalongan

No. HP.               : 085786680538




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *