Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Opeerasi Hitung Campuran

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI OPERASI HITUNG CAMPURAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DI KELAS IV

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI OPERASI HITUNG CAMPURAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DI KELAS IV SD NEGERI KARANGKEMIRI PADA SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2016/2017

 

Oleh:

 Candra Septo Rinoaji, S.Pd

ABSTRAK

Tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar khususnya siswa kelas IV SD Negeri Karangkemiri pada materi operasi hitung campuran. Penelitian ini menggunakan subjek siswa kelas IV SD Negeri Karangkemiri yang berjumlah 27 siswa, terdiri dari 15 siswa putra dan 12 siswa putri. Dalam penelitian ini, pengumpulan data siswa menggunakan teknik tes yaitu tes formatif dan tes pengamatan. Hasil Penelitian Tindakan Kelas menunjukkan bahwa melalui penggunaan model pembelajaran jigsaw, hasil pembelajaran siswa dapat meningkat. Ketuntasan siswa dari kondisi awal atau pra siklus hanya 6 siswa saja atau 22,2%. Pada siklus I, ketuntasan siswa meningkat menjadi 17 siswa atau sekitar 62,96%. Sedangkan pada siklus II, ketuntasan siswa bertambah menjadi 25 siswa dari 27 siswa atau 92,59%. Dengan menggunakan model pembelajaran ini, nilai rata-rata kelas juga meningkat dimana dari pra siklus, siklus I sampai siklus II berturut turut adalah 44,07 ; 62,59 dan 77,78. Diharapkan hasil Penelitian Tindakan Kelas ini bermanfaat secara luas untuk menemukan teori baru tentang peningkatan hasil belajar Matematika melalui penggunaan model pembelajaran jigsaw. Penelitian ini secara praktis sangat bermanfaat untuk mengatasi masalah rendahnya hasil belajar Matematika bagi siswa kelas IV SD Negeri Karangkemiri.

Kata kunci : Hasil belajar, Matematika, Jigsaw.        

PENDAHULUAN

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting karena kemampuannya sangat berguna bagi kehiudupan sehari-hari manusia. Apalagi materi operasi hitung campuran. Anak harus bisa menjumlah, mengurang, membagi dan mengalikan.

Pada kenyataannya, hasil belajar materi operasi hitung campuran di kelas IV SDN Karangkemiri rendah. Dari 27 siswa diperoleh data yaitu 6 orang anak atau 22,2 % anak yang mencapai KKM (tuntas) dan sisanya 21 atau 77,8 % anak tidak mencapai KKM (tidak tuntas), dengan nilai KKM adalah 66. Dengan banyaknya siswa yang nilainya masih kurang dari KKM maka penulis mencoba melakukan perbaikan pembelajaran melalui PTK (Penelitian Tindakan Kelas).

Metode yang biasaanya menggunakan ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas kemungkinan sangat membosankan bagi siswa. Oleh karena itu peneliti ingin mencoba mengubah metode dengan model jigsaw.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah yang diajukan adalah :

“Apakah penggunaan model jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi operasi hitung campuran di kelas IV SD Negeri Karangkemiri Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas pada semester 1 tahun 2016/2017?”

 

KAJIAN PUSTAKA

Belajar dan Pembelajaran

                  Menurut Slavin (1994) belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. Menurut Diedrich dalam Nasution (2005) bahwa aktivitas dalam proses pembelajaran dapat meliputi Visual activities, Oral activities, Listening activities, Mental activities dan Emotional activities.

Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain adalah faktor internal (kesehatan jasmani dan rohani, intelegensi dan bakat, emosional, minat dan motivasi serta faktor sosial yang meliputi kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan). Faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain Variasi dan derajat kesulitan materi, tempat belajar, iklim dan suasana lingkungan (Anni et al. 2004).

Materi Operasi Hitung Campuran

Operasi hitung campuran yang meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian mempunyai tingkatan dalam pengerjaannya. Menurut Mangatur Sinaga (2007), ada beberapa aturan dalam operasi hitung campuran diantaranya adalah :

  1. Operasi dalam tanda kurung harus didahulukan.
  2. Operasi perkalian dan pembagian setingkat. Selesaikan perhitungan dan sebelah kiri ke kanan.
  3. Operasi penjumlahan dan pengurangan setingkat. Selesaikan perhitungan dari sebelah kiri ke kanan.
  4. Operasi perkalian dan pembagian lebih tinggi daripada penjumlahan dan pengurangan. Perkalian dan pembagian harus dikerjakan dahulu.

Contoh soal dan pengerjaannya :

  1. 15 + 20 : 4 = 15 + (20 : 4) = 15 + 5 = 20
  2. 40 – 3 x 9 = 40 – (3 x 9) = 40 – 27 = 13
  3. 6 x 4 + 10 = (6 x 4) + 10 = 24 + 10 = 34
  4. 6 x 7 – 12 = (6 x 7) – 12 = 42 – 12 = 30

Model Pembelajaran Jigsaw

Menurut Lie (1993 : 73), model pembelajaran jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.

Langkah-Langkah Metode Jigsaw

Menurut Stepen, Sikes and Snapp (1978 ) yang dikutip Rusman (2008), langkah-langkah kooperatif model jigsaw adalah sebagai berikut:

  1. Siswa dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang siswa.
  2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi berbeda.
  3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
  4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub bagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.
  5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli, tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama.
  6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
  7. Guru memberi evaluasi.
  8. Penutup.

Kelebihan Metode Jigsaw

Ibrahim dkk (2000) mengemukakan kelebihan dari metode jigsaw sebagai berikut:

  1. Dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif.
  2. Menjalin/mempererat hubungan yang lebih baik antar siswa.
  3. Dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa.
  4. Siswa lebih banyak belajar dari teman mereka dalam belajar kooperatif dari pada guru.

Kelemahan Metode Jigsaw

Beberapa kelemahan jigsaw antara lain :

  1. Jika guru tidak mengingatkan siswa agar selalu menggunakan keterampilan–keterampilan kooperatif dalam kelompok masing–masing, maka dikhawatirkan kelompok akan macet.
  2. Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah, misal jika ada  anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas–tugas dan pasif dalam diskusi.
  3. Menimbulkan waktu yang lebih lama apalagi bila ada penataan ruang belum terkondisi dengan baik, sehingga perlu waktu merubah posisi yang juga dapat menimbulkan gaduh.

 

METODE PENELITIAN

Subjek dari penelitan ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri Karangkemiri Unit Pendidikan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas yang berjumlah 27 anak yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan.

Prosedur PTK

candra

Teknik Analisis Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes formatif  untuk mengumpulkan data hasil belajar. Agar data yang diperoleh tepat dan cermat penulis menggunakan teknik pengecekan kebenaran data dengan melibatkan teman sejawat dan kepala sekolah. Penulis melakukan analisis data dengan menggunakan data hasil belajar yang diperoleh dengan tes formatif, data proses pembelajaran pada saat pelaksanaan tindakan perbaikan dengan lembar observasi, data mengenai refleksi dan perubahan yang terjadi secara klasikal di kelas dan data tentang keterkaitan antara perencanaan dengan pelaksanaan yang diperoleh dari rencana pembelajaran dan lembar observasi.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Tes formatif pada pra siklus mata pelajaran matematika kelas IV semester 1 di SD Negeri Karangkemiri dengan materi pokok operasi hitung campuran, dari 27 siswa hanya 6 anak (22,2%) yang menguasai materi dan mencapai KKM dan dapat dikatakan tuntas dalam belajar. Sedangkan 21 anak lainnya (72,8%) belum tuntas dengan nilai tertinggi 70 dan nilai terendah adalah 20.

Deskripsi Siklus I

            Hasil tes formatif pra siklus dan siklus I dapat peneliti jelaskan sebagai berikut:

  • Ada sebanyak 6 siswa pada pembelajaran pra siklus yang mendapatkan nilai 70 ke atas atau sekitar 22,22% siswa yang sudah tuntas (diatas KKM). Sedangkan 21 anak memperoleh nilai kurang dari 70 atau sekitar 77,78% dari jumlah siswa yang masih belum tuntas.
  • Pada siklus I, ada sebanyak 17 siswa dari 27 siswa yang mendapat nilai 70 ke atas atau 62,96% siswa yang sudah tuntas (diatas KKM). Sedangkan 10 siswa memperoleh nilai dibawah 70 atau 14,29% dari jumlah siswa yang belum tuntas.

Perbandingan ketuntasan siswa antara pra siklus dengan siklus I terlihat bahwa siswa mengalami peningkatan dalam nilai dan penguasaan materi operasi hitung campuran. Namun demikian, hasil tersebut belum sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh peneliti. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran akan dilanjutkan pada siklus II.

            Peneliti melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas dari pra siklus ke siklus I. Peneliti melakukan refleksi yang bertujuan untuk mengkaji, menganalisis dan menilai pelaksanaan perbaikan siklus I. Hasil refleksi menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan bertambahnya jumlah siswa yang mempunyai nilai diatas KKM. Selain itu juga ditemukan beberapa kekurangan yang mempengaruhi hasil sehingga belum sesuai dengan apa yang diharapkan peneliti. Setelah melakukan diskusi dengan teman sejawat, dari hasil siklus I perlu dilakukan perbaikan dengan tetap melakukan percobaan, memaksimalkan bimbingan serta fokus kepada siswa yang belum mencapai KKM.

Deskripsi Siklus II

            Hasil tes formatif pra siklus, siklus I dan siklus II dapat peneliti jelaskan sebagai berikut:

  • Pada pembelajaran pra siklus, ada sebanyak 6 siswa yang mendapatkan nilai 70 ke atas atau sekitar 22,22% siswa yang sudah tuntas (diatas KKM). Sedangkan 21 anak memperoleh nilai kurang dari 70 atau sekitar 77,78% dari jumlah siswa yang masih belum tuntas.
  • Pada siklus I, ada sebanyak 17 siswa dari 27 siswa yang mendapat nilai 70 ke atas atau 62,96% siswa yang sudah tuntas (diatas KKM). Sedangkan 10 siswa yang memperoleh nilai dibawah 70 atau 14,29% dari jumlah siswa yang belum tuntas.
  • Pada siklus II, sebanyak 25 siswa dari 27 siswa yang mendapat nilai di atas 70 atau 92,59% siswa yang sudah tuntas (di atas KKM). Sedangkan 2 siswa lagi mendapatkan nilai dibawah 70 atau 7,41% dari jumlah siswa yang belum tuntas.

Tabel 1 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

No Nilai Banyak Siswa Pra Siklus Banyak Siswa Siklus I Banyak Siswa Siklus II
1 10 0 0 0
2 20 7 0 0
3 30 2 0 0
4 40 3 7 0
5 50 9 3 1
6 60 0 0 1
7 70 6 10 8
8 80 0 7 10
9 90 0 0 7
10 100 0 0 0
Jumlah Siswa 27 27 27

Tabel 2 Perbandingan Ketuntasan Belajar pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

No Kegiatan Pembelajaran Siswa yang tuntas Siswa yang belum tuntas
Jumlah % Jumlah %
1 Pra Siklus 6 22,22 21 77,78
2 Siklus I 17 62,96 10 14,29
3 Siklus II 25 92,59 2 7,41

candra1

Grafik 1 Rekapitulasi tuntas, belum tuntas dan rata-rata nilai Pra siklus, siklus 1 dan siklus 2

candra2

Grafik 2 Rekapitulasi prosentase tuntas dan belum tuntas pada pra siklus, siklus 1 dan siklus 2.

Dari penjelasan di atas dan dengan disertai bukti-bukti yang nyata dapat diketahui bahwa penggunakan model pembelajaran jigsaw pada mata pelajaran matematika di kelas IV dengan materi operasi hitung campuran dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya ketuntasan belajar siswa.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil análisis data dan temuan di lapangan dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran jigsaw pada mata pelajaran matematika materi operasi hitung campuran di kelas IV SD Negeri Karangkemiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya pencapaian KKM. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya prosesntase ketuntasan dari 22,22% pada pra siklus menjadi 62,96% pada siklus 1 dan 92,59% pada akhir siklus 2.

Saran Tindak Lanjut

Beberapa saran yang dapat peneliti ungkapkan untuk perbaikan penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut :

  • Dalam melakukan Penelitian Tindakan Kelas sebaiknya dilakukan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan melalui dosen pembimbing untuk memudahkan peneliti dalam menyelesaikan tugasnya.
  • Pelaksanaan penelitian harus dilakukan dengan perencanaan yang matang khususnya dalam analisis dan pemecahan masalahnya sehingga siklus berikutnya bisa sesuai dengan apa yang diharapkan.
  • Penggunaan model pembelajaran dan alat peraga sebaiknya dibuat semenarik mungkin sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

                Karena mempunyai manfaat yang cukup besar bagi guru dan siswa maka sebaiknya guru membiasakan diri menganalisa hasil evaluasi secara berkala. Selain itu juga perlu di tinjau ulang tentang keefektifitasan penggunaan model pembelajaran jigsaw dalam meningkatkan hasil belajar matematika pada kelas IV di sekolah-sekolah lain agar validitasnya teruji.

DAFTAR PUSTAKA

Anni, C. T A. Rifa’i, E. Purwanto, & D. Purnomo. (2004). Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES.

Arikunto S. (2007). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Hal 16. Jakarta : Bumi Aksara.

Darsono, M., A. Sugandhi, Martensi, R.K Sutadi & Nugroho. (2000). Belajar dan Pembelajaran. Semarang : UNNES Press.

Diedrich dalam Nasution. (2005). Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Dimyati. (1994). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Gagne dalam Wardani et al. (2014). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka.

Http://manggamudaku.blogspot.com/2012/12/kelebihan-dan-kekurangan-model model_7852.html

Http://setyanieni.blogspot.com/2013/01/langkah-langkah-jigsaw.html

I.G.A.K. Wardani dan Kuswaya Wihardit. (2014). Materi Pokok Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka.

I.G.A.K. Wardani, Siti Julaeha, Ucu Rahayu, Ngadi Marsinah, Widiasih, Amalia Sapriati dan Suhartono. (2013). Materi Pokok Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP). Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka.

Lie. (1993). Cooperative Learning. Hal 73. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

Mangatur Sinaga. 2007. Buku Terampil Berhitung Matematika untuk SD Kelas IV. Penerbit Erlangga. Hal.34-37.

Slavin. (1994). Pembelajaran Kooperatif : Model Pembelajaran Tipe Jigsaw (http://www.scribd.com/doc/2011/09/21/Model-Pembelajaran-Tipe-Jigsaw).

Sudjana. 1996. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru.

BIODATA PENULIS

NAMA            :Candra Septo Rinoaji, S.Pd

JABATAN      : Guru Honorer SD Negeri Karangkemiri Kecamatan Karanglewas Kab. Banyumas

Email               : candrar71n@gmail.com

Alamat            : Desa Karangkemiri RT 003/006 Kecamatan Karanglewas Purwokerto

Telpon             : 081334409424




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *