Surono Guru Mapel IPA

PTK SD IPA Materi Penghematan Energi Listrik Kelas VI

PENERAPAN METODE PEMBERIAN TUGAS DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI PENGHEMATAN ENERGI LISTRIK BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI KALIPETUNG

Oleh:

Surono

 ABSTRAK

 

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 25 Februari 2015, ketuntasan klasikal yang dicapai pada kelas VI IPA 65,4% dan rata-rata hasil belajarnya yaitu 62,5. Pembelajaran IPA yang berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Kalipetung lebih banyak menggunakan metode ceramah, tanya jawab, serta diskusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah penerapan metode pemberian tugas IPA dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas VI pada Sekolah Dasar Negeri Kalipetung. Indikator penetapan KKM sebesar 65, dan rata-tara hasil belajar 80 %.Penerapan metode pemberian tugas pada penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Proses PTK dimulai dari tahahapan perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi untuk memecahkan masalah dan mencobakan hal-hal baru demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pemberian tugas dapat diterapkan di Sekolah Dasar Negeri Kalipetung dengan keterlaksanaan pembelajaran 92,15%. Selain itu metode pemberian tugas dapat meningkatkankan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar pada siklus I yaitu 70,8 dan siklus II meningkat menjadi 76,9.

Kata Kunci :  Metode Pemberian Tugas, Hasil Belajar, Penghematan Energi Listrik

PENDAHULUAN

Sebagai guru di masa depan, perlu pembekalan dini, seperti keterampilan menyusun RPP dan melaksanakan pembelajaran. Seorang guru IPA harus mampu melaksanakan strategi pembelajaran IPA dengan baik. Untuk mengetahui strategi pembelajaran IPA, perlu pengetahuan dasar seperti belajar dan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan keterampilan dasar mengajar. Dalam mencapai tujuan pembelajaran, guru  menggunakan berbagai macam cara agar siswa dapat berkembang dan berkompeten dalam bidangnya. Banyak cara yang dilakukan oleh guru dalam mencapai hal tersebut, salah satunya dengan memberikan tugas kepada siswa. Menurut Safira (2012), tugas merupakan suatu pekerjaan yang harus diselesaikan. Pemberian tugas sebagai suatu metode mengajar merupakan suatu pemberian pekerjaan oleh guru kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Dengan pemberian tugas tersebut siswa dapat belajar sekaligus mengerjakan tugas.

            Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 25 Februari 2015, ketuntasan klasikal yang dicapai pada kelas VI yaitu 65,4% dan rata-rata hasil belajarnya yaitu 62,5. Pembelajaran IPA yang berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Kalipetunglebih banyak menggunakan metode ceramah, tanya jawab, serta diskusi. Tugas yang diberikan guru sudah cukup bervariasi, antara lain mengerjakan LKS dan membuat artikel, tetapi pemahaman materi yang didapatkan oleh siswa masih kurang. Ketika kegiatan diskusi berlangsung hanya siswa tertentu yang aktif. Permasalahan yang muncul antara lain siswa tidak mendapatkan pemahaman tambahan dari tugas yang diselesaikan.

Berdasarkan permasalahan ini maka dilakukan penelitian dengan judul Penerapan Metode Pemberian Tugas dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Kelas VI di Sekolah Dasar Negeri KalipetungMateri Penghematan Energi Listrik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimanakah penerapan metode pemberian tugas IPA dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas VI pada  Sekolah Dasar Negeri Kalipetung.

Metode pemberian tugas merupakan suatu metode mengajar dimana guru memberikan suatu tugas, kemudian siswa harus mempertanggung jawabkan hasil tugas tersebut (Maulina, 2011). Menurut Safira (2012), pemberian tugas dilakukan oleh guru karena dalam jam pelajaran tidak sempat diberikan di kelas. Untuk menyelesaikan rencana pembelajaran yang telah ditetapkan, maka siswa diberi tugas untuk mempelajari dengan diberi soal-soal yang harus dikerjakan di rumah.

METODE

Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Kalipetung, Jalan Krajingan No 1 Kalipetung, Desa Klapagading. Penelitian dilaksanakan di Kelas VI dengan siswa berjumlah 26 orang yang terdiri 8 laki-laki dan 18 perempuan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru yang bertindak sekaligus sebagai peneliti untuk memperbaiki kondisi pembelajaran di dalam kelasnya yang dilakukan melalui refleksi diri. Menurut Susilo (2009) penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian reflektif yang dilaksanakan secara siklus (berdaur) oleh guru/calon guru di dalam kelas. Dikatakan demikian karena proses PTK dimulai dari tahapan prencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi untuk memecahkan masalah dan mencobakan hal-hal baru demi peningkatan kualitas pembelajaran.

HASIL PENELITIAN

Kegiatan Pra Tindakan

Sebelum melakukan kegiatan penelitan, terlebih dahulu dilakukan kegiatan observasi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 25 Februari 2015, ketuntasan klasikal yang dicapai pada kelas VI yaitu 65,4% dan rata-rata hasil belajarnya yaitu 62,5. Pembelajaran IPA yang berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Kalipetung lebih banyak menggunakan metode ceramah, tanya jawab, serta diskusi.

HASIL PENELITIAN

Paparan Data Siklus 1

Data keterlaksanaan pembelajaran merupakan data yang diperoleh dari hasil kegiatan observasi yang dilakukan observer. Kegiatan observasi dilaksanakan pada setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada siklus I. Data keterlaksanaan pembelajaran siklus I selengkapnya disajikan dalam Tabel 1 sebagai berikut.

Tabel 1 Data Rangkuman Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran

Tahap Kegiatan Keterlaksanaan
Ya Tidak
 

 

 

Kegiatan Awal

Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan memberikan pertanyaan
Guru memberikan pertanyaan pengantar untuk mengaitkan konsep yang akan dipelajari dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa
Guru menjelasakan tujuan pembelajaran
 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Inti

Guru mengarahkan siswa untuk membagi siswa menjadi 4 kelompok yaitu kelompok A,B,C,D
Guru meminta siswa A berpasangan dengan siswa B, sedangkan siswa C berpasangan dengan siswa D
Guru membagikan lembar tugas kepada masing-masing siswa
Guru menunjuk siswa A dan C menjadi pemateri dan siswa B dan D yang menjadi pendengar
Guru meminta siswa untuk bertukar peran yaitu siswa A dan C sebagai pendengar dan siswa B dan D sebagai pemateri
Guru meminta siswa untuk mempresentasikan jawaban dan menjadi fasilitator selama diskusi
Guru memimpin jalannya diskusi
Guru memberikan penguatan atas jawaban siswa
Tingkah laku guru antusias
Suara guru jelas dan tidak monoton
Pandangan guru menyeluruh/merata pada semua siswa
Kegiatan Penutup Guru membimbing siswa melakukan refleksi
Guru memberikan penugasan kepada siswa

Berdasarkan Tabel 1 dapat diperoleh data hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran oleh guru. Data yang diperoleh dihitung dengan rumus persentase keterlaksanaan pembelajaran. Hasil perhitungan yang dilakukan, diperoleh hasil 84,3%.  Pada siklus I rata-rata keterlaksanaan pembelajaran sebesar 84,3% dengan taraf tindakan sangat baik yang disajikan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2 Keterlaksanaan Pembelajaran oleh Guru

Tahap Kegiatan Keterlaksanaan tindakan (%) Taraf

Keterlaksanaan

Tindakan

 

 

 

Kegiatan Awal

Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan memberikan pertanyaan 80%  Baik
Guru memberikan pertanyaan pengantar untuk mengaitkan konsep yang akan dipelajari dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa 90% Sangat baik
Guru menjelasakan tujuan pembelajaran 80%  baik
 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Inti

Guru mengarahkan siswa untuk membagi siswa menjadi 4 kelompok yaitu kelompok A,B,C,D 90% Sangat baik
Guru meminta siswa A berpasangan dengan siswa B, sedangkan siswa C berpasangan dengan siswa D 90% Sangat baik
Guru membagikan lembar tugas kepada masing-masing siswa 90% Sangat baik
Guru menunjuk siswa A dan C menjadi pemateri dan siswa B dan D yang menjadi pendengar 90% Sangat baik
Guru meminta siswa untuk bertukar peran yaitu siswa A dan C sebagai pendengar dan siswa B dan D sebagai pemateri 80%  baik
Guru meminta siswa untuk mempresentasikan jawaban dan menjadi fasilitator selama diskusi 70%  baik
Guru memimpin jalannya diskusi 90% Sangat baik
Guru memberikan penguatan atas jawaaban siswa 90% Sangat baik
Tingkah laku guru antusias 80%  baik
Suara guru jelas dan tidak monoton 90% Sangat baik
Pandangan guru menyeluruh/merata pada semua siswa 90% Sangat baik
Kegiatan Penutup Guru membimbing siswa melakukan refleksi 70% baik
Guru memberikan penugasan kepada siswa 80%  baik
Rata-rata   84,3  Baik

Pada akhir kegiatan pembelajaran siklus I, siswa diberi tes akhir dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah dipelajari. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) matapelajaran IPA pada Sekolah Dasar Negeri Kalipetungadalah 70,8. Ketuntasan klasikal yang ditetapkan di Sekolah Dasar Negeri Kalipetung adalah ≥ 84,3 % dari jumlah siswa mencapai KKM. Pada siklus I siswa yang mencapai KKM adalah 26 siswa. Jumlah nilai tuntas klasikal yaitu sebesar 100%. Berdarakan hasil ini dapat dikatakan bahwa secara klasikal hasil belajar siswa telah tuntas. Untuk lebih jelasanya dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut.

Tabel 3 Hasil Belajar Klasikal Siklus I

 

No Nama Hasil Belajar Individu Ketuntasan
1 Ine Cintya Rosadi 74 Tuntas
2 Kezia Sophiana Noto 66 Tuntas
3 Khalimatus Sa’diya 81 Tuntas
4 Maulani F.K 74 Tuntas
5 Nadia Rachma Aniswara 66 Tuntas
6 Nur Kholish Amrullah 74 Tuntas
7 Nurohaini Yulianingtyas 68 Tuntas
8 Pebri Fitriyah Nur Indah 72 Tuntas
9 R. Amran D.N 70 Tuntas
10 Retno Wahyuning Safitri 66 Tuntas
11 Rima Ma’ad Darma Wasita 74 Tuntas
12 Safrinda E.D 76 Tuntas
13 Tiara Maha Dian 68 Tuntas
14 Achmad Khoiru Atho’illah 70 Tuntas
15 Adam Abdillah Akbar 70 Tuntas
16 Aden Febrian N 74 Tuntas
17 Aisyah Fitriani 68 Tuntas
18 Alvandha Adindra 68 Tuntas
19 Andikha Trisna Putra 68 Tuntas
20 Annisa Dwi Rahmawati 74 Tuntas
21 Arif Budhi C 68 Tuntas
22 Arum Yunita Puspita Sari 66 Tuntas
23 Dinar Nur Hayati 68 Tuntas
24 Eka Pusputa Ayu Sholihah 68 Tuntas
25 Elfira P 74 Tuntas
26 Fitri Wiranda 78 Tuntas
Jumlah 1.843
Rata-rata 70,8
Hasil Belajar Klasikal 100% (Tuntas)

Catatan lapangan merupakan hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer selama kegiatan pembelajaran pada siklus I berlangsung. Berikut merupakan hasil catatan lapangan pada kegiatan pembelajaran siklus I.

  1. Pada saat siswa maju ke depan kelas untuk menjelaskan jawaban dari tugas yang telah dikerjakan, mayoritas siswa hanya membaca jawaban yang telah dikerjakan tetapi kurang menjelaskan maksud dari tugas yang dikerjakan. Sehingga terkesan siswa hanya membaca jawabannya saja namun kurang memahami apa yang siswa sampaikan.
  2. Siswa yang aktif untuk menjelaskan tugas yang dikerjakan hanya sedikit hanya Annisa, Tiara, Maulani, dan Achmad Khoiru.
  3. Peran guru dalam kegiatan diskusi terlalu penuh, sehingga pembelajaran terkesan teacher center. Siswa kurang aktif dalam kegiatan diskusi. Mayoritas siswa cenderung pasif
  4. Pada saat kegiatan saling menjelaskan materi antar teman sebangku dapat membantu siswa dalam memahami materi.
  5. Dengan adanya tugas yang diberikan guru, siswa terbantu untuk memahami materi.

Dari hasil observasi yang dilakukan oleh observer pada kegiatan pembelajaran yang berlangsung selama siklus I diperoleh informasi mengenai kekurangan dan kelebihan dari guru selama melaksanakan pembelajaran pada siklus I. Kelebihan Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Siklus I antara lain:

  • Pemahaman materi siswa dapat bertambah karena tugas yang diberikan oleh guru membantu siswa untuk memahami materi yang dipelajari.
  • Dengan adanya poin berupa stiker yang diberikan kepada siswa yang aktif saat kegiatan diskusi dapat menambah kepercayaan diri siswa untuk berani menyampaikan pendapat. Selain itu siswa menjadi lebih aktif.
  • dengan adanya tugas yang diberikan oleh guru, jawaban siswa yang muncul cukup bervasiasi sehingga terlihat bahwa siswa bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
  • Dengan adanya kelompok berdasarkan teman sebangku, membuat siswa lebih bebas untuk saling berdiskusi dan bertukar materi sesuai dengan materi yang didapatkan.

Sedangkan kekurangan kegiatan pembelajaran siklus I antara lain:

  • Guru kurang memberikan kesempatan untuk siswa menjelaskan materi lebih banyak, sehingga terkesan pembelajaran teacher center.
  • Guru kurang memberikan kesempatan siswa yang pasif, sehingga siswa yang pasif cenderung diam pada saat diskusi berlangsung.
  • Penguasaan materi guru lebih ditingkatkan lagi.
  • Jumlah soal diskusi yang dibagikan kepada siswa ada yang kurang proporsional, sehingga ada siswa yang menerima soal dengan jumlah banyak dan ada siswa yang menerima soal dengan jumlah sedikit.
  • Ketika siswa maju untuk mempresentasikan tugas yang telah dikerjakan, siswa hanya membaca jawaban saja. Sehingga siswa terkesan kurang menguasai jawaban. Selain itu siswa yang lainnya menjadi kurang fokus karena siswa yang presentasi cenderung monoton.

Berdasarkan refleksi yang telah dilakukan pada pembelajaran siklus I, maka perlu dilakuakn perbaikan sebelum siklus II dilakukan. Hal ini dilakukan agar pembelajaran yang dilakukan pada siklus II dapat lebih baik lagi. Perbaikan pada siklus II adalah sebagai berikut.

  • Peran guru harus dikurangi agar pembelajaran tidak terkesan teacher center. Guru hanya mendampingi kegiatan diskusi dan memberikan penguatan materi. Siswa harus lebih banyak berperan dalam kegiatan diskusi.
  • Guru harus menunjuk siswa yang pasif untuk aktif berdiskusi baik untuk mempresentasikan tugas maupun menjawab pertanyaan ketika diskusi berlangsung.
  • Soal untuk bahan diskusi dibuat dengan jumlah lebih proporsional sehingga semua siswa mendapatkan soal dengan jumlah yang sama
  • Untuk mengatasi kegiatan presentasi tugas yang monoton, maka tugas siswa tidak hanya ditulis di kertas saja namun dibuat dalam bentuk

 

Paparan Data Siklus II

Data keterlaksanaan pembelajaran merupakan data yag diperoleh dari hasil kegiatan observasi yang dilakukan oleh observer. Kegiatan observasi dilaksanakan pada setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada siklus II. Data keterlaksanaan pembelajaran siklus II selengkapnya disajikan dalam Tabel 4 sebagai berikut.

Tabel 4 Data Rangkuman Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran

Tahap Kegiatan Keterlaksanaan
Ya Tidak
 

 

 

Kegiatan Awal

Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan memberikan pertanyaan
Guru memberikan pertanyaan pengantar untuk mengaitkan konsep yang akan dipelajari dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa
Guru menjelasakan tujuan pembelajaran
 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Inti

Guru mengarahkan siswa untuk membagi siswa menjadi 4 kelompok yaitu kelompok A,B,C,D
Guru meminta siswa A berpasangan dengan siswa B, sedangkan siswa C berpasangan dengan siswa D
Guru membagikan lembar tugas kepada masing-masing siswa
Guru menunjuk siswa A dan C menjadi pemateri dan siswa B dan D yang menjadi pendengar
Guru meminta siswa untuk bertukar peran yaitu siswa A dan C sebagai pendengar dan siswa B dan D sebagai pemateri
Guru meminta siswa untuk mempresentasikan jawaban dan menjadi fasilitator selama diskusi
Guru memimpin jalannya diskusi
Guru memberikan penguatan atas jawaaban siswa
Tingkah laku guru antusias
Suara guru jelas dan tidak monoton
Pandangan guru menyeluruh/merata pada semua siswa
Kegiatan Penutup Guru membimbing siswa melakukan refleksi
Guru memberikan penugasan kepada siswa

Berdasarkan Tabel 4 dapat diperoleh data hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran oleh guru. Data yang diperoleh dihitung dengan rumus persentase keterlaksanaan pembelajaran. Hasil perhitungan yang dilakukan, diperoleh hasil 100%.  Pada siklus II rata-rata keterlaksanaan pembelajaran sebesar 100% dengan taraf tindakan sangat baik yang disajikan pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5 Keterlaksanaan Pembelajaran oleh Guru

Tahap Kegiatan Keterlaksanaan tindakan (%) Taraf

Keterlaksanaan

Tindakan

 

Kegiatan Awal

Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan memberikan pertanyaan

100% Sangat baik

Guru memberikan pertanyaan pengantar untuk mengaitkan konsep yang akan dipelajari dengan konsep yang telah dimiliki oleh siswa

100% Sangat baik

Guru menjelasakan tujuan pembelajaran

100% Sangat baik
 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Inti

Guru mengarahkan siswa untuk membagi siswa menjadi 4 kelompok yaitu kelompok A,B,C,D

100% Sangat baik

Guru meminta siswa A berpasangan dengan siswa B, sedangkan siswa C berpasangan dengan siswa D

100% Sangat baik

Guru membagikan lembar tugas kepada masing-masing siswa

100% Sangat baik

Guru menunjuk siswa A dan C menjadi pemateri dan siswa B dan D yang menjadi pendengar

100% Sangat baik

Guru meminta siswa untuk bertukar peran yaitu siswa A dan C sebagai pendengar dan siswa B dan D sebagai pemateri

100% Sangat baik

Guru meminta siswa untuk mempresentasikan jawaban dan menjadi fasilitator selama diskusi

100% Sangat baik

Guru memimpin jalannya diskusi

100% Sangat baik

Guru memberikan penguatan atas jawaaban siswa

100% Sangat baik

Tingkah laku guru antusias

100% Sangat baik
Suara guru jelas dan tidak monoton 100% Sangat baik

Pandangan guru menyeluruh/merata pada semua siswa

100% Sangat baik
Kegiatan Penutup

Guru membimbing siswa melakukan refleksi

100% Sangat baik
Guru memberikan penugasan kepada siswa 100% Sangat baik
Rata-rata   100% Sangat baik

Pada akhir kegiatan pembelajaran siklus II siswa akan diberikan tes akhir dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah dipelajari. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) matapelajaran IPA pada Sekolah Dasar Negeri Kalipetungadalah 76,9. Ketuntasan klasikal yang ditetapkan di Sekolah Dasar Negeri Kalipetungadalah ≥ 100% dari jumlah seluruh sisiwa yang mencapai KKM. Pada siklus II siswa yang mampu mencapai KKM adalah 26. Sedangkan jumlah nilai tuntas klasikal yaitu sebesar 100%. Berdasarkan hasil ini dapat dikatakan bahwa secara klasikal hasil belajar siswa telah tuntas. Pada siklus I maupun siklus II presentasi hasil belajar klasikal yaitu tetap 100%. Untuk lebih jelasanya dapat dilihat pada Tabel 6 sebagai berikut.

Tabel 6 Hasil Belajar Klasikal Siklus II

 

No Nama Hasil Belajar Individu Ketuntasan
1 Ine Cintya Rosadi 85 Tuntas
2 Kezia Sophiana Noto 70 Tuntas
3 Khalimatus Sa’diya 80 Tuntas
4 Maulani F.K 77,5 Tuntas
5 Nadia Rachma Aniswara 70 Tuntas
6 Nur Kholish Amrullah 72,5 Tuntas
7 Nurohaini Yulianingtyas 87,5 Tuntas
8 Pebri Fitriyah Nur Indah 77,5 Tuntas
9 R. Amran D.N 77,5 Tuntas
10 Retno Wahyuning Safitri 80 Tuntas
11 Rima Ma’ad Darma Wasita 82,5 Tuntas
12 Safrinda E.D 77,5 Tuntas
13 Tiara Maha Dian 70 Tuntas
14 Achmad Khoiru Atho’illah 72,5 Tuntas
15 Adam Abdillah Akbar 70 Tuntas
16 Aden Febrian N 75 Tuntas
17 Aisyah Fitriani 75 Tuntas
18 Alvandha Adindra 70 Tuntas
19 Andikha Trisna Putra 70 Tuntas
20 Annisa Dwi Rahmawati 82,5 Tuntas
21 Arif Budhi C 75 Tuntas
22 Arum Yunita Puspita Sari 82,5 Tuntas
23

Dinar Nur Hayati

87,5 Tuntas
24 Eka Pusputa Ayu Sholihah

70

Tuntas
25 Elfira P 72,5 Tuntas
26 Fitri Wiranda 90 Tuntas
Jumlah 2.000
Rata-rata 76,9
Hasil Belajar Klasikal

100% (Tuntas)

Catatan lapangan merupakan hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer selama kegiatan pembelajaran pada siklus II berlangsung. Berikut merupakan hasil catatan lapangan pada kegiatan pembelajaran siklus II.

  1. Pada saat siswa maju ke depan kelas untuk menjelaskan menggunakan tayangan powerpoint, terlihat siswa lainnya antusias untuk mendengarkan siswa yang presentasi, sehingga ketika diskusi berlangsung banyak siswa yang aktif untuk bertanya dan juga membantu untuk menjawab.
  2. Dengan adanya tugas dalam bentuk powerpoint, dapat meningkatkan kreatifitas siswa dalam membuat tayangan yang menarik, sehingga siswa yang mendengarkan penjelasan siswa yang tampil makin tertarik untuk memperhatikan.
  3. Siswa yang aktif untuk menjelaskan tugas ke depan kelas mengalami peningkatan. Apabila pada siklus I hanya beberapa siswa saja, pada siklus II mengalami peningkatan. Peningkatan itu terjadi pada siswa yaitu Nur Kholis, Annisa, Safrinda, Alvandha, Kezia, Khalimatus Sa’diya, Arif Budhi, Fitri Wiranda, Arum, Dinar, Adam, dan Aden.
  4. Ketika kegiatan diskusi berlangsung, kebanyakan siswa aktif untuk bertanya maupun menjawab. Pada siklus II ini siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan diskusi.
  5. Dengan adanya tugas yang diberikan guru, siswa terbantu untuk memahami materi.

Dari hasil observasi yang dilakukan pada siklus II diperoleh informasi mengenai kekurangan dan kelebihan dari guru selama melaksanakan pembelajaran pada siklus II. Data hasil kegiatan refleksi selama kegiatan pembelajaran siklus II adalah sebagai berikut: kelebihan pelaksanaan siklus II:

  • Dengan adanya tugas dalam bentuk tayangan powerpoint, siswa lebih tertarik untuk memperhatikan kegiatan presentasi tugas.
  • Keaktifan siswa makin bertambah dengan adanya tugas dalam bentuk tayangan Siswa yang pada siklus I terkesan pasif menjadi berani untuk berpendapat contohnya Arif, Aden, Khalimatus, dan lain sebagainya.
  • Kegiatan diskusi materi semakin hidup karena pada siklus II ini banyak siswa yang bertanya ke sesama siswa maupun menjawab. Guru hanya memimpin jalannya diskusi dan memberi penguatan pada siswa
  • Pada kegiatan pembelajaran, guru hanya memberi penguatan materi dan memimpin jalannya diskusi. Pada saat kegiatan diskusi lebih banyak peran siswa yang aktif daripada guru.
  • Semua siswa dapat mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan.

Sedangkan kekurangan pelaksanaan siklus II sebagai berikut:

  • Pembagian waktu guru perlu ditingkatkan, karena kebanyakan waktu untuk diskusi presentasi tugas sehingga ketika diskusi soal latihan waktunya berkurang.
  • Guru lebih banyak menjelaskan materi menggunakan powerpoint dan kurang memanfaatkan papan tulis
  • Suara guru kurang keras sehingga sebagian siswa yang duduk dibelakang kurang mendengar suara guru.

PEMBAHASAN

Pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode pemberian tugas. Metode ini diterapkan dengan tujuan ini yaitu untuk mengetahui bagaimanakah penerapan metode pemberian tugas IPA dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas VI pada Sekolah Dasar Negeri Kalipetung. Selain itu membantu siswa untuk memahami materi sehingga siswa dapat mmemahami materi yang dipelajari di sekolah. Penerapan metode pemberian tugas ini, setiap akhir pertemuan siswa akan diberikan tugas. Tugas yang diberikan bersifat individu, artinya siswa mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru secara individu. Siswa menjawab soal yang diberikan pada selembar kertas. Kemudian tugas yang telah dikerjakan akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Kegiatan diskusi tugas dilaksanakan sebelum materi dilanjutkan. Penerapan metode pemberian tugas ini, setiap akhir pertemuan siswa akan diberikan tugas individu. Tugas yang telah dikerjakan akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Kegiatan diskusi tugas dilaksanakan sebelum materi dilanjutkan.

Dengan adanya tugas dari guru, siswa mendapatkan pemahaman tambahan mengenai materi yang diberikan. Menurut Wangid (2011), siswa yang mendapat tugas pekerjaan rumah berarti dirinya harus membaca lebih awal sebelum dirinya mengikuti pelajaran di kelas. Dari itu, pekerjaan rumah mempersiapkan siswa untuk berpartisipasi di kelas secara bermakna, sehingga memungkinkan siswa untuk dapat berpartisipasi secara aktif. Keaktifan didorong kesiapan psikologis yang lebih awal ketika mengikuti pelajaran di kelas. Kondisi siswa yang demikian sangat bagus untuk terselenggarakannya pembelajaran di kelas. Ketika mereka menyelesaikan pekerjaan rumah, mereka berarti telah menanam modal dan bertanggung jawab terhadap kegiatan belajar mereka,

Permasalahan yang nampak pada siklus I adalah siswa masih belum berani untuk maju mempresentasikan tugas ke depan kelas. Namun pada pembelajaran siklus II, siswa mulai berani untuk maju ke depan kelas mempresentasikan tugas yang telah dikerjakan. Pada siklus I, siswa yang pasif enggan maju ke depan kelas untuk mempresentasikan tugasnya, namun pada siklus II siswa yang pasif mulai berani untuk maju ke depan kelas. Selain itu juga siswa yang pasif mulai berani untuk aktif dalam kegiatan diskusi.

Dengan demikian, siswa nampak antusias untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Menurut Wangid (2011) pekerjaan rumah dapat digunakan sebagai penggerak agar siswa berlatih untuk dapat menuntaskan tugas akademisnya dan sekaligus mempersiapkan siswa untuk mengikuti atau melanjutkan pelajaran selanjutnya. Dengan menerapkan metode pemberian tugas membat siswa lebih siap menghadapi kegiatan pembelajaran di sekolah.

Tugas yang diberikan pada siklus II tidak hanya berbentuk tulisan saja, tetapi juga dalam bentuk powerpoint. Dengan adanya tambahan tugas dalam bentuk powerpoint, siswa yang lainnya dapat memperhatikan siswa yang persentasi. Selain siswa lebih fokus dalam belajar juga dapat membuat situasi kelas menjadi kondusif karena semua siswa fokus kepada persentasi. Menurut Kusumah (2012) metode pemberian tugas banyak memberikan manfaat bagi para siswa, karena pada dasarnya pemberian tugas menuntut kreativitas dan aktivitas mereka.

 Penerapan metode pemberian tugas dapat meningkatkan perilaku belajar siswa. Siswa menjadi lebih siap dalam menghadapi kegiatan pembelajaran di sekolah. Selain itu penerapakan metode pemberian tugas, siswa dapat memahami materi yang diberikan oleh guru.

Setiap akhir sikus dilaksanakan tes tulis. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran yang dilakasanakan oleh guru dapat berjalan dengan baik atau tidak. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) matapelajaran IPA pada Sekolah Dasar Negeri Kalipetungadalah 70,8. Dari hasil tes yang dilakukan pada akhir siklus I semua siswa VI dapat mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan. Ketuntasan klasikal yang ditetapkan di Sekolah Dasar Negeri Kalipetung adalah ≥ 84,3 % dari jumlah seluruh siswa yang mencapai KKM. Pada siklus I siswa yang mencapai KKM adalah 26 siswa. Apabila dipresentasikan yaitu sebesar 100%. berdasarkan hasil ini dapat dikatakan bahwa secara klasikal hasil belajar siswa telah tuntas.

Pada tes akhir yang dilakukan pada siklus II, semua siswa rata-rata mendapatkan nilai diatas nilai KKM yang telah ditentukan. pada siklus I, rata-rata hasil belajar siswa yaitu 70,8 dan pada siklus II meningkat menjadi 76,9. Peningkatan nilai terjadi dari siklus I hingga siklus II dapat dikatakan baik. Dengan menggunakan metode pemberian tugas, siswa dapat belajar lebih mendalam karena siswa dapat mengulang materi dan mempelajari materi yang akan diajarkan di sekolah. Dengan demikian dapat dikatakan penerapan metode pemberian tuga pada siswa dapat mengubah perilaku belajar sswa, sehingga siswa mendapatkan hasil belajar yang baik.

Pemberian tugas memungkinkan siswa mengulang kembali kagiatan belajaranya. Kegiatan mengulang belajar (review) memberikan manfaat yang cukup banyak diantaranya bahan pelajaran yang semula belum dikuasai secara maksimal dan mungkin pula akan mudah terlupakan, akan tertanam dalam otak siswa secara relatif lebih lama (Kusumah, 2012). Perubahan perilaku akibat kegiatan belajar mengakibatkan siswa memiliki penguasaan terhadap materi pengajaran yang disampaikan dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran (Purwanto, 2013). Penerapan metode pemberian tugas yang dilakukan oleh guru dapat mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik. Tentunya perubahan perilaku dalam hal belajar yang dapat meningkatkan hasil belajar. Pada penerapan metode yang telah dilakukan, siswa mendapatkan hasil positif yaitu perubahan perilaku sehingga mendapatkan hasil belajar yang cukup baik.

 

SIMPULAN

Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah metode pemberian dapat diterapkan di Sekolah Dasar Negeri Kalipetungdengan keterlaksanaan pembelajaran 92,15 %. Selain itu penerapan metode pemberian tugas dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar pada siklus I yaitu 70,8 dan siklus II meningkat menjadi 76,9.

 

DAFTAR RUJUKAN

Kusumah, Wijaya. 2012. Metode Pemberian Tugas (Online) (http://wijayalabs.wordpress.com/2012/02/28/metode-pemberian-tugas/), dikases 3 April 2012.

Maulina. 2011. Metode Resitasi (Online) (http://naturelovers-biomuli.blogspot.com/2001/03/metode-resitasi.html), diakses tanggal 3 April 2012

Purwanto. 2013. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Safira, Joe. 2012. Metode Pemberian Tugas Belajar dan Resitasi (Online) (http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/metode-pemberian-tugas-dan-resitasi.html), diakses 3 April 2012

Susilo, Herawati., Chotimah, Husnul., Dwitasari, Yuyun. 2011. Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Sarana Pengembangan Keprofesionalan Guru dan Calon Guru. Malang: Bayumedia.

Wangid, Muhammad Nur. 2011. Pekerjaan Rumah Sebagai Pemberdayaan Pendidikan,(Online),(http://eprints.uny.ac.id/563/1/PEKERJAAN_RUMAH_SEBAGAI_PEMBERDAYAAN_PENDIDIKAN.pdf), diakses tanggal 16 Mei 2013




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *