kustini sd negeri cilacap

PTK SD Kelas V Metode Bermain Peran Mata Pelajaran IPA

PENERAPAN METODE BERMAIN PERAN SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH PADA MANUSIA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI KARANGJENGKOL 04 TAHUN PELAJARAN 2015/ 2016
Oleh : Kustini*)

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk ”Meningkatkan hasil belajar IPA materi sistim peredaran darah pada manusia bagi siswa kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 Tahun Pelajaran 2015/ 2016. Data tentang minat belajar siswa pada kondisi awal siswa yang tergolong minat dan sangat berminat adalah 10 siswa dari 37 siswa (27,02%).pada siklus I siwa yang berminat dan sangat berminat ada 26 siswa dari 37 siswa atau 72,7%, dan pada siklus II siswa yang berminat dan sangat berminat ada 35 siswa dari 73 siswa atau 94,60%. Sementara itu peningkatan hasil belajar siswa kelas V dalam pelajaran IPA materi sistim peredaran darah pada manusia pada kondisi awal jumlah siswa 37 tuntas belajar 7 siswa (18%) tidak tuntas 30 siswa (82% ) dengan rata rata kelas 60,40 siklus 1 yang tuntas belajar 23 siswa (62,16%) yang tidak tuntas 14 siswa (37,83%) dengan rata –rata kelas 73,08 dan siklus 2 siswa yang tuntas belajar menjadi 35 siswa (94,60%) yang tidak tuntas 2 (5,40 %) dengan rata –rata kelas 82,72 Simpulan dari penelitian ini adalah terjadi peningkatan hasil belajar tiap siklusnya.

Kata kunci : minat, hasil belajar, metode bermain peran

PENDAHULUAN

Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup.Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Tujuan proses belajar mengajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dapat dikuasai sepenuhnya oleh peserta didik.Pembelajaran IPA atau Sains di sekolah dasar sangat ditentukan oleh berbagai hal antara lain, kemampuangurudalam melaksanakan proses pembelajaran,sarana dan prasarana, dan juga kemampuan peserta didik itu sendiri dalam menerima dan menelaah materi pelajaran.
Kenyataan itu juga dihadapi oleh peneliti dalam mengajar IPA kelas V di SD Negeri Karangjengkol 04, Kesugihan banyak menjumpai peserta didik yang tidak mampu menjawab soal-soal yang diberikan secara benar terutama untuk materi alat peredaran darah pada manusia.. Hal ini membuat pembelajaran tidak efektif, karena peserta didik kurang merespon terhadap pelajaran yang disampaikan sehingga cenderung kurang berminat dalam mempelajari materi tersebut dan mudah bosan , dan hal itu menyebabkan hasil evaluasi masih kurang memuaskan. Dilihat dari hasil rata-rata tes kemampuan awal yang dilakukan ternyata hasilnya masih dibawah KKM sebesar 68,00. Persentase peserta didik yang tuntas hanya 8,40 % dari 37 peserta didik dengan kata lain hanya 11 anak yang mendapatkan nilai lebih dari 70 sedangkan yang 26 (70,27%) masih di bawah KKM. Padahal materi ini sangat penting untuk dipelajari peserta didik karena sesuai dengan keputusan Kemdiknas untuk IPA siswa harus bisa mencapai SKL yang sudah ditentukan. Untuk sekolah tempat peneliti mengajar SKL untuk IPA tahun ini adalah 5
.Untuk menarik minat peserta didik agar menyukai belajar IPA ditempuh dengan mengajak peserta didik bermain peran tentang alat peredaran darah manusia dengan kata lain dapat menggunakan metode bermain peran dan diharapkan peserta didik dapat mengapresiasikan hasil diskusinya dalam mengerjakan tes yang diberikan guru.karena dalam bermain peran, siswa bisa bertidak seolah-olah sebagai darah yang mengalir di tubuh,
Melalui bermain peran, para peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah. Sebagai suatu metode pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan sosial. Dari dimensi pribadi metode ini berusaha membantu para peserta didik menemukan makna dari lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya. Dalam pada itu, melalui metode ini peserta didik diajak untuk belajar memecahkan masalah-masalah pribadi yang sedang dihadapinya.

Identifikasi Masalah.

Dari sekilas latar belakang di atas, ,maka permasalahan yang dapat peneliti kemukakan dalam penelitian ini yaitu pembelajaran IPA masih cenderung konvensional, di mana pembelajarannya masih didominasi dengan model pembelajaran ceramah. Siswa hanya dijadikan sebagai objek pembelajaran yang terkekang kreativitasnya.

Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini masalah yang diteliti adalah tentang kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA dengan metode bermain peran khususnya untuk meningkatkan hasil belajar materi sistim peredaran darah pada manusia di kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap semester genap tahun pelajaran 2015/2016.

Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah tersebut diatas, diajukan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah proses pembelajaran denganpenerapan metode bermain peran untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi sistim peredaran darah pada manusia bagi siswa kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 tahun pelajaran 2015/ 2016?
2. Seberapa besar peningkatan hasil belajar IPA materi sistim peredaran darah pada manusia setelah dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan metode bermain peran bagi siswa kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 tahun pelajaran 2015/ 2016?
3. Bagaimanakahperubahan perilaku yang hasil belajar IPA materi sistim peredaran darah pada manusiasetelah dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan metode bermain peran bagi siswa kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 tahun pelajaran 2015/ 2016?

Tujuan Penelitian

Tujuan penulis mengadakan penelitian adalah:
1. Mendeskripsikan proses pembelajaran dengan penerapan metode bermain peran dalam pembelajaran IPA materi sistim peredaran darah pada manusia dapat meningkatkan minat dan hasil belajar bagi siswa kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 tahun pelajaran 2015/2016.
2. Mendeskripsikan peningkatan minat dan hasil belajar IPA materi sistim peredaran darah pada manusia setelah dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan metode bermain peran bagi siswa kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 tahun pelajaran 2015/2016.
3. Mendeskripsikan perubahan perilaku yang menyertai minat dan hasil belajar IPA materi sistim peredaran darah pada manusia setelah dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan metode bermain peran bagi siswa kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 tahun pelajaran 2015/ 2016.

KAJIAN TEORI.

Hakikat Minat.

Mursell dalam bukunya Succesfull Teaching (dalam Uzer, M.Usman, 2005:29), memberikan suatu klasifikasi yang berguna bagi guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa.Ia mengemukakan 22 macam minat yang diantaranya ialah bahwa anak memiliki minat terhadap belajar. Dengan demikian, pada hakekatnya setiap anak berminat terhadap belajar, dan guru sendiri hendaknya berusaha membangkitkan minat terhadap belajar.
Pengertian minat banyak dikemukaan oleh para ahli, diantaranya oleh Djaali (2009: 121 – 122) bahwa minat yang telah disadari terhadap bidang pelajaran, akan membawa pikiran siswa, sehingga dia bisa menguasai pelajarannya. Pada gilirannya , prestasi yang berhasil akan menambah minatnya.

Hakikat Hasil Belajar.

Hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakanya pembelajaran disekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistimatis mengarah pada perubahan yang positif yang kemudian disebut dengan proses belajar. Akhir dari proses belajar adalah perolehan suatu hasil belajar siswa. Semua hasil belajar tersebut merupakan hasil dari interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar (Dimyati dan Mujiono, 2009 : 3)
Hasil belajar adalah perubahan prilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi/kemampuan saja, tidak secara fragmentasi (terpisah )melainkan komperhensi.( Suprijono, 2010 : 5)
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang harus dicapai oleh pembelajar setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik (Tri Anni, 2006: 5).

Hakikat Pembelajaran.

Pelaksanaan pembelajaran merupakan proses inti dari pendidikan secara berurutan dengan guru sebagai pemegang peranan yang utama. Peristiwa pembelajaran banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep, oleh karena itu, perwujudan pembelajaran dapat terjadi dalam berbagai model. Menurut Moh, User Usman (1995 : 4)

Pengertian Metode

Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sedangkan istilah metode adalah jalan atau cara yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja untuk memudahkan pelaksanaan guna mencapai apa yang telah ditentukan. Metode pembelajaran yang digunakan guru hampir tidak ada yang sia-sia, karena metode yang digunakan tersebut akan mendatangkan hasil dalam waktu dekat atau dalam waktu yang relatif lama.

Pengertian Metode Pembelajaran Bermain Peran

Metode Bermain peran adalah metode pembelajaran dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial, sedangkan bermain peran menekankan kenyataan dimana anak didik diikutsertakan dalam permainan peran didalam mendemonstrasikan masalah-masalah social (Ahmadi, 2005: 65)
Dalam metode Bermain peran dan bermain peran, anak didik bisa memerankan tingkah laku tokoh secara bebas sesuai dengan imajinasi mereka, selain itu mereka akan lebih menghayati pelajaran yang diberikan. Unsur yang menonjol dari metode Bermain peran dan bermain peran adalah unsur hubungan kemasyarakatan, seperti berperan sebagai pahlawan, petani, dokter, guru, dan sebagainya (Budiyanto, 2012: 119)
Sudjana (2002 : 84) juga menjelaskan beberapa tujuan yang diharapka dengan Bermain peran antara lain 1) agar seseorang dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, 2) dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab, 3) dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan, 4) merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran bermain peran (role playing ) adalah cara yang digunakan guru dalam proses pembelajaran dengan memberikan suatu topik/masalah yang dipecahkan oleh peserta didik dengan memainkan peran dalam hal ini terkait dengan pembelajaran
Berdasarkan skema kerangka berfikir, peneliti dapat menjelaskan kondisi pembelajaran sebelumnya pelajaran IPA materi sistim peredaran darah pada manusia kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 yang belum menggunakan metode bermain peran dan Pada kondisi demikian, minat dan hasil belajar siswa materi sistim peredaran darah pada manusia rendah yang dibuktikan dengan tingkat ketuntasan belajar siswa secara dominan belum tercapai. Setelah diadakan penyamaan persepsi tentang penggunaan metode pembelajaran bermain peran serta dikuatkan dengan guru demonstrasi tentang cara kerja jantung dengan alat peraga, penelitimelakukan tindakan perbaikan siklus pertama dengan menggunakan metode bermain peran dalam memahami cara kerja jantung dengan Pada siklus kedua,penelitimelaksanakan optimalisasi pembelajaran dengan metode bermain peran serta menggunakan alat peraga untuk menguatkan pemahaman siswa tentang materi dengan melaksanakan perbaikan pembelajaran secara terbimbing. Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui dua siklus, penulis menyusun dugaan sementara bahwa melalui metode bermain peran, minat dan hasil belajar siswa kelasV SD Negeri Karangjengkol 04dapat ditingkatkan.

Hipotesis Tindakan.

Dengan kerangka berpikir di atas disusunlah hipotesis tindakan sebagai berikut :Penerapan metode bermain peran pada materi sistim peredaran darah pada manusia dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Karangjengkol 04, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian.

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas

Prosedur PTK dalam perbaikan pembelajaran dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur. Menurut I.G.A.K. Wardhani, dkk (2007 : 24) pelaksanaanPenelitian Tindakan Kelas terdiri dari 4 tahap yaitu : merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observing) dan melakukan refleksi (reflecting).
Setting Penelitian.
Tempat , subyek dan Waktu Penelitian.
1. Nama Sekolah : SD Negeri Pajengkolah Kesugihan Cilacap
2. Kelas : V
3. Semester : II
4. Mata Pelajaran : IPA
5. Waktu Pelaksanaan : Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016
6. Waktu Pelaksanaan proposal dan pelaporan
Proposal PTK dilaksanakan, 2 s/d 9 jan 2016
Pelaporan, PTK dilaksanakan tanggal, 1 s/d 5 Maret 2016
Siklus pertama dilaksanakan Kamis, 6 dan 13 Februari 2016
Siklus kedua dilaksanakan Kamis, 20 dan 27 Februari 2016

Sumber Data Penelitian

Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Karangjengkol 04, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap pada tahun pelajaran 2015/2016
Jenis data yaitu berupa data kuantitatif dan kualitatif, yang berupa :

  • Data kuantitatif, yaitu hasil yang berbentuk nilai hasil tes formatif hasil observasi, check list dan kuisioner.
  • Data kualitatif, yaitu proses pembelajaran dan rekaman aktivitas siswa
Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa tes tertulis dan pedoman observasi, yaitu :

  • Pedoman observasi : untuk mengamati minat belajar siswa dalam proses pembelajaran.
  • Tes tertulis : untuk mengetahui hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA.
Uji Validitas Data.

Agar diperoleh data yang obyektif, sahih dan handal, maka peneliti menggunakan teknik triangulasi dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Menggunakan cara yang bervariasi untuk memperoleh data yang sama, misalnya untuk mengetahui seberapa aktivitas dalam pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi.
  • Triangulasi data yakni dengan membandingkan data antara hasil tes tertulis siklus ke satu dan ke dua.
  • Melakukan pengecekan ulang dari data yang telah terkumpul untuk kelengkapannya.
  • Melakukan pengolahan dan analisis ulang dari data yang terkumpul.
Teknik Analisis Data.

Teknik analisis data yang dipakai oleh peneliti adalah teknik análisisstatistik deskriptif, yaitu dalam menganalisis data melalui :

  • Data prestasi belajar dengan memberikan tes belajar siswa.
  • Data proses belajar mengajar pada saat dilaksanakan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
  • Data tentang refleksi serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas.
  • Data tentang keterkaitan anatara perencanaan dengan pelaksanaan yang didapat dan rencana pembelajaran dan lembar observasi.
Indikator Kinerja dan Kriteria Keberhasilan.

Kriteria untuk mengukur tingkat ketuntasan belajar siswa, melalui upaya perbaikan pembelajaran sebagai berikut :

  • Proses perbaikan pembelajaran (minat siswa untuk belajar) dinyatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa dapat menunjukkan 3 indikator tentang minat.
  • Proses perbaikan pembelajaran (peningkatan prestasi belajar siswa) dinyatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa tuntas dalam belajar.

Minat dapat diklasifikasikan ke dalam empat golongan, yaitu :

  • Sangat berminat, jika dalam pembelajaran dapat menampilkan 3 indikator yang ditetapkan.
  • Siswa memiliki minat, jika dalam pembelajaran hanya menampilkan 2 indikator yang ditetapkan.
  • Kurang berminat, jika dalam pembelajaran hanya menampilkan 1 indikator yang ditetapkan.
  • Tidak berminat, jika siswa sama sekali tidak menampilkan indikator yang ditetapkan.

Deskripsi Kondisi Awal.

  • Guru masih banyak menggunakan metode pembelajaran ceramah.
  • Siswa tampak tidak bersemangat saat proses pembelajaran IPA. Bosan dengan gaya guru mengajar
  • Nilai IPA siswa masih rendah.

Pada studi awal, siswa yang belum tuntas belajar sebanyak30 siswa dari 37 siswa (78 %) dengan nilai rata-rata 60,40 Yang tuntas belajar 7 anak dari 37 siswa 18%.

Tujuan Perbaikan Pembelajaran:

Melalui metode bermain peran dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran.

Rencana Tindakan
  1. Membuat rencana perbaikan
  2. Mempersiapkan lembar observasi dan wawancara
  3. Mempersiapkan pelaksanaan observasi
  4. Mempersiapkan lembar kerja siswa
  5.  Mempersiapkan lembar evaluasi untuk akhir tindakan siklus pertam

Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan Awal

  1. Mengucapkan salam dan menanyakan keadaan siswa
  2. Memotivasi dengan melakukan apersepsi.
  3. Meyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak di capai
  4. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai setelah pembelajaran selesai

Kegiatan Inti

  1. Guru menghantarkan siswa terhadap pembelajaran yang akan dipelajari yaitu peredaran darah manusiaSiswa mencari informasi tentang peredaran darah manusia yang ada di buku atau sumber lain
  2. Guru bersama siswa mengidentifikasi masalah, menjelaskan masalah, menafsirkan jalan cerita (pemeranan) serta menjelaskan peran yang akan dimainkan.
  3. Guru bersama siswa menentukan pemain peran untuk memerankan posisi tertentu.
  4. Para pemeran menyusun garis –garis besar peran yang akan dimainkan yaitu tentang proses peredaran darah manusia.
  5. Siswa bekerja bersama kelompoknya.
  6. Guru menyiapkan pengamat, dalam pelaksanaannya siswa yang tidak bermain peran sebagai pengamat.

Kegiatan Akhir

  • Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan
  • Siswa merefleksikan hasil belajar.
Pertemuan kedua (13 feb 2016)

Kegiatan awal.

  1. Guru mengecek kesiapan sumber belajar dan media yang akan digunakan dan siswa.
  2. Guru memotivasi siswa dengan melakukan apersepsi.
  3. Guru membagi siswa menjadi 7 kelompok heterogen, satu kelompok terdiri dari 4 siswa.

Kegiatan inti.

  1. Guru bersama siswa menyiapkan segala sesuatunya untuk bermain peran.
  2. Siswa bermain peran peredaran darah manusia, peredaran darah besar dan peredaran darah kecil.
  3. Pengamat mengamati jalannya bermain peran peredaran darah manusia, peredaran darah besar dan peredaran darah kecil.
  4. Siswa berganti posisi, pemain peran berganti menjadi pengamat dan pengamat menjadi pemain peran, sampai semua kelompok tampil bermain peran.
  5. Siswa mendiskusikan bersama kelompoknya.
  6. Guru membimbing siswa yang sedang berdiskusi
  7. Siswa mempresentasikan hasil diskusi.
  8. Siswa melaporkan hasil diskusi

Kegiatan akhir.
1. Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan
2. Siswa merefleksikan hasil belajar.

Observasi

Observasi yang dilakukan oleh peneliti dan observer pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk mencatat hal-hal penting sehingga diperoleh hasil observasi.

Refleksi
Pada perbaikan siklus kedua, dengan mengetahui kekurangan dan kelemahan siswa, maka guru akan meningkatkan optimalisasi penerapan metode bermain peran dan dan mengintensifkan pendampingan siswa dalam bermain peran guna meningkatkan keaktifan semua siswa dalam berdiskusi mengerjakan Lembar Kerja Siswa.
Tabel 4.2: Data Perolehan Nilai Tes Formatif Siklus 1
Uraian Keterangan Persentase
Keberhasilan
Jumlah Siswa 37
Jumlah Nilai keseluruhan 2704
Rata-rata Kelas 73,08
Nilai Tertinggi 85
Nilai Terrendah 60
Tuntas 23 62,16%
Tidak TUntas 14 37,84%

Dari data hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA yang diperoleh pada pembelajaran sebelumnya, siklus pertama dan siklus kedua dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut :
1. Siswa yang sudah tuntas belajar :

  • Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang tuntas belajar adalah 7 siswa dari 37 siswa atau 18%.
  • Pada siklus pertama siswa yang tuntas belajar adalah 25 siswa dari 37 siswa atau 67,56%.

2. Siswa yang belum tuntas belajar :

  • Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang belum tuntas belajar adalah 30 siswa dari 37 siswa atau 82%.
  • Pada siklus pertama siswa yang belum tuntas belajar adalah 12 siswa dari 37 siswa atau 32,43%.

Pada siklus pertama ini peneliti memberi pemahaman tentang konsep dasar fungsi darah bagi tubuh pada siswa dengan cara menunjukkan beberapa hal yang berkaitan dengan alat pemompa darah (jantung), Selanjutnya beberapa siswa yang belum tuntas belajar diminta untuk melakukan hal yang sama. Agar pembelajaran lebih bermakna peneliti melakukan sampel yang sama kepada siswa yang sudah tuntas belajar. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan contoh sekaligus memberikan motivasi kepada siswa yang belum tuntas belajar.Sebagian siswa masih belum berminat dalam mengikuti pembelajaran, hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa yang tidak mau bertanya tentang hal-hal yang belum jelas, tidak aktif dalam bekerja dan perhatian siswa negatif.
Berdasarkan hasil persentase tes formatif dapat dilihat data kenaikan atau kemajuan dalam belajar sebagai berikut :
a. Pada pembelajaran sebelumnya, siswa yang tuntas belajar 7 siswa dari 37 siswa (18%)
b. Pada siklus I, siswa yang tuntas belajar 25 siswa dari 37 siswa (67,56%).
Deskripsi Siklus II.
Siklus Kedua
Rencana Tindakan
Rencana tindakan pada perbaikan pembelajaran melalui PTK ini dinilai sesuai dengan perencanaan yang disiapkan oleh peneliti dan observer. Rencana tindakan pada PTK ini, peneliti jelaskan sebagai berikut :
1. Penyusunan lembar observasi yang akan dilaksanakan pada siklus kedua.
2. Penyusunan rencana perbaikan pembelajaran dilaksanakan bersamaan dengan pembuatan lembar kerja dan lembar evaluasi.
Pelaksanaan Tindakan
Pada pelaksanaan tindakan melalui dua siklus perbaikan pembelajaran, peneliti melaksanakan tindakan perbaikan yang telah direncanakan baik pada pelaksanaan siklus pertama maupun siklus kedua. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan upaya pencapaian hasil penelitian yang sesuai dengan solusi perbaikan pembelajaran yang diharapkanmelalui penggunaan metode bermain peran dan dimodifikasi dengan penggunaan alat peraga dari guru Secara rinci serta bersama-sama (demonstrasi) cara kerja jantung dengan mengembangkan dan menguncupkan tangan dan berkata membeo bersama-sama cara kerjanya kemudian dipertegas dengan diskusi kelompok sera tindak lanjut, peneliti jelaskan data observasi minat belajar siswa pada siklus kedua sebagai berikut :
Pada siklus kedua ini peneliti memberi pemahaman tentang cara kerja jantung manusia dengan mempraktikkan ketika serambi mengembang dan menutup dengan menmbuka ke dua tangan serta menguncupkan tangan sambil berdemonstrasi secara individu dan dikuatkan dengan kartu bertuliskan O2 dan C02. Kemudian dipertegas lagi guru menmpilkan alat peraga sederhana dari botol aqua (gambar ada pada RPP) Selanjutnya beberapa siswa yang belum tuntas belajar diminta untuk melakukan hal yang sama. Agar pembelajaran lebih bermakna peneliti melakukan sampel yang sama kepada siswa yang sudah tuntas belajar. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan contoh sekaligus memberikan motivasi kepada siswa yang belum tuntas belajar.Sebagian siswa sudah berminat dalam mengikuti pembelajaran, hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa yang mau bertanya tentang hal-hal yang belum jelas, aktif dalam bekerja dan perhatian siswa positif.
Dengan kegiatan yang dilakukan melalui menerapkan metode bermain peran dan penggunaan alat peraga hasil yang diperoleh pada siklus kedua, siswa yang tuntas belajar sebanyak 35 siswa dari 37 siswa (94,60%).
Observasi
Hasil observasi tentang kegiatan guru menunjukkan bahwa :
1. Guru sudahmenerapkan metode bermain peran, dan sudah maksimal.
2. Guru sudah membimbing siswa pada saat siswa bekerja dalam kelompok.
Minat belajar siswa dalam proses pembelajaran sudah mulai meningkat, hal ini ditunjukkan dari meningkatnya persentase minat belajar siswa dari 70,27% pada siklus pertama menjadi 94,60% pada siklus kedua.
Refleksi
Siswa yang memiliki minat dalam mengikuti pembelajaran sudah memenuhi indikator keberhasilan. Begitu pula tentang hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari 25 siswa (67,56%) menjadi 35 siswa (94.60%).

Pembahasan dari Setiap Siklus.

Siklus Pertama

Dalam dua siklus perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode bermain peran, peneliti memperoleh hasil penelitian berdasarkan data yang diperoleh melalui tes formatif pada perbaikan pembelajaran maupun hasil observasi yang dilakukan observer. Pada siklus pertama, kegiatan perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan minat belajar dari kegiatan pembelajaran sebelumnya sampai siklus pertama sebesar 18%%, dan peningkatan hasil belajar dari pembelajaran sebelumnya sampai siklus pertama sebesar 37,83%.

Siklus Kedua

Pada siklus kedua,kegiatan perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan minat belajar dari kegiatan siklus pertama sampai siklus kedua sebesar 51,36%, dan peningkatan hasil belajar dari siklus pertama sampai siklus kedua sebesar 32,44%. Hal tersebut terjadi karena peneliti melakukan solusi perbaikan pembelajaran

  • Pada siklus 1I, siswa yang tuntas belajar sebanyak 35 siswa, dari 37 siswa (94,60 %) dengan nilai rata-rata 82,72
  • Pada siklus 1I siswa yang belum tuntas sebanyak 2 siswa, dari 37 siswa (5,40%).
Data Minat Belajar Siswa.

Berikut ini peneliti sajikan hasil pengolahan data berupa intrumen dari data minat belajar siswa pembelajaran sebelumnya, siklus pertama dan siklus kedua.
1. Siswa yang tergolong minat dan sangat berminat dalam pembelajaran yaitu

  • Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang tergolong minat dan sangat berminat adalah 10 siswa dari 37 siswa atau 27,02%.
  • Pada siklus pertama siswa yang tergolong minat dan sangat berminat adalah 26 siswa dari 37 siswa atau 72,72%.
  • Pada siklus kedua siswa yang tergolong minat dan sangat berminat adalah 35 siswa dari 37 siswa atau 94,59%.

Tabel 4.10: Rekapitulasi Minat Belajar Siswa Tiap Siklus.
No Kegiatan Pembelajaran Siswa yang minat Siswa yang berlum minat
Frekuensi % Frekuensi %
1 Pembelajaran sebelumnya 10 27,02 27 72,97
2 Siklus I 26 72,72 19 51,35
3 Siklus II 35 94,60 2 5,40

Berdasarkan hasil persentase tes formatif dapat dilihat data kenaikan atau kemajuan dalam belajar sebagai berikut :

  • Pada pembelajaran sebelumnya, siswa yang tergolong berminat dan sangat berminat sebanyak 10 siswa dari 37 siswa (27,02%)
  • Pada siklus I, siswa yang tergolong berminatdan sangat berminat sebanyak 26 siswa dari 37 siswa (72,72%)
  • Pada siklus II,siswa yang tergolong berminatdan sangat berminat sebanyak 35 siswa dari 37 siswa (5,40%)

Berikut ini grafik peningkatan ketuntasan belajar siswa dari pembelajaran sebelumnya sampai siklus kedua :

grafik pembelajaran Ipa kelas v

Gambar 4.2 Grafik Persentase Minat Belajar Siswa Tiap Siklus

Dari diagram di atas dapat terlihat dengan jelas kemajuan minat belajar siswa semakin meningkat. Dengan melihat kenaikan yang dicapai oleh siswa pada setiap langkah perbaikan berarti usaha peneliti cukup berhasil dan cukup signifikan.

Simpulan

  • Proses penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan minat dan hasil belajar IPA materi sistim peredaran darah pada manusia di kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2015/2016
  • Minat dan hasil belajar IPA materi” sistim peredaran darah pada manusia” , mengalami peningkatan setelah dilaksanakan penerapan metode bermain peran di kelas V SD Negeri Karangjengkol 04 tahun pelajaran 2015/2016
  • Dengan penerapan metode bermain peran pada materi “ sistim peredaran darah pada manusia” kelas V SD Negeri Karangjengkol 04, Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2015/2016,terjadi perubahan tingkah laku yang siknifikan, dibuktikan dengan persentase minat dan hasil belajar yang meningkat disetiap siklusnya.

Implikasi/Rekomendasi.

  • Penelitian Tindakan kelas dengan judul upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas V dalam materi “ sistim peredaran darah pada manusia” dengan penerapan metode bermain peran ternyata berdampak positif. Guru semakin ingin berkreasi dalam pembelajaran.

saran

Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah sebagai
berikut:

  • Bagi Guru
    Dengan menerapkan metode pembelajara bermain peran akan menarik siswa dan ingatan untuk betul betul memahami dalam pembelajaran IPA khususnya pada materi-materi yang tidak bisa dilaksanakan dengan metode eksperimen, inquiri,namun bisa dilaksanakan dengan metodebermain peran, sehingga mengurangi metode ceramah.
  • Bagi Siswa
    Dengan penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Anni Tri, Chatarina. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: UNNES PRESS.

Djaali. 2009. Psykologi Pendidikan Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Dimyati dan Mudjioni, 2002 Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Hizyam Zaeni dkk.Strategi Pembelajaran Aktif ( Yogyakarta: Pustaka Insan Madani 2009

Kementrian Pendiddikan dan Kebudayaan Model Pembelajaran Discovery Learning (2013)

Mikarsa, H.L.; Taufik, A.; Prianto, P.L. 2007 Pendidikan Anak di SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

Moh User Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Jakarta.

Sudjana. 2001. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah Production.

Suprijono.Agus 2010 Cooperatif Learning.Jogjakarta Pustaka Pelajar.

Demikianlah Artikel PTK Tentang PTK SD Kelas V Metode Bermain Peran Mata Pelajaran IPA.

Biodata :

Nama : Kustini, S.Pd
Unit Kerja : Kepala Sekolah SDN. Karangjengkol 04 Kecamatan Kesugihan Cilacap




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *