PTK SD Kelas VI : Model Bermain Peran Dalam Pelajaran PKn

Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Menghargai Nilai-Nilai Juang Dalam Proses Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara Melalui Model Pembelajaran Bermain Peran Bagi Siswa Kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman Pada  Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017

 

Oleh : Erlan Agustanto, S.Pd.

 

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini secara khusus bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar PKn bagi siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman pada semester I tahun pelajaran 2016/2017, yang berjumlah 33 siswa terdiri dari 20 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknik tes. Sesuai dengan materi pelajarannya yaitu Menghargai Nilai-Nilai Juang Dalam Proses Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara, maka tes yang dilaksanakan adalah tes tertulis. Hasilpenelitian dari rata-rata nilai pada kondisi awal yang hanya 63,81 dapat ditingkatkan menjadi 68,33 di akhir siklus I dan menjadi 76,51 di akhir siklus II. Kesimpulan berdasarkan data empirik sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teori yaitu “ melalui penggunaan model pembelajaran Bermain Peran dapat meningkatkan hasil belajar PKn Menghargai Nilai-Nilai Juang Dalam Proses Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara  bagi siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman pada semester I tahun pelajaran 2016/2017.

Kata kunci : hasil belajar PKn, model pembelajaran Bermain Peran.

 

PENDAHULUAN

Materi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  sangat luas dan mendalam, terutam mulai kelas tinggi di tingkatan sekolah dasar sehingga guru maupun siswa harus benar-benar menguasai materi agar pembelajaran maupun hasil belajar memuaskan. Apalagi materi PKn kelas VI  di mana materi pada pelajaran ini bisa dikatakan mirip dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Sehingga guru harus benar –benar bisa membedakan cara pembelajaran IPS dengan PKn agar siswa dapat  memahami materi dengan benar. Pemahaman yang kurang akan membawa dampak pada perolehan nilai yang belum memuaskan hal ini terlihat dari hasil nilai ulangan di bulan pertama pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 ini. Nilai rata-rata  yang mereka peroleh hanya  63,81 ( enam puluh tiga koma delapan puluh satu ).

Di sisi lain, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) telah ditentukan bahwa kriteria ketuntasan minimal (KKM )untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah 70 ( tujuh puluh  ). Artinya bahwa siswa dapat dinyatakan tuntas dalam mempelajarai suatu materi pelajaran manakala mereka dapat mencapai nilai minimal 70. Guru mata pelajaran PKn telah mempertimbangkan berbagai hal sehingga tidak mentargetkan pencapaian KKM lebih tinggi dari 70. KKM ini sebagai  prasyarat siswa dapat melanjutkan materi pelajaran berikutnya, sebab materi pelajaran yang ditargetkan dalam kurikulum merupakan satu rangkaian. Siswa akan mudah mempelajari suatu materi pelajaran apabila telah memahami materi pelajaran sebelumnya.  Kita mengetahui bahwa semakin tinggi tingkatan kelas, maka semakin tinggi pula tingkat kesulitan materi pelajarannya. Itulah dasar mengapa dalam KTSP ditentukan pula KKM masing-masing mata pelajaran.

Dengan mencermati uraian di atas maka jelaslah terlihat adanya kesenjangan antara kenyataan yang ada dengan harapan yang diinginkan. Kenyataan yang ada menunjukkan masih rendahnya hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman khususnya untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti hanya akan meneliti rendahnya hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dilihat dari belum optimalnya penerapan model pembelajaran, peneliti hanya menggunakan model pembelajaran yang berkaitan dengan materi Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara. Lebih khusus lagi adalah model pembelajaran untuk menjelaskan materi Perlawanan rakyat di berbagai wilayah, Kebangkitan Nasional, Organisasi memperjuangkan kemerdekaan,  dan rumusan Pancasila. Materi pelajaran tersebut dalam silabus merupakan standar kompetensi nomor 1, yaitu “Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara “. Sedangkan model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran bermain peran/sosiodrama. Maka dibuatlah perumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut : “ Apakah penggunaan model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara bagi siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman pada semester I tahun pelajaran 2016/2017?”

KAJIAN TEORI

Hasil Belajar PKn

  1. Belajar

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. ( Slameto, 2003 : 2 ). Perumusan belajar dari (W.S. Winkel,1996 : 53 )  Belajar merupakan suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap, perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.

  1. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegiatan pembelajaran di sekolah. Hasil belajar siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Semua hasil belajar tersebut merupakan hasil interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.Dari sisi guru, tindak mengajar di akhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar ( Damyati dan Mudjiono, 2009 : 22 ). Menurut  (Wahidmurni dkk, 2010 : 18 ) menjelaskan bahwa seseorang dapat dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukkan adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan tersebut diantaranya dari segi kemampuan berpikirnya, ketrampilannya, atau sikapnya terhadap suatu objek.

  1. Hasil Belajar PKn

Yang dimaksud dengan hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang

dicapai peserta didik dalam mata pelajaran PKn setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar mata pelajaran PKn dalam kurun waktu tertentu dan program tertentu. Kurun waktu yang digunakan untuk penelitian tindakan kelas ini adalah satu bulan sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan yang masing-masing siklus dilaksanakan selama dua minggu. Tindakan- tindakan dalam siklus tersebut dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/2017. Sedangkan program yang dilaksanakan adalah pembelajaran tentang Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara Program pembelajaran  tersebut  meliputi menjelaskan proses perumusan dasar negara, menjelaskan berdirinya berbagai organisasi sosial politik, menyebutkan tokoh yang berperan dalam perumusan dasar negara dan meneladani nilai-nilai Pancasila. Pembelajaran siklus I adalah tentang menjelaskan proses perumusan dasar negara, menjelaskan berdirinya berbagai organisasi sosial politik. Materi pelajaran siklus II adalah menyebutkan tokoh yang berperan dalam perumusan dasar negara dan meneladani nilai-nilai Pancasila

  1. Model Pembelajaran Bermain Peran

ModelpembelajaranBermain Peranadalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan itu dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Model ini banyak melibatkan siswa dan membuat siswa senang belajar serta metode ini mempunyai nilai tambah, yaitu : a) dapat menjamin partisipasi seluruh siswa dan memberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuannya dalam bekerjasama hingga berhasil dan b) permainan merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa ( Prasetyo, 2001 : 72 ). Menurut Mulyasa ( 2005 : 43 ) pembelajaran dengan bermain peran ada tujuh tahap yaitu pemilihan masalah, pemilihan peran, menyusun tahap-tahap bermain peran, menyiapkan pengamat, tahap pemeranan, diskusi dan evaluasi serta pengambilan keputusan. Bermain peran disebut juga metode sosiodrama. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku alam hubungannya dengan masalah sosial ( Djamarah dan Zain, 2002 : 56 ).

 Model pembelajaran bermain peran dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi mendeskripsikan  nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dan menjelaskan secara singkat nilai kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.

KERANGKA BERPIKIR

Pengajuan Hipotesis

          Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka dalam penelitian tindakan kelas ini diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut: “Melalui penggunaan model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar PKn Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara bagi siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester I Tahun Pelajaran 2016/2017“.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Subjek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VI  SD Negeri 3 Kutaliman Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas  pada semester I tahun pelajaran 2016/2017. Siswa kelas VI tahun pelajaran 2016/2017 adalah 33 siswa, terdiri dari 20  siswa perempuan dan 13  siswa laki-laki.

Dalam Penelitian Tindakan Kelas terdapat 2 sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah data yang bersumber dari subjek penelitian. Dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai sumber data primer adalah siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester I tahun pelajaran 2016/2017. Sumber data sekuner adalah data yang bersumber selain data primer, misalnya guru kelas lain dalam sekolah tersebut yang diajak bekerja sama dalam penelitian tindakan kelas, data tentang pekerjaan orang tua,  dan lain- lain.

Penelitian tindakan kelas ini hanya menggunakan sumber data primer yang beruapa nilai hasil belajar. Ada tiga macam nilai yang diambil dari subjek penelitian ini, yaitu nilai kondisi awal, nilai  siklus I, dan nilai akhir siklus II. Dari tiga macam nilai tersebut yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar adalah nilai kondisi awal dan nilai akhir siklus. Karena dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat dua siklus, maka terdapat dua nilai akhir siklus, yaitu nilai akhir siklus I dan nilai akhir siklus II. Nilai pertama diperoleh melalui tes di akhir siklus I, dan nilai kedua diperoleh melalui tes akhir siklus ke II. Yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa adalah nilai akhir siklus II ( sebagai nilai kondisi akhir ).

Penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila nilai hasil belajar kondisi akhir lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kondisi awal. Apabila terjadi nilai kondisi akhir sama  dengan atau lebih kecil dari pada nilai kondisi awal, maka penelitian tindakan kelas dikatakan belum berhasil.Tindakan  peneliti harus dilanjutkan ke siklus III.

 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Sebagaimana tertulis pada latar belakang masalah bahwa pada kondisi awal penelitian tindakan kelas ini,  nilai hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng tahun pelajaran 2016/2017 rata-ratanya masih rendah. Hasil belajar yang rendah itu dapat dilihat pada daftar nilai yang merupakan nilai ulangan harian. Rata-rata perolehan nilai masih belum memenuhi harapan. Dari 33 siswa kelas VI yang mengikuti ulangan harian, diperoleh nilai rata-rata 63,81. Nilai tertinggi 79 dan nilai terendah 35.

Dikaitan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 33 siswa yang mengikuti ulangan harian, hanya 10 siswa (30,3,%) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 23 siswa (69,7%). KKM mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  kelas VI adalah 70.

Deskripsi Siklus I

Pelaksanaan Siklus I  dilaksanakan pada minggu pertama dan kedua bulanAgustus tahun 2016. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 4 Agustus 2016. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 Agustus  2016. Kegiatan inti dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut :

a). Guru menyampaikan materi Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara secara  singkat, dan tujuan yang  ingin dicapai.

b). Guru membentuk satu kelompok besar, sekaligus menentukan  ketua dan sekretaris dalam kelompok tersebut.

c). Gurumenentukan permasalahan sesuai dengan materi pelajaran    yaitu mensosiodramakan rapat dalam perumusan dasar negara,

d). Ketua kelompok dibantu sekretaris menyusun para pemain sesuai dengan perannya.

e). Semua pemeran mempelajari perannya sesuai petunjuk guru..

f).  Melakukan pemeranan.

g). Diskusi dan evaluasi serta pengambilan kesimpulan..

Diakhir siklus diadakan tes. Dalam pembelajaran ini bentuk tes yang digunakan adalah tes tertulis. Setiap siswa mengerjakan soal-soal tes tertulis secara individu. Waktu yang digunakan untuk tes akhir siklus satu adalah satu jam terakhir, yaitu selama 35 menit.

Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 63,81 meningkat menjadi 68,33 pada akhir siklus I (meningkat sebesar 7 %). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 79 meningkat menjadi 90 pada akhir siklus I  (meningkat sebesar 13,9%) . Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 35tetap35 pada akhir siklus I  (kenaikan sebesar 0%).

NO NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS  I KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 79 90 13,9%
2 Rata-rata 63,81 68,33 7 %
3 Terendah 35 35 0%

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AWAL DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS  I

Deskripsi Siklus II

Siklus II  dilaksanakan pada minggu ketiga dan keempat bulan Agustus tahun 2016. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 18Agustus 2016. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 25Agustus  2016.Kegiatan dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut

a). Guru menyampaikan materi Menceritakan secara singkat nilai kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara, dan tujuan yang  ingin dicapai.

b). Guru membentuk dua kelompok, sekaligus menentukan  ketua dan sekretaris dalam kelompok tersebut.

c). Gurumenentukan permasalahan sesuai dengan materi pelajaran    yaitu mensosiodramakan rapat dalam perumusan dasar negara,

d). Ketua kelompok dibantu sekretaris menyusun para pemain sesuai dengan perannya.

e). Semua pemeran mempelajari perannya sesuai petunjuk guru..

f).  Melakukan pemeranan.

g). Diskusi dan evaluasi serta pengambilan kesimpulan..

 Diakhir siklus  II diadakan tes. Dalam pembelajaran ini bentuk tes yang digunakan adalah tes tertulis. Setiap siswa mengerjakan soal-soal tes tertulis secara individu. Waktu yang digunakan untuk tes akhir siklus dua adalah satu jam terakhir, yaitu selama 35 menit.

Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus II, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus II. Subjek penelitian diberi lembar soal.  Dari 33 siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng yang mengikuti tes akhir siklus II, diperoleh nilai rata-rata 76,51. Nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 40.

Subjek penelitian yang memperoleh nilai 90 s.d. 100 ada 9 siswa, nilai 80 s.d. 89 ada 9 siswa, nilai 70 s.d.79 ada 8 siswa, nilai 60 s.d. 69 ada 3 siswa, nilai 50 s.d. 59 ada 3 siswa, dan 40 s.d.49 ada 1 siswa.

NO. RENTANG NILAI JUMLAH SISWA KET.
1 90 s.d. 100 9  
2 80 s.d. 89 9  
3 70 s.d. 79 8  
4 60 s.d. 69 3  
5 50 s.d. 59 3  
  40 s.d. 49 1  

RENTANG NILAI KONDISI AKHIR SIKLUS  II

Dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 33 siswa yang mengikuti tes akhir siklus II, terdapat 26 siswa (78,7%) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 7 siswa (21,3%). KKM mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  adalah 70.

Refleksi Kondisi Akhir Siklus I dengan Kondisi Akhir Siklus II

Nilai tertinggi pada kondisi akhir siklus I sebesar 90 meningkat menjadi 100 pada akhir siklus II  (meningkat sebesar 0,11%) . Nilai terendah pada kondisi akhir siklus I sebesar 35 meningkat menjadi 40 pada akhir siklus II  (meningkat sebesar 0,14%).

NO NILAI KONDISI AKHIR SIKLUS  I KONDISI AKHIR SIKLUS  II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 90 100 0,11%
2 Rata-rata 68,33 76,51 0,11%
3 Terendah 35 40 0,14%

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AKHIR SIKLUS I DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS  II

Pembahasan Antar Siklus

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru peneliti sejak dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II, sesuai dengan data-data yang diperoleh ternyata terjadi dinamika perubahan hasil belajar. Pada saat kondisi awal, nilai rata-rata subjek penelitian hanya 63,81. Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 68,33. Ketika dilakukan penilaian di akhir siklus II, ternyata nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 76,51 Data hasil belajar subjek penelitian mulai dari kondisi awal, kondisi akhir siklus I sampai dengan kondisi akhir siklus  II  dapat disimak pada tabel berikut ini :

 

NO. KONDISI NILAI RATA-RATA
1 Awal 63,81
2 Siklus I 68,33
3 Siklus II 76,51

 

DATA NILAI HASIL BELAJAR SUBJEK PENELITIAN

Dinamika perubahan hasil belajar dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II (kondisi akhir) akan lebih jelas terlihat dalam diagram di bawah ini :

DIAGRAM HASIL BELAJAR SUBJEK PENELITIAN

Keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah ditentukan oleh perbandingan nilai rata-rata kondisi awal dengan nilai rata-rata kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II). Penelitian tindakan kelas disebut berhasil apabila nilai rata-rata subjek penelitian mengalami peningkatan dari kondisi awal ke kondisi akhir siklus II.

Sebagaimana tertulis di bagian terdahulu bahwa nilai rata-rata subjek penelitian pada saat kondisi awal adalah 63,81 sedangkan nilai rata-rata subjek penelitian pada kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II) adalah 76,51. Dengan demikian dari kondisi awal ke kondisi akhir, nilai rata-rata hasil belajar subjek penelitian mengalami peningkatan sebesar 12,7 poin (19,9 %). Perubahan nilai rata-rata tersebut dapat lebih terlihat dengan jelas pada diagram berikut ini :

DIAGRAM HASIL BELAJAR DARI KONDISI AWAL KE KONDISI AKHIR

 

PENUTUP

Data-data empirik yang dikumpulkan selama proses penelitian tindakan kelas sebagaimana tertulis dalam bab IV menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti dalam siklus I dengan menggunakan model pembelajaran Bermain Peran secara kelompok besar telah berhasil meningkatkan hasil belajar subjek penelitian. Nilai rata-rata pada kondisi awal yang hanya 63,81 dapat ditingkatkan menjadi 68,33 di akhir siklus I.

Pada siklus II, guru peneliti melakukan perubahan teknik penerapan  model pembelajaran bermain peran. Model pembelajaran Bermain Perandiubah penerapannya menjadi secara kelompok kecil pada siklus II. Dengan perubahan teknik penerapan model pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa nila rata-rata di akhir siklus II mengalami peningkatan menjadi 76,51. Kalau nilai rata-rata kondisi awal yang hanya 63,81 sedangkan nilai rata-rata pada kondisi akhir menembus angka 76,51 berarti talah terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 21,92 poin atau peningkatan sebesar 35,99%.

Kesimpulan berdasarkan data empirik tersebut sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teori sebagaimana tercantum dalam bab II yang berbunyi : “Melalui penggunaan model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar PKn Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara bagi siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester I Tahun Pelajaran 2016/2017“.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini terbukti,yaitu : “Melalui penggunaan model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar PKn Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara bagi siswa kelas VI SD Negeri 3 Kutaliman Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester I Tahun Pelajaran 2016/2017“.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alya, Qonita , 2009, Kamus bahasa indonesia,  PT.Indah Jaya    Adipratama, Bandung.

Arifin, 2010, Evaluasi Pembelajaran Prinsip, Teknik, Prosedur, Remaja Rosda   Karya, Bandung

Dimyanti dan Mudjiono, 2009, Belajar dan Pembelajaran.  Rineka Cipta,    Jakarta.

Djamarah dan Zain, 2002, Stategi Belajar Mengajar,  Rineka Cipta, Jakarta .

H.EndangKomara,Prof.,Dr.,M.Si.,http;//dahli- hmad.blogspot.com/2009/03/model bermain-peran-dalam-pembelajaran 29.html.04-08-2016.)

Komalasari, 2013, Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi, PT Refika Aditama, Bandung.

Komarudin, 2000, Model Pembelajaran Aktif, Remaja Rosda Karya, Bandung.

Mulyasa, 2005, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, PT Remaja Rosda Karya Offset, Bandung.

Prasetyo, 2001, Stategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta.

Slameto, 2003, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Rineka Cipta, Jakarta.

Taufik, Imam,  2010, Kamus praktis bahasa indonesia, Ganeca Exact, Jakarta.

Wahidmurni dkk, 2010, Evaluasi Pembelajaran Kompetensi dan Praktek, Nuha Litera, Yogyakarta.

Widihastuti, Setiati, 2008,  Pendidikan Kewarganegaraan SD/MI Kelas VI,  Pusat perbukuan departemen pendidikan nasional,Jakarta.

BIODATA

Nama                    : Erlan Agustanto, S.Pd.

Nip                        : 19630816 198508 1 002

Pangkat/Gol         : Pembina, IV/A

Jabatan                  : Guru

Unit Kerja             : SD Negeri 3 Kutaliman UPK Kedungbanteng


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *