infopasti.net

PTK SD Mata Pelajaran PKN Pentingnya Menjaga Keutuhan NKRI

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN TENTANG PENTINGNYA MENJAGA KEUTUHAN NKRI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING  SISWA KELAS V SD NEGERI MUJUR 01 SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2014/2015 

Sawal

SD NEGERI MUJUR 01

 

ABSTRAK

Peningkatan Hasil Belajar PKN Tentang Pentingnya Menjaga Keutuhan NKRI Siswa  Kelas  V SD Negeri Mujur 01 Semester 1 Tahun Pelajaran 2014/2015. Tujuan penelitian ini adalah melalui Model Pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan Hasil Belajar PKn tentang pentingnya Menjaga Keutuhan NKRI Siswa Kelas V SD Negeri Mujur 01  Semester 1 Tahun Pelajaran 2014/2015. Penelitian dilakukan terhadap 28 siswa kelas V Sekolah Dasar  Negeri  Mujur  01  Tahun Pelajaran 2014/2015. Penelitian dilaksanakan  dalam  dua  siklus  tindakan. Pada setiap siklus melalui empat langkah tindakan, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada kondisi awal nilai rata-rata yang dicapai siswa sebesar 64,64 dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 46%, pada siklus 1 nilai rata-rata yang dicapai siswa naik menjadi 72,14 dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 68%. Kemudian penelitian dilanjutkan pada siklus 2 dan terjadi peningkatan nilai rata-rata menjadi 83,57 dengan persentase ketuntasan mencapai 93%. Pada akhir penelitian sebesar 7% atau 2 siswa belum mencapai, untuk itu peneliti melakukan tindakan pengayaan dengan memberikan tugas tambahan dan bimbingan lebih intensif. Pada hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa pada siklus 1 sebesar 68 % dan pada siklus 2 meningkat menjadi 93 %. Berdasarkan keterangan di atas maka  melalui penerapan model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Mujur 01 pada semester 1 tahun pelajaran 2014/2015 pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada pokok bahasan Menjaga Keutuhan NKRI.

 

Kata kunci : PKn, Snowball Throwing,hasil belajar

 

       Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada setiap individu atau kelompok untuk merubah sikap dari tidak tahu menjadi tahu sepanjang hidupnya. Proses belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang di dalamnya terjadi proses siswa belajar dan guru mengajar dalam konteks interaktif, dan terjadi interaksi edukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan dalam diri siswa baik perubahan pada tingkat pengetahuan, pemahaman dan keterampilan atau sikap.

       Tujuan PKn adalah membentuk watak dan karakteristik warga negara yang baik. Dengan demikian tujuan PKn di SD adalah untuk menjadikan warga negara yang baik, yaitu warga negara yang tahu, mau, dan sadar akan hak dan kewajibannya, dan diharapkan kelak dapat menjadi bangsa yang terampil dan cerdas, dan bersikap baik sehingga mampu menjadi warga negara yang demokratis dan mengikuti kemajuan teknologi modern

       Berdasarkan hasil observasi di kelas V SD Negeri Mujur 01, hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hal ini terjadi karena pada saat proses belajar mengajar, guru belum menemukan model yang sesuai, sehingga siswa kurang berani mengeluarkan pendapat atau komunikasi dengan teman sebaya maupun guru kelas. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu memilih dan memilah model pembelajaran yang sesuai dengan materi agar siswa merasa nyaman dan aktif dalam belajar.

       Penggunaan model yang masih konvensional menunjukkan bahwa guru kurang paham akan model pembelajaran itu sendiri. Guru terlihat lebih dominan menunjukkan tidak adanya interaksi di antara siswa dan kurangnya kerjasama di antara siswa. Dengan pembelajaran yang bersifat klasikal dan monoton tanpa menggunakan model pembelajaran mengakibatkan siswa kurang aktif dan tertarik terhadap materi yang disampaikan guru. Hal tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, terlihat bahwa hasil belajar PKn pada materi keutuhan NKRI siswa di kelas V masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70.

      Kenyataannya siswa masih kesulitan menerima materi tentang pentingnya keutuhan NKRI. Salah satu penyebabnya yaitu model pembelajaran yang digunakan kurang tepat dan tidak sesuai dengan karakteristik siswa kelas V. Model pembelajaran PKn SD diharapkan menarik minat belajar siswa, agar anak aktif dan senang dalam belajar.

       Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar PKn Tentang Pentingnya Keutuhan NKRI Melalui Model pembelajaran Snowball Throwing Pada Siswa Kelas V SD Negeri Mujur 01, Semester 1  Tahun Pelajaran 2014/2015”.

       Model pembelajaran Snowball   Throwingmerupakan model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk aktif serta mengalami rasa senang di dalam kelas. Model ini mengarah pada karakteristik siswa usia sekolah dasar, karena berbentuk sebuah permainan. Model Pembelajaran Snowball Throwing merupakan salah satu model dalam pembelajaran kooperatif dimana cara pembelajarannya dilakukan secara berkelompok yang terdiri 4-6 siswa yang kemudian siswa membuat soal pada kertas lembar kerja yang kemudian diremas-remas sampai membentuk bola salju kemudian dilemparkan pada siswa atau kelompok lain untuk dijawab secara spontanitas atau secara langsung jawabannya.

       Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan secara operasional sebagai berikut: Bagaimanakah melalui penerapan pelaksanaan model Pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar PKn tentang keutuhan NKRI siswa kelas V SD Negeri Mujur 01?

      Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah melalui penerapan pelaksanaan model Pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar PKn tentang keutuhan NKRI siswa kelas V SD Negeri Mujur 01.

        Manfaat Secara Umum: 1. Proses belajar mengajar PKn di Kelas V SD Negeri Mujur 01 menjadi lebih menarik dan menyenangkan. 2. Ditemukannya metode pembelajaran baru yang tepat tetapi variatif

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Hasil Belajar

       Istilah mengajar dan belajar adalah dua peristiwa yang berbeda, akan tetapi antara keduanya terdapat hubungan yang erat sekali. Bahkan antara keduanya terjadi kaitan dan interaksi satu sama lain. Kedua kegiatan itu salaing mempengaruhi dan menunjang satu sama lain. Belajar merupakan sebuah proses untuk melakukan perubahan perilaku seseorang, baik lahiriah maupun batiniah.

        Belajar mengajar merupakan sebuah interaksi yang bernilai normatif, yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan. Tujuan disini sebagai pedoman ke arah mana akan dibawa proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar akan berhasil bila hasilnya mampu membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap dalam diri anak didik. Kegiatan belajar mengajar pada akhirnya akan menghasilkan kemampuan baru yang dimiliki siswa atau dengan kata lain disebut sebagai hasil belajar.

        Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap,apresiasi, dan keterampilan Menurut Nana Sujana sebagaimana yang dikutip oleh kunanadar, hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disususn secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Sedangakan S. Nasution sebagaimana yang dikutip oleh kunandar hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai perubahan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri individu yang belajar.

       Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan. Hasil belajar tidak mutlak berupa nilai saja, akan tetapi dapat berupa perubahan atau peningkatan sikap, kebiasaan, pengetahuan, keuletan, ketabahan, penalaran, kedisplinan, keterampilan dan sebagaimana yang menjuju pada perubahan positif.

       Hasil belajar menunjukkan kemampuan siswa yang sebenarnya yang sebenarnya yang telah mengalami proses pengalihan ilmu pengetahuan dari seseorang yang dapat dikatakan dewasa atau memiliki pengetahuan kurang. Jadi dengan adanya hasil belajar, orang dapat mengetahui seberapa jauh siswa dapat menangkap, memahami, memiliki materi pelajaran tertentu. Atas dasar itu maka pendidik dapat menentukanstrategi belajar mengajar yang lebih baik.

Tipe-Tipe Hasil Belajar PKn SD

        Tipe hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa penting dapat diketahui guru, agar guru dapat merancang atau mendesain pengajaran secara tepat dan penuh arti. Setiap proses belajar-mengajar keberhasilannya diukur dari segi prosesnya. Akhirnya seberapa jauh tipe hasil belajar dimiliki siswa. Tipe hasil belajar harus nampak dalam tujuan pengajaran sebab tujuan itulah yang akan dicapai oleh proses belajar-mengajar.

       Benjamin S. Bloom dalam Sudjana berpendapat bahwa, tujuan pendidikan yang hendak dicapai dapat digolongkan menjadi tiga bidang atau ranah, yakni bidang kognitif. Bidang afektif, dan bidang psikomotor, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: Tipe hasil belajar bidang Kognitif  1)Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan (Knowledge), Pengetahuan haf dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata “knowledge” dari Bloom.

        Cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk pula pengetahuan yang sifatnya faktual, di samping pengetahuan yang mengenai hal-hal yang perlu diingat kembali seperti batasan, peristilahan, pasal, hukum, bab, ayat, dan lain-lain. 2) Tipe hasil belajar pemahaman (Comprehention), Pemahaman  memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep.

Faktor Yang Mempengaruhi hasil belajar

        Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: 1. faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), faktor eksternal (faktor dari luar siswa), dan faktor pendekatan belajar.

a. Faktor Internal Siswa,

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor internal dibagi menjadi dua, yakni: aspek fisiologis (jasmani), dan aspek psikologis (rohaniah). b. Aspek Fisiologis (jasmaniah), Kondisi umum dan tonus (tegangan otak) yang menendai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondidi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusing, kepala berat misalnya: dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinyapun kurang atau tidak berbekas. Untuk mempengaruhi tonus jasmani agar tetap bugar, siswa dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang sangat bergizi. Selain itu, siswa juga dianjurkan memilih pola istirahat dan olahraga ringan yang dapat mungkin terjadwal secara tetap dan berkesinambungan. Hal ini penting sebab kasalahan pola makan-minum dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang negatif dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri.

Karakteristik Pembelajaran PKn 

          Pengertian PKn tidak sama dengan PKN. PKN singkatan dari pendidikan Kewarga Negara, sedangkan PKn singkatan dari Pendidikan Kewarganegaraan. Menurut Soemantri (dalam ruminiati, 2007 : 2), PKN merupakan mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk atau membina warga negara yang baik, yaitu warga negara yang tahu, mau, dan sadar akan hak dan kewajibannya. Sedangkan PKn adalah pendidikan kewarganegaraan, yaitu pendidikan yang menyangkut status formal warga negara yang diatur dalam UU. No 2 tahun 1949, JO UU No 62 tahun 1958, JO UU No 12 tahun 2006 tentang status warga negara yang telah berlaku mulai tanggal 1 Agustus 2006 (dalam Ruminiati, 2007 : 2).

          Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan

          Selanjutnya menurut Udin S. Winataputra (2011:1.10) tujuan dan isi PPKn SD 1994 berkenaan dengan konsep nilai, moral dan norma yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 serta penjabarannya dalam sumber hukum dibawah UUD 1945. Untuk tingkat sekolah dasar, kurikulum PPKn SD 1994 menjabarkan konsep, nilai, moral dan norma Pancasila dan UUD 1945 secara “Berjenjang berkelanjutan semakin meluas” mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI.

          Patut digarisbawahi isi Pasal 3 UU Sisdiknas 20/2003 yang menyatakan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Ruang lingkup Pendidikan Kewarganegaraan

           Berdasarkan tujuan dari pendidikan kewarganegaraan, maka materi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus dimengerti. Adapun ruang lingkup PKn secara umum meliputi beberapa aspek, yaitu: 1) Persatuan dan Kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan, Cinta lingkungan, Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda, Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Partisipasi dalam pembelaan negara, Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, Keterbukaan dan jaminan keadilan. 2) Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga, Tata tertib di sekolah, Norma yang berlaku di masyarakat, Peraturan-peraturan daerah, Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Sistem hukum dan peradilan nasional, Hukum dan peradilan internasional. 3) Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, Hak dan kewajiban anggota masyarakat, Instrumen nasional dan internasional HAM, Pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM. 4) Kebutuhan warga negara meliputi: Hidup gotong royong, Harga diri sebagai warga masyarakat, Kebebasan berorganisasi, Kemerdekaan mengeluarkan pendapat, Menghargai keputusan bersama, Prestasi diri , Persamaan kedudukan warga negara. 5) Konstitusi  Negara  meliputi:  Proklamasi  kemerdekaan  dan konstitusi  yang  pertama,   Konstitusi-konstitusi  yang  pernah digunakan di Indonesia, Hubungan dasar negara dengan konstitusi. 6)Kekuasan dan Politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan, Pemerintahan daerah dan otonomi, Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem politik, Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat madani, Sistem pemerintahan, Pers dalam masyarakat demokrasi. 7) Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka. 8) Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, Dampak globalisasi, Hubungan internasional  dan  organisasi  internasional,   dan  mengevaluasi globalisasi.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mata Pelajaran PKn

        Khusus untuk SD/MI khususnya kelas V semester 1 lingkup isi Pendidikan Kewarganegaraan dikemas dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, yang secara sekuensial diorganisasikan sebagai berikut Udin S. Winataputra (2011:1.21) Berdasarkan hasil pengamatan pada nilai ulangan harian siswa kelas V SD Negeri Mujur 01 semester 1 tahun pelajaran 2014/2015, maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas pada kompetensi dasar menunjukkan contoh-contoh perilaku dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menjaga Keutuhan Indonesia

          Usaha-usaha dalam menjaga keutuhan NKRI, antara lain: a. Memelihara ketertiban dan keamanan yang dilakukan oleh masyarakat. b.Menjaga agar tidak terjadi bentrokan antarsuku yang dilakukan oleh masyarakat. c. Memberantas setiap usaha untuk memisahkan diri dari NKRI

(separatisme). d. Menanamkan sikap toleransi. e. Menjaga persatuan dan kesatuan. f. Menghargai perbedaan. g. Menjaga perbatasan Indonesia dengan negara lain. h. Menjaga pulau-pulau paling

luar dari Indonesia yang berbatasan dengan negara lain yang dilakukan TNI. Sikap yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan tanah air, antara lain: a.Aktif dalam kegiatan bersama. b. Merasa ikut memiliki fasilitas umum. c. Mengembangkan  sikap tertib dan disiplin. d. Memberi bantuan tanpa pamrih. e. Membina diri sebagai generasi yang dapat diandalkan.

        Perilaku dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara harus diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Perilaku untuk menjaga keutuhan bangsa yang harus diterapkan di lingkungan keluarga, antara lain: a. Menciptakan suasana rukun di rumah. b. Melaksanakan tanggung jawab kita sebagai anggota keluarga. c. Saling menghormati antarsesama anggota keluarga.

         Perilaku untuk menjaga keutuhan bangsa yang harus diterapkan di lingkungan sekolah, antara lain : a. Mematuhi peraturan yang berlaku b. Saling tolong menolong dengan sesama teman. c. Menghargai teman yang berbeda suku bangsa, agama, dan adat istiadat. d. Mengikuti upacara bendera dengan khidmat.

Model Pembelajaran Snowball Throwing

           Istilah model cenderung memiliki makna ganda, misalnya : teladan, tiruan, bentuk, pola, rancangan. Berdasarkan jenis katanya, model memiliki tiga makna. Sebagai kata benda, model berarti representasi yang dapat berbentuk tiga dimensi dalam struktur yang diproyeksikan. Sebagai kata sifat, model mengandung makna kesempurnaan atau idealisasi, sedangkan sebagai kata kerja, model berarti “mendemonstrasikan mengungkapkan atau menunjukkan sesuatu yang dimaksudkan

Pengertian Model Pembelajaran Snowball Throwing

         Model Snowball Throwing merupakan salah satu modifikasi dari teknik bertanya yang menitikberatkan pada kemampuan merumuskan pertanyaan yang dikemas dalam sebuah permainan yang menarik yaitu saling

melemparkan bola salju (snowball throwing) yang berisi pertanyaan kepada sesama teman. Model yang dikemas dalam sebuah permainan ini membutuhkan kemampuan yang sangat sederhana yang bisa dilakukan oleh hampir setiap siswa dalam mengemukakan pertanyaan sesuai dengan materi yang dipelajarinya.

       Model Snowball Throwing adalah model yang dapat digunakan untuk memperdalam satu topik. Model ini biasa dilakukan oleh beberapa kelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang yang memiliki kemampuan merumuskan pertanyaan yang ditulis dalam sebuah kertas dan dibentuk menyerupai bola. Kemudian, kertas itu dilemparkan pada kelompok lain dan kelompok yang mendapat kertas menjawab pertanyaan yang ada dalam kertas tersebut.

       Menurut Edy Budianto (2009:24) model pembelajaran Snowball Throwing merupakan salah satu model dalam pembelajaran kooperatif dimana cara pembelajarannya dilakukan secara berkelompok yang terdiri 4-6 siswa yang kemudian siswa dituntut membuat soal pada kertas lembar kerja yang diremas-remas sampai membentuk bola salju kemudian dilemparkan pada siswa atau kelompok lain untuk dijawab secara spontanitas atau dibacakan secara langsung jawabannya. Sedangkan teknik melemparnya dapat ditentukan langsung oleh pengajar (guru) atau dengan kesepakatan siswa dalam kelas, sesuai dengan selera masing-masing.

           Menurut Rahmad Widodo (online, 12 Agustus 2014) model pembelajaran Snowball Throwing melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Lemparan pertanyaan tidak menggunakan tongkat seperti model pembelajaran Talking Stik akan tetapi menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada siswa lain. Siswa yang mendapat bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya.

         Menurut Herdian, S. Pd (online, 12 Agustus 2014) snowball throwing merupakan model pembelajaran yang dimulai dari pemberian informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan pemberian informasi tugas untuk membahas materi tertentu

dikelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaannya dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyimpulan, refleksi dan evaluasi.

         Menurut Kiranawati (online, 12 Juli 2014), menyatakan bahwa Snowball Throwing adalah permainan dengan dibentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh.

          Secara sederhana model Snowball Throwing dapat digambarkan sebagai berikut. Siswa merumuskan pertanyaan secara tertulis di kertas bedasarkan materi yang diterangkan oleh guru. Kemudian kertas tersebut dilipat-lipat sedemikian rupa lalu dilemparkan kepada kelompok lain. Setelah membuka kertas tersebut, kelompok lain itu menjawab pertanyaan pada kertas yang telah dilemparkan.

        Dari beberapa uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa model pembeajaran Snowball Throwing adalah salah satu model pembelaran pembelajaran kooperatif yang berbentuk

permainan dimana cara pembelajarannya dilakukan secara berkelompok antara 4-6 siswa

dan membuat pertanyaan dalam kertas, kemudian kertas pertanyaan diremas-remas hingga membentuk bola salju dan dilemparkan kepada kepada kelompok lain untuk dijawab. Pelemparan kertas dapat ditentukan oleh guru atau dengan kesepakatan siswa. 

Karakteristik Model Pembelajaran

Snowball Throwing

        Snowball throwing merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), yang dalam pelakksanaanya banyak melibatkan siswa untuk aktif. Secara etimologi, Snowball artinya bola salju sedangkan throwing artinya melempar. Jadi Snowball Throwing secara keseluruhan dapat diartikan melempar bola salju. Dalam model pembelajaran snowball throwing bola salju merupakan kertas yang berisikan pertanyaan yang dibuat oleh siswa kemudian dilempar kepada temanya sendiri untuk dijawab.

         Dalam model pembelajaran ini, guru membentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. Peran guru di sini hanya sebagai pemberi arahan awal mengenai topik pembelajaran, dan selanjutnya penertiban terhadap jalanya pembelajaran.

Langkah-langkah Pembelajaran

Snowball Throwing

        Adapun langkah-langkah pembelajaran Snowball Throwing menurut Agus Suprijono (2009:128) dapat dijabarkan sebagai berikut: 1) Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. 2)  Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 3) Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompokknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. 4) Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. 5) Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain seama kurang lebih 5 menit. 6) Setelah siswa dapat satu bola/ satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. 7) Guru memberikan kesimpulan. 8) Guru mengevaluasi kegiatan tersebut dengan cara memberikan komentar sekaligus memberikan penilaian mengenai jenis dan bobot pertanyaan, rumusan kalimat, kemudian memberikan contoh rumusan pertanyaan yang benar. 9 Penutup, Dari langkah-langkah di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Snowball Throwing sangat cocok diimplementsikan pada pembelajaran siswa sekolah dasar. Hal ini karena sifat dari model adalah permainan sehingga siswa dapat merasa senang dan dapat mengikuti pembelajaran secara aktif dan kreatif khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Selain itu pada pembelajaran dengan model ini tidak mengeluarkan biaya terlalu besar.

Kelebihan dan Kekurangan Model

Pembelajaran Snowball Throwing

          Model snowball throwing ini dapat memberikan kesempatan kepada teman dalam kelompok untuk merumuskan pertanyaan secara sistematis. Di samping itu dapat membangkitkan keberanian siswa dalam mengemukakan pertanyaan, juga melatih siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh temannya dengan baik. Dapat pula merangsang siswa mengemukakan pertanyaan sesuai dengan topik yang sedang dibicarakan dalam pembelajaran, dapat mengurangi rasa takut siswa dalam bertanya kepada teman maupun guru serta melatih kesiapan siswa, selanjutnya dengan model ini memungkinkan siswa saling memberikan pengetahuan.

         Menurut Edy Budiono (2009:15) kelebihan model pembelajaran snowball throwing adalah sebagai berikut.(1) Melatih kesiapan dan berpikir siswa, (2) Saling memberikan pengetahuan, (3) Siswa menjadi semangat belajar, (4) Dapat menumbuhkan sifat-sifat positif dalam diri siswa diantaranya yaitu tumbuhnya rasa percaya diri, keberanian mengemukakan pendapat maupun tampil didepan kelas.

          Kelemahan dalam model pembelajaran Snowball Throwing antara lain, sebagai berikut. (1) Pengetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa, (2) dapat menimbulkan kegaduhan di dalam kelas.

         Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran snowball throwing sebaiknya digunakan pada kelas tinggi yaitu kelas IV, V dan VI. Hal tersebut perlu dilakukan karena pada anak usia kelas tinggi sudah mampu mengontrol kemauannya dan mampu bekerjasama dengan teman-temannya.

Kerangka Berfikir

        Secara singkat kerangka berfikir pada penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut: Pada kondisi awal, hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Mujur 01, semester 1 tahun pelajaran 2014/2015 pada kompetensi dasar menunjukkan contoh-contoh perilaku dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia masih rendah, karena penyampaian materi oleh guru yang masih monoton dengan menggunakan model pembelajaran konvensional sehingga siswa merasa jenuh dan tidak bersemangat. Tindakan perbaikan dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran snowball throwing. Diharapkan peserta didik dapat dengan mudah menerima dan memahami konsep abstrak yang dijelaskan pada materi tersebut, sehingga hasil pembelajaran meningkat dan maksimal.

Hipotesis Penelitian

        Hipotesis dalam penelitian ini adalah: model pembelajaran snowball throwing dapat meningkatkan hasil pembelajran PKn tentang pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia siswa kelas V SD Negeri Mujur 01.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

         Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Istilah dalam bahasa inggrisnya Classroom Action Research (CAR), yaitu sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas. Menurut Suharsini Arikunto (2006:2-3) di dalam penelitian tindakan kelas memiliki tiga pengertian yaitu: 1. Penelitian (Research): Merujuk pada suatu kegiatan mencerminkan suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodelogi tertentu untuk memperoleh data dan informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. 2. Tindakan (page break):

Merujuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian ini berbentuk rangkaian siklus kegiatan peserta didik. 3. Kelas (Class):

Dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok peserta didik dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

         Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Mujur 01 yang  terdiri dari 28 siswa. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2014/2015, dari bulan September sampai bulan Oktober. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Mujur 01 Tahun Pelajaran 2014 / 2015. Jumlah anak dalam penelitian ini adalah 28 siswa.

       Untuk memperjelas gambaran tindakan pada masing-masing siklus peneliti menguraikan 2 siklus yang akan dilaksanakan dengan rencana kegiatan sebagai berikut:

Siklus 1

Perencanaan (Persiapan)

        Kegiatan awal yang dilakukan oleh peneliti pada tahap perencanaan ini yaitu merefleksikan dan menganalisis masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran serta mencari alternatif pemecahan masalahnya. Kegiatan utama yang dilakukan peneliti dalam tahap perencanaan ini yaitu : 1) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan metode Snowball Throwing. 2) Menyiapkan soal lembar evaluasi siswa sebagai penilaian dari hasil belajar. 3) Menyiapkan format penilaian serta menyiapkan sarana dan prasarana yang dapat mendukung dalam proses pembelajaran. 4) Menyiapkan instrumen pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas yaitu lembar observasi aktivitas siswa. 5) Pembentukan kelompok yang terdiri dari 3-4 orang tiap kelompok.

Pelaksanaan

         Pada tahap ini peneliti menerapkan metode Snowball Throwing yang telah dipersiapkan dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut : 1) Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. 2) Guru memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan  penjelasan tentang materi. 3) Masing-masing   ketua   kelompok   kembali   ke   kelompoknya     masing- masing, kemudian   menjelaskan   materi  yang   disampaikan   oleh   guru  kepada temannya. 4) Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja,  untuk  menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang  sudah   dijelaskan oleh ketua kelompok. 5) Kertas yang berisi pertanyaan tersebut  dibuat  seperti  bola  dan  dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama kurang lebih 5 menit. 6) Setelah siswa dapat  satu  bola/  satu   pertanyaan   diberikan   kesempatan kepada  siswa  untuk  menjawab  pertanyaan  yang  tertulis  dalam   kertas  berbentuk bola tersebut secara bergantian. 7) Guru memberikan kesimpulan. 8)  Guru mengevaluasi kegiatan tersebut dengan cara  memberikan  komentar  sekaligus memberikan penilaian mengenai  jenis  dan  bobot   pertanyaan,  rumusan   kalimat,  kemudian  memberikan  contoh  rumusan   pertanyaan  yang benar. 9) Siswa melaksanakan tes.

Observasi

       Dalam kegiatan pengamatan peneliti  mengumpulkan serta menyusun data yang diperoleh dari proses pembelajaran. Fokus pengamatan yang dilakukan oleh peneliti adalah: Aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Pengamatan aktivitas peserta didik dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa.

Refleksi

      Hasil observasi yang telah  dilaksanakan  permasalahan  yang  timbul  dicari pemecahannya, sehingga pada kegiatan siklus kedua sudah ada perbaikan. Dilakuan siklus 2 karena siklus 1 melum bisa memenuhi target.

Siklus 2

Perencanaan

         Kegiatan utama yang dilakukan oleh peneliti  dalam  tahap  perencanaan  pada siklus II ini yaitu membuat rencana  pembelajaran  berdasarkan  refleksi  dan  hasil  analisis yang telah dilaksanakan pada siklus I. Dari hasil tersebut peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyiapkan Rencana  Pelaksanaan   Pembelajaran   pada   siklus   II   dengan  memperhatikan kekurangan dan kendala-kendala yang terjadi pada siklus I.

2)Menyiapkan lembar kerja produk, sebagai penerapan dari metode Snowball Throwing.

3)Menyiapkan soal lembar evaluasi siswa sebagai penilaian dari hasil belajar. 4)Menyiapkan format penilaian serta menyiapkan sarana dan prasarana yang dapat mendukung dalam proses pembelajaran. 5) Menyiapkan instrumen pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas, yaitu lembar observasi aktivitas siswa.

Pelaksanaan

        Sesuai dengan  pendekatan  pembiasaan  berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.

1) Guru menyampaikan materi PKn tentang Keutuhan NKRI. 2) Guru  memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 3) Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompokknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. 4) Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. 5) Kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain seama kurang lebih 5 menit. 6) Setelah siswa dapat satu bola/ satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. 7) Guru beserta siswa membuat kesimpulan.

8)Guru mengevaluasi kegiatan tersebut dengan cara memberikan komentar sekaligus memberikan penilaian mengenai jenis dan bobot pertanyaan, rumusan kalimat, kemudian memberikan contoh rumusan pertanyaan yang benar. 9) Siswa melaksanakan tes.

Observasi

        Dalam kegiatan pengamatan peneliti  mengumpulkan serta menyusun data yang diperoleh dari proses pembelajaran. Fokus pengamatan yang dilakukan oleh peneliti adalah: Aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Pengamatan aktivitas peserta didik dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa yang telah disiapkan oleh peneliti.

Refleksi

      Berdasar hasil pengamatan aktivitas siswa sangat agresiv, dapat dibuktikan bahwa hasil tes yang telah dilaksanakan hasilnya meningkat, dengan demikian target terpenuhi.

Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah data tentang proses pembelajaran, termasuk interaksi guru-siswa dan siswa-siswa yang relevan, sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dan data mengenai hasil belajar siswa. 1. Sumber data primer adalah data yang dihimpun langsung oleh peneliti. Pada penelitian tindakan kelas ini data primernya adalah hasil observasi dan evaluasi terhadap siswa kelas V SD Negeri Mujur 01. 2. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari tangan kedua. Data sekunder diperoleh dari ata pendukung yaitu absensi siswa, biodata anak, profil sekolah dan lain sebagainya.

Teknik Pengumpulan Data

        Teknik pengumpulan data, yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk memperoleh informasi berupa observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Berikut diuraikan teknik pengumpulan data yang dilaksanakan:

1.Observasi adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung dan sistematis. Dalam hal ini peneliti melakukan observasi terhadap aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil evaluasi siswa. Observasi ini hanya dilaksanakan saat proses belajar mengajar berlangsung untuk mengetahui kebiasaan siswa pada proses belajar di kelas yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. 2.Dokumentasi dalam penelitian ini adalah seluruh bahan rekaman selama penelitian berlangsung. Dokumentasi ini berupa hasil kartu kegiatan siswa, dan foto. Dari hasil dokumentasi ini dapat dijadikan petunjuk dan bahan pertimbangan pelaksanaan selanjutnya dan penarikan kesimpulan. 3. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegasi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok.

Teknik Analisis Data 

       Untuk menganalisis data pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik statistik deskriptif kuantitatif karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apakah penerapan model pembelajaran snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Mujur 01.  Deskriptif kuantitatif yaitu memamparkan hasil penelitian yang dilakukan yaitu hasil dari pengamatan hasil evaluasi pada akhir pembelajaran PKn dengan kompetensi dasar menunjukkan contoh-contoh perilaku dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penghitungan data kuantitatif adalah dengan menghitung hasil akhir perkembangan mengenal lambang bilangan anak setiap siklus berdasarkan skor yang diperoleh dari lembar observasi yang telah disusun sebelumnya, sehingga dapat diketahui persentase hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kompetensi dasar menunjukkan contoh-contoh perilaku dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hasil yang diperoleh dalam perhitungan kuantitatif kemudian dideskripsikan secara naratif.

        Analisis data dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari lembar observasi mengenai hasil pembelajaran dalam peningkatan hasil belajar siswa. Analisis dilakukan pada setiap siklus dengan teknik deskriptif persentase. Analisis data dengan teknik deskriptif persentase dihitung dengan rumus :

P = ƒ X 100%
N

Keterangan:

 ƒ   : frekuensi yang sedang dicari persentasenya

P       : angka persentase

N       : Number of cases (jumlah frekuensi/ banyaknya individu)

 

        Indikator kinerja yang ingin diperoleh dalam penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatnya hasil belajar PKn pada siswa kelas V SD Negeri Mujur 01 setelah menerapkan model pembelajaran Snowball Throwing. Secara perorangan (individual), dianggap telah “tuntas belajar” apabila daya serap siswa mencapai 70,00.

Standar Ketuntasan Klasikal

         Secara klasikal, dianggap telah “tuntas belajar” apabila mencapai 80% dari jumlah siswa yang mencapai daya serap minimal 70. Sedangkan evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran PKn. Dalam hal ini materi pembelajaran yang dilaksanakan yaitu materi Keutuhan NKRI. Evaluasi atau nilai akhir diperoleh dari nilai proses dan nilai tes. Nilai proses dan nilai tes tersebut kemudian dirata-rata.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Deskripsi Kondisi Awal

        Pada kondisi sebelum diadakannya penelitian tindakan kelas, pada kelas V SD Negeri Mujur 01 UPTD Kecamatan Kroya ditemukan permasalahan tentang rendahnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada kompetensi dasar menunjukkan contoh-contoh perilaku dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan hasil kegiatan observasi pada kondisi awal yang dilakukan peneliti terhadap siswa kelas V SD Negeri Mujur 01 UPTD Kecamatan Kroya pada pembelajaran PKn materi keutuhan NKRI, guru masih cenderung menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah dan sedikit tanya jawab. Sehingga pada saat pembelajaran berlangsung sebagian besar anak merasa jenuh ada yang diam seperti tidak berkonsentrasi dan ada yang bergurau dengan temannya. Siswa terlihat kurang bekerjasama dan berinteraksi saat proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, guru belum memanfaatkan media dan fasilitas yang ada di sekolah, guru hanya berpedoman pada buku paket dan LKS saja.

          Sebagai bukti rendahnya hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Mujur 01 dari hasil pengamatan selama pembelajaran yaitu: bahwa dari 28 siswa kelas V, jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70 sejumlah 46% atau 13 siswa, dengan perolehan nilai rata-rata 64,64. Atas dasar hasil evaluasi pada kondisi awal tersebut, maka peneliti  untuk melaksanakan tindakan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing.

Dekripsi Siklus 1

Perencanaan

          Pada tahap sebelum aktivitas pembelajaran, terlebih dahulu peneliti membuat perencanaan aktivitas pembelajaran. Adapun perencanaan aktivitas yang dilakukan pada siklus I ini meliputi: 1) Menyiapkan RPP. 2) Menyiapkan media. 3) Menyiapkan lembar kegiatan siswa. 4) Menyiapkan instrumen observasi aktivitas  siswa. 5) Menyiapkan format penilaian evaluasi.

Pelaksanaan

          Pada tahap ini peneliti menerapkan metode Snowball Throwing   yang telah dipersiapkan dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut : 1) Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. 2) Guru memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 3) Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompokknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. 4) Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. 5) Kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama kurang lebih 5 menit. 6) Setelah siswa dapat satu bola/ satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian yang hasilnya adalah: a) Betul 2 soal sebanyak 1 kelompok (14 %).  b) Betul 1 soal sebanyak 5 kelompok (72 %). c) Salah semua 1 kelompok ( 14 %). Berdasar hasil tersebut di atas, maka kegiatan dilanjutkan dengan mengerjakan  soal secara perorangan yang hasilnya sebagai berikut:   a)Yang mendapat nilai 100 sebanyak 0 siswa (0 %).  b) Yang mendapat nilai 90 sebanyak 5 siswa (18 %).  c) Yang mendapat nilai 80 sebanyak 8 siswa (29 %).  d) Yang mendapat nilai 70 sebanyak 6 siswa (21 %).  e) Yang mendapat nilai 60 sebanyak 6 siswa (21 %).  f) Yang mendapat nilai 50 sebanyak 3 siswa (11 %).  g) Yang mendapat nilai 40 sebanyak 0 siswa (0 %). Hasil pengerjaan tersebut selanjutnya diberi skor. Setiap soal yang dijawab betul diberi skor 10 (sepuluh)  sehingga skor paling tinggi 100. Dari jumlah skor yang diperoleh selanjutnya dicari nilai rata-rata. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh dari hasil hitungan sebesar 72,14.  Prilaku siswa terhadap pengerjaan soal-soal tes 1  ada  yang  serius,  ada  yang  acuh tak acuh, ada juga yang tampak bengong  dan belum jelas. Namun hasilnya  Naik dari   nilai   sebelum   dilakukan     pembelajaran    dengan    model     pembelajaran   snowball   throwing. Hasil tersebut belum menuhi target yang diharapkan, maka diperlukan latihan soal-soal secara berulang-ulang.

Observasi

       Dalam kegiatan pengamatan peneliti  mengumpulkan serta menyusun data yang diperoleh dari proses pembelajaran. Fokus pengamatan yang dilakukan oleh peneliti yaitu: Aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran.  Pengamatan aktivitas peserta didik dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa yang hasilnya yaitu: dengan ketentuan obyek pengamatan termasuk katagori sangat aktif,  aktif,  cukup aktif, dan kurang aktif. Berdasar tabel tersebut, siswa yang  sangat  aktif  5  dari  28 siswa atau 18 %;   siswa yang  aktif 14 dari 28 siswa atau 50 %;   siswa yang cukup  aktif 6 dari 28 siswa atau  21 %;   sedangkan   siswa  yang  kurang  aktif  3  dari  28  siswa atau 11 %;

Dampak perlakuan siklus 1 pada siswa

         Siklus 1 yang diawali dengan perencanaan, tindakan dan pengamatan  berpengaruh pada diri siswa. Pengaruh  tersebut  dapat  terlihat  pada   kerjasama   siswa   dalam  kelompok dan  nilai   tes   yang   dilakukan.   Hasil   belajar   dapat   diketahui   ada peningkatan dari sebelum kegiatan  rata-ratanya  64,6  sedangkan  setelah  dilakukan  kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran snowball  throwing dengan rata-rata 72,14.

Refleksi

          Hasil observasi  menunjukan  aktif  meskipun  ada  beberapa   siswa   yang  Kurang dalam kerjasama   dalam  kelompoknya.  Beberapa  siswa  masik  sibuk sendiri  kurang  memperhatikan  kegiatan  yang   sedang   dilaksanakan.  Dengan demikian  permasalahan yang   timbul   dicari    pemecahannya,   sehingga   pada  kegiatan siklus kedua sudah ada perbaikan.  Dilaksanakan  siklus  2  dikarenakan  hasil siklus 1 belum memenuhi target.

Deskripsi Siklus 2

Perencanaan (Planning)

         Perencanaan pada kegiatan ini sesuai dengan perencanaan yang terdapat pada Bab III, yaitu :

1)Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada siklus II dengan memperhatikan kekurangan dan kendala-kendala yang terjadi pada siklus I. 2) Menyiapkan lembar kerja produk, sebagai penerapan dari metode Snowball Throwing.  3) Menyiapkan soal lembar evaluasi siswa sebagai penilaian dari hasil belajar. 4) Menyiapkan format penilaian serta menyiapkan sarana dan prasarana yang dapat mendukung dalam proses pembelajaran. 5) Menyiapkan  instrumen  pengumpulan   data   yang   akan    digunakan   dalam   penelitian tindakan kelas, yaitu lembar observasi aktivitas siswa.

Tindakan (Action)

           Guru    melaksanakan     sesuai    dengan     pendekatan     pembiasaan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I yaitu: 1) Guru menyampaikan materi PKn tentang Keutuhan NKRI. 2) Guru  memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 3) Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompokknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. 4) Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. 5) Kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain seama kurang lebih 5 menit. 6) Setelah siswa dapat satu bola/ satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. 7) Siswa melaksanakan tugas dari guru sesuai kelompoknya yang hasilnya yaitu: a) Betul 2 soal sebanyak 4 kelompok (57 %). b) Betul 1 soal sebanyak 2 kelompok (29 %). c) Salah semua 1 kelompok ( 14 %).  Melihat hasil yang diperoleh pada pengerjaan 4 dari 7 kelompok 4  yang betul semua, namun kegiatan dilanjutkan pada pengerjaan soal untuk perorangan. Yang hasilnya adalah sebagai berikut:  a)Yang mendapat nilai 100 sebanyak 6 siswa (21,43 %). b) Yang mendapat nilai 90 sebanyak 6 siswa (21,43 %).  c) Yang mendapat nilai 80 sebanyak 10 siswa (35,71 %).  d) Yang mendapat nilai 70 sebanyak 4 siswa (14,29 %). e) Yang mendapat nilai 60 sebanyak 2 siswa (7,14 %).  f) Yang mendapat nilai 50 sebanyak 0 siswa (0 %). g) Yang mendapat nilai 40 sebanyak 0 siswa (0 %). Hasil pengerjaan tersebut selanjutnya diberi skor. Setiap soal yang dijawab betul diberi skor 10 (sepuluh)  sehingga skor paling tinggi 100.  Dari  jumlah  skor yang diperoleh selanjutnya dicari nilai rata-rata. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh sebesar 83,57 dan mengalami kenaikan  sebesar 11,43 atau 15,84 % dari nilai rata-rata siklus 1. Hasil tersebut telah menuhi target yang diharapkan.

Observasi

          Dalam kegiatan pengamatan peneliti   menyiapkan lembar observasi. Yang diobservasi yaitu  Aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran di dalam kelas dengan menggunakan metode Snowball Throwing pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan menggunakan lembar observasi yang hailnya adalah: dengan keterangan obyek pengamatan termasuk katagori sangat aktif,  aktif,  cukup aktif, dan kurang aktif. Berdasar tabel tersebut, siswa yang  sangat  aktif  12  dari  28 siswa atau 43 %;   siswa yang  aktif 14 dari 28 siswa atau 50 %;   siswa yang  cukup aktif 2 dari 28 siswa atau  7 %;   sedangkan   siswa  yang  kurang  aktif  0   dari  28 siswa atau 0 %;

Dampak perlakuan siklus 2 pada siswa           

         Siklus 2 yang diawali dengan momen refleksi siklus 1, siklus 2 berdampak  pada diri siswa yaitu dengan adanya peningkatan nilai tes. Hal ini disebabkan  karena semakin antusiasnya siswa dalam mengikuti pelajaran.

Refleksi

           Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap siklus 2, siswa terlihat semakin  senang, semangat dan termotivasi untuk mengikuti pelajaran. Hal  tersebut  terbukti dengan semakin meningkatnya nilai tes yang diperoleh siswa.

Pembahasan

           Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Mujur 01 UPTD Kecamatan Kroya tahun pelajaran 2014/2015, pada kompetensi dasar Menjaga Keutuhan NKRI. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan persentase rata-rata aktivitas siswa dan hasil evaluasi belajar dengan indikator keberhasilan penelitian sebesar 85%,.

Tabel  Perbandingan Persentase Peningkatan

 Hasil Belajar Siswa Kondisi Awal, Siklus 1

Dan Siklus 2

Penelitian Aktivitas Siswa Hasil evaluasi (ketuntasan) Nilai Rata-rata
Kondisi awal 46% 64,64
Siklus 1 67% 68% 72,14
Siklus 2 92% 93% 83,57

 

        Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa pada kondisi awal nilai rata-rata yang dicapai siswa sebesar 64,64 dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 46%, pada siklus 1 nilai rata-rata yang dicapai siswa naik menjadi 72,14 dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 68%. Kemudian penelitian dilanjutkan pada siklus 2 dan terjadi peningkatan nilai rata-rata menjadi 83,57 dengan persentase ketuntasan mencapai 93%. Pada akhir penelitian sebesar 7% atau 2 orang siswa belum tuntas, untuk itu peneliti melakukan tindakan pengayaan dengan memberikan tugas tambahan dan bimbingan lebih intensif. Pada hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus 1 sebesar 67% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 92%.

PENUTUP

Kesimpulan

       Berdasarkan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya: 1. Penerapan Snowball Throwing pada siswa kelas V Negeri Mujur 01 telah dilaksanakan dengan baik sesuai  dengan yang direncanakan. Hal ini terlihat dari proses pembelajaran yang berlangsung dengan baik. Berdasarkan respon siswa yang menunjukkan tanggapan positif dengan adanya pembelajaran yang telah dilakukan. Hal ini dapat dilihat pada hasil skor observasi aktivitas siswa meningkat dari siklus I sebesar 68%, sedangkan siklus II menjadi 92 %.  2. Penerapan model pembelajaran snowball throwing dapat meningkatan hasil belajar PKn materi keutuhan NKRI pada siswa kelas V Negeri Mujur 01. Hal ini dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata kelas siswa meningkat dari kondisi awal sebesar 64,64; siklus I sebesar 72,14 dan pada siklus 2  menjadi 83,57. Persentase  ketuntasan hasil belajar siswa meningkat dari kondisi awal sebesar 46%, naik menjadi 68% pada tindakan perbaikan siklus 1 dan meningkat lagi menjadi 92% pada siklus 2.

        Dari pemaparan di atas menunjukkan bahwa model pembelajaran  Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat mencapai kriteria ketuntasan minimal dalam mata pelajaran PKn materi keutuhan NKRI . Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa penelitian telah mengalami keberhasilan.

Saran

Guru hendaknya menggunakan desain tampilan yang menarik dalam mengembangkan model pembelajaran Snowball throwing dalam pembelajaran serta memperbanyak komunikasi yang efektif dalam menyampaikan materi melalui variasi model pembelajaran. Bagi guru, khususnya guru PKn yang ingin menerapkan model Koopertaif dengan metode Snowball Throwing dalam materi keutuhan NKRI, agar berusaha untuk lebih kreatif dalam mengajak siswa ikut ambil bagian dalam penyampaian pendapat. Selain itu, dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model ini, upayakan untuk lebih memperhatikan alokasi waktu karena kendala yang paling sering dialami dalam melaksanakan model ini adalah dari segi pengelolaan waktu.

 DAFTAR PUSTAKA

Andayani. Problema dan Aksioma. Yogyakarta : Deepublish.2015.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Aqib, Zainab, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SD, SLB, TK,  Bandung: CV. Yrama Widya.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Herdian. 2009. Model Pembelajaran Snowball Throwing, (online), diakses tanggal 12 Agustus 2014)

Kunandar. 2011. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan  Profesi Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Kurnianto, Ridha, dkk. 2009. Penelitian tindakan kelas Surabaya : Lapis PGMI.

Purwanto. 2010. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses belajar Mengajar. Bandung: CV. Sinar Baru




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *