Penelitian Tindakan Kelas SD Model Team Quiz

retnoal

MATERI PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAH MELALUI MODEL TEAM QUIZ PADA SISWA KELAS V SDN PASIR WETAN

ABSTRAK

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah upaya peningkatan pemahaman siswa materi perjuangan melawan penjajah melalui model team quiz pada siswa kelas V SDN Pasir Wetan?” Hasilnya pada studi awal siswa yang belum tuntas sebanyak 14 siswa dari 19 siswa kelas V atau sebesar 73%. Pada siklus I siswa yang belum tuntas sebanyak 9 siswa dari 19 siswa kelas V  atau sebesar 47%. Pada siklus II siswa yang belum tuntas sebanyak 5 siswa dari 19 siswa kelas V atau sebesar 26%. Pada siklus III siswa yang belum tuntas sebanyak nol dari 10 siswa atau sebesar 0%. Sedangkan siswa yang dapat menguasai materi pelajaran mengalami kenaikan yang cukup memuaskan, yaitu: Pada siklus I, siswa yang tuntas belajar sebanyak 10 siswa dari 19 siswa kelas V atau sebesar 53%. Pada siklus II, siswa yang tuntas belajar sebanyak 14 siswa dari 19 siswa atau 74%. Pada siklus III, seluruh siswa mencapai ketuntasan belajar atau 100%.

 

Kata kunci: pemahaman siswa, materi perjuangan melawan penjajah, model team quiz

 

PENDAHULUAN

Banyak peran yang harus dimainkan guru dalam upaya membantu siswa menguasai tujuan pembelajaran secara optimal. Secara umum tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai fasilitator, yang bertugas menciptakan situasi yang mamungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Dalam menjalankan tugasnya sebagai fasilitator, ada dua tugas yang harus dilaksanakan guru dalam kegiatan pembelajaran yang efektif.Kedua tugas tersebut adalah sebagai pengelola pembelajaran (instructor/pengajar) dan sebagai pengelola kelas (manager).Sebagai pengelola pembelajaran, guru bertugas untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Sedangkan sebagai pengelola kelas, guru bertugas untuk menciptakan situasi kelas yang memungkinkan terjadinya pembelajaran yang efektif.

Temuan di lapangan, di tempat peneliti bertugas menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Pada studi pendahuluan untuk bidang studi IPS pokok bahasan perjuangan melawan penjajah, hasil tes formatif menunjukkan rendahnya tingkat penguasaan terhadap materi yang diajarkan, hanya lima siswa dari 19 siswa yang mencapai tingkat penguasaan materi 70% ke atas. Jika hal ini dibiarkan, jelas akan berdampak buruk bagi proses dan hasil belajar siswa selanjutnya. Sadar akan keadaan tersebut, peneliti mencoba melakukan upaya perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas (PTK).

Laporan penelitian ini disusun berdasarkan catatan yang dibuat peneliti ketika merancang kegiatan perbaikan pembelajaran, serta selama pelaksanaan perbaikan pembelajaran, observasi, refleksi, studi literatur (library research) dan diskusi bersama supervisor, kepala sekolah, dan teman sejawat.

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini dilakukan peneliti sebanyak tiga siklus. Siklus yang ke tiga diharapkan sebahai hasil yang terbaik yang diharapkan dapat menjadi model pembelajaran selanjutnya baik oelh peneliti maupun oleh pihak lain.

Berdasarkan masalah-masalah yang diidentifikasi di atas, peneliti dapat mengadakan suatu analisis terhadap masalah tersebut.Analis ini penting untuk memperoleh hasil rumusan masalah. Oleh karena itu melalui refleksi diri, kajian literature, dan diskusi dengan teman sejawat dapat diketahui bahwa kemungkinan faktor penyebab rendahnya penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran IPS dan rendahnya minat belajar siswa adalah:

  1. Penjelasan guru terlalu abstrak.
  2. Guru tidak menggunakan media pembelajaran.
  3. Model pembelajaran yang digunakan tidak tepat.
  4. Kurangnya perhatian siswa saat pembelajaran berlangsung.
  5. Guru tidak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran dan penemuan informasi.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dirumuskan masalahnya untuk menjadi fokus perbaikan pembelajaran adalah “Bagaimanakah upaya peningkatan pemahaman siswa materi perjuangan melawan penjajah melalui model team quiz pada siswa kelas V SDN Pasir Wetan?

Variabel yang diteliti dalam laporan perbaikan pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

  1. Input berasal dari : (1) siswa kelas V SDN Pasir Wetan, khususnya 14 siswa yang belum tuntas belajarnya pada pembelajaran IPS pokok bahasan perjuangan melawan penjajah, (2) guru sebagai peneliti dan praktisi, (3) bahan ajar tentang perjuangan melawan penjajah, dan (4) media gambar.
  2. Proses berasal dari : (1) proses pembelajaran mengenai perjuangan melawan penjajah, (2) model pembelajaran kooperatif teknik team quiz, dan (3) kegiatan kerja kelompok dan memecahkan masalah.
  3. Output berasal dari : nilai proses dan hasil tes formatif mengenai perjuangan melawan penjajah.

KERANGKA TEORITIK

Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman berhasil mendarat di Banten, Jawa Barat pada tanggal 22 Juni 1596.Tanggal 20 Maret 1602 dibentuk Perkumpulan Dagang Hindia Timur atau Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Mula-mula kegiatan VOC hanya berdagang. Akan tetapi, lama-kelamaan VOC berusaha menguasai perdagangan (monopoli).Untuk mewujudkan maksud itu VOC membentuk tentara, mencetak mata uang sendiri, dan mengadakan perjanjian dengan raja-raja setempat.Selain untuk menjaga persaingan dengan Bangsa lain yang mencoba masuk ke Indonesia. Pada tanggal 1 Januari 1800, kekuasaan VOC di Indonesia digantikan langsung oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Semua hutang VOC ditanggung oleh Kerajaan Belanda. Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte berhasil menaklukan Belanda. Napoleon mengubah bentuk Negara Belanda dari kerajaan menjadi republic. Napoleon ingin memberantas penyelewengan dan kerupsi serta mempertahankan Pulau Jawa dari Inggris.Ia mengangkat Herman Willem Deandels menjadi Gubernur Jenderal di Batavia. Untuk menahan serangan Inggris, deandels melakukan tiga hal, yaitu: (1) menambah jumlah prajurit, (2) membangun pabrik senjata,kapal-kapal baru, dan pos-pos pertahanan, (3) membangun jalan raya yang menghubungkan pos satu dengan pos lainnya.

Pada tahun 1816, Inggris menyerahkan wilayah Indonesia kepada Belanda.Pemerintah Belanda menunjuk Van Der Capellen sebagai gubernur jenderal.Pada tahun 1830, Van Der Capellen diganti Van Den Bosch.Bosch mendapat tugas mengisi kas Belanda yang kosong.Ia memberlakukan tanam paksa atau cultuur stelsel untuk mengisi kas pemerintah yang kosong. Van Den Bosch membuat aturan-aturan untuk tanam paksa. VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) merupakan perkumpulan dagang Hindia Timur.VOC didirikan di Batavia pada tahun 1602 dan dipimpin oleh seorang Gubernur Jendral bernama Pieter Both dengan tujuan menghindari pertikaian antarpedagang Belanda.Untuk memperkuat kedudukan, VOC mempunyai hak istimewa yaitu Octroi.

Perlawanan yang dilakukan untuk melawan penjajah Belanda antara lain: Perlawanan rakyat Mataram, pada tahun 1628 dan 1629 dipimpin oleh Sultan Agung; Perlawanan rakyat Makassar, pada tahun dipimpin oleh Sultan Hasanudin; Perlawanan rakyat Banten, dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa; Perlawanan Pattimura, pada tanggal 16 Mei 1817 dipimpin oleh Pattimura; Perang Padri, pada tahun 1821-1837 dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol; Perang Diponegoro, pada tahun 1825-1830 dipimpin oleh pangeran Diponegoro; Perang Banjarmasin, pada tahun 1859-1863 di pimpin oleh Pangeran Antasari; Perang Bali, pada tahun 1846-1868 dipimpin oleh Raja Buleleng; Perang Sisingamangaraja XII, pada tahun 1870-1907 dipimpin oleh Sisingamangaraja; Perang Aceh, pada tahun 1873-1906 di daerah Aceh dipimpin oleh Panglima Polim, Teuku Cik Ditiro, Teuku Ibrahim, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dien.

retnoala

Gambar 2.1  Tokoh Pahlawan yang Melawan Penjajah

Tokoh pergerakkan nasional yang berjasa dalam memajukan Indonesia antara lain: Raden Ajeng Kartini, lahir 21 April 1879 di Mayong Kabupaten Jepara, memperjuangkan kemajuan kaum wanita dengan mengangkat derajat wanita agar mempunyai hak yang sama dengan pria, meninggal pada tanggal 17 September 1904 dalam usia 25 tahun; Dewi Sartika, lahir pada tanggal 4 Desember 1884 di Cicalengka Jawa Barat, memperjuangkan kemajuan kaum wanita dengan membuat Sakola Istri yang kemudian berganti menjadi Sakola Kautamaan Istri; Ki Hajar Dewantara, lahir tanggal 2 Mei di Yogyakarta dengan nama kecil R. Suwardi Suryaningrat, Pendiri Indische Partij dengan tujuan ingin mempersatukan Indonesia mencapai kemerdekaan. Pendiri Taman Siswa tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta, organisasi pendidikan dan kebangsaan dengan semboyan “Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani”. Beliau mendapat gelar Bapak Pendidikan Nasional. Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional; Douwes Dekker, dilahirkan pada tanggal 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur. Beliau membela kepentingan buruh, menentang tanam paksa dengan menulis sebuah buku yang menceritakan tentang penderitaan rakyat saat di jajah Belanda yang berjudul Max Havelar dengan nama samaran Multatuli; Haji Samanhudi, jasa mendirikan SDI (Serikat Dagang Islam) dengan tujuan menghimpun perekonomian para pedagang Indonesia dan membantu anggotanya yang mengalami kesulitan; Muhammad Husni Thamrin, menjadi anggota Volstraad (DPR) dan membentuk fraksi nasionalis untuk memperkuat golongan nasionalis. Pada tahun 1939, beliau mengajukan mosi agar istilah Nederlands Indie diganti menjadi istilah Indonesia; Otto Iskandardinata, dilahirkan di Kota Bandung tanggal 31 Maret 1897, berjasa dalam bidang pendidikan dengan menjadi guru SMA di Purworejo dan Banjarnegara, aktif dalam organisasi Budi Utomo di Pekalongan, serta menjadi pengajar di Perguruan Tinggi Muhammadyah; Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta. Tujuan Muhammadiyah adalah mengajarkan agama Islam sesuai dengan Al Quran dan Hadist; Wahid Hasyim, pelopor dan pendiri NU (Nahdatul Ulama). Tujuan NU adalah memecahkan berbagai persoalan umat Islam baik dalam hal agama maupun kehidupan di masyarakat.

  retnoalab

Gambar 2.2 Tokoh Pergerakkan Nasional

Teknik Team Quiz

Menurut Silberman (2013: 175) teknik teamquiz adalah teknik pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa tanggungjawab siswa atas apa yang mereka pelajari dengan cara yang menyenangkan dan tidak mengancam serta menakutkan. Menurut Yanta (Lestari, 2012: 16-17) menyatakan pembelajaran kooperatif teknik teamquiz mempunyai berbagai kelebihan bila digunakan dalam pembelajaran, yaitu: (1) siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, (2) dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan, (3) dapat membantu anak untuk merespon orang lain, (4) dapat memberdayakan siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar, (5) dapat meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, (6) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima umpan balik, (7) dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata, (8) adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu, (9) suasana kelas yang rileks dan menyenangkan, (10) siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas, (11) terjalinnya hubungan hangat dan bersahabat antar siswa dan guru.

Selain mempunyai kelebihan, pembelajaran kooperatif teknik teamquiz juga mempunyai kelemahan (Lestari 2012: 17), yaitu: (1) guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, (2) dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai, (3) ada kecenderungan topik permasalahan yang dibahas meluas, (4) saat diskusi kelas terkadang disominasi seseorang.

Dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan teknik team quiz di atas, peneliti berharap dalam pelaksanaan teknik team quiz guru yakin bahwa seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan optimal. Sebelum pembelajaran guru sudah mempersiapkan semua hal yang diperlukan dalam pembelajaran.

Hipotesis Tidakan

Dengan mempertimbangkan dan merujuk kepada beberapa pendapat pakar di atas, disusunlah hipotesis tindakan sebagai berikut:

  • Penggunaan teknik team quiz dalam pembelajaran IPS bahasan perjuangan melawan penjajah pada siswa kelas V SDN Pasir Wetan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi tersebut.
  • Peningkatan pemehaman siswa akan berdampak positif terhadap peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa.

 

METODE PENELITIAN

Tempat Pelaksanaan Penelitian SDN Pasir Wetan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas, subjek siswa kelas V, Siklus pertama : Rabu, 11 Februari 2015,   Siklus kedua    : Rabu, 18 Februari 2015, Siklus kedua    : Rabu, 25 Februari 2015.

Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data

Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik: (1) catatan dokumen, (2) wawancara, (3) catatan lapangan.

  1. Catatan dokumen berupa hasil pengamatan siswa yang ditulis dalam lembar kerja siswa dan hasil tes formatif pembelajaran IPS pokok bahasan perjuangan melawan penjajah (data kuantitatif).
  2. Wawancara, dimaksudkan untuk menggali kegiatan siswa yang mencakup kesulitan siswa dalam memahami materi perjuangan melawan penjajah (data kualitatif).
  3. Pencatatan lapangan, digunakan untuk pengamatan selama penelitian berlangsung (data kualitatif).

Data kualitatif akan dianalisis dalam bentuk paparan naratif, sedangkan data kuantitatif akan dianalisis dalam bentuk deskripsi dari angka hasil tes formatif dan hasil rekapitulasi rata-rata nilai siklus pertama, kedua, dan ketiga.

Indikator dan Kriteria Keberhasilan

Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan prestasi belajar siswa adalah ketuntasan siswa dalam mempelajari materi.Dengan criteria, siswa dinyatakan tuntas belajar jika telah mencapai tingkat penguasaan materi 70% ke atas.Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan minat belajar siswa adalah keterlibatan siswa secara aktif, jika siswa memberikan respon positif terhadap penjelasan dan pertanyaan yang diajukan guru, aktif dalam mencari dan menemukan informasi, aktif belajar dalam kelompok, dan aktif dalam mengkomunikasikan hasil.

Kriteria untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya perbaikan pembelajaran IPA pokok bahasan perjuangan melawan penjajah adalah sebagai berikut:

  1. Proses perbaikan pembelajaran (peningkatan prestasi belajar siswa) dinyatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa tuntas dalam belajar.
  2. Proses perbaikan pembelajaran (peningkatan minat belajar siswa) dinyatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa terlibat aktif selama proses pembelajaran.

Prosedur Pelaksanaan Tindakan Kelas

Dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan model penelitian yang dikembangkan oleh Arikunto, dkk (2012: 16)dengan langkah atau alur penelitian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi tindakan yang dapat disajikan secara tindakan berikutnya.

Adapun pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini selalu berhubungan dan berkelanjutan di setiap prosesnya, misalnya apabila di siklus I belum memenuhi target atau tujuan yang diharapkan, maka dilakukan perbaikan pada siklus yang selanjutnya melalui analisis masalah dan refleksi tindakan.

Adapun gambaran tentang perencanaan penelitian tindakan kelas, sebagai berikut:

Siklus I

  1. Perencanaan

Pada tahap perencanaan, peneliti bersama guru kelas V menyusun rencana tindakan yang didasarkan pada studi pendahuluan yang telah dilakukan, materi, dan media apa yang akan digunakan, kapan waktu pelaksanaannya. Peneliti mempersiapkan rencana pembelajaran IPS tentang materi kedatangan bangsa Belanda dengan penggunaan teknik team quiz. Perencanaan akan mengalami perbaikan dalam prosedur pembelajaran tergantung apa yang menjadi catatan dari refleksi. Lebih rinci lagi dijabarkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum penelitian tindakan kelas, yaitu: 1) analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar dan materi yang akan diajarkan dalam pelaksanaan, 2) menyusun skenario pembelajaran menggunakan teknik team quiz, 3) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, 4) menyiapkan media pembelajaran, 5) menyusun instrumen tes dan non tes.

  1. Pelaksanaan

Siklus pertama terdiri dari 1 pertemuan.Peneliti menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran IPS materi kedatangan bangsa Belanda.Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran siswa dibentuk kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 siswa. Siswa mengerjakan LKS dan mencatat hasil tentang kedatangan bangsa Belanda.Siswa membuat kesimpulan bersama guru.Kegiatan diakhiri dengan mengerjakan lembar evaluasi.

  1. Observasi

Kegiatan pengamatan dilakukan oleh observer pada saat proses kegiatan belajar mengajar. Observer mengisi lembar observasi, dan hasil dari observer sebagai refleksi untuk siklus berikutnya.

  1. Refleksi

Penelitimelakukan refleksi diri untuk menentukan perencanaan dan tindakan selanjutnya.Refleksi juga didasarkan atas catatan yang dibuat guru atau teman sejawat setelah selesai melaksanakan tindakan/pembelajaran serta hasil kerja siswa yang telah dikumpulkan.

Kegiatan refleksi pada siklus I dijadikan sebagai acuan pelaksanaan siklus II, apabila diketahui bahwa pelaksanaan kegiatan belum sesuai dengan apa yang diharapkan dan masih menemui kendala yang dapat berpengaruh pada pembelajaran maka perlu ada penambahan siklus berikutnya sampai dengan tujuan yang dikehendaki dapat tercapai yaitu penggunaan teknik team quiz yang benar dan tepat melalui proses belajar yang maksimal tercermin dalam tes hasil belajar yang baik.

Siklus II

  1. Perencanaan

Peneliti mempersiapkan rencana pembelajaran IPS tentang materi perlawanan terhadap Belanda dengan penggunaan teknik team quiz. Perencanaan akan mengalami perbaikan dalam prosedur pembelajaran tergantung apa yang menjadi catatan dari refleksi. Lebih rinci lagi dijabarkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum penelitian tindakan kelas, yaitu: 1) mengidentifikasi kendala pada siklus I, 3) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, 4) menyiapkan media pembelajaran, 5) menyusun instrumen tes dan non tes.

  1. Pelaksanaan

Siklus kedua terdiri dari 1 pertemuan. Peneliti menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran IPS materi perlawanan terhadap Belanda yang telah disusun. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran siswa dibentuk kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 siswa. Siswa mengerjakan LKS dan mencatat hasil tentang materi perlawanan terhadap Belanda. Siswa membuat kesimpulan bersama guru.Kegiatan diakhiri dengan mengerjakan lembar evaluasi.

  1. Pengamatan

Kegiatan pengamatan dilakukan oleh observer pada saat proses kegiatan belajar mengajar. Observer mengisi lembar observasi, dan hasil dari observer sebagai refleksi untuk siklus berikutnya.

  1. Refleksi

Refleksi diperlukan untuk menganalisis kendala dan merumuskan solusi untuk kendala yang mucul dalam pelaksanaan pembelajaran. Refleksi dilakukan setiap kali pertemuan dalam satu siklus, agar pertemuan selanjutnya lebih baik dari sebelumnya dan dalam satu siklus tersebut materi ataupun pokok bahasan yang dibahas sudah mengerti oleh siswa dengan indikator-indikator yang sudah disusun.Refleksi pada siklus II dijadikan sebagai acuan untuk pelaksanaan siklus III.

Siklus III

  1. Perencanaan

Tahap perencanaan ini, peneliti mencoba dengan materi tokoh pergerakan nasional.Peneliti mempersiapkan rencana pembelajaran IPS tentang materi tokoh pergerakkan nasional dengan penggunaan teknik team quiz. Perencanaan akan mengalami perbaikan dalam prosedur pembelajaran tergantung apa yang menjadi catatan dari refleksi. Lebih rinci lagi dijabarkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum penelitian tindakan kelas, yaitu: 1) mengidentifikasi kendala pada siklus II, 3) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, 4) menyiapkan media pembelajaran, 5) menyusun instrumen tes dan non tes.

  1. Pelaksanaan

Siklus ketiga terdiri dari 1 pertemuan. Peneliti menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran IPS materi tokoh pergerakan nasional yang telah disusun. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran siswa dibentuk kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 siswa. Siswa mengerjakan LKS dan mencatat hasil tentang tokoh pergerakan nasional.Siswa membuat kesimpulan bersama guru. Kegiatan diakhiri dengan mengerjakan lembar evaluasi.

  1. Pengamatan

Kegiatan pengamatan dilakukan oleh observer pada saat proses kegiatan belajar mengajar. Observer mengisi lembar observasi, dan hasil dari observer sebagai refleksi untuk siklus berikutnya.

  1. Refleksi

Pada tahap ini, refleksi yang dilakukan dengan beberapa pertemuan akan materi yang berbeda dari siklus pertama dan kedua, memerlukan perhatian dalam hal guru mengajarkan materi menggunakan teknik team quiz. Diharapkan pada siklus III sudah sesuai dengan indikator keberhasilan penggunaan model pembelajaran kooperatif teknik team quiz dalam meningkatkan pembelajaran IPS siswa kelas V SDN Pasir Wetan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas. Penelitian dihentikan.

HASIL PENELITIAN

Dalam kegiatan perbaikan pembelajaran IPS pokok bahasan perjuangan melawan penjajah di kelas V menggunakan teknik team quiz diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.1 Nilai Formatif Pembelajaran IPS Pokok Bahasan Perjuangan Melawan Penjajah, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III
No Nama Siswa Studi Awal Siklus I Siklus II Siklus III Keterangan
1 Alvino Setiawan 60 60 70 80 Tuntas
2 Dwi Yuliani 60 70 80 90 Tuntas
3 Nur Hayati Maylina 50 60 70 80 Tuntas
4 Satria Zaki Nandika 40 60 70 80 Tuntas
5 Anam Hidayat 60 80 80 90 Tuntas
6 Annisa Sabila rakhma 70 90 90 100 Tuntas
7 Atika Rahmi Puspita 80 90 100 100 Tuntas
8 Dimas Syarif Hidayat 60 60 70 80 Tuntas
9 Eka Sulistyaningsih 60 80 90 90 Tuntas
10 Ghofar Fikri Syabani 90 90 100 100 Tuntas
11 Nur Fani Oktafiana 60 70 80 80 Tuntas
12 Tri Setiawan 50 60 70 80 Tuntas
13 Rezka Zanita laela N. 60 80 90 80 Tuntas
14 Zidni Febrilian H. 50 60 80 80 Tuntas
15 Vaneza Atalia Gusti P. 80 90 100 90 Tuntas
16 Zaki Miftahul B. 80 90 90 100 Tuntas
17 M. Rivan Farizqi 60 80 80 90 Tuntas
18 Aji Prasetyo 80 80 90 100 Tuntas
19 Ariq Rafi Fakhri 60 70 80 90 Tuntas
Jumlah 1210 1420 1580 1680
Rata-rata 63,6 74,7 83,1 88,4

Berdasarkan data pada tabel 4.1 dapat kita lihat perubahan pada siswa dalam perolehan nilai formatif pada tiap-tiap siklus yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami peningkatan, yaitu:

  1. Pada studi awal siswa yang belum tuntas sebanyak 14 siswa dari 19 siswa kelas V atau sebesar 73%.
  2. Pada siklus I siswa yang belum tuntas sebanyak 9 siswa dari 19 siswa kelas V atau sebesar 47%.
  3. Pada siklus II siswa yang belum tuntas sebanyak 5 siswa dari 19 siswa kelas V atau sebesar 26%.
  4. Pada siklus III siswa yang belum tuntas sebanyak nol dari 10 siswa atau sebesar 0%.

Sedangkan siswa yang dapat menguasai materi pelajaran mengalami kenaikan yang cukup memuaskan, yaitu:

  1. Pada siklus I, siswa yang tuntas belajar sebanyak 10 siswa dari 19 siswa kelas V atau sebesar 53%.
  2. Pada siklus II, siswa yang tuntas belajar sebanyak 14 siswa dari 19 siswa atau 74%.
  3. Pada siklus III, seluruh siswa mencapai ketuntasan belajar atau 100%.
Tabel 4.2 Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I, Siklus II, dan Siklus III
No Pembelajaran Siswa yang Tuntas Siswa yang Belum Tuntas
1 Studi awal 5 27% 14 73%
2 Siklus I 10 53% 9 47%
3 Siklus II 14 74% 5 26%
4 Siklus III 19 100% 0 0%

Pada tabel 4.2 terlihat jelas setelah pelaksanaan perbaikan pembelajaran IPS pokok bahasan perjuangan melawan penjajah menunjukkan adanya peningkatan siswa terhadap penguasaan materi pada setiap siklus.Dari studi awal ke siklus I mengalami kenaikan yang cukup baik yaitu 26%.Dari siklus I ke siklus II naik 21%.Dari siklus II ke siklus III naik 26%.Pada siklus III menunjukkan bahwa semua siswa telah tuntas belajarnya.

retno

Gambar 4.1 Diagram Batang Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I, II, III Pembelajaran IPS Pokok Bahasan Perjuangan Melawan Penjajah

Berdasarkan gambar 4.1 di atas terbukti bahjwa tingkat ketuntasan belajar siswa mengalami kenaikan, dari studi awal ke siklus I mengalami kenaikan 26%, dari siklus I ke siklus II naik 21%, dari siklus II ke siklus III naik 26%.Pada siklus III menunjukkan bahwa semua siswa kelas V SDN Pasir Wetan telah tuntas belajarnya.

Pembahasan

Langkah-langkah teknik teamquiz menurut Silberman (2013: 175) yaitu: (1) pilihlah topik yang dapat disajikan dalam tiga segmen, (2) bagilah siswa menjadi tiga tim, (3) jelaskan format pelajaran  dan mulailah penyajian materinya. Batasi hingga 10 menit atau kurang dari itu, (4) perintahkan Tim A untuk menyiapkan kuis jawaban singkat.Kuis tersebut harus sudah siap dalam tidak lebih dari 5 menit. Tim B dan C menggunakan waktu ini untuk memeriksa catatan mereka, (5) tim A member kuis kepada anggota Tim B. Jika Tim B tidak dapat menjawab satu pertanyaan, Tim C segera menjawabnya, (6) tim A mengarahkan pertanyaan berikutnya kepada anggota Tim C, dan mengulang proses tersebut, (7) ketika kuisnya selesai, lanjutkan dengan segmen kedua hari dari pelajaran Anda, dan tunjuklah Tim B sebagai pemandu kuis, (8) setelah Tim B menyelesaikan kuisnya, lanjutkan dengan segmen ketiga dari pelajaran Anda, dan tunjuklah Tim C sebagai pemandu kuis.

Pendapat di atas benar, terbukti dapat meningkatkan pembelajaran IPS pokok bahasan perjuangan melawan penjajah melalui tiga siklus dengan menggunakan teknik team quizyang sesuai dengan karakteristik siswa.

 

PENUTUP

Berdasarkan temuan dan hasil yang diperoleh daapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Penggunaan teknik team quiz dalam pokok pembahasan perjuangan melawan penjajah dapat meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar siswa. Peningkatan minat balajar siswa telah memberikan konstribusi positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Meningkatnya hasil belajar siswa terbutki dengan peningkatan penguasaan siswa terhadap materi pada tiap siklusnya.

DAFTAR PUSTAKA

Silberman, Melvin L. (2013). Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusa Media dan Nuansa Cendekia.

Susilaningsih, Endang. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial 5: untuk SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Depdiknas.

Syamsiyah, Siti. 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial: untuk Kelas V SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Depdiknas.

Yuliati, Reny. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial: SD/MI Kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan, Depdiknas.

BIODATA PENULIS

Nama                           : Retno, Albiro, S. Pd.

NIP                             : 19631009 198405 2 004

JABATAN                  : KEPALA SDN Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *