PTK SD : Metode Demonstrasi Pada Keterampilan Proses Materi Gaya

OPTIMALISASI PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES PADA MATERI GAYA BAGI PESERTA DIDIK KELAS V SD NEGERI KADIPATEN KECAMATAN WIRADESA SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2015/2016

 

Oleh :

Dumilah S. Pd

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: mendiskripsikan peningkatkan keterampilan proses, hasil belajar, perubahan perilaku peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya melalui metode demonstrasi. Hasil penelitian akhir menunjukkan keterampilan proses mengalami peningkatan siklus I memperoleh skor 52,87%, siklus II 87,40%. Hasil belajar siswa pada pra siklus 54,8 siklus I 67,4.siklus II 83,8.. Ketuntasan klasikal pada pra siklus 24%, siklus I 60% dan pada siklus II 80%. Peningkatan perilaku siswa pada siklus I 54,8%, pada siklus II 85,4% . Dengan demikian penelitian ini dapat disimpulkan melalui optimalisasi penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan keterampilan proses, hasil belajar, perubahan perilaku pada materi gaya peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Kec. Wiradesa semester 2 tahun pelajaran 2015/2016.

Kata kunci: Metode Demonstrasi, Keterampilan Proses, Gaya

 

PENDAHULUAN

IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang dipelajari oleh peserta didik kelas V SD. Salah satu materi IPA yang sulit dipahami peserta didik di kelas V SD adalah tentang gaya. Rendahnya pemahaman peserta didik terhadap gaya disebabkan peserta didik kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Guru lebih banyak berceramah, sehingga peserta didik tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan sulit untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Hal ini berdampak pada rendahnya hasil belajar dan keterampilan proses peserta didik pada materi gaya magnet.

Belajar tentang materi gaya merupakan salah satu fokus utama pembelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar, termasuk di SD Negeri Kadipaten Kecamatan Wiradesa. Harapan Sekolah, hasil belajar pada pembelajaran ini lebih optimal sesuai dengan nilai KKM yaitu 68. Pada materi tentang gaya peserta didik dibelajarkan mengenai benda-benda yang bersifat magnetis dan non magnetis, kekuatan gaya magnet dalam menembus beberapa benda, jarak kekuatan gaya magnet, letak gaya magnet yang paling besar materi membuat magnet dengan cara menggosok, membuat magnet dengan cara induksi, membuat magnet dengan cara aliran listrik, materi kekuatan gaya magnet terkuat berada di ujung kedua kutubnya, nama kutub-kutub magnet, gaya tarik-menarik dan tolak-menolak pada magnet,  cara memperbesar atau memperkecil gaya gesekan menyelidiki pengaruh kasar dan halusnya permukaan terhadap gerak suatu benda membandingkan kecepatan jatuh dua benda yang berbeda dan dengan ketinggian yang sama, pengaruh gaya gravitasi bumi menyebabkan benda bergerak ke bawah.

Tetapi kenyataan yang ada di SD Negeri Kadipaten hasil belajar dan keterampilan peserta didik belum optimal. Hal ini dilihat dari hasil belajar peserta didik pada tes awal dengan jumlah 25 peserta didik secara keseluruhan, peserta didik yang tuntas hanya 6 orang atau 24% dan peserta didik yang tidak tuntas ada 19 orang atau 76%. Hal tersebut disebabkan oleh pembelajaran hanya berpusat pada guru dan peserta didik tidak dilibatkan dalam pembelajaran maupun penggunaan media sehingga keterampilan peserta didik dan hasil belajar peserta didik memperoleh nilai yang rendah.

Hakekat pelajaran IPA adalah IPA sebagai produk, sikap, dan proses. Dengan demikian pembelajaran IPA tidak hanya mengutamakan pemberian konsep-konsep IPA, namun perlu melibatkan panca indera peserta didik secara maksimal. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi rendahnya hasil belajar peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten pada materi gaya adalah dengan memaksimalkan panca indera peserta didik melalui metode demonstrasi. Melalui metode ini selain guru menjelaskan materi gaya, peserta didik dapat dilibatkan dalam memecahkan masalah melalui kegiatan belajar penemuan sehingga pembelajaran lebih bermakna, peserta didik dapat mengolah informasi sendiri, tidak menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar, dan penemuan-penemuan yang diperoleh sulit untuk terlupakan, sehingga hasil belajar peserta didik meningkat

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimanakah peningkatkan keterampilan proses peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya melalui metode demonstrasi, 2) bagaimanakah peningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya melalui metode demonstrasi, 3) bagaimanakah peningkatkan perubahan perilaku peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya melalui metode demonstrasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) mendiskripsikan peningkatkan keterampilan proses peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya melalui metode demonstrasi, 2) mendiskripsikan peningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya melalui metode demonstrasi, 3) mendiskripsikan peningkatkan perubahan perilaku peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya melalui metode demonstrasi.

LANDASAN TEORI

Pengertian IPA

Menurut Srini M. Iskandar (2001:12), IPA adalah pengetahuan manusia yang luas yang didapatkan dengan cara observasi dan eksperimen yang sistematik, serta dijelaskan dengan bantuan aturan aturan, hukum-hukum, prinsip-prinsip teori dan hipotesis-hipotesis. Trianto (2010:136) berpendapat bahwa IPA atau ilmu pengetahuan alam merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau sains yang berasal dari bahasa Inggris yaitu science.

Kata IPA merupakan singkatan dari Ilmu Pengetahuan Alam. Dari segi istilah yang digunakan Ilmu Pengetahuan Alam berarti ilmu tentang pengetahuan alam. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu ilmu yang merupakan tulang punggung teknologi, terutama teknologi manufaktur dan teknologi modern. Teknologi modern seperti teknologi informasi, elektronika, komunikasi, teknologi transportasi, merupakan penguasaan Ilmu Pengetahuan Alam yang cukup mendalam. Tanpa penguasaan Ilmu Pengetahuan Alam yang memadai bekal ilmu sumber daya manusia kita akan kurang kuat untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain di Negara kita, apa lagi di Negara di sekitar kita (Depdiknas, 2011:61).

Berdasarkan pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa IPA adalah sebagai suatu proses upaya manusia untuk memahami berbagai gejala-gejala alam dengan cara yang sistematik dan menghasilkan suatu produk yang telah diuji kebenarannya.

Keterampilan Proses

Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi. Pendekatan dalam keterampilan proses dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar memperhatikan pengembangan pengetahuan sikap, nilai serta keterampilan. Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak didik menyadari, memahami dan menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang berhubungan dengan hasil belajar yang telah dicapai peserta didik. Rangkaian bentuk kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, dan mengkomunikasikan (Rustaman, 2003:67).

Metode Demonstrasi

Djamara & Zain (2006:90) mengemukakan bahwa metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan yang sering disertai dengan penjelasan lisan.

Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung subyek atau cara melakukan sesuatu, sehingga peserta didik mempelajari materi pelajaran melalui serangkaian proses. Metode demonstrasi dipilih karena proses pembelajaran IPA sebaiknya menyediakan serangkaian pengalaman berupa kegiatan nyata yang rasional atau dapat dimengerti peserta didik dan memungkinkan terjadi interaksi sosial. Saat proses belajar berlangsung peserta didik harus terlibat secara langsung dalam kegiatan nyata (Sutarno, 2007:76).

Menurut Surya (2008:16) bahwa Demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu peserta didik untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar.

Rostiyah (2008:83) menjelaskan bahwa demonstrasi hampir sejenis dengan metode eksperimen. Tetapi peserta didik tidak melakukan percobaan, hanya melihat saja apa yang dikerjakan oleh guru. Jadi metode demonstrasi adalah cara mengajar dimana seorang instruktur atau tim guru menunjukkan, memperlihatkan sesuatu proses misalnya merebus air sampai mendidih 1000C, sehingga seluruh peserta didik dalam kelas dapat melihat langsung, mengamati mendengarkan dan bahkan mungkin meraba dan merasakan proses yang dipertunjukkan oleh guru tersebut.

Dari berbagai pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran peserta didik hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berfikir, maka dapat dibuat rumusan hipotesis tindakan yang diajukan pada penelitian ini adalah : melalui metode demonstrasi diduga meningkatkan keterampilan proses peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya, melalui metode demonstrasi diduga meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya melalui metode demonstrasi, melalui metode demonstrasi diduga meningkatkan perubahan perilaku peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 pada materi gaya.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri Kadipaten pada tahun pelajaran 2015/2016 semester 2 pada bulan Februari sampai April 2016. Subyek dalam penelitihan ini adalah peserta didik kelas V yang terdiri atas 25 peserta didik dengan rincian laki-laki 21 orang dan perempuan 4 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti pada penelitian ini berupa teknik tes dan non tes. Teknik tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik, sedangkan teknik non tes dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan catatan lapangan.

Analisis data dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil yang diperoleh dari data penelitian yang telah dilakukan pada setiap pertemuan. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan hasil pengamatan yang berasal dari lembar observasi peserta didik. Deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengolah data dari hasil LKS. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa lembar observasi penilaian keterampilan dalam kelompok peserta didik, perilaku peserta didik, dan hasil belajar peserta didik. Adapun analisis yang digunakan adalah sebagai berikut.

Validasi data mencerminkan hasil prestasi belajar peserta didik yang telah dicapai secara benar. Pada penelitian ini validasi data menggunakan teknik trianggulasi artinya data yang terkumpul dari beberapa kegiatan yaitu kegiatan pembelajaran baik yang diperoleh dari guru maupun peserta didik, diselaraskan dengan sumber belajar dari beberapa teori dengan penemuan peneliti dan teman sejawat dianalisis hingga didapat data yang valid.

Sumber data peserta didik diperoleh dari lembar observasi keterampilan dalam kelompok dan perilaku peserta didik yang diperoleh secara sistematik selama pelaksanaan siklus pertama sampai siklus kedua, dan dari hasil evaluasi belajar kognitif peserta didik. Sumber data dokumen berasal dari data awal hasil tes sebelum maupun setelah dilaksanakan tindakan.

Pembelajaran yang dilakukan dengan apersepsi, penyampaian tujuan pembelajaran, dan penjelasan kegiatan yang akan dilakukan peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran, dimulai dengan: guru menjelaskan materi,guru menyiapkan alat-alat untuk melakukan kegiatan demonstrasi pada materi yang di pelajari,guru melakukan demonstrasi pada materi yang dipelajari, peserta didik di bagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok 4-5 peserta didik, dengan dibimbing guru, peserta didik melakukan kegiatan demonstrasi, guru mempersilahkan peserta didik mengerjakan soal yang ada pada lembar latihan LKS, guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui peserta didik, guru bersama peserta didik bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan, membuat kesimpulan dari tiap materi yang disampaikan, guru menyampaikan pembelajaran pertemuan selanjutnya dan persiapannya, pemberian PR / tugas

Indikator Keberhasilan

Indikator penelitian ini adalah : hasil belajar IPA pada peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten meningkat sekurang kurangnya dengan ketuntasan individual ≥ 68 dan ketuntasan klasikal ≥ 75%, keterampilan proses peserta didik dalam pembelajaran IPA menggunakan metode demonstrasi meningkat sekurang-kurangnya 75% (Baik), Perilaku peserta didik dalam pembelajaran IPA menggunakan metode demonstrasi meningkat sekurang-kurangnya 75% (baik).

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dari tabel pembelajaran awal sampai perbaikan pembelajaran siklus II pada mata pelajaran IPA kelas V semester 2 dengan materi gaya di SD Negeri Kadipaten, dapat disajikan sebagai berikut :

Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Tabel 1. Hasil Belajar Antar Siklus

Kriteria Pra Siklus Siklus I Siklus II
Rata-rata 54,8 67,4 83,8
Peningkatan 29
Yang Tuntas 6 siswa

(24%)

15 siswa (60%) 20 siswa (80%)
Peningkatan 36% 56%
Yang belum tuntas 19 siswa (76%) 10 siswa (40%) 5 siswa

(20%)

Berdasarkan table 1 dapat dilihat bahwa rata-rata siswa pada pra siklus memperoleh 54,8 di siklus I mengalami peningkatan rata-rata 67,4 padahal indikator keberhasilan yang diharapkan adalah 68 maka dilakukan tindakan selanjutnya yaitu dilanjutkan ke siklus II dengan fokus pada permasalahan yang ada di siklus I, hasilnya setelah dilakukan tindakan di siklus II siswa memperoleh nilai rata-rata 83,8 hasil ini sudah melampaui indikator yang ditentukan maka penelitian dihentikan. Peningkatan rata-rata dari pra siklus sampai siklus II yaitu 29. Pada ketuntasan klasikal pada pra siklus hanya 24% siswa yang tuntas, setelah diadakan tindakan pada siklus I siswa yang tuntas 60% dan pada siklus II 80% dari indikator yang ditentukan yaitu 75% siswa yang tuntas dalam belajar. Peningkatan siswa pada ketuntasan klasikal pra siklus ke siklus I adalah 36% dan dari pra siklus ke siklus II adalah 56%. Dari berbagai peningkatan yang muncul pada pelaksanaan tindakan siklus II maka penelitian di hentikan sebab sudah memenuhi indikator yang ditentukan yaitu hasil belajar rata-rata kelas memperoleh nilai 83,8 dari yang di tentukan yaitu  68 dan ketuntasan klasikal siswa memperoleh 80% dari yang ditentukan yaitu 75%. Lebih jelasnya

Peningkatan Hasil Penilaian Keterampilan dalam Kelompok

Tabel 2. Hasil Penilaian Keterampilan dalam Kelompok Antar Siklus

No Indikator yang Dinilai Hasil

Siklus I

Hasil

Siklus II

1 Kerjasama 160 260
2 Keaktifan 154 260
3 Ketelitian 148 263
4 Tanggung Jawab 157 265
5 Semangat 174 263
Jumlah 793 1311
Rata-rata 158,60 262,2
Prosentase 52,87% 87,40%
Kategori Kurang Baik Sekali
Peningkatan 34,53%

Berdasarkan tabel 2. Hasil penilaian keterampilan dalam kelompok siswa antar siklus, pada siklus I siswa memperoleh skor 52,87% atau dalam kategori kurang. Padahal indikator keberhasilan yang ditentukan adalah 75%. Hal ini disebabkan guru dalam melaksanakan pengkondisian kelas dari kegiatan awal hingga akhir pembelajaran masih kurang maksimal dan juga dalam kegiatan kerja kelompok masih banyak siswa yang masih pasif dalam mengikuti kerja kelompok dan hanya beberapa siswa saja yang mengerjakan lembar kerja siswa. Oleh karena itu dilakukan tindakan lanjutan yaitu siklus II. Pada siklus II ada peningkatan yaitu memperoleh skor 87,40% atau dalam kategori baik sekali. Total peningkatan dari siklus I sampai siklus II adalah sebesar 34,53%.

Perubahan Perilaku Siswa

Tabel 3. Hasil Perilaku Siswa Antar Siklus

No Indikator yang Dinilai Hasil

Siklus I

Hasil

Siklus II

1 Disiplin 164 254
2 Percaya Diri 165 254
3 Antusias 164 255
4 Kerja Sama 163 257
5 Aktif 166 261
Jumlah 822 1281,00
Rata-rata 164,40 256,20
Prosentase 54,8% 85,40%
Kategori Kurang Baik sekali
Peningkatan 30,6%

Keterangan: Berdasarkan tabel 3. Hasil observasi perilaku siswa pada siklus I memperoleh skor 54,8% atau dalam kategori kurang, padahal indikator keberhasilan yang ditentukan adalah 75%. Setelah dilakukan perbaikan di siklus II meningkat 85,4%  atau dalam kategori baik sekali, Guru dalam melaksanakan pengkondisian kelas dari kegiatan awal hingga akhir pembelajaran sangat maksimal dan baik, dalam kegiatan kerja kelompok mayoritas siswa aktif dan mayoritas siswa mengerjakan lembar kerja siswa.

 

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis, rumusan masalah, dan pembahasan penelitian tindakan kelas ini, dapat disimpulkan sebagai berikut: keterampilan proses peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten pada materi gaya mengalami peningkatan setelah mengikuti pembelajaran melalui metode demonstrasi, hasil belajar peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten pada materi gaya mengalami peningkatan setelah mengikuti pembelajaran melalui metode demonstrasi, perubahan perilaku peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten pada materi gaya mengalami peningkatan setelah mengikuti pembelajaran melalui metode demonstrasi.

Saran Tindak Lanjut

Berdasarkan pengalaman peneliti selama melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas di kelas V SD Negeri Kadipaten saran dan tindak lanjut sebagai berikut: guru sebaiknya mengusahakan menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif sehingga siswa tidak merasa jenuh dan bosan selama pembelajaran berlangsung, guru harus memberi motivasi dan bimbingan pada siswa yang mengalami kesulitan,guru hendaknya menciptakan suasana belajar yang aktif, kondusif dan menyenangkan,siswa perlu dilatih untuk bergaul dan bekerjasama yang harmonis dalam kelompoknya denagn kegiatan yang positif. Oleh karena itu bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas tertentu merupakan cara yang efektif untuk melatih sifat sosial pada siswa, metode demonstrasi bisa menjadi salah satu alternatif media dalam pembelajaran terutama pada kelas V SD yang masih kesulitan dalam memahami materi karena berupa konsep.

DAFTAR PUSTAKA

Darma, Surya. 2008. Menumbuhkan Semangat Kerjasama. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Balitbang dan Puskur.

Djamarah & Zain. 2006. Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Roestiyah. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Rustaman, Nuryani, dkk. 2011. Materi dan Pembelajaran IPA SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Srini M. Iskandar. 2001. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung: CV. Maulana.

Trianto. 2010. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT Prestasi Pustaka.

 

BIODATA PENULIS

Nama                            : Dumilah, S. Pd.

NIP                               : 19630327 198304 2 006

Jabatan                          : Guru kelas V

Instansi                          : SD Negeri Kadipaten- Wiradesa

Alamat                          : Ds. Petukangan- Wiradesa

No. HP                           : 085869011672




One thought on “PTK SD : Metode Demonstrasi Pada Keterampilan Proses Materi Gaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *