http://www.infopasti.net/ptk-sd-pai-pembelajaran-kooperatif-model-learning-together/

PTK SD Belajar PAI Menerapkan Model Learning Together

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING TOGETHER PADA SISWA KELAS VI

bisri

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran kooperatif model learning together terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam. (b) Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model learning together. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas VI Semester Ganjil. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (60,71%), siklus II (75,00%), siklus III (89,29%). Simpulan dari penelitian ini adalah metode kooperatif model learning together dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa VI Semester Ganjil, serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative Pendidikan Agama Islam .

Kata Kunci: Pembelajaran PAI, Kooperatif, Model Learning together

PENDAHULUAN

Pada abad 21 ini, kita perlu menelaah kembali praktik-praktik pembelajaran di sekolah-sekolah. Peranan yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan dalam mempersiapkan akan didik untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat di abad 21 akan sangat berbeda dengan peranan tradisional yang selama ini dipegang oleh sekolah-sekolah.

Tampaknya, perlu adanya perubahan paradigma dalam menelaah proses belajar siswa dan interaksi antara siswa dan guru. Sudah seyogyanyalah kegiatan belajar mengajar juga lebih mempertimbangkan siswa. Siswa bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisi dengan muatan-muatan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. Selain itu, alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa yang lainnnya. Bahkan, banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru. Sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem “pembelajaran gotong royong” atau cooperative learning. Dalam sistem ini, guru bertindak sebagai fasilitator. metode kerja kelompok sering dianggap kurang efektif. Berbagai sikap dan kesan negative memang bermunculan dalam pelaksaan metode kerja kelompok. Jika kerja kelompok tidak berhasil, siswa cenderung saling menyalahkan. Sebaliknya jika berhasil, muncul perasaan tidak adil. Siswa yang pandai/rajin merasa rekannya yang kurang mampu telah membonceng pada hasil kerja mereka. Akibatnya, metode kerja kelompok yang seharusnya bertujuan mulia, yakni menanamkan rasa persaudaraan dan kemampuan bekerja sama, justru bisa berakhir dengan ketidakpuasaan dan kekecewaaan. Metode pembelajaran gotong royong distruktur sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota dalam satu kelompok melaksanakan taanggung jawab pribadinya karena ada sistem akuntabilitas individu. Siswa tidak bisa begitu saja membonceng jerih payah rekannya dan usaha setiap siswa akan dihargai sesuai dengan poin-poin perbaikannya.

Merujuk pada uraian latar belakang di atas, dapat dikaji ada beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apakah pembelajaran kooperatif model learning together berpengaruh terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa VI Semester Ganjil, tahun pelajaran 2013/2014?
  2. Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model learning together pada siswa Kelas VI Semester Ganjil tahun pelajaran 2013/2014?

 

LANDASAN TEORI

Pengertian tradisional menitikberatkan pada metode imposisi, yakni pengajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi murid (Hamalik, Oemar: 2001: 157). Cara ini tidak mempertimbangkan apakah bahan pelajaran yang diberikan itu sesuai atau tidak dengan kesanggupan, kebutuhan, minat, dan tingkat kesanggupan, serta pemahaman murid. Tidak pula diperhatikan apakah bahan-bahan yang diberikan itu didasarkan atas motif-motif dan tujuan yang ada pada murid. berdasarkan pada masalahyang menarik minat siswa, system persekolahan lainnya, sehingga sejak itu pula para ahli berpendapat, bahwa tingkah laku manusia didorong oleh motif-motif tertentu, dan perbuatan belajar akan berhasil apabila didasarkan pada motivasi yang ada pada murid. Murid dapat dipaksa untuk mengikuti semua perbuatan, tetapi ia tidak dapat dipaksa untuk menghayati perbuatan itu sebagaimana mestinya. Seekor kuda dapat digiring ke sungai tetapi tidak dapat dipaksa untuk minum. Demikian pula halnya dengan murid, guru dapat memaksakan bahan pelajaran kepada mereka, akan tetapi guru tidak mungkin dapat memaksanya untuk belajar dalam arti sesungguhnya. Inilah yang menjadi tugas paling berat yakni bagaimana caranya berusaha agar murid mau belajar, dan memiliki keinginan untuk belajar secara kontinyu.

Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukian sesuatu, atau keadaan seorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam arti individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000: 28). Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.

Jenis motivasi ini timbut sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama di kelasnya. (Usman, 2000: 29).

Telah disepakati oleh ahli pendidikan bahwa guru merupakan kunci alam proses belajar mengajar. Bila hal ini dilihat dari segi nilai lebih yang dimiliki oleh guru dibandingkan dengan siswanya. Nilai lebih ini dimiliki oleh guru terutama dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru bidang studi pengajarannya. Disamping itu kegiatan mengajar adalah satu aktivitas yang sangat kompleks, karena itu sangat sukar bagi guru PAI bagaimana caranya mengajar dengan baik agar dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar PAI.

Model LT (Learning Together)

Para siswa dikelompokkan ke dalam tim dengan empat sampai lima orang per tim dan heterogen kemampuannya. Para siswa bekerja sebagai suatu kelompok untuk menyelesaikan sebuah produk kelompok, berbagai gagasan, dan membantu satu sama lain dengan jawaban, dan meminta bantuan dari teman yang lain sebelum bertanya kepada guru, dan si guru memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan kinerja kelompok.

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, dapat diambil hipotesis tindakan sebagai berikut: Penerapan pembelajaran kooperatif model learning together dapat Meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam materi Ibadah Bulan Romadhon pada Siswa Kelas VI SD Negeri Kalijurang 02, Tonjong, Brebes  Tahun Ajaran 2013/2014.

METODE  PENELITIAN.

            Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di Kelas VI Semester Ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Waktu penelitian adalah waktu berlangsung nya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September  semester Ganjil tahun pelajaran 2013/2014 pada pokok bahasan Ibadah bulan Ramadan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Seiring dengan berkembang pesatnya ilmu teknologi dalam era globalisasi ini, Pendidikan Agama Islam sangat di butuhkan untuk pembentukan karakter bangsa dan juga merupakan ilmu dasar yang sangat penting dan berperan dalam penyelesaian persoalan dan permasalahan  pada kehidupan sehari-hari, namun disisi lain masih banyak siswa yang menganggap bahwa Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang sukar, tidak menarik dan menakutkan. Berdasarkan hasil prasiklus pembelajaran khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VI SD Negeri Kalijurang 02, Kecamatan Tonjong, Brebes yang peneliti laksanakan masih memperolah nilai yang rendah dari 22 siswa hanya 5 siswa (22,73 % ) yang tuntas dan 17 siswa ( 77,27% ) yang belum tuntas.

Deskripsi Siklus I

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan model pembelajaran Learning Together, dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.

Pelaksanaan kegiatan belajar mngajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 4 September 2013 di Kelas VI jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan dengan menerapkan pembelajaran model Learning Together diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 70,00 dan ketuntasan belajar mencapai 68,18% atau ada 15 siswa dari 22 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ³ 65 hanya sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan pembelajaran model Learning Together

Deskripsi Siklus II

Tahap perencanaan. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 11 September 2013 di Kelas VI dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 77,73 dan ketuntasan belajar mencapai 79,01% atau ada 17 siswa dari 22 siswa sudah tuntas belajar.

Deskripsi Siklus III

Tahap perencanaan. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 18 September 2013 di Kelas 6 dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

 

Tabel 1

Rekapitulasi  Hasil  Nilai  Pra Siklus, Siklus I, II, dan III

No Interval  Nilai Kategori Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3
1 < 70,00 KURANG 27 24 12 5
2 70,00 – 80,00 SEDANG 10 13 21 24
3 80,01 –  90,00 BAIK 0 0 4 8
4 90,01 – 100 BAIK  SEKALI 0 0 0 0
JUMLAH 22 22 22 22

PENUTUP

   Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Model pengajaran Learning Together dapat meningkatkan kualitas pembelajaran PAI.
  2. Pembelajaran model Learning Together memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (68,18%), siklus II (79,01%), siklus III (86,36%).
  3. Model pengajaran Learning Together dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide dan pertanyaan.
  4. Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok, serta mampu mempertanggungjawabkan segala tugas individu maupun kelompok.
  5. Penerapan pembelajaran model Learning Together mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineksa Cipta.

Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

BIODATA PENULIS

Nama               : Bisri, S.Pd.I.

NIP                  : 19601015 198405 1 001

Tempat Tanggal Lahir : Brebes, 15 Oktober 1960

Unit Kerja        : SDN Kalijurang  02, Kecamatan  Tonjong Kabupaten Brebes

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *