PTK SD : Penggunaan Alat Perga Manik-manik Untuk Matematika Fpb dan Kpk

OPTIMALISASI PENGGUNAAN ALAT PERAGA MANIK-MANIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA FPB DAN KPK BAGI SISWA KELAS VB SD NEGERI KARANGNANGKA PADA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/ 2017

oleh:

Tri Suprihatin, S.Pd.

Pembina , IV/a

NIP 19610703 198201 2 004

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Matematika sekolah dasar melalui penggunaan alat peraga. Sedangkan secara khusus bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Matematika sekolah dasar melalui penggunaan alat peraga manik-manik bagi siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017 bertempat di SD Negeri Karangnangka Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng. Subyek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017 yang berjumlah 21 siswa yang teridiri 10 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki.Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknik tes. Sesuai dengan materi pelajaran yaitu tentang pesawat sederhana maka tes yang digunakan adalah tes tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui alat peraga manik-manik, hasil belajar Matematika FPB dan KPK siswa kelas IVB SD Negeri Karangnangka pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017 dapat ditingkatkan. Dari rata-rata nilai pada kondisi awal yang hanya 66,71 dapat ditingkatkan menjadi 82,38 pada kondisi akhir.

Kata kunci: alat peraga manik-manik, FPB, KPK, hasil belajar

PENDAHULUAN

SD Negeri Karangnangka merupakan tempat belajar yang mengesankan pada proses kegiata  mengajar siswa. Dalam pembelajaran Matematika di kelas VB SD Negeri Karangnangka Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng sampai saat ini kemampuan yang dimiliki oleh siswa masih rendah dalam hal menghitung serta belum dapat memperlihatkan hasil yang memuaskan. Dari dua kali mengerjakan tugas harian mata pelajaran Matematika, nilai rata-rata yang diperoleh hanya 66,71 (enam enam koma tujuh satu).

Di sisi lain, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah ditentukan bahwa kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk mata pelajaran Matematika adalah 75. Artinya bahwa siswa dapat dinyatakan tuntas dalam mempelajari suatu materi pelajaran Matematika manakala mereka dapat mencapai nilai minimal 75. KKM ini sebagai prasarat siswa dapat melanjutkan pelajaran berikutnya, sebab materi pelajaran-materi pelajaran yang ditargetkan dalam kurikulum merupakan satu rangkaian berjenjang. Siswa akan lebih mudah mempelajari suatu materi pelajaran apabila telah memahami materi berikutnya. Di samping itu, pencapaian KKM ini merupakan syarat bagi siswa untuk dapat naik kelas. Siswa yang dinyatakan naik kelas berarti mereka dinyatakan pula telah siap mengikuti program pembelajaran di tingkat berikutnya. Untuk siswa kelas VB yang naik kelas berarti mereka telah siap mengikuti program pembelajaran di kelas VI. Semakin tinggi tingkatan kelas maka semakin tinggi pula tingkat kesulitan materi pelajarannya. Itulah esensi dasar mengapa dalam KTSP ditentukan pula KKM masing-masing mata pelajaran.

Dengan mencermati uraian di atas maka jelaslah terlihat adanya kesenjangan antara kenyataan yang ada dengan harapan yang diinginkan. Kenyataan yang ada menunjukkan masih rendahnya hasil belajar siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka khususnya mata pelajaran Matematika. Di sisi lain munculnya harapan semua pihak  baik guru, maupun orang tua/ wali siswa agar semua siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka dapat mencapai nilai hasil belajar minimal atau sama dengan kriteria ketuntasan minimal sehingga pada akhir tahun pelajaran mereka dapat naik ke kelas VI. Bahkan bukan hanya sekedar naik kelas, tetapi dapat memperoleh nilai yang sangat memuaskan.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan masih rendahnya hasil  belajar bagi siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka pada semester I tahun pelajaran 2016/2017. Misalnya karena terlalu seringnya pergantian  kurikulum, atau materi mata pelajaran Matematika masih terlalu sukar untuk tingkatan siswa sekolah dasar kelas VB atau alokasi waktu yang tersedia untuk mata pelajaran Matematika terlalu sedikit atau tidak tepatnya teknik penanaman konsep dasar mata pelajaran Matematika atau penggunaan media yang  tidak tepat atau minimnya alat peraga untuk pembelajaran Matematika atau mungkin dikarenakan belum optimalnya penggunaan alat peraga untuk mata pelajaran Matematika.

Dari sekian banyak penyebab rendahnya hasil belajar tersebut tidak mungkin akan dapat dibahas seluruhnya dalam penelitian tindakan kelas ini. Sesuai dengan kaidah yang berlaku bahwa dalam satu penelitian hanya mungkin untuk menyelidiki satu permasalahan, dan juga untuk memudahkan dalam proses penelitian tindakan sekolah ini maka peneliti hanya akan berupaya meningkatkan hasil belajar bagi siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 melalui Penggunaan Alat Peraga Manik-manik. Penggunaan Alat Peraga Manik-manik mempunyai kecenderungan mengalami peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang pada muara akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II.

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan sekolah ini, yaitu: “Apakah melalui penggunaan alat peraga manik-manik dapat meningkatkan hasil belajar Matematika FPB dan KPK bagi siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester I Tahun Pelajaran 2016/ 2017?”

KAJIAN TEORI

Hasil Belajar Matematika FPB dan KPK

Apakah belajar itu? Banyak pakar bidang pendidikan yang merumuskan teori tentang belajar. Dalam penelitian tindakan kelas ini penulis menyajikan tiga teori tentang belajar dari tiga tokoh pendidikan. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan (Moh.Surya, 1981:32). Belajar adalah suatu aktivitas untuk menghasilkan perubahan pola diri individu. Bahwa perubahan yang diharapkan itu berupa kemampuan-kemampuan baru dalam memberikan respons terhadap stimulus yang diterima (Masyhuri,1990:52). Proses perubahan perilaku mencakup pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap, kemampuan berpikir, penghargaan terhadap sesuatu, minat dan sebagainya. Sedangkan perumusan belajar menurut Gagne dalam Najib Sulhan (2006:5) adalah sebuah proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuannya, yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai kinerja.

Dengan demikian, belajar pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu proses perubahan yang terjadi pada tingkah laku siswa sebagai subjek didik akibat adanya peningkatan pengetahuan, ketrampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, kemampuan berpikir logis dan kritis, kemampuan interaktif, dan kreativitas yang telah dicapai.

Kemudian, hasil belajar dapat disamakan pengertiannya dengan produk belajar, yaitu suatu pola perbuatan, nilai, makna, apresiasi, kecakapan, ketrampilan, yang berguna bagi masyarakat. (Tim Pengembang MKDK IKIP Semarang, 1990:172). Ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif adalah hasil belajar yang berupa pengetahuan-pengetahuan atau kemampuan-kemampuan baru yang bersifat keilmuan. Ranah afektif adalah hasil belajar yang berupa perubahan-perubahan perilaku sebagai akibat telah dilakukannya proses belajar. \sedangkan ranah psikomotorik adalah hasil belajar yang berupa ketrampilan-ketrampilan praktis oleh anggota badan, seperti tangan, kaki, alat indera dan sebagainya. Untuk matapelajaran Matematika, hasil belajar yang diperoleh peserta didik lebih dominan pada ranah kognitif.

Yang dimaksud dengan hasil belajar Matematika adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam Matematika setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar mata pelajaran matematika dalam kurun waktu tertentu dan program tertentu. Kurun waktu yang digunakan untuk penelitian tindakan kelas ini adalah dua minggu sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan yang masing-masing siklus dilaksanakan selama satu minggu. Tindakan-tindakan dalam siklus tersebut dilaksanakn pada semester I tahun pelajaran 2016/2017. Sedangkan program yang dilaksanakan adalah pembelajaran tentang FPB dan KPK. Materi pembelajaran dalam siklus I adalah tentang FPB. Materi pelajaran siklus II tentang KPK.

Sesuai dengan silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata pelajaran Matematika kelas V semester I tahun pelajaran 2016/2017 disebutkan bahwa operasi hitung FPB dan KPK yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1.2.1 FPB (Faktor Persekutuan Besar) dan 1.2.2 KPK (Kelipatan Persekutuan Kecil)

Faktor Persekutuan dari dua bilangan adalah faktor-faktor yang sama dari kedua bilangan tersebut. Faktor Persekutuan dua bilangan yang terbesar dinamakan Faktor Persekutua Terbesar (FPB). Faktor persekutuan terbesar dua bilangan dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu dengan menuliskan semua faktornya dan dengan faktorisasi prima melalui penggunaan alat peraga manik-manik.

Kelipatan persekutuan dua bilangan adalah bilangan yang merupakan kelipatan dua bilangan tersebut. Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dua bilangan adalah bilangan terkecil dari anggota kelipatan persekutuan dua bilangan tersebut. Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dua bilangan dapat ditentukan dengan dua cara yaitu dengan menuliskan semua kelipatan dan dengan faktorisasi prima bilangan tersebut menggunakan manik-manik untuk mempermudah pemahaman.

Yang dimaksud dengan hasil belajar Matematika adalah hasil belajar yang dicapai pesrta didik dalam mata pelajaran Matematika setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam kurun waktu tertentu atau program tertentu. Hasil belajar tersebut berupa kemampuan baru yang meliputi pola perbuatan, nilai, makna, sikap, apresiasi, percakapan, keterampilan yang berguna untuk memecahkan problematika dalam mata pelajaran Matematika khususnya dan problematika sosial pada umumnya.

Sebagai bukti telah dikuasainya kemampuan-kemampuan baru oleh peserta didik dinyatakan dengan nilai yang berupa angka-angka. Makin tinggi nilai yang diperoleh peserta didik berarti makin tinggi pula tingkat kemampuan-kemampuan baru yang dikuasainya. Penilaian kelas dapat dilakksanakan melalui teknik tes (tertulis, lisan, dan perbuatan) dan non tes yang berupa pemberian tugas, tes perbuatan/ praktik dan kumpulan hasil kerja siswa (portopolio). (Depdiknas, 2002:5). Adapun jenis penilaian kelas meliputi ulangan harian, pemberian tugas, dan ulangan umum.

Dalam penelitian tindakan kelas ini hasil belajar Matematika yang dimaksud adalah nilai mata pelajaran Matematika FPB dan KPK yang diperoleh siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada semester I tahun pelajaran 2016/2017. FPB dan KPK yang dimaksud adalah meliputi kompetensi dasar 1.2.1 FPB (Faktor Persekutuan Besar) dan 1.2.2 KPK (Kelipatan Persekutuan Kecil) (Tim KTSP SD Negeri Karangnanngka, 2016/ 2017:4). Ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif adalah hasil belajar yang berupa pengetahuan-pengetahuan atau kemampuan-kemampuan baru yang bersifat keilmuan. Ranah afektif adalah hasil belajar yang berupa perubahan-perubahan perilaku sebagai akibat telah dilakukannya proses belajar. Sedangkan ranah psikomotorik adalah hasil belajar yang berupa ketrampilan-ketrampilan praktis oleh anggota badan, seperti tangan, kaki, alat indera dan sebagainya. Untuk mata pelajaran Matematika, hasil belajar yang diperoleh peserta didik lebih dominan pada ranah kognitif. (Panut,MBA; Ir.Junaedi P, 1995:25)

 

Alat Peraga Manik-Manik

Menurut Abu Ahmadi dalam Teguh Zaenudin (2009:16) Alat peraga adalah alat pengajaran yang hanya untuk satu jam pelajaran saja. Sedangkan manfaat dari alat peraga tersebut adalah membantu cara guru memberikan pelajaran, agar murid dapat lebih jelas menerima keterangan-keterangan tersebut. Alat peraga tersebut juga disebut sebagai alat bantu mengajar, yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk memahamkan anak-anak mengenai pelajaran yang masih belum jalas, belum dimengerti, ataupun masih dirasa sulit. Alat bantu mengajar ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Alat peraga visual, yaitu segala sarana yang dapat mempengaruhi daya pikir anak lewat panca indera, dengan cara memperlihatkan benda aslinya, benda tiruan,  gambar atau sejenisnya; 2) Alat peraga auditif, yaitu segala sarana yang dapat mempengaruhi daya pikir anak dengan cara menerangkan,memberikan padan kata (persamaan), contoh-contoh kalimat dan sebagainya. Djudi dalam Teguh Zaenudin (2009:17) dikatakannya juga bahwa alat bantu mengajar yang digunakan dengan baik akan dapat menghilangkan penyakit yang paling berkecamuk di sekolah yaitu verbalisme. Lebih dari itu juga dapat mempertinggi hasil belajar dan mengajar.

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa alat peraga adalah benda yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dengan baik. Alat peraga dapat berupa benda sesungguhnya, model atau tiruan benda, gambar-gambar, alat-alat elektronik sebagai alat bantu yang dapat didengar, dilihat, atau dilihat dan didengar.

Manik-manik yang dimaksudkan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah berupa kubus (lubang tengah), silinder (lubang tengah), bola (lubang tengah), galon (lubang tengah) dengan menggunakan bahan plastik PSHI (Injeck). Alat peraga tersebut terdapat dalam alat peraga kreatif Matematika (KIT Matematika).

Alat peraga manik-manik adalah alat yang digunakan dalam pembelajaran untuk memperagakan pemahaman konsep mengenai FPB dan KPK. Pemahaman konsep FPB dan KPK dalam menyampaikan materi pembelajaran guru peneliti menggunakan alat peraga manik-manik yang berupa kubus (lubang tengah), silinder (lubang tengah), bola (lubang tengah), galon (lubang tengah). Masing-masing warna dan bentuk bangun melambangkan faktor atau kelipatan dari bilangan yang dicari.

KERANGKA BERPIKIR

Kegiatan penelitian secara ringkas dapat dilihat dalam gambar kerangka berpikir di halaman berikut ini :

Guru :

Belum menggunakan alat peraga

 

Siswa :

Hasil belajar Matematika rendah

 

Guru:

Menggunakan alat peraga manik-manik

Siklus I:

Menggunakan alat peraga secara kelompok

Siklus II :

Menggunakan alat peraga secara individual

Diduga melalui penggunaan alat peraga manik-manik dapat meningkatkan hasil belajar Matematika FPB dan KPK bagi siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka pada semester I Tahun Pelajaran 2016/ 2017
Kondisi Awal
 

Tindakann

Kondisi Akhir

 

Gambar 1

KERANGKA BERPIKIR

 

METODE PENELITIAN

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017, berjumlah 21 siswa yang terdiri dari 10 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki.

Penelitian Tindakan Kelas ini hanya menggunakan sumber data primer yang berasal dari subjek penelitian. Data dari subjek penelitian tersebut adalah berupa nilai hasil belajar siswa. Ada tiga macam nilai yang diambil dari subjek penelitian, yaitu nilai kondisi awal, nilai siklus I, dan nilai akhir siklus II. Dari tiga macam nilai tersebut yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar adalah nilai kondisi awal dan nilai akhir siklus. Karena dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat dua siklus, maka terdapat dua nilai akhir siklus, yaitu nilai akhir siklus I dan nilai akhir siklus II. Nilai pertama diperoleh melalui tes di akhir siklus I, dan nilai kedua diperoleh melalui tes di akhir siklus II. Yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa nilai akhir siklus II (sebagai nilai kondisi akhir). Untuk kepentingan pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini digunakan teknik tes. Sesuai dengan materi mata pelajaran yang diambil dalam penelitian tindakan kelas ini, yaitu mata pelajaran Matematika kelas VB semester I dengan materi pelajaran FPB dan KPK, maka teknik tes yang diambil untuk pengumpul data adalah tes tertulis.

Analisis data dalam peneliitian tindakan kelas ini adalah menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu membandingkan secara tertulis nilai-nilai yang ada. Nilai-nilai yang diperbandingkan adalah nilai rata-rata kondisi awal, nilai rata-rata kondisi akhir siiklus I, dan nilai rata-rata kondisi akhir siklus II. Deskriptif komparatif tersebut meliputi : 1) Deskriptif komparatif kondisi awal dengan kondisi akhir siklus I. Nilai rata-rata pada kondisi awal dibandingkan dengan nilai rata-rata kondisi akhir siklus I. 2) Deskriptif komparatif kondisi akhir siklus I dengan kondisi akhir siklus II. Nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus I dibandingkan dengan nilai rata-rata kondisi akhir siklus II. 3) Deskriptif komparatif kondisi awal dengan kondisi akhir siklus II. Nilai rata-rata pada kondisi awal dibandingkan dengan nilai rata-rata kondisi akhir siklus II.

Penelitian tindakan kelas dikatakan berhasil apabila nilai rata-rata subyek penelitian mengalami peningkatan. Nilai rata-rata pada kondisi awal mengalami peningkatan pada kondisi akhir siklus II. Atau dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas disebut berhasil apabila nilai rata-rata subyek penelitian pada kondisi akhir siklus II lebih tinggi darMatematikada nilai rata-rata pada kondisi awal.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Sebagaimana tertulis pada latar belakang masalah bahwa pada kondisi awal penelitian tindakan kelas ini, nilai hasil belajar mata pelajaran Matematika siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng  tahun pelajaran 2016/2017 rata-ratanya masih rendah. Rata-rata perolehan nilai masih belum memenuhi harapan. Dari 21 siswa kelas VB yang mengikuti ulangan harian Matematika, diperoleh nilai rata-rata 66,71. Nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 48.

Dikaitan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 21 siswa yang mengikuti ulangan harian mata pelajaran Matematika, hanya 6 siswa (28,57%) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 15 siswa (71,42%). KKM mata pelajaran Matematika kelas VB adalah 75.

Deskripsi Siklus I

Siklus I dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Agustus 2016. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 8 Agustus 2016. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 Agustus 2016.

Siklus I untuk menyampaikan materi dengan kompetensi dasar 1.2.1 FPB. Untuk menyampaikan materi pembelajaran, peneliti menggunakan alat peraga manik-manik. Siswa dibagi empat kelompok, duduk saling berhadapan. Tiga kelompok beranggotakan masing-masing 5 Siswa. Sedangkan satu kelompok beranggotakan  6 siswa. Siklus I terdiri dari planning, acting, observing, dan reflecting.

Dalam pelaksanaan pembelajaran,  kegiatan intinya diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Dengan bimbingan guru peneliti, siswa membuat kesimpulan. Guru mengenalkan alat peraga yang akan digunakan dalam pembelajaran.
  • Guru menjelaskan cara menggunakan alat peraga.
  • Guru menjelaskan materi pelajaran yang akan diajarkan.
  • Siswa mengerjakan Lembar Kerja Siswa dengan bimbingan guru.
  • Guru dan siswa membahas lembar kerja siswa. Kegiatan ini sangat penting, disamping berguna untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa tentang materi pelajaran juga sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras para siswa.
  • Dengan bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan.

Siklus I ditutup dengan cara siswa mengikuti tes akhir siklus secara tertulis. Setiap siswa mengerjakan soal-soal tes tertulis secara individual. Waktu yang dipergunakan untuk tes akhir siklus adalah satu jam pelajaran terakhir, yaitu selama 35 menit.

Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus I. Subjek penelitian diberi tugas untuk mengerjakan tes akhir siklus I. Tes akhir Siklus I dikerjakan secara individual. Dari 21 siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng yang mengikuti tes akhir siklus I, diperoleh nilai rata-rata 75,23. Nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 50.

Dikaitan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 21 siswa yang mengikuti tes akhir siklus I mata pelajaran Matematika, terdapat 12 siswa (57,14 %) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 9 siswa (42,85 %). KKM mata pelajaran Matematika kelas VB adalah 75.

Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 66,71 meningkat menjadi 74,76 pada akhir siklus I (meningkat sebesar 12,06%). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 80 meningkat menjadi 90 pada akhir siklus I (meningkat sebesar 12,5%) . Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 48 meningkat menjadi 50 pada akhir siklus I (meningkat sebesar 4,16%). Selengkapnya perhatikan tabel berikut:

Tabel 3

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AWAL DENGAN

KONDISI AKHIR SIKLUS  I

NO NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS  I KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 80 90 12,5 %
2 Rata-rata 66,71 75,23 12,77%
3 Terendah 48 50 4,16 %

 

Deskripsi Siklus II

Siklus II dilaksanakan pada minggu ke-4 Agustus 2016. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 22 Agustus 2016. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 25 Agustus 2016.

Siklus II untuk menyampaikan materi Komppetensi dasar 1.2.2. KPK. Untuk menyampaikan materi pembelajaran, peneliti menggunkan alat peraga manik-manik secara individual. Siklus II terdiri dari planning, acting, observing, dan reflecting. Kegiatan intinya adalah sebagai berikut :

  • Guru peneliti menjelaskan cara mengerjakan lembar kerja dan penggunaan alat peraga manik-manik tersebut. Semua siswa dikondisikan untuk dapat memperhatikan penjelasan guru dengan konsentrasi penuh.
  • Dengan bimbingan guru peneliti, setiap siswa mencoba mendemonstrasikan alat peraga maik-manik.
  • Setelah diperkirakan siswa paham akan penjelasan guru, maka secara individual, siswa dipersilahkan mendemonstrasikan alat peraga maik-manik dan mengerjakan lembar kerja.
  • Guru peneliti dan siswa membahas lembar kerja siswa. Kegiatan ini sangat penting, disamping berguna untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa tentang materi pelajaran juga sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras para siswa. Penghargaan ini mempunyai kedudukan penting dalam memanusiakan manusia, sehingga para siswa merasa dihargai dan hal ini akan mendorong semangat mereka dalam mengikuti proses pembelajaran.
  • Dengan bimbingan guru peneliti, siswa membuat kesimpulan.

Siklus II ditutup dengan cara siswa mengikuti tes akhir siklus secara tertulis. Setiap siswa mengerjakan soal-soal tes tertulis secara individual. Waktu yang dipergunakan untuk tes akhir siklus adalah satu jam terakhir, yaitu selama 35 menit.

Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus II, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus II. Subjek penelitian diberi tugas mengerjakan soal tes siklus II. Tes akhir Siklus II dikerjakan secara individual.  Dari 21 siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng yang mengikuti tes akhir siklus II, diperoleh nilai rata-rata 82,91. Nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60.

Nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus I sebesar 75,23 meningkat menjadi 82,38 pada akhir siklus II (meningkat sebesar 10,19%). Nilai tertinggi pada kondisi akhir siklus I sebesar 90 dan pada akhir siklus II 100 ( 11,11%) . Nilai terendah pada kondisi akhir siklus I sebesar 50 meningkat menjadi 60 pada akhir sklus II  (meningkat sebesar 20%). Perhatikan table berikut :

Tabel 5

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AKHIR SIKLUS I DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS  II

NO NILAI KONDISI AKHIR SIKLUS  I KONDISI AKHIR SIKLUS  II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 90 100 11,11%
2 Rata-rata 75,23 82,38 9,50%
3 Terendah 50 60 20%

Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 66,71 meningkat menjadi 82,38 pada akhir siklus II (meningkat sebesar 23,48%). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 80 meningkat menjadi 100 pada akhir siklus II (meningkat sebesar 25%) . Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 48 meningkat menjadi 60 pada akhir siklus II  (meningkat sebesar 25%). Perhatikan table berikut :

Tabel 6

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AWAL DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS  II

NO NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS  II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 80 100 25%
2 Rata-rata 66,71 82,38 15,67%
3 Terendah 48 60 50%

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh guru peneliti sejak dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II, sesuai dengan data-data yang diperoleh ternyata terjadi dinamika perubahan hasil belajar. Pada saat kondisi awal, nilai rata-rata subjek penelitian hanya 66,71. Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 75,23 Ketika dilakukan penilaian di akhir siklus II, ternyata nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 82,38. Data hasil belajar subjek penelitian mulai dari kondisi awal, kondisi akhir siklus I sampai dengan kondisi akhir siklus  II  dapat disimak pada tabel berikut ini :

Tabel 7

DATA NILAI HASIL BELAJAR SUBJEK PENELITIAN

 

NO. KONDISI NILAI RATA-RATA
1 Awal 66,71
2 Siklus I 75,23
3 Siklus II 82,38

Dinamika perubahan hasil belajar dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II (kondisi akhir) akan lebih jelas terlihat dalam diagram di bawah ini :

Gambar 2

DIAGRAM HASIL BELAJAR SUBJEK PENELITIAN

Kiranya perlu diketahui bahwa keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah ditentukan oleh perbandingan nilai  rata-rata kondisi awal dengan kondisi rata-rata kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II). Penelitian tindakan kelas dikatakan berhasil apabila nilai rata-rata subyek peneitian mengalami peningkatan dari kondisi  awal ke kondisi akhir siklus II.

Sebagaimana tertulis di bagian terdahulu bahwa nilai rata-rata subjek penelitian pada saat kondisi awal adalah 66,71 sedangkan nilai rata-rata subjek penelitian pada kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II) adalah 82,38. Dengan demikian dari kondisi awal ke kondisi akhir, nilai rata-rata hasil belajar subjek penelitian mengalami peningkatan sebesar 15,67 poin (23,48 %).

 

PENUTUP

Data-data empirik yang dikumpulkan selama proses penelitian tindakan kelas sebgaimana tertulis dalam bab IV menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti dalam siklus I dengan menggunakan alat peraga manik-manik secara kelompok telah berhasil meningkatkan hasil belajar subjek penelitian. Nilai rata-rata pada kondisi awal yang hanya 66,71 dapat ditingkatkan menjadi 75,23 di akhir siklus I.

Pada siklus II, guru peneliti melakukan perubahan teknik penggunaan alat peraga manik-manik. Alat peraga manik-manik.diubah penggunaannya menjadi secara individual pada siklus II. Dengan perubahan teknik penggunaan alat peraga manik-manik.tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata di akhir siklus II mengalami peningkatan manjadi 82,38. Kalau kondisi awal hanya 66,71 sedangkan nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus II menembus angka 82,38 berarti telah terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 15,67 poin atau meningkat sebesar 23,48%.

Berdasarkan data empirik yang dikumpulkan dalam penelitian tindakan kelas sebagaimana tertulis di atas menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti telah berhasil meningkatkan hasil belajar Matematika FPB dan KPK bagi siswa kelas VB SD Negeri Karangnangka pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017.

Kesimpulan berdasarkan data empirik tersebut sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritis sebagaimana tercantum dalam bab II yang berbunyi : “Melalui penggunaan alat peraga manik-manik dapat meningkatkan hasil belajar Matematika KPK dan FPB bagi siswa kelas V SDN Karangnangka semester I tahun 2016/2017”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini terbukti, yaitu : melalui penggunaan alat peraga manik-manik dapat meningkatkan hasil belajar Matematika KPK dan FPB bagi siswa kelas V SDN Karangnangka semester I tahun 2016/2017”.

DAFTAR PUSTAKA

Najib Sulhan. 2006. Pembangunan Karakter pada Anak. Surabaya Intelektual club: Surabaya.

Masyhuri HP, 1990, Azas-Azas Belajar, IKIP Semarang Press, Semarang.

Teguh Zaenudin, 2009, Laporan Hasil Penelitian Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Operasi Bilangan Bulat melalui Penggunaan Alat Peraga Manik-manik Bagi Siswa Kelas IV SD Negeri Kecil KalMatematikagu Pada Semester ITahun Pelajaran 2008/ 2009.

Tim Pengembang MKDK IKIP Semarang, 1990, Psikologi Belajar, IKIP Semarang Press, Semarang.

…. 200, Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD, SDLB, SLB, tingkat Sekolah Dasar dan MI, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Jakarta

 

BIODATA PENULIS

Nama                           : Tri Suprihatin, S.Pd.

Pangkat/gol ruang    : Pembina , IV/a

NIP                               : 19610703 198201 2 004

Unit Kerja                    : SDN Karangnangka UPK Kedungbanteng, Kab Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *