PTK SMA : Mengatasi Permasalahan Belajar Melalui Konseling Eklektif

MENGATASI PERMASALAHAN BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI SEMESTER 1 MELALUI KONSELING EKLEKTIF DENGAN PERILAKU ATTENDING DI SMA NEGERI 1 PURWANEGARA TAHUN PELAJARAN 2015/2016

 

Oleh: TRIYATNO, S.Pd, M.M


 

ABSTRAK

Tujuan untuk meningkatkan pemahaman teknik konseling eklektif dengan pendekatan attending dalam peningkatan semangat belajar, dan membangkitkan semangat pada peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Purwanegraa. tahun pelajaran 2015/2016. Dalam layanan bimbingan dan konseling, guru BK perlu mengembangkan model layanan bimbingan dan konseling yang dapat menjangkau seluruh siswa.  Bentuk  penelitian tindakan bimbingan dan konseling ini adalah model Sprandley, yang dilakukan secara stimulat pada saat dan setelah data terkumpul. Selanjutnya data-data yang didapat pada siklus I, II, dan III dibandingkan kemudian diungkapkan dalam bentuk kata-kata. Sampelnya diambil secara klasikal. Hasil studi pendahuluan menunjukan bahwa selama ini belum pernah dilaksanakan. Hasil validasi menunjukan bahwa kegiatan melalui konseling eklektif dengan perilaku attending di SMA Negeri 1 Purwanegara  efektif dapat meningkatkan semangat belajar peserta didik yang bermasalah karena permasalahan belajar dapat diatasi melalui komunikasi dengan bahasa anak sendiri .

Kata kunci : masalah belajar, konseling eklektik, perilaku ettending.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah investasi hidup yang paling berharga. Melalui pendidikanlah upaya mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur dan berkemampuan tinggi akan dapat dicapai, sebagaimana diamanatkan dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Peserta didik tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan pertanyaan atau pernyataan dalam proses pembimbingan, peserta didik sering melanggar kedisiplinan kehadiran di sekolah, misalnya sering datang terlambat, sering tidak masuk sekolah. Peserta didik malas berkonsultasi dengan Konselor.

Dalam praktiknya penanganan masalah-masalah peserta didik di atas dalam kerangka bimbingan dan konseling diselesaikan melalui konseling individu maupun konseling kelompok. Pada dasarnya pendekatan/teknik konseling itu dibagi tiga (Moh. Surya : 1988). yaitu :  teknik konseling direktif, non-direktif dan Eklektif. Teknik  Konseling Eklektif  merupakan penggabungan dua teknik Konseling Direktif dan Non Direktif Peneliti memadukan kebaikan dua teknik konseling tersebut, mengembangkan dan menerapkan dalam praktek sesuai dengan permasalahan belajar Peserta Didik dengan berorientasi pada teknik hubungan antara konselor dengan klien yaitu Teknik Eklektif dengan Perilaku Attending, yang dikemas dalam sebuah judul penelitian tindakan Bimbingan Konseling: “Mengatasi Permasalahan Belajar Peserta Didik Kelas XI Semester 1 Melalui Konseling Eklektif Dengan Perilaku Attending di SMA Negeri 1 Purwanegara  Tahun Pelajaran 2015/2016”.

Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: 1) Bagaimanakah pengaruh teknik Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending dalam mengatasi permasalahan Peserta Didik? 2) Bagaimanakah pengaruh teknik Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending Konselor dalam peningkatan belajar Peserta Didik

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Belajar

Skinner mengartikan belajar sebagai suatu proses adaptasi perilaku secara progresif. (Nana S, dan M. Surya, 1975 : 59). Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku atau pengalaman sebagai akibat dari perhatian terhadap tujuan atas kegiatannya, atau hasil berpikir dan disertai dengan dorongan dan reaksi emosi, sebagai akibat dari kepuasan yang memadai dari kondosi dorongannya.

Faktor-faktor yang terlibat dalam proses belajar, yaitu faktor-faktor dalam diri murid (intern) dan faktor yang datang dari luar (extern). Secara bersama-sama turut mempengaruhi kegiatan bembimbingan peserta didik yang hasilnya tercermin dalam perubahan pola-pola perilaku mereka.

Layanan Bimbingan dan Konseling di SMA

Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan Bimbingan dan Konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, , agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal.

Bidang pelayanan bimbingan dan konseling pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.

Fungsi bimbingan dan konseling yaitu pemahaman, pencegahan, pengentasan, pemeliharaan dan pengembangan, dan advokasi.

Teknik konseling yaitu konseling eklektif, konseling direktif, konseling non direktif, dan perilaku attending. Teknik konseling eklektif yang mengambil berbagai kebaikan dari dua kebaikan dan  pendekatan atau dari berbagai teori konseling, mengembangkan dan menerapkan dalam praktek sesuai dengan permasalahan klien. Konseling Eklektif lebih tepat dan sesuai dengan filsafat tujuan bimbingan dan konseling dari pada sikap yang hanya mengandalkan satu pendekatan  satu pendekatan atau satu dua teori tertentu saja (Moh. Surya: 1988). Dalam konseling direktif klien bersifat pasif, dan yang aktif adalah konselor. Dengan demikian inisiatif dan peranan utama pemecahan masalah lebih banyak ditentukan oleh konselor. Teknik konseling Non-Direktif, Merupakan upaya bantuan pemecahan masalah yang berpusat pada klien. Sedangkan perilaku attending, (teknik menghadapi klien) melalui kontak mata, bahwa badan, bahasa lisan, sehingga klien akan terlihat dalam pembicaraan terbuka. Attending baik untuk meningkatkan harga diri klien yang bebas.

METODE PENELITIAN

Objek penelitian tindakan kelas ini adalah Peserta Didik kelas XI SMA Negeri 1 Purwanegara berjumlah 25 Peserta Didik dengan rincian 17 laki-laki dan 8 perempuan. Subjek penelitian tindakan bimbingan dan konseling  ini meliputi : data-data hasil wawancara terhadap responden, sumber data peristiwa: hasil observasi, hasil analisis dokumen, yang berasal dari klien maupun dari Konselor dan peneliti. Pengumpulan data dilakukan melalui : wawancara untuk sumber data responden, observasi untuk sumber data peristiwa dan analisis dokumen untuk sumber data dokumen.

Peneliti melakukan persiapan awal mulai tanggal 13 Januari 2015 meliputi kegiatan: mengadakan kontak awal dan kesepakatan dengan reponden, guna membangun mempertahankan kepercayaan, serta memilih informasi (Sugiharto, 2005: 43). Kemudian langkah-langkah prosedur kerja yang dipergunakan menggunakan tahapan-tahapan penelitian tindakan bimbingan dan konseling yang terdiri dari tiga siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu : perencanaan, implementasi, observasi, evaluasi dan refleksi.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan bimbingan dan konseling ini adalah model Sprandley, yang dilakukan secara stimulat pada saat dan setelah data terkumpul. Selanjutnya data-data yang didapat pada siklus I, II, dan III dibandingkan kemudian diungkapkan dalam bentuk kata-kata.

Hasil pengumpulan data, pemeriksaan keabsahan data yang diperoleh peneliti Konselor melalui ketekunan pengamatan, perpanjangan dan keikutsertaan peneliti, serta review informan sebagai kunci dalam penelitian tindakan bimbingan dan konseling  siklus I, II, dan III selanjutnya dipergunakan peneliti untuk mengambil keputusan. Teknik Eklektif dan Perilaku Attending dinyatakan efektif dalam menangani dan mengentaskan permasalahan Peserta Didik manakala data Hasil Observasi Kegiatan Konselor dan Data Hasil Observasi Kepribadian Peserta Didik yang merekam dalam tabel menunjukan rata-rata > 60 % dan data hasil wawancara menunjukan respon positif dan cocok dengan kajian pustaka. Perilaku Attending terbukti efektif apabila dalam kegiatan tindakan kelas ini permasalahan Peserta Didik dapat diatasi, Peserta Didik bersemangat, berpartisipasi aktif, bekerja sama, berani bertanya, tidak berbicara kotor, tidak bertengkar, berani berpendapat, membuka diri, berterus terang, ceria, gembira, menerima nasehat dan merencanakan tindakan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Siklus 1

Pada tahap perencanaan, kegiatan yang dilakukan antara lain: 1) mendiagnosis permasalahan belajar klien, penyebab permasalahan dirumuskan; 2) Konselor menyampaikan penanganan permasalahan belajar Peserta Didik menggunakan tahapan-tahapan atau langkah-langkah Teknik Eklektif dan Perilaku Attending; 3) Konselor menganalisis data tentang klien; 4) Diagnosis masalah prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya pemecahan masalah, tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling; dan merancang instrumen pengamatan dan wawancara.

Pada tahap implementasi, bimbingan dilaksanakan di ruang BK menggunakan Pendekatan Eklektif dan Perilaku Attending peneliti mengamati penanganan permasalahan belajar Peserta Didik yang terdiri dari : 1) tahap awal  Konselor mengajak klien untuk mendefinisikan masalah, Bimbingan Konseling dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar ; yaitu pukul 11.00 Konselor mengajark tiga orang Peserta Didik yang bermasalah sama ke ruang Konselor. Satu persatu klien dipanggil, mereka duduk berhadapan dengan Konselor; 2) Tahap pertengahan Konselor langsung menuju kepermasalahan mereka ; yaitu tentang perkataan tindak senonoh. Secara bergantian konselor menanyai klien; dimulai dari X, Y, dan Z; dan tahap akhir (5 menit).

Baca Juga : PTK PKN : Materi Perumusan Pancasila Melalui Metode Bermain Peran

Selanjutnya Peneliti dan rekan Konselor berkolaborasi untuk melakukan pengamatan. Dan mendiskusikan hasil pengamatan dan wawancara. Berdasarkan hasil pengamatan siklus I yang belum menunjukan perkembangan, maka peneliti dan konselor sepakat untuk mengadakan perencanaan perbaikan guna perbaikan kegiatan konseling pelaksanan siklus II.

Deskripsi Siklus II:

Pada tahap perencanaan, mendiagnosis permasalahan belajar Peserta Didik, penyebab permasalahan dirumuskan Konselor menganalisis data tentang klien, merancang instrumen pengamatan dan wawancara. Pada implementasi Konselor melaksanakan bimbingan konseling mengadakan Pendekatan Eklektif Attending di ruang Konselor, selanjutnya peneliti mengamati penanganan permasalahan belajar Peserta Didik yang terdiri dari: 1) Tahap awal (10 menit)  Tindakan I : Konselor bertanya untuk membuka percakapan dengan klien raut dengan wajah yang menunjukan keramahan; Tindakan 2 : Dalam siklus II Konselor melakukan kegiatan Attending cukup baik kepala mengangguk jika setuju dan konselor melakukan kontak pandang dengan klien. Ekspresi wajah Konselor tenang, ceria, tersenyum. Posisi tubuh konselor condong kearah klien, konselor mendengarkan penjelasan dari Peserta Didik dengan cukup perhatian, sabar menunggu penjelasan klien; Tindakan 3 : Empati konselor (berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan klien; Tindakan 4: Konselor menggali perasan, pengalaman, dan pikiran klien karena kebanyakan tertutup/menyimpan rahasia, tidak mau bahkan tidak dapat berterus terang.

Tahap Pertengahan (45 menit), Konselor belajar dengan definisi masalah bersama-sama klien; tujuan untuk mengolah masalah klien yang sudah diidentfikasikan maka konselor melakukan: Tindakan 1: Konselor selaku konselor bertindak sebagai leading / memimpin agar klien tidak melantur;  Tindakan 2: Konselor melaksanakan paraphrasing / menangkap pesan utama / fokus klien, konselor mengatakan inti pesan utama klien yang berbelit-belit; Tindakan 3: Konselor mengarahkan agar klien bermain peran; berbuat sesuatu, menghayal sebagaimana kejadian yang dituturkan kepada konselor; Konselor memberikan manfaat pada klien untuk feed back/ mengambil kilah balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.

Tahap akhir/tahap Action (5 menit), Tindakan 1 : Konseling menyampaikan hasil secara bertahap guna meningkatkan kualitas diskusi, memperjeles fokus pada wawancara konseling; Tindakan 2: Konselor perlu mendorong klien untuk mengatakan hal yang sebenarnya melalui attending yang baik; Tindakan  3: Menjelang akhir konseling konselor membantu klien untuk merencanakan / memprogram untuk action, perbuatan nyata yang produktif bagi kemajuan dirinya, Menilai / evaluasi ;  Tindakan 4   : Mengakhiri proses konseling.

Deskripsi Siklus III

Pada tahap perencanaan: 1) Konselor dan peneliti mendiagnosis kembali permasalahan belajar Peserta Didik penyebab permasalahan dirumuskan; 2) Konselor mengupayakan penanganan permasalahan belajar Peserta Didik menggunakan tahapan-tahapan atau langkah-langkah Eklektif Attending; dan 3) Diagnosis masalah prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya pemecahan masalahan, tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling. Pada prinsipnya implementasi siklus III seperti pada siklus II ; konselor lebih mengoptimalkan penanganan masalah melalui Teknik Eklektif dan Perilaku Attending .

Pada tahap observasi dan evaluasi, Peneliti dan rekan Konselor berkolaborasi untuk melakukan pengamatan, mengamati jalannya bimbingan individual dan Eklektif Attending serta menilai respon Peserta Didik, malakukan pemantauan hasil pengamatan dan wawancara. Pada refleksi, mendiskusikan hasil pengamatan dan wawancara. Berdasarkan hasil pengamatan siklus III, telah menunjukan perkembangan, maka peneliti atau konselor sepakat untuk menganalisa data, dan penyusunan laporan berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan tindakan pada siklus I; belum memberikan hasil yang berarti karena Konselor selaku konselor pada aspek attending dan pada spek Eklektif masih berekspresi kaku, muram dan marah karena konselor sering mengalihkan pandangan, terutama saat klien berbicara. Maka data pada score penilaian pada siklus I adalah 40,00 predikat nilai kurang baik dalam konselor menangani permasalahan belajar Peserta Didik.

Attending siklus II, ekspresi wajah konselor agak tenang, dan ceria, konselor sudah melakukan kontak pandang terhadap klien, melakukan anggikan kepala tanda setuju, menggeleng sebagai tanda setuju tetapi masih kaku, karena posisi kepala konselor tegak juga kecondongan tubuh konselor belum bermakna sesuai kebutuhan kesabaran mendengarkan perlu dipertahankan, dan meningginya suara konselor agar dihindari apabila klien diam/klien memberikan respon terhadap pertanyaan Konselor/konselor hasil score penilaian pada siklus II = 50,00.

Kemudian hasil pada siklus III melalui pengoptimalan penghampiran klien secara tenang, ramah, sabar, ceria, akrab, penuh perhatian, dan kasih sayang; membuat klien merasa nyaman, aman, tenang, tersentuh dan dekat;sehingga pada siklus III hasil pengamatan menunjukan perkembangan; yaitu 88,33 predikat amat baik.

Berdasarkan Data Hasil Observasi perkembangan Kepribadian Peserta Didik pada Siklus I, II, dan III menunjukan perkembangan hasil yang meningkat pada siklus berikutnya yaitu : 30,80 ; 41,66 kemudian pada siklus III meningkat lagi menjadi 61,66 srta rata-rata kepribadian Peserta Didik adalah 44,72 ; hal ini berarti penanganan-penanganan bimbingan konseling dengan menggunakan Pendekatan Eklektif Attending menunjukan keberhasilan penelitian tindakan kelas.

Berdasarkn data-data yang didapat pada siklus I, II, dan III setelah dibandingkan, diungkapkan dalam bentuk kata-katakesimpulan dalam penelitian tindakan bimbingan dan konseling siklus I, II, dan III yang dipergunakan peneliti dan Konselor untuk mengambil keputusan. Maka dari hasil analisis data; Hasil Observasi Kegiatan Konselor dan Data Hasil Observasi Kepribadian Klien pada siklus I, II, dan III diperoleh hasil 30,83 presikat kurang sekali, siklus II = 41,66 predikat kurang dan pada siklus III = 61,66 predikat sedang/cukup baik.

PENUTUP

Kesimpulan

Setelah Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Pendekatan Eklektif Attending merupakan langkah efektif untuk mengatasi permasalahan Peserta Didik; 2) Pendekatan Eklektif Attending memberi kemudahan perubahan sikap pada Peserta Didik yang bermasalah karena permasalahan belajar dapat diatasi melalui komunikasi dengan bahasa anak sendiri; 3) Teknik Eklektif dan Perilaku Attending layak dipergunakan dan dikembangkan oleh Konselor, serta perlu diadakan penelitian kelanjutan

Saran

Peneliti mengajak rekan-rekan Konselor selaku pembimbing Peserta Didik: 1) Gunakanlah Pendekatan Eklektif Attending guna mengatasi permasalahan Peserta Didik; 2) Tingkatkanlah partisifasi Peserta Didik dalam Proses Belajar Mengajar  melalui proses motivasi Konselor kepada Peserta Didik secara selektif; 3) Perlu pengembangan dan tindak lanjut penelitian tindakan kelas

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas (2003). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003. Jakarta: Depdiknas

Nana Syaodih dan Moh. Surya (1998). Pengantar Psycologi Jihad I. Bandung : FIP IKIP Bandung

Moh. Surya (1988). Psikologi Pendidikan. Bandung : FIP IKIP Bandung.

Suharjono (1995). Direktorat Pendidikan Guru dan tenaga Teknis. Jakarta : Dikdasmen

Sugiharto.(2005). Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *