PTK SMP Bahasa Jawa : Menghafal Aksara Jawa dengan Kartu Huruf

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MENGHAFAL AKSARA JAWA MELALUI MEDIA KARTU HURUF DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KESAMAAN BENTUK

Oleh  : Dra. Dwi Retnowati

 

 

Abstrak

Mata pelajaran Bahasa Jawa bagi siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Sampang kabupaten Cilacap, termasuk mata pelajaran yang sulit, khususnya dalam hal membaca dengan aksara Jawa. Hal ini mendorong peneliti untuk bisa menemukan langkah pembelajaran yang tepat  agar siswa mudah dan cepat menghafal aksara Jawa.  Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua tindakan. Penggunaan media kartu huruf dan teknik kemiripan atau kesamaan  bentuk huruf diyakini dapat mempercepat dalam menghafal aksara Jawa. Teknik yang dipergunakan untuk pengumpulan data adalah teknik observasi,  teknik penilaian atau tes dan wawancara. Langkah yang tepat yaitu. Dari hasil penelaahan data yang didapat dapat disimpulkan sebagai berikut. Hasil belajar siswa meningkat secara signifikan dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II. Hasil belajar siswa dari kondisi awal yang semula tuntas sebanyak 5 siswa tuntas belajar atau 15,625%, pada siklus I meningkat menjadi 20 siswa tuntas belajar atau 62,5%, sedangkan pada siklus II menjadi 29 siswa tuntas belajar atau 90,625%. Hal ini berarti ada kenaikkan. Dari kondisi awal ke siklus I naik sebesar 15 siswa atau 46,875%. Sedangkan darisiklus I ke siklus II naik sebesar 9 siswa atau 28,125%.

Kata kunci:  Prestasi Belajar, Aksara Jawa, Media Kartu  Huruf, Teknik Kesamaan Bentuk.

PENDAHULUAN

Salah satu tujuan pembelajaran Bahasa Jawa adalah untuk melestarikan bahasa, sastra, dan budaya jawa. Aksara Jawa sebagai salah satu warisan budaya harus dijaga kelestariannya. Aksara Jawa harus dijaga agar tetap eksis di tengah  dunia yang serba modern ini. Salah satu cara menjaganya adalah dengan dimasukkannya aksara Jawa kedalam materi pembelajaran Bahasa Jawa. Dengan cara tersebut diharapkan generasi muda Jawa tetap mengenal dan menguasai aksara Jawa di tengah jaman yang serba canggih dan modern ini.

Materi pembelajaran Bahasa Jawa mencakup banyak hal, diantaranya adalah materi berkaitan dengan aksara Jawa. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan aksara Jawa merupakan materi pembelajaran yang sulit dan kurang menarik bagi siswa. Banyak siswa yang mengeluh dan kurang respon ketika pembelajaran berkaitan dengan aksara Jawa. Hal ini dikarenakan siswa tidak menguasai aksara Jawa itu sendiri. Padahal di setiap Standar Kompetensi ada materi berkaitan dengan ketrampilan membaca aksara Jawa. Bisa dipastikan jika tidak menguasai aksara Jawa sangat berpengaruh sekali pada prestasi belajar siswa.

Aksara Jawa merupakan materi pembelajaran mata pelajaran Bahaa Jawa yang harus dikuasai siswa SMP. Idealnya siswa SMP mestinya sudah menguasai aksara Jawa, karena siswa sudah mengenal aksara Jawa sejak SD. Namun pada kenyataannya, walaupun sudah kelas VIII di kelas VIII F SMP Negeri 2 Sampang kabupaten Cilacap masih banyak yang belum menguasai aksara Jawa. Hal ini berimbas pada prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Jawa menjadi rendah.

Dari uraian keadaan di atas, dirasa perlu dicari upaya untuk meningkatkan penguasaan aksara Jawa bagi para siswa. Perlu dicari solusi dan trik agar siswa lebih mudah dalam menghafal aksara Jawa dengan cepat. Dari alasan itulah peneliti mengadakan Penelitian Tindakan Kelas ini dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan judul :

“Peningkatan Hafalan Aksara Jawa dengan Metode Kemiripan Bentuk dengan Menggunakan Media Kartu Huruf  pada Kelas VIII F SMP Negeri 2 Sampang Kabupaten Cilacap Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017”

Dari kondisi di atas, peneliti melakukan identifikasi kelemahan atau kekurangan yang telah menyebabkan aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan kurang memenuhi tuntutan yang diharapkan. Hal ini berdampak pada hasil belajar siswa tidak memenuhi target pembelajaran.

Melalui hasil pengamatan diperoleh identifikasi masalah sebagai berikut :

  1. Siswa kurang berminat dalam pembelajaran yang berkaitan dengan huruf Jawa.
  2. Siswa kesulitan dalam menghafal aksara Jawa.
  3. Tingkat penguasaan siswa terhadap aksara Jawa rendah.
  4. Keaktifan siswa dalam prose pembelajaran kurang sesuai yang diharapkan.

Dalam hal ini peneliti membatasi permasalahan yang akan dibahas. Permasalahan yang akan dibahas dibatasi pada hal :

  1. Pembelajaran menghafal aksara Jawa nglegena.
  2. Metode menghafal aksara Jawa yang tepat dengan metode kemiripan bentuk dengan menggunakan kartu huruf.
  3. Pembelajaran aksara Jawa pada siswa kelas VIII F semester 1 tahun pelajaran 2016/2017

Berdasarkan faktor penyebab di atas dapat dirumuskan masalahnya utuk perbaikan pembelajaran sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah proses pembelajaran dengan menggunakan teknik kesamaan bentuk untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam menghafal aksara jawa siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Sampang Semester I tahun pelajaran 2016/2017 ?
  2. Seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa dalam menghafal aksara jawa setelah menggunakan teknik kesamaan bentuk pada siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Sampang Semester I tahun pelajaran 2016/2017?
  3. Bagaimana perubahan perilaku yang menyertai peningkatan hasil belajar siswa dalam menghafal aksara jawa setelah menggunakan teknik kesamaan bentuk  pada siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Sampang Semester I tahun pelajaran 2016/2017 ?

 

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Hamalik ( 1998 : 29 ) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang    dicapai setelah seseorang melakukan kegiatan. Winkel ( 2001 : 15 ) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapainya. Sedangkan menurut Slameto ( 2003 : 2 ) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dengan demeikian prestasi belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.

Slameto ( 2003 : 2 ) menyatakan bahwa  prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemempuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, ketrampilan dan pengetahuan yang kemudian akan diukur dan dinilai  yang  kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.

Kegagalan atau keberhasilan, tinggi rendahnya prestasi belejar dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor – faktor tersebut akan selalu muncul selama proses belajar mengajar. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Suryabrata ( 1997 : 29 ) adalah faktor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor dari luar siswa yaitu faktor sosial dan non sosial. Sedangkan faktor dari dalam yaitu dari diri siswa itu sendiri yaitu faktor fisiologis dan psikologis. Kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud prestasi belajar di sisni adalah nilai yang dicapai oleh siswa dalam mengerjakan evaluasi yang dilaksanakan oleh guru setelah proses pembelajaran. Dari nilai yang diperoleh siswa ini gurur dapat mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dari perolehan nilai inilah yang kemudian disebut dengan istilah prestasi siswa.

Aksara Jawa

Aksara merupakan suatu hasil budaya yang mempunyai arti penting dalam perkembangan kehidupan manusia (Hardiati, 2002: 1). Sejak dikenalnya aksara, manusia seolah-olah terlepas dari keterikatan antara batas waktu dan tempat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Pengenalan tradisi tulis membuka suatu era baru kehidupan manusia yang disebut era sejarah. Melalui teks-teks tertulis, dapat diungkap pikiran dan gagasan manusia dalam segala bidang kehidupan, baik ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, maupun agama, sehingga menjadi catatan penting yang dapat dipelajari untuk mengenal tingkat peradaban suatu bangsa (Sedyawati, 2001: 199).

Suku bangsa Jawa merupakan salah satu suku yang maju dalam peradaban karena sudah mengenal aksara. Suku bangsa Jawa diperkirakan sudah memiliki tradisi tulis sejak tahun 700 M (Riyadi, 1996: 15). Tradisi tulis ini semakin berkembang, dan akhirnya menghasilkan aksara Jawa yang sekarang ini dikenal dengan nama carakan. Seperti juga dengan aksara-aksara daerah, keberadaan aksara Jawa semakin tergusur, seiring dengan berkurangnya penggunaan bahasa Jawa sebagai media komunikasi.

Pembelajaran aksara Jawa terintegrasi dalam muatan lokal yang dikenal dengan mata pelajaran bahasa Jawa. Porsi waktu untuk pembelajaran aksara Jawa sangat terbatas, mengingat begitu banyak kompetensi yang harus dikuasai para siswa dalam mata pelajaran ini. Padahal penguasaan kompetensi aksara Jawa memerlukan proses yang cukup panjang. Karena selain harus hafal aksara Jawa mencakup aksara nglegena, angka Jawa, aksara swara, aksara murda, sandhangan, pasangan, dan lain-lain, para siswa juga harus menguasai aturan-aturan penulisannya. Keadaan di lapangan menunjukkan pembelajaran aksara Jawa di sekolah tidak dapat berjalan secara maksimal, sehingga penguasaan kompetensi baca tulis aksara Jawa siswa juga sangat terbatas.

Aksara Jawa yang dikenal juga dengan istilah hanacaraka adalah  suatu aksara yang digunakan di tanah Jawa dan sekitarnya. Dalam hal ini dibatasi pada daerah Jawa Tengah.

Adapun bentuk aksara Jawa yang akan dibahas di sini adalah aksara Jawa nglegena yang bentuknya sebagai berikut.

          a n c r k f t s w l p d j y v m g b q z

 

Hakekat Pembelajaran Menghapal Aksara Jawa

            Pembelajaran aksara Jawa terintregasi dengan pembelajaran muatan lokal Bahasa Jawa yang dalam seminggu hanya mempunyai waktu 2 x 40 menit, padahal banyak kompetensi yang harus dikuasai siswa selain aksara Jawa.  Pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa pada Kompetensi Dasar yang berkaitan dengan huruf Jawa fokusnya adalah membaca aksara Jawa. Untuk dapat membaca aksara Jawa diperlukan hafal terhadap aksara Jawa itu sendiri. .

            Jadi hakekat pembelajaran aksara Jawa fokusnya adalah membaca teks bertulisan aksara Jawa. Hal ini ditujukan agar generasi muda Jawa dapat membaca teks bertulisan aksara Jawa untuk mempelajari naskah-naskah peninggalan leluhur Jawa yang banyak mengandung nilai budaya. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia pengertian menghafal adalah berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat. Dengan demikian menghafal adalah kegiatan berpikir untuk meresapkan apa yang dihafalkan agar meresap kedalam pikiran sehingga akan selalu ingat

Teknik Kemiripan Bentuk Aksara Jawa

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia on line pengertian teknik yang sesuai dengan pembahasan adalah cara ( kepandaian dan sebagainya ) membuat atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seni. Kemiripan bentuk di sini yang dimaksud adalah bentuk aksara Jawa. Aksara Jawa yang berjumlah 20, jika dicermati mempunyai kesamaan atau kemiripan.

Jadi yang dimaksud dengan teknik kesamaan bentuk adalah sebuah cara untuk menghapal aksara Jawa dengan mencermati bentuk-bentuk yang sama. Dengan teknik ini diharapkan akan membantu siswa dalam menghafal aksara Jawa. Teknik kesamaan bentuk ini diharapkan dapat mempermudah siswa dalam belajar menghafal aksara Jawa. Aksara Jawa yang dikenal juga dengan istilah hanacaraka adalah  suatu aksara yang digunakan di tanah Jawa dan sekitarnya. Dalam hal ini dibatasi pada daerag Jawa Tengah.

Adapun bentuk aksara Jawa yang akan dibahas di sini adalah aksara Jawa nglegena yang wujudnya sebagai berikut.

                                                                                                          a n c r k f t s w l p d j y v m g b q z

aksara jawa

Aksara Jawa yang berjumlah 20 jika diamati dilihat dari segi bentuknya banyak yang mempunyai kemiripan bentuk. Dari keadaan ini oleh peneliti digunakan untuk mempermudah siswa dalam menghafal huruf Jawa. Adapun huruf-huruf yang mempunyai kemiripan bentuk itu adalah sebagai berikut :

A L  
N K  
C S  
R G  
F S  
W T  
P W  
P Y  
Z Q  
Z B v

Huruf yang tidak mempunyai kemiripan dipisahkan karena harus dihafalkan secara khusus. Huruf tersebut adalah m dan j . Aksara m dihafalkan dengan cara disamakan dengan huruf latin  E, sedangkan aksara j dihafalkan dengan cara disamakan dengan huruf latin R.

Pengertian Media

Media yang dimaksud di sini adalah media yang berkaiatan dengan pembelajaran atau biasa disebut media pembelajaran. Adapun pengertian media pembelajaran dari sumber yang diambil dari internet pada alamat belajarpsikologi.com  yang diposkan oleh Hariyanto, S.Pd  pada 21 Januari 2012 menyatakan bahwa Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan

Menurut Briggs (1977) dalam belajarpsikologi.com yang diposkan oleh Hariyanto, S.Pd  pada 21 Januari 2012 media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian menurut National Education Associaton (1969) dalam belajarpsikologi.com yang diposkan oleh Hariyanto, S.Pd  pada 21 Januari 2012 mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi.

Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Dalam penelitian ini media yang akan digunakan adalah kartu huruf Jawa. Dengan penggunaan kartu huruf Jawa ini diharapkan dapat membantu siswa dalam belajar menghafal aksara Jawa itu sendiri.

 

Kerangka Berpikir

Rendahnya prestasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Jawa perlu ditingkatkan yakni pada kompetensi dasar berkaitan dengan aksara Jawa. Sebagian besar siswa tidak hapal aksara Jawa. Pada hal dalam setiap standar kompetensi selalu berhubungan dengan aksara Jawa. Ini adalah tantangan bagi guru sebagai pengajar dan pembimbing pembelajaran Bahasa Jawa untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.Salah satu cara meningkatkan prestasi belajar siswa adalah siswa harus hapal aksara Jawa. Dengan siswa hapal aksara Jawa akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Teknik yang peneliti gunakan untuk memotivasi siswa agar lebih mudah dan lebih menyenangkan dalam menghafal aksara Jawa adalah dengan menggunakan media kartu huruf Jawa. Dengan dipergunakannya kartu huruf Jawa diharapkan akan lebih menarik siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu juga siswa lebih mudah dalam mengamati bentuk huruf sehingga siswa mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan huruf Jawa tersebut.

Selain menggunakan kartu huruf untuk menarik dan mempermudah siswa dalam belajar menghapal, peneliti juga menggunakan teknik yang ke-dua yaitu teknik kesamaan bentuk. Teknik kesamaan bentuk huruf-huruf Jawa diharapkan dapat mempermudah siswa dalam menghafal aksara Jawa. Jadi selain menari dan mempermudah siswa dalam menghafal aksara Jawa juga akan mempercepat siswa dalam menghafal aksara Jawa.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rujukan dari tinjauan pustaka dan kerangka berpikir di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

  1. Penggunaan kartu huruf Jawa pada pembelajaran dalam rangka menghapal aksara Jawa dapat menarik dan mempermudah siswa dalam menghapal aksara Jawa sehingga prestasi siswa dapat meningkat.
  2. Penggunaan teknik kesamaan bentuk huruf dapat mempermudah dan mempercepat siswa dalam menghapal aksara Jawa, sehingga prestasi siswa akan meningkat.
  3. Aksara yang tidak memilikikemiripan dihafalkan dengan cara dimiripkan dengan huruf latin.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2016 / 2017 pada minggu pertama bulan September sampai dengan bulan Oktober 2016. Alasan ditentukannya pada kelas VIII E adalah karena prestasi  belajar Bahasa Jawa pada kelas tersebut masih rendah. Setelah melaui observasi yang menyebabkan prestasi belajarnya rendah adalah sebagian besar siswa belum hapal aksara Jawa.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua tindakan. Jika dua kali tindakan dalam masing-masing dua siklus belum berhasil maka akan dilanjutkan siklus berikutnya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Sampang tahun pelajaran 2016 / 2017 semester 1 dengan jumlah siswa 32 siswa dengan jumlah siswa laki-laki sebanyak 18 siswa dan perempuan 14 siswa. Sumber data pada penelitian tindakan kelas ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh pada saat peneliti melakukan penelitian. Sumber data skunder diperoleh dari data pra penelitian.

Teknik dan alat pengumpulan data yang dipergunakan untuk pengumpulan data adalah teknik observasi,  teknik penilaian atau tes dan wawancara.

Untuk menjamin kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian, maka dipilih dan ditentukan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan validitas data yang diperoleh. Adapun validasi data yang digunakan yaitu dengan cara menganalisis data perolehan pra siklus, siklus I, dan siklus II. Perolehan data tiap siklus tersebut kemudian dibandingkan untuk menentukan tingkat prestasi belajar siswa yang dicapai setelah pelaksanaan proses pembelajaran. Sedangkan validitas data untuk mengetahui peningkatan ketrampilan dianalisissecara kualitatif dan kuantitatif. Metode analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode dnskripsi dengan membandingkan prestasi belajar siswa sebelum tindakan dengan prestasi belajar siswa setelah tindakan. Selanjutnya peneliti juga melakukan anlisa data yang dihasilkan dari lembar observasi dan wawancara. Dari hasil perbandingan tersebut diketemukan besaran peningkatan dari tindakan yang dilakukan.

Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dua siklus. Kegiatan setiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan atau dua kali tindakan. Setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, tindakan, dan refleksi. Adapun rincian kegiatan setiap siklusnya diuraikan sebagai berikut.

  1. Perencanaan
  • Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang akan dilaksanakan
  • Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran ketika pelaksanaan tindakan sedang berlangsung.
  • Menyiapkan kartu huruf sebagai media yang akan digunakan memberikan tindaknan dalam penelitian.
  • Menyiapkan lembar wawancara untuk mencatat hasil wawancara antara guru sebagai peneliti dengan siswa.
  1. Pelaksanaan

            Pada tahap ini peneliti sebagai pelaksana tindakan melakukan aktivitas pembelajaran sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun.

  1. Pengamatan

            Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan atau observasi terhadap aktivitas gurn dan siswa dalam proses pembelajaran. Pengamatan dilakukan sendiri oleh guru sebagai peneliti. Hal ini mengandung maksud untuk mempermudah dan agar lebih efektif.

  1. Refleksi

            Pada tahap refleksi ini data yang diperoleh dari hasil observasi dan tes kemudian dianalisis. Hasil analisis digunakan untuk merefleksi pelaksanaan tindakan pada siklus tersebut. Hasil refleksi digunakan untuk merncanakan tindakan pada siklus berikutnya. Tindakan yang masih kurang diperbaikki dan yang sudah kuat dipertahankan.

Desain Penelitian

 

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa pada tingkat pendidikan SMP kelas VIII semester satu, mestinya siswa sudah menguasai aksara atau huruf Jawa. Alasannya adalah karena siswa sudah terbekali materi aksara atau huruf Jawa sejak masih duduk di bangku SD ditambah dengan pembelajaran di SMP pada kelas VII. Namun, kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Banyak siswa yang belum hafal dengan aksara Jawa.

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil pendataan terhadap siswa kelas VIII E SMP Negeri 2 Sampang semester 1 tahun pelajaran 2016 / 2017 dengan jumlah siswa sebanyak 31 siswa dengan jumlah laki-laki 18 siswa dan perempuan 14 siswa ternyata banyak siswa yang belum hapal dengan aksara Jawa. Dari siswa yang berjumlah 31 siswa yang sudah hafal semua aksara Jawa hanya 5 siswa, sedangkan yang lainnya bervariasi. Ini artinya 15,625% siswa yang menguasai penuh, sedangkan yang lainnya belum menguasai secara penuh.

Kondisi seperti itulah yang mendorong peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas pada kelas VIII E pada semester satu tahun pelejaran 2016 / 2017. Hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

Deskripsi Siklus I

Siklus I dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan dengan perincian dua kali tindakan dan satu kali evaluasi untuk pengambilan data. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut.

  1. Pertemuan pertama, Kamis tanggal 8 September 2016.
  2. Pertemuan kedua, Kamis tanggal 15 September 2016.
  3. Pertemuan ketiga, Kamis tanggal 22 September 2016.

Dalam siklus I dilaksanakan empat tahapan, yaitu perencanaan,pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

Dari hasil observasi yangdilakukan peneliti, langkah selanjutnya peneliti mengadakan refleksi. Refleksi dilakukan dengan terlebih dahulu mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang keaktifan, ketrtariakn dan efek dari tindakan yang dilakukan peneliti. Setelah dilaksanakan evaluasi dan observasi yang dilakukan peneliti pada siklus 1 ini,  selanjutnya peneliti menemukan bahwa siswa aktif sudah mencapai 100 % dan siswa merasa tertarik dan senang mencapai 100 %, akan tetapi ketuntasan siswa belum mencapai 85 %. Untuk itu peneliti melanjutkan tahap selanjutnya yaitu siklus II.

 

Deskripsi Siklus II

Siklus dua dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan dengan pertemuan terakhir sekaligus pengambilan data untuk siklus 2. Siklus ini dilaksanakan pada :

  1. Pertemuan i pada hari Kamis tanggal 13 Oktober 2016.
  2. Pertemuan 2 pada hari Kamis tanggal 20 Oktober 2016.
  3. Pertemuan 3 pada hari Kamis tanggal 27 Oktober 2016.

            Dalam siklus II ini dilaksanakan kegiatan terdiri dari : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi atau pengamatan tindakan, dan refleksi tindakan. Adapun perincian kegiatannya adalah sebagai berikut.

Pada tahap ini, dengan berdasarkan dari hasil pengamatan atau observasi peneliti melakukan refleksi tentang ketertarikan dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Dari perubahan tingkah laku siswaselama    proses pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa 100 % siswa aktif dalam pembelajaran dan senang mengikuti pembelajaran karena siswa merasa tertarik dengan metode yang digunakan. Setelah dilaksanakan evaluasi untuk pengambilan data, ternyata 100 %siswa sejumlah 32 siswa berhasil tuntas atau hafal aksara Jawa sejumlah 20 aksara dengan cepat dan menyenangkan.

Deskripsi Hasil Penelitian

Refleksi pada tiap-tiap siklus yang dilakukan peneliti menunjukkan hasil dari penelitian ini. Pada kondisi awal diperoleh data sebagai beikut. Dari sejumlah siswa 32 yang hafal huruf Jawa sejumlah 20 huruf hanya 5 siswa, sedangkan yang lain hafal bervariasi. Dengan demikian hanya 15,625% siswa yang hafal aksara Jawa secara sempurna. Sedangkan untuk keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaranhuruf Jawa punmasih rendah, yaitu 62,5%.

 Dari tindakan yang dilakukan pada siklus pertama, peneliti menemukan bahwa  siswa aktif telah mencapai 100 % dari keseluruhan jumlah siswa dalam kelas tersebut, dan ketuntasan belajar siswa mencapai 62,5 %.  Siklus kedua dilakukan dan peneliti menemukan bahwa seluruh siswa aktif  dan semangat serta senang mengikuti pembelajaran. Ketuntasan belajar pun berhasil mencapai 90,625 %.  Secara jelasnya sebagai perbandingan akan disajikan tabel hasil belajar siswa dalam menghafal aksara Jawa mulai dari kondisi awal, siklus I, siklus II, sehingga terlihat kondisi akhir dalam bentuk angka. Selain itu juga disajikan prosentase hasil belajar siswa dalam menghafal aksara Jawa mulai dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II.

Tabel Persentasi hasil belajar siswa dalam menghafal aksara Jawa

Nama Siklus Tuntas Belajar Belum Tuntas
Jumlah Siswa Prosentase Jumlah Siswa Prosentase
Pra Siklus 5 15, 625 % 27 84, 375 %
Siklus I 20 62,500 % 12 37,500 %
Siklus II 29 90,625% 3 9,375%

 

Diagram Ketuntasan

Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa dan ketuntasan belajar siswa kelas VIII E semester 1 dalam menghapal aksara Jawa dengan memberikan tindakan berupa menghapal aksara Jawa dengan teknik kemiripan bentuk dengan menggunakan media kartu huruf Jawa.

Peneliti sebagai guru menyiapkan kartu huruf baik yang berupa kartu tunggal maupun kartu ganda. Kartu tunggal maksudnya adalah satu kartu berisi satu huruf Jawa. Kartu ganda maksudnya adalah satu kartu berisi dua juruf yang mempunyai kemiripan bentuk. Guru sebagai peneliti menunjukkan kartu huruf, siswa menyebutkan nama huruf. Dalam menyebutkan nama huruf  siswa diminta untuk menjelaskan ciri khusus huruf tersebut dan kemiripannya dengan huruf lain.

Siklus pertama berjalan lancar dengan 3 kali pertemuan termasuk pengambilan data untuk siklus pertama. Pelaksanaan tindakan dan pengambilan data siklus pertama dilaksanakan sesuai jadual. Dalam pelaksanaan tindakan siklus pertama ini peneliti sekaligus juga mengamati kegiatan pembelajaran. Dalam tahap pertama ini terlihat siswa sudah aktif antusias dan bersemangat mengikuti pembelajaran. Selain itu siswa juga terlihat lebih senang mengikuti pembelajaran. Selain melalui pengamatan peneliti juga mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa menyenangkandan seberapa tertariknya siswa dalam proses pembelajaran dengan metode dan media yang digunakan peneliti sehingga siswa aktif dalam pembelajaran.

Siklus berikutnya berjalan lebih baik lagi. Siklus kedua ini pun dilaksanakan sesuai jadual yang sudah ditentukan oleh peneliti. Siklus kedua dilaksanakan tiga pertemuan termasuk pengambilan data untuk siklus kedua ini. Dalam pelaksanaan sikulus kedua ini iswa terlihat sangat antusias dan sudah paham dengan teknik yang digunakan oleh peneliti. Di akhir tindakan ini peneliti mendapatkan hasil dari tindakan yang diterapkan yaitu adamya peningkatan keaktifan, kegembiraan dan semangat atau antusias belajar siswa yang meningkat.

Dari hasil penelaahan data yang didapat dapat disimpulkan sebagai berikut. Hasil belajar siswa meningkat secara signifikan dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II. Hasil belajar siswa dari kondisi awal yang semula tuntas sebanyak 5 siswa tuntas belajar atau 15,625%, pada siklus I meningkat menjadi 20 siswa tuntas belajar atau 62,5%, sedangkan pada siklus II menjadi 29 siswa tuntas belajar atau 90,625%.

Hal ini berarti ada kenaikkan. Dari kondisi awal ke siklus I naik sebesar 15 siswa atau 46,875%. Sedangkan dari siklus I ke siklus II naik sebesar 9 siswa atau 28,125%.

 

PENUTUP

Simpulan

Penerapan menghapal aksara Jawa melalui teknik kesamaan bentuk huruf yang dilakukan oleh peneliti mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, observasi dan refleksi baik dari siklus I sampai dengan siklus II  dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berjalan lancar, menarik, bersemangat, dan hasil pembelajaran yang meningkat dari kondisi awal, siklus I, maupaun siklus II. Teknik kesamaan bentuk memudahkan siswa dalam menghapal aksara Jawa. Hapal satu huruf sudah sekaligus hapal dua huruf sekaligus. Hal ini sangat membantu siswa lebih cepat hapal huruf Jawa. Hal ini terlihat dari tabel angka maupun prosentase prestasi belajar yang selalu meningkat dari tahap ke tahap.

Dari hasil penelaahan data yang didapat dapat disimpulkan sebagai berikut. Hasil belajar siswa meningkat secara signifikan dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II. Hasil belajar siswa dari kondisi awal yang semula tuntas sebanyak 5 siswa tuntas belajar atau 15,625%, pada siklus I meningkat menjadi 20 siswa tuntas belajar atau 62,5%, sedangkan pada siklus II menjadi 29 siswa tuntas belajar atau 90,625%.

Hal ini berarti ada kenaikkan. Dari kondisi awal ke siklus I naik sebesar 15 siswa atau 46,875%. Sedangkan darisiklus I ke siklus II naik sebesar 9 siswa atau 28,125%.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Hamalik O. 1998. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

Hardiati Endang Sri. 2002. Pameran Perkembangan Aksara di Indonesia. Jakarta : Museum Nasional

Riyadi, Slamet. 1996. Ha-Na-Ca-Ra-Ka : Kelahiran, Penggunaan, Fungsi, dan Makna. Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusantara

Sedyawati, Edi. 2001. Sastra Jawa : Suatu Tinjauan Umum. Jakarta : Balai Pustaka

Slameto. 2010. Belajar dan  Faktor – faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta

Suryabrata S. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta : CV Rajawali

Winkel, W S. 2001. Psikologi Pengajaran.  Jakarta : PT Gramedia

 

Biodata  :

Nama               :  Dra. Dwi Retnowati

NIP.                 :  19671021 199512 2 001

UPT                 :   SMPN 2 Sampang




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *