PTK SMP : Belajar Matematika Dengan Model Tipe Make A Match

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A-MATCH

Oleh    :  Suswati, S.Pd.

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran Matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match.  Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif dengan rekan guru mata pelajaran matematika di SMP Negeri 1 Binangun.  Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Binangun yang berjumlah 34 siswa sedangkan objeknya adalah pembelajaran  Matematika melalui pembelajaran kooperatif tipe Make a-Match untuk mengetahui aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Binangun pada pokok bahasan Teorema Pythagoras. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus tindakan. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil observasi aktivitas siswa,angket aktivitas siswa, dan test prestasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas dan prestasi belajar Matematika siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil rata-rata prosentase lembar observasi aktivitas belajar siswa untuk tiap siklus, yaitu pada siklus I aktivitas siswa sebesar 49,02% untuk siklus II sebesar 75,65% dan didukung dengan hasil angket aktivitas belajar siswa yang  juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu dari 72,23% meningkat menjadi 71,57%. Selain itu prestasi belajar Matematika siswa juga mengalami peningkatan yaitu pada pra siklus prosentase siswa yang memenuhi KKM sebesar 52,90%(18 orang) siswa dengan nilai rata-rata sebesar 66,2 meningkat menjadi dengan 67,70% (23 orang) dengan rata-rata 73,8 pada siklus I dan mengalami peningkatan kembali pada siklus II dimana prosentase siswa yang memenuhi KKM sebesar 91,18% (31 orang) siswa dengan nilai rata-rata sebesar 81,6.

Kata kunci   : aktivitas, prestasi, pembelajaran Matematika,  model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match

 

PENDAHULUAN

Matematika memiliki objek kajian yang abstrak, hal ini sesuai dengan pendapat Herman Hudojo (1998: 2) yang mengatakan bahwa matematika  merupakan ilmu yang berkaitan dengan hal-hal yang abstrak yang tersusun secara hierarki dan penalaran deduktif. Sifat objek matematika yang abstrak pada umumnya membuat materi matematika sulit ditangkap dan dipahami (Sugeng Mardiyono, 2004: 1). Fenomena yang terjadi bahwa matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Binangun. Masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari maupun mengerjakan soal matematika.

Berdasarkan hasil ulangan harian siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Binangun, bahwa masih rendahnya kemampuan siswa kelas VIII G dalam menyelesaikan soal matematika. Hasil belajar siswa belum mencapai target yang diinginkan, hal ini terlihat dari nilai rata-rata bidang studi matematika kelas VIII G hanya 66,2 .

 Hasil belajar siswa yang masih rendah disebabkan bahwa pada saat pembelajaran matematika berlangsung, guru menggunakan metode ekspositori. Guru menjelaskan materi secara klasikal, siswa mencatat materi yang dipelajari, dan siswa mengerjakan soal-soal dari buku pelajaran. Pembelajaran matematika yang dilaksanakan lebih menekankan pada aktivitas guru sedangkan siswa kurang diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas selama pembelajaran. Hal ini membuat rasa ingin tahu dan ketertarikan siswa terhadap matematika berkurang. Siswa terlihat bosan karena aktivitas yang dilakukan hanya duduk,mendengarkan,mencatat,dan mengerjakan soal-soal. Peneliti juga melihat sebagian siswa kurang berkosentrasi mengikuti pelajaran,tidak memperhatikan penjelasan guru terutama siswa yang duduk di bangku belakang. Siswa cenderung melakukan aktivitas lain yang lebih menarik perhatian siswa, misalkan ngobrol dengan temannya. Kondisi tersebut kurang terpantau oleh guru, karena guru lebih dominan di depan kelas menerangkan materi pelajaran, kecuali siswa yang ribut di kelas langsung mendapat teguran langsung dari guru.

Melihat permasalahan di kelas VIII GSMP Negeri 1 Binangunpeneliti tertarik untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar matematika dengan menggunakan metode pembelajaran Cooperative tipe Make A-Match. “Model pembelajaran kooperatif didasarkan atas falsafah homo homini socius, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial“ (Anita Lie, 2003:27). Ciri khusus pembelajaran kooperatif mencakup lima unsur yang harus diterapkan, yang meliputi:saling  ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi proses kelompok (Anita Lie, 2003:30).

Dari hal-hal di atas peneliti merasa tertarik untuk melaksanakan penelitian tentang judul “ Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII GSMP Negeri 1 BinangunDengan Model Pembelajaran Kooperative Type Make A-Match “ .

Berdasarkan latar belakang tersebut, identifikasi masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Banyaknya siswa SMP yang tidak senang, merasa takut dan malas terhadap pembelajaran matematika.
  2. Banyak siswa yang hasil belajar atau prestasinya rendah dalam pembelajaran matematika.
  3. Upaya menggunakan masalah kontekstual dalam pembelajaran dan mengarahkan siswa yang lemah untuk aktif mengemukakan ide yang masih kurang mendapat perhatian baik oleh guru maupun siswa.
  4. Kurang tepatnya model pembelajaran yang digunakan guru matematika untuk menyampaikan pokok bahasan tertentu.

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penelitian ini dibatasi pada kurangnya aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Binangun. Prestasi belajar siswa dibatasi pada hasil belajar kognitif siswa. Salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai inovasi model pembelajaran. Model pembelajaran yang diterapkan pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match.

Rumusan masalah dalam penelitian ini, adalah:

  1. Bagaimanakah pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match agar dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar matematika?
  2. Apakah aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa dapat meningkat setelah mengikuti pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match?

 

KAJIAN PUSTAKA

Belajar

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang (Nana Sudjana, 2005: 28). Tiga hal pokok dalam belajar adalah; belajar itu membawa perubahan, perubahan itu adalah didapatkannya kecakapan baru dan perubahan itu terjadi karena usaha.Sumadi Suryabrata (2006: 232). Tiga prinsip belajar, menurut Agus Suprijono (2009:4) meliputi :

  1. Belajar adalah perubahan perilaku

Perubahan perilaku sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri: sebagai hasil tindakan instrumental yaitu perubahan yang disadari, kontinu atau berkesinambungan dengan perilaku lainnya, fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup, positif atau berakumulasi, aktif atau sebagai usaha yang direncanakan atau dilakukan, permanen/tetap, bertujuan dan terarah, mencakup keseluruhan potensi kemanusiaan.

  1. Belajar merupakan proses

Belajar terjadi karena didorong kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai.

Belajar adalah proses yang sistemik yang dinamis, konstruktif dan organik.

Belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen belajar.

  1. Belajar merupakan bentuk pengalaman

Pengalaman pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya. Tujuan belajar tidak hanya untuk mendapatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir saja, namun juga sebagai pembentukan sikap, perilaku dan pribadi individu yang melakukan tindakan belajar tersebut.

Pembelajaran matematika di SMP 

“Pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal” (Erman Suherman, 2003:8). Selain itu, “pembelajaran merupakan kegiatan kompleks dalam mengatur berbagai komponen dan menyelaraskannya untuk terjadinya proses belajar”Suyatinah (2004:11). Peristiwa belajar disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman kehidupan sosial di masyarakat. Belajar dengan proses pembelajaran ada peran guru, bahan ajar dan lingkungan yang kondusif.

Mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SMP/MTS meliputi aspek-aspek sebagai berikut: bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, statistika dan peluang. Pembelajaran matematika SMP merupakan upaya penataan kondisi belajar yang direncanakan yang memberi nuansa agar program belajar matematika di jenjang pendidikan SMP tumbuh dan berkembang secara optimal, demi mencapai tujuan pembelajaran matematika yaitu: pembelajaran matematika di SMP dimaksudkan agar siswa memiliki bekal pengetahuan untuk melanjutkan ke pendidikan menengah dan siswa dapat meningkatkan dan memperluas pengetahuan matematika yang diperolehnya di sekolah dasar untuk diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran Tipe Make A-Match

Model pembelajaran kooperatif  membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja secara bersama-sama di antara anggota kelompok  akan meningkatkan motivasi,produktivitas dan perolehan belajar (Etin Solihatin, 2007:5). Jadi, melalui pembelajaran kooperatif siswa diajarkan untuk berinteraksi dan bekerja sama dengan siswa lain dalam proses belajarnya demi mencapai keberhasilan belajar.

Make A-Match merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif. Model Make A-Match adalah bentuk pengajaran dengan cara mencari pasangan kartu yang telah dimiliki dan pasangan bisa dalam bentuk orang perorang apabila jumlah siswa banyak, kemudian berhadapan untuk saling menjelaskan makna kartu yang dimiliki (Lukman Nadjarnudin, 1999: 23). Dalam pembelajaran teknik Make A-Match terdapat unsur pencocokan kartu yang dimiliki dengan kartu lain yang sesuai. Teknik Make A-Match digunakan untuk memperdalam atau review materi yang telah dipelajari melalui latihan-latihan soal yang disajikan dalam kartu-kartu.

Aktivitas Belajar

Di dalam belajar diperlukan aktivitas karena pada perinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku sehingga melakukan kegiatan. Tidak ada kegiatan belajar jika tanpa aktivitas oleh karenanya aktivitas merupakan perinsip atau asa yang penting di dalam interaksi belajar mengajar.

Aktivitas siswa dalam belajar matematika menurut Erman Suherman, dkk (2001:76) tampak dalam kegiatan berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran dan keyakinan dengan sungguh-sungguh, mencoba dan menyelesaikan latihan soal dan tugas yang di berikan guru, belajar dalam kelompok, mencobakan konsep-konsep tertentu dan mampu mengkomunikasikan hasil pikiran dan penemuan secara lisan  atau penampilan. Aktivitas dalam proses belajar merupakan rangkaian kegiatan yang merupakan keaktivan siswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya hal yang belum jelas, mencatat, mendengar, berfikir, membaca dan segala dilakukan, yang dapat menunjang prestasi belajar. Aktivitas belajar metematika merupakan kegiatan yang disengaja maupun tidak disengaja untuk memperoleh suatu pengetahuan baru dengan melibatkan fisik maupun juga psikis yang keduanya saling mendukung agar menumbuhkan hasil belajar metematika  yang optimal.

     Prestasi Belajar

Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu “prestatie”, kemudian dalam bahasa indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha” (Zainal Arifin, 2001:3). Sedangkan menurut Nana Sudjana (2001:22) hasil atau prestasi belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah penerima pengalaman belajar.

Jadi prestasi belajar matematika adalah tingkat kemampuan yang dicapai oleh siswa setelah menjalani kegiatan pembelajaran matematika. Prestasi belajar matematika biasanya ditunjukan dengan angka nilai tes matematika yang diberikan guru pada saat evaluasi dilaksanakan. Dalam hal ini tes tersebut berfungsi sebagai alat untuk mengukur hasil belajar yang dicapai oleh siswa dalam belajar matematika.

Kerangka Berpikir

   Dalam upaya meningkatkan prestasi belajar perlu adanya model pembelajaran yang bervariasi. Salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran koperatif tipe Make A-Match. Model Make A-Match adalah bentuk pengajaran dengan cara mencari pasangan kartu yang telah dimiliki dan pasangan bisa dalam bentuk orang perorang apabila jumlah siswa banyak, kemudian berhadapan untuk saling menjelaskan makna kartu yang dimiliki. Teknik Make A-Match digunakan untuk memperdalam atau review materi yang telah dipelajari melalui latihan-latihan soal yang disajikan dalam kartu-kartu. Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan anak didik. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match ini dimulai teknik yaitu siswa ditugaskan untuk mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal, siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktunya diberi point.

Dengan menggunakan metode ini memungkinkan siswa berperan aktif selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar bekerjasama dengan teman secara efektif dan berinteraksi dengan guru sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Dengan diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe berpasangan make a-matchdiharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestai belajar siswa.

METODOLOGI  PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research yang dilaksanakan secara kolaboratif dan partisipatif. Kolaboratif artinya peneliti berkolaborasi atau bekerjasama dengan guru mata pelajaran matematika kelas VIII G SMP Negeri 1 Binangun. Partisipatif artinya peneliti dibantu oleh rekan sejawat yang terlibat secara langsung dalam penelitian. Tindakan yang dilaksanakan adalah penerapan pembelajaran kooperatif tipe make a-match dalam pembelajaran matematika sebagai upaya meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Binangun.

Penelitian dilaksanakan di kelas VIII G SMP Negeri 1 Binangun. Penelitian dilaksanakan pada semester gasal tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan, mulai bulan September 2015 sampai dengan bulan Desember 2015.

Penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart yang terdiri dari dua siklus dan masing-masing siklus menggunakan empat komponen tindakan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang saling terkait. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperoleh data yang obyektif. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: observasi, angket, tes dan dokumentasi.

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu:

  1. Apabila jumlah siswa berkategori tuntas belajar minimal 85% dengan KKM 70 dan adanya peningkatan nilai rata-rata tes siswa dari siklus I  ke siklus berikutnya.
  2. Apabila Aktivitas belajar dalam proses pembelajaran minimal 65 % yang diukur dengan melihat hasil angket dan lembar observasi siswa dengan rata-rata aktivitas belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus berikutnya dilihat dari lembar observasi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Siklus I

  1. Dari hasil lembar observasi aktivitas belajar Matematika siswa, indikator aktivitas belajar siswa yang kualifikasinya Sangat Tinggi yaitu indikator menempatkan diri pada kelompoknya dan indikator mengerjakan soal kuis yang diberikan, memperoleh kualifikasi tinggi, sedangkan mempresentasikan hasil diskusi dengan pasangan kelompoknya, mendengarkan ketika guru menjelaskan, mengajukan pertanyaan kepada guru,menjawab pertanyaan guru,memberikan tanggapan kepada jawaban yang dikemukakan, menulis kesimpulan materi yang diajarkan dan mengerjakan PR yang diberikan masih mempunyai kualifikasi sedang. Ini mungkin karena siswa masih canggung untuk aktif dalam pembelajaran dengan model yang baru. Rata-rata yang diperoleh dari 9 indikator aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 49,02 % dengan kualifikasi sedang. Namun belum mencapai indikator keberhasilan dalam penelitian ini.
  2. Dari hasil rata-rata prosentase angket aktivitas siswa, sudah mencapai kualifikasi Tinggi dengan prosentase 72,23% sehingga sudah mencapai indikator keberhasilan.
  3. Dari hasil rata-rata test evaluasi siklus I, prestasi belajar siswa mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan nilai awal siswa. Rata-rata nilai awal siswa sebesar 66,2 dan meningkat menjadi 73,8 dan siswa yang memenuhi KKM juga mengalami peningkatan dari 52,90% (18 orang) siswa meningkat menjadi 67,7% (23 orang) siswa. Walaupun hasil test siklus I menunjukkan peningkatan, tetapi karena belum mencapai indikator keberhasilan maka penelitian dilanjutkan pada siklus II.

Hasil Siklus II

Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II, dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Pembelajaran dengan model kooperatiftipe Make A-Match pada siklus II sudah berjalan sesuai prosedur yang telah direncanakan dan berjalan lebih baik dibandingkan pada siklus I.
  2. Dari hasil lembar observasi aktivitas belajar Matematika siswa, pada setiap indikatornya mengalami peningkatan. Ini menunjukkan guru berhasil dalam mengarahkan siswa untuk lebih aktif. Rata-rata yang diperoleh dari 9 indikator aktivitas belajar siswa pada siklus II sebesar 71,57% dengan kualifikasi Tinggi dan sudah mencapai indikator keberhasilan dalam penelitian ini.
  3. Dari hasil rata-rata presentase angket aktivitas siswa juga mengalami peningkatan dibandingkan siklus I yaitu mencapai kualifikasi Tinggi dengan prosentase 71,77 % sehingga sudah mencapai indikator keberhasilan.
  4. Dari hasil rata-rata test siklus II, prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari nilai pada siklus I yaitu dari 73,8 dengan siswa yang memenuhi KKM 67,70% (23 orang) siswa meningkat menjadi 81,60 dengan siswa yang memenuhi KKM 91,18% (31 orang) siswa dan telah mencapai indikator keberhasilan dalam penelitian ini.Prosentase siswa yang memenuhi KKM telah mencapai indikator keberhasilan dan nilai rata-rata test sudah meningkat. Maka indikator keberhasilan juga telah tercapai.

Secara umum, kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I dapat diperbaiki pada siklus II. Hal tersebut dapat ditunjukkan antara lain sebagai berikut.

  1. Dalam pembelajaran siswa sudah banyak yang memperhatikan penjelasan guru.
  2. Saat pembelajaran kelompok pada tahap mencari pasangan, kerjasama antar siswa dalam kelompok terlihat lebih kompak.
  3. Sebagian besar siswa sudah menyimak LKS dalam kelompok.
  4. Siswa terlihat sudah tidak canggung ketika nomornya ditunjuk untuk presentasi, dan siswa lain juga sudah cukup aktif dalam menanggapi.

 

Pembahasan

Pembelajaran yang dilaksanakan di kelas VIII GSMP Negeri 1 Binangun dalam penelitian ini menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match yang memfokuskan pada proses pembelajaran dalam kelompok untuk mencari pasangan dimana mengedepankan rasa saling membantu antar anggota dalam kelompok , dapat mengembangkan rasa tanggungjawab pada diri pribadi siswa , meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.

Hasil observasi menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match ini siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. Rasa ingin tahu dalam memahami materipun menjadi meningkat sehingga dapat meninggalkan kesan yang kuat pada diri siswa tentang materi yang dipelajarinya, hal tersebut berdampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

Hasil observasi aktivitas siswa setelah tindakan siklus I dan siklus II dapat disajikan dalam diagram berikut :

Data hasil angket aktivitas siswa menunjukkan bahwa respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari keempat indikator yang diamati menunjukkan peningkatan.. Pada siklus I, indikator interaksi dengan guru dan siswa lain sebesar 72,79% (kualifikasi tinggi) kemudian naik menjadi 77,94% (kualifikasi tinggi) pada siklus II. Interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa lain dapat membangun keaktifan siswa. Indikator kerjasama dengan teman sekelompok juga mengalami peningkatan dalam tiap siklusnya, yaitu dari 72,88% (kualifikasi tinggi) menjadi 75,82% (kualifikasi tinggi). Untuk indikator mengerjakan soal dan tugas, pada siklus I data menunjukkan sebesar71,18% dan meningkat pada siklus II menjadi 74,71%. Indikator mengerjakan soal dan tugas diamati dari respon siswa mengerjakan LKS, mengerjakan tugas kelompok dan mengikuti permainan Make A-Match. Peningkatan juga terjadi pada indikator motivasi dalam mengikuti pembelajaran yaitu 72,06% (kualifikasi tinggi) pada siklus I dan meningkat menjadi 74,14% (kualifikasi tinggi) pada siklus II. Dalam indikator motivasi dalam mengikuti pembelajaran respon yang diamati berkisar tentang kegiatan siswa mencatat, mendengarkan, menghargai pendapat dan motivasi siswa mengikuti pembelajaran Matematika.

Dari hasil data tersebut didapatkan rata-rata keseluruhan yang diperoleh dari lembar angket pada siklus I adalah sebesar 72,23 % dan 75,65 % pada siklus II. Hasil angket aktivitas siswa setelah tindakan siklus I dan siklus II dapat disajikan dalam diagram berikut :

Berdasarkan data hasil observasi aktivitas belajar siswa dan angket aktivitas belajar siswa dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar Matematika siswa kelasVIII GSMP Negeri 1 Binangun melalui model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match mengalami peningkatan.

Prestasi Belajar Siswa.  Dilihat dari nilai pra tindakan (pra siklus) yang diambil dari nilai Ulangan Harian rata-rata hasil belajar siswa sebesar 66,2 menunjukkan prestasi belajar Matematika siswa VIII GSMP Negeri 1 Binangun masih rendah dimana masih terlihat rentang nilai antara nilai terbaik dan terburuk cukup signifikan yang disebabkan model pembelajaran yang digunakan belum membuat siswa merasa saling membutuhkan. Begitu juga siswa yang memenuhi KKM juga masih sedikit.

Test prestasi belajar Matematika siswa diberikan setelah tindakan siklus I dan setelah siklus II. Untuk nilai prestasi pra tindakan diambil dari nilai Ulangan Harian sebelumnya. Berikut disajikan grafik nilai kemampuan awal siswa dan nilai yang diperoleh siswa setelah tindakan siklus I dan siklus II.

Dari grafik di atas. terlihat sebagian besar siswa mengalami peningkatan nilai dari pra siklus ke siklus I dan II. Peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari meningkatnya rata-rata nilai test dan prosentase siswa yang memenuhi KKM.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar dan Prestasi Belajar matematika siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Binangun melalui pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match  mengalami peningkatan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian kegiatan PTK sebagai berikut:

Aktivitas Belajar Siswa

Peningkatan aktivitas siswa dapat dilihat dari rata-rata prosentase tiap indikator aktivitas belajar siswa yang diambil dari lembar observasi aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran Matematika. Pada siklus I, melalui lembar observasi aktivitas siswa didapatkan rata-rata prosentase sebesar 49,02% dengan kualifikasi sedang, meningkat menjadi 71,57% dengan kualifikasi tinggi. Sedangkan dilihat dari angket keaktifan belajar siswa juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu dari 72,23% meningkat menjadi 75,65%.

Prestasi Belajar Siswa

Setelah penerapan pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe Make a-Match, prestasi belajar Matematika siswa kelas VIII GSMP Negeri 1 Binangun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya prosentase siswa yang memenuhi KKM dan rata-rata hasil belajar siswa yang diperoleh dari lembar evaluasi atau test yang diberikan pada tiap akhir siklus. Pada pra siklus prosentase siswa yang memenuhi KKM sebesar 52,90%(18 orang) siswa dengan nilai rata-rata sebesar 66,2 meningkat menjadi 73,8. Pada siklus I, siswa yang memenuhi KKM sebesar67,70% (23 orang) siswa dengan nilai rata-rata sebesar 73,8 dan mengalami peningkatan kembali pada siklus II dimana prosentase siswa yang memenuhi KKM sebesar 91,18% (33 orang) siswa dengan nilai rata-rata sebesar 81,6.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono. 2011. Cooperative Learning : Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Anita Lie.2008.Cooperative Learning :Mempraktikan Cooperative Learningdi Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

Dimyati dan mujiono 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah dan Zain. 2006. Psikologi Belajar Matematika. Jakarta: Rineka Cipta.

Erman Suherman, dkk. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: UPI.

Herman Hudojo.1998. Mengajar belajar matematika. Jakarta: Gramedia.

Lukman Nadjamudin. 1991. Penerapan Cooperative Learning Model Make A-Match: Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pengajaran Sejarah. http: // ariesgoblog. Files. Wordpres.com/ 2010/01/ lukman- n- Cooperatif 1. Pdf. (Diakses Pada hari Minggu 21 Februari 2010).

Nana Sudjana. 1989. Dasar – Dasar PBM. Bandung : Sinar Baru

Nia Kristiani. 2010. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A-Match Dalam Pembelajaran Matematika Sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII GD SMP Negeri 9Yogyakarta.Yogyakarta: UNY. (eprints. Uny.ac.id/2191. Diakses pada 09 Juli 2011)

Sardiman.AM 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sugeng Mardiyono. 2004. Pembelajaran Matematika. Jakarta: Gramedia

Suharsimi Arikunto,dkk.2007.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Tarmizi Ramadhan. 2008. Pembelajaran Kooperatif ”Make A-Match”. http: // tarmizi.wordpress.com/2008/12/03/ pembelajaran kooperatif make a-match/.

Biodata :

Nama                           :  Suswati, S.Pd.

NIP                             :  197009231998022003

Jabatan                        :  Guru

Unit Kerja                   :  SMP Negeri 1 Binangun




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *