Belajar di luar kelas

PTK SMP Keterampilan Menulis Puisi Melalui Pendekatan Kontekstual

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

Oleh : Sudirman, S.Pd.,MM

ABSTRAK

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan keterampilan menulis puisi pada siswa kelas VII H SMPN 2 Nusawungu, Kabupaten Cilacap semester II  tahun pelajaran 2015/2016. Variabel dalam penelitian ini adalah ketrampilan menulis puisi dan pendekatan kontekstual. Sedangkan metode yang digunakan berupa Penelitian tindakan Kelas dengan dua siklus. Pengumpulan data dilaksanakan dengan teknik tes yang akan digunakan untuk mengetahui hasil dari masing – masing siklus. Keterampilan menulis puisi pada siswa kelas VII H SMP Negeri  2 Nusawungu, Kabupaten Cilacap meningkat sebesar 11 yaitu dari nilai rata – rata 62 pada kondisi awal (sebelum diberi tindakan) menjadi 73 pada siklus kedua atau ada peningkatan sebesar 17,74 %. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa melalui pendekatan kontekstual dapat meningkatkan ketrampilan menulis puisi pada siswa kelas VII H SMPN 2 Nusawungu.

Kata Kunci : Keterampilan menulis puisi; Pendekatan kontekstual.

PENDAHULUAN

            Menulis sebagai salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa merupakan keterampilan berbahasa yang membutuhkan kompetensi yang komplek. Untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bermakna, penulis harus mampu memadukan kemampuan mengorganisasikan gagasan dan kemampuan menggunakan bahasa. Untuk menciptakan sebuah karya sastra yang dalam hal ini adalah puisi, seorang penulis dituntut untuk menggabungkan imajinasi dengan menggunakan bahasa yang indah dan bermakna.

           Pembelajaran sastra terutama puisi sering dirasa sulit oleh siswa SMP Negeri 2 Nusawungu kelas VII H semester 2 tahun pelajaran 2015 / 2016 sehingga hasil yang diperoleh siswa  cenderung kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan pembelajaran tentang menulis kreatif puisi, siswa masih kesulitan untuk menemukan ide atau bahan penulisan puisi. Oleh karena itu, peneliti mencoba melakukan penelitian dalam rangka menumbuhkan dan memotivasi siswa untuk menulis puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual untuk memotivasi dan menumbuhkan minat siswa dalam menulis puisi. Karena pada dasarnya puisi adalah merupakan kreatif, yakni karya yang lahir dari kreativitas penulisnya, dengan demikian menulis puisi lekat kaitannya dengan kemampuan individu untuk memunculkan nilai baru dalam puisi yang diciptakannya.

Agar pembelajaran sastra ini disukai oleh siswa maka pelaksanaan pembelajaran haruslah menyenangkan dan menantang. Siswa merasa mengalami sendiri dunia sastra. Untuk itu peran guru sangatlah dominan dalam melaksanakan skenario pembelajaran. Guru harus mampu membangkitkan semangat siswa dan menjadikan anak merasa mengalami dan melihat  sendiri apa yang disampaikan sehingga siswa merasa tertantang untuk menggali pengalaman yang dirasakan dalam proses pembelajaran ini. Dengan demikian setelah anak mengalami sendiri dan mampu menggali pengalaman dalam pembelajaran maka diharapkan siswa akan merasa senang mengikuti pembelajaran sastra. Setelah siswa senang dengan pembelajaran sastra tentunya diharapkan siswa mampu memperoleh hasil yang lebih baik lagi.

Berdasarkan uraian latarbelakang masalah di atas dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut, ’Apakah pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas VII H SMPN 2 Nusawungu pada semester II tahun pelajaran 2015/2016 dalam menulis puisi ?

KAJIAN PUSTAKA

Hakikat Menulis

Banyak ahli yang mengungkapkan pendapatnya tentang hakikat menulis, baik berupa definisi,  tujuan dan motivasi, manfaat maupun jenisnya. Hal tersebut dapat dilihat pada uraian berikut ini. Menurut Tarigan (1986:3-4) menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI : 1079) menyatakan bahwa menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat ) dengan tulisan.

Sedangkan menurut Lado  (dalam Tarigan) menyatakan bahwa menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.

Berdasar uraian di atas, menulis merupakan suatu represenrasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.

Hakikat Puisi

Puisi adalah salah satu jenis karya sastra. Kata puisi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani “poieo” atau “poio” atau “poetes” yang berarti (1) membangun, (2) menyebabkan, menimbulkan (3) membuat puisi. Berdasarkan pengertian kata-katanya, puisi berarti ucapan yang dibuat/dibangun maksudnya ucapan yang tidak langsung.

KBBI dan Kamus Istilah sastra menyatakan bahwa puisi adalah ragam satra yang bahasanya terikat oleh rima, irama, dan tata puitika. Puisi juga merupakan gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna. Dengan demikian puisi dapat diartikan bentuk tulisan yang kata-katanya memiliki pemusatan (kekuatan) makna, arti yang bersayap serta adanya bentuk khusus.

 

Hakikat Menulis Puisi dalam pelajaran Bahasa Indonesia

Menulis puisi berarti proses belajar melahirkan / menuangkan gagasan, pikiran ke dalam bentuk tulisan yang padat, bermakna dan bentuk tertentu. Menulis puisi dalam pelajaran Bahasa Indonesia dalam penelitian ini diartikan sebagai kegiatan melahirkan / menuangkan gagasan, pikiran ke dalam bentuk tulisan yang padat, bermakna dan bentuk tertentu sesuai dengan kurikulum pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama ( SMP ).

Hakikat Pendekatan Kontekstual

Pendekatan dalam pembelajaran sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan untuk mendorong siswa belajar lebih aktif. Pendekatan pembelajaran menurut Syaiful (2003:68) adalah sebagai aktifitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran, pendekatan pembelajaran juga mempemudah guru dalam memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Pendekatan kontekstual atau dikenal dengan istilah  Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan adanya keterkaitan konteks materi dan aktivitas pembelajaran dengan lingkungan dimana siswa berada, baik lingkungan sosial, budaya, geografis  dan pemahaman materi sebelumnya serta karakteristik siswa itu sendiri. Pendekatan kontekstual dapat membuat variasi dalam pembelajaran dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai. Pendekatan  kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlangsung alamiah dan bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. (Depdiknas 2002 : 1 ) Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yang efektif, yakni konstruktivisme (Construktivism), bertanya (questioning), menemukan (inkuiri), masyarakat belajar (Learning community) pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Autentic Assessment)

     1). Konstruktivisme (Contructivism)

Konstruktivisme (Contructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, Pembelajaran yang berciri konstrutivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Prinsip dasar konstruktivisme dalam  praktik pembelajaran yang harus dipegang oleh guru adalah sebagai berikut : (a). Proses pembelajaran harus lebih utama dari hasil pembelajaran, (b). Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting daripada informasi verbalistis ,(c). Siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri,(d). Siswa diberikan kebebasan untuk menerapkan strateginya sendiri dalam belajar,

(e). Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri, (f). Pengalaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru, (g). pengalaman siswa dibangun secara asimilasi (yaitu pengetahuan dibangun dari struktur pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi (yaitu struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung/menyesuaikan hadirnya pengalaman baru.

     2). Menemukan ( Inkuiri)

Menemukan merupakan bagian inti dari CTL, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Siklus inkuiri meliputi observasi, bertanya, mengajukan dugaan, mengumpulkan data dan menyimpulkan.

     3). Bertanya (questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu berawal dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

     4). Masyarakat Belajar ( Learning Community)

Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Karena dalam konsep ini hasil belajar diperoleh dari “sharing” antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Dalampembelajaran ini guru disarankan untuk melaksanakan pembelajaran dengan kelompok – kelompok yang heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang cepat menangkap mengajari temannya yang lambat menangkap.

     5). Pemodelan (Modeling)

Pada komponen ini, pemodelan dimaksudkan dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Misalnya pada saat pembelajaran kata seru. Guru bisa menunjuk siswa sebagai model untuk mengucapkan kata tertentu dengan penjiwaan. Kata “aduh” misalnya yang menyatakan kesakitan, kekecewaan, dan lain-lain. Demikian pula dalam pembelajaran puisi dapat disodorkan contoh puisi yang sudah terkenal. Dengan demikian, guru tidak selalu menjadi model dalam pembelajaran.

     6). Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa – apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Penerapan dalam pembelajaran, setiap akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Kegiatan ini dapat berupa :

  • Pernyataan langsung tentang apa – apa yang diperolehnya pada pembelajaran hari ini.
  • Catatan atau jurnal di buku siswa.
  • Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran.
  • Hasil karya.

     7). Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)

Assessment menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil.

Kemampuan menulis berupa kata – kata kias dapat dimiliki oleh setiap individu bila pembelajaran menulis yang diberikan lebih intensif dan berlangsung terus menerus. Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi, guru harus menerapkan pengetahuan mengenai teknik dalam mengajar. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kontekstual. Pendekatan ini menuntut guru menggunakan banyak strategi yang akhirnya diharapkan siswa lebih aktif dan tertantang serta senang dalam belajar. Sehingga siswa dapat menuangkan ide dengan lebih leluasa.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Nusawungu pada kelas VII H semester 2 tahun pelajaran 2015/2016. Subjek penelitian dengan jumlah siswa sebanyak 38 anak terdiri dari siswa laki-laki 15 anak dan perempuan 23 anak.

Teknik pengumpulan data ada beberapa cara baik melalui tes, observasi maupun wawancara. Teknik tes dapat berupa tes lisan, tes tertulis dan tes perbuatan. Dalam penelitian ini peneliti hanya akan teknik tes yaitu tes tertulis karena data yang kami ambil berupa produk atau hasil. Tes dilaksanakan dua kali yaitu 1 kali pada siklus pertama dan 1 kali pada siklus kedua untuk mengetahui hasil akhir. Alat yang diguanakan untuk pengumpulan data pada penelitian ini berupa soal tes tertulis yang penulis awali dengan penyusunan kisi – kisi terlebih dahulu.

Agar soal yang kami gunakan valid, sebelum membuat soal peneliti membuat kisi – kisi terlebih dahulu,setelah itu dilanjutkan membuat soal. Setelah soal selesai dibuat, langkah berikutnya adalah membuat pedoman penskoran dan penilaian, kemudian soal tersebut dipergunakan dalam pelaksanaan pengambilan data.

Untuk menganalisa data yang diperoleh dari penelitian, peneliti menggunakan analisis diskriptif komparatif yaitu membandingkan hasil belajar siswa  antar tes pertama dengan tes kedua atau hasil tes antar siklus serta dengan indikator kinerja. Maksud pembandingan ini adalah perbandingan nilai rata – rata sebelum penelitian (data awal) dengan siklus pertama, serta nilai rata – rata siklus pertama dengan siklus kedua dan akhirnya perbandingan antara rata – rata nilai dari data awal dengan data akhir. Demikian pula kinerja atau proses yang dilakukan oleh siswa pada setiap siklus dibandingkan.

Prosedur penelitian, dalam penelitian banyak metode yang dapat digunakan, tetapi dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode tindakan kelas. Metode ini dipilih karena peneliti sebagai pengajar yang setiap harinya berada di kelas dan menemukan kenyataan yang berbeda dengan harapan. Yaitu nila rata – rata ulangan harian peserta didik masih rendah, bahkan nilai rata – rata ini masih berada dibawah batas ketuntasan minimal.

Dari kenyataan tersebut peneliti mengevaluasi cara penyampaian materi kepada peserta didik. Penyampaian materi yang dilaksanakan sebelumya terjadi satu arah yaitu dari guru ke siswa serta hanya berlangsung di dalam kelas. Untuk itu pada pembelajaran berikutnya peneliti akan menggunakan metode kontekstual yaitu mendekatkan peserta didik pada konteksnya. Metode penelitian tindakan kelasi ini terdiri dari dua.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Kondisi Awal

SMP Negeri 2 Nusawungu adalah sebuah sekolah yang terletak di sebuah kecamatan Nusawungu kabupaten Cilacap. Jarak dari kota kecamatan ke kota kabupaten kurang lebih 40 km sedangkan letak SMP Negeri 2 Nusawungu 6 km dari kota kecamatan.  Jarak yang cukup jauh ini tidak ditunjang dengan sarana transportasi yang memadai seperti angkutan umum. Sehingga sebagian besar siswa mengandalkan sepeda kayuh sebagai alat transportasi utama. . Apalagi karena sebagian besar orang tua mereka bertani atau buruh tani yang penghasilannya tak menentu. Ditambah lagi latar belakang pendidikan orang tua yang sebagian besar lulusan sekolah dasar. Mereka kebanyakan kurang mempedulikan pendidikan anaknya. Sehingga banyak di antara lulusan dari SMP Negeri 2 Nusawungu tidak melanjutkan sekolah.

Cukup banyaknya siswa yang tidak melanjutkan sekolah ini mengakibatkan sekolah di SMP semacam pelabuhan sebagai tempat pemberhentian terakhir. Sehingga semangat belajar siswa rendah. Rendahnya semangat belajar ini mengakibatkan siswa bersikap kurang aktif dalam proses pembelajaran. Akibatnya kemampuan siswa dalam belajar juga rendah. Ini dapat kita lihat dari hasil ulangan harian siswa seperti tertera pada tabel berikut ini :

Nilai ulangan harian kondisi awal

no Keterangan nilai Ulangan Harian I Ulangan Harian II
1 Nilai Terendah 60 55
2 Nilai Tertinggi 70 70
3 Niai Rata – rata 63 61

Mengamati kondisi semacam ini menjadikan peneliti merasa tertantang untuk mencari dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Untuk itulah peneliti mencoba menerapkan sebuah pendekatan yang belum dilakukan oleh peneliti yaitu pendekatan Kontekstual.

 

  1. Deskripsi Hasil Siklus I

Peneliti mengawali kegiatan dengan menyapa para siswa lalu bertanya jawab tentang kondisi siswa, orang tua siswa khususnya berkaitan dengan penghasilan mereka sebagai petani. Serta kesulitan – kesulitan yang saat ini dialami oleh para petani.

Setelah mengawali kegiatan di atas peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran hari itu kemudian menambah wawasan / gambaran tentang kehidupan petani akhir – akhir ini dan perkiraan ke depan. Kegiatan dilanjutkan dengan memberikan kesempatan untuk merenungi kehidupan petani lalu beberapa siswa diminta untuk menyampaikan pendapatnya secara lisan tentang petani.

Penerapan Pendekatan Kontekstual di dalam kelas

Gambar 1. Penerapan Pendekatan Kontekstual di dalam kelas

Tampak pada gambar beberapa siswa mengacungkan jari tangan untuk menyampaikan pendapat berkaitan dengan kehidupan para petani. Sementara siswa lain mengikuti pembelajaran dengan antusias. Setelah beberapa siswa dirasa mampu mengungkapkan secara lisan, langkah berikutnya siswa diminta untuk mencurahkan perasaan yang dialaminya, atau pendapatnya tentang pertanian dalam bentuk tulisan puisi bebas.

Dari hasil unjuk kerja siswa berupa puisi diperoleh hasil nilai terendah 60 dan teringgi 80 dengan rata – rata perolehan nilai 66. Pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual ini peran siswa cukup aktif ini tampak dengan adanya keberanian beberapa siswa yang menyampaikan pendapat secara lisan. Hasil ini seperti tampak dalam tabel berikut :

                           Frekuensi nilai pada siklus I

No Nilai Banyaknya Siswa
1 50 0
2 60 16
3 70 20
4 80 2
5 Jumlah 38

            Berdasarkan tabel di atas nilai tertinggi sebesar 80 diperoleh 2 orang siswa. Sedangkan perolehan terbanyak  70 diperoleh oleh 20 siswa dan siswa yang memperoleh nilai 60 sebanyak 16  siswa. Untuk memperjelas gambaran di atas dapat kita lihat seperti yang terpampang dalam diagram. Pada diagram tampak perolehan nilai tersebut. Berikut ini diagram frekuensi nilai pada siklus pertama.

Siklus 1

Diagram Frekuensi nilai siklus I

  1. Deskripsi Hasil Siklus II

Peneliti mengawali kegiatan dengan menyapa para siswa lalu menyampaikan tujuan pembelajaran hari itu. Setelah siswa mengetahui tujuan pembelajaran, para siswa diajak ke sawah untuk mengamati keadaan tanaman yang ada di sawah. Sawah yang kami amati berada di belakang sekolah. Pemilihan lokasi sawah dekat sekolah ini untuk menghemat waktu pembelajaran serta keadaan rata – rata sawah di kecamatan Nusawungu sedang seperti itu. Sehingga diharapkan siswa dapat menangkap kehidupan petani pada saat ini secara umum Setelah berada di dekat sawah, siswa diminta mengamati keadaan tanaman yang berada di hadapannya. Lalu menghubungkan antara    pengamatan dengan pengalaman yang dimiliki tentang kehidupan  para petani. Siswa yang masih mengalami kesulitan dipersilakan  untuk bertanya.

Siswa mengamati objek secara langsung

Gambar 2. Siswa mengamati objek secara langsung

            Siswa laki – laki sedang mengamati benih padi yang mengering karena kekurangan air. Sementara di bagian lain tampak tanaman kacang hijau yang belum berbuah. Siswa perempuan tampak dengan antusias mengamati persawahan yang berada di hadapannya. Dalam gambar tampak peneliti sedang menjelaskan kepada para siswa yang mengajukan pertanyaan. Dalam gambar tampak pula tanaman petani yang berbeda. Ada yang menanam kacang hijau, ada yang telah menabur benih ada pula yang masih membiarkannya begitu saja karena petani masih menanti hujan yang tak kunjung turun. Sehingga benih yang telah tumbuh pun tampak mengering.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual di mana para siswa diajak secara langsung ke objek yang menjadi bahan pembelajaran sangat menampakkan keaktifan siswa. Hal ini tampak pada begitu asyiknya mereka berdiskusi tentang tanaman dan kehidupan petani. Demikian pula ketika mereka menuliskan pengalaman yang dialaminya dalam bentuk puisi menunjukkan hasil rata – rata yang lebih bagus dari pada pembelajaran kontekstual yang dilaksanakan di dalam kelas. Siswa menjadi lebih mudah menuangkan gagasan-gagasan mereka dalam bentuk puisi. Nilai rata – rata yang diperoleh siswa 73 dengan rentangan nilai antara 60 sebagai nilai terendah dan 80 sebagai nilai tertinggi. Tampak pada tabel : 5 berikut ini frekuensi nilai pada siklus kedua .

Frekuensi nilai pada siklus II

No Nilai Banyaknya siswa
1 50 0
2 60 4
3 70 20
4 80 14
5 Jumlah 38
Kenaikan dengan proses pembelajaran di alam

Grafik 2. Kenaikan dengan proses pembelajaran di alam

Melihat hasil di atas ternyata dengan menggunakan pendekatan kontekstual di lapangan proses belajar mengajar berlangsung lebih hidup karena adanya komunikasi tiga arah serta hasil yang diperoleh siswa lebih tinggi.

  1. Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus

             Dari paparan di atas dapat peneliti gambarkan tentang pelaksanaan tindakan antar siklus sebagai berikut. Pada kondisi awal peneliti belum menggunakan pendekatan kontekstual siswa pasif komunikasi berjalan searah dari guru ke siswa. Selanjutnya pada siklus I peneliti menggunakan pendekatan kontekstual yang dilakukan di dalam kelas, siswa agak aktif sedangkan pada siklus II peneliti menggunakan pendekatan kontekstual dengan mendekatkan siswa secara langsung ke objek pengamatan yaitu sawah, siswa tampak aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran dan merasa lebih asyik belajar di luar ruang kelas. Untuk lebih jelasnya dapat penulis paparkan perbandingan tindakan tersebut dalam bentuk tabel berikut ini.

Perbandingan tindakan antar Siklus

Tindakan Pelaksanaan Tindakan
Kondisi Awal Siklus I Siklus II

Dilakukan Guru

Pembelajaran belum menggunakan pendekatan kontekstual Pembelajaran mengunakan pendekatan kontekstual di dalam kelas Pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual di lapangan (sawah)
Dilakukan siswa Siswa pasif Siswa agak aktif  beberapa siswa berani menyam

paikan pendapatnya

Siswa lebih aktif, cukup banyak siswa yang berani menyampaikan pendapatnya

Setelah peneliti mengajarkan materi menggunakan pendekatan kontekstual yang mendekatkan siswa ke objek amatan diperoleh hasil peningkatan sebagai berikut :

Perbandingan hasil dan proses pembelajaran antar siklus

Hasil Pengamatan Kondisi Awal Siklus I Siklus II
Proses Pembelajaran

Partisipasi siswa kurang, hal ini ditandai ketidakberanian siswa bertanya / menyampaikan pendapat. Komunikasi berlangsung satu arah

Siswa agak aktif  beberapa siswa berani menyampaikan pendapatnya. Komunikasi berlangsung dua arah Siswa aktif, cukup banyak siswa yang berani menyampaikan pendapatnya. Komunikasi berlangsung tiga arah
Hasil Pembelajaran Rata – rata Hasil ulangan harian masih rendah yaitu 62 Rata – rata hasil ulangan harian 66

Rata – rata hasil ulangan harian 73

Penggunaan pendekatan kontekstual di lapangan menjadikan siswa tampak lebih aktif dan lebih cepat mendapatkan ide serta kata – kata yang lebih menyentuh. Dengan demikian hasil yang diperoleh siswa juga meningkat tujuh poin dari siklus I. Peningkatan ini tampak seperti tertera pada tabel : 9 berikut ini

Peningkatan proses dan hasil pada Pendekatan Kontekstual

Hasil Pengamatan

Kondisi Awal Siklus I Siklus II
Proses Pembelajaran Partisipasi siswa kurang, hal ini ditandai ketidakberanian siswa bertanya Siswa agak aktif  beberapa siswa berani menyampaikan pendapatnya Siswa aktif, cukup banyak siswa yang berani menyampaikan pendapatnya
Hasil Pembelajaran Rata – rata Hasil ulangan harian masih rendah yaitu 62 Rata – rata hasil ulangan harian 66

Rata – rata hasil ulangan harian 73

*  peningkatan 7 poin dari siklus I

PENUTUP

Berdasarkan uraian di bagian depan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual ke objek secara langsung dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis puisi. Dalam pembelajaran yang belum menggunakan pendekatan kontekstual partisipasi siswa masih rendah, nilai rata – rata juga rendah yaitu sebesar 62. Namun setelah menggunakan pendekatan kontekstual ada peningkatan partisipasi siswa dan juga peningkatan nilai rata – rata, yaitu sebesar 11 dari rata – rata 62 pada kondisi awal menjadi rata – rata 73 pada siklus II atau meingkat sebesar 17,7 %. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan ketrampilan menulis puisi pada siswa kelas VII H SMPN 2 Nusawungu.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Ashar. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Departeman Pendidikan Nasional. 2003. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Bandung : Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis.

Haryadi dan Zamzami. 1997. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud Dikti.

Keraf, Gorys. 1980. Komposisi. Ende Flores : Nusa Indah.

Marwoto. Dkk. 1985. Komposisi Praktic. Yoyakarta: Hanindita.

Nurgiantoro,Burhan. 1988. Penilaian Dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.Yokyakarta : BPFE

Purwo,Bambang Kaswati. 1997. Pokok-Pokok Pengajaran Bahasa Indonesia dan Kurikulum 1994. Jakarta : Pusat Perbukuan Depdikbud.

Sabarti Akhadiah, Maidar G Arsyad, dan Sakira H Ridwan. 1987. Pembinaan Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: CV Maraseo.

Subyakto, Sri Utari. Nababan. 1993. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta : Gramedia.

Suharyanti. 2001. Hubungan Antara Penguasaan Struktur Bahasa dan Kemampuan penalaran dengan Kemampuan Menulis Eksposisi pada Mahasiswa Jurusan MIPA FKIP. Tesis. Surakarta: Pasca Sarjana. UNS.

Sukirman, Acep. 1989. Penuntun Belajar Bahasa Indonesia. Bandung: Epsilon Grup.

Tarigan, Henry Guntur. 1993. Menulis Sebagai Salah Satu Keterampilan Berbahasa.     Bandung : Angkasa.

  1. J. S. Poerwadarminto. 1985.Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Demikianlah Artikel tentang UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL. semoga bermanfaat

Biodata :

Nama                            : Sudirman, S.Pd.,MM

NIP.                             : 19620105 198611 1 001

Pangkat/Gol.             :  Pembina IV A.

Jabatan                       :  Kepala SMPN 2 Nusawungu Kab. Cilacap




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *