PENINGKATAN KOMPETENSI MENULIS SHORT MESSAGE SERVICE BAHASA INGGRIS MELALUI MOBILE LEARNING CELL PHONE

PENINGKATAN KOMPETENSI MENULIS SHORT MESSAGE SERVICE BAHASA INGGRIS MELALUI MOBILE LEARNING CELL PHONE

Oleh : SUPYAN

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Kembaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah bertujuan untuk meningkatkan kompetensi menulis teks fungsional pendek Short Message Service dalam pembelajaran bahasa Inggris dengan media pembelajaran Mobile Learning Cell Phone. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas VIIIB SMP Negeri 2 Kembaran. Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, angket, wawancara, portofolio dan hasil uji kompetensi (tes). Peneliti adalah guru mata pelajaran bahasa Inggris kelas VIII, sedangkan sebagai kolaborator adalah guru mata pelajaran bahasa Inggris yang lain. Penellitan Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran Mobile Learning Cell Phone dapat meningkatkan kompetensi menulis teks fungsional  pendek SMS siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris dan sekaligus meningkatkan minatnya. Hal ini dibuktikan dari hasil evaluasi siswa yang sudah tuntas memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal bahasa Inggris dari 76.47 %  menjadi 94.11 % dengan KKM 71.

Kata Kunci : Kompetensi, Mobile Learning Cell Phone, Short Message Service

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Kemampuan menulis pesan singkat Short Message Service  merupakan salah satu kemampuan tingkat literasi dari pembelajaran bahasa Inggris di jenjang pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama yang harus dikuasai para peserta didik agar mereka mampu berkomunkasi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari baik secara lisan maupun tertulis.

Faktanya para peserta didik kelas VIIIB masih kesulitan menguasai ketrampilan tingkat literasi tersebut utamannya untuk mengungkapkan pesan singkat secara tertulis dikarenakan antara lain para pendidik dalam melaksanakan pembelajaran kebanyakan masih dominan menggunakan metode ceramah, monoton serta masih bersifat konvensional. Dampaknya adalah para peserta didik menjadi kurang paham dan kurang mampu dalam menyerap materi yang diberikan pendidik, bosan, pasif dan kesulitan untuk memproduksi teks fungsional pendek Short Message Service secara tertulis. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji kompetensi menulis pra siklus tentang teks fungsional pendek Short Message Service, peserta didik yang mendapatkan nilai sesuai atau lebih dari Kriteria Ketuntasa Minimal secara klasikal baru 76.47%  yang seharusnya 85%. Selain itu, nilai reratanya baru 74.56 dengan Kriteria Ketuntasan Minimal bahasa Inggris kelas VIII  adalah 71.

Bertolak dari paparan latar belakang tersebut di atas maka penulis sebagai salah satu personal yang bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas dunia pendidikan mencoba melakukan penelitian dengan menggunakan salah satu media pembelajaran yang bernama Mobile Learning Cell Phone untuk meningkatkan kompetensi menulis teks fungsional pendek Short Message Service. Penelitian yang dilakukan penulis ini berjudul “Peningkatan Kompetensi Menulis Short Message Service Bahasa Inggris Melalui Mobile Learning Cell Phone di Kelas VIIIB SMP Negeri 2 Kembaran”

                 Beranjak dari dasar analisis kondisi dan situasi serta masalah yang muncul dan timbul di kelas VIIIB SMP Negeri 2 Kembaran, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah pada semester genap tahun pelajaran 2013 – 2014 permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah peningkatan kompetensi peserta didik untuk menulis teks fungsional pendek Short Message Service pada pelajaran bahasa Inggris setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran Mobile Learning Cell Phone?
  2. Bagaimanakah meningkatkan minat peserta didik terhadap pelajaran bahasa Inggris setelelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran Mobile Learning Cell Phone?

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

  1. Kerangka Teoretis
    1. Kompetensi
  • Menurut Depdiknas (2006:15) kompetensi adalah kemampuan berkomunikasi dalam bentuk tulis dan lisan untuk mencapai tingkat literasi functional untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti perkenalan, mengajak, meminta maaf, berterima kasih, membaca buku ceritera sederhana, majalah remaja, menulis buku harian, menulis surat pribadi dan sebagainya.
  • Menurut Mc. Ashan (1981: 45) kompetensi “…is a knowledge, skill, and abilities or capibilities that a person achieves, witch become part of his or her being to the axent her or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors”. Artinya kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan atau capibilitias seseorang dalam melaksanakan tugasnya yang menjadi bagian dari dirinya dengan melakukan kegiatan yang bersifat kognitif tertentu, afektif dan perilaku psikomotor. Jadi dari pengertian yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam hal ini peserta didik untuk berkomunikasi. Komunikasi ini bisa dilakukan secara lisan atau pun tertulis. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
    1. Mobile Learning
  • Mobile learning merupakan bagian dari pembelajaran elektronik atau lebih di kenal dengan electronic learning (e-learning). Perangkat yang bisa digunakan sangat banyak antara lain computer, IPAD, dan juga cell phone. Dengan media pembelajaran mobile learning para peserta didik bisa belajar di mana saja dan kapan pun tanpa harus tatap muka secara langsung dengan pendidik. Apa lagi dengan mobile learning yang terkoneksi dengan internet, maka sudah pasti para peserta didik bisa menjelajah dunia manapun termasuk dalam mencari bahan ajar yang mendukung pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan menulis, mengirim dan menerima berbagai pesan singkat.
  • Menurut Clark Quinn, (2000) mobile learning adalah “The intersection of mobile computing and e-learning: accessible resources wherever you are, strong search capabilities, rich interaction, powerful support for effective learning, and performance-based assessment. E-Learning independent of location in time or space”.
  • Berdasakan definisi mobile learning yang dijelaskan oleh Clark Quinn dapat ditarik kesimpulan bahwa mobile learning adalah sumber daya/kekuata/ilmu pengetahuan yang dapat diakses di manapun kita berada, memiliki kemampuan yang kuat dalam mencari berbagai informasi dan juga memiliki jangkauan interaksi yang luas sehingga sangat mendukung sekali untuk menciptakan suatu pembelajaran yang efektif dengan menekankan penilaian berbasis kinerja, karena ketidak keterbatasan lokasi dan ruang waktu.
  • Haryono dan Alatas, (2000) menyiratkan bahwa electronic learning merupakan konsep belajar jarak jauh dengan menggunakan teknologi telekomunikasi dan informasi. Konsep belajar ini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Selain itu konsep belajarnya tidak dibatasi ruang waktu sehingga tidak harus terjadi secara tatap muka.
  • Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mobile learning merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pada konsep pembelajaran dengan menggunakan media mobile learning dapat menggali ketersediaan materi pembelajaran yang dapat diakses setiap saat dan visualisasi materinya sangat menarik.
    1. Cell Phone
  • Telepon seluler atau Cell Phone atau telepon genggam atau handphone adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon namun menggunakan kabel
  • Menurut Martin Cooper, (2013) “… cell phone is still in its infancy and believes there is still room for improvement. This technology has to be invisible, transparent, just simple. A modern cell phone in general has an instruction book that’s bigger and heavier than the cell phone. That’s not right”.
  • Pengertian Cell Phone menurut Martin Cooper adalah bahwa Cell Phone sebagai media telekomunikasi masih dalam masa pertumbuhan dan masih ada ruang untuk perbaikan. Teknologi ini dapat terlihat, transparan dan sederhana serta dapat digunakan sebagai media komunikasi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Pernyataan yang mengemukakan bahwa sebuah ponsel modern pada umumnya memiliki buku instruksi yang lebih besar dan lebih berat dari ponsel tidaklah benar.
    1. Genre (Teks)
  • Menurut Halliaday, (1990: 10) teks merupakan satuan makna yang diwujudkan dalam kata, klausa atau kalimat. Dengan teks sesorang bisa mengekspresikan ide-ide yang ia miliki. Teks bisa berbentuk tulis dan lisan yang diungkapkan dalam bentuk dialog  dan monolog.  .
    1. Short Functional Text (Teks Fungsional Pendek)
  • Menurut Derewianka, (1990) short functional text adalah teks khusus yang berisi perintah, pengarahan, sesuatu yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan yang dapat berupa larangan (prohibition), undangan (invitation),  pesan singkat (short message), daftar belanja (shopping list), peringatan (notice), pengumuman (announcement), dan lain-lain  yang mengandung makna dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
    1. Short Message Service
  • Short Message Service adalah suatu fasilitas untuk mengirim dan menerima suatu pesan singkat berupa teks melalui perangkat nirkabel, yaitu perangkat komunikasi telepon selular/cell phone yang merupakan metode store dan   
  • Menurut Iqbal Nurul Azhar, (2010) Short Message Service adalah layanan pesan pendek yang berbentuk pesan-pesan teks pendek yang dibatasi oleh jumlah huruf (karakter) dan itulah sebabnya mengapa penulisan SMS perlu disingkat. Karena terbatasnya ruang tulis inilah yang kemudian melahirkan sebuah bahasa baru di kalangan masyarakat kita yang disebut sebagai bahasa SMS. Sedangkan menurut Saputra, (2004:321) Short Message Service adalah merupakan implementasi dari budaya tulis (keberaksaraan), tetapi secara substantif, SMS tidak dapat dipisahkan dari dimensi dan konteks kelisanan.
    1. Minat
  • Pengertian minat menurut Hilgard, (1991: 57) adalah ” Interest is persisting tendency to pay attention to end enjoy some activity and content”, yang memiliki arti, minat adalah kecenderungan yang kuat untuk memberikan suatu perhatian terhadap suatu kegiatan yang menyenangkan pada inti kegiatan tersebut. Sedangkan menurut Guilford, (2010:10) minat ialah kecenderungan tingkah laku umum seseorang untuk tertarik kepada sekelompok hal tertentu.
  1. Kerangka Pikir

Kerangka berfikir yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas seperti di bawah ini:

supyan

  1. Hipotesis Tindakan

Berpedoman pada kajian pustaka di atas penulis berasumsi dengan menggunakan media pembelajaran Mobile Learning Cell Phone ketuntasan peserta didik kompetensi menulis teks fungsional pendek Short Message Servicenya akan meningkat dari 76.47% menjadi 85%

METODE PENELITIAN

  1. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian ini adalah peserta didik kelas VIIIB SMP Negeri 2 Kembaran yang berjumlah 34 peserta didik terdiri dari 20 peserta didik laki-laki dan 14 peserta didik perempuan.

  1. Desain Penelitian

Langkah-langkah penelitian ini mengacu pada model Kemis dan Mc. Taggart yang meliputi: perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing) dan refleksi (reflecting). Penelitian yang penulis lakukan merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Uraian langkah-langkah penelitian ini sebagai berikut:

  1. Pemilihan Setting dan Waktu Penelitian

Pelaksana Tindakan Kelas yang dilaksanakan di kelas VIIIB sedangkan guru bahasa Inggris yang lain sebagai kolaborator bertugas untuk mengamati jalannya pembelajaran/pelaksanaan penelitian. Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini adalah bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2014.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: pengamatan, angket, dokumentasi, tes dan wawancara.

  1. Indikator Ketuntasan Belajar

Ketuntasan ini didasarkan pada kriteria yaitu:

  1. Peserta didik telah tuntas belajarnya, jika menguasai materi mencapai minimal 71% atau mendapatkan nilai minimal 71 sesuai KKM yang telah ditetapkan.
  2. Kelas dinyatakan telah tuntas belajarnya, jika terdapat 85% peserta didik di kelas tersebut yang nilainya sesuai KKM atau lebih.
    1. Prosedur Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri atas paling tidak dua siklus dan setiap siklusnya terdiri dari empat tahap meliputi: perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi  (observing) dan refleksi (reflecting).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Pembelajaran Sebelum Pelaksanaan

Sebelum pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar pendidik selaku peneliti menjelaskan bahwa pembelajaran akan menggunakan media Mobile Learning Cell Phone. Peneliti juga membagi peserta didik menjadi 8 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 4/5 peserta didik.

  1. Pelaksanaan Tindakan Siklus I
    1. Perencanaan Tindakan

Pada siklus satu, Kompetensi Dasar yang direncanakan harus dikuasai peserta didik adalah mengungkapkan makna dalam bentuk teks tulis fungsional pendek berbentuk SMS sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Indikator Kompetensi Dasar yang harus dikuasai peserta didik di siklus satu yaitu:

  • Melengkapi teks rumpang fungsional pendek Short Message Service.
  • Menyusun kalimat acak menjadi paragraf teks fungsional pendek Short Message Service yang padu dan bermakna.
  • Membuat teks fungsional pendek Short Message Service yang benar dan bermakna dengan topik yang sama untuk setiap kelompok.

Rangkuman Rencana Pelaksanaan Pembelajaran siklus satu sebagai berikut:

  • Presensi kelas dan apersepsi (10 menit).
  • Pembagian kelompok dan tugas (10 menit).
  • Pelaksanaan diskusi (60 menit).
  • Penjelasan tata cara presentasi (5 menit)
  • Pelaksanaan presentasi (45 menit).
  • Sumbang saran (15 menit).
  • Komentar dan pujian (15 menit).
  • Kesimpulan (5 menit).
  • Evluasi (45 menit)
  • Koreksi (25 menit).
  • Pemberian penghargaan (5 menit).
  1. Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas siklus satu dilaksanakan selama tiga pertemuan pada hari Rabu, Kamis dan Sabtu tanggal 2, 3 dan 5 April 2014. Setiap pertemuan terdiri atas 2 jam pelajaran selama 80 menit dengan rincian sebagai berikut:

  1. Kegiatan Pendahuluan

Pada kegiatan yang dilakukan oleh pendidik adalah tegur sapa dan dilanjutkan dengan presensi kelas. Kemudian pendidik menuliskan dan menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai peserta didik.

  1. Kegiatan Inti

Dalam kegiatan inti hal-hal yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik adalah: peserta didik duduk dalam kelompok yang beranggotakan 4/5 untuk mengerjakan tugas membuat pesan singkat untuk dipresentasikan dengan menggunakan

cell phone.

  1. Kegiatan Penutup

Siklus satu berakhir pada pertemuan ketiga dengan mengerjakan uji kompetensi/tes sebagai kegiatan penutup..

  1. Observasi

Pada siklus pertama pembelajaran diawali tegur sapa, persensi peserta didik, penulisan, penjelasan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai peserta didik dan penjelasan mengenai pembelajara dengan menggunakan media pembelajaran Mobile Learning Cell Phone. Saat mereka menerima tugas kelompok atau pun presentasi dengan menggunakan cell phone mengenai teks fungsional pendek Short Message Service yang padu dan bermakna mereka tampak mulai cemas, bingung dan tegang. Kegiatan yang paling akhir adalah uji kompetensi dengan caranya setiap peserta didik yang selesai mengerjakan soal setiap nomor langsung dikirim ke laptop peneliti yang difasilitasi modem dan LCD serta layar sehingga peneliti langsung mengoreksinya. Prosetase siswa yang tuntas 82.35% dengan nilai rerata kelas 77.94.

  1. Hasil Refleksi

Berpatokan pada hasil pengamatan, wawancara, angket dan tes menulis teks fungsional pendek Short Message Service siklus I diperoleh refleksi pembelajaran sebagai berikut:

  • Peserta didik masih belum mampu untuk menyusun teks fungsional pendek Short Message Service dengan baik.
  • Peserta didik masih canggung untuk presentasi.
  • Diskusi dan presentasi dikuasai Peserta didik yang pandai.
  • Peserta didik memerlukan bimbingan secara individu maupun kelompok dari pendidik ataupun kolaborator.
  • Prestasi nilai rata-rata kelas baru 77.9
  • Secara klasikal peserta didik yang sudah tuntas memenuhi KKM yang ditetapkan baru 35%.
  1. Pelaksanaan Tindakan Siklus II
    1. Perencanaan Tindakan

Pada siklus dua, Kompetensi Dasar yang direncanakan harus

dikuasai peserta didik masih sama dengan siklus satu yaitu mengungkapkan makna dalam bentuk teks tulis fungsional pendek berbentuk SMS sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Indikator Kompetensi Dasar yang harus dikuasai peserta didik di siklus dua yaitu:

Melengkapi paragraf rumpang teks fungsional pendek Short Message Service  yang rumpang.

  • Menyusun kalimat acak menjadi paragraf teks fungsional pendek Short Message Service yang padu dan bermakna.
  • Membuat teks fungsional pendek Short Message Service yang benar dan bermakna dengan topik yang berbeda untuk setiap kelompok.

   Rangkuman Rencana Pembelajaran siklus dua adalah:

  • Presensi dan apersepsi (10 menit).
  • Pembagian kelompok dan tugas (10 menit).
  • Pelaksanaan diskusi dalam kelompok (60 menit).
  • Penjelasan tata cara presentasi (5 menit).
  • Presentasi (45 menit).
  • Sumbang saran dan komentar (15 menit).
  • Komentar dan pujian (15 menit).
  • Kesimpulan dan tindak lanjut (15 menit).
  • Evaluasi (45 menit).
  • Koreksi (25 menit).
  • Penghargaan (5 menit
    1. Deskripsi Dta Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas siklus dua dilaksanakan tiga pertemuan  yaitu pada hari Rabu, Kamis, dan Sabtu tanggal 16, 17 dan 19 April 2014. Setiap pertemuan terdiri atas 2 jam pelajaran dengan durasi waktu 80 menit dengan rincian pelaksanaan pembelajaran siklus dua sebagai berikut:

  1. Kegiatan Pembukaan
  2. Pembelajaran diawali dengan presensi kelas dan tegur sapa diteruskan apersepsi, menuliskan dan menjelaskan tujuan pembelajaran secara lebih mendalam dan detail.
  3. Kegiatan Inti

Dalam kegiatan inti hal-hal yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik adalah: Peserta didik mendengarkan penjelasan pendidik tentang structure generic dan language features teks fungsional pendek Short Message Service dan berlatih menganalisisnya secara mendalam, lebih detail dan optimal. Peserta didik juga berdiskusi mengerjakan tugas kelompok untuk melengkapi paragraf rumpang dengan kata-kata yang cocok, menyususn kalimat acak menjadi paragraf, dan membuat teks fungsional pendek pendek Short Message Service sesuai dengan topik yang mereka dapat.  Selain itu peserta didik melaksanakan presentasi di bawah bimbingan peneliti.

  1. Kegiatan Penutup

Kegiatan penelitian ini berakhir pada pertemuan ketiga dengan mengerjakan uji kompetensi secara perorangan sebagai salah satu alat evaluasi jalannya pembelajaran sebagai kegiatan penutup.

  1. Observasi

Langkah awal kegiatan siklus dua adalah penjelasan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran Mobile Learning Cell Phone  secara optimal. Setiap kelompok akan mengerjakan tugas dengan tema yang berbeda-beda. Mereka mengerjakan tugas dengan semangat, bergairah, penuh kesungguhan dan tidak lagi tampak bingung atau tegang karena mereka benar-benar sudah bisa mengerjakan. Jalannya diskusi dan presentasi  tidak lagi didominasi oleh peserta didik yang cerdas dan pemberani saja. Uji kompetensi atau evaluasi adalah kegiatan yang paling akhir dilakukan pada pertemuan ketiga. Prosentase ketuntasannya 94.11% dan nilai rata-rata kelas 81.91.

  1. Hasil Refleksi

Beracuan pada pembagian alokasi waktu menunjukan bahwa setiap komponen pelaksanaannya sudah tepat dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Kompetensi menulis untuk membuat teks fungsional pendek Short Message Service dengan menggunakan media pembelajaran  Mobile Learning Cell Phone mereka benar-benar meningkat dengan ditandai peningkatan hasil uji kompetensi pada siklus satu 82.35% meningkat menjadi 94.11% pada siklus dua. Nilai rerata kelasnya pun meningkat dari 77.94 siklus satu menjadi 81.91 pada siklus dua. Dengan demikian maka pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dapat dikatakan sudah memenuhi target yang telah ditetapkan.

  1. Pembahasan

Kegiatan awal pelaksanaan penelitian adalah melakukan inventarisasi dengan melakukan uji kompetensi pra siklus. Di samping itu dilakukan pula pengamatan selama proses belajar mengajar berlangsung. Peneliti juga melakukan wawancara kepada peserta didik tentang menulis teks fungsional pendek Short Message Service.  

Pada siklus I pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran cell phone suasanan para peserta didik masih tegang, canggung dan diskusi serta presentasi dikuasai oleh peserta didik yang pandai saja. Selanjutnya pada siklus II para peserta didik dalam melaksanakan diskusi dan presentasi sudah tidak canggung maupun tegang lagi serta tidak dikuasai lagi oleh yang cerdas saja.

Pembelajaran siklus satu cukup berhasil ditandai dengan hasil uji kompetensi cukup memuaskan yaitu 82.35% secara klasikal peserta didik sudah tuntas belajar. Sedangkan pada siklus dua peserta didik yang sudah tuntas menjadi 94.11%. Di samping itu nilai rerata kelas juga meningkat dari 77.94 pada siklus satu menjadi 81.91 pada siklus dua. Hasilnya dapat dilihat pada diagram di bawah ini:

          supyann

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berpedoman pada hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Pembelajaran bahasa Inggris menggunakan media pembelajaran Mobile Learning Cell Phone dapat meningkatkan kompetensi menulis teks Fungsional Pendek Short Message Service dengan bukti meningkatnya kompetensi menulis  Short Message Service.
  2. Peningkatan minat belajar peserta didik dibuktikan dengan meningkatnya ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal dari 35% menjadi 94.11%  pada siklus kedua.
    1. Saran-saran

Peneliti menyarankan bagi pendidik lain yang akan menggunakan media pembelajaran Mobile Learning Cell Phone ini untuk:

  1. Mempersiapkan sarana dan prasarana dengan baik agar hasilnya maksimal.
  2. Lebih bervariasi dalam menggunakan media pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Clark Quinn. (2000). What is Mobile Learning. USA: IGI Global.

Depdiknas. (2007). Setandar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta   :  Depdiknas

…………..  (2006). Apa itu Kopetensi. Jakarta   :  Depdiknas

…………..  (2006). Apa itu Teks. Jakarta   :  Depdiknas

………….. (2009). Pengertian Kompetensi dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: BSNP.

Derewianka. (1990). Diktat Pelatihan Terintregasi Bahasa Inggris. Jakarta:  Depdiknas.

……………  (1990). What is Short Functional Text. Jakarta:  Depdiknas.

Geedes. (2004). What is Mobile Learning. London: Oxford University Press.

Guildford. (2010). What is interest. London: Diakses tanggal 15 Januari 2014 dari http://www.google.com

Halliaday. (1990). Diktat Pelatihan  Terintregasi Bahasa Inggris:  Departemen Pendidikan Nasional.

Haryono dan Alatas. (2000). Apa itu Mobile Learning. Jakarta:

Hilgard. (1991). What is interest. Diakses pada tanggal 12 Januari 2014 http://en.wikipedia.org/wiki/Whatisinterest

Iqbal Nurul Azhar. (2010). Apa itu Short Message Service. Jakarta: Balai Pustaka.

Keegan. (2005). What is Mobile Learning. London: Oxford University Press.

Martin Cooper. (2013). What is Cell Phone. London: Oxford University Press.

Mc.  Ashan. What is the competence. Diakses tanggal 14 Januari 2014 dari http://www.google.com 

Saputra. (2010). Apa itu Short Message Service. Jakarta: Balai Pustaka

Biodata  :

NAMA                                  : SUPYAN, S.Pd.

NIP                                         : 19670617 199702 1 001

UNIT  KERJA                       : SMP NEGERI 2  KEMBARAN




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *