infopasti.net

PTK SMP Optimalisasi Keterampilan Proses Sains Melalui Model PBI

OPTIMALISASI KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) PADA SISWA KELAS XII IPA.2 SMA NEGERI 1 PURWANEGARA SEMESTER 1 TAHUN 2015/2016

 

Oleh: Dra. Rumiyati

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar Fisika dengan mengimplementasikan model PBI pada siswa kelas XII IPA.2 SMA Negeri 1 Purwanegara.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian  tindakan  kelas  ( PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu;  perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan,observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Purwanegara pada bulan Juli – Oktober 2015. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA.2 SMA Negeri 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 sebanyak 20 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan tes.Keterampilan proses sains dan prestasi belajar aspek kognitif mengalami kenaikan, Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata keterampilan proses sains kategori tinggi pada siklus I  sebesar 65%, atau 13 siswa, pada siklus II sebesar 85% atau 17 siswa. Prestasi belajar rata-rata pada pra siklus 69,75, siklus I rata-rata 73,67 dengan ketuntasan belajar 70%, dan siklus II rata-rata 76,00 dengan ketuntasan belajar 85%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa implementasi model pembelajaran problem based instruction (PBI) dapat mengoptimalkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar Fisika siswa kelas XII IPA.2 SMA Negeri 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016.

Kata Kunci: Keterampilan Proses Sains, Prestasi Belajar, Model Problem Based Instruction (PBI)

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya, sehingga memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara sesuai dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Dengan demikian, proses pembelajaran harus melibatkan siswa secara aktif dan tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi juga pada aspek psikomotorik dan afektif. Pembelajaran yang diharapkan dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 adalah pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan siswa dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang inovatif adalah yang berpusat pada siswa / student centered dan dihubungkan dengan permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan data rendahnya nilai rata-rata keterampilan proses sains dan prestasi belajar melalui ulangan harian Fisika pra siklus pada siswa kelas XII IPA.2 di SMAN 1 Purwanegara, maka pembelajaran Fisika belum optimal sesuai harapan peneliti. Kondisi ideal yang diharapkan oleh peneliti adalah rata-rata keterampilan proses sains kategori tinggi sebesar 80% atau 16 siswa dan nilai rata-rata prestasi belajar Fisika minimal sesuai KKM sebesar 75 dengan ketuntasan belajar klasikal 80%. Dari refleksi pembelajaran yang selama ini berlangsung menunjukkan masih rendahnya kemampuan keterampilan proses sains dan prestasi belajar siswa disebabkan karena beberapa hal, diantaranya siswa kurang dilibatkan secara maksimal dalam proses pembelajaran, pembelajaran masih terpusat pada guru danguru kurang memfasilitasi siswa menerapan keterampilan proses sains, sehingga keterampilan proses sains berlangsung kurang maksimal dan siswa tidak terlatih untuk menemukan sendiri konsep dan fakta Fisika. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, perlu dilakukan penelitian tindakan kelas agar keterampilan proses sains dan prestasi belajar Fisika siswa kelas XII IPA.2 SMAN 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 lebih optimal dengan mengimplementasikan model pembelajaran problem based instruction (PBI).

            Salah satu alternative model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah belum optimalnya keterampilan proses sains dan prestasi belajar Fisika adalah Problem Based Instruction (PBI) atau pembelajaran yang berbasis masalah. Dengan model PBI kemampuan berpikir siswa dapat dioptimalkan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat melakukan observasi, interpretasi, inferensi, bertanya, mengajukan hipotesis, investigasi dan komunikasi.

            Bertolak dari uraian di atas, maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut: Mengapa keterampilan proses sains siswa kelas XII IPA.2 SMAN 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 belum optimal?. Mengapa prestasi belajar Fisika siswa kelas XII IPA.2 SMAN 1 Purwanegara belum optimal?. Bagaimanakah problem based instruction atau pembelajaran berbasis masalah dapat mengoptimalkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar siswa?.

            Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut: Apakah implementasi model problem based instruction dapat mengoptimalkan keterampilan proses sains siswa kelas  XII IPA.2 SMAN 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016?. Apakah implementasi model problem based instruction dapat mengoptimalkan prestasi belajar Fisika siswa kelas XII IPA.2 SMAN 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016?.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar Fisika. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengoptimalkan keterampilan proses sains mata pelajaran Fisika dengan mengimplementasikan model problem based instruction siswa kelas XII IPA.2 SMA Negeri 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016, 2) mengoptimalkan prestasi belajar mata pelajaran Fisika dengan mengimplementasikan model problem based instruction siswa kelas XII IPA.2 SMA Negeri 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016.

 

KAJIAN TEORI

Pengertian Keterampilan Proses Sains

Menurut Semiawan, dkk (Nasution, 2007) menyatakan bahwa keterampilan proses  adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan – kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru. Rezba,dkk (1995 :vii) yang menyatakan bahwa keterampilan proses sains adalah kegiatan yang dilakukan oleh ilmuwan ketika mereka belajar dan menginvestigasi. Patta Bundu (2006: 12) mengemukakan keterampilan proses sains (science process skils) adalah sejumlah keterampilan untuk mengkaji fenomena alam dengan cara-cara tertentu untuk memperoleh ilmu dan mengembangkan ilmu itu.   Pengertian keterampilan proses sains yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam memahami konsep sains melalui suatu proses ilmiah sebagai pengalaman yang bermakna untuk mendapatkan konsep dalam membangun pengetahuan siswa. Keterampilan proses dalam penelitian ini menggunakan 10 aspek/indicator yang terdiri dari: 1)mengamati dengan alat indera penglihatan, pembau, pendengar, pengecap dan peraba, 2)mengumpulkan fakta yang relevan atau ciri-ciri yang relevan, 3)mencari perbedaan, mengkontraskan, 4)mencari persamaan, membandingkan dan mengelompokkan, 5)mencatat hasil pengamatan, 6)memberi komentar/ kesimpulan terhadap hasil pengamatan, 7)menyiapkan semua alat dan bahan/ sumber belajar yang diperlukan, 8)melakukan pengukuran/ penghitungan hasil pengamatan praktikum / diskusi, 9)membuat laporan hasil praktikum/ diskusi secara tertulis, 10)mempresentasikan / menjelaskan hasil praktikum / diskusi di depan kelas.

 

Prestasi Belajar

            Menurut Djamarah (1994:23) prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Sardiman (1988: 25) mengatakan prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan prestasi siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Berdasarkan pendapat di atas, maka dalam penelitian ini yang dimaksud prestasi belajar adalah hasil penilaian yang dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang berbentuk angka sebagai simbol dari nilai tes yang diberikan oleh guru. Jenis dan bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis berbentuk pilihan ganda sebanyak 20 soal, uraian singkat 10 soal dan uraian 5 soal.

 

Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)

Pengertian model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) atau pembelajaran berbasis masalah. Menurut Gallagher (1995), pembelajaran berbasis masalah adalah bentuk pembelajaran yang diawali dengan sebuah masalah yang menggunakan instruktur sebagai pelatihan metakognitif dan diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa. Menurut Tan (2003) problem based Instruction (PBI) merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam PBI kemampuan berpikir siswa betul-betul diimplementasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 3), bahwa Belajar Berbasis Masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Menurut Barrows (1996: 5) menyatakan bahwa Belajar Berbasis Masalah  merupakan pembelajaran yang memiliki karakteristik, yakni (1) belajar berpusat pada siswa, (2) belajar terjadi dalam kelompok kecil, (3) guru berperan sebagai fasilitator atau penuntun, (4) bentuk masalah difokuskan pada pengaturan dan merangsang untuk belajar, (5) masalah merupakan sarana untuk membangun keterampilan pemecahan masalah, (6) informasi baru diperoleh melalui self-directing Instruction.

Karakteristik pembelajaran berbasis masalah / problem based Instruction menurut Rusman (2012 : 232)  adalah sebagai berikut: 1)Permasalahan menjadi starting point dalam belajar, 2)Permasalahan yang diangkat adalah permasalah yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur, 3)Permasalahan membutuhkan perpektif ganda, 4)Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar, 5)Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama, 6)Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam pengunaannya dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam PBI, 7)Belajar adalah kolaboratif, komunikasi dan kooperatif, 8)Pengembangan keterampilan inquiri dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan, 9)Keterbukaan proses dalam PBI meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar, 10)PBI melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan prosesbelajar.

  Berdasarkan uraian pengertian model problem based instruction (PBI) di atas, maka yang dimaksud dengan PBI dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu masalah nyata yang menuntut kesiapan siswa dalam sebuah kelompok untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan, dan kontekstual dan diakhiri dengan penyajian laporan kerja kelompok.

 

Kerangka Berpikir

            Prestasi belajar Fisika sangat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain: pemilihan metode pembelajaran oleh guru, alat peraga dan media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran, skenario pembelajaran yang disusun guru, kesiapan siswa pada saat pembelajaran dan sarana prasarana yang dimiliki sekolah. Jika guru banyak menerapkan pembelajaran konvensional dengan metode ceramah, tugas dan tanya jawab serta tidak menggunakan media dan alat peraga, maka siswa selama pembelajaran pasif, interaksi guru dengan siswa searah (berpusat pada guru) dan tidak melatih keterampilan siswa berpikir kritis. Kondisi tersebut menyebabkan keterampilan proses  sains dan prestasi belajar siswa kurang optimal (rendah). Salah satu solusi untuk mengoptimalkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar siswa adalah dengan mengimplementasikan model problem based instruction (PBI).

 

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian kerangka teori dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini diduga dengan mengimplementasikan model problem based instruction dapat mengoptimalkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar Fisika siswa kelas XII IPA.2 SMAN 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMAN 1 Purwanegara, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA.2 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan kompetensi yang heterogen. Penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran Fisika selama 4 bulan, mulai bulan Juli sampai dengan Oktober 2015 yang terdiri dari 2 siklus.

Sumber data yang digunakan adalah data siswa yang terdiri dari data keterampilan proses sains, data prestasi belajar pada mata pelajaran Fisikadan data implementasi problem based instruction. Sumber data guru terdiri dari data guru merencanakan perbaikan pembelajaran, proses pembelajaran dan data guru melaksanakan pembelajaran. Sumber data kolaborator meliputi pengamatan implementasi model pembelajaran problem based instruction, hasil refleksi bersama guru peneliti.

Teknik dan alat pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik tes dan teknik observasi/pengamatan.Teknik tes digunakan untuk mengukur optimalisasi prestasi belajar siswa dari ulangan harian. Sedangkan teknik observasi digunakan untuk menganalisis optimalisasi keterampilan proses sains dari proses pembelajaran dengan implementasi PBI dan observasi perilaku siswa. Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen pra siklus tentang prestasi belajar siswa yang tertuang dalam daftar nilai dan keterampilan proses sains tertuang dalam lembar pengamatan siswa, serta dokumen foto kegiatan pembelajaran dan dokumen perangkat pembelajaran. Data yang diperoleh pada penelitian ini kemudian dianalisis secara deskriptif komparatif, yaitu membandingkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar pada pra siklus dengan siklus I, kemudian direfleksi. Keterampilan proses sains dan prestasi belajar siklus I dibandingkan dengan siklus II lalu direfleksi.

Instrumen yang digunakan untuk menilai perangkat pembelajaran menggunakan Alat Penilaian Kemampuan Guru dalam Menyusun Perencanaan Pembelajaran (APKG 1).Instrumen yang digunakan untuk menilai implementasi problem based instruction saat proses pembelajaran yaitu Alat Penilaian Kemampuan Guru Melaksanakan Pembelajaran (APKG 2).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran pada kondisi awal secara umum kurang menyenangkan dan kurang menarik perhatian siswa karena banyak menggunakan metode ceramah dan berpusat pada guru, sehingga siswa cenderung pasif. Kondisi proses pembelajaran ini berakibat keterampilan proses sains rendah. Hal ini ditunjukkan oleh hasil pengamatan dari 20 siswa  hanya 9 siswa atau 45% yang memiliki keterampilan proses sains tinggi, 6 siswa atau 30% keterampilan proses sains sedang, dan 5siswa atau25% keterampilan proses sains rendah. Secara umum kemampuan keterampilan proses sains dalam proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Purwanegara kelas XII IPA.2 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 kategori rendah.

Kondisi rendahnya keterampilan proses sains berdampak juga pada rendahnya prestasi belajar Fisika. Hal ini ditunjukkan dari hasil tes prestasi belajar Fisika pada akhir materi pra siklus banyak siswa yang belum tuntas atau yang mendapat nilai lebih besar dari KKM = 75 ada 10 siswa dengan ketuntasan belajar 50%. Nilai tertinggi 90, nilai terendah 50 dan dan nilai rata-rata 69,75.Kondisi lain pada pra siklus yaitu siswa dalam proses belajar mengajar kurang aktif, kurang antusias, cenderung diam dan tidak melakukan diskusi atau praktikum, serta komunikasi berjalan searah.

 

Deskripsi Siklus I

            Hasil penelitian digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan keterampilan proses sains siswa dalam proses pembelajaran dan untuk mengetahui seberapa besar prestasi belajar siswa. Data yang digunakan analisis pada penelitian ini berupa skor pengamatan yang diinterpretasikan dalam analisis kualitatif berupa tinggi, sedang dan rendah. Untuk tes prestasi  belajar meliputi penilaian kognitif berupa data skor kuantitatif. Hasil analisis tes diperoleh skor tertinggi, skor terendah, rerata dan ketuntasan belajar siswa.

Data tentang kemampuan keterampilan proses sains diambil setelah melakukan pembelajaran pada akhir siklus I.  Instrumen data berupa lembar pengamatan yang terdiri dari 10 indikator, dengan skor 10 – 16 kategori rendah, skor 17 –  23 kategori sedang dan skor 24 – 30 kategori tinggi.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil skor tertinggi 28, skor terendah 20, skor rerata 24,2 modus skor 24. Siswa yang mendapatkan skor tinggi hanya 13 siswa atau 65% dan keterampilan proses sain kategori sedang 7 siswa atau 35%.

Setelah pembelajaran gelombang bunyi berlangsung3 kali pertemuan, maka dilakukan tes tertulis dengan materi pokok gelombang bunyi. Jumlah soal sebanyak 35 butir soal. Hasil tes prestasi belajar Fisika materi pokok gelombang bunyi diperoleh hasil sebagai berikut: skor tertinggi 93,33, skor terendah 58,33, skor rerata 73,67, modus skor 75. Masih ada 6 siswa (30%) yang mendapat skor di bawah ketuntasan belajar minimal (KKM).

Diskusi refleksi dilakukan pada hari Jum’at tanggal 28 Agustus   2015 di ruang guru SMA Negeri 1 Purwanegara dengan hasil analisis dan diskusi secara kolaborator diperoleh data kemampuan keterampilan proses sains kategori tinggi mencapai 13 siswa atau 65% dan nilai rata-rata prestasi belajar mata pelajaran Fisika mencapai 73,67 dengan ketuntasan belajar 70 %, sehingga belum berhasil karena kriteria keberhasilan keterampilan proses sains kategori tinggi 80 % atau 16 siswa dan nilai rata-rata prestasi belajar 75 dengan ketuntasan belajar 80%. Hal ini menyebabkan implementasi problem based instruction harus dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya dengan memperkecil kelompok  praktikum / diskusi yang beranggotakan 4 siswa secara heterogen karena masih ada anggota kelompok yang pasif dalam pembelajaran.

 

Deskripsi Siklus II

Setelah melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus II, diperoleh hasil kemampuan keterampilan proses sains skor tertinggi 30, skor terendah 23, skor rerata 25,8 modus skor 26. Siswa yang mendapatkan kategori tinggi ada 17 atau 85%.

Setelah pembelajaran berlangsung 3 kali pertemuan, maka dilakukan tes tertulis dengan materi pokok gelombang cahaya. Hasil tes prestasi belajar Fisika diperoleh hasil nilai tertinggi 95, nilai terendah 60, nilai rerata 76, modus nilai 75 dan 85% siswa sudah mencapai ketuntasan belajar minimal (KKM).

Diskusi refleksi dilakukan pada hari Jum’attanggal 25 September   2015 di ruang guru SMA Negeri 1 Purwanegara dengan hasil analisis dan diskusi secara kolaboratif. Data kemampuan keterampilan proses sains sudah mencapai 85% atau 17 siswa sudah mampu melakukan keterampilan proses sains kategori tinggi dan sudah melampaui indicator keberhasilah penelitian 80%. Prestasi belajar Fisika mencapai nilai rata-rata 76,0 dengan ketuntasan belajar 85%, sehingga sudah melampaui indicator keberhasilan 80% dengan KKM 75. Akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan siklus II karena penelitian sudah berhasil.

 

PEMBAHASAN ANTAR SIKLUS

Pada pengamatan pra siklus kemampuan keterampilan proses sains kategori tinggi hanya 45% atau 9 siswa dari 20 siswa, kemampuan keterampilan proses sedang 30% atau 6 siswa dan kemampuan keterampilan proses sains rendah 25% atau 5 siswa. Rata-rata kemampuan keterampilan proses sains pada pra siklus adalah rendah. Setelah dilakukan pembelajaran dengan implementasi model problem based instruction (PBI), kemampuan keterampilan proses sains mengalami peningkatan. Kemampuan keterampilan proses sains tinggi 65% atau 13 siswa dari 20 siswa, kemampuan keterampilan proses sains sedang 35% atau 7 siswa, dan tidak ditemukan yang keterampilan proses sains rendah. Rata-rata kemampuan proses sains pada siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan. Hal ini disebabkan oleh situasi pembelajaran masih tegang karena siswa belum terbiasa menggunakan model problem based instruction, guru kurang efektif dan efisien dalam mengelola waktu serta ada anggota kelompok yang pasif pada saat pembelajaran.

Pada siklus II implementasi model pembelajaran problem based instruction dengan memperkecil anggota kelompok dapat meningkatkan kemampuan keterampilan proses sains secara optimal. Hasil pengamatan pada siklus II menunjukkan siswa yang mempunyai kemampuan keterampilan proses sains kategori tinggi sebesar 85%, kemampuan keterampilan proses sains sedang 15%. Jadi rata-rata keterampilan proses sains pada siklus II adalah kategori tinggi. Perbandingan kemampuan keterampilan proses sains prasiklus, siklus I dan siklus II ditunjukkan pada grafik 1 dan tabel 1 berikut ini;

Grafik 1

Tabel 1. Perbandingan Kemampuan Keterampilan Proses Sains Pra Siklus, Sikus I, Dan Siklus II

No. Kemampuan Keterampilan Proses Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Tinggi 45% 65% 85%
2 Sedang 30% 35% 15%
3 Rendah 25% 0 0
4 Rata-Rata 20,80 24,20 25,75

Pada siklus I mengalami kenaikan rata-rata kemampuan keterampilan proses sains dari 20,80 menjadi 24,20, pada siklus II mengalami kenaikan rata-rata kemampuan keterampilan proses sains dari 24,20 menjadi 25,75 hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan mengimplementasikan model problem based instruction dapat mengoptimalkan rata-rata kemampuan keterampilan proses sains dari 24,20 menjadi 25,75. Prestasi belajar yang diukur melalui ulangan/tes prestasi belajar menunjukkan hasil pada pra siklus rata-rata 69,75 dan ketuntasan belajar 50%, setelah dilakukan pembelajaran dengan mengimplementasikan model problem based instruction mengalami peningkatan secara optimal. Pada siklus I rata-rata 73,67 dan ketuntasan belajar 70%. Dari hasil refleksi tersebut masih belum mencapai indicator keberhasilan. Dengan memperbaiki kekurangan yang ada pada siklus I diperoleh hasil tes pada siklus II rata-rata 76,00 dan ketuntasan belajar 85%. Perbandingan hasil tes prestasi belajar pra siklus, siklus I, dan siklus II dapat ditunjukkan pada grafik 2 dan  tabel 2 berikut ini.

Grafik 2

Tabel 2. Perbandingan Prestasi Belajar Pra Siklus, Siklus I, Siklus II

No. Tes prestasi belajar Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Nilai Tertinggi 90,00 93,33 95,00
2 Nilai Terendah 50,00 58,33 60,00
3 Nilai Rata-Rata 69,75 73,67 76,00
4 Ketuntasan Belajar 50% 70% 85%

            Pada tabel di atas terlihat nilai rata-rata tes prestasi belajarpra siklus sebesar 69.75, nilai rata-rata siklus I sebesar 73,67, dan nilai rata-rata siklus II sebesar 76,00. Dengan demikian implementasi model problem based instruction dapat meningkatkan prestasi belajar secara optimal dari 73,67 pada siklus I menjadi 76,00 pada siklus II. Jadi, dapat disimpulkan bahwa model problem based instruction dapat meningkatkan prestasi belajar secara optimal dari rata-rata 73,67 menjadi rata-rata 76,00 dan juga dapat menaikkan ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar pada pra siklus sebesar 50%, siklus I sebesar 70% dan siklus II sebesar 85%.Hal ini berarti terjadi peningkatan prestasi belajar secara optimal dari 70% menjadi 85%.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Implementasi model problem based instruction dapat mengoptimalkan keterampilan proses sains kategori tinggi siswa kelas XII IPA.2 SMA Negeri 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016.
  2. Implementasi model problem based instruction dapat mengoptimalkan prestasi belajar Fisika siswa kelas XII IPA.2 SMA Negeri 1 Purwanegara semester 1 tahun pelajaran 2015/2016.

Saran

  1. Melakukan penelitian sejenis dengan cakupan materi lain yang sesuai dengan karakteristik model pembelajaran berbasis masalah (PBI).
  2. Mengembangkan penelitian sejenis dengan meninjau secara khusus aspek kemampuan pemecahan masalah.
  3. Pelaksanaan penelitian ini baru 2 (dua) siklus, peneliti lain selanjutnya dapat menambah siklus III untuk mendapatkan temuan-temuan yang lebih signifikan.
  4. Perlu peningkatan validitas instrumen tes dan lembar observasi.

 

DAFTAR  PUSTAKA

Azwar, Saifuddin. 2001. Tes Prestasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Depdiknas, 2003a.Standar Kompetensi Mata Pelajaran Fisika. Jakarta.

Depdiknas, 2003b.Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian. Dirjen Dikdasmen.

Djamarah, Syaful Bahri. 2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru.Surabaya: Usaha Nasional

Huda, Miftahul. 2015. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Rasyid, Harun. Penilaian Hasil Belajar. Bandung: Wacana Prima

Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sanjaya, Wina. 2009.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta:Kencana Prenada Media Group

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana.2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya.

Suyono. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya

Surya,Yohanes.  2004. Fisika untuk Semua. Jakarta: PT. Bina Sumber Daya MIPA

BIODATA PENULIS

Dra. Rumiyati  GURU FISIKA SMA NEGERI 1 PURWANEGARA




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *