PTS SMP : Penerapan Managemen Pendidikan Berbasis Sekolah

PENERAPAN MANAGEMEN PENDIDIKAN BERBASIS SEKOLAH TERHADAP PEMBERDAYAAN GURU DI SMP NEGERI 2 KEBASEN KABUPATEN BANYUMAS

Oleh :  ENDAH KURNIASIH, S.Pd.

 

Esensi dari Manajemen Berbasis Sekolah adalah peningkatan otonomi sekolah, peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, serta peningkatan fleksibilitas dalam pengelolaan sumber daya sekolah.

 

PENDAHULUAN

Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di satuan pendidikan terkait otonomi sekolah, partisipasi masyarakat dan fleksibilitas pengelolaan. Otonomi diartikan sebagai kewenangan atau kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri, dan tidak tergantung pada siapa pun. Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan – keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola,,memanfaatkan dan memberdayakan sumber daya sekolah seoptimal mungkin guna meningkatkan mutu sekolah.

Peningkatan partisipasi yang dimaksudkan adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, dimana warga sekolah (guru, Siswa, karyawan) dan warga masyarakat (orangtua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, usahawan dan sebagainya} didorong untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan. pendidikan mulai dari pengambilan keputusan, pelaksanaan, evaluasi, dan akuntabilitas (Sudarwan Danim, Visi baru manajemen sekolah, 2006: 35). Dalam rangka menuju terciptanya Manajemen Berbaisis Sekolah maka peran guru perlu diberdayakan. Pemberdayaan merupakan kunci utama dalam motivasi dan produktivitas. Menurut Fandy Tjiptono (1994 : 136) Pemberdayaan sebagai suatu konsep secara sungguh-sungguh memerlukan implementasi yang sistematis melalui 4 tahap implementasi peemberdayaan, yaitu :

  1. Menciptakan lingkungan yang mendukung
  2. Menentukan dan mengatasi hambatan
  3. Menerapkan dan menggunakan sarana pendukung
  4. Menilai, menyesuaikan dan memperbaikinya

Bagaimana penerapan managemen pendidikan berbasis sekolah terhadap pemberdayaan guru di SMP Negeri 2 Kebasen Kabupaten Banyumas ?

PEMBAHASAN

Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah

Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah adalah gabungan kata yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu pengertian yang dimaksudkan juga pengertian secara satu kesatuan. Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah menurut Dornseif, (1996: I) ialah collection of practices I which more people at the school level make decisions for the school. Itoften begins with decentralization; a delegation of certain powers from the central office to theschools that may include any range of power from a few, limited areas to nearly everthing.

Suatu kumpulan kebiasaan kebiasaan/kenyataan – kenyataan yang mana lebih banyak orang disuatu tingkatan sekolah membuat keputusan untuk sekolah tersebut. Hal itu Bering memulai dengan desentralisasi; yaitu suatu pelimpahan kewenangan dari pusat kepada dalam batas -batas tertentu sesuai dengan otoritas dan kapasitas sekolah.

Menurut Rumtini dan Jiyono (1999) dalam artikelnya yang berjudul Manajemen Berbasis Sekolah Konsep dan Kemungkinan starategi pelaksanaannya di Indonesia menjelaskan apabila adanya peran yang pas bagi sekolah dalam mengelola dirinya dengan segenap potensi yang dimiliki melalui prioritas yang ditentukan bersama -sama dengan jaringan yang terkait untuk mencapai sasaran yang diperlukan. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Manajemen Pendidikan berbasis Sekolah dapat dikenal dengan adanya lima ciri yang menonjol yaitu;

  1. Tindakan aktif pihak manajemen sekolah
  2. Adanya keterlibatan secara nyata dari stakeholder
  3. Adanya otonomi yangluas bagi sekolah dan pihak terkait secara.bersama sama tanpa banyak didikte
  4. Cenderung adanya spesifikasi pada masing -masing sekolah.
  5. Tertuang produk kebijakan yang kongkrit sehingga dapat dilaksanakan.

Mengapa Berbasis Sekolah

                 Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. Karakteristik tersebut tidak bisa dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif yang dikatagorikan menjadi input,proses,dan out put. Ada beberapa alasan suatu lembaga pendidikan memilih proses manajemen Berbasis sekolah yaitu:

  1. Output yang diharapkan adalah hasil prestasi sekolah baik akademik dan non akademik.
  2. Proses
  3. Input

Lingkup Manajemen suatu sekolah lebih terfokus pada sekolah dan oleh sekolah itu sendiri.Oleh sebab itu sekolah sebagai basis manajemen pendidikan memiliki makna penting. Pada lingkup sekolah ini secara teknis sekolah “menguasai”,mengetahui, dekat,terlibat, terlibat langsung, dan integrated dengan lingkungannya, komite sekolah,konsumennya, stakeholder-nya dan seterusnya.

Stakeholders

Stakeholder dalam konsep Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah telah teridentifikasi secara jelas dalam pengertian subyeknya maupun perannya. Subyeknya menyangkut siapa saipa saja yang terlibat, sedangkan perannya menunjukkan bidang bidang garap apa saja yang dapat dijangkau oleh subyek tersebut. (Sumarno,2000) “Menjadi jelasnya apa itu subyek dan apa saja pecan mereka akan menumbuhan sinergi dan terjalin kemitraan yang harmonis sehingga dapat menentukan maju mundurya sekolah.

Agar lebih mendapatkan gambaran riil fihak – fihak yang terkait langsung dengan pendidikan di sekolah tertentu sehingga mereka disebut stakeholders, dapat ditunjuk sebagai berdcut yaitu : 1) Penilik Sekolah. dalam hal ini dapat berupa pemerintah atau yayasan, 2) Pimpinan Sekolah, 3) Guru, 4) Karyawan, 5) Siswa, 6) Orang tua /wali siswa, 7) Pengurus Komite sekolah, 8) PGRI, 9) komite sekolah disekitamya, 10) Komite sekolah yang berkopenten pada umumnya sebatas otoritas dan kapasitas mereka masing -masing. Akhirnya keterlibatan Komite sekolah pada gilirannya akan menjadi factor pendukung utama dalam pelaksanaan 14majemen Pendidikan Berbasis Sekolah. (Sumarno,2000)

Otonomi Sekolah dan Pengambilan Keputusan Partisipatif

Proses otonomi sekolah merupakan sikap mandiri menjalankan fungsi manajemen yaitu dalam melaksanakan, mengolah, mengevaluasi hasil olahan, dan menindak lanjutinya yang dilakukan oleh sekolah bersama sama stakehotder. Oleh karena itu sebagai inti atau sub Manajemen pendidikan Berbasis Sekolah, Otonomi sekolah dan partisipasi stakeholder hususnya komite .sekolah menjadi sangat menonjol dan menjadi kurang keberhasilan sekolah dalam melaksanakan konsep. Otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian yaitu kemandirian yang mengatur dan mengurus dirinya sendiri,kemandirian dalam program dan pendanaan merupakan tolak ukur utama kemandirian sekolah.Pada gilirannya ,kemandirian yang berlangsung secara terus menerus akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah (sustainabilitas).Istilah otonomi juga sama dengan istilah “swa”, misalnya swasembada,swakelola,swadana,swakarya,dan swalayan.Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundangan pendidikan nasional yang berlaku.Tentu saja kemandirian tersebut harus didukung oleh sejumlah kemampuan ,yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik, kemampuan berdemokrasi/menghargai pendapat orang lain,kemampuan memobilisasi sumber daya ,kemampuan memilih cara yang efektif,kemampuan memecahkan masalah sekolah ,kemampuan adaptatif dan antisipatif,kemampuan bersinergi dan berkolaborasi,dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri.Dengan demikian sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya ,sehingga sekolah lebih mandiri.

Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah sebaik apapun sekolah tampaknya menjadi tidak mungkin tanpa melibatkan komite sekolah, maka sekolah yang maju adalahsekolah yang sinergi dengan komite sekolah, Sekolah memiliki komitmen dan inisiatif yang kuat untuk senantiasa, inovatif dan komite juga senantiasa kuat dan sanggup membackup apa yang menjadi keputusan bersama sekolah. Memang diakui dibeberapa sekolah mungkin peran komite sekolah dan peran sekolah berbeda -beda sehingga yang tampak adalah sekolah melaksanakan pendidikan dan komite mencukupkan biaya pendidikan. Hal demikian memang tidak dapat disalahkan, walaupun sekarang antara, sekolah dan komite sekolah telah makin mengalami peningkatan jalinan kerjasama melakukan perencanaan, pengambilan keputusan dan proses pendidikan bagi peserta didik

 Baca Juga : PTK SMP PKN : Penggunaan Cooperative Learning Model Jigsaw

Strategi pelaksanaan Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah

Walaupun teori ini tidak dapat dikatakan tidak Baku, tetapi dapat digunakan sebagai acuan global tahap tahap penerapan Manajemen. Pendidikan Berbasis Sekolah khususnya dalam pemberdayaan guru. Depdiknas (2000) memberi gambaran strategi yang hams ditempuh dalam Manajemen Pendidikan Berbasis sekolah antara lain :

  1. Sosialisasi konsep keseluruh warga sekolah dan unsur unsur yang terkait.
  2. Melakukan analisis output yaitu pengkajian besaran loncatan yang akan di tempuh untuk untuk menuju sasaran yang dicapai.
  3. Merumuskan sasaran yang tetap harus mengacu pada visi, misi, dan. tujuan
  4. Melakukan analisis yang pada hakekatnya merupakan tindakan nyata.
  5. Menyusun rencana peningkatan mutu dengan melibatkan seluruh stakeholder.
  6. pelaksanaan rencanaa peningkatan mutu dengan penuh kreatifitas dan inisiatif
  7. Pelaksanaan evaluasi dengan melibatkan sernua unsur yang terkait.
  8. Merumuskan sasaran baru berdasarkan hasil evaluasi.

Manajemen Sumber Daya Manusia

Sukijo Notoatmojo (1998) menjelaskan batasan manajemen Sumber daya manusia adalah sebagai, perwujudan usaha menggerakkan karyawan dengan menelusuri fungsi fungsi manajemen melalui pemberdayaan, penempatan, pengembangan, pemeliharaan, pengendalian sehingga terjadi sinergi timbal balik antara manajemen dengan fihak kayawan guna mencapai tujuan yang diharapkan.

  1. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah

Kompetensi manajerial ialah kepemimpian dan kemampuan kepala sekolah menjalankan fungsi fungsi manajemen. Kepemimpinan yang kuat haruslah mempunyai

  1. visi yang kuat.
  2. Inspiration (memberi ilham)
  3. Stategy Orientation (orientasi jangka panjang)
  4. Integrity integritas yang kuat
  5. Organizational shopisticated (memahami dan berorganisasi)
  6. Nurturing (menjaga keseimbangan antara atasan dan bawahan)
  1. Profesionalitas Guru.

Seorang guru dikatakan professional apabila dia menguasai

  1. Mampu mengembangkan tanggung jawab dengan baik
  2. Mampu melaksanakan peran perannya secara berhasil.
  3. Mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan.
  4. Mampu melaksanakan perannya dalam mengajar dikelas
  5. Mampu merencanaknn kegiatan, mengelola kegiatan, melakukan evaluasi.
  1. Motivasi kerja.
  1. Pengertian motivasi

Motivasi sering diartikan dorongan eksternal maupun internal.Motivasi merupakan salah satu alat atasan agar bawahan mau bekerja keras dan bekerja cerdas sesuai yang diharapkan. (Husain Usman, 2006: 222)

  1. Teori Motivasi.

Dalam teori motivasi ini kaitannya dengan teori motivasi konten, motivasi proses dari harapan, teori keadilan dan teknik teknik motivasi.

  1. Lingkungan kerja.

Lingkungan adalah segala pengaruh langsung dan tidak langsung yang bekerja pada manusia dan luar serta meliputi isinya yang dihayati, dan yang tidak kelihatan dan ruangan, iklim dan lain lainnya. Jadi lingkungan adalah sesuatu yang ada disekitar kita baik berupa lingkungan fisik yang mempengaruhi individu secara langsung maupun tidak langsung .

 

KESIMPULAN

  1. Guru merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pendidikan, untuk itu pembinaan dan pemberdayaan selalu ditingkatkan.
  2. Profesionalitas seorang guru dalam menagajar sangat menentukan dalam keberhasilan pendidikan, untuk itu guru diharapkan. menguasai 3 kompetensi dasar yaitu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi.
  3. Motivasi merupakan salah satu alat atasan agar bawahan man bekerja karena bekerja cerdas sesuai yang diharapkan. ( Husain Usman, 2006 : 222). Untuk itu motivasi sangat penting bagi manajer untuk meningkatkan kinerja
  4. Kemampuan manajerial kepala sekolah yang bagus, dimana dia harus dapat Membuat visi, misi manajemen secara utuh, strategi ini berjalan secara terus menerus dan berkesinabungan,

Strategi yang harus ditempuh dalam manajemen pendidikan berbasis sekolah antara lain :

  1. Sosialisasi konsep keseluruh warga sekolah dan unsur-unsur yang terkait.
  2. Melakukan analisis output yaitu pengkajian besaran loncatan yang akan di tempuh untuk untuk menuju sasaran yang dicapai.
  3. Merumuskan sasaran yang tetap harus mengacu pada visi, mini, dan tujuan
  4. Melakukan analisis SWOT yang pada hakekatnya merupakan tindakan nyata.
  5. Menyusun rencana peningkatan mutu dengan melibatkan seluruh stakeholder. pelaksanaan rencanaa peningkatan mutu dengan penuh kreatifitas dan inisiatif
  6. Pelaksanaan evaluasi dengan melibatkan sernua unsur yang terkait.
  7. Merumuskan sasaran baru berdasarkan hasil evaluasi.

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah buku I, edisi 2

Nasution, S (2001), metode riset penelitian ilmiah , Jakarta : Bumi Aksara.

Notoatmodjo , Soekijo. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Cipta

Rumtini dan Jiyono. 1999. Manajemen  Berbasis Sekolah Konsep dan Kemungkinan Strategi  Pelaksanaanya di Indonesia. Jakarta: Jurnal  Pendidikan dan Kebudayaan

Strategi pelaksanaannya di Indonesia, Jurnal pendidikan dan kebudayaan

Suyanto° dan Hisyam, D. (2000) rejleksi dan reformasipendidikan di Indonesia,

Tahun ke 5 nomor 017, Juni 1999.

Titaar, RA.R, (1999)Mamajemen Fendidikan Nasional, Bandung : Remaja Rosda

Tjiptono, Fandy. 1994. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi. Jakarta: Prenada Media

Biodata   :

Nama               :  ENDAH KURNIASIH, S.Pd.

Sekolah           :  Kepala SMPN 2 Kebasen, Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *