PTK SMP PKN : Penggunaan Cooperative Learning Model Jigsaw

PENGGUNAAN COOPERATIVE LEARNING MODEL JIGSAW DALAM UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MAPEL PKn MATERI KEMERDEKAAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT PADA SISWA KELAS VII A  SMP NEGERI 2 SAMPANG TAHUN PELAJARAN 2014/2015

 

Oleh :

A S I S, S.Pd.

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan cara meningkatkan aktivitas  dan hasil  belajar siswa kelas VII A SMP 2 Sampang. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang mengacu pada model pembelajaran jigsaw yang diawali dengan perencanaan (plan), tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus diadakan satu kali pertemuan dan tes akhir siklus. Hasil analisis pada akhir siklus I rata-rata aktivitas siswa mencapai 50,73% dari 34 siswa dan rata-rata  hasil  belajar siswa  38,23%. Pada akhir siklus II rata-rata aktivitas siswa mencapai 90,43% dari 34 siswa dan hasil belajar siswa rata-rata 88,38 atau 34 siswa  nilai di atas KKM yaitu 76 atau 100% tuntas. Simpulan penelitian ini adalah aktifitas belajar siswa dan hasil  belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Sampang pada pelajaran PKn dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajaran cooperatif jigsaw.  .

Kata kunci : Aktivitas siswa,  Hasil belajar, Cooperatif jigsaw.

PENDAHULUAN

Tanggung jawab keberhasilan pengajaran tersebut berada di tangan seorang pendidik. Artinya, seorang guru harus berupaya semaksimal mungkin untuk mengatur proses pembelajaran sedemikian rupa, sehingga komponen-komponen yang diperlukan dalam pengajaran tersebut dapat berinteraksi antar sesama komponen.

Dalam menyampaikan materi di kelas, khususnya guru yang mengajar di SMP Negeri 2 Sampang kebanyakan  masih menggunakan metode ceramah saja (konvensional). sehingga terlihat dalam proses belajar mengajar di kelas VII A adalah sebagai berikut: kurangnya minat siswa terhadap Pengajaran Kewarganegaraan, siswa tidak aktif dalam proses belajar mengajar, tidak terjadinya pembelajaran yang menyenangkan, tidak terdapat pembelajaran yang kreatif.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah penggunaan Cooperative Learning Model Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar PKn Materi Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat siswa kelas VIIA pada SMP Negeri 2 Sampang tahun pelajaran 2014/2015 ?
  2. Apakah penggunaan Cooperative Learning Model Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Pkn materi Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Sampang tahun pelajaran 2014/2015

Tujuan Khusus Penelitian Tindakan Kelas ini adalah mendeskripsikan peningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn materi Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat melalui Cooperative Learning Model Jigsaw  siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Sampang tahun pelajaran 2014/2015.

KAJIAN PUSTAKA

Cooperative Learning Model Jigsaw

Dalam pengertian metode mengajar, Yusuf M.A (1982) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Metode mengajar adalah suatu ilmu mengenai prinsif-prinsif prosedur (cara) mengajar”. Ada beberapa faktor yang menunjang teori di atas, yang dikemukakan oleh E. Kusmana (1985:164-165) adalah sebagai berikut tujuan yang ingin dicapai, faktor siswa, faktor guru, faktor sifat materi yang disajikan dan faktor waktu yang tersedia bagi pelaksanaan PBM.

Pembelajaran kooperatif model Jigsaw merupakan salah satu  pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Langkah-langkahnya sebagai berikut: siswa dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen dengan anggota masing-masing 4 atau 5 orang ( kelompok asal), guru menyampaikan materi pelajaran dalam bentuk tugas yang berbeda ke anggota kelompok asal, setiap siswa dari kelompok asal pergi untuk membentuk kelompok ahli. Setiap siswa yang mendapatkan tugas yang sama berkumpul untuk mendalami materi atau tugas secara maksimal, setiap siswa yang berada dikelompok ahli kembali ke kelompok asal dan mengajarkan materi atau tugasnya kepada anggota kelompok lain, pada kelompok asal setiap siswa berbagi dan menggabungkan informasi yang diperoleh dari teman kelompoknya.

 Aktivitas  dan hasil belajar

Berdasarkan teori Gestalt Belajar adalah proses yang terjadi bila seseorang mendapat insting di dalam suatu keadaan yang problematic, dan proses akhir yang dilaksanakan melalui berbuat, mengadakan reaksi dan mengalami sesuatu yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan, keterampilan dan sikap baru pada pihak belajar, belajar adalah proses interaksi antara berbagai potensi yang ada pada diri siswa dengan aneka potensi yang datang dari guru, siswa lainnya, fakta-fakta yang dikenalnya, konsep-konsep yang ditemukannya dan lingkungan hidup.

Untuk melihat hasil belajar dilakukan suatu penilaian terhadap siswa. Penilaian merupakan upaya sistematis yang dikembangkan oleh suatu institusi pendidikan, yang ditunjukan untuk menjamin tercapainya kualitas proses pendidikan serta kualitas kemampuan peserta didik, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. (Cullen,(2003 ) dalam Fathul Himan (2004). Menurut Fathurohman (2007), bahwa salah satu ciri belajar dikatakan berhasil bila daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi baik secara individu maupun kelompok.

Aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Peningkatan aktivitas siswa yaitu meningkatnya jumlah siswa yang terlibat aktif belajar, meningkatnya jumlah siswa yang bertanya dan menjawab, meningkatnya jumlah siswa yang berinteraksi membahas materi pelajaran (Kunandar, 2008). Eka (2007) menyatakan bahwa hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri.

Dengan memperhatikan teori dan rujukan beberapa pendapat ahli di atas, maka hipotesis dalam penelitian  ini adalah: Melalui Cooperative Learning Model Jigsaw pada pembelajaran PKn akan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan  serta meningkatnya ketuntasan belajar  siswa secara klasikal.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Maret 2015 .Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas melalui dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Subyek  penelitian  adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Sampang kabupaten Cilacap dengan jumlah siswa sebanyak 34 siswa, dengan komposisi 18 laki-laki dan perempuan 16 orang siswa.

Pengukuran hasil belajar dengan menggunakan tes pada akhir setiap siklus sebagai soal evaluasi dalam bentuk soal Essay. Observasi dilakukan dengan mengamati dan memantau aktivitas kegiatan pembelajaran baik faktor guru, siswa dan keadaan kelas. Dokumentasi berupa foto-foto dan catatan harian guru tentang keaktifan siswa selama proses belajar mengajar. Lembar tes tertulis bentuk soal essay, lembar observasi kegiatan KBM guru, lembar panduan wawancara responden siswa.

 

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Kondisi Awal

Penelitian dilakukan melalui dua siklus yang terdiri dari satu pertemuan tiap siklusnya. Pelaksanaan penelitian dimulai bulan Februari 2015 sampai dengan Maret 2015. Rata-rata nilai hasil belajar PKn  pra siklus adalah 65 dan kriteria ketuntasan belajar kurang sekali yaitu 11,76%. Dari 34 siswa yang hasil belajarnya tuntas dengan KKM 76 hanyalah 4 siswa. Sehingga ada 30 siswa atau 88,24% nilainya di bawah KKM. Dari temuan tersebut memperlihatkan rendahnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dan tingkat ketuntasan belajar klasikal di bawah 85% Deskripsi Siklus I

Perencanaan tindakan pada siklus I yaitu sebagai berikut: Guru menelaah kurikulum PKn dengan materi Hakekat Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat, membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ,membuat Lembar Kerja, Membuat instrumen observasi dan panduan wawancara keberhasilan Pembelajaran dengan Cooperatif Learning Model Jigsaw, menyusun alat evaluasi. Pelaksanaan tindakan siklus I  pada tanggal 2 Februari 2015 dengan indikator mendeskripsikan Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat. Dari data observasi yang telah dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus I diperoleh hasil sebagai berikut: 1) Rata-rata nilai formatif siklus 1 yaitu 68,69. Sedangkan ketuntasan siswa  13 siswa atau 38,23% yang dinyatakan tuntas  dan 21 siswa atau 61,77% tidak tuntas; 2) Terjadi peningkatan aktivitas siswa selama belajar dikelas pada pembelajaran siklus I. Aktivitas terjadi pula pada kegiatan bertanya dan menjawab pertanyaan, pada pra siklus yang berani bertanya hanya sejumlah 8 orang siswa dan yang berani menjawab pertanyaan hanya 11 orang siswa atau 23,53% dan 32,35%. Sedangkan pada pembelajaran siklus I jumlah siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan meningkat menjadi 12 orang dan 15 orang siswa atau 35,29% dan 44,11%, siswa yang mampu memberikan argumen pada pra siklus sejumlah 4 orang dan pada siklus 1 meningkat jadi 10 orang. Sehingga rata-rata keaktifan siswa adalah 50,73%.; 3) Aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran cooperatif Jigsaw termasuk baik, hal ini dilihat dari perolehan skor 111 dari total nilai ideal 128 atau 86,79%, meskipun ada kegiatan yang memiliki jumlah skor yang rendah yaitu kegiatan pengaturan waktu yang belum sinkron dalam RPP.

Refleksi dilakukan pada akhir siklus I yang didasarkan pada hasil tersebut diatas adalah sebagai berikut: 1) Hasil belajar siswa pada siklus I sudah menunjukkan adanya peningkatan hasil nilai rata-rata kelas dari pra siklus  sebesar 65 meningkat menjadi 68,67. Ketuntasan belajar siswa dari 34 siswa pada pra siklus sebanyak 4 siswa atau 11,76%, pada siklus I meningkat menjadi 13 siswa atau 38,23% dari jumlah keseluruhan siswa. Ketuntasan tersebut belum melebihi kriteria ketuntasan klasikal yaitu 85% seperti yang diharapkan. Dengan demikian pembelajaran PKn dengan materi“Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat” dilanjutkan ke siklus II; 2) Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran   rata-rata 50,73% pada siklus I dengan kriteria cukup; 3) Aktivitas guru dalam pembelajaran diperoleh skor rata-rata mencapai 86,76%  dengan katagori sangat baik.

Deskripsi Siklus II

Perencanaan tindakan pada siklus II yaitu sebagai berikut: Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran Cooperatif Learning Model Jigsaw dengan  materi tentang Pentingnya kemerdekaan mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggungjawab sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran pada siklus II, membuat Lembar Kerja Siswa untuk memandu diskusi ,menyiapkan lembar observasi aktivitas siswa ,lembar observasi PBM guru dan lembar wawancara siswa, membuat kartu diskusi untuk memandu materi saat siswa melakukan diskusi, menyusun alat evaluasi pembelajaran guna mengetahui pemahaman atau penguasaan siswa terhadap materi yang telah dipelajari dan mengukur hasil belajar siswa. Pelaksanaan evaluasi diakhir siklus II.

Pelaksanaan tindakan siklus II dengan menggunakan Cooperatif Learning model Jigsaw pada tangal 9 Februari 2015 dengan indikator mendeskripsikan pentingnya kemerdekaan mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggungjawab.

Dalam pengamatan terhadap pembelajaran pada siklus II dilakukan peneliti dibantu oleh observer. Observer menilai aktivitas guru dengan menggunakan lembar observasi kegiatan PBM guru dan menilai aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dari data observasi yang telah dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus II diperoleh hasil sebagai berikut: 1) Data rata-rata nilai formatif siklus II yaitu 88,38 dengan kriteria baik sekali. Sedangkan ketuntasan siswa dari perolehan nilai formatif  menunjukkan 34 siswa atau 100% yang dinyatakan tuntas . Sehingga hal tersebut sudah mencapai kriteria indikator penelitian yang diharapkan yaitu ketuntasan belajar siswa 85% dengan rata-rata nilai 76. Sehingga pelaksanaan penelitian tindakan kelas diakhiri pada siklus II; 2) Dari data yang diperoleh selama belajar dengan menggunakan model Jigsaw terjadi peningkatan aktivitas siswa selama belajar dikelas, yang dibuktikan dengan kehadiran siswa  34 orang siswa hadir pada pembelajaran siklus II. Peningkatan  aktivitas terjadi  pada kegiatan bertanya dan menjawab pertanyaan, pada pra siklus yang berani bertanya hanya sejumlah 8 orang siswa dan yang berani menjawab pertanyaan hanya 11 orang siswa atau 23.53% dan 32,35%. Sedangkan pada pembelajaran siklus I jumlah siswa yang  menjawab pertanyaan meningkat menjadi 12 orang dan 15 orang siswa atau 35,20% dan 44,11%, siswa yang mampu memberikan argumen pada pra siklus sejumlah 4 orang dan pada siklus I meningkat jadi 10 orang. Sehingga rata-rata keaktifan siswa pada siklus I adalah 50,73%. Sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan pada kegiatan bertanya menjadi 32 orang siswa atau 94,11% ,kegiatan menjawab pertanyaan adalah 29 orang siswa atau 85,29% dan yang memberikan argumen sebanyak 28 orang siswa atau 82,35%. Dengan demikian aktivitas siswa meningkat rata-ratanya menjadi 90,43 pada siklus II. Dari hasil perbaikan pembelajaran dengan mengaplikasikan Cooperative Learning Model Jigsaw pada siklus II, telah berhasil meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam belajar selama pembelajaran berlangsung. Perubahan tersebut diantaranya, siswa terlihat lebih aktif bertanya, menjawab pertanyaan dan perhatian yang fokus  pada saat siswa berdiskusi maupun saat guru menjelaskan materi di depan kelas. Hal tersebut sudah mencapai kriteria indikator penelitian yang diharapkan yaitu aktivitas  belajar siswa 85% dengan katagori keaktifan sangat baik. Dengan demikian pelaksanaan penelitian tindakan kelas di akhiri sampai dengan siklus II; 3) Guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif Jigsaw termasuk baik, hal ini dilihat dari perolehan skor 125 dari total nilai ideal 128 atau 98,1%.  Dengan demikian pembelajaran jauh lebih efektif dibandingkan dengan siklus 1.

Refleksi dilakukan pada akhir siklus II yang didasarkan pada hasil tersebut diatas adalah sebagai berikut: 1) Hasil belajar siswa pada siklus II sudah menunjukkan adanya peningkatan hasil nilai rata-rata kelas dari siklus I sebesar 68,67 meningkat menjadi 88,38.  Ketuntasan belajar siswa dari 34 siswa pada siklus I sebanyak 13  siswa atau 38,23% , pada siklus II meningkat menjadi 34 siswa atau 100% dari jumlah keseluruhan siswa. Ketuntasan tersebut telah melebihi kriteria ketuntasan klasikal yaitu 85% seperti yang diharapkan. Dengan demikian pembelajaran PKn dengan materi  “Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat” dihentikan sampai pada siklus II; 2) Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran  meningkat dari rata-rata 50,73% pada siklus I menjadi 90,43% pada siklus II atau di katagorikan sangat baik. Dengan demikian telah terjadi kenaikan dari siklus I ke siklus II  sebesar 39,7%; 3) Perolehan skor rata-rata aktivitas guru dalam pembelajaran di siklus I mencapai 86,76% dan meningkat pada siklus II menjadi 98,1% naik 11,34% dengan katagori baik.

 

PEMBAHASAN

Peningkatan Hasil Belajar

Hasil belajar siswa melalui Cooperatif Learning Model Jigsaw  mata pelajaran PKn kelas VII A pada materi Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Kenaikan hasil belajar siswa berdampak pula pada kenaikan jumlah atau persentase ketuntasan belajar siswa yang mencapai 100% pada siklus II. Peningkatan hasil belajar dan ketuntasan siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1. Peningkatan Rata-rata Nilai dan Persentase Ketuntasan

No Uraian Rata-rata Nilai Persentase Ketuntasan
1 Pra siklus 65 11,76%
2 Siklus I 68,67 38,23%
3 Siklus II 88,38 100%
Peningkatan 19,71 61,77%

Dari tabel tersebut di atas terlihat peningkatan nilai rata–rata hasil evaluasi dan persentase ketuntasan dari studi awal sampai siklus II masing-masing berakhir 19,71 point dan 61,77%. Hal ini dapat dipastikan karena siswa merasa senang melakukan pembelajaran dengan metode yang lain dari biasanya.

Peningkatan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran

Peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran sangat terlihat jelas. Hal ini karena model jigsaw menuntut siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Peningkatan aktivitas pada tiap siklusnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2. Peningkatan Aktivitas pada tiap Siklus

No Kondisi Rata-rata keaktifan Siswa Kriteria penilaian
1 Siklus I 50,73% Cukup baik
2 Siklus II 90,43% Sangat baik
3 Peningkatan keaktifan 39,7%

 

Peningkatan Aktivitas Guru dalam Pembelajaran

Peningkatan aktivitas guru dalam proses pembalajaran tidak begitu tinggi karena hanya 10,87%. Hal ini karena guru juga dituntut aktif dalam model jigsaw, sehingga dari siklus 1 sudah aktiv. Peningkatan aktivitas guru dalam proses pembelajaran dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3. Peningkatan Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran

No Siklus Persentase aktivitas Guru
1 I 86,79%
2 II 97,66%
Peningkatan 10,87%

 

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil analisa data dan temuan yang diperoleh pada pelaksanaan pembelajaran siklus I dan II  dapat disimpulkan bahwa :

  1. Melalui Cooperative Learning model Jigsaw dapat meningkatnya aktivitas belajar Rata-rata  meningkat dari 50,73% pada siklus I dan 90,43% pada siklus II.
  2. Melalui Cooperative Learning model Jigsaw dapat meningkatnya  hasil belajar Rata-rata nilai meningkat dari 68,67 siklus I dengan ketuntasan belajar siswa 38,23% atau kriteria baik  dan 88,38 pada siklus II dengan tingkat ketuntasan belajar siswa 100% atau kriteria baik sekali.

Saran

Hal-hal yang perlu  ditingkatkan oleh guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas agar siswa aktif, kreatif, dan tercipta suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa, adalah

  1. Guru harus menguasai model pembelajaran dan menerapkannya, agar siswa tidak merasa jenuh dan malas belajar.
  2. Guru harus menguasai materi pembelajaran, agar siswa cepat mengerti dan memahami pesan yang terkandung dalam materi yang dibahas tersebut.
  3. Guru merencanakan dan mengelola pembelajaran untuk membangkitkan aktivitas siswa dengan menggunakan Cooperative Learning model Jigsaw dengan dipadukan menggunakan metode yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Eka R.2007. Kondisi Pemerataan Pendidikan di Indonesia.( http educartiles.com) di akses 24 -11-2015

Kusmana (1985). Proses Belajar Mengajar. Jurusan Pendidikan Dunia Usaha

Fathul Himam, (2004). Metode Belajar di Kelas Kelas Tinggi. Jakarta : Dirjen Binbaga Islam.

Fathurrohman, Pupuh. (2007). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Refika Aditama.

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : Raja Grafindo Persada. OOP Bandung.

Yusuf M.A (1982).Pengantar Ilmu Pendidikan cetakan ke lima .jakarta.Yudistira.

 

BIODATA PENULIS:

Nama                       :   A S I S, S.Pd.

NIP                         :   19690708 199512 1 001

Pangkat                   :   Pembina, IV a

Jabatan Guru           :   Guru Madya

Unit Kerja               :   SMP Negeri 2 Sampang Cilacap




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *