infopasti.net

PTS SD : Kompetensi Pedagogik Melalui Penerapan Supervisi Klinis

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK MELALUI PENERAPAN SUPERVISI KLINIS GURU SD NEGERI BAJING KULON 01 TAHUN PELAJARAN 2014/2015

 

Tuti

ABSTRAK: Upaya Meningkatkan Kompetensi Pedagogik  melalui Pendekatan Supervisi Klinis Guru SD Negeri Bajing Kulon 01 Tahun Pelajaran 2014/2015. Tujuan penelitian tindakan sekolah yang akan dicapai adalah melalui Pendekatan Supervisi Klinis dapat Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru SD Negeri Bajing Kulon 01 Tahun Pelajaran 2014/2015”. Penelitian dilakukan terhadap 6 guru SD Negeri Bajing Kulon 01 Tahun Pelajaran 2014/2015. Tindakan kegiatan terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui penerapan supervisi klinis dapat meningkatkan   kompetensi Pedagogik guru  dalam proses belajar mengajar di SD Negeri Bajing Kulon 01 .  Adapun  hasil penelitian yang dicapai adalah kondisi awal sebesar 2,81  meningkat menjadi 3,21 dengan persentase keberhasilan 64%, termasuk dalam kategori baik. Sedangkan pada tindakan siklus 2, menunjukkan angka rata-rata skor sebesar 4,10 dengan persentase keberhasilan sebesar 81,83% (sangat baik). Berdasarkan keterangan tersebut maka  : Melalui penerapan supervisi klinis dapat meningkatkan kompetensi pedagogik guru SD Negeri Bajing Kulon 01  Tahun Pelajaran 2014/2015.

 

Kata kunci : kompetensi pedagogik,supervisi klinis

 


       Menurut peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2009 tentang standar kompetensi guru, bahwa guru mempunyai empat kompetensi yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi professional dan kompetensi sosial, dan salah satu kompetensi pedagogik adalah tugas guru untuk merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.. Guru sebagai agen pembelajaran harus dapat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan baik sehingga pelaksanaan proses pembelajaran berlangsung kondusif, inofatif dan berkualitas. Maka dari itu pembelajaran yang berkualitas harus diawali dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan rambu-rambu pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan

        Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh penyempurnaan sistematik terhadap seluruh komponen pendidikan seperti peningkatan kualitas dan pemerataan penyebaran guru, kurikulum yang disempurnakan, sumber belajar, sarana dan prasarana yang memadai, iklim pembelajaran yang kondusif, serta didukung oleh kebijakan (political will) pemerintah, baik di pusat maupun di daerah. Dari semuanya itu, guru merupakan komponen paling menentukan, karena di tangan gurulah kurikulum, sumber belajar, sarana dan prasarana, dan iklim pembelajaran menjadi sesuatu yang berarti bagi kehidupan peserta didik. Di sinilah, antara lain pentingnya guru (Mulyasa, 2007). Guru merupakan komponen paling menentukan dalam system pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral  pertama, dan utama. Figur yang satu ini akan senantiasa menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam system pendidikan. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas.

      Tantangan pendidikan pada jenjang sekolah dasar di masa depan disadari akan semakin berat. Hal ini merupakan konsekuensi kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta globalisasi komunikasi dengan sendirinya berdampak dalam dunia pendidikan. Hal itu diantaranya ditujukan dengan meningkatnya aspirasi terhadap peningkatan mutu pendidikan baik dalam arti peningkatan proses pembelajaran yang lebih bermakna maupun tuntutan akan pendidikan yang bermutu.

              Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006, tentang standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa untuk proses kegiatan belajar mengajar kelas rendah menggunakan pendekatan tematik. Bagi guru-guru kelas rendah hal tersebut merupakan kesulitan tersendiri dalam hal mengimplementasikan, karena pembelajaran dengan pendekatan tematik dianggap sebagai hal yang baru.

       Supervisi Klinis Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya, karena guru sering dijadikan tokoh teladan siswa, bahkan menjadi tokoh identifikasi. Sasaran Supervisi Klinis adalah guru dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran bisa terjadi di dalam kelas, diluar kelas dan atau di laboratorium. Kelas dalam pengertian ini adalah kelompok belajar siswa bukan ruangan belajar. Bidang garapan supervisi klinis sekurang-kurangnya terdiri atas : (a) penyusunan dan pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan, (b) penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, (c) pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran (pendekatan, metode, dan teknik), (d) penggunaan media dan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran, (e) merencanakan dan melaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah. Kelima aspek tersebut erat kaitannya dengan tugas pokok dan tanggung jawab guru sebagai agen pembelajaran. Karena itu dalam penelitian ini diteliti bagaimana meningkatkan kompetensi pedagogik guru melalui penerapan supervisi klinis. Oleh sebab itu diperlukan adanya supervisi klinis yang dilaksanakan oleh Kepala Sekolah dengan mempertimbangkan masalah pembelajaran yang dihadapi guru serta faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.

       Permasalahan  yang dihadapi guru di dalam melaksanakan tugas dan fungsinya  sebagai agen pembelajaran antara lain,  berupa perilaku peserta didik yang tidak mau mengerjakan tugas,  tidak  mau terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mengantuk, ngobrol dengan temannya, dan lain-lain yang pada dasarnya  merupakan gambaran masih rendahnya motivasi belajar peserta didik.

       Permasalahan lain muncul dari pribadi guru  sendiri antara lain :   tidak adanya persiapan dalam merancang pembelajaran, ketidaksiapan melaksanakan tugas pembelajaran di kelas yang  tercermin dalam penguasaan materi ajar yang rendah, proses pembelajaran yang terkesan  tidak terprogram, manajemen kelas yang  tidak dikelola dengan baik serta   ketidakseriusan guru dalam membimbing peserta didik.  Guru belum optimal dalam memberi penguatan, keterampilan bertanya, variasi metode dan teknik pembelajaran, memberikan motivasi,  membimbing kelompok dan individu sehingga pembelajaran menjadi tidak  menarik, tidak menyenangkan dan bahkan monoton.

       Kondisi seperti tersebut di atas, tentu tidak boleh dibiarkan terus menerus.  Kepala Sekolah  sebagai tenaga kependidikan profesional memiliki tugas dan tanggung jawab serta kewenangan penuh untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada semua guru yang ada pada lembaga yang dipimpinnya. Secara spesifik, supervisi klinis dilakukan  dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru  berdasarkan hasil diagnosis secara bersama-sama antara guru dengan kepala sekolah. Temuan-temuan berupa kelemahan-kelemahan yang dihadapi guru dibahas bersama dan dicarikan solusi pemecahannya yang efektif.

      Pelaksanaan supervisi klinis seringkali diabaikan oleh para supervisor, baik Kepala Sekolah maupun Pengawas Satuan Pendidikan, sehingga  guru terkadang mencari caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah di kelas dan bahkan apa yang dilakukannya tidak tepat  dan tidak efektif. Untuk itu, supervisi klinis menjadi sangat penting dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru, sehingga  kualitas pembelajaran akan meningkat dan berdampak pada meningkatnya taraf serap peserta didik terhadap materi yang dipelajarinya.

      Berdasarkan latar belakang tersebut,  peneliti sebagai kepala sekolah berkewajiban untuk mencari solusinya untuk mengatasi permasalahan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan melakukan penelitian tindakan sekolah . Peneliti ingin mengungkapkan dan membahas  lebih  rinci   dengan mengambil judul “Upaya Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Melalui Penerapan Supervisi Klinis Guru SD Negeri Bajing Kulon 01”.

      Berdasarkan latar belakang masalah seperti tersebut di atas, masalah­masalah yang dapat diidentifikasi antara lain adalah sebagai berikut tidak adanya persiapan dalam merancang pembelajaran, ketidaksiapan melaksanakan tugas pembelajaran di kelas yang  tercermin dalam penguasaan materi ajar yang rendah, proses pembelajaran yang terkesan  tidak terprogram, manajemen kelas yang  tidak dikelola dengan baik serta   ketidakseriusan guru dalam membimbing peserta didik.  Guru belum optimal dalam memberi penguatan, keterampilan bertanya, variasi metode dan teknik pembelajaran, memberikan motivasi,  membimbing kelompok dan individu sehingga pembelajaran menjadi tidak  menarik, tidak menyenangkan dan bahkan monoton.

        Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka dapat dirumuskan satu masalah yang diteliti yaitu : Bagaimana melalui penerapan supervisi klinis dapat meningkatkan kompetensi pedagogik guru di SD Negeri Bajing Kulon 01?

      

  KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Kompetensi Pedagogik

Hakikat Kompetensi

        Guru memiliki pengaruh luas dalam dunia pendidikan. Di sekolah dia adalah pelaksana administrasi pendidikan yaitu bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

       Dalam UU RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

       Dr.H. Syaiful Sagala, M. Pd. berpendapat bahwa kompetensi adalah perpaduan dari penguasaan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan tugas/pekerjaannya.

       Menurut Trianto, kompetensi guru adalah kecakapan, kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang yang bertugas mendidik siswa agar mempunyai kepribadian yang luhur dan mulia sebagaimana tujuan dari pendidikan.

       Dari uraian di atas nampak bahwa kompetensi mengacu pada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan. Kompetensi guru menunjuk kepada performance dan perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan. Hal tersebut dikatakan rasional karena kompetensi mempunyai arah dan tujuan, sedangkan performance adalah perilaku nyata seseorang yang diamati oleh orang lain.

       Menurut Gordon sebagaimana yang dikutip oleh E. Mulyasa, bahwa ada enam aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi, yaitu sebagai berikut : 1) Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif, misalnya seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta didik sesuai dengan kebutuhannya. 2)  Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu, misalnya seorang guru yang akan melaksanakan pembelajaran harus memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi peserta didik. 3) Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, misalnya kemampuan guru dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana untuk memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik. 4) Nilai (value), adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, misalnya standar perilaku guru dalam pembelajaran (kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan lain-lain). 5) Sikap (attitude), yaitu perasaan (senang, tak senang, suka, tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar, reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji, dan lain-lain. 6) Minat (interest), adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan, misalnya minat untuk melakukan sesuatu atau untuk mempelajari sesuatu.

Hakikat Kompetensi Pedagogik

       Pedagogik adalah teori mendidik yang mempersoalkan apa dan bagaimana mendidik sebaik-baiknya. Sedangkan menurut pengertian Yunani, pedagogik adalah ilmu menuntun anak yang membicarakan masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya. Oleh sebab itu pedagogik dipandang sebagai suatu proses atau aktifitas yang bertujuan agar tingkah laku manusia mengalami perubahan.

       Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa kompetensi pedagogik merupakan kemampuan seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran yang berhubungan dengan peserta didik, meliputi pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum atau silabus, perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

        Kompetensi pedagogik yang merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik, menurut E. Mulyasa sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) Pemahaman wawasan dan landasan kependidikan, Guru sebagai tenaga pendidik yang sekaligus memiliki peran penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di negara ini, terlebih dahulu harus mengetahui dan memahami wawasan dan landasan kependidikan sebagai pengetahuan dasar. Pengetahuan awal tentang wawasan dan landasan kependidikan ini dapat diperoleh ketika guru mengambil pendidikan keguruan di perguruan tinggi. 2) Pemahaman terhadap peserta didik, peserta didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Tujuan guru mengenal siswa-siswanya adalah agar guru dapat membantu pertumbuhan dan perkembangannya secara efektif, menentukan materi yang akan diberikan, menggunakan prosedur mengajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, dan kegiatan-kegiatan guru lainnya yang berkaitan dengan individu siswa. Dalam memahami siswa, guru perlu memberikan perhatian khusus pada perbedaan individual anak didik, antara lain:

Tingkat kecerdasan

       Kecerdasan seseorang terdiri dari beberapa tingkat yaitu : golongan terendah adalah mereka yang IQ-nya antara 0-50 dan di katakan idiot. Golongan kedua adalah mereka yang ber-IQ antara 50- 70 yang dikenal dengan golongan moron yaitu keterbatasan mental. Golongan ketiga yaitu mereka yang ber-IQ antara 70-90 disebut sebagai anak lambat atau bodoh. Golongan menengah merupakan bagian yang besar jumlahnya yaitu golongan yang ber-IQ 90-110. Mereka bisa belajar secara normal. Sedangkan yang ber IQ 140 ke atas disebut genius, mereka mampu belajar jauh lebih cepat dari golongan lainnya.

Kreativitas

        Setiap orang memiliki perbedaan dalam kreativitas baik inter maupun intra individu. Orang yang mampu menciptakan sesuatu yang baru disebut dengan orang kreatif. Kreativitas erat hubungannya dengan intelegensi dan kepribadian. Seseorang yang kreatif pada umumnya memiliki intelegensi yang cukup tinggi dan suka hal-hal yang baru.

Kondisi fisik

        Kondisi fisik berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, kemampuan berbicara, pincang (kaki), dan lumpuh karena kerusakan otak. Guru harus memberikan layanan yang berbeda terhadap peserta didik yang memiliki kelainan seperti diatas dalam rangka membantu perkembangan pribadi mereka. Misalnya dalam hal jenis media yang digunakan, membantu dan mengatur posisi duduk dan lain sebagainya

Perkembangan kognitif

        Pertumbuhan dan perkembangan dapat diklasifikasikan atas kognitif, psikologis dan fisik. Pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi karakteristik manusia. Perubahan tersebut terjadi dalam kemajuan yang mantap dan merupakan proses kematangan. Perubahan ini merupakan hasil interaksi dari potensi bawaan dan lingkungan

Identifikasi kompetensi

       Kompetensi merupakan sesuatu yang ingin dimiliki oleh peserta didik dan merupakan komponen utama yang harus dirumuskan dalam pembelajaran, yang memiliki peran penting dalam menentukan arah pembelajaran. Kompetensi akan memberikan petunjuk yang jelas terhadap materi yang harus dipelajari, penetapan metode dan media pembelajaran serta penilaian. Penilaian pencapaian kompetensi perlu dilakukan secara objektif berdasarkan kinerja peserta didik, dengan bukti penguasaan mereka terhadap suatu kompetensi sebagai hasil belajar. 1) Penyusunan program pembelajaran, penyusunan program pembelajaran akan tertuju pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran , sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Komponen program mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode dan teknik, media dan sumber belajar, waktu belajar dan daya dukung lainnya. 2) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis

        Dalam peraturan pemerintah tentang guru dijelaskan bahwa guru harus memiliki kompetensi untuk melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan pembelajaran harus berangkat dari proses dialogis antar sesama subjek pembelajaran sehingga melahirkan pemikiran kritis dan komunikatif. Tanpa komunikasi tidak akan ada pendidikan sejati. Secara umum, pelaksanaan pembelajaran meliputi: 1) Pre tes (tes awal) 2) Proses. Kualitas pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosial. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan kompetensi dan prilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau sebagian besar (75%). Lebih lanjut proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan perkembangan masyarakat dan pembangunan. 3) Post Test

Pemanfaatan teknologi pembelajaran

       Fasilitas pendidikan pada umumnya mencakup sumber belajar, sarana dan prasarana penunjang lainnya, sehingga peningkatan fasilitas pendidikan harus ditekankan pada peningkatan sumber-sumber belajar, baik kualitas maupun kuantitasnya yang sejalan dengan perkembangan teknologi pendidikan dewasa ini. Perkembangan sumber-sumber belajar ini memungkinkan peserta didik belajar tanpa batas, tidak hanya di ruang kelas, tetapi bisa di laboratorium, perpustakaan, di rumah dan di tempat-tempat lain. Teknologi pembelajaran merupakan sarana pendukung untuk membantu memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, memudahkan penyajian data, informasi, materi pembelajaran, dan variasi budaya.

Evaluasi hasil belajar

       Penilaian Kelas, dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik, memperbaiki proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik serta menentukan kenaikan kelas. Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian dan ujian akhir.

        Tes kemampuan dasar, dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial).

         Penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran diselenggarakan kegiatan penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu dan juga untuk keperluan sertifikasi, kinerja dan hasil belajar yang dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat Belajar.

Supervisi Klinis

Hakikat Supervisi Klinis

       Supervisi klinis merupakan strategi yang efektif dalam memperbaiki pengajaran. Supervisi klinis termasuk aktivitas-aktivitas yang terjadi di dalam kelas.Ia berkenaan dengan perbaikan mengajar dan belajar melalui obervasi langsung terhadap tindakan guru dan siswa dalam lingkungan belajar.

        Cogan  dalam Wiles dan Lovell (1993:168) yang dikutip oleh Wahyudi (2009:107) mengemukakan bahwa supervisi klinis adalah Supervisi yang dirancang untuk meningkatkan performansi guru kelas.,Untuk kepentingan dimaksud diperlukan data dari kepala sekolah mengenai kejadian di kelas. Analisis dari peristiwa di kelas  dan  hubungan  antara  guru  dan  supervisor  merupakan bagian dari program, prosedur, dan strategi yang dirancang untuk meningkatkan   pembelajaran siswa dengan cara meningkatkan perilaku guru kelas.

         Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka dapat diambil kesimpulan pengertian mengenai supervisi klinis yaitu suatu   proses pembinaan untuk guru yang bertujuan membantu pengembangan  kinerja guru dalam mengajar  melalui siklus  yang sistematik secara  objektif, serta bertujuan mengadakan perubahan  untuk  memperkecil  kesenjangan  antara tingkah  laku  mengajar  yang  nyata  dengan  tingkah  laku  mengajar  yang ideal.

Tujuan Supervisi Klinis

        Tujuan pokok dari supervisi klinis yang diharapkan menurut Cogan (1973) yang  dikutip  oleh  Davis  (2005:  36) adalah “…menghasilkan  guru yang  profesional  dan  bertanggung  jawab  secara  profesi  dan  memiliki komitmen  yang  tinggi  memperbaiki  diri  sendiri  atas  bantuan  orang lain”. Tujuan  yang  ingin  dicapai  pada  supervisi  klinis  menurut  Goldhammer  et al. (1980:186) dalam Sagala (2010:200) adalah “…meningkatkan  kualitas instruksional  dan  kualitas  belajar  peserta  didik  sehingga  menghasilkan kualitas pembelajaran yang tinggi melalui praktek pembinaan dan bantuan langsung”.

       Menurut  Syaiful  Sagala  (2010:200)  pada dasarnya tujuan umum supervisi klinis adalah: 1) Memberi tekanan pada proses pembentukan dan pengembangan profesional. 2) Memberi respon terhadap pengertian utama serta kebutuhan guru yang berhubungan dengan tugasnya. 3) Menunjang pembaharuan pendidikan serta untuk memerangi kemerosotan. 4) Siswa dapat belajar dengan baik sehingga tujuan pendidikan dan pengajaran dapat sesuai dan tercapai secara maksimal. 4) Kunci untuk meningkatkan kemampuan profesional guru. Sedangkan tujuan khusus supervisi klinis antara lain adalah : 1) Menyediakan suatu balikan yang obyektif dari kegiatan guru yang baru saja dilaksanakan, ini merupakan cermin agar guru dapat melihat apa yang sebenarnya mereka perbuat ketika mengajar, sebab apa yang mereka lakukan mungkin sekali sangat berbeda dengan perkiraan mereka. 2) Mendiaknosis, memecahkan atau membantu, memecahkan masalah mengajar.3) Membantu guru mengembangkan kemampuan dan keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi dan model dalam mengajar. 4) Sebagai dasar untuk menilai guru dalam kemajuan pendidikan, promosi, jabatan atau pekerjaan mereka. 5) Membantu guru  mengembangkan sikap positif terhadap pengembangan diri secara terus-menerus dalam karier dan profesi mereka secara mandiri. 6) Perhatian utama pada kebutuhan guru dalam mengajar.

Karakteristik Supervisi Klinis

       Karakteristik mendasar supervisi klinis menurut kajian Acheson dan Gall adalah: 1) Dalam meningkatkan keterampilan intelektual dan perilaku mengajar guru secara spesifik. 2) Supervisi harus bertanggung jawab membantu para guru untuk mengembangkan, yaitu: a)  Keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan data yang benar dan sistematis; b) Terampil dalam mengujicobakan, mengadaptasi, dan memodifikasi kurikulum dan c) Agar semakin terampil menggunakan teknik-teknik   mengajar, guru harus berlatih berulang-ulang. 3) Supervisi menekankan apa dan bagaimana guru mengajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan untuk merubah kepribadian guru. 4) Perencanaan dan analisis berpusat pada pembuatan dan pengujian hipotesis pembelajaran berdasarkan bukti-bukti hasil observasi. 5) Konferensi berkaitan dengan sejumlah isu-isu penting mengenai pembelajaran yang relevan bagi guru mendorong untuk berubah. 6) Konferensi sebagai umpan balik menitik beratkan pada analisys Konstruktif dan penguatan terhadap pola-pola yang berhasil  dari pada menyalahkan pola-pola yang gagal. 7) Observasi itu didasarkan pada bukti, bukan pada pertimbangan nilai yang substansial atau nilai keputusan yang tidak benar. 8) Siklus perencanaan, analisa dan pengamatan secara berkelanjutan dan pengamatan secara berkelanjutan dan bersifat kumulatif. 9) Supervisi merupakan suatu proses memberi dan menerima yang  dinamis dimana supervisor dan guru adalah kolega yang meneliti untuk menemukan pemahaman yang saling mengerti bidang pendidikan. 10) Proses supervisi pada dasarnya berpusat pada analisis pembelajaran. 11) Guru secara individual memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis dan menilai isu-isu, meningkatkan kualitas pengajaran dan mengembangkan gaya mengajar personal guru. 12) Proses supervisi dapat diterima, dianalisis dan dikembangkan lebih banyak sama dengan keadaan pengajaran yang dapat dilakukannya. 13) Seorang suvervisor memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis kegiatan supervisinya dalam hal yang sama dengan analisis evaluasi guru tentang pembelajaranya.

Ciri-ciri Supervisi Klinis

      Makawimbang mengemukakan bahwa supervisi klinis memiliki ciri-ciri yaitu: 1) Dalam supervisi klinis, bantuan yang diberikan bukan bersifat instruksi atau memerintah tetapi tercipta hubungan manusiawi, sehingga  guru-guru  memiliki rasa aman. Dengan timbulnya rasa aman diharapkan adanya kesediaan untuk menerima perbaikan. 2) Apa yang akan disupervisi itu timbul dari harapan dan dorongan  dari guru sendiri karena dia memang membutuhkan bantuan itu. 3) Satuan tingkah laku mengajar yang dimiliki guru merupakan satuan yang terintegrasi. Harus dianalisis sehingga terlihat kemampuan apa, keterampilan apa, yang spesifik yang harus diperbaiki.

4) Suasana dalam pemberian supervisi adalah suasana yang penuh kehangatan, kedekatan, dan keterbukaan. 5) Supervisi yang diberikan tidak saja pada keterampilan mengajar  tapi juga mengenai aspek-aspek kepribadian guru misalnya motivasi terhadap gairah mengajar. 6) Instrumen yang digunakan untuk observasi disusun atas dasar kesepakatan antara supervisor dan guru. 7) Balikan yang diberikan harus secepat mungkin dan sifatnya objektif. 8) Dalam percakapan balikan seharusnya datang dari pihak guru lebih dulu, bukan dari supervisor.

Tahapan Supervisi Klinis

        Pada dasarnya para ahli memiliki pemahaman yang sama bahwa supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses yang  berbentuk siklus dengan tiga tahap yaitu (Jamal Ma’mur Asmani,2012: 112-114)

       Tahap Pertemuan Awal, pada pertemuan awal merupakan pembuatan kerangka kerja, karena itu perlu diciptakan suasana akrab dan terbuka antara supervisor dengan guru sehingga guru merasa percaya diri dan memahami tujuan diadakan pendekatan klinis. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada tahap ini antara lain: a) Menciptakan suasana akrab dan keterbukaan  antara  guru  dan supervisor; b) Menciptakan hubungan demokratis yaitu sasaran supervisi klinis terpusat pada kebutuhan guru dan aspirasi guru. c) Membicarakan keterampilan mengajar guru dan mengidentifikasi rancangan pembelajaran yang telah dibuat oleh guru yang meliputi kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pokok, metode pembelajaran,  media/alat yang akan dicapai oleh guru dalam kegiatan pembelajaran; d) Guru selalu siap dengan jawabannya tentang pertanyaan  apa saja yang ditanyakan oleh supervisor; e) Mengembangkan instrumen dan menyepakati instrumen observasi yang akan digunakan untuk merekam data kinerja  guru yang akan menjadi catatan penting pada tahap-tahap selanjutnya.

       Tahap Obervasi kelas, pada tahap ini, guru melakukan kegiatan pembelajaran sesuai pedoman dan prosedur yang telah disepakati pada saat pertemuan awal. Sedangkan supervisor mengamati dan  mencatat  atau  merekam secara objektif, lengkap dan apa   adanya dari tingkah laku guru mengajar. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada tahap ini adalah: a) Guru memulai dengan menciptakan rasa nyaman dan melaksanakan kegiatan mengacu pada pedoman dan  prosedur yang telah disepakati pada saat pertemuan awal   dengan supervisor; b) Supervisor mengobervasi penampilan guru berdasarkan fokus pengamatan sesuai format observasi yang telah disepakati; c) Supervisor mencatat  hasil observasi sesuai instrumen yang telah disepakati kemuadian dibuat catatan (fieldnotes). Supervisor perlu juga mencatat komentar-komentarnya selain mencatat tentang pengajaran. d) Membuat catatan observasi meliputi pola perilaku  mengajar dari guru dan siswa yang akan digunakan  dalam pertemuan akhir. Setelah guru selesai melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran, bersama-sama dengan supervisor meninggalkan ruang kelas dan pindah ke ruangan guru atau ruang pembinaan.

       Tahap Pertemuan Akhir/balikan, tahap akhir dari siklus supervisi klinis adalah analisis  pasca pertemuan. Supervisor mengevaluasi hal-hal yang telah  terjadi selama observasi dan seluruh siklus proses supervisi dengan tujuan untuk meningkatkan performansi guru.  Aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada pertemuan akhir antara lain: a) Supervisor menanyakan perasaan guru selama proses observasi berlangsung untuk menciptakan suasana santai  agar guru tidak merasa diadili; b) Supervisor bersama-sama guru membicarakan/meriviu kembali kontrak yang pernah dilakukan mulai dari tujuan pembelajaran sampai evaluasi pembelajaran; c) Supervisor menunjukan data hasil observasi dan mendiskusikan secara bersama hasil kegiatan observasi. Menunjukan data yang telah dianalisis dan telah   diinterprestasikan,   dikaji   untuk pedoman pembinaan dan peningkatan guru, kemudian memberi waktu pada guru untuk mencermati data selanjutnya didiskusikan bersama,  d) Supervisor memberikan penguatan kepada guru dan solusi terhadap penampilan guru agar mampu memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran. e) Bersama-sama guru dan supervisor membuat kesimpulan tentang hasil pencapaian pembelajaran yang telah  dilakukan dan kemudian menentukan dan membahas bersama rencana pembelajaran untuk kegiatan supervisi selanjutnya.

Kerangka Berfikir

       Untuk memudahkan penulis dalam menyusun penelitian ini, maka disusun suatu kerangka pemikiran yang dijadikan tuntunan oleh penulis dalam melaksanakan proses penelitiannya. Kerangka pemikiran merupakan   alur berfikir yang dijadikan pola atau landasan berfikir peneliti dalam mengadakan penelitian terhadap objek yang dituju.

        Penelitian ini didukung dengan kajian teoritik yang terdiri dari konsep dasar supervisi klinis dan kompetensi pedagogik guru, serta kajian empirik  yang merupakan hasil dari pengamatan secara langsung di tempat penelitian dan penelitian terdahulu. Hasil akhir dari penelitian ini adalah untuk mencari  jawaban seberapa besar pengaruh supervisi klinis oleh kepala sekolah terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru di SD Negeri Bajing Kulon 01.

Hipotesis Penelitian

      Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: “Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari supervisi  klinis  oleh kepala   sekolah terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru di SD Negeri Bajing Kulon 01”.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

       Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah (School Action  Research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah proses pembelajaran di sekolah. Penelitian ini menggambarkan bagaimana suatu  teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Penelitian ini mengambil bentuk penelitian tindakan sekolah   (PTS)   yaitu peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui supervisi klinis oleh kepala sekolah.

       Langkah–langkah PTS terdiri atas empat tahap, yaitu planning (Rencana), action (tindakan), observasi (pengamatan) dan reflection (refleksi).

        Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri Bajing Kulon 01. Penentuan tempat ini adalah berdasarkan tempat dimana peneliti menjalankan tugas sehari-hari sebagai kepala sekolah. Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2014/2015, dari bulan Agustus sampai bulan Oktoberr 2014 . Adapun yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah guru kelas SD Negeri Bajing Kulon 01 sebanyak 6 orang.

       Untuk mencapai tujuan dari diadakannya Penelitian Tindakan Sekolah ini, maka di perlukan tindakan-tindakan nyata  terhadap tercapainya tujuan penelitian. Untuk memperjelas gambaran tindakan pada masing-masing siklus peneliti menguraikan 2 siklus yang akan dilaksanakan dengan rencana kegiatan sebagai berikut:

Siklus 1

Tahap Rancangan Perencanaan

       Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: 1) Menciptakan suasana yang intim dan terbuka, 2) Menyiapkan rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran, 3) Menyiapkan alat bantu (instrumen) observasi.

Tahap Rancangan Pelaksanaan

       Menciptakan suasana nyaman dan melakukan pengamatan difokuskan pada aspek yang telah disepakati. Menggunakan instrument observasi dan dibuat catatan (fieldnotes). Guru dapat menunjukan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan menunjukan nilai siswa yaitu semua penilaian yang telah dilaksanakan meliputi pengetahuan, praktik, dan sikap sebagai bahan penilaian pelaksanaan supervisi. Kepala sekolah membuat catatan mengenai aspek keterampilan mengajar yang perlu ditingkatkan oleh guru sesuai kesepakatan bersama.

Tahap Rancangan Observasi

       Observasi meliputi pola perilaku guru: a) Kepala sekolah mengamati guru menggunakan alat bantu/media pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar. b) Kepala sekolah menganalisis pendekatan/metode yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar. c) Kepala sekolah memperhatikan pada penguasaan bahan ajar ketika guru menyampaikan materi kepada siswa. d) Kepala sekolah memperhatikan interaksi guru dan reaksi para siswa pada proses pembelajaran. e) Kepala sekolah memperhatikan cara guru dalam menilai siswa pada awal proses dan akhir pelajaran. f) Setelah selesai di dalam format penilaian, kepala sekolah mencatat tentang komentar- komentarnya tentang penampilan/keterampilan mengajar guru yang telah diamati.

Tahap Refleksi

      Mengatur pertemuan dan mereview kembali mulai dari tujuan pembelajaran sampai evaluasi pembelajaran: a) Kepala sekolah mengatur pertemuan bersama guru menciptakan suasana santai menanyakan perasaan guru selama proses observasi berlangsung. b) Meriview tujuan pembelajaran dan target keterampilan mengajar guru tentang jalannya pelajaran. Pertanyaan dimulai dengan hal-hal yang dianggap baik oleh guru, kemudian diikuti dengan hal- hal yang kurang berhasil.

       Menunjukan data hasil observasi dan mendiskusikan secara bersama hasil observasi: a) Kepala sekolah memberi kesempatan pada guru untuk menganalisis data, mencermati data hasil monitoring yang dilakukan kepala sekolah. b) Kepala sekolah tetap bersikap netral,  mengemukakan data dan pendapat pribadi tentang hasil data yang telah ia analisis berdasarkan pengamatan di kelas. c) Kepala sekolah memberi solusi/pemecahan masalah yang ada pada guru dalam proses belajar mengajar untuk perbaikan kelemahan guru. d) Kepala sekolah memberikan penguatan terhadap penampilan guru agar mampu memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran.

Siklus 2

          Pada pelaksanaan siklus 2 atau pertemuan lanjutan, konsep pelaksanaan tindakan adalah sama dengan siklus sebelumnya, namun lebih memfokuskan pada hasil refleksi pada tindakan akhir, yaitu:

Tahap Rancangan Perencanaan

         Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: 1) Menciptakan suasana yang intim dan terbuka, 2) Menyiapkan rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran, 3) Menyiapkan alat bantu (instrumen) observasi.

Tahap Rancangan Pelaksanaan

       Menciptakan suasana nyaman dan melakukan pengamatan difokuskan pada aspek yang telah disepakati. Menggunakan instrument observasi dan dibuat catatan (fieldnotes). Guru dapat menunjukan RPP dan menunjukan nilai siswa yaitu semua penilaian yang telah dilaksanakan meliputi pengetahuan, praktik, dan sikap sebagai bahan penilaian pelaksanaan supervisi. Kepala sekolah membuat catatan mengenai aspek keterampilan mengajar yang perlu ditingkatkan oleh guru sesuai kesepakatan bersama.

Rancangan Obsevasi

       Observasi meliputi pola perilaku guru:  1) Kepala sekolah mengamati guru menggunakan alat bantu/media pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar. 2) Kepala sekolah menganalisis pendekatan/metode yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar. 3) Kepala sekolah memperhatikan pada penguasaan bahan ajar ketika guru menyampaikan materi kepada siswa. 4) Kepala sekolah memperhatikan interaksi guru dan reaksi para siswa pada proses pembelajaran. 5) Kepala sekolah memperhatikan cara guru dalam menilai siswa pada awal proses dan akhir pelajaran. 6) Setelah selesai di dalam format penilaian, kepala sekolah mencatat tentang komentar- komentarnya tentang penampilan/ keterampilan mengajar guru yang telah diamati.

Tahap Refleksi

        Mengatur pertemuan dan mereview kembali mulai dari tujuan pembelajaran sampai evaluasi pembelajaran.       Kepala sekolah mengatur pertemuan bersama guru menciptakan suasana santai menanyakan perasaan guru selama proses observasi berlangsung. Meriview tujuan pembelajaran dan target keterampilan mengajar guru tentang jalannya pelajaran. Pertanyaan dimulai dengan hal-hal yang dianggap baik oleh guru, kemudian diikuti dengan hal- hal yang kurang berhasil. Menunjukan data hasil observasi dan mendiskusikan secara bersama hasil observasi. Kepala sekolah memberi kesempatan pada guru untuk menganalisis data, mencermati data hasil monitoring yang dilakukan kepala sekolah. Kepala sekolah tetap bersikap netral,  mengemukakan data dan pendapat pribadi tentang hasil data yang telah ia analisis berdasarkan pengamatan di kelas. Kepala sekolah memberi solusi /pemecahan masalah yang ada pada guru dalam proses belajar mengajar untuk perbaikan kelemahan guru. Kepala sekolah memberikan penguatan terhadap penampilan guru agar mampu memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran. Membuat kesimpulan dan merencanakan supervisi berikutnya. Kepala sekolah membuat kesimpulan tentang hasil pencapaian yang telah dilakukan dan pada akhir pertemuan dan direncanakan pembuatan tahapan kegiatan supervisi klnis selanjutnya.

               Dalam proses pengkajian terhadap berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan, setiap alternatif pemecahan masalah dipelajari kemungkinan keterlaksanaannya dengan cara mempertimbangkan factor-faktor peluang yang dimiliki, seperti fasilitas dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Alternatif pemecahan masalah yang terbaik adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, dalam arti lebih banyak faktor-faktor pendukungnya dibandingkan dengan kendala yang dihadapi. Disamping itu, alternatif pemecahan yang terbaik memiliki nilai tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa. Langkah-langkah utama pada tahap pertemuan lanjutan adalah: a) Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan umum guru ketika ia mengajar serta memberi penguatan. b) Mengkaji ulang tujuan pelajaran. c) Mengkaji ulang target keterampilan serta perhatian utama guru. d) Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya. e) Menunjukan serta mengkaji bersama guru hasil observasi (Rekaman data). f) Menanyakan perasaan guru setelah melihat rekaman data tersebut. g) Dengan melihat apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan apa yang sebenarnya terjadi atau tercapai. h). Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.

        Sumber data primer adalah data yang dihimpun langsung oleh peneliti. Pada Penelitian Tindakan Sekolah ini data primernya adalah hasil observasi dan evaluasi terhadap guru kelas SD Negeri Bajing Kulon 01. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari tangan kedua. Data sekunder diperoleh dari data pendukung yaitu daftar hadir guru, biodata guru, profil sekolah dan lain sebagainya.

        Analisis data dilakukan setelah seleksi semua data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah pengolahan data. Mengolah data adalah usaha konkrit untuk membuat data itu “berbicara”, sebab betapapun besarnya jumlah dan tingginya nilai data yang terkumpul (sebagai hasil fase pengumpulan data), apabila tidak disusun dalam suatu organisasi dan diolah menurut sistematika yang baik , niscaya data itu tetap merupakan bahan-bahan bisu “seribu bahasa”.

        Dalam penelitian in teknik WMS (Weight Means Scored) digunakan untuk menentukan kedudukan setiap item serta menggambarkan setiap keadaan atau kecenderungan tingkat kesesuaian dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Indikator Keberhasilan

        Indikator kinerja yang ingin diperoleh dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah meningkatnya kompetensi pedagogik guru kelas SD Negeri Bajing Kulon 01 setelah kepala sekolah melakukan supervisi klinis. Sebagai ukuran keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini adalah pencapaian skor guru mencapai 80% dari semua indikator yang ditetapkan.

Hasil Penelitian

Deskripsi Kondisi Awal

        Pada kondisi sebelum di adakannya tindakan supervisi, kompetensi pedagogik guru kelas di SD Negeri Bajing Kulon 01 masih tergolong rendah. Rata-rata mereka belum mampu dalam melakukan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimilikinya. Observasi dilakukan pada lima aspek kompetensi pedagogik dengan 19  indikator penilaian. Adapun hasil observasi sebagaimana terlampir, dapat di rekap pada tabel berikut:

Tabel 1 Rekapitulasi Hasil Observasi Kondisi Awal Kompetensi Pedagogik Guru

No Guru  Kelas Nilai %
1 I 2,79 57
2 II 2,68 54
3 III 2,89 56
4 IV 2,79 57
5 V 2,84 56
6 VI 2,84 56
 Rata-rata 2,81 56

       Berdasarkan data tersebut maka dapat kita lihat bahwa nilai rata-rata kompetensi pedagogik pada kondisi awal guru kelas I mendapat rata-rata skor sebesar 2.79 ( cukup baik), guru kelas II mendapat skor 2,68, guru kelas III mendapat skor 2.89, guru kelas IV mendapat skor  2.79, guru kelas V mendapat skor 2.84 dan guru kelas VI mendapat skor 2.84. Dari semua kegiatan guru yang telah diobservasi jumlah rata-rata skor yang diperoleh pada kondisi awal adalah 2.81 (cukup baik) dengan persentase kemampuan pedagogik sebesar 56% , termasuk dalam kategori cukup.

      Hasil ini sangatlah jauh dari kriteria yang diharapkan sebagai seorang pendidik. Untuk meningkatkan kompetensi pedagogik pada setiap guru kelas di SD Negeri Bajing Kulon 01, maka kepala sekolah dalam hal ini sebagai peneliti melakukan upaya peningkatan dengan tindakan supervisi klinis.

Deskripsi Siklus 1

Tahap  Perencanaan

      Perencanaan pada tahap ini pada dasarnya sama  yang tercantum pada bab III yaitu: 1) Menciptakan suasana yang intim dan terbuka, 2) Menyiapkan rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran, 3) Menyiapkan alat bantu (instrumen) observasi.

Tahap Pelaksanaan

      Menciptakan suasana nyaman dan melakukan pengamatan difokuskan pada aspek yang telah disepakati. Menggunakan instrument observasi dan dibuat catatan (fieldnotes): Guru dapat menunjukan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  dan menunjukan nilai siswa yaitu semua penilaian yang telah dilaksanakan meliputi pengetahuan, praktik, dan sikap sebagai bahan penilaian pelaksanaan supervisi. Kepala sekolah membuat catatan mengenai aspek keterampilan mengajar yang perlu ditingkatkan oleh guru sesuai kesepakatan bersama. Guru melaksanakan tugas dari Kepala Sekolah yang hasilnya sebagai berikut: 1) Sangat baik  0  guru atau 0%. 2) Baik 1  guru atau 17 %. 3) Cukup 5  guru atau 83 %. 4) Kurang  0 guru atau 0 %. 5) Sangat kurang 0 guru  atau 0%.

Dari hasil tersebut dilanjutkan pengelompokan seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 2 Hasil Tugas Guru Siklus 1

Katagori f %
Baik sekali 0 0
Baik 1 17
Cukup 5 83
Kurang 0 0
Jumlah 6 100

        Berdasar tabel tersebut, pengelompokan skor telah dilaksanakan untuk selanjutnya dilakukan penskoran seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 3 Hasil Kegiatan Guru Siklus 1

Skor (x) f fx
80-100 0 0
66-79 1 67
56-65 5 317
40-55 0 0
Jumlah 6 384

      Nilai rata-rata  =  384    =  64

                                       6

           Berdasar pengelompokan nilai hasil  tersebut selanjutnya diberi skor. Skor yang diperoleh siswa kemudian dicari skor rata-rata.    Skor edial  untuk  perorangan adalah 100. Sehubungan  skor   yang  diperoleh  64  maka  guru  melanjutkan kegiatan lagi materi yang telah disampaikan Kepala Sekolah pada siklus sebelumnya.

Observasi

     Mengamati kegiatan guru, pengamatan telah dilaksanakan, untuk kegiatan selanjutnya dilakukan peskoran, sebelumnya dilakukan penentuan  ketentuan  obyek  yaitu  katagori  sangat    baik,    baik,    cukup, dan kurang  . Berdasar hasil diperoleh dalam kegiatan  guru    sangat baik  0 dari 6  guru atau  0 %,  baik 1  dari  6  guru atau 17 %;   cukup 5 dari 6 siswa atau 83 %;  kurang  0 dari 6 siswa  atau 0 %. Pengerjaan tugas siklus 1, Guru  mengerjakan tugas dengan antusias,  hal tersebut dikarenakan timbul kemauan setelah mendapatkan perlakuan siklus 1. Namun ada beberapa yang biasa-biasa saja. Berdasar data yang diperoleh, diketahui rata-rata tugas 1 adalah 64 atau mengalami peningkatan sebesar 8 atau  14,86 %  dari  nilai  rata-rata sebelum kegiatan.

 Refleksi

        Pengamatan yang dilakukan pada siklus 1 yaitu dedikasi guru terhadap tugas ini cukup bagus, meskipun ada beberapa hal yang belum terpenuhi. Namun pada siklus 2 dapat terpenuhi dan kegiatan akan lebih baik lagi. Dapat diketahui bahwa telah ada peningkatan, kegiatan siklus 1 ini dari kondisi awal. Dilakukan kegiatan siklus 2 karena target yang diharapkan belum terpenuhi.

Deskripsi Siklus 2

Tahap  Perencanaan

       Pada dasarnya tahap ini seperti yang tertulis pada bab III, yaitu: 1) Menciptakan suasana yang intim dan terbuka, 2) Menyiapkan rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran, 3) Menyiapkan alat bantu (instrumen) observasi.

Tahap Pelaksanaan

     Menciptakan suasana nyaman dan melakukan pengamatan difokuskan pada aspek yang telah disepakati. Menggunakan instrument observasi dan dibuat catatan (fieldnotes). Guru dapat menunjukan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  dan menunjukan nilai siswa yaitu semua penilaian yang telah dilaksanakan meliputi pengetahuan, praktik, dan sikap sebagai bahan penilaian pelaksanaan supervisi. Kepala sekolah menyiapkan catatan mengenai aspek keterampilan mengajar yang perlu ditingkatkan oleh guru sesuai kesepakatan bersama. Kepala sekolah mengevaluasi kegiatan yang dilakukan guru yang hasilnya adalah sebagai berikut: 1) Sangat baik  0  guru atau 0%. 2) Baik 1  guru atau 17 %. 3) Cukup 5  guru atau 83 %. 4) Kurang  0 guru atau 0 %. 5) Sangat kurang 0 guru  atau 0%.

       Dari hasil tersebut dilanjutkan pengelompokan seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 4 Hasil Kegiatan  Guru Siklus 2

Katagori f %
Baik sekali 5 83
Baik 1 17
Cukup 0 0
Kurang 0 0
Jumlah 6 100

        Berdasar tabel tersebut, pengelompokan skor telah dilaksanakan untuk selanjutnya dilakukan penskoran seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 5 Skor Hasil Kegiatan Guru Siklus 2

Skor (x) f fx
80 – 100 5 412
70 – 79 1 79
60 – 69 0 0
40 – 59 0 0
Jumlah 6 491

  Nilai rata-rata  =  491  = 81,83

       6

       Berdasar pengelompokan nilai hasil  tersebut selanjutnya diberi  skor. Skor yang diperoleh siswa kemudian dicari  skor  rata-rata.    Skor edial  untuk  perorangan  adalah  100.   Skor   yang  diperoleh  81,83 sehingga target yang diharapkan telah tercapai.

Observasi

      Mengamati kegiatan guru, pengamatan telah dilaksanakan, untuk kegiatan selanjutnya dilakukan peskoran, yang sebelumnya ditentukan ketentuan   obyek    yaitu    katagori    sangat    baik,    baik,    cukup ,  dan kurang.  Berdasar data diperoleh  kegiatan  guru    sangat baik  5 dari 6

guru atau  83 %,  baik 1  dari  6  guru atau 17 %;   cukup 0 dari 6 siswa atau 0 %;   kurang  0 dari 6 siswa  atau 0 %. Pengerjaan tugas siklus 2, Guru  mengerjakan tugas sebagai tanggung jawabnya, bekerja   dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab, sepertinya melaksanakan tugas dengan tanpa beban atau paksaan dari pihak lain, sehingga yang sebagai tanggung jawabnya dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dibuktikan nilai yang diperoleh naik tajam, yaitu diperoleh nilai rata-rata sebesar   81,83 atau   mengalami   peningkatan    sebesar  17,83  atau   27,86 %      dari nilai  rata-rata siklus 1.

Refleksi

         Pengamatan yang dilakukan terhadap siklus 2, ternyata yang digambarkan pada siklus 1, pada siklus 2 menjadi kenyataan. Peningkatannya luar biasa, dapat dibuktikan dengan hasil yang diperolehnya meningkat sangat tajam. Dengan demikian target yang diharapkan terpenuhi.

Pembahasan

        Setelah menyelesaikan dua siklus dalam penelitian tindakan ini, peneliti dapat melihat hasilnya. Kehadiran guru-guru  dalam mengikuti pertemuan sangat bagus, mereka saling berbagi pengetahuan ( sharing ) dan pemecahan masalah pemelajaran secara bersama-sama. Adapun aktivitas guru dalam mengikuti pertemuan, khususnya hasil dari supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah boleh dikatakan baik. Hasil dari penelitian dari kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2 selalu menunjukkan adanya peningkatan.

Tabel 6 Perbandingan Kompetensi Guru

Kondisi Awal, Siklus 1 dan Siklus 2

Guru Kelas Kondisi Awal Siklus

 

I II
Nilai % Nilai % Nilai %
I 2.79 56 3.21 64 4.11 82
II 2.68 54 3.16 63 3.95 79
III 2.89 58 3.37 67 4.21 84
IV 2.79 56 3.16 63 4.00 80
V 2.84 57 3.21 64 4.16 83
VI 2.84 57 3.16 63 4.16 83
Rata-rata 2,81 56 3,21 64 4,10 81,83

       Berdasar data pada tabel tersebut dapat di ketahui bahwa pada kondisi awal jumlah rata-rata skor yang dicapai  guru mencapai 2,81 dengan persentase keberhasilan  sebesar 56% (cukup). Melihat hasil dari kondisi awal tersebut, maka kepala sekolah dalam hal ini bertindak sebagai peneliti melakukan suatu upaya untuk meningkatkan kompetensi guru-guru kelas di SD Negeri Bajing Kulon 01 dengan melakukan supervisi klinis kepada guru kelas I sampai  guru kelas VI.

       Hasil pengamatan pada tindakan penelitian siklus 1 menunjukkan adanya peningkatan yaitu dari rata-rata kondisi awal sebesar 2,81  meningkat menjadi 3,21 dengan persentase keberhasilan  64%, termasuk dalam kategori baik. Sedangkan pada tindakan siklus 2, menunjukkan angka rata-rata skor sebesar 4,10 dengan persentase keberhasilan sebesar 81,83% (sangat baik).

 

Kesimpulan

      Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya, maka peneliti daapt menyimpulkan hasil penelitian sebagai berikut : 1. Berdasarkan hasil perhitungan terhadap penilaian kompetensi pedagogik guru yang dibuat dalam bentuk angket tertutup, jumlah rata-rata skor yang diperoleh guru kelas pada kondisi awal sebelum pengamatan adalah sebesar 2,81 yang masuk dalam kriteria cukup. Setelah pelaksanaan supervisi klinis pada siklus 1 jumlah rata-rata skor yang diperoleh meningkat menjadi 3,21 (baik) dan pada siklus 2 meningkat lagi menjadi 4,10 (sangat baik). 2. Persentase keberhasilan yang diperoleh guru selama penelitian oleh kepala sekolah dengan supervisi klinis juga mengalami peningkatan pada tiap siklusnya. Pada kondisi awal, dari penelitian terhadap 19 indikator kompetensi pedagogik yang diteliti hanya 56 % yang memiliki kompetensi tersebut dalam pembelajaran, pada siklus 1 meningkat menjadi 64% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 81,83% (sangat baik). 3. Kondisi ini membuktikan bahwa penerapan supervisi klinis sangat perlu dilakukan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru kelas di SD Negeri Bajing Kulon 01.

Saran

      Berdasarkan penelitian yang diperoleh dari lapangan, peneliti menyampaikan saran untuk kemajuan guru-guru dan sekolah pada umumnya.

Bagi Kepala Sekolah

      Kepala sekolah perlu mereduksi sekecil mungkin sekat hubungan antara guru dan kepala sekolah, sehingga guru secara sadar mendatangi kepala sekolah agar bersedia memberikan bantuan atas kesulitan yang dihadapi guru dalam praktek mengajar di kelas. Kepala sekolah perlu meyakinkan guru bahwa melalui supervisi klinis guru akan mengetahui kelemahan dan kekurangan yang dimiliki agar dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru. Kepala sekolah perlu memahami dan selalu tanggap dengan permasalah yang dihadapi guru dalam praktek di lapangan. Kepala sekolah perlu meningkatkan penerapan saran dan nasehat rutin kepada guru berdasarkan temuan selama observasi. Kepala sekolah perlu meningkatkan dan merencanakan kembali hal-hal yang perlu diperhatikan pada kesempatan supervisi klinis berikutnya.

Bagi Guru

      Guru harus meningkatkan kemampuannya dalam mengidentifikasi setiap masalah yang dihadapi siswa.  Guru seharusnya dapat meningkatkan kemampuannya dalam merumuskan ide pokok pikiran secara jelas ketika menyusun silabus sesuai dengan kurikulum yang berlaku.  Guru seharusnya dapat menggunakan metode dan media pembelajaran yang lebih bervariasi untuk meningkatkan minat belajar siswa. Guru seharusnya dapat mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik.

Bagi Peneliti Selanjutnya

DAFTAR PUSTAKA

Acheson, K.,& Gall, M. (1997).Techniques in the Clinical Supervison of Teachers: Pre-service and in-service Applicaions. New York: Longman.

Arikunto, S. (2008). Evaluasi  Program Pendidikan.  Jakarta : Bumi Aksara

Asmani, Ma’mur (2012). Tips Efektif Supervisi Pedidikan Sekolah. Jogjakarta: Diva Press

Cece Wijaya, dkk. (1991). Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan Dan Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya,

Davis. (2005). Buku Wajib bagi Para Manajer: Bagaimana Menyelenggarakan Trainning. Jakarta:   Bhuana IlmuPopuler. Penerjemah: Ramelan

Depag, (2005). Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Menengah, Jakarta: Direktorat Jenderal kelembagaan Agama Islam,

Dr. H. Syaiful Sagala. (2009). Kemampuan Professional Guru Dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta

Drs. Zainal Asril, M.Pd, , 2010. Microteaching, Jakarta: Rajawali Pers.

Edi Suardi, (1979). Pedagogik. Bandung: Angkasa OFFSET

Hamzah. (2007). Profesi Kependidikan, Problema, Solusi dan Reformasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Makawimbang, Jerry. (2011). Supervisi untuk Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Muslim, Sri. (2009). Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru. Bandung :Alfabeta

Mulyasa, E. (2007). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya

Sagala, Syaiful. (2010). Supervisi pembelajaran dalam profesi pendidikan. Bandung: Alfabeta

Sugiyono.(2009). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

Trianto,dkk. (2006). Tinjauan Yuridis Hak serta Kewajiban Pendidik Menurut UU Guru dan Dosen. Jakarta: Prestasi Pustaka,

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS

Wahyudi.(2009). Supervisi Pendidikan Sekolah. Jogjakarta: Diva Press.


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *