MATERI PELAJARAN MELALUI SUPERVISI AKADEMIK

PTS SD Menentukan Materi Pelajaran Melalui Supervisi Akademik

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU SD NEGERI MALABAR 05 UPT DISDIKPORA KECAMATAN WANAREJA DALAM MENENTUKAN MATERI PELAJARAN MELALUI SUPERVISI AKADEMIK SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh: Ruswanto,S.Pd SD

ABSTRAK

             Lemahnya kemampuan guru dalam menentukan materi pelajaran adalah indikasi yang menunjukan lemahnya kinerja guru serta akan berdampak pada keberhasilan siswa dalam belajar. Gejala lemahnya pemahaman guru SD Negeri malabar 05 Upt Disdikpora Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap terangkat setelah Supervisi Akademik berjalan satu semester tepatnya di semester II tahun pelajaran 2015/2016. Data yang terungkap serta didukung oleh penyampaian beberapa guru.Hal tersebut amat mendukung pada sebuah statement bahwa guru belum mampu menentukan materi pelajaran yang relevan. Tujuan dari Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini adalah untuk mengetahui sejauh mana peningkatan kinerja guru memilih dan menentukan materi pelajaran melalui Supervisi Akademik di SD Negeri malabar 05 Kecamatan Wanareja Tahun Pelajaran 2015/2016. Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilakukan dalam 2 siklus, dari hasil tindakan yang dilakukan terbukti supervisi  dapat meningkatkan kinerja guru dengan mencapai standar ideal. Dari 71,33 % pada siklus I, dapat meningkat menjadi 80,33 % pada siklus II. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan bahwa pembinaan melalui supervisi akademik oleh kepala sekolah dapat meningkatkan kinerja guru dalam memilih dan menentukan materi pelajaran dengan ketuntasan mencapai 80%.

Kata kunci: kinerja guru, supervisi akademik, materi ajar

 

 

PENDAHULUAN

A.Latar belakang masalah

Kinerja guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, merupakan faktor utama dalam pencapaian tujuan pengajaran, keterampilan peguasaan proses pembelajaran ini sangat erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar, pendidik dan fasilitator belajar siswa. Jadi, kinerja guru berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Guru harus memilikikemampuan penguasaan tehadap materi pelajaran, sikap profesional keguruan dalam pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya, di samping itu guru harus merupakan pribadi yang berkembang dan bersifat dinamis. Hal ini sesuai dengan yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis, serta mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan,mampu memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas ternyata masih ditemukan guru yang tidak melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan petunjuk yang ada bahkan ada guru yang enggan menyusun silabus dan RPP, sehingga tujuan yang diharapkan tidak dapat tercapai secara maksimal, dan pembelajaran tidak efektif serta tidak efisien. Hal ini disebabkan karena pemilihan dan penentuan materi ajar yang dilakukan oleh guru tidak memenuhi kriteria yang telah ditentukan dalam silabus dan belum menuangkan pada RPP, guru memilih bahan ajar yang sesuai dengan kemampuannya saja, akibatnya banyak materi pokok yang tidak disampaikan oleh guru, sehingga sebagian besar siswa tidak memahami materi pelajaran yang sesungguhnya,yang berakibat hasil belajar siswa rendah.

Kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan begitu saja karena akan berdampak pada pengembangan belajar siswa dan karir bagi guru yang bersangkutan. Permasalahan tersebut perlu penanganan yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dengan mengoptimalkan peranan sebagai supervisor.

Merujuk dari latar belakang di atas, terindetifikasi rumusan masalah yang selanjutnya dipaparkan yakni:1) Bagaimanakah dampak supervisi akademik yang dilakukan oleh Kepala Sekolah terhadap pemahaman guru dalam memilih materi ajar? 2) Apakah melalui penerapan supervisi akademik yang dilaksanakan oleh Kepala Sekolah Dasar Negeri Malabar 05 UPT Disdikpora Kecamatan Wanareja dapat meningkatkan kompetensi pedagogik guru?

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam menentukan materi pelajaran agar pembelajaran lebih bermakna.

KAJIAN TEORI

 Supervisi Akademik

Dalam pedoman pelaksanaan kurikulum Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah (Depdikbud, 1975), pengertian Supervisi dirumuskan sebagai bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar-mengajar yang lebih baik.

Burton dan Bruckner (dalam Poerwanto, 2003: 14) mengembangkan definisi sebagai berikut: “Supervisi merupakan pelayanan yang bertujuan untuk mempelajari dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak”.

Acheson dan Gall (dalam Poerwanto, 2003: 17) merumuskan bahwa. “Supervisi merupakan bantuan kepada guru untuk memperkecil kesenjangan antara tingkah laku mengajar yang nyata dan tingkah laku mengajar yang ideal”. Sedangkan Alfonso dan kawan-kawan (1981) mengemukakan: “Supervisi pengajaran adalah perbuatan yang secara langsung mempengaruhi perilaku guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pelaksana proses belajar mengajar dan melalui pengaruhnya tersebut bertujuan untuk mempertinggi kualitas belajar murid demi pencapaian tujuan organisasi (sekolah)”. Berdasarkan batasan-batasan yang dikemukakan oleh para ahli maka di simpulkan bahwa supervisi dalam pengajaran merupakan usaha atau kegiatan pemberian dan bimbingan profesional kepada guru untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mengajarnya.

Dikaitkan dengan kegiatan akademik, supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran Glickman (1981).  Sementara itu,  Daresh (1989) menyebutkan bahwa supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian,  esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.

Secara umum tujuan supervisi pengajaran yaitu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar-mengajar,  mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan, menjamin agar kegiatan sekolalah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku sehingga segala sesuatunya berjalan lancar dan diperoleh hasil yang optimal, menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya, dan memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan dan kekilafan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah sehingga dapat dicegah kesalahan dan penyimpangan yang lebih jauh (Suprihatin, 1989: 305).

Kinerja Guru

Istilah kinerja dapat diterjemahkan sebagai perfomance atau unjuk kerja, artinya kemampuan yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya pada tempat dimana ia bekerja. Menurut Fattah (1996) kinerja diartikan sebagai ungkapan kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan motivasi dalam menghasilkan suatu pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil kerja seseorang yang mencerminkan prestasi kerja sebagai ungkapan pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Menurut Supriadi (1998) kinerja guru akan menjadi lebih baik, bila seorang guru memiliki empat hal yakni: Pertama, mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Kedua, menguasai secara mendalam bahan mata pelajaran yang akan diajarkan serta cara mengajarnya kepada siswa. Lalu, bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi dan selain itu, guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan dapat belajar dari pengalamannya.

Lebih lanjut Hamalik (2002) kemampuan dasar yang disebut juga kinerja dari seorang guru terdiri dari: (1) kemampuan merencanakan pembelajaran, (2) kemampuan mengelola program belajar mengajar, (3) kemampuan mengelola kelas, (4) kemampuan  menggunakan media belajar, (5) kemampuan menglola interaksi belajar mengajar, (6) mampu melaksanakan evaluasi belajar siswa.

Kinerja guru sangat terkait dengan efektifitas guru dalam melaksanakan fungsinya oleh Medley dalam Depdikbud (1984) dijelaskan bahwa efektifitas guru yaitu: (1) memiliki pribadi kooperatif, daya tarik, penampilan, pertimbangan dan kepemimpinan, (2) menguasai metode mengajar yang baik, (3) memiliki tingkah laku yang baik saat mengajar, dan (4) menguasai berbagai kompetensi dalam mengajar.

Evaluasi kinerja guru mutlak dilakukan, karena masih terdapat banyak kinerja guru yang kurang memadai, disamping itu guru dituntut dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang terus berkembang pula dengan pesat. Istilah kinerja berasal dari bahasa inggris yaitu Performance, berarti hasil kerja atau unjuk kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang/organisasi tertentu. Istilah kinerja dapat diterjemahkan dalam unjuk kerja, artinya kemampuan yang ditampilkan seseorang terhadap pekerjaannya di tempat ia bekerja. Kinerja merupakan suatu hal yang sangat esensial terhadap keberhasilan suatu pekerjaan. Pada hakikatnya orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan atas dorongan tertentu. Kebutuhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku, sedanghkan tujuannya berfungsi untuk menggerakkan perilaku. Karena itu suatu kinerja yang efektif bagi setiap individu, perlu diciptakan sehingga tujuan lembaga dapat tercapai secara optimal.

Widyastono (1999) berpendapat bahwa terdapat empat syarat yang erat kaitannya dengan kinerja guru, yaitu kemampuan (1) merencanakan KBM, (2) melaksanakan KBM, (3) melaksanakan hubungan antar pribadi, dan (4) mengadakan penilaian. Sedangkan Suyud (2005) mengembangakn kinerja guru profesional meliputi: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik siswa, (3) penguasaan pengelolaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran dan (6) kepribadian.

Dari pendapat tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan kinerja guru dalam penelitian ini ialah: (1) penguasaan bahan ajar, (2) pemahaman karakteristik, (3) penguasaan pengeloaan kelas, (4) penguasaan metode dan strategi pembelajaran, (5) penguasaan evaluasi pembelajaran, dan (6) kepribadian.

Pembelajaran

Menurut Syaiful Sagala (61: 2009) pembelajaran adalah “membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar oleh peserta didik. Menurut Corey pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seeorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksikan pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.

Menurut Oemar Hamalik (239: 2006) pembelajaran adalah “suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran”. Dari teori-teori yang dikemukakan banyak ahli tentang pembelajaran, Oemar Hamalik mengemukakan 3 (tiga) rumusan yang dianggap lebih maju, yaitu: Pertama, pembelajaran adalah upaya mengorganisasikan lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik. Kedua,  Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik. Ketiga, pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dalam istilah ”pembelajaran” lebih dipengaruhi oleh perkembangan hasil-hasil teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan belajar, siswa diposisikan sebagai subyek belajar yang memegang peranan utama sehingga dalam setting proses mengajar siswa dituntut beraktifitas secara penuh, bahkan secara individual mempelajari bahan pelajaran. Dengan demikian, kalau dalam istilah “mengajar” (pengajaran) atau “teaching” menempatkan guru sebagai “pemeran utama” memberikan informasi, maka dalam “instruction” guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, memanage berbagai sumber dan fasilitas untuk dipelajari siswa.

Memilih dan Menentukan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran pada standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD ) setiap kelompok mata pelajaran perlu dibatasi, mengingat prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dan pemilihan bahan pembelajaran terlalu luas dan kompleks.

Dalam memilih dan menentukan materi pembelajaran beberapa hal yang perlu dilakukan menurut Mulyasa, E (2007) yaitu: Pertama, Orientasi pada tujuan dan kompetensi, artinya pengembangan materi harus diarahkan untuk mencapai tujuan dan membentuk kompetensi peserta didik. Seperti telah dikemukakan, tujuan pendidikan nasional itu dijabar ke dalam standar isi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar, yang perlu dijabarkan lagi oleh guru ke dalam indikator kompetensi. Kedua, Kesesuaian (relevansi), artinya materi pembelajaran harus sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat, tingkat perkembangan peserta didik, kebutuhan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Ketiga, Efisien dan efektif artinya materi pembelajaran disusun dengan mempertimbangkan prinsip efisiensi dalam pendayagunaan dana, waktu, tenaga, dan sumber lain yang tersedia di sekolah agar dapat mencapai hasil optimal, di samping meningkatkan efektivitas atau keberhasilan peserta didik.

Selain itu, ditambah lagi dengan prinsip Fundamental, artinya harus mengutamakan materi pembelajaran yang fundamental, esensial, atau potensial, artinya materi pembelajaran yang paling mendasar untuk membentuk kompetensi peserta didik, sehingga bahan-bahan lain di luar itu akan mudah diserap, karena merupakan landasan untuk penguasaan SKKD dan bidang studi lain. Selanjutnya Keluwesan, artinya materi pembelajaran yang luwes sehingga mudah disesuaikan, diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan keadaan dan kemampuan setempat, serta dapat disesuikan pula dengan hal-hal yang hangat atau aktual di masyarakat sekitar sekolah. Ditambah pula, Berkesinambungan dan seimbang, artinya materi pembelajaran disusun secara berkesinambungan sehingga setiap aspeknya tidak terlepas-lepas, tetapi mempunyai hubungan fungsional dan bermakna; disamping secara berimbang, baik antara materi pembelajaran sendiri, antara keluasan dan kedalamannya, maupun antara teroi dan praktik, sehingga diharapkan terjalin perpaduan yang lengkap dan menyeluruh.

Validitas (validity) atau tingkat ketepatan materi. Sebelum memberikan materi pelajaran seorang guru harus yakin bahwa materi yang diberikan telah teruji kebenarannya. Artinya guru harus menghindari memberikan materi (data, dalil, teori, konsep, dan sebagainya) yang sebenarnya masih dipertanyakan atau 166 masih diperdebatkan. Hal ini untuk menghindari salah konsep, salah tafsir atau salah pemakaian.

Prinsip kedelapan yang berkaitan dengan memilih dan menentukan materi adalah Keberartian. Keberartian atau tingkat kepentingan materi tersebut dikaitkan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Materi pelajaran yang diberikan harus relevan dengan keadaan dan kebutuhan peserta didik. Sehingga materi yang diajarkan bermanfaat bagi peserta didik. Kebermanfaatan tersebut diukur dari keterpakaian dalam pengembangan kemampuan akademik pada jenjang selanjutnya dan keterpakaiannya sebagai bekal untuk hidup sehari-hari sehingga dalam mempelajarai materi tersebut, peserta didik memiliki kepercayaan bahwa mereka akan mendapat penghargaan nantinya.

Selain itu, Relevansi (relevance) juga sangat penting dalam hal ini karena relevansi harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik, artinya tidak terlalu sulit, tidak terlalu mudah dan disesuaikan dengan variasi lingkungan setempat dan kebutuhan di lapangan pekerjaan serta masyarakat pengguna saat ini dan yang akan datang.

Prinsip selanjutnya yaitu Kemenarikan. Kemenarikan (interest), pengertian menarik di sini bukan hanya sekedar menarik perhatian peserta didik pada saat mempelajari suatu materi pelajaran. Lebih dari itu materi yang diberikan hendaknya mampu memotivasi peserta didik sehingga peserta didik mempunyai minat untuk mengenali dan mengembangkan keterampilan lebih lanjut dan lebih mendalam dari apa yang diberikan melalui proses belajar mengajar di sekolah.

Terakhir, prinsip dalam memilih dan menentukan materi adalah Kepuasan (Satisfaction). Kepuasan (Satisfaction) kepuasan yang di maksud merupakan hasil pembelajaran yang diperoleh peserta didik antiny benar-benar bermanfaat bagi kehidupannya, dan peserta didik benar-benar dapat bekerja dengan menggunakan dan megamalkan ilmu yang diperoleh tersebut. Dengan memperoleh nilai/ insentif yang sangat berarti bagi kehidupannya di masa depan.

Kerangka Berpikir

 Penelitian ini dilakukan merujuk pada pendapat pakar, Rusna Ristata (2007: 7-8) menyebutkan bahwa penelitian tindakan Sekolah dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari empat tahap yaitu Perencanaan (planning), Pelaksanaan (action), Observasi (observation), dan Refleksi (reflection). Hasil refleksi terhadap tindakan yang dilaksanakan akan digunakan untuk merevisi rencana jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil memecahkan masalah.

Hipotesis Tindakan

Didasari oleh teori para pakar dan kerangka berfikir yang telah diuraikan di atas maka hipotesa peneliti adalah supervisi akademik yang dilaksanakan oleh Kepala Sekolah Dasar Negeri Malabar 05 UPT Disdikpora Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap mampu meningkatkan pemahaman guru dalam menentukan materi pelajaran.

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri Malabar 05 yang beralamat di Jalan Kiara Payung no 22 Desa Malabar Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap. Alasandilaksanakan di Sekolah Dasar tersebut karena merupakan sekolah tempat peneliti bertugas. Hal ini memudahkan peneliti dalam pelaksanaan tindakan dan pengumpulan data. Selain alasan tersebut, dipilihnya lokasi tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa kemampuan guru dalam pembelajaran dikelas belum optimal, sehingga memerlukan pembinaan melalui tindakan supervisi agar kinerja mereka semakin meningkat.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016 dan dilakukan selama tiga bulan, yaitu mulai bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2016.

Subjek dalam penelitian ini adalah guru-guru SD Negeri Malabar 05 UPT Disdikpora Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap. yang berjumlah 7 orang guru, yang terdiri dari laki-laki 5 orang dan perempuan 2 orang. Karakter yang dimilikki 1 orang guru dengan masa kerja 25 tahun,1 orang guru masa kerja 22 tahun 1 orang guru masa kerja 6 tahun dan 4 guru Wiata Bakti 10 tahun. Secara operasional teknik pengumpulan data pada penelitian ini diimplikasikan guna mendapatkan tujuan yang hendak dicapai yakni dengan model workshop, memberikan angket, dan data tentang hasil observasi dengan menggunakan lembar wawancara pada tiap kelompok dikumpulkan dan diolah serta disajikan dalam tabel.

Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data antara lain adalah triangulasi dan review informan kunci.

Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data penelitian dengan teknik deskriptif komparatif.  Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret 2016.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal dan Prasiklus

Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, guru SD Negeri Malabar 05 UPT Disdikpora Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap ternyata masih banyak guru yang tidak melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan petunjuk yang ada bahkan ada guru yang enggan menyusun silabus dan RPP, karena menganggap bahwa mereka semua dengan pengalaman kerja yang lama sudah paham dengan cara mengajar, sehingga tujuan yang diharapkan tidak dapat tercapai, dan pembelajaran tidak efektif dan tidak efisien.

Deskripsi Siklus I

Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 05 s.d 12 Februari 2016. Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan sesuai dengan prosedur rencana pembinaan dan skenario pelaksanaan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Berikut hasil workshoop yang dipandu Kepala Sekolah melalui supervisi akademik. Nilai rata-rata kinerja guru adalah 71,33%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara kelompok guru belum meningkat kinerjanya, karena yang memperoleh nilai ≥ 80 hanya sebesar 33,33% atau baru 2 orang yang mampu menyusun rencana pembelajaran berkwalitas dari 7 orang guru, hasil ini tentu lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 80%.

Hasil Penilaian Kinerja Guru pada Tindakan Siklus I

Gambar 4.1.  Hasil Penilaian Kinerja Guru pada Tindakan Siklus I

Deskripsi Siklus II

Hasil refleksi siklus I dan diadakan perbaikan model pendampingan pada workshoop siklus II  peningkatan kinerja mencapai 80,33%  dan peningkatan ketuntasan mencapai 80,00% atau sudah ada 6 orang dari 7 orang guru yang tuntas dalam meningkatkan kinerjanya. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini peningkatan pemahaman guru terhadap pemilihan materi ajar  telah mengalami peningkatan lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan kinerja guru ini karena setelah Kepala Sekolah menginformasikan bahwa setiap akhir pembinaan akan diadakan penilaian sehingga pada pertemuan berikutnya guru lebih termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya. Selain itu guru juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan oleh Kepala Sekolah dalam melakukan pembinaan melalui supervisi akademik.

Data kemampuan dan kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar khususnya dalam memilih dan menentukan materi pelajaran yang disajikan pada tabel tes kedua dalam tindakan Siklus II selanjutnya dapat disajikan ke dalam grafik sebagai berikut:

 Hasil Penilaian Kemampuan guru pada Tindakan Siklus II

Gambar 4.2. Hasil Penilaian Kemampuan guru pada Tindakan Siklus II

Berdasarkan hasil perbandingan siklus I dan siklus II, peningkatan kinerja guru melalui supervisi akademik  hasilnya sangat baik. Hal itu tampak pada pertemuan dari 7 orang guru yang ada pada saat penelitian ini dilakukan  nilai rata rata mencapai ; 71,33 % meningkat menjadi 80,33 % pada siklus II.

Tindakan pada siklus 1, dan siklus 2 menunjukkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.3. Analisis Hasil Workshoop Terhadap Peningkatan pemahaman dalam menentukan materi pelajaran Melalui Supervisi Akademik di SD Negeri Malabar 05

 

No Nama Skor sebelum

Tindakan Siklus I

Skor setelah

Tindakan Siklus II

1 A 70 85
2 B 60 85
3 C 70 80
4 D 80 80
5 E 70 80
6 F 70 75
7 G 80 80
Jumlah Total 490 555
Skor Maksimum Individu 100 100
Skor Maksimum Kelompok 700 700

Dari analisis data di atas bahwa pembinaan Kepala Sekolah melalui supervisi akademik efektif diterapkan dalam upaya meningkatkan kinerja guru memilih dan menentukan materi pelajaran, yang berarti proses pembinaan lebih berhasil dan dapat meningkatkan capaian mutu sekolah khususnya di SD Negeri Malabar 05 UPT Kecamatan Wanareja.

Peningkatan kinerja setelah diberi pembinaan melalui supervisi akademik, berikut disajikan dalam grafik:

Hasil Rata-rata pemahaman guru

Gambar 4.3. Hasil Rata-rata pemahaman guru

PENUTUP

Berdasarkan analisis hasil penelitian dan diskusi dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Penelitian dalam upaya meningkatkan kemampuan guru dalam menentukan materi pelajaran melalui supervisi akademik oleh Kepala Sekolah menunjukan peningkatan pada tiap-tiap putaran (siklus). Hal itu tampak pada pertemuan dari 7 orang guru yang ada pada saat penelitian ini dilakukan  nilai rata rata mencapai 71,33 % meningkat menjadi 80,33 % pada siklus II.
  2. Aktivitas dalam kegiatan supervisi menunjukan bahwa seluruh guru dapat meningkatkan kemampuannya dengan baik dalam setiap aspek.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, I. 2000. Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformsi Pendidikan dam Era Globalisasi. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, 25-26 Juli 2001.

Arikunto, Suharsini. 2004. Dasar – dasar Supervisi. Jakarta: Rineka Cipta.

________________.2007. Penelitian Tindakan Kepengawsan. Jakarta : PT.Bumi Aksara.

Atmodiwiro, Soebagio dan Soenarto Tatosiswanto, 1991. Kepemimpinan Pengawas, Semarang: Adhi Waskitho.

Bafadal Ibrahim, 1979. Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya dalam Membina Profesional Guru, Jakarta: Rineka Cipta.

Dedi Herawan, 2005. Pengembangan Model Supervisi Akademik: Efektifitas Model Inovasi Supervisi Akademik dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Guru di SD. Tesis Tidak diterbitkan UPI Bandung.

Semiawan, Conny. 1985. Bagaimana Cara Membina Guru Secara Profesional. Jakarta: Journal Pendidikan.

Sergiovani, Cs. 1975. “Beyond Human Relations” Profesional Supervision for Profesional Teachers. Washington DC: Association for supervision and Curiculum Development. 1979. Supercision: Human Prepectives. New York: MeGraw-Hill Book Company.

Suyanto dan Djihad Hisya. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indoenesia Memasuki Millenium III. Adi Cita. Yogyakarta.

Tilaar, 1987. Futurisme dan Pengambilan Kebijakan pendidikan Menyongsong Abad-21. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Perencanaan Pendidikan. IKIP Jakarta.

Yusuf A. Hasan. 2002. Pedoman Pengawasan Untuk Madrasah dan Sekolah Umum. Mekar Jaya. Jakarta.

BIODATA PENULIS

 

Nama                                   : RUSWANTO, S.Pd SD

NIP                                       : 19650117 198806 1 001

Tempat Tanggal lahir       : Cilacap, 17 Januari 1965

Pangkat/Gol                       : Pembina Tk I / IV B

Jabatan                               : Kepala SD Negeri Malabar 05

Unit Kerja                           : UPT Disdikpora Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap

Alamat rumah                    :  Rt 03/09 Desa Malabar, Kec. Wanareja Kab. Cilacap

No. Hp                                 : 081804701633.


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *