PTS SD Supervisi Akademik

PTS SD Teknik Pertemuan Individual Bagi Guru SD

PENINGKATAN MUTU PROSES PEMBELAJARAN MELALUI SUPERVISI AKADEMIK TEKNIK PERTEMUAN INDIVIDUAL BAGI GURU SD NEGERI KALIWLINGI 01 SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh :

Tri Makno Hartanto, S.Pd., M.Pd.

 

ABSTRAK

Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah proses, seberapa banyak peningkatan mutu proses pembelajaran, dan perubahan perilaku melalui supervisi akademik teknik pertemuan individual bagi guru SD Negeri Kaliwlingi 01 semester II Tahun pelajaran 2015/2016. PTS ini dilakukan dua siklus. Terjadi perubahan mutu proses pembelajaran dari siklus 1 ke siklus 2. Supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual mampu meningkatkan mutu proses pembelajaran dengan baik. Perubahan perilaku guru menjadi lebih komunikatif dan percaya diri. Hasil siklus 1 menunjukkan peningkatan dari 70,43  pada kondisi awal menjadi 79,80.Pada siklus 2 terjadi peningkatan mutu proses pembelajaran dari 79,80 pada siklus 1 menjadi 85,71.

Kata kunci: mutu proses pembelajaran, supervisi akademik, teknik pertemuan individual

 

PENDAHULUAN

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses mutu pembelajaran, antara lain kemampuan guru, kemampuan peserta didik, kelengkapan sarana dan prasarana, pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Faktor kemampuan guru sangat penting, sebab guru sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran, meskipun tidak terlepas dari faktor lainnya seperti tingkat kecerdasan peserta didik, kelengkapan sarana prasarana sekolah. Menurut Sidi (2003: 39) ada lima komponen yang menentukan mutu pembelajaran, yaitu: 1) kegiatan belajar mengajar, 2) manajemen pendidikan yang efektif dan efisien, 3) buku dan sarana pendidikan yang memadai yang selalu dalam kondisi siap pakai, 4) fisik dan penampilan sekolah yang baik, 5) partisipasi masyarakat.

Kemampuan guru tidak dapat dilepaskan dari pembinaan atau pembimbingan yang dilakukan kepala sekolah dalam kegiatan supervisi akademik yang dilakukan secara terstruktur, berkesinambungan, dan berkelanjutan. Fakta di lapangan, pembinaan atau pembimbingan yang dilakukan oleh kepala sekolah, pemantauan secara individu dalam proses pembelajaran sering dilakukan sekedar menggugurkan kewajiban. Pertemuan yang dilakukan secara berkelompok seringkali belum efektif, karena seringkali berbenturan dengan kegiatan lain yang sering muncul tanpa dijadwalkan.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimanakah proses supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual bagi guru SD Negeri Kaliwlingi 01 semester II tahun pelajaran 2015/2016; 2) seberapa banyak peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan guru SD Negeri Kaliwlingi 01 semester 2 tahun pelajaran 2015/2016; dan 3) bagaimanakah perubahan perilaku guru dalam melaksanakan pembelajaranmelaluisupervisi akademikteknik pertemuan individual di SD Negeri Kaliwlingi 01 semester II tahun pelajaran 2015/2016?

Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mendeskripsikan proses supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual, 2) mendeskripsikan peningkatan mutu pembelajaran dengan supervisi akademik teknik pertemuan individual bagi guru SDNegeri Kaliwlingi 01 semester II tahun pelajaran 2015/2016, dan 3) mengidentifikasi perubahan perilaku guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Penelitian ini bagi guru diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri dan meningkatkan kemampuan dalam melakukan pembelajaran di kelasnya. Meningkatnya kemampuan guru dalam pembelajaran diharapkan dapat pula meningkatkan hasil belajar peserta didik. Bagi kepala sekolah memberikan masukan dan evaluasi diri dalam melakukan supervisi akademik, sehingga mengetahui kelemahan dan keunggulan guru untuk selalui memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan yang muaranya dapat meningkatkan mutu pembelajaran.

LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Mutu Proses Pembelajaran

Menurut Hamalik (2001:57) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun dan meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Manusia yang terlibat terdiri dari peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan lainnya. Material bisa meliputi buku, papan tulis, kapur, fotografi, slide, dan film, audio dan video tape. Fasilitas terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur meliputi jadwal, metode, dan sebagainya.

Berkaitan pembelajaran di sekolah dasar yang bermutu adalah sekolah dasar yang mampu  berfungsi sebagai wadah proses edukasi, proses sosialisasi, dan proses transformasi, sehingga mampu mengantarkan peserta didik menjadi seorang yang terdidik, memiliki kedewasaan mental dan sosial, serta memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk juga kebudayaan bangsa.

Salah satu komponen yang menentukan mutu pendidikan adalah proses mengajar atau pembelajaran. (Bafadal,2003:20)

Supervisi Akademik dengan Teknik Pertemuan Individual

Menurut Sahertian (2000: 19) supervisi adalah usaha memberikan layanan dan bantuan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran.Kata kunci dari pelaksanaan supervisi adalah “memberi layanan dan bantuan.” Pendapat senada dikemukan Soewadji (1987: 33) bahan  supervisi merupakan rangsangan, bimbingan atau bantuan yang diberikan kepada guru-guru agar kemampuan profesional makin berkembang, sehingga situasi belajar semakin efektif dan efisien.  Pendapat lain dikemukakan Purwanto (1998: 76) bahwa supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan secara efektif.

Kegiatan supervisi pada prinsipnya merupakan kegiatan membantu dan melayani guru agar diperoleh guru yang lebih bermutu yang selanjutnya diharapkan terbentuk situasi proses belajar mengajar yang lebih baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.Berkenaan dengan materi pembinaan tersebut pondasi supervisi pendidikan adalah teknologi pembelajaran, teori kurikulum, interaksi kelompok, konseling, sosiologi, disiplin ilmu, evaluasi, manajemen, teori belajar, sejarah pendidikan, teori komunikasi, teori kepribadian, dan filsafat pendidikan.

Swearingen (1961) dalam Depdiknas (2009:29) mengklasifikasi empat jenis pertemuan (percakapan) individualyakni: (1) classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat), (2) office-conference,yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru, (3) causalconference. yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru, dan (4) observational visitation. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas.

Berbagai pandangan dari para pakar di atas mengkristalisasikan substansi dari supervisi, yaitu upaya membantu dan melayani guru, melalui menciptakan lingkungan yang konduktif bagi peningkatan kualitas pengetahuan, keterampilan, sikap, kedisiplinan, serta pemenuhan kebutuhan dan berusaha untuk selalu meningkatkan diri dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran sehingga bermuara pada peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.

Dalam penelitian tindakan sekolah ini kegiatan supervisi akademik difokuskan pada supervisi individual dengan teknik pertemuan individual yakni satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara supervisor dan guru.

Kerangka Berpikir

Supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual secara terencana, kontinu dan berkesinambungan sebagai upaya memberikan bantuan, pembinaan dan bimbingan secara kontinu kepada guru, dan komunikasi yang terjadi secara efektif oleh guru dengan guru lain serta kepala sekolah diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran, seperti tersaji dalam gambar berikut:

 

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, peneliti berasumsi bahwa: 1) supervisi akademik diduga efektif meningkatkan mutu pembelajaran bagi guru SD Negeri Kaliwlingi 01 semester II tahun pelajaran 2015/2016, 2) melalui supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual terjadi peningkatan mutu prosespembelajaran, dan 3) supervisi akademik diduga dapat merubah perilakuguru SD Negeri Kaliwlingi dalam proses pembelajaran.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2015/2016.Masing-masing siklus dilakukan pertemuan sebanyak dua kali.Siklus 1 dilaksanakan pada hari Senin, 21 Maret  2016dan hari Selasa, tanggal 22 Maret 2016 sedangkan siklus 2 dilaksanakan pada hari  Selasa, 5 April  2016dan Rabu tanggal 6 April 2016.

Subjek penelitian adalah mutu pembelajaran guru SD Negeri  Kaliwlingi 01 tahun pelajaran 2015/2016. Adapun sumber data dari penelitian ini guru dengan jumlah 14 orang,terdiri atas 9 PNS dan 5 GTT.

Penelitian tindakan sekolah ini merujuk pada model Kurt Lewin (Arikunto, 2006:16; Aqib, 2007:31) yang menunjuk empat komponen pokok penelitian tindakan yakni: perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, tiap siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Setiap siklus terdiri atas aktivitas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Teknik pengumpulan data menggunakan observasi pada saat guru mengelola proses pembelajaran. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi  yang memfokuskan pada mutu proses pembelajaranguru dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan tindak lanjut berupa perbaikan/pengayaan.

Indikator kinerja dalampenelitian tindakan sekolah ini adalah (1) 80% guru SD Negeri Kaliwlingi 01 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes dapat meningkatkan mutu prosespembelajaran sampai pada kategori sangat baik setelah kegiatan supervisi akademis dengan teknik pertemuan individual, (2) perubahan perilaku gurumenjadi lebih komunikatif dan percaya diri dalam melaksanakan pembelajarannya. Analisis data dalam penelitian tindakan sekolah ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif.

Data-data tersebut dianalisis untuk dibandingkan dengan teknik deskriptif persentase. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria deskriptif prosentase, yang dikelompokkan dalam 5 (lima) kategori, yaitu sangat baik (86-100), baik (71-85), cukup (55-69), kurang (50-54), dan sangat kurang (0-49) (Murni, 2010: 52).

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Siklus I

Pada tahap perencanaan, peneliti mengidentifikasi permasalahan yang terkait dengan mutu pembelajaranguru, dengan menyusun instrumen supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual, dengan memfokuskan pada classroom-conference dan office-conference

Pada tahap pelaksanaan, mencakupi kegiatan: (1) melaksanakan supervisi akademik dengan menggunakan lembar observasi mengenai peningkatan mutu pembelajaranguru, (2) menganalisis hasil observasi, (3) memberikan pembinaan dengan memfokuskan pada classroom-conference dan office-conference, (4) memberikan kesempatan kepada guru untuk mengemukakan pendapat, dan (5) memberikan tindak lanjut dari hasil supervisi akademik.

Hasil observasi mengenai mutu proses pembelajaran guru melalui supervisi akademik dengan teknik pertemuan individualdiperoleh data bahwa skor tertinggi yang diperoleh responden adalah 87, skor terendah sebesar 65, standar deviasi 7,51, dan rata-rata mutu pembelajaranguru sebesar 79,80.

Kegiatan refleksi dilakukan bersama guru dengan mempertimbangkan saran dan masukan untuk perbaikan pelaksanaan selanjutnya. Hasil refleksi siklus 1 tersaji dalam tabel berikut:

Tabel 1:Perbandingan Mutu Pembelajaran Kondisi Awal dengan Siklus 1

No. Uraian Kondisi Awal Siklus 1
1 Skor tertinggi 86 87
2 Skor terendah 62 65
3 Skor rata-rata 70,43 79,80
4 Ketercapaian indikator kinerja 8% 28,57%

Deskripsi Siklus II

Perencanaan siklus 2, mengacu kelemahan pada siklus 1.Penulis menyusun instrumen supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual, dengan memfokuskan pada causalconference dan observational visitation.

Pelaksanaan siklus 2 sebagai berikut: (1) melaksanakan supervisi akademik dengan menggunakan lembar observasi mengenai peningkatan mutu pembelajaran, (2) menganalisis hasil observasi, (3) memberikan pembinaan dengan memfokuskan pada causalconference dan observational visitation, (4) memberikan kesempatan kepada guru untuk mengemukakan pendapat, dan (5) memberikan tindak lanjut dari hasil supervisi akademik

Observasi pada siklus 2 mengenai mutu pembelajaran melalui supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual diperoleh data bahwa skor tertinggi yang diperoleh responden adalah 91, skor terendah sebesar 76, standar deviasi 4,23 dan rata-rata mutu proses pembelajaranguru sebesar 85,71.

Hasil refleksi dengan rekan-rekan guru diketahui terdapat peningkatan dari siklus 1 sebesar 79,80 menjadi 85,71 pada siklus 2. Selengkapnya disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 2: Mutu Proses Pembelajaran GuruSiklus 1 dengan Siklus 2

No. Uraian Siklus 1 Siklus 2
1 Skor tertinggi 87 92
2 Skor terendah 69 83
3 Skor rata-rata 79,80 86,12
4 Ketercapaian indikator kinerja 28,57% 85,71%

Mengacu pada refleksi pelaksanaan tindakan siklus 2 maka dapat diketahui bahwa indikator mutu proses pembelajaran penelitian tindakan sekolah sudah tercapai yakni 85,71% guru sudah menunjukkan mutu pembelajarandalam kategori sangat baik, sehingga tidak diperlukan siklus selanjutnya. Indikator mutu proses pembelajaranpenelitian yang dimaksud adalah 80% guru-guru SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes memiliki mutu pembelajarandalam kategori sangat baik.

PEMBAHASAN

Peningkatan mutu proses pembelajaranbagi guru di SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes mutlak dilakukan. Data awal menunjukkan bahwa rata-rata skor perolehan mutu pembelajaran hanya 70,43 termasuk kategori cukup.

Berangkat dari data awal tersebut maka peneliti melakukan penelitian tindakan sekolah melalui kegiatan supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual. Serangkaian kegiatan dalam supervisi akademikpada siklus 1 selama 2 kali pertemuan, telah menunjukkan peningkatan nilai rata-rata mutu pembelajarandari 70,43 (kategori cukup) menjadi 79,80 (kategori baik). Aktivitas siklus 1 setidaknya telah menempatkan 4 (empat) orang guru atau 28,57% sudah mencapai kategori sangat baik dalam hal mutu proses pembelajarannya.

Berdasarkan refleksi pengalaman pelaksanaan siklus 1, peneliti berupaya memperbaiki pelaksanaan siklus 2. Pada siklus 2 yang berlangsung selama 2 kali pertemuan, peneliti memfokuskan pada pelaksanaan supervisi dengan teknik causalconferenceyaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru. Di samping itu, peneliti juga melaksanakan kegiatan observational visitationyaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas. Dalam kegiatan kunjungan kelas, peneliti dibantu oleh seorang guru yang sejak awal sudah memiliki mutu pembelajaranyang sangat baik.

Proses pelaksanaan causalconference dan observational visitationdalam kegiatan supervisi akademis  pada siklus 2 ternyata berdampak positif bagi peningkatan mutu pembelajaran. Hal tersebut diindikasikan adanya perolehan skor rata-rata dari 79,80 pada siklus 1 menjadi 85,71 pada siklus 2.

Aktivitas proses kegiatan pembelajaran yang sedang dilakukan supervisi akademik pada siklus 1 dapat dilihat dalam gambar berikut ini:

Kegiatan Supervis Akademik SD

Kegiatan Supervisi Akademik

 Gambar 2: Kepala Sekolah melakukan kegiatan supervisi akademik

Kegiatan supervisi akademik siklus 2 dengan teknik pertemuan individual dilakukan sebagai tindak lanjut dapat dilihat pada gambar berikut :

Teknik Pertemuan Individual Kepala Sekolah dan Guru

Teknik Pertemuan Individual

     Gambar 3 : Kepala Sekolah melakukan teknik pertemuan individual

Dengan demikian peningkatan skor rata-rata mutu pembelajaranguru tersebut sudah mencapai indikator mutu pembelajaranyang ditetapkan, yakni 80% mutu pembelajaranguru berada pada kategori sangat baik. Pada siklus 1, guru yang keterampilan dasarnya mencapai kategori baik baru 4 orang atau 28,57% sedangkan siklus 2 sudah mencapai 12orang atau 85,71% sehingga tidak diperlukan siklus selanjutnya.Secara keseluruhan perbandingan peningkatan rata-rata mutu proses pembelajaran guru dari kondisi awal sampai siklus 2 dapat disajikan dalam grafik berikut:

Mutu Proses Pembelajaran

Mutu Proses Pembelajaran Pada Supervisi Akademik

              Gambar 4: Perbandingan Peningkatan Mutu Proses Pembelajaran             

Terbuktinya hipotesis penelitian tindakan sekolah ini memberikan pemahaman bahwa apabila kepala sekolah mampu menerapkan kegiatan supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual maka mutu proses pembelajaran guru semakin meningkat.Hal tersebut selaras dengan pendapat Swearingen (1961) dalam depdiknas (2009) bahwa tujuan supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih baik,meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran, dan memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan sekolah ini dapat disimpulkan bahwa secara umum kegiatan supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual yang dilakukan kepala sekolah dapat meningkatkan mutu proses pembelajaranguru di SD Negeri Kaliwlingi 01 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes tahun pelajaran 2015/2016. Hal tersebut dapat diketahui dari peningkatan rata-rata mutu pembelajaran guru dari kondisi awal sebesar 70,43 meningkat menjadi 79,80 pada siklus 1 dengan ketercapaian indikator mutu proses pembelajaran sebesar 28,71 %, dan pada siklus 2  ketercapaian indikator mutu proses pembelajaransebesar 85,71%.

Saran

Berdasarkan simpulan di atas disarankan kepada: (1) Kepala Sekolah, hendaknya mengoptimumkan peran sebagai supervisor khususnya melakukan kegiatan supervisi akademiksehingga guru-guru dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara sistematis, terbuka, dan dalam suasana kekeluargaan, dan (2)  Guru SD, hendaknya berupaya meningkatkan mutu proses pembelajaranmelalui berbagai aktivitas seperti mencoba menerapkan berbagai inovasi pembelajaran, diskusi dengan teman sejawat, konsultasi dengan kepala sekolah, dan aktif dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) sebagai wahana untuk mengembangkan kompetensi.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zaenal. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Rama Widya.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Bafadal, Ibrahim.2003. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar. Jakarta : Bumi Aksara

Depdiknas,2009. Bahan Belajar Mandiri Kelompok Kerja Kepala Sekolah. Jakarta Ditjen PMPTK

Hamalik, Oemar. 2001. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Murni, Wahid. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. Jogjakarta:Ar-Ruzz

Purwanto, Ngalim. 2007. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sahertian, Piet A. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Cipta.

Sidi,Indra Jati. 2003. Menuju Masyarakat Belajar Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Paramadina.

Soewadji, L. 1987. Kepala Sekolah dan Tanggung Jawabnya. Yogyakarta: Kanisius.

BIODATA

Nama               : Tri Makno Hartanto,S.Pd.,M.Pd.

NIP                   : 19710927 199903 1 006

Jabatan            : Kepala Sekolah

Pangkat/Gol.  : Pembina Tk.I/ IV b

Unit Kerja       : SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes

Email               : triemh@gmail.com

HP                    : 085866322688


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *