infopasti.net

PTS SD Workshop Mandiri Teknik Bimbingan Dalam Supervisi Kelas

PENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU KELAS DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PELAJARAN (RPP) TEMATIK MELALUI KEGIATAN WORKSHOP MANDIRI DENGAN TEKNIK BIMBINGAN DALAM SUPERVISI KELAS DI SD NEGERI JETIS 02 UPT DISDIKPORA KECAMATAN NUSAWUNGU TAHUN 2013

oleh:

SARDJIMAN, S.Pd

NIP. 19620511 198508 1 002

PENDAHULUAN

  Guru dalam filsafat Jawa merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Guru merupakan tokoh panutan mastarakat. Guru sebagai tolok ukur kepribadian masyarakat sekitar. Dalam dunia pendidikan guru berperan sebagai pendidik. Selanjutnya UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang sistem pendidikan nasional  menyatakan, ”pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan  dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.”

UU Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah pendidik  profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

PP  No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan, ”pendidik (guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”

Standar Kompetensi Guru

Depdiknas (2004:4) kompetensi diartikan, ”sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. “Secara sederhana kompetensi diartikan seperangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki seseorang dalam rangka melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan dan/atau jabatan yang disandangnya” (Nana Sudjana 2009:1).

Nurhadi (2004:15) menyatakan, “kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Selanjutnya menurut para ahli pendidikan McAshan (dalam Nurhadi 2004:16) menyatakan, ”kompetensi diartikan Sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku koqnitif, afektif, dan psikomotor dengan sebaik-baiknya.”

Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Dalam Suparlan). Arti lain dari kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kompetensi adalah sebagai suatu kecakapan untuk melakukan sesuatu pekerjaan berkat pengetahuan, keterampilan ataupun keahlian yang dimiliki untuk melaksanakan suatu pekerjaan.

Undang-Undang Guru dan Dosan No.14 Tahun 2005 Pasal 8 menyatakan, ” guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”  Dari rumusan di atas jelas disebutkan pemilikan kompetensi oleh setiap guru merupakan syarat yang mutlak harus dipenuhi oleh guru. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya.

Selanjutnya Pasal 10 menyebutkan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh  guru  yakni  kompetensi   pedagogik, kompetensi  kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi  tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.

Berdasarkan beberapa definisi  di atas dapat disimpulkan  standar Kompetensi guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dalam bentuk  penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen  yang  kait- mengait,   yakni:  pengelolaan  pembelajaran, pengembangan  profesi,  dan  penguasaan akademik.

Komponen pertama terdiri atas empat kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan komponen ketiga memiliki dua kompetensi. Dengan demikian, ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi   tujuh  kompetensi dasar, yaitu: penyusunan   rencana pembelajaran, pelaksanaan interaksi belajar mengajar, penilaian prestasi belajar peserta didik, pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik,  pengembangan   profesi,  pemahaman wawasan kependidikan,  dan penguasaan bahan kajian akademik (sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan).

Abdurrahman Mas’ud (dalam Suparlan 2005:99) menyebutkan tiga kompetensi dasar yang  harus   dimiliki  guru,  yakni: menguasai materi atau bahan  ajar, antusiasme, dan penuh kasih sayang (loving).

METODE PENELITIAN

PTS  ini  dilaksanakan  pada   semester  satu  tahun   2014 / 2015 selama kurang lebih 4 ( empat ) bulan  mulai Juli 2014 sampai dengan Oktober 2014. Subyek dalam PTS ini adalah  guru kelas IV,V, VI Guru Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan dan Guru Pendidikan Agama Islam SD Negeri Jetis 02 Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Sumber data dalam PTS ini adalah  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yang  sudah  dibuat guru.

Teknik  pengumpulan  data dalam penelitian ini  adalah  wawancara, observasi, dan diskusi. Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut: wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki guru tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen RPP  yang telah dibuat dan yang belum dibuat  oleh  guru, diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara peneliti dengan guru.

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru,  dalam meningkatkan  kemampuan  guru agar  menjadi  lebih baik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.

Rencana pelaksanaan dilakukan dalam dua siklus yaitu: pada siklus I, peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat format/instrumen wawancara, penilaian RPP, rekapitulasi hasil penyusunan RPP); peneliti memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan kesulitan atau hambatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran; peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya RPP dibuat secara lengkap; peneliti memberikan bimbingan dalam pengembangan RPP; peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru; peneliti melakukan revisi atau perbaikan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang lengkap; peneliti dan guru melakukan refleksi. Pada siklus II, peneiti merencanakan tindakan pada siklus II yang mendasarkan pada revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru menyusun RPP yang kedua, mengumpulkan, dan melakukan pembimbingan penyusunan RPP; peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus II; peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru; peneliti melakukan perbaikan atau revisi penyusunan RPP; peneliti dan guru melakukan refleksi.

Indikator Pencapaian Hasil

Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 78% guru membuat kesebelas komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut: 1) Komponen identitas mata pelajaran diharapkan ketercapaiannya 100%; 2) Komponen standar kompetensi diharapkan ketercapaiannya 90%; 3) Komponen kompetensi dasar diharapkan ketercapaiannya 85%; 4) Komponen indikator pencapaian kompetensi diharapkan ketercapaiannya 80%; 5) Komponen tujuan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%; 6) Komponen materi pembelajaran diharapkan kecercapaian 75%; 7) Komponen alokasi waktu diharapkan ketercapaiannya 75%; 8) Komponen metode pembelajaran diharapkan kecercapaiannya 75%; 9) Komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 70%; 10) Komponen sumber belajar diharapkan ketercapaiannya 80%; dan 11) Komponen penilaian (soal, pedoman penskoran, kunci jawaban)   diharapkan  ketercapaiannya 70%.

HASIL PENELITIAN

Dari hasil wawancara terhadap lima orang guru yaitu Guru Kelas IV, V, VI Guru Pendidikan Agama dan Guru pendidikan Jasmani Olah Raga Kesehatan peneliti memperoleh  informasi bahwa semua guru (lima orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP, hanya sekolah yang memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya dua orang guru yang pernah mengikuti pelatihan pengembangan RPP, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP, kebanyakan guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus menggunakan RPP dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan komponen-komponen RPP secara lengkap.

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap lima RPP yang dibuat guru (khusus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen dan sub-subkomponen RPP tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban). Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.

PEMBAHASAN

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SD Negeri Jetis 02 Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah yang merupakan sekolah binaan peneliti, terdiri atas delapan guru, dan dilaksanakan dalam dua siklus. Kelima  guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP. Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.

Komponen Identitas Mata Pelajaran

Pada siklus pertama semua guru (lima orang ) mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan identitas mata pelajaran). Jika diprosentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

Komponen Standar Kompetensi

Pada siklus pertama semua guru (lima orang ) mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan standar kompetensi). Jika diprosentasekan, 81%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika diprosentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

Komponen Kompetensi Dasar

Pada siklus pertama semua guru (lima orang ) mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika diprosentasekan, 81%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika diprosentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada siklus pertama empat orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika diprosentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika diprosentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

Komponen Tujuan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (lima orang ) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan tujuan pembelajaran). Jika diprosentasekan, 63%. Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika diprosentasekan, 80%, terjadi peningkatan 21% dari siklus I.

Komponen Materi Ajar

Pada siklus pertama semua guru (lima orang ) mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika diprosentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya. Enam orang mendapat skor 3 (baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika diprosentasekan, 80%, terjadi peningkatan 20% dari

Komponen Alokasi Waktu

Pada siklus pertama semua guru (lima orang ) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika diprosentasekan, 75%. Pada siklus kedua kelima guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika diprosentasekan, 85%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

Komponen Metode Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (lima orang) mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan metode pembelajaran). Jika diprosentasekan, 72%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik),  lima orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika diprosentasekan, 75%, terjadi peningkatan 5% dari siklus I.

Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (lima orang ) mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran). Jika diprosentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan satu orang  mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Jika diprosentasekan, 72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.

Komponen Sumber Belajar

Pada siklus pertama semua guru (lima orang ) mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika diprosentasekan, 66%. dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan tiga orang  mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan tiga orang mendapat skor 3 (baik). Jika diprosentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

Komponen Penilaian Hasil Belajar

Pada siklus pertama semua guru (lima orang ) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika diprosentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan  3 (kurang baik dan baik), tiga orang  mendapat skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kelima  guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% d

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Monitoring dan supervisi kelas dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.
  2. Monitoring dan supervisi guru dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi/pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan  kompetensi guru dalam menyusun RPP dari siklus ke siklus. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 85%. Jadi, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

Saran

Telah terbukti bahwa dengan  monitoring dan supervisi kelas  dapat meningkatkan  motivasi  dan  kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

  1. Semangat guru khususnya dalam penyusunan RPP hendaknya terus lestarikan,agar .guru lebih maksimal dalam administrasi kelas dan sangat mendukung keberhasilan pendidikan.
  2. Perencanaan pembelajaran yang matang tercermin dalam RPP. Oleh karena itu RPP yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP secara lengkap dan baik karena RPP merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran.
  1. Dokumen RPP hendaknya ditandatangani guru yang bersangkaiaaaautan mengetahui Kepala sekolah. Alangkah baiknya jika pengesahan RPP oleh Kepala Sekolah dilaksanakan setiap.

DAFTAR PUSTAKA

BIODATA

Nama                   : SARDJIMAN, S.Pd

NIP                        : 19620511 198508 1 002

Jabatan                 : Kepala SD Negeri Jetis 02 UPT Disdikpora Kecamatan Nusawungu


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *