infopasti.net

Refleksi Redaksi April 2016 | Infopasti.net

Gareng berjalan gontai menuju Padepokan Romo Semar. Wajahnya murung, bibir komat-kamit, sesekali menggeleng-geleng, mengangguk, mengambil nafas panjang dan menggaruk kepalanya. Tanpa mengucap salam ia masuk pendopo.

“Komat-kamit ngomong sendiri, muka lecek, kaya orang stress. Masuk nyelonong saja tanpa salam. Ada apa Kang?” tanya Bagong yang menyambutnya.

“Aku mau menyerahkan Si Kompleng untuk dididik Romo saja. Sekarang anak itu ngambek, ndak mau sekolah,” jawab Gareng sambil duduk slonjor di tikar, bersandar ke dinding.

Walah! Lhah! Ternyata benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tak pikir si Kompleng itu bocah pintar, berprestasi, jadi bakal bisa menghapus stempel ‘bodoh’ yang menempel pada orang tuanya. Baru saja kita bangga karena prestasi akademiknya, eh malah ngadat. Ndak mau sekolah terus mau ngapain katanya?” Bagong sinis.

Gareng tak menanggapi. Ia mengatur nafas. Beberapa lembar nafas panjang dihirup embuskan perlahan. “Sejak diumumkan mendapatkan BSM dari pemerintah, hampir setiap hari dia merasa disindir sama Bu Guru Limbuk, di depan kelas. Katanya, murid yang tidak menerima BSM harus sangat bersyukur, karena itu tandanya mereka bukan orang miskin. Sejak itu, dia berangkat sekolah sambil memikul beban malu.  Puncaknya, minggu lalu dia langsung ditegur Bu Limbuk karena memakai sepatu baru bermerk.  Seketika itu, di depan kelas diumumkan, bahwa uang BSM fungsinya untuk menunjang kebutuhan sekolah bagi murid miskin. Sangat tidak pantas jika uang BSM digunakan untuk membeli sepatu mahal, hanya agar kelihatan keren.  Faktanya Gong, di kelas itu hanya Kompleng yang mendapatkan BSM, dan kebetulan hari itu dia memakai sepatu bermerk, itu lho hadiah dari Paman Petruk,” papar Gareng. Tatapan matanya sendu kadang berkilat marah. “Sudah tiga hari Kompleng ndak mau sekolah. Dia minta keluar dari sekolah itu, dan minta aku mengembalikan semua BSM yang sudah terpakai. Aku tidak mau  serta merta menyalahkan Bu Limbuk, tapi aku lebih tidak ingin potensi anakku mati justru karena terus dibully oleh gurunya sendiri,” lanjutnya.

“Walah! Si Limbuk itu, ternyata belum berubah to? Senang menasehati orang tetapi sekaligus meremehkan orang lain. Bukankah sekarang dia sudah bertitel, resmi jadi guru, seharusnya menjadi lebih santun dan bijak,” sahut Bagong gemas.

Jadilah kamu pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang yang bodoh (QS. Al-A’raf:199)” Pastikan si Kompleng memahami ayat ini. Pasti dia jauh lebih tangguh menghadapi Limbuk-Limbuk yang suka membully di luar sana. “Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, dan tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan, seolah telah menjadi teman yang amat setia (QS. Fushshilat:34)” Ayat itu tuntunan bagi akhlak kalian yang ingin bahagia, baik sebagai manusia biasa, orang tua, apalagi guru. Istiqomahkan dulu dirimu, baru meminta Limbuk untuk istiqomah,” tutur Romo Semar yang ternyata telah menyimak percakapan kedua anaknya itu dari balik dinding.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *