infopasti.net

Refleksi Februari 2016 | Infopasti.net

Bagong, Gareng, dan Petruk berbincang-bincang di Pendopo Padepokan Romo Semar. Mereka mandi keringat karena udara pagi musim pancaroba sudah enggan membawakan sejuk ke kaki gunung sekalipun.

Sambil mengunyah singkong rebus, Bagong bergumam. “Pagi sekarang sudah tidak sejuk lagi. Panas. Gerah siang malam. Semesta negeri ini sudah sakit parah. Kalau Ramalan Jayabaya itu mujarab, seharusnya si Noyogenggong Sabdopalon sudah kembali. Dia yang akan membenahi kerusakan negeri ini.”

Gareng mencibir walau sedang menyeruput kopi hitam. “Lagi-lagi berlagak pintar. Ngomongin Ramalan Jayabaya, tema milik para politisi. Bila mereka yang membicarakan, jadi terdengar keren, terkesan paham tentang falsafah kehidupan. Gong! Bagong! Kalau kita yang ngomongin, orang mencibir, bahkan sampai buang ludah.”

“Menurut yang kudengar, ramalan itu memang terbukti joss Kang Gareng. Selalu terbukti dari waktu ke waktu. Lha wong dia meramakan negeri dijajah seumur jagung oleh orang cebol, eh ternyata Jepang memang berkuasa selama 3,5 tahun. Tiap pilihan pilihan Presiden, diyakini bahwa yang terpilih adalah satria piningit, sang pembaharu, pembuat perbaikan bagi rakyat semesta negeri. Ya, meskipun setelahnya, ternyata dia juga tak lebih baik dari sebelumnya,” tutur Bagong polos, masih sambil menikmati singkong rebusnya.

“Sekarang bibir tebalmu semakin lebar, ikut latah bicara soal bangsa,” gumam Gareng semakin sinis.

“Jangan terlalu apatis, Kang! Jangan apriori! Kita punya hak dan kewajiban yang sama terhadap negeri ini. Boleh saja kita bicara, demi ikut membangunnya?” sanggah Bagong.

“Halah! Gong, itu diksi kamu pungut dari mana? Kedengaran aneh! Ndak ada yang mau mendengar. Tanpa ilmu memadai, justru bisa merusak makna luhur yang terkandung dalam karya para pujangga hebat itu. Jangan bicara tanpa ilmu!” sergah Gareng. Mata julingnya menatap tajam ke suatu titik.

Bagong cemberut. “Memang tak pernah klik ngobrol sama orang yang tak mau fokus melihat sesuatu.” Bibir tebal lebarnya monyong, semakin tak tentu bentuknya.

Petruk yang semula hanya mendengarkan, angkat bicara. Matanya menatap dua saudaranya bergantian. “Bagong, kalau memang kamu ngerti tentang Ramalan Jayabaya, semestinya tidak lagi bicara tentang joss atau tidaknya. Ramalan Jayabaya itu salah satu karya pujangga  tentang sejarah. Berbeda dengan primbon atau gugon tuhon. Tetapi kalau kau percaya si Noyogenggong Sabdopalon itu yang akan membuat perbaikan, ayo kita cari! Jangan cuma latah bicara tanpa berbuat apa-apa!”

Bagong terhenyak, menatap melompong sampai ujung kuncir Petruk yang sering tampak sangat anggun layaknya mahkota raja.

“Ayo kita cari si Noyogenggong Sabdopalon! Dia itu sosok cerdas, cerdik, bijaksana, arif, sekaligus alim karena menguasai ilmu batin dan mengenal Tuhan. Dia itu yang akan memimpin perbaikan. Orang-orang di padepokan ini, para guru, bertanggung jawab atas kembali atau tidaknya sosok seperti itu. Dengan system pendidikan yang benar. Ilmu, sikap dan teladan yang benar, kejujuran di atas kebenaran, sosok itu pasti segera datang,” tuturnya.

“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan…” daripada latah, baik bila kau pahami makna ayat 148 surat Al-Baqarah itu,” ujar  Gareng datar usai menyeruput tetes terakhir kopi hitamnya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *