infopasti.net

Refleksi November 2016

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan… Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu” (Q.S. al-Hadid:20). Togog duduk menunduk di sudut terjauh pendopo Padepokan Romo Semar, sambil mencoba memahami salah satu ayat dari kitab suci itu. Ia tengah dihujani kritik, setelah terlibat dalam jamaah klenik Mbilung si pengganda harta yang ternyata hanya tipu-tipu.

Bagong mendekat. “Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka,” katanya mengutip arti Q.S. al-Baqarah:86. “Keserakahan telah menutup ketajaman nalar Paman Togog yang telah diakui dengan sederet gelar cendekia. Bagaimana mungkin seorang penasihat di Padepokan Sang Hyang Guru bisa menjadi pembantu, seperti kerbau dicocok hidung bagi si Mbilung, hanya menonton trik sulap kacangan di depan mata?” imbunya gemas.

“Semua proses kemunculan emas, uang, dan perhiasan itu terjadi di depan mataku. Tidak bisa dijelaskan dengan teori kuontum. Tapi, jika Gusti Pangeran berkehendak maka hanya tinggal kun fayakun,” sanggah Togog membela diri.

Romo Semar geleng-geleng. Tersirat raut muka sedih melihat Togog yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. “Togog, lihat Gareng! Tubuhnya miring. Matanya juling. Padahal, sejatinya ilmu si Gareng sudah bisa melihat bahwa dunia ini hanya palsu. Cuma tipu-tipu. Maka dia pilih mengesampingkannya, agar tetap bisa melihat kebenaran, lalu menyeret kakinya dengan hati-hati agar selamat. Lihat pula si Petruk! Betapa sebenarnya dia dikaruniai sedikit pengetahuan tentang ruh hingga hampir mencapai puncak ilmu hakikat. Lihat dia tetap bersahaja menjalankan tugas sebagai pengasuh bagi para ksatria Pandawa. Saat tatanan di negeri ini kacau, dengan izin Gusti Pangeran, justru Petruk yang naik tahta menjadi raja mengembalikan tatanan. Tapi apa dia jumawa? Setelah situasi kembali normal, Petruk  mengembalikan tahta, lalu kembali ke padepokan ini, bersamaku, Gareng dan Bagong, mengasuh, menjaga,  mempersiapkan para cantrik agar kelak menjadi ksatria-ksatria tangguh lahir batin, berpekerti luhur,” tuturnya sambil memegang pundak Togog.

“Bangunkan nalarmu saat melihat Mbilung, Paman! Kembalilah kepada kami! Bersama kita asah sisi akal yang lain untuk mengenal Gusti Pangeran, dengan mengkaji isi kitab suci secara utuh,” ujar Bagong sungguh-sungguh.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *