Refleksi September

Gareng berbinar-binar saat menghadap Romo Semar di Pendopo. “Romo, alhamdulillah si Kompleng baru saja juara dalam lomba Debat Bahasa Inggris tingkat kabupaten. Dia masih akan maju tingkat propinsi,” katanya.

Ndak nyangka, nama Kompleng jadi terdengar begitu indah disebut. Seolah kudengar riuh tepuk tangan mengiringi,” gumam Bagong.

“Air mata ini berderai-derai melihat si Kompleng menyodorkan piagamnya. Ini piagam pertama di awal semester pertamanya sebagai siswa SMA Negeri Panuluh. Haru menyaksikan anak yang selalu minder karena sempat dianggap bodoh itu, sekarang begitu bersemangat,” sahut Gareng.

“Bukankah si Kompleng itu masih pusing saat ketemu angka-angka matematika? Barangkali, dasar-dasar matematika; jumlah, kali, bagi pun, tak seberapa dia kuasai,” sambung Bagong geleng-geleng.

“Andai si Kompleng belajar di sekolah lain, mungkin dia tidak akan mencapai kelulusan, bahkan tingkat SD sekalipun. Dia bisa terus belajar sampai tingkat lanjut, karena Padepokan Romo Semar tidak mengenal istilah tinggal kelas, tidak lulus. Dia hanya dibiarkan melakukan kegemarannya menggambar, mendengarkan lagu-lagu barat lalu menyanyikannya sambil terus asik menggambar. Romo Semar sering mengikutinya nyanyi lagu barat, lalu ngajak ngomong pake Bahasa Inggris, menemaninya keluar kelas untuk menggambar. Ternyata sekarang, menggambar dan berbahasa Inggris itu menjadikan si Kompleng diakui  sampai di luar padepokan,” tutur Gareng tertunduk. Sebutir air matanya jatuh.

 “He heh..buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kang Gareng itu bisa tiba-tiba sakit parah, demam tinggi, menggigil, setiap musim ujian. Nilai formalnya ndak pernah memenuhi syarat kelulusan,” sela Petruk sembari melirik jenaka kakaknya itu. “Gareng tersenyum manggut-manggut. “Tapi sekarang, siapa yang menyangkal kedalaman ilmu qonaah dan kesejatian yang dikuasainya? Bahkan, Padepokan Romo Semar menjadikannya sebagai salah satu guru besar filsafat,” lanjutnya bangga.

“Sukses mendidik cantrik dengan IQ tinggi setidaknya rata-rata ke atas, itu biasa. Melihat, menemukan, dan lalu mengembangkan bakat yang terpendam dalam diri cantrik-cantrik dengan IQ rata-rata ke bawah, itu yang perlu guru-guru dengan ilmu di atas rata-rata. Bukan semata kumpulan sarjana berpredikat cumlaude saja. Padepokan Romo Semar ini salah satu tempatnya,” seru Bagong.

“Semoga, kalian sudah memahami Firman Gusti Alloh swt, “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya” (QS. al-Baqarah: 148)“Dan Dialah  yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi. Dan Dia meninggikan sebahagian kamu di atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat” (QS. al-An’am:165)” tegas Romo Semar. “Setiap individu punya potensi sendiri, temukan, asah dan kembangkan. The right man in the right place!”




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *